• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Hasil Wawancara

4.1.2.2. Informan 2

Nama : Jekson

Jenis Kelamin : Pria

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 1 April 1988 (28 Tahun) Pekerjaan : Konsultan Keuangan

No HP : 081325517288

Penelitian kali ini peneliti lakukan di ruang tunggu Bandara Kualanamu pada hari Selasa, 3 Januari 2017. Sama seperti wawancara sebelumnya, peneliti berkeliling di ruang tunggu tersebut untuk memilih satu penumpang Garuda Indonesia yang bersedia untuk dijadikan sebagai informan. Setelah beberapa menit berkeliling, peneliti berusaha untuk mewawancarai tiga orang tetapi ditolak.

Hingga akhirnya peneliti bertemu dengan orang kelima yaitu Bang Jekson yang akhirnya bersedia untuk menjadi informan kedua. Bang Jekson adalah seorang konsultan muda yang bergerak di bidang konsultan keuangan. Pria kelahiran Jakarta, 1 April 1988 ini merahasiakan dimana perusahaan tempat beliau bekerja serta mengaku tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Bang Jekson tinggal berpindah-pindah sesuai tuntutan pekerjaannya, tetapi pada saat ini beliau sedang kerja di Jakarta. Bang Jekson juga mengaku belum berkeluarga dan hanya fokus untuk bekerja saat ini. Tujuan keberangkatan Bang Jekson kali ini adalah ke Jakarta dengan alasan untuk balik ke kantornya setelah selesai melaksanakan perjalanan dinas kerja. Peneliti memanggil informan kedua ini dengan sapaan

“Bang” karena umur kami yang tidak terpaut jauh.

Dalam proses wawancara, Bang Jekson menjelaskan bahwa ia sudah sering menggunakan maskapai Garuda Indonesia walaupun ia mengakui tidak begitu mengingat berapa kali seluruhnya. Tetapi Garuda Indonesia selalu menjadi pilihan pertama Bang Jekson dalam berpergian, baik pergi secara pribadi ataupun dari kantor. Selain maskapai Garuda Indonesia, Bang Jakcson juga pernah menggunakan maskapai lokal ataupun luar negeri seperti Emirates Airlines.

Alasan Bang Jekson selalu memilih Garuda Indonesia adalah karena beliau menilai kualitas dan pelayanan yang didapatkannya sebanding dengan harganya yang mahal, sehingga berbeda dengan maskapai lain yang menurutnya kurang memuaskan.

“Kurang dari 5 kali ya, maskapai dalam atau luar negeri. Luar negeri ya emirates gua pernah nyobain.. Iya selalu milih garuda, alasannya ya

pertama walaupun pricenya agak mahal tapi value yang dikasih menurut gua lebih tinggi daripada kompetitornya.”

Hampir serupa dengan pendapat Pak Ayub sebagai informan pertama, menurut Bang Jekson pelayanan Garuda Indonesia hampir mendekati sempurna.

Dengan alasan yang juga sama yaitu hal yang paling disukai oleh Bang Jekson dari segi ketepatan waktu keberangkatan Garuda Indonesia yang tidak pernah delay sekalipun.

“ Ya hampir mendekati perfect menurut gua ya. Gua sangat suka dari segi ketepatan waktunya itu, jarang banget gua dapat pesawat delay”

Berdasarkan pengalamannya yang sudah sangat sering menggunakan jasa Garuda Indonesia dan juga pernah beberapa kali menggunakan maskapai lokal dan luar negeri, konsultan keuangan ini menilai adanya perbedaan yang mencolok antara awak kabin Garuda Indonesia dengan maskapai lain. Perbedaan mencolok tersebut terletak pada sisi profesionalismenya. Awak kabin Garuda Indonesia dinilai oleh Bang Jekson memiliki kinerja yang lebih profesional dibanding dengan maskapai lain. Tetapi bukan berarti awak kabin maskapai lain tidak profesional, hanya saja awak kabin Garuda Indonesia memiliki struktur kerja yang lebih terstruktur dan rapi.

“Bukan seperti itu, tapi jauh dari profesionalnya pramugari dan pramugara garuda. Kalo mereka seakan cara bekerjanya sudah terstruktur dengan rapi.“

Sebagai penumpang yang sudah lama menggunakan Garuda Indonesia, Bang Jekson tentu saja pernah menaiki pesawat dengan model manual safety demo. Bang Jekson menjelaskan bahwa hanya beberapa bagian dari manual safety demo yang dipahami dan diperhatikannya, seperti cara memasang safety belt atau pelampung. Bang Jekson sendiri juga mengaku jarang sekali memperhatikan manual safety demo di pesawat Garuda Indonesia. Jika disuruh memilih, beliau lebih memilih safety demo yang ditampilkan di monitor. Alasannya dikarenakan Bang Jekson dapat lebih mudah melihatnya dengan jarak yang dekat. Jika Bang Jekson mendapati posisi kursi di pojok belakang, tentu akan lebih susah melihat

manual safety demo. Maka karena itu beliau lebih menyukai manual safety demo yang berasal dari monitor.

“Yang penting-penting aja gua pahami kaya masang safety belt atau pelampung. Lebih tertarik di TV atau monitor ya, soalnya kalo gua dapat duduk di pojok kan susah tu liat pramugarinya. Jadi gak nyaman juga.“

Ketika ditanya beberapa pernyataan, Bang Jekson menjelaskan bahwa ia juga sering memperhatikan awak kabin Garuda Indonesia, tetapi hanya jika awak kabin tersebut sedang berada atau berjalan di dekatnya. Bang Jekson sendiri juga menilai bahwa gerak-gerik awak kabin Garuda Indonesia, seperti cara berjalan, gerakan mata dan cara tersenyum tidak ada yang membuatnya merasa tidak nyaman. Semuanya baik-baik saja menurut pandangannya.

Bang Jekson juga menyukai cara berpakaian awak kabin Garuda Indonesia dimana seragam mereka menurut beliau sangat menarik karena mengusung culture Jawa. Seragam mereka lebih sopan dibandingkan dengan maskapai lainnya dikarenakan menurutnya seragam maskapai lain memiliki belahan rok yang sangat tinggi. Bang Jekson menilai hal tersebut itulah yang membuat awak kabin Garuda Indonesia lebih terlihat sopan dan elegan.

“Kalo menurut gua garuda jauh lebih sopan ya, lebih ke culture jawa.

Tapi dengan penampilan itu kelihatan lebih elegan.“

Penampilan rambut awak kabin Garuda Indonesia ternyata juga lebih disukai Bang Jekson daripada maskapai lain. Menurut Bang Jekson, potongan atau model rambut yang digulung atau dikonde tersebut membuatnya kelihatan menarik. Berbeda dengan maskapai lain yang memiliki model rambut digerai dimana beliau menilai bahwa jika rambut digerai akan memberikan kesan tidak rapi dan tidak seragam dengan yang lainnya. Jika membahas tentang pramugara, beliau menilai tidak ada yang salah potongan rambut pria di maskapai lain karena terhitung sudah rapi.

“Kalo menurut gua garuda jauh lebih sopan ya, lebih ke culture jawa.

Tapi dengan penampilan itu kelihatan lebih elegan.“

“Potongan rambutnya juga oke, menurut gua gaya mereka menggulung rambutnya seperti itukaya dikonde, ya gak ada masalah. Kalo pramugara ya sama aja potongan pria dimana mana.“

Awak kabin Garuda Indonesia juga memiliki ketepatan waktu yang pas menurut Bang Jekson. Beliau menjelaskan bahwa mereka cepat tanggap jika diminta pertolongan. Contohnya ketika pria kelahiran Jakarta 1 April 1988 ini meminta tambahan air putih, para awak kabin Garuda langsung datang untuk membantu. Jarang sekali mereka lupa atau memakan waktu lama dalam hal memberikan pertolongan. Penumpang yang lain juga tidak pernah ada masalah dalam hal ketepatan waktu sebagaimana beliau perhatikan selama ini.

“Sepanjang pengalaman gua sih mereka oke ya. Cepat tanggap. Ketika kita minta tambah air putih mereka langsung datang. Mereka gak lupalah.

Sama penumpang yang lain pun gak ada masalah selama guaperhatikan.“

Beberapa pernyataan yang saya berikan, beliau juga menganggap bahwa pernah mengalami kesulitan dalam hal memahami ketika awak kabin Garuda Indonesia menyampaikan pengumuman. Faktor yang membuat Bang Jekson kesulitan memahami adalah terletak pada masalah pengeras suaranya. Jika menaiki pesawat yang model lama, pengeras suara yang dimiliki oleh pesawat tersebut sudah kurang bagus. Suara yang dihasilkan tidak jernih. Berbeda dengan pesawat yang baru seperti seri NG (Next Generation). Selain karena faktor pengeras suara, tidak ada lagi yang menjadi penyebab beliau untuk kurang memahami pengumuman di pesawat. Bahasa yang digunakan sudah tepat dan sesuai, hanya di pengeras suara letak permasalahannya.

“Beberapa pesawat lama mungkin iya, karena speakernya yang terlalu tua. Kalo yang seri NG ya oke punya. Tapi kalo bahasa mereka ya gak masalah, uda standart punya “

“Cuma pas kalo gua kedapatan pesawat yang lama gua merasa speakernya kurang bagus lagi, jadi kurang denger. Tapi overall cara penyampaian mereka good”

Bang Jekson menjelaskan bahwa ketika berkomunikasi langsung dengan awak kabin Garuda Indonesia tidak pernah mengalami persepsi lain baik dari segi

bahasa, senyuman, gerakan mata atau intonasi suara. Beliau merasa komunikasi yang terjalin dengan awak kabin Garuda Indonesia saling menyambung. Bahkan selama Bang Jakcson menaiki pesawat Garuda, tidak pernah selama hidupnya mengalami miss communication dengan awak kabin Garuda Indonesia. Tetapi Bang Jekson sedikit merasa aneh dengan intonasi suara awak kabin Garuda Indonesia ketika saat melakukan pengumuman. Menurut beliau ketika di akhir pengumuman, intonasi suara yang digunakan awak kabin tersebut masih tinggi atau menggantung. Hal ini terjadi ketika mengucapan kata ‘terima kasih’ di bagian akhir. Sehingga Bang Jekson merasakan bahwa pengumuman tersebut belum selesai dilakukan tetapi sebenarnya sudah selesai. Bang Jacskon menilai kalau hal seperti ini adalah common treatment di industri penerbangan. Jadi walaupun sedikit aneh, tapi tetap tidak ada masalah dalam hal komunikasinya.

“Yang menurut gua yang paling gua notice adalah itu mungkin common treatment di airline industries kali. Jadi kaya kata-kata terakhir si announcer itu seolah-olah kalimatnya belum selesai seperti menggantung gitu. Nada bicaranya masih diatas gak turun gitu, pas bilang terimakasih.

Tapi kalo lagi ngomong langsung ya gak ada masalah juga sih. Aman-aman.”

Selain dari hal intonasi suara atau berkaitan dengan komunikasi langsung dengan awak kabin Garuda Indonesia, dari segi penampilan seperti seragam, potongan rambut dan pemilihan parfum, beliau tidak merasa ada yang salah selama pengalaman menggunakan Garuda Indonesia dari awal. Dari beberapa pernyataan Bang Jekson juga pernah beberapa kali menaiki Garuda Indonesia dengan pilihan bussiness class. Karena beliau sudah pernah menggunakan bussiness class, tentu pernah merasakan kinerja dari purserGaruda Indonesia. Pria konsultan keuangan ini menilai bahwa kinerja purserGaruda Indonesia lebih bagus dan lebih cepat daripada awak kabin biasa. Hal ini karena penumpang yang ada di bussinessclass lebih sedikit dibandingkan dengan penumpang yang di economy class. Jadi purser yang lebih senior tentu semakin lebih cepat pekerjaannya dalam menangani penumpang. Bang Jakcson juga menganggap bahwa hal tersebut sangat wajar, karena kelas yang lebih tinggi dan bayaran mahal harus memiliki perbedaan yang jauh lebih baik. Secara keseluruhan memang

kinerja purser lebih baik, ramah dan cepat dibandingkan dengan awak kabin biasa.

“Jadi bedanya sih mereka uda tua. Dan mereka menanganinya gak sebanyak di kelas ekonomi. Jadi di ekonomi kan lebih riuh. Karena orangnya dikit, on the spot, jadi purser lebih cepat. Ya gua rasa sih karena emang kelasnya lebih tinggi pastikan pelayanannya harus lebih cepat.”

“Kinerja lebih bagus pasti yang purser, uda senior. Udah gua rasain juga sih.”

Ketika peneliti membahas kasus pelecehan pramugari Garuda Indonesia yang terjadi pada Mei 2017 lalu, ternyata Bang Jekson mengetahui berita tersebut.

Menurut beliau dalam kasus tersebut sudah jelas bahwa penumpang merupakan pihak yang patut disalahkan. Beliau menilai penumpang tersebut sangat kurang ajar, padahal pramugari tersebut hanya menawarkan makanan ataupun minuman tetapi bisa menimbulkan persepsi seperti itu. Selanjutnya ketika peneliti menanyakan mengenai kasus penamparan pramugari Garuda Indonesia di Riau beberapa tahun lalu, ternyata Bang Jekson juga mengetahuinya. Menurut sepengetahuan Bang Jekson sejelek-jeleknya pramugari, mereka akan tetap bersikap profesional. Sehingga sudah jelas bahwa anggota DPRtersebut yang bersifat arogan karena tiba-tiba menampar pramugari yang sedang memberikan pengumuman bahwa pesawatnya akan sedikit terlambat. Bang Jekson juga menilai bahwa keterlambatan pesawat itu adalah hal biasa, apalagi yang dialami oleh pesawat sekelas Garuda Indonesia yang menurut pengalaman beliau hampir tidak pernah mengalami keterlambatan. Bang Jekson juga yakin bahwa tidak ada yang salah dari komunikasi yang disampaikan pramugarinya.

“Itu jelas anggota DPRnya yang arogan. Sepanjang pengetahuan gua gak ikutin detail beritanya. Sejelek-jeleknya pramugari mereka akan sangat profesional. Ya mungkin kalo telat pesawat itu masih hal normal. Sekelas garuda yang jarang delay, sekali gak apalah. Belum pernah juga gua terlambat naik garuda. Jadi ya biasalah orang-orang arogan.”

Bang Jekson juga menilai secara keseluruhan bahwa penampilan, kinerja dari awak kabin Garuda Indonesia sangat terdidik, terlatih dan profesional.

Mereka mampu menghadapi berbagai penumpang dengan ramah. Hal ini membuat Bang Jekson yakin kalau gelar “World Best Cabin Crew” itu memang sangat pantas diberikan kepada Garuda Indonesia. Bang Jekson juga membandingkan dengan maskapai luar yang pernah digunakannya, yaitu Emiartes Airlines. Beliau menjelaskan bahwa awak kabin Emirates Airlines kurang ramah dan kurang charming. Mereka tidak tenang dan santai saat menghadapi penumpang. Bahkan dari segi penampilan tetap masih lebih baik Garuda Indonesia.

“Secara umum dari penampilan menurut gua pramugari dan pramugara garuda lebih terdidik, terlatih, lebih profesional. Mampu menghadapi tamu-tamunya lebih smiley.Masalah gelar itu gua rasa pantes banget.

Dibandingi dengan airline luar yang lain, seperti Emirates, JAL. Jadi pantes banget lah.”

Beliau menjelaskan kalau pekerjaan sebagai awak kabin tersebut tidak bisa dipaandang dengan sepele. Menurutnya awak kabin memegang sebagian keselamatan penumpang pesawat dan juga keamanan. Jika ada sesuatu yang terjadi di pesawat, awak kabin adalah orang yang pertama menghadapinya.

Selanjutnya Bang Jekson lebih menyukai kinerja dari pramugari dibandingkan dengan pramugara. Beliau mengaku alasannya karena hal subjektif, yaitu karena beliau merupakan seorang pria yang menyukai sosok pramugari yang notabene adalah wanita.

“Gak bisa sepele menurut gua, itukan sesuatu yang penting. Keselamatan penumpang sebagian ditangan mereka. Keamanan, kalo misalnya ada gaduh, mereka luan yang menangani.”

Diakhir wawancara Bang Jekson menyampaikan saran dan pesan-pesannya untuk Garuda Indonesia. Beliau berharap bagi pesawat-pesawat yang berjenis lama hendaknya untuk diganti dengan yang baru. Rasanya tidak pantas sebuah maskapai penerbangan yang memiliki 5 bintang masih menggunakan pesawat berjenis lama. Karena setiap beliau pergi ke Kalimantan, Garuda

Indonesia masih menggunakan pesawat yang lama. Bang Jekson juga ingin mencoba menaiki pesawat berjenis CRJ atau Bombardir yang hanya ke rute kota kecil.

“Pesan gua sih mungkin pesawat yang lama mungkin diperbaharui. Yang tua-tua harusnya uda diganti, udah 5 star masaan masih yang lama. Kalo gua ke kalimantan itu aduh gak cocok banget lah.”