• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.3 Hasil Wawancara

4.1.3.1 Informan I

Upaya dari Harian Waspada hingga dapat bertahan hingga saat ini menurut humas harian Waspada adalah berkaitan dengan memberikan informasi untuk hajat hidup orang banyak, atau berusaha memiliki keberpihakan kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari penggalan wawancara Dr. H. Erwan Effendi S.Sos.M.A berikut ini :

“Kita termasuk Koran tertua di luar pulau Jawa, dengan usia seperti itu orang akan bertanya bagaimana kiat kita bisa bertahan . Yang pertama kiat kita mengutamakan kepentingan yang banyak daripada yang sedikit. Ini istilah Burhan Bungin, artinya yang banyak itu adalah masyarakat, ada pedagang, petani, tukang becak dan lain-lain. Kemudian yang sedikit itu siapa, yaitu penguasa, presiden, gubernur, dan lain-lain. Bagaimana kita

mementingkan kepentingan orang banyak, kita mengangkat apa saja yang muncul ditengah persoalan yang terjadi di masyarakat.

Umpanya di Deli Serdang, apa masalah disana, petaninya ada banjir, ada serangan hama, nah petani kan orang banyak, bupati itu sedikit. Pak bupati, lahan pertanian di Deli Serdang banjir, petani gagal panen. Kita munculkan ini, kita sampaikan, maksud kita begitu supaya ada perhatian, nah dia terus respon. Terus kan muncul kebijakan, supaya petani bisa panen. Dengan begitu, pembaca kita akan merasa diperhatikan oleh media, ada kemaren pedagang yang kenak gusur, kita beritakan, ada mereka datang ke sini bawa jeruk berkeranjang-keranjang, tanda terima kasih sama Waspada. Jadi kita membangun ikatan emosional dengan pembaca. Makanya kami muncul dengan tema keadilan, tidak adil bagi kami jika mereka itu tidak diperhatikan”

Selain itu ada usaha membangun kedekatan emosional dan tradisional dimana pembaca kita kebanyakan adalah pembaca lama, kemudian menurunkan kepada anaknya untuk membaca Waspada. Hal ini menjadi dasar bagaimana pembaca Waspada tetap setia untuk membaca harian ini. Kemudian kiat kedua bagaimana waspada dapat bertahan adalah pembangunan SDM.

“Kiat kedua adalah pembangunan SDM, Artinya kita terus mengupgrade SDM kita. Perkembangan teknologi ini tidak kita biarkan SDM kita hanya bertahan disitu-situ aja. Misalnya dulu kan pakai computer, sekarang kan bisa pakai handphon buat beritanya. Semua kan karena SDM yang terus kita upgrade, kita bilangkan sama wartawan kita, jangan ada lagi yang pakai mesin ketik. Mau gak mau yang tua-tua akhirnya belajar-belajar.

Kemduian teknologi yang kita pegang agar kita tidak ketinggalan, misalnya dulu kita hanya belasan ribu cetak dalam waktu 40 Koran. Kita latih pelatihan SDM ini di Jakarta di lembaga dokter Sutomo, ada tahap 3 bulan, 6 bulan. Nah inilah yang menjadikan Waspada bisa bertahan hingga 73 tahun. Inti utamanya adalah komitmen”

Jika media online sudah berusaha hadir dan berusaha konsisten, keberadaan media online ini memiliki pengaruh terhadap Waspada Cetak.

“Sekarang ini jujur aja kita, dampak media online ini pertama media online cepat, jangkauan luas, perdetik sudah bisa dilihat.

Kalau kita kan tidak. Tapi ada kelebihan kita karena kita cetaknya

pagi, mereka sudah duluan, kita bisa pelajari kekurangannya kita pelajari. Inilah peluang kita. Kta begitu muncul besok pagi semua lengkap, komprehensif, narasumbernya lengkap. Kita bisa lakukan spotlite, human interest bisa kita lakukan.gitu sampai di pembaca, nah ini baru lengkap. Itu salah satu kelebihan kita sehingga orang masih memilih media cetak kita. Kelebihan lain misalnya dari dokumentasi seperti foto-foto. Jadi karena komprehensif itu sekarang di kita gak gampang jadi wartawan, karena kita mengutamakan itu, banayk sekarang kok yang ngerasa gampang jadi wartawan, tapi setahun dua tahun udah berhenti. Gak sanggup dia” kata Dr. H. Erwan Efendi S.Sos.M.A.

Strategi di harian waspada juga termasuk dengan koordinasi. Dengan adanya rapat sebagai media koordinasi ini memudahkan harian Waspada untuk mengontrol berita.

“Kita ada rapat bajet tentang pembiayaan, ada juga rapat proyeksi, tentang pembahasan isu apa yang mau kita angkat. Kita bicarakan pagi. Kita rumuskan semua masukkan dari wartawan.

Kita diskusikan isu, data-data yang tidak lengkap kitalengkapi dulu. Misalnya tentang isu criminal, kau kemana, kau kemana, buat berita apa spot news, human news dan lain-lain. Itu salah satu kiat agar kita bisa bertahan dari riuhnya medsos” Dr. H.

Erwan Efendi S.Sos.M.A.

Menurut humas harian Waspada, media cetak dan media online milik waspada memiliki manajemen yang berbeda meskipun berada pada nanungan satu owner yakni Waspada. Selain itu, Secara keuntungan, menurut humas Harian Waspada antara media online Waspada dengan media cetaknya masih jauh menguntungkan Waspada cetak. Artinya media cetak masih banyak pembaca.

“Pertama kita bedakan dulu online waspada dengan waspada online. Kalau online waspada itu kita, kita tampilkan newsletter kemduan untuk lengkapnya lihat besok. Tapi kalau waspada online di sebelah. Meskipun pemiliknya sama tapi secara manajemen berbeda. Kalau ditanya persaingan tentu ada, kayak berita, kadang mau orang itu comot berita kita, lalu karena wartawan kita ada di banyak daerah, mereka mau juga minta tolong sama wartawan kita menginfokan agar beritanya bisa segera naik ke online. Tapi gaklah kita anggap bersaing karena sama pemiliknya itu. kalau keuntungan memang masih lebih untuk cetaknya. Kalau kita bicara online Waspada ini aktif, mengupgrade berita. Mereka tinggal ambil aja itu, biar cepat masuk berita. Kalau kita online waspada itu waspada.co.id kalau mereka waspada.id” kata Dr. H.

Erwan Efendi S.Sos.M.A.

Terkait oplah dengan keberadaan media online sendiri, Humas Harian memakai beli waspada sekarang tidak lagi. Itu secara kasat mata, tapi soal itungg-itungannya orang marketing yang tahu. Karena anak muda kan uda hape aja. Sebelah ini kana da warkop, dulu baca waspada itu, sekarang udah gak ada lagi. Kalaupun ada waspada gak terbaca, nanti yang baca itu-itu aja, yang gaptek nanti.” kata Dr. H. Erwan Efendi S.Sos.M.A.

Terkait strategi pemberitaan menghadapi media online, harian waspada sudah tentu memiliki strategi, salah satunya dengan menghadirkan waspada.co.id, kemudian dengan training organizing dan controlling.

“Pengawasan kita terutama dalam berita tadi, kita mengatur berita apa.tak bisa sama memang setidaknya berusaha mengimbangi menghadapi online. Kita harus lebih memperbanyak-berita-berita yang sifatnya komprehensif, berita yang luas narasumbernya dan pembacanya. Menangkis ini kita punya empat rumus. Pertama fakta, misalnya berita ini fakta enggak, jangan ragu-ragu, jika itu fakta itu akan kita angkat, jangan opini. Setelah itu faktual, artinya baru, masih hangat-hangatnya masih dicari masyarakat.

Kemudiaan penting gak berita itu. kalau kita buat ini penting gak buat pembaca kita. Penting kali, gak penting nah inilah wartawan, kecerdasannya dimainkan disini. Setelah itu dicari gak berita itu.

empat rumusan ini harus terakomodir dalam menentukan berita itu bisa naik atau tidak. Jadi gak sembarangan buat judul penting gak dia buat pembaca kita kalau gak jangan dibuat-buat asal-asal tapi gitu dibaca aihh tak penting. tapi empat rumusan ini harus dibarengi dengan kecerdasan sebagai wartawan” kata Dr. H.

Erwan Efendi S.Sos.M.A.

Terkait media yang sudah tutup dengan hambatan yang dialami media karena persaingan dengan media online, harian Waspada juga merasakan hal yang kurang lebih sama.

“Kalau di Waspada, hambatan ini kan gak Cuma berasal dari kita.

Misaklnya sekarang karena covid, ada lockdown, PSBB, kan terganggu operasional kita, orang yang tadinya mau beli Koran, takut beli kahrinya ya dia baca online. Misalnya orang kantor, kalau dia gak masuk ya gak baca. Jadi kita gak bisa apa-apa.

Belum lagi faktor ekonomi. Koran-koran yang tutup itu kayak gitu juga udah ditekan harga korannya murah, karena faktor kebijakan, pengaruh besar. Kita gak pernah diperhatikan disini.”

kata Dr. H. Erwan Efendi S.Sos.M.A.