BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono,2016:224).
Adapun teknik yang digunakan peneliti adalah Wawancara Mendalam (in depth interview). Wawancara mendalam adalah teknik pengumpulan data dengan cara pertukaran verbal tatap muka yang dilakukan oleh seseorang pewawancara terhadap korespondennya atau informan. Peneliti berupaya untuk memperoleh informasi atau ungkapan-ungkapan pendapat serta keyakinan dari subjek peneliti.
Tujuan wawancara mendalam adalah mengumpulman informasi yang kompleks, sebagian besar berisi pendapat, sikap, pengalaman pribadi (Basuki, 2006 :173) 3.6 Teknik Analisis Data
Miles dan Huberman (Sugiyono, 2016 : 246) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Analisis data dalam penelitian ini adalah : 1. Reduksi Data
Peneliti Merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting.
2. Penyajian data
Langkah selanjutnya ialah menyajikan data. Penyajian dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat.
3. Penarikan Kesimpulan
Melakukan pemeriksaan kembali data-data yang sudah direduksi untuk dicari jawaban atas masalah yang diteliti.
Dalam penelitian ini untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi data. Triangulasi data merupakan teknik pengumpulan data dengan menggabungkan data dari sumber yang sudah ada. Peneliti menggunakan teknik triangulasi data yaitu triangulasi yang berkaitan dengan penggunaan beragam sumber dalam suatu penelitian (Birowo, 2004 : 7-8).
Pada tahap reduksi data, peneliti berusaha untuk memilah data yang dianggap penting dan akurat. Oleh karena itu, pada tahap ini membutuhkan ketelitian dan kecermatan agar tidak salah dalam memilih data yang paling akurat. Berikutnya, dari data yang sudah diperoleh dan dipilih mana yang akurat, akan diolah menjadi data sementara. Karena jika ada data baru yang lebih akurat, maka data yang sebelumnya akan dihapus. Hal ini terjadi pada tahap penyajian data. Tahap berikutnya adalah penarikan kesimpulan setelah data yang diperoleh dari penelitian tentang Strategi Pemberitaan Surat Surat Kabar Waspada Dalam Bersaing Dengan Media Online. Maka akan diambil kesimpulan yang akan menjadi hasil temuan dalam penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil
4.1.1.Proses Penelitian
Peneliti mengakui dalam proses mengaplikasikan metode tersebut bukan sebuah perkara yang mudah. Peneliti merasakan betapa sulitnya menempatkan analisis dari setiap informasi yang diberikan oleh informan. Kesulitan tersebut ketika menghadirkan setiap pendapat, setiap perasaan mereka terhadap persaingan media online sekarang. Tidak jarang peneliti kesulitan untuk mendeskrpsikan bagaimana kegelisahan mereka dalam unit-unit analisis yang peneliti buat.
Ketakutan peneliti adalah data yang bias atau bermakna ganda ketika menjelaskan setiap apa yang informan sampaikan. Namun peneliti berusaha mengurangi hal tersebut dengan melakukan deskripsi peneliti atas perasaaan-perasaan tersebut.
Peneliti juga merasakan beberapa kendala dalam proses penelitian ini terutama pada saat proses wawancara, karena seperti yang kita ketahui bahwa pandemi corona masih belum berakhir khususnya di Kota Medan. Sehingga, terhambatnya pross wawancara ini karena beberapa narasumer yang sulit ditemui dalam kondisi work from home. Namun, akhirnya peneliti berhasil menyelesaikan proses wawancara dengan 3 kali berkunjung ke kantor Harian Waspada Medan yaitu pada tanggal 11 May 2020 untuk bertemu dengan Redaktur Harian Waspada Medan dan pada tanggal 15 Mei 2020 bertemu dengan Humas Harian Waspada Medan dan juga pembaca media cetak Harian Waspada.
Penelitian ini juga melibatkan Wartawan cetak dari Harian Waspada serta Wartawan Online Harian Waspada yang dalam hal ini tidak bisa ditemui secara langsung karena melonjaknya angka positif corona di Kota Medan. Sehingga melalui kesepakatan akhirnya memutuskan untuk diwawancarai secara online yaitu via chat dan voice note yaitu pada tanggal 18 Mei 2020 dan peneliti kembali datang ke Harian Waspada pada tanggal 02 September 2020 untuk mewawancarai Kepala Personalia dari Harian Waspada demi melengkapi kebutuhan penelitian.
Sebagai contoh bagaimana perasaan-perasaan yang muncul dalam proses wawancara adalah sensitifitas agama yang disampaikan oleh Redaktur Harian Waspada. Hal ini secara tidak langsung, memberikan ruang bias bagi peneliti, seolah kehadiran harian waspada hanya mereprentasikan kepentingan umat Islam saja. Padahal media ini merupakan media nasional yang dituntut untuk memiliki keberimbangan berita tanpa kecenderungan sara.
Secara umum proses penelitian berjalan lancar dimana peneliti mendapatkan respon yang baik dari redaktur hingga wartawan harian Waspada.
Respon yang baik ini pada akhirnya memudahkan peneliti untuk mendeskripsikan fokus penelitian yang ingin dicapai.
4.1.2 Profil Informan
Peneliti akan memberikan gambaran secara umum mengenai profil informan yang telah diwawancarai untuk penelitian ini. Keenam informan adalah informan utama yaitu pegawai yang bekerja di Kantor Harian Waspada Medan.
Terdiri atas Redaktur Harian Waspada Medan, Koordinator Harian Waspada Medan, Humas Harian Waspada Medan, Redaktur Pelaksana Online, Wartawan Cetak dan Wartawan Online Harian Waspada Medan. Masing-masing informan memiliki latar belakang yang berbeda-beda, serta jabatan dan usia yang berbeda pula sehingga dapat menghasilkan informasi yang berbeda-beda dari masing-masing orang.
Informan I
Nama : Dr. H. Erwan Effendi S.sos M.A Tempat/Tgl Lahir : Tanjung Tiram, 30 Desember 1963
Alamat : Jl. Denai No. 213 A kel. Tegal Sari Mandala 2 Medan
Usia : 56 Tahun
Lama Bekerja : 34 Tahun
Agama : Islam
Jabatan : Humas Harian Waspada
Erwan Effendi yang akrab disapa Erwan, lahir di Tanjung Tiram, 30 Desember 1963 merupakan pria yang berusia 56 Tahun. Sosoknya yang dikenal pria menuntun atau dalam bahasa jawa biasa disebut ngemong, “mungkin karena perbedaan usianya yang cukup jauh antara para pekerja lainnya” ucap Erwan.
usianya bekerja di Harian Waspada juga bukan main-main yaitu sejak 1986 atau selama 34 tahun. Bahkan bisa dibilang Erwan menjalankan masa mudanya di Harian Waspada Medan.
Jabatannya saat ini sebagai Humas Harian Waspada. Erwan paham betul mengenai sejarah Harian Waspada sejak pertama kali berdiri sampai saat ini, bahkan ia cukup merasakan jatuh bangunnya dunia pers. Namun yang tertanam dalam pikirnya bahwa pers tidak akan pernah mati, karena masyarakat akan tetap membutuhkan berita untuk menetahui perkembangan-perkembangan serta isu-isu berkembang yang ada.
Sebagai Humas Harian Waspada Medan pria dengan kulit kuning langsat ini mengambil peran penting untuk menjaga dan meningkatkan citra positif perusahaan agar terlihat baik dimata masyarakat. Tentunya peran media juga sangatlah penting baginya, dengan adanya media maka banyak sekali tugas humas yang terbantu. Salah satunya adalah mengembangkan berita seputar citra dari perusahaan. Maka dari itu setiap bagian di perusahaan pasti memiliki peran masing-masing.
Beliau juga banyak berkutat tentang bagaimana mengembangkan Harian Waspada agar tetap mampu mempertahankan eksistensi dimata masyarakat.
Perkembangan media cetak yang bisa bertahan sampai saat ini baginya adalah sebuah perjalanan panjang dan ia juga merasa mengambil peran penting dalam mempertahankan eksistensi media cetak serta menjaga kualitas berita hingga tetap berada dihati para pembaca. Beliau sadar untuk dapat terus bertahan ditengah perkembangan teknologi dan media saat ini, perlu diterapkan strategi.
Informan II
Nama : Muhammad Ferdinan Sembiring Tempat/Tgl Lahir : Tanah Karo, 5 Juli 1973
Alamat : Jl. Penerbangan gg. Tani baru Medan Selayang
Usia : 47 Tahun
Lama Bekerja : 20 Tahun
Jabatan : Redaktur
Agama : Islam
Muhammad Ferdinan Sembiring yang akrab disapa Ferdinan merupakan salah satu pegawai di Harian Waspada Medan. Lelaki asli Batak ini lahir di Tanah Karo, 5 Juli 1973. Memiliki tinggi kurang lebih 165cm dengan kulit sawo matang ini ditempatkan sebagai Redaktur harian Waspada Medan yang telah bekerja selama 15 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menekuni bidang Jurnalistik dan Ferdinan juga mengaku banyak sekali pengalaman yang diterimanya semasa bekerja sampai saat ini.
Dalam kurun waktu yang tidak sebentar, Pria 47 tahun ini memahami bagaimana perkembangan Harian Waspada Medan dan bagaimana mereka menjaga eksitensi hingga tetap bertahan sampai sekarang. Selain menjabat sebagai Redaktur, beliau juga merangkap tugas sebagai Koordinator Liputan Harian Waspada. Merangkap 2 jabatan dalam sebuah pekerjaan tidaklah mudah baginya.
Ferdinan mengaku terkadang juga mengalami kesulitan, khususnya dalam membagikan waktu untuk mengerjakan deadline agar selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Awal mulanya bekerja sebagai wartawan adalah di Harian Waspada Medan ini, pertama kali Ferdinan erjun ke dunia Jurnalistik tidak langsung menjadi Redaktur, melainkan sama seperti pada umumnya yaitu merintis dari 0 yaitu menjadi wartawan cetak. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari berita demi memenuhi laman Harian Waspada Medan sebelum sampai ke tangan pembaca.
Ferdinan mengaku terkadang ia bisa tiba-tiba mendapat telepon untuk langsung menuju TKP karena ada berita terbaru dan benar saja, para wartawan akan berkumpul untuk mencari berita terkait dengan suatu berita. Seiring berjalannya waktu dan dengan pengalaman yang dimilikinya, ia menempati posisi sebagai Redaktur. Tugas redaktur adalah mengecek berita para wartawan sebelum berita tersebut dicetak dan sampai ke tangan pembaca. Biasanya setiap pagi pukul 10.00 WIB akan ada rapat bersama para wartawan untuk membahas deadline berita dan lead berita, itulah rutinitas Ferdinan sebagai seorang Redaktur.
Selain menjabat sebagai Redaktur, pria dengan kulit sawo matang ini juga menjabat sebagai Koordinaor Liputan yaitu sebagai orang yang bertanggung jawab atas berita dan juga kemajuan pers. Bagi Ferdinan, kesulitan setiap
pekerjaan pasti ada tapi tinggal bagaimana cara kita menagturnya agar selesai dengan baik, karena kedua jabatan yang ditempatinya saat ini tetaplah sejalan yaitu demi memajukan perusahaan dan menjaga eksistensi berita.
Informan III
Nama : Khaidir Anwar S.Sos Tempat/Tgl Lahir : Tebing Tinggi, 4 Mei 1967 Alamat : Jl. Karya Kasih Johor Medan
Usia : 53 Tahun
Lama Bekerja : 27 Tahun
Agama : Islam
Jabatan : Kepala Personalia Harian Waspada
Khaidir Anwar merupakan pria kelahiran Tebing Tinggi, 4 Mei 1967 yang akrab disapa Khairil. Perawakan dengan tinggi kurang lebih 172cm dan berkulit putih merupakan Kepala Personalia dari Harian Waspada yang sudah bekerja di Harian Waspada sejak tahun 1993 yang artinya tahun ini memasuki tahun ke 27 beliau bekerja.
Sebagai Kepala Personalia beliau menggeluti bidang SDM di Harian Waspada yang cukup paham bagaimana kebutuhan SDM yang diperlukan untuk mempertahankan eksistensi Harian Waspada. Beliau juga memahami bagaimana strategi-strategi yang dipersiapkan Harian Waspada sebagai koran tertua di Sumatera Utara.
Sampai saat ini beliau mengakui menjalin hubungan baik dengan seluruh pegawai internal baik eksternal dari Harian Waspada karena sudah sejatinya seseorang yang menggeluti bidang SDM menjalin hubungan baik dengan seluruh pegawai agar dapat memahami kbutuhan apa saja yang diperlukan dan bagaimana mengembangkan SDM yang ada menjadi lebih baik.
Bagi beliau Harian Waspada sudah seperti rumah kedua karena pengalaman beliau yang terbilang cukup lama, sehingga membuat beliau menjadi salah satu sosok yang berperan dalam manajemen Harian Waspada agar mampu mempertahankan eksistensinya melawan persaingan media saat ini.
Informan IV
Nama : Sri Wahyuni Naibaho Tempat/Tgl L ahir : Medan, 1 Juni 1980
Alamat : Jl. Kelambir gg. Ridho no. 2 Tanjung Gusta Medan
Usia : 40 tahun
Lama Bekerja : 2 tahun
Agama : Islam
Jabatan : Reporter Cetak Harian Waspada
Sri Wahyuni merupakan wanita asli Medan yang akrab disapa Yuni. Lahir di Medan, 1 Juli 1980 Yuni merupakan sosok yang dikenal ramah dalam pekerjaannya. Meskipun ia belum lama bergabung dengan Harian Waspada Medan namun baginya dunia wartawan adalah dunia yang sangat menyenangkan untuknya yang membuat Yuni merasa cepat akrab dengan para pegawai lainnya, khususnya para wartawan lapangan.
Wanita yang akrab disapa Yuni ini terjun menjadi seorang wartawan adalah karena ketertarikannya dalam dunia Jurnalistik. Ia merasa disinilah passion yang dimilikinya. Karena senang menulis dan mencari hal-hal baru membuat dirinya ingin terjun langsung ke lapangan dan akhirnya seperti keinginannya, ia menjadi salah sau wartawan cetak di Harian Waspada Medan.
Walaupun Yuni terbilang wartawan baru di harian Waspada yaitu usianya bekerja diharian Waspada masih 2 tahun. Yuni sedang membangun banyak pengalaman dan juga relasi dengan wartawan lain. Wanita dengan tinggi 162cm ini merasa nyaman menjadi seorang wartawan meski dirinya adalah seorang wanita dengan pekerjaan yang tidak monoton. Pekerjaan yang menuntut dirinya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat tidaklah menghambat dirinya. Baginya pria dan wanita bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Menjabat sebagai reporter cetak Harian Waspada Medan, Yuni dituntut untuk menghasilkan berita yang komprehensif atau menyeluruh. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari ia bisa pergi ke 4 sampai 5 tempat untuk mencari berita.
Setelah mengumpulkan berita lalu ia mulai menuliskannya kedalam sebuah narasi, biasanya ia sering mengerjakan tugas menulisnya di warung sambil minum
segelas teh atau kopi dan bertemu dengan wartawan lainnya juga, disitulah mereka saling bertukar pikiran atau mencari ide untuk menulis.
Informan V
Nama : Eko Kurniawan
Tempat/Tgl Lahir : Sambirejo Timur, 22 Oktober 1993 Alamat : Jl. Makmur psr VII Dusun V Dahlia
Usia : 26 tahun
Lama bekerja : 5 tahun
Agama : Islam
Jabatan : Wartawan Online
Eko Kurniawan yang lebih dikenal dengan Eko Rore merupakan pria yang lahir di Sambirejo Timur, 22 Oktober 1993. Pria suku Jawa ini merupakan seorang wartawan online di Waspada Online Medan. Bekerja sebagai seorang wartawan dalam kurun waktu 5 tahun terbilang cukup untuk pengalamannya dalam dunia jurnalistik.
Pria dengan tinggi 160cm dan kulit sawo matang ini merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan dengan penjurusan jurnalistik. Lulus di tahun 2012 membuatnya memiliki ambisi untuk menekuni bidang jurnalistik. Sebelum bekerja sebagai wartawan online, ia merupakan Freelance Master of Ceremony dalam berbagai acara, dari mulai acara pernikahan, seminar dan bahkan acara formal lainnya.
Setelah beberapa tahun bekerja sebagai freelancer, ia ingin menekuni bidang jurnalistik lebih dalam dan menjadikannya sebagai seorang wartawan online di Waspada Online saat ini. Hari-harinya juga sama dengan para wartawan cetak lainnya, mencari berita dan menuliskan berita lalu dikirim kepada editor sebelum dirilis ke media.
Eko merasa bidang yang ia tekuni sesuai dengan apa yang ia pelajari selama duduk di bangku kuliah. Bahkan tak jarang ia berkolaborasi dalam beberapa kegiatan yang melibatkan pekerja mediaseperti Kuliner Medan dan Tauko Tembung. Biasanya dalam beberapa bulan sekali merka berkolaborasi
untuk berkunjung ke suatu cafe atau tempat wisata untuk dipromosikan di media online seperti instagram dan juga waspada online.
Informan VI
Nama : Muhammad Agus Utama S.sos Tempat/Tgl Lahir : Medan, 23 Agustus 1982 Alamat : Jl. Santun no. 34b Medan Usia : 37 tahun
Lama Bekerja : 8 tahun
Agama : Islam
Jabatan : Redaktur Pelaksana Waspada Online
Agus Utama merupakan seorang pria berusia 37 tahun yang mengawali karir sebagai seorang wartawan online di Waspada Online sejak tahun 2012.
Sebagai seorang wartawan, tugasnya sama seperti wartawan pada umumnya yaitu mencari berita dan menuliskan berita sebelum dikirimkan kepada editor. Pria kelahiran Medan, 23 Agustus 1982 ini sudah cukup banyak mendapatkan pengalaman saat mencari berita di lapangan.
Saat ini Agus menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Waspada Online.
Baginya tidak banyak perbedaan antar 2 jabatan tersebut, hanya saja saat ini ia memiliki tanggung jawab lebih. Khususnya dalam hal-hal yang bersifat teknis.
Agus bertanggung jawab memimpin langsung aktifitas pembuatan berita atau artikel sebelum terbit di media.
Sebagai seorang Redaktur Pelaksana tentunya ada tanggung jawab lebih yang dipikul olehnya karena memegang sebuah jabatan penting di dalam perusahaan. Hal ini merupakan pencapaian tersendiri dimana dengan bekerja selama 8 tahun bisa sampai di titik ini. Terlebih posisinya sebagai redaktur pelaksana media online, hal ini karena kecakapan yang beliau miliki dalam menguasai perkembangan teknologi. Sehingga ia dianggap mampu untuk mengemban posisi tersebut.
Sehari-hari Agus bertugas untuk memimpin rapat harian bersama dengan para wartawan online untuk membahas isu-isu terkini. Berita yang terbit di website dan media juga bukan sembarang berita, melainkan ia harus membuat
perencanaan isi untuk setiap berita yang akan terbit, dan pria dengan tinggi 170cm ini akan berkoordinasi langsung dengan para redaktur dan editor dalam mempersiapkan berita yang akan terbit.
Informan
Pada bagian ini menyajikan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terkait tema penelitian. Hasil wawancara ini disajikan dengan melihat pandangan yang diberikan oleh Humas Harian Waspada, Redaktur Harian Waspada, Kepala Personalia Harian Waspada, Wartawan cetak serta Wartawan online Harian Waspada. Dalam upaya menjaga eksistensi, Harian Waspada menerapkan beberapa strategi, menurut pandangan Redaktur, Harian Waspada waspada dapat bertahan hingga umur 73 tahun menerapkan tiga strategi dalam memuat berita.
Ketiga strategi tersebut antara lain : 1. Patuh pada undang-undang PERS
2. Bersandar pada kode etik jurnalistik, dan, 3. Selalu melakukan survey pembaca.
4.1.3.1 Informan I
Upaya dari Harian Waspada hingga dapat bertahan hingga saat ini menurut humas harian Waspada adalah berkaitan dengan memberikan informasi untuk hajat hidup orang banyak, atau berusaha memiliki keberpihakan kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari penggalan wawancara Dr. H. Erwan Effendi S.Sos.M.A berikut ini :
“Kita termasuk Koran tertua di luar pulau Jawa, dengan usia seperti itu orang akan bertanya bagaimana kiat kita bisa bertahan . Yang pertama kiat kita mengutamakan kepentingan yang banyak daripada yang sedikit. Ini istilah Burhan Bungin, artinya yang banyak itu adalah masyarakat, ada pedagang, petani, tukang becak dan lain-lain. Kemudian yang sedikit itu siapa, yaitu penguasa, presiden, gubernur, dan lain-lain. Bagaimana kita
mementingkan kepentingan orang banyak, kita mengangkat apa saja yang muncul ditengah persoalan yang terjadi di masyarakat.
Umpanya di Deli Serdang, apa masalah disana, petaninya ada banjir, ada serangan hama, nah petani kan orang banyak, bupati itu sedikit. Pak bupati, lahan pertanian di Deli Serdang banjir, petani gagal panen. Kita munculkan ini, kita sampaikan, maksud kita begitu supaya ada perhatian, nah dia terus respon. Terus kan muncul kebijakan, supaya petani bisa panen. Dengan begitu, pembaca kita akan merasa diperhatikan oleh media, ada kemaren pedagang yang kenak gusur, kita beritakan, ada mereka datang ke sini bawa jeruk berkeranjang-keranjang, tanda terima kasih sama Waspada. Jadi kita membangun ikatan emosional dengan pembaca. Makanya kami muncul dengan tema keadilan, tidak adil bagi kami jika mereka itu tidak diperhatikan”
Selain itu ada usaha membangun kedekatan emosional dan tradisional dimana pembaca kita kebanyakan adalah pembaca lama, kemudian menurunkan kepada anaknya untuk membaca Waspada. Hal ini menjadi dasar bagaimana pembaca Waspada tetap setia untuk membaca harian ini. Kemudian kiat kedua bagaimana waspada dapat bertahan adalah pembangunan SDM.
“Kiat kedua adalah pembangunan SDM, Artinya kita terus mengupgrade SDM kita. Perkembangan teknologi ini tidak kita biarkan SDM kita hanya bertahan disitu-situ aja. Misalnya dulu kan pakai computer, sekarang kan bisa pakai handphon buat beritanya. Semua kan karena SDM yang terus kita upgrade, kita bilangkan sama wartawan kita, jangan ada lagi yang pakai mesin ketik. Mau gak mau yang tua-tua akhirnya belajar-belajar.
Kemduian teknologi yang kita pegang agar kita tidak ketinggalan, misalnya dulu kita hanya belasan ribu cetak dalam waktu 40 Koran. Kita latih pelatihan SDM ini di Jakarta di lembaga dokter Sutomo, ada tahap 3 bulan, 6 bulan. Nah inilah yang menjadikan Waspada bisa bertahan hingga 73 tahun. Inti utamanya adalah komitmen”
Jika media online sudah berusaha hadir dan berusaha konsisten, keberadaan media online ini memiliki pengaruh terhadap Waspada Cetak.
“Sekarang ini jujur aja kita, dampak media online ini pertama media online cepat, jangkauan luas, perdetik sudah bisa dilihat.
Kalau kita kan tidak. Tapi ada kelebihan kita karena kita cetaknya
pagi, mereka sudah duluan, kita bisa pelajari kekurangannya kita pelajari. Inilah peluang kita. Kta begitu muncul besok pagi semua lengkap, komprehensif, narasumbernya lengkap. Kita bisa lakukan spotlite, human interest bisa kita lakukan.gitu sampai di pembaca, nah ini baru lengkap. Itu salah satu kelebihan kita sehingga orang masih memilih media cetak kita. Kelebihan lain misalnya dari dokumentasi seperti foto-foto. Jadi karena komprehensif itu sekarang di kita gak gampang jadi wartawan, karena kita mengutamakan itu, banayk sekarang kok yang ngerasa gampang jadi wartawan, tapi setahun dua tahun udah berhenti. Gak sanggup dia” kata Dr. H. Erwan Efendi S.Sos.M.A.
Strategi di harian waspada juga termasuk dengan koordinasi. Dengan adanya rapat sebagai media koordinasi ini memudahkan harian Waspada untuk mengontrol berita.
“Kita ada rapat bajet tentang pembiayaan, ada juga rapat proyeksi, tentang pembahasan isu apa yang mau kita angkat. Kita bicarakan pagi. Kita rumuskan semua masukkan dari wartawan.
Kita diskusikan isu, data-data yang tidak lengkap kitalengkapi
Kita diskusikan isu, data-data yang tidak lengkap kitalengkapi