BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3 Hasil Wawancara
4.1.3.3 Informan III
Kepala Personalia Harian Waspada berpendapat bahwa SDM saat ini juga menjadi poin penting dalam mempertahankan eksistensi dari media cetak khususnya Harian Waspada saat ini, seperti yang disampaikan beliau melalui penggalan wawancara sebagai berikut
“Jadi kalau kita berbicara tentang apa saja strategi yang media cetak itu sendiri dalam menghadapi persaingan media online salah satu yang penting dan tak boleh terlupakan yaitu ya SDM-nya. Bagaimana semua strategi bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang sudah dipersiapkan kalau SDM-nya saja tidak mendukung kan. Nah, jadi poinnya bisa dibilang bahwa semuanya yang terikat dalam media ini punya peran-peran penting untuk mempertahankan eksistensi dari Harian Waspada ini.”
Selain SDM yang menjadi salah satu poin penting dalam upaya mempertahankan eksistensi koran tertua di Sumatera Utara ini, ada juga usaha membangun kedekatan dengan seluruh pegawai satu sama lain guna agar lebih terasa harmonis walaupun dalam hubungan kerja.
“Kalau tadi sudah membahas SDM-nya sekarang bagaimana seluruh SDM ini dapat membangun kedekatan emosional satu sama lain. Karena selama saya disini, saya menilai bahwa kita tidak cukup cuma kerja datang lalu selesai pulang. Tapi, kita juga harus membangun hubungan
baik dengan rekan kerja kita agar lebih nyaman rasanya bekerja, dalam artian bukan hanya mengejar pendapatan saja, tetapi juga enjoy menjalaninya. Yang saya sampaikan ini bukan hanya natar wartawan saja, tetapi juga hubungan seluruh pegawai baik secara struktural internal dan juga eksternal. Sehingga kalau kita sudah nyaman berada dengan orang-orang yang buat senang, pekerjaan juga akan terasa ringan rasanya.”
Menurut Kepala Personalia Harian Waspada, dengan bertahannya SDM Harian Waspada sampai saat ini yang terbilang tidak sedikit, maka pastinya juga memiliki strategi manajemen yang dipersiapkan sedemikian rupa baiknya hingga bisa bertahan sampai saat ini. Bahkan seluruh wartawan tersebar sampai ke pelosok daerah untuk meliput berita terkait isu-isu terkini.
“Berbicara tentang strategi manajemen dari Harian Waspada sendiri kalau diceritakan dari awal sampai saat ini pasti gak akan ada habisnya ya, namanya juga strategi pasti akan berubah-ubah mengikuti perkembangan yang ada. Tapi pada dasarnya strategi yang akan selalu adayaitu kita benar-benar harus mengikuti perkembangan zaman itu tadi, tidak bisa namanya kita berusaha bertahan dengan satu strategi saja.
Zaman semakin canggih maka pola pikir juga akan semakin luas. Kita lihat pasar yang ingin kita cakup itu siapa dan kebutuhan beritanya seperti apa, maka kemudian kita sesuaikan dengan strategi agar masyarakat tersebut bisa menerima kehadiran media dan juga berita yang kita tulis. Ya.. begitulah namanya kita bekerja di media, tidak bisa hanya stuck di satu pemikiran saja, ketika ada situasi baru terjadi, harus langsung bisa putar otak mengatasi situasi itu.”
Selalu ada upaya yang dilakukan Harian Waspada untuk mengembangkan strategi pemberitaan dan juga mempertahankan eksistensi dari media ini. Namun tidak semua upaya yang dilakukan berjalan dengan mulus karena pastinya selalu ada nilai plus dan minus. Begitu juga dengan strategi pasti akan selalu ada hambatan yang terjadi.
“Hambatan selalu ada pastinya, namanya juga usaha pasti akan selalu ada rintangannya biar lebih terasa nikmat usahanya. Kita lihat saja media cetak saat ini, terlebih saat ini sedang terjadi Covid-19 yang membuat bukan hanya laju media cetak saja yang berhenti, tetapi untuk semua sektor terkena dampaknya. Jadi, ya.. ini juga salah satu hambatan yang terjadi. Kita sudah mempesiapkan strategi akan mencetak sekian banyak koran. Namun dikarenakan situasi yang membuat hotel, sekolah dan perkantoran tutup sementara sehingga berdampak terhadap pengiriman yang biasanya setiap hari tempat-tempat tersebut selalu berlangganan koran Harian Waspada kini harus berhenti sementara sehingga kita juga
harus memperkecil jumlah cetak koran yang akan di distribusikan. Jadi seperti itu, hambatan itu pasti ada baik internal maupun eksternal. Tapi, selalu ada solusi juga yang dipersiapkan untuk mengadapi hambatan tersebut. Walaupun tidak sepenuhnya terselesaikan, paling tidak membantu meringankan.”
Permasalahan yang terjadi bukan hanya hambatan dalam aspek strategi saja, saat ini hadirnya media online sedikit banyaknya menjadi hambatan bagi media cetak.
“Kalau bercerita jujur, pendapat saya dengan hadirnya media online pastinya sangat berdampak pada media cetak. Apalagi anak-anak zaman sekarang yang maunya apa-apa serba cepat dan instan kan. Jadi media online itu bisa jadi solusi yang pas untuk generasi saat ini. Kalau seperti saya ini lebih seneng ya baca media cetak, beritanya akurat dan juga lengkap. Kalau media online kan hanya kulit-kulitnya saja. Tapi, tetap saja itu tadi kan.. kita harus mengikuti arus perkembangan zaman, jangan sampai termakan oleh zaman, jadi dengan hadirnya media online tadi jadi acuan media cetak ini harus dibuat seperti apa dan Harian Waspada sendiri jugakan punya media online. Jadi tetap bagaimanapun ceritanya diseimbangkan antara kedua media ini sehingga tidak ada yang mati. Kita lihat aja beberapa media sudah gulung tikar kerena tidak mampu bertahan. Jadikan itu sebagai pelajaran agar bisa membangun strategi lebih baik lagi.”
4.1.3.4. Informan IV
Hasil wawancara sebelumnya diperoleh informasi bahwa di Harian Waspada tidak secara khusus membedakan wartawan cetak dengan wartawan online. Setiap wartawan di harian Waspada wajib memposting berita temuannya ke waspada.id. hal ini membuktikan bahwa harian Waspada memiliki wartawan yang mampu menulis konten berita secara cepat dan akurat karena memiliki kewajiban untuk cepat memposting berita di online dan membuat berita secara lengkap di media cetak. Namun pada beberapa kondisi, wartawan yang lebih muda lebih sering menghiasi laman waspada.id dibanding dengan wartawan yang lebih senior. Hal ini terkadang memberikan gambaran bagaimana wartawan yang lebih muda sering diidentikkan dengan wartawan waspada online sedangkan wartawan yang lebih senior lebih banyak menghiasi rubrik di media cetaknya.
Sebelum membahas bagaimana mekanisme kerja di waspada.id, sebagai bahan perbandingan perlu dilihat bagaimana mekanisme kerja pada media cetak.
Dari sisi penulisan di media cetak tetap menggunakan 5 W+ 1H dengan isi berita yang lebih lengkap.
Pada penulisan media cetak tidak berubah, hal ini karena dasarnya berita pada media cetak maupun online harus memenuhi kaidah dasar penulisan.
Kemudian, di media cetak memiliki syarat kelengkapan berita yang lebih lengkap dan lebih ketat dibanding media online. Hal ini terlihat dari pandangan ahli yang lebih terstruktur di runut. Prosesnya juga mengalami beberapa pemeriksaan kelayakan sepertipemeriksaan dari redaktur, pemred terus sampai bisa naik cetak.
Hal ini berguna meminimalisir kesalahan tulis, hingga konten yang mampu menyinggung para pembaca.
Pada media cetak, wartawan tetap menjaga eksistensi pemberitaan yang actual dengan menjaga keakuratan, nilai- berita dan kelengkapan unsur-unsur berita yang menarik. Kondisi tersebut juga harus berimbang dengan melakukan cover bothside.
Keberadaan waspada.id dan media online lainnya tentu mempengaruhi oplah Koran dan percepatan publikasi berita. Namun pada satu kondisi, pembaca tetap lebih suka membaca informasi di media cetak karena berisi berita yang lebih lengkap dengan analisis yang lebih tajam dibandingkan waspada.id ataupun media online lainnya.
Hal menarik tentu adalah bagaimana mekanisme penulisan di waspada online. Menurut wartawan mekanisme penulisan di waspada.id tetap menggunakan kaidah 5W+1 H, unsur berita, unsur dalam penulisan berita.
Dari segi penulisan, kami menggunakan aturan 5W+1 H, unsur berita, dan unsur dalam penulisan berita. Kenapa kami memakai kaidah 5W +1 H karena, unsur ini akan menggambarkan berita yang kita up atau kita informasikan kepada masyarakat melalui media online. Segi penulisan sendiri kita berusaha membuat berita itu bisa dipahami oleh masyarakat dan tidak terlalu panjang. Hal ini karena di media online itu berita itu harus semaksimal mungkin, cukup padat tapi tidak terlalu panjang, kata Yuni Naibaho.
Penulisan pada media cetak pada dasarnya sama-sama menggunakan kaidah 5W+ 1 H, hanya saja pada media syarat kelengkapan berita jauh lebih ketat dibandingkan waspada.id yang lebih padat dan cenderung lebih longgar item penyusunnya.
Terkait ketentuan khusus, wartawan Waspada meyakini ada ketentuan ketentuan khusus yang mereka lakukan dalam membuat berita. Ketentuan tersebut seperti yang digambarkan dalam penggalan wawancara berikut :
Ketentuan khusus pasti ada, itu namanya angel berita. Jadi kita sebagai wartawan dituntut untuk bisa membuat angel berita atau judul berita yang lebih menarik, yang bisa menarik pembaca untuk visit ke media kita. Dengan kita membuat judul yang menarik, menghasilkan berita yang menarik pembaca.Selain menarik, wartawan waspada online juga dituntut untuk cepat dalam menerbitkan berita.
Kalau cerita dituntut kita sebagai wartawan online harus bisa mengutamakan kecepatan dalam mempublish berita. Contoh misalnya kita berada di suatu kejadian, gimana cara kita bisa membuat angel yang kita lihat dulu atau berita pandangan mata yang kita lihat, kita publish agar kita bisa dengan cepat mengupdate berita tersebut. Kemudian kita harus bisa mengfolow up lagi dengan membuat berita dengan judul yang beda. Jadi kalau dibilang dituntut, sangat dituntut kecepatan, tapi sebagai wartawan kita juga harus bisa mengutamakan ketepatan atau fakta berita itu sendiri. Jadi kita bener-bener harus crosscheck.
Kita harus bisa cover bothside, harus bener-bener berita itu real dan tidak hoaks, kata Yuni Naibaho.
Terkait skema kerja, pada waspada.id ,menerapkan skema kerja yang sedikit berbeda dengan media cetaknya. Salah satu unsur yang membedakannya adalah kecepatan menerbitkan berita.
Skema kerja yang diterapkan pada waspada.id adalah bagaimana wartawan dapat dengan cepat mengupdate berita ketia dia berada di suatu lapangan, ketika dia meliput sebuah peristiwa dia harus cepat mengupdate berita dengan dia mencari informasi-informasi terupdate terlebih dahulu sebelum dia mengfolow up berita-berita dengan angel yang berbeda. Skema yang lain, wartawan waspada.id tidak harus menunggu tapi bener-bener harus mengejar, jadi ketika ada peristiwa kita harus mengejar, jemput bola, gak bisa kita Cuma menunggu mendapatkan informasi dari orang lain ataupun dari wartawan lain. Harus bener-bener ke lapangan, terjun langsung, membuat beritanya kemudian mempublis beritanya, kata Yuni Naibaho.
Secara umum wartawan media cetak maupun waspada.id lebih mementingkan kualitas berita, isi dan tetap berada di jalur yang ditetapkan oleh kode etik jurnalistik. Hal inilah yang mampu menguatkan harian waspada dan waspada.id tetap eksis di Sumatera Utara.
4.1.3.6. Informan VI
Prinsip dasar Waspada dalam menghadapi berkembangnya media online menurut redaktur pelaksana adalah dengan mengikuti kemajuan teknologi.
Teknologi menjadi acuan yang penting agar tidak tergerus pada perkembangan zaman dimana informasi akan berjalan dengan sangat cepat.
“media cetak sekian persennya akan tergerus ke media online. Hal itu sedikit banyaknya berpengaruh pada teknis masyarakat mendapatkan informasi. Masyarakat akan lebih mudah, meraih informasi dan gratis dengan hanya sekali klik.. perkembangan teknologi digital harus diikuti, trennya memang begitu, kemajuan saat ini tidak bisa dihalangi, itu bagian dari pergerakan peradaban, kebiasaan manusia akan bergeser dari kertas, ke digital. Kemajuan ini harus diikuti dengan inovasi. Dengan ketatnya persaingan mesti ada pembeda, misalnya pada waspada.id, yang tampilannya biasa jadi menarik saya ingat dulu media online ini banyak mengutamakan konsep warna, seiring berjalannya waktu, warna ini berpengaruh pada mata, lihat sekarang media online serba simple, ringan, putih, itu termasuk dari inovasi” kata Agus Utama.
Dari sisi penulisan, antara media cetak dengan media online di harian waspada berbeda. Hal ini disebabkan karena kemudahan akses informasi di media online, media cetak juga harus menampilkan sesuatu yang berbeda.
“Dengan kemajuan digital sekarang harus berbeda, semakin udahnya orang mendapatkan informasi di media online, tentunya informasi yang didapat hari ini, paling cepat akan dimuat besok di media cetak, hal ini tentu akan menggerus pembaca, apabila tidak ada perbedaan konten isi dalam media cetak dengan media online yang lebih cepat akses beritanya. Untuk itu media cetak diwaspada menerapakan pemberitaan yang lebih investigative, lebi mendalam dengan lebih memperbanyak narasumber, dengan lebih banyak membongkar keterangan baru.” kata Agus Utama.
Terkait kriteria penulisan sendiri di media online waspada, tulisan tersebut harus memiliki sumber yang jelas dan ringkas.
“Di waspada.id sumber harus jelas dan ringkas. Dan memang ternyata waktu pembaca, membaca di media online kita sesuai dengan durasi jamnya, kalau pagi mungkin pembaca bisa mengeceknya sebentar, pembaca bisa mengeceknya lebih lama mungkin sore atau malam, tergantung rus hournya dimana, kalau PNS kan dari pagi sampai sore kan kerja, kapan dia bisa lebih lama membaca , contohnya jam istirahat, atau jam empat ke atas.
Penulisan itu menurut kami harus lebih ringkas.” kata Agus Utama.
Selain kriteria penulisan, redaktur pelaksana juga memiliki kewenangan dalam menentukan isu yang akan diliput sebagai berita. Isu ini menjadi hal penting untuk menjaga kualitas berita di harian waspada.
“Saya memang secara khusus ditugaskan dalam menentukan isu-isu, ya memang kita minimal melakukan perbandingan dari beberapa media yang kita anggap referentif sebagai referensi untuk lokal, mungkina punya referensi media yang mengikuti beberapa isu, contoh soal Korona, ketika kita memantau 5-10 media saat ini, maka kita tahu media apa memberitakan apa, media satu memberitakan yang mana, sehingga kita bisa dengan cepat memutuskan angel ini atau isu ini ternyata belum disinggung, maka kita segera menyinggung isu itu.”kata Agus Utama.
Terkait waspada.id sendiri tentu memiliki strategi dalam menghadapi perkembangan media online. Inovasi menjadi hal paling penting dilakukan untuk menghadapi persaingan tersebut.
“Secara sederhana pastinya banyak persaingan, salah satunya inovasi tadi. Dengan lebih banyak pembaca dari handphone,jadi durasi membuka situs halaman tadi itu juga menentukan,yang pertama ketika di klik dengan cepat menghadirikan tulisan tadi, kana da yang lama tuh, nah inovasi itu termasuk membenahi hal semacam itu. yang kedua dengan mendaftarkan media ke aplikasi playstore. Media benefit punya itu, Alhamdulillah kita sudah punya itu, kalau di lokal belum punya semua itu di Medan. itu bukti media benefit punya aplikasi versi, dan orang mendownload itu, dan kita sudah lebih 10.000 orang, bisa di cek di play store.
Dan playstro sendiri perlu apdat terkait aplikasinya dan kita kebetulan belum update, karena di playsotre itu biasanya ada masanya dia. Dengan adanya media sosial, kita punya media sosial waspada online yang mengimbangi tren masyarakat itu ternyata lebih jitu dengan media sosial. Media online yang memiliki akun media sosial, itu lebih efektis. Semua situs nasional punya itu, tapi media lokal belum. Kita sudah cek.” kata Agus Utama.
Terkait update berita di media online tentu berbeda dengan media cetak.
Kecepatan berita untuk diterbitkan sangat menentukan eksistensi Waspada.id sebagai corong media online harian Waspada. Hal ini sejalan dengan penggalan wawancara berikut ini :
“Karena kita beda dengan media cetak, semua berita di media cetak ada deadline, jam sekian berita sudah masuk. Ini karena perlu waktu pencetakan di mesin cetak. Percetakan ini kan merupakan perusahaan tersendiri, di media online tidak ada, jadi kita itu sejak dilaunching ulang 2009, kita tidak menerapkan deadline. Jadi kita bahas isu itu sekarang per dua hari sekali. Kita update isu melalui rapat baik di proup what sap maupun virtual, video call untuk memperbaiki isu, selain isu yang sifatnya dadakan.
Karena kan kadang-kadang ada isu hangat ,itu langsung dibongkar di group. Siapa yang paling dekat di TKP, siapa yang bisa segera tulis berita, selalu kita tunggu jawabannya dengan cepat, anu follow up nih follow up, telfon ini, buat segera. Dan kita itu katakanlah untuk isu-isu yang bagus menurut kita, itu kebanyakan dari kita deluan naik di media sosial kita, beberapa waktu dengan pengembangan media online, itu kalau mau maju. Contoh yang sudah melakukan itu adalah kompas, dan itu tidak bisa dipungkiri, media cetaknya juga sudah mulai menurun.” kata Agus Utama.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Kelebihan dan Hambatan Harian Waspada
Kegiatan jurnalistik menghasilkan produk-produk jurnalistik sebagai sebuah berita yang akan disebarluaskan melalui media massa. Media massa saat ini berkembang lebih pesat diawal kemunculan pers yang diawali dari penemuan
press atau mesin pencetakan. Media massa yang memuat hasil karya jurnalis diantaranya media cetak meliputi surat kabar, majalah, bulletin. Media elektronik adalah radio dan televisi, kini berkembang lagi menjadi media online yang banyak memuat portal berita.
Kegiatan jurnalistik dituntut untuk memiliki ketangkasan, kecepatan, serta fisik yang kuat bagi jurnalis agar memperoleh berita yang di inginkan. jurnalis harus memiliki tiga poin penting yang harus dikuasai, diantaranya mental yang tangguh, intelektual dan menguasai kejurnalistikan. Ketiga poin tersebut merupakan pedoman yang harus dipegang oleh seorang jurnalis.
Profesionalisme dan idealisme seorang wartawan terkait dalam melaksanakan tugas jurnalistik merupakan aspek penting yang wajib dimilikinya.
Perkembangan jurnalistik dan industri media di Indonesia menuntut para wartawan terus meningkatkan kemampuanya di bidang jurnalistik, baik di teoritis maupun praktis. Peran jurnalis sebagai penyampaian aspirasi masyarakat terhadap pemerintah selayaknya bisa mewakili kepentingan umum.
Menurut Djafar H. Assegaf (1991) dalam bukunya yang berjudul
“Jurnalistik Masa Kini” mengatakan bahwa media massa memiliki lima ciri, yaitu Pertama, komunikasi yang terjadi dalam media massa bersifat searah di mana komunikan tidak dapat memberikan tanggapan secara langsung kepada komunikatornya yang biasa disebut dengan tanggapan yang tertunda (delay feedback). Kedua, media massa menyajikan rangkaian atau aneka pilihan materi yang luas, bervariasi. Ini menunjukka bahwa pesan yang ada dalam media massa berisi rangkaian dan aneka pilihan materi yang luas bagi khalayak atau para komunikannya. Ketiga, media massa dapat menjangkau sejumlah besar khalayak.
Komunikan dalam media massa berjumlah besar dan menyebar di mana-mana, serta tidak pernah bertemu dan berhubungan secara personal. Keempat, media massa menyajikan materi yang dapat mencapai tingkat intelek rata-rata. Pesan yang disajikan dengan bahasa yang umum sehingga dapat dipahami oleh seluruh lapisan intelektual baik komunikan dari kalangan bawah sampai kalangan atas.
Kelima, media massa diselenggrakan oleh lembaga masyarakat atau organisasi yang terstruktur. Penyelenggara atau pengelola media massa adalah lembaga
masyarakat/organisasi yang teratur dan peka terhadap permasalahan kemasyarakatan.
Di sisi lain, Kelebihan media cetak secara umum dibanding media elektronik terletak dari “daya tahan” informasi. Dari berbagai jenis media massa, media cetak memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lain. hasil cetakan tersebut permanen dan bisa disimpan sehingga pembaca bisa mengulanginya sampai mengerti isi pesan yang disampaikan, tanpa biaya tambahan. Selain itu, halaman media cetak, menurut Mondry, bisa terus ditambah seandainya diperlukan. (Mondry, 2008)
Surat kabar harian memiliki kelebihan lebih khusus lagi bila dibandingkan dengan media cetak lain. sesuai periodesasi terbitnya, informasi surat kabar harian diterima pembaca setiap hari sehingga informasi diperoleh terus secara berkesinambunga. Informasi yang disampaikan surat kabar lebih lengkap dibanding radio dan televisi. Dengan halaman yang cukup banyak, apalagi kini banyak surat kabar yang terbit dengan 32 halaman atau lebih, informasi tentang suatu peristiwa dapat diberitakan secara mendalam, dari berbagai sisi, sedangkan radio dan televisi butuh jam tayang khusus guna melakukan hal itu.
Kelebihan media elektronik sebenarnya merupakan kelemahan media cetak. Informasi media cetak tidak bisa cepat dan langsung. Berita media cetak baru kaan diterima khalayak sesuai periodesasinya. Pada surat kabar harian terbit setiap hari jadi informasinya diterima publik sehari hanya sekali. Hal ini membuat para pembaca media cetak mengalami sedikit penghambatan dalam informasi serta Informasi yang disampaikan media cetak terkesan “jauh” karena pembaca tidak dapat mengetahui secara langsung peristiwa seperti yang disampaikan media elektronik. Guna mengatasi kekurangan itu, media cetak menampilkan foto-foto yang menarik guna mengimbangi tayangan televisi, juga memuat tulisan atau informasi yang lengkap, bahkan dengan penulisan feature guna mengimbangi informasi media elektronik dan membaca informasi media cetak tentu tidak bisa dilakukan sambil memasak atau mengendarai kendaraan sehingga bisa dikatakan tidak fleksibel, sedangkan dengan radio bisa mendapatkan informasinya.
Kelebihan media elektronik sebenarnya merupakan kelemahan media cetak. Informasi media cetak tidak bisa cepat dan langsung. Berita media cetak baru kaan diterima khalayak sesuai periodesasinya. Pada surat kabar harian terbit setiap hari jadi informasinya diterima publik sehari hanya sekali. Hal ini membuat para pembaca media cetak mengalami sedikit penghambatan dalam informasi serta Informasi yang disampaikan media cetak terkesan “jauh” karena pembaca tidak dapat mengetahui secara langsung peristiwa seperti yang disampaikan media elektronik. Guna mengatasi kekurangan itu, media cetak menampilkan foto-foto yang menarik guna mengimbangi tayangan televisi, juga memuat tulisan atau informasi yang lengkap, bahkan dengan penulisan feature guna mengimbangi informasi media elektronik dan membaca informasi media cetak tentu tidak bisa dilakukan sambil memasak atau mengendarai kendaraan sehingga bisa dikatakan tidak fleksibel, sedangkan dengan radio bisa mendapatkan informasinya.