BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3 Hasil Wawancara
4.1.3.2 Informan II
Redaktur memberikan penekanan khusus terkait survey pembaca.
Dibandingan dua strategi sebelumnya yang merupakan syarat wajib dalam media masa, survey pembaca ini menjadi kunci utama bagaimana harian Waspada eksis hingga saat ini.
“Berdasarkan hasil survey pembaca didapat bahwa pembaca waspada hampir 80 persen bahkan 90 persen pembacanya adalah umat muslim. Artinya begini, kita menarik hasil dari agen-agen kita bahwa waspada paling banyak beredar di wilayah umat Muslim, contohnya Kisaran, Deli Serdang, Langkat, Padang Sidempuan, Aceh, Kota Medan, yang peredarannya menurun di basis non muslim, misalnya di Tarutung. Dengan hasil survey tersebut, kita sajikan berita sesuai dengan selera pembaca kita.
Sehingga waspada selalu eksis di mata semua orang. Menurut hasil survey, Indonesia sebagai mayoritas umat muslim, itu menjanjikan bagi Waspada. Misalnya seperti yang kita sama-sama tau saat ini kasus tentang Covid-19 yang lagi tren saat ini, kita selalu mengambil dari sudut pandang umat muslim. selain itu hanya Waspada yang menampilkan nama-nama khotib dan tema sholat jum’at. Itu salah satu keistimewaan waspada, di Media lain gak ada itu. Makanya waspada di hari Jum’at bisa mencapai puluhan ribu eksemplar. Hal itu kadang umat bilang kalau Waspada adalah Koran umat Islam, biarpun kita ini Nasionalis, tapi di pembaca sudah tercap begitu” Muhammad Ferdinan Sembiring, Redaktur.
Untuk menyongsong era milinial ataupun pembaca di kalangan anak muda, waspada menerapkan strategi dengan memunculkan waspada.id. Media ini merupakan media online resmi milik Waspada. Hal ini digunakan untuk menyasar anak-anak muda yang nyaris tidak membaca koran. Ketika muncul media online yang lain, waspada akan lebih unggul karena wartawan Waspada ada di seluruh Sumatera Utara Setiap wartawan cetak menerbitkan berita, mereka harus kirim ke media online terlebih dahulu. Dengan kata lain harian Waspada menjawab tantangan zaman untuk menyasar pada kalangan milenial dengan memunculkan media online.
Secara khusus Waspada dan waspada.id/ waspada online merupakan satu kesatuan yang utuh. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan waspada.id tidak merusak pasar harian waspada. Kondisi tersebut dibuktikan dengan perbedaan konten, dimana pada Waspada.id lebih berisi highlight yang tidak lebih dari seribu kata, sedangkan pada harian cetak memuat kelengkapan isi berita.
Waspada Online sendiri berbeda dengan media online lain yang terkesan comot-comot artikel lalu menerbitkannya ke media onlinenya. Waspada Online tidak hanya berusaha cepat dalam menerbitkan berita, namun juga ketepatan isinya. Untuk itu waspada online juga melakukan riset sederhana dengan menampilkan wawancara ahli dalam menaggapi kasus tertentu.
“Strategi yang diterapkan Waspada lebih menyasar pada keakuratan berita, dimana setiap wartawan harus mewawancarai ahli, misalnya pada satu kasus, wartawan waspada harus berpikir cepat tokoh yang mau dimintai pandangan” Muhammad Ferdinan Sembiring, Redaktur.
Penggalan wawancara di atas memperlihatkan salah satu keunggulan isi berita dari harian waspada baik cetak maupun online. Hal ini terlihat dari pandangan-pandangan ahli yang selalu menghiasi isi berita. Hal ini menunjukkan bahwa harian waspada selain menguatamakan kecepatan terbit, juga mengutamakan keotentikan isi berita. Hal ini merupakan strategi harian Waspada menghadapi persaingan yakni membuat berita pembeda.
Selain keunggulan harian Waspada tentu memiliki faktor yang menghambat dalam operasional selama ini. Hal ini terlihat dari penggalan wawancara berikut:
Menurut Muhammad Ferdinan Sembiring sebagai Redaktur
“bahwa Harian waspada kan sudah berdiri lama, wartawannya pun sudah banyak yang tua-tua. Otomatis dalam penguasaan teknologi juga kurang. Paham sih menggunakannya tapi penggunaannya gak kayak anak muda yang cepat gitu. Rata-rata 40 tahunan, memang ada juga yang muda tapi gak banyak. Namun dibalik penghambat itu, Waspada punya keunggulan yaitu, wartawan kita sudah ada di perwakilan di beberapa tempat, ada sekitar 500-an wartawan kita yang siap membuat dan mencari berita setiap harinya. Bahkan di tempat terpencilpun ada wartawan kita, di Madina ada, di Padang Sidempuan ada, di perbatasan Padang juga ada. Beda sama yang online-online yang baru ini, kadang Cuma menempatkan satu wartawan di satu Provinsi, disitu dia pemred, dia redaktur dia juga wartawan,
merangkap jadinya. Dapat informasi sana sikit, sini sikit, gabung terbitkan di online”
Dengan keberadaan Waspada.id/ waspada online ini, setiap wartawan waspada juga merangkap sebagai wartawan online. Hal ini terlihat ketika ada peristiwa, wartawan akan langsung membuat berita singkat dengan tekhnik 5W+1 H langsung di share di Waspada.id. hal ini digunakan sebagai strategi Waspada untuk bersaing secara kecepatan akses berita dengan media online lainnya.
Harian waspada juga menyadari keberadaan media online saat ini sangat mempengaruhi keberadaan Waspada. Kondisi ini mempengaruhi kecepatan media waspada untuk segera menerbitkan berita.
“Pada dasarnya orang kalau tidak begitu besar kali masalahnya diapun bacanya Cuma sekedar aja. Kalau yang dianggapnya menarik ajanya yang dibacanya sampai habis, gitu juga sama media online ini. Kitapun dari Waspada.id bergerak dengan kecepatan menerbitkan berita. Secara tidak langsung juga waspada merasakan penurunan oplah utnuk media cetak dengan keberadaan media online, meskipun waspada online juga sudah hadir” kata Muhammad Ferdinan Sembiring, Redaktur.
Kesulitan yang paling dirasakan oleh redaktur dalam menjalankan mekanisme kerja adalah faktor usia. Sebagian besar wartawan Waspada berkisar diatas 40 tahun ke atas yang secara etika tidak mungkin jika harus ditegur dengan keras. Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Ferdinan Sembiring, Redaktur berikut ini:
“Wartawan kita udah tua-tua, anaknyapun kadang udah ada yang seusia kita, udah gak pantas lagi memang dimarah-marahi tapi yam au gimana lagi, nanti nulis berita ada yang salah-salah kita yang perbaiki tata tulisannya. Sebagian memang sudah ada yang dirumahkan, karena takut juga menggangu operasional kerja.
Sekarang kita butuh cepat akurat. Makanya mulai disiapkan yang muda-muda ini untuk mengisi kekosongan yang ada”
Dari penggalan wawancara di atas terlihat bahwa kendala harian Waspada hari ini adalah wartawan yang berada di usia tua yang sulit dalam meraih kecepatan akses berita, faktor usia ini juga yang terkadang memunculkan kesalahan-kesalahan ketik yang kecil namun cukup fatal untuk sekelas media masa. Selain itu kendala yang dialami waspada saat ini adalah minimnya kreatifitas dari wartawan, sehingga kerja wartawan hanya berusaha mencari
berita, kemudian menerbitkannya, kurang inovasi yang membuat harian ini akan semkain terlihat baik. Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Ferdinan Sembiring, Redaktur berikut ini:
“Itulah wartawan kita, tidak ada inovasi, ibarat kuliah, Cuma datang, duduk teken absen, tidak ada ujian, skripsi. Semua normative, gitu juga di kita, tidak ada kreatifitas, tidak ada perbaikan tulisan, semua dijalankan hanya agar tidak ditegur saja.
Selagi tidak ada teguran berarti sudah aman. Padahal kita tidak mau seperti itu, kita mau gimana Waspada ini bisa bertahan, jangan sampai tutup, tapi mereka kadang gak berpikir begitu.
Itulah susahnya di harian Waspada ini sekarang”
Namun secara pengalaman, infrastruktur dan faktor pendukung yang lainnya, harian waspada sudah memiliki kemapanan sebagai media masa senior di Sumatera Utara. Kelebihan ini setidaknya mampu untuk sedikit menutup kendala ataupun kekurangan Waspada saat ini.