• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Pengembangan Wilayah

2.5 Infrastruktur Sebagai Daya Tarik Investor

Infrastruktur merupakan sebuah elemen penting dari sebuah iklim investasi. Ketiadaan atau kurang memadainya infrastruktur akan menjadi penghalang, baik terhadap laju pertumbuhan sektor riil maupun masuknya (minat) investasi swasta (World Bank, 2004). Karena itu, untuk menunjang laju pertumbuhan sektor riil di Indonesia, diperlukan infrastruktur yang kuantitas, kualitas, jenis, dan distribusinya memadai. Pertumbuhan sektor riil diharapkan mampu menyerap kelebihan tenaga kerja yang ada, sehingga tingkat pengangguran dapat ditekan. Dengan menurunnya pengangguran, dan meningkatnya akses masyarakat terhadap fasilitas publik, maka angka kemiskinan pun dapat diturunkan.

Untuk itu, program pembangunan infrastruktur ke depan, yang perlu dilakukan pemerintah harus mencakup program-program pembangunan infrastruktur yang

mendukung upaya revitalisasi pertanian dan agroindustri pedesaan, antara lain: sumber daya air dan irigasi, prasarana jalan (terutama jalan ke dan di dalam kawasan pedesaan), prasarana angkutan, energi, dan ketenagalistrikan. Disamping itu, untuk meningkatkan kualitas SDM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah perlu melakukan pembangunan infrastruktur di bidang kesehatan dan pendidikan, pos dan telematika, perumahan, air minum dan air limbah, serta persampahan dan drainase. Dalam pembangunan infrastruktur, pemerintah juga harus memperhatikan prinsip keadilan dan pemerataan, dengan menfokuskan pembangunan pada daerah-daerah tertinggal dan daerah-daerah dengan infrastruktur yang minim. Dengan demikian, kesenjangan pembangunan antar wilayah di Indonesia dapat dikurangi.

Beberapa studi membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur pedesaan akan memberikan dampak positif yang lebih besar, tidak hanya terhadap pertanian tetapi juga non-pertanian. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Fan dan Kang (2004) seperti yang diuraikan sebelumnya, dimana pembangunan jalan pedesaan memberikan dampak positif lebih besar daripada pembangunan infrastruktur jalan perkotaan. Dan dampak positif yang dihasilkan dari pembangunan infrastruktur jalan pedesaan tidak hanya signifikan bagi pembangunan pertanian tetapi juga non-pertanian.

Menurut Lipton dan Ravallion (dalam JBIC, 2002), untuk meningkatkan produktivitas masyarakat miskin, diperlukan investasi yang berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur pedesaan, yang dapat

meningkatkan produksi pertanian sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin di pedesaan. Dengan demikian, dalam jangka panjang, angka kemiskinan kronis dapat dikurangi. Dalam paper penelitian JBIC juga dirujuk penelitian Jimenez (1995) yang memperlihatkan bahwa pembangunan irigasi, jalan beraspal, atau peningkatan kepadatan jalan-jalan daerah, memiliki dampak langsung terhadap pengurangan kemiskinan, yaitu melalui peningkatan produktivitas pertanian. Hasil penelitian JBIC (2002) sendiri memberikan bukti empiris yang kuat akan peran infrastruktur irigasi terhadap pengurangan kemiskinan. Penemuan penelitian ini memperlihatkan bahwa insiden dan kedalaman kemiskinan, yang diukur dari indikator penerimaan/pengeluaran, paling banyak terjadi di daerah tanpa infrastruktur irigasi. Namun sebaliknya, insiden kemiskinan kronis atau struktural sedikit sekali di daerah yang memiliki infrastruktur irigasi, dan sumber air yang cukup. Karena itu, infrastruktur irigasi dan sumber air perlu dipelihara dengan baik agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Selama ini, jangkauan pembangunan infrastruktur masih sangat terbatas dan lebih banyak terkonsentrasi di Kawasan Barat Indonesia dan wilayah perkotaan. Pada tahun 2005, pemerintah menawarkan 91 proyek utama senilai 22, 5 miliar dolar

AS. Proyek-proyek tersebut masih didominasi proyek jalan tol yaitu 38% proyek air bersih (24%), proyek bidang gas (6%), proyek ketenagalistrikan (12%), proyek bandara (5%), proyek pelabuhan (4%), proyek telekomunikasi (1%), dan proyek pembangunan rel KA (10%).

Pembangunan pertanian dan pedesaan juga akan berdampak luas pada pembangunan sektor-sektor di luar pertanian dan pedesaan. Studi pemasaran pertanian membuktikan bahwa tidak sempurnanya infrastruktur pertanian mendorong perbedaan yang nyata antara harga pada pusat pasar dengan farm-gate (Timmer et.al, 1983). Sementara menurut Bolt (2004), ekspansi pasar tergantung pada ketersediaan akses fisik untuk input dan pasar produk membutuhkan konektivitas infrastruktur. Ketersediaan infrastruktur pertanian/pedesaan yang memadai diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap produktivitas ekonomi, baik di sektor pertanian maupun non-pertanian. Menurut Ali dan Pernia (2003), selain faktor rendahnya penyerapan tenagakerja non-farm dan produktivitas tenagakerja, faktor utama yang mendasari kemiskinan pedesaan adalah rendahnya produktivitas terutama di sektor pertanian. Dengan dukungan infrastruktur, produktivitas dan efisiensi pertanian dapat ditingkatkan. Dengan demikian dapat diperoleh upah dan penghasilan yang lebih tinggi. Peningkatan ini akan mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi di sektor lainnya, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Proses pertumbuhan yang didukung oleh pembangunan infrastruktur dan difasilitasi oleh ekspansi pasar ini pada gilirannya akan menjadi faktor pull-up yang penting untuk mainstreaming

the rural poor, dan masyarakat memperoleh keuntungan dari pertumbuhan dan

diversifikasi pertanian serta oportunitas dari non-farm (Yao,2003).

Ketersediaan infrastruktur pertanian/pedesaan dipercaya mampu memberikan pengaruh positif terhadap produktivitas masyarakat, baik di sektor pertanian maupun non-pertanian, serta mengurangi kesenjangan ekonomi. Permasalahannya, strategi

pembangunan infrastruktur di masa lalu yang bersifat top down telah mematikan daya kreativitas masyarakat pedesaan. Pemerintah di level bawah lebih banyak menjadi pelaksana proyek daripada sebagai pencetus dan penggagas pembangunan.

Strategi pertama adalah pembangunan infrastruktur yang melibatkan rakyat. Ini berarti, pembangunan infrastruktur dilakukan dengan program padat karya, dan melibatkan rakyat dalam pemeliharaan infrastruktur. Perencanaan infrastruktur dilakukan oleh pemerintah daerah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat. Melalui pembangunan infrastruktur program padat karya ini, masyarakat berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. Lewat partisipasi tersebut lapangan kerja produktif akan terbuka.

Strategi kedua dalam pembangunan infrastruktur adalah pembangunan yang meningkatkan peran serta dan tanggung jawab pemerintah daerah. dalam pembangunan infrastruktur, peran serta dan tanggung jawab pemerintah daerah harus meningkat karena setelah kebijakan desentralisasi fiskal, dana yang disediakan relatif memadai di daerah. Hendaknya pemerintah daerah menggunakan dana tersebut secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil melalui pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur. Perencanaan infrastruktur daerah juga dilakukan oleh pemerintah daerah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Strategi ketiga dalam pembangunan infrastruktur adalah pembangunan yang melibatkan partisipasi pihak swasta. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur memerlukan dana yang cukup besar. Dengan mempertimbangkan keterbatasan dana pemerintah, maka pemerintah harus melibatkan pihak swasta dalam pembangunan

infrastruktur yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui partisipasi swasta, beban keuangan pemerintah dapat dikurangi sehingga pemerintah dapat mengalokasikan anggarannya pada infrastruktur dasar lainnya yang tidak melibatkan swasta. Partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur juga dapat memberikan manfaat transfer teknologi dan pengelolaan yang lebih baik. Disamping itu, swasta juga tetap dilibatkan secara aktif dalam menyusun kerangka pembangunannya, terutama dalam hal pemeliharaan sehingga setiap sarana yang menunjang kelancaran usaha dapat berkelanjutan.

Beberapa modalitas untuk berpartisipasinya swasta dalam pembiayaan infrastruktur adalah kontrak pengelolaan (management contracts), leasing, joint

venture, konsensi dan Build Operate-Transfer (BOT), rehabilitate-operate-transfer, transfer-operate-transfer, serta merger dan akuisisi (Wei, 2001).

2.6 Preferensi

Preferensi diartikan sebagai pengambilan keputusan yang mempunyai esensi rasional dengan perilaku maksud tertentu (Paul Slovic, 1995). Tinjauan Edward (1954) mengenai teori preferensi dan pengambilan keputusan meliputi 2 aliran paralel, yaitu:

Pertama, Theory of riskless choice mengenai dugaan maksimalisasi utility

(kegunaan) yang diajukan oleh Jeremy Bentham dan James Hill. Teori ini didasarkan pada dugaan tertentu bahwa pengambil keputusan adalah:

a) Secara penuh menginformasikan mengenai kemungkinan tindakan dan

b) Memiliki kepekaan tak terhingga untuk membedakan alternatif-alternatif yang ada.

c) Rasional, dalam arti mereka dapat menyusun preferensi yang memungkinkan dalam membuat keputusan dalam memaksimalkan ukuran nilai subjektifitas yang ditunjukkan oleh bentuk utility.

Kedua, Theory of risky choice, berkenaan dengan keputusan yang dibuat dalam

pandangan ketidakpastian mengenai peristiwa yang menetapkan income sebagai satu- satunya tindakan. Maksimalisasi memainkan peran kunci dalam teori ini tetapi kuantitas menjadi maksimal karena keterlibatan ketidakpastian, expected utility.

Hirshleifer dan Glazer (1992) menyajikan gambaran yang ideal dari preferensi individu atas alternatif barang konsumsi dalam dua aksioma atau revealed preference, yaitu:

a. Aksioma Perbandingan

Setiap dua barang yang berbeda antara A dan B dapat dibandingkan menurut preferensi individu. Setiap perbandingan pasti mengarah pada salah satu diantara ketiga hal berikut:

(i) Barang A lebih disukai dari barang B (ii) Barang B lebih disukai dari barang A (iii) Barang A dan B sama-sama disukai

b. Aksioma transitivitas

Apabila ada 3 barang A, B dan C. Barang A lebih disukai daripada barang B dan barang B lebih disukai daripada barang C, maka tentu barang A lebih disukai daripada barang C.

Aksioma perbandingan dan aksioma transitivitas merupakan gambaran preferensi yang lebih disukai yang sebenarnya, karena pelanggaran atas kedua hukum tersebut mungkin terjadi. Kedua aksioma tersebut apabila digabungkan akan berbentuk proporsi pengurutan preferensi, yaitu seluruh barang yang ada secara konsisten dapat diurutkan menurut urutan preferensi seseorang. Pengurutan ini disebut fungsi preferensi. Penggabungan preferensi individu dalam pengambilan keputusan kelompok perlu mendapat perhatian jika dalam kelompok terjadi konflik dimana tidak mungkin dicapai kesepakatan atau konsensus bersama dalam menentukan preferensi kelompok.

Penentuan preferensi kelompok untuk memperoleh keputusan yang baik menjadi fokus penelitian selama hampir satu dekade. Suatu kontribusi yang penting dari sistem dukungan kelompok ini adalah kemampuannya membentuk model matematik proses pengambilan keputusan (Nunamaker et.al, 1991); Sambamurthy dan Poole, (1992). Umumnya dalam situasi pengambilan keputusan kelompok, sebagian besar informasi diketahui oleh semua anggota kelompok dan sebagian kecil informasi lainnya yang unik hanya diketahui oleh beberapa atau seorang anggota kelompok saja.

Diskusi kelompok memungkinkan para anggota kelompok saling berbagi informasi sehingga kelompok secara keseluruhan dapat mengakses kumpulan informasi yang lebih besar dan dapat menentukan preferensinya secara lebih tepat untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Namun diskusi kelompok ini sering dilakukan dengan kurang baik, dimana anggota kelompok cenderung mengabaikan informasi unik yang diterimanya dalam diskusi bahkan mencoba mempengaruhi anggota kelompoknya untuk menerima preferensinya (Stasser, 1992). Informasi unik tersebut dapat saja penting dan jika tidak dipertimbangkan akan menghasilkan keputusan yang buruk (Gigone dan Hastie, 1993).

Proses pengambilan keputusan kelompok yang lebih berstruktur dapat mengurangi pengabaian informasi yang unik dan proses seperti ini dipenuhi oleh

Analysis Hierarchy Process (AHP) (Saaty, 1980). Pada AHP, pentingnya kriteria

dinilai melalui preferensi individu atau preferensi kelompok dengan perbandingan berpasangan dari tingkat kriteria yang paling tinggi ke tingkat kriteria yang paling rendah, dan membandingkan setiap alternatif secara berpasangan serta diakhiri dengan mensintesa informasi preferensi yang telah ditentukan. Penentuan preferensi yang konsisten akan mendukung penggunaan AHP untuk memperoleh keputusan yang baik (Saaty, 1994).

Penelitian tentang perbandingan keputusan kelompok dan keputusan pradiskusi individu dalam penentuan preferensi kelompok dilakukan pertama kali oleh Stoner (1961). Hasil penelitiannya menemukan bahwa keputusan kelompok cenderung lebih ekstrim daripada keputusan pradiskusi individu. Beberapa penelitian berikutnya

dilakukan oleh Moscovici dan Zavalloni (1969); Meyers dan Lamm (1976) menemukan hasil yang konsisten dengan penelitian Stoner (1961). Hasil penelitian tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran keputusan pradiskusi individu dengan keputusan kelompok. Pergeseran keputusan individu-kelompok dikenal dengan the

risk-shift phenomena. Fenomena risk-shift terjadi karena adanya pergeseran dalam

pengambilan resiko antara keputusan individu dan kelompok atau ketika posisi pradiskusi anggota kelompok dapat mempengaruhi pengambilan keputusan diskusi kelompok (Isenberg, 1986). Dalam Diffusion of responsibility theory (Wallach at.al, 1964) menyatakan bahwa pergeseran keputusan terjadi karena tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab atas keputusan kelompok. Hasil penelitian Brown (1965) menunjukkan bahwa individu secara kultural hanya ingin menanggung resiko setidak-tidaknya sama dengan resiko yang ditanggung oleh individu lainnya dalam kelompok.

Individu sebagai anggota kelompok harus secara terus-menerus memproses informasi tentang bagaimana orang lain merepresentasikan diri sendiri dan menyesuaikan presentasi diri mereka sendiri berdasarkan hal itu. Interaksi kelompok mengkondisikan anggotanya untuk membandingkan posisi mereka dengan anggota lainnya dalam kelompok (Isenberg, 1986).

Analytic Hierarchy Process (AHP) kerapkali digunakan di lingkungan kelompok dimana individu dalam kelompok berembuk dalam diskusi untuk mencapai konsensus atau untuk menyatakan preferensi mereka masing-masing. Preferensi individu dapat digabungkan dengan cara yang berbeda-beda. Dua metode yang

terbukti paling berguna adalah metode penggabungan preferensi individu dimana kelompok dianggap sebagai individu-individu terpisah dan metode yang memandang individu dalam kelompok bertindak secara bersama-sama sebagai satu unit dengan hasil akhir, tercapainya suatu konsensus dalam menentukan preferensi kelompoknya. Ramanathan dan L. S. Ganes (1994), dalam hasil penelitian mereka, telah menunjukkan bahwa penggabungan preferensi kelompok dengan menggunakan rata- rata ukur melanggar aksioma preferensi sosial optimalitas Pareto. Kemudian dijelaskan juga bahwa pelanggaran tersebut dapat mempengaruhi pemodelan proses pengambilan keputusan kelompok. Ramanathan dan Ganesh (1994), menilai bahwa pelanggaran tersebut diakibatkan kelemahan dalam teknik metode rata-rata ukur dan metode rata-rata hitung yang digunakan dan menyimpulkan bahwa metode rata-rata ukur tidak tepat digunakan untuk situasi penggabungan preferensi kelompok.

R. C. Van Den Honert, F. A. Lootsma (1995) menyatakan bahwa pelanggaran terhadap aksioma optimalitas Pareto tidak begitu terkait dengan kekurangan teknik metode rata-rata ukur, tetapi terkait dengan gambaran model matematika untuk menentukan bobot preferensi kelompok atas alternatif-alternatif yang dinilai.

Arzel dan Saaty (1983) mengemukakan bahwa jika dalam kelompok para individu dapat mencapai suatu konsensus dalam menentukan preferensi kelompoknya maka akan muncul “individu baru” yang mewakili preferensi kelompok tersebut, yang harus memenuhi syarat timbal balik atas preferensi yang dilakukan. Lebih lanjut Aczel dan Roberts (1989) dalam tulisan mereka yang lebih umum, menunjukkan bahwa bila menggabungkan preferensi-preferensi dari n individu dalam

suatu kelompok dimana sifat timbal balik diasumsikan bahkan untuk rangkap-n (n-

tuple), hanya rata-rata ukurlah yang memenuhi aksioma optimalitas Pareto.

Sifat timbal balik (R) sangat penting dalam preferensi rasio. Ini berarti bahwa nilai hasil sintesa timbal - balik preferensi individu akan menjadi timbal-balik nilai hasil sintesa preferensi - preferensi semula. Hal ini dibuktikan oleh Aczel dan Saaty (1990 dan 1994) melalui pembuktian teorema berikut: Fungsi sintesa umum yang dapat dipisahkan (S) yang memenuhi syarat kebulatan suara (U) dan homogenitas (H) adalah rata - rata hitung dan akar rata - rata pangkat. Tambahan lagi, jika sifat timbal-balik (R) diasumsikan untuk preferensi n individu, dimana tidak semua sama, maka hanya rata-rata hitung yang memenuhi semua syarat di atas.

i x

Karena itu, dengan konsensus yang rasional, orang yang dikenal akan memiliki pengaruh konsensus yang lebih kuat daripada orang yang kurang dikenal. Sebagian orang jelas lebih bijak dan lebih banyak tahu dalam suatu masalah daripada yang lainnya, sebahagian lainnya mungkin lebih berkuasa dan opini mereka harus mendapat bobot yang lebih besar.

Proses penggabungan preferensi dalam kelompok diharapkan mematuhi aksioma - aksioma tertentu, yang diajukan pertama kali oleh Arrow (1950) dalam konteks teori preferensi sosial. Setelah pengajuan Arrow ini, banyak sekali diajukan aksioma- aksioma yang mengatur proses penggabungan preferensi kelompok. Namun bagaimanapun, aksioma preferensi sosial yang paling umum menurut Sen (1969),

French (1986), Keeney (1976) dan Mirkin (1979) adalah aksioma yang diperkirakan berlaku pada setiap proses pengurutan preferensi kelompok, yaitu :

1. Bersifat menentukan : Prosedurnya harus selalu menghasilkan urutan kelompok. 2. Sesuai dengan aksioma optimalitas Pareto: Jika setiap individu dalam kelompok lebih menyukai alternatif A daripada alternatif B, maka kelompok harus lebih menyukai A dari pada B.

3. Tidak ada kediktatoran: Prosedur tidak boleh secara otomatis memaksakan preferensi individu atas kelompok untuk menjadi preferensi kelompoknya. 4. Independensi alternatif - alternatif yang tidak relevan: Pengurutan kelompok

atas setiap dua alternatif hanya boleh bergantung pada preferensi-preferensi individu yang diberikan pada alternatif tersebut. Jika alternatif lain dihapus, pengurutan sebelumnya atas kedua alternatif harus tetap sama.

Saaty (1996) dan Peniwati (1996), melakukan penelitian tentang aplikasi

AHP pada keputusan kelompok, yang dilakukan dalam konteks kemustahilan Arrow

(1963) dalam teorema kemustahilannya yang menyatakan bahwa jika jumlah alternatif lebih dari dua, maka mustahil menciptakan pengurutan preferensi kelompok.

Hasil penelitian Fisburn (1973, 1987), Cook dan Kress (1985) yang mencoba mengembangkan model untuk menggabungkan preferensi kelompok, hasilnya hanyalah suatu ketidak pastian dan berakhir dengan tidak memuaskan. Alasan akan

hal tersebut adalah bahwa akar kemustahilan terletak pada penggunaan preferensi ordinal.

Penelitian yang dilakukan oleh Saaty (1996) dan Peniwati (1996) menunjukkan bahwa pernyataan kemustahilan Arrow dari preferensi ordinal menjadi suatu kemungkinan untuk preferensi kardinal AHP. Saaty dan Shang (1996) juga mempertanyakan mekanisme pemungutan suara mayoritas ya - tidak (1-0) tradisional, karena akan mendorong sikap bahwa ”pemenang memperoleh segalanya”. Karena itu Saaty dan Shang (1996) menekankan beberapa kelemahan lain dari sistem pemungutan suara yang didasarkan pada preferensi ordinal ya -tidak dan mengajukan sistem penggunaan mekanisme penggabungan preferensi kelompok AHP, yang merupakan pendekatan demokrasi baru. Dan Zahir (1997) mengajukan perspektif kelompok dalam rangka rumus ruang vector AHP yang didasarkan pada penambahan vektor preferensi yang memenuhi sebagaian besar aksioma teori preferensi.

Penelitian mengenai preferensi dikaitkan dengan perolehan deviden di Bursa Efek Jakarta yang dilakukan Suasono (1998) menyimpulkan bahwa investor tidak lebih menyukai perusahaan yang membayar deviden dengan deviden payout ratio tinggi sehingga tidak ada perbedaan preferensi investor terhadap deviden. Karena tidak ada preferensi tersebut, maka perusahaan tidak akan berpengaruh atas besarnya deviden yang dibayarkan, sehingga perusahaan dapat memperhatikan kepentingan pembelanjaan perusahaan atau aspek keuangan lain yang dirasa lebih penting.

2.7 Perencanaan Partisipatif