V. DESKRIPSI DAN KONDISI LOKASI PENELITIAN
6.5 Instrumen Kebijakan Keuangan (Insentif) untuk Jasa Karbon
Referensi menunjukkan, ketika subsidi berorientasi input (produksi) didasarkan pada paradigma, bahwa keberadaan hutan/agroforestri menjadi syarat keberadaan berkembangnya manfaat sosial ekonomi dan ekologi agroforestri yang akan meningkatkan distribusi kepemilikan lahan dan stabilitas ekonomi pedesaan. Namun pengalaman setelah 10 tahun pendekatan tersebut digunakan dalam bentuk kredit di Indonesia dan subsidi di Negara-negara Eropa Barat, menunjukkan tujuan tersebut tidak tercapai.
Di Indonesia alokasi kredit hutan milik yang beroientasi input, ternyata
hanya menguntungkan oknum mitra yang berperan sebagai free rider dengan
memanfaatkan kondisi asimetri informasi, untuk mengalihkan kredit pada lahan miliknya dengan alasan mitra adalah penjamin dan penanggung kredit macet. Sedangkan petani mendapat bantuan hanya dalam bentuk input pupuk dan bibit yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan nyata, sehingga tetap terpelihara dalam kemiskinan, karena keterbatasan luas lahan dan ketiadaan modal usaha.
tidak atau tidak cukup direspon mekanisme pasar, sehingga subsidi orientasi dianggap penghamburan pajak masyarakat dengan return yang tidak seimbang dari hutan milik. Saat ini di Eropa dengan dipelopori oleh Belanda, dilakukan perubahan instrument kebijakan input menjadi kebijakan berorientasi output. Didapatkan perubahan orientasi subsidi dari input ke output terbukti lebih
mendukung kejelasan property right hutan milik, sehingga menjamin distribusi
alokasi subsidi lebih efisien dan tepat sasaran.
Agroforestri desa Sumberejo dan agroforestri umumnya di hulu DAS Kabupaten Wonogiri, dibangun secara swadaya di atas tanah dengan entitas berupa hak kepemilikan yang jelas, sementara kebutuhan petani adalah bagaimana nilai ekonomi jasa air dan karbon dapat ditransfer menjadi sumber peningkatan pendapatan yang menjadi insentif untuk mempertahankan keberadaan dan kesinambungan usaha agroforestri.
Kenyataan bahwa agroforestri dibangun secara swadaya, maka untuk usaha di lahan dengan luas < 1 ha, instrument kebijakan finansial kombinasi subsidi berorientasi input dan berbasis output, yaitu mampu mentransfer eksternalitas menjadi penambah pendapatan dan atau mengurangi beban biaya rumah tangga, sehingga mampu mengurangi ketergantungan rumah tangga dari
pendapatan off farm serta menurunkan biaya rumah tangga dari peningkatan
akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan akan lebih rasional dalam mendukung kesinambungan agroforestri, bila dibandingkan dengan subsidi yang berorientasi input.
Terkait sumber pendanaannya intrumen kebijakan keuangan diarahkan
pada prinsip Government Pay Principle, sebagaimana klustering subsidi dan
bantuan program pemerintah yang sedang berjalan dan User Pay Principle, yaitu
(Corporate Social Responsibility) terkait pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan bencana alam..
Implikasi subsidi berorientasi output memiliki 2 sisi, yaitu dari sisi pemanfaat atau pemerintah subsidi merupakan penambah pendapatan petani yang terkait usaha agroforestrinya dan menjadi insentif yang mendorong petani untuk mempertahankan keberadaan dan mengembangkankan usaha agroforestri. Sedangkan dari sisi petani sebagai produsen keberadaan subsidi menjadi tuntutan untuk bagaimana memelihara, mengamankan keberadaan agroforestri yang dimilikinya dengan mengelolanya secara lebih intensif.
Merujuk pada ragam tipe imbal jasa Gouyon (2004), agar alokasi subsidi/imbal jasa langsung terdistribusi pada entitas yang jelas dan kondisi usaha yang relevan, sehingga mendorong petani untuk mau dan mampu mengembangkan dan meningkatkan kontribusi agroforestri pada rumah tangga dan berdampak pada pada pertumbuhan ekonomi Desa.
Tipe imbal jasa tidak selalu dalam bentuk bantuan langsung tunai yang berdasarkan pengalaman rawan dari paraktek korupsi. Ragam tipe subsidi meliputi:
a) Subsidi ramah-lingkungan, termasuk tarif pajak yang lebih rendah pada lahan dimana konservasi agroforestri dilaksanakan.
b) Skema sertifikasi, tergantung pada pilihan konsumen dalam menyediakan peningkatan pangsa pasar dan/ atau harga premi untuk produk-produk agroforestri yang dihasilkan dengan cara yang meminimasi lahan kritis atau pembangunan rendah karbon.
Lembaga-lembaga publik dapat menyediakan sumber keuangan bagi pemangku lahan melalui skema keuangan mikro untuk mendukung kegiatan- kegiatan rehabilitasi seperti komersialisasi hasil hutan non-kayu.
Skema transfer pembayaran memberikan kompensasi yang spesifik, bersyarat baik untuk melakukan tindakan tertentu misalnya, rehabilitasi lahan kritis yang menggunakan kombinasi pohon-pohon hutan seperti agroforestri. Dengan memperhatikan karakteristik pedesaan di Indonesia, maka bentuk insentif yang dapat diterapkan adalah:
1. Insentif untuk pengelola agroforestri untuk menerapkan silvilkultur intensif 2. Insentif untuk kegiatan agroforestri di lahan terdegradasi
3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengurangan lahan kritis 4. Pembayaran jasa lingkungan
Implikasi instrument kebijakan finansial akan efektif bila mengacu pada skenario pemberian subsidi dan kredit yang tidak terlepas dari pola budidaya agroforestri, yaitu berbasis tata waktu budidaya dan evaluasi komitmen petani dalam memenuhi kewajibannya mempertahankan dan mengembangkan agroforestri. Alokasi dana secara transparan, sesuai dengan besaran nilai ekonomi konservasi jasa air dan jasa karbon agroforestri desa Sumberejo per tahun sebagai pagu maksimum, sektor pertanian dan kehutanan secara bersama-sama menyalurkan insentif subsidi dan kredit sesuai dengan kebutuhan nyata. Adapun alokasi waktu tanpa besaran subsidi adalah sebagai berikut:
1. Tahun ke 0 atau t -1 dan t1 – t3, subsidi pada strata 1 (luas < 1 ha),
diarahkan pada subsidi on farm. Bentuk subsidi pengembangan jasa
konservasi sebagai bantuan tahap awal bibit, berupa biaya pupuk, biaya pengolahan lahan, biaya tanam, biaya pemeliharaan tahun I – III. Strategi ini dilakukan, karena petani belum mampu membiayai investasi di awal.
2. Subsidi berupa social security dan pelatihan diversifikasi usaha yang relevan
pada strata 1 dan 2 (< 2ha) diberikan pada t4, t9, t14 dan t19, saat petani menunggu penjarangan dan panen tanaman tahunan. Strategi ini diharapkan
dapat mengurangi urbanisasi dan petani dapat lebih intensif menjaga agroforestri.
3. Kredit bunga lunak dan bergulir dialokasikan pada strata 3 (luas ≥ 2 ha)
mulai tahun keempat, dengan asumsi tanaman agroforestri mulai berfungsi
menghasilkan jasa air dan jasa karbon secara effektif. Grass period
diberikan untuk 3 kali masa penjarangan (t14), sedangkan kredit jatuh tempo
tahun kedua puluh (t20).
4. Subsidi program prasarana sarana desa, seperti pembangunan sekolah dan sarana kesehatan disalurkan pada t4 – t5, t9 –t10 dan t14 – t15, yang merupakan periode evaluasi komitmen petani. Diharapkan bantuan program dapat didesain dengan masyarakat desa sebagai pelaksananya
Instrumen kebijakan keuangan didasarkan keunggulan dan peran strategis agroforestri dalam mengurangi kemiskinan di pedesaan dan konservasi tanah air di daerah hulu DAS melalui rehabilitasi lahan kritis. Argumen ketiadaan modal pada usaha agroforestri dengan luas < 1 ha, serta ketidak cukupan modal pada usaha agroforestri dalam upaya pengembangan, sementara ketiadaan
respon pasar terhadap public service yang dihasilkan agroforestri menjadi
masalah kelembagaan dalam pencapaian tujuan bersama pemerintah dan petani yang memerlukan intervensi kebijakan affirmatif dari pemerintah.
Pengalaman ketidak berhasilan insentif pengembangan hutan rakyat dengan skim kredit dengan kemitraan di masa lalu menjadi pembelajaran agar insentif lebih difokuskan pada pihak-pihak yang secara nyata menginisiasi kelanjutan rehabilitasi lahan kritis yang dipicu oleh program pemerintah..
Diperlukan insentif yang bersifat edukatif bukan sekedar sincerity, karena
hal ini secara psikologis akan meningkatkan martabat petani dan keterbukaannya dalam menerima desain skim insentif yang berkesesuaian
dengan kebutuhan peningkatan usaha dan kesejahteraannya secara berkesinambungan. Narasi alokasi waktu insentif di atas untuk kasus agroforestri desa Sumberejo dapat dilihat pada tabel 25 berikut ini :.
tabel 25. Desain Alokasi Distribusi Waktu Insentif Agroforestri Desa Sumberejo
Tahun ke 0 I II III IV V VI VII VIII IX
PENANAMAN
1 Persemaian dan Pembibitan
2 Persiapan Lahan (Ha)
3 Penanaman tanaman tahunan dilaksanakan pada tahun I dan
palaw ija selama tahun I, II, III;
PEMELIHARAAN
1 Pembersihan/pendangiran dan pemupukan Tanaman Tahunan dilakukan bersamaan dengan tanaman semusim pada Tahun I,
I, dan III
PENJARANGAN dan PENANAMAN KEMBALI : 3.Penebangan untuk perbaikan
mutu tanaman tahunan dan memberi ruang tumbuh tanaman semusim dilaksanakan pada tahun V, X, dan XV 4.Diikuti penanaman kembali
tanaman tahunan pada tahun VI danpenanaman tanaman semusim tahun VI, VII, VIII, tahun XI, XII, XIII, dan tahun XVI, XVII,
XVIII
Tahun ke X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX XX
PEMANENAN
Subsidi investasi (t -1): Bantuan bibit, biaya olah lahan, kompensasi upaya konservasi
Subsidi/Kredit investasi penanaman pertanian(t1-t3), penanaman tanaman tahunan (t1) dan pemeliharaan (t1-t3), pemeliharaan lanjutan/perlindungan(t4, t6-t9,t11-t14,& t16-t20)
Subsidi social security saat terjadi penurunan sampai dengan tidak adanya pendapatan dari on
farm (asumsi tidak ada penanaman selain palawija dan hasil hutan bukan kayu).
Alternatif 2 untuk alokasi waktu dan besaran insentif dilakukan dengan
pentahapan: 1) Perhitungan balance aliran kas usaha on farm per strata untuk
masa 20 tahun; 2) Perhitungan balance aliran kas off farm rumah tangga; 3)
Komparasi hasil 1) dan 2) untuk mendapatkan balance aliran kas rumah tangga
petani, dan 4) hasil 3) Dengan basis kriteria alokasi kredit menjadikan pendapatan rumah tangga minimal 25% di atas garis kemiskinan didapatkan
kebutuhan dan alokasi waktu insentif setiap strata.
Adapun alokasi insentif per strata sesuai dengan perhitungan kebutuhan nyata investasi dan posisi pendapatan 25 % di atas garis kemiskinan, adalah : 1) Skenario skim insentif strata 1 :
Pada saat tidak ada pendapatan dari panen kayu, strata 1 sama sekali tidak mempunyai kemampuan modal untuk investasi, karena pendapatan on farm dan off farm tidak mampu menutup pengeluaran rumah tangga. Oleh karena itu mutlak diperlukan dukungan insentif berupa subsidi yang besarnya semakin menurun setiap tahun. Subsidi ditujukan untuk dukungan modal investasi dan untuk meningkatkan pendapatan petani 25 % di atas garis kemiskinan (mengentaskannya dari kemiskinan). Jumlah dukungan insentif per tahun jauh di
bawah return dari kontribusi nilai ekonomi jasa air agroforestri dan jasa karbon
agroforestri strata 1 Rp.117.068.000, dan
Rp.
181.051.329 per tahun.Tabel 30 Model Alokasi Waktu dan Besar Insentif Strat a 1
Tahun ke Nilai kebutuhan dukungan insentif per rumah tangga petani (Juta, Rp) per tahun
Balance pendapatan rumah tangga petani Sesudah Investasi
25 % > GK
Total kebutuhan dukungan insentif per
tahun 0 (t – 1) (13,07) 11,575 24,65 1 (1,67) 11,575 13,25 2 (1,67) 11,575 13,25 3 (1,67) 11,575 13,25 4 (10,07) 11,575 21,65 6 (1,59) 11,575 13,17 7 (1,59) 11,575 13,17 8 (1,59) 11,575 13,17 9 (1,87) 11,575 13,45 11 (1,59) 11,575 13,17 12 (1,59) 11,575 13,17 13 (1,59) 11,575 13,17 14 (1,47) 11,575 13,05 16 (1,28) 11,575 12,86 17 (1,28) 11,575 12,86 18 (1,28) 11,575 12,86 19 (1,47) 11,575 12,86 Jumlah total kebutuhan insentif (46,34) 196,775 243,12
Alokasi insentif pada strata 1 tidak dibutuhkan pada tahun ke 5, 10, 15 dan 20, karena terdapat penerimaan dari penjualan penjarangan dan pemanen tanaman tahunan. Pendapatan bersih rumah tangga petani pada saat tersebut berada jauh di atas garis kemiskinan yang dapat ditabung untuk tambahan investasi diversifikasi kegiatan usaha di dalam desa yang akan meminimalisir
ketergantungan pada pendapatan off farm . Keberadaan tabungan (saving) akan
meningkatkan kemampuan konsumsi dan diversifikasi usaha (investmen) yang
menambah lapangan pekerjaan di dalam desa, Hal-hal tersebut akan menungurangi pengangguran dan urbanisasi penduduk desa keperkotaan, dan meningkatkan kontribusi agroforestri pada pertumbuhan ekonomi desa.
Gambar 22 Model Alokasi Waktu dan Besaran Insentif Strata 1 (Luas < 1 ha)
2) Skenario skim insentif strata 2 (rata-rata luas 1,60 ha)
Model alokasi waktu dan besaran biaya insentif strata 2, menunjukkan tidak dibutuhkannya dukungan insentif pada tahun ke 5, 10, 15 dan 20, karena terdapat penerimaan dari penjualan penjarangan dan pemanen tanaman tahunan. Pendapatan bersih rumah tangga petani pada saat tersebut berada jauh di atas garis kemiskinan yang dapat ditabung untuk tambahan investasi diversifikasi kegiatan usaha di dalam desa yang akan meminimalisir
meningkatkan kemampuan konsumsi dan diversifikasi usaha (investmen) yang menambah lapangan pekerjaan di dalam desa, Hal-hal tersebut akan menungurangi pengangguran dan urbanisasi (buruh) penduduk desa keperkotaan serta meningkatkan kontribusi agroforestri pada pertumbuhan ekonomi desa.
Hasil pertanian dan peternakan strata 2 (1 - < 2 ha) berhasil menutup pengeluaran rumah tangga, namun menunjukkan ketidak cukupan modal investasi khususnya pada tahun ke 0 (t-1), tahun ke 4, 9, 14, 16,17, 18, dan ke 19, namun penerimaan yang besar dari hasil penjualan kayu tiga kali penjarangan membuat petani mempunyai kemampuan pengembalian skim kredit
tanpa bunga masa 20 tahun dengan grass period 15 tahun (sesudah
penjarangan ketiga)
Tabel 31 Model Alokasi Waktu dan Besar Insentif Strata 2
Tahun ke Nilai kebutuhan dukungan insentif per rumah tangga petani (Juta, Rp) per tahun
Balance pendapatan rumah tangga petani Sesudah Investasi
25 % > GK
Total kebutuhan insentif per tahun
0 (t – 1) (19,21) 11,575 30,785 1 3,32 11,575 8,255 2 3,32 11,575 8,255 3 3,32 11,575 8,255 4 (4,76) 11,575 16,340 6 1,70 11,575 9,871 7 1,70 11,575 9,871 8 1,70 11,575 9,871 9 (4,76) 11,575 16,340 11 0,41 11,575 13,17 12 0,41 11,575 13,17 13 0,41 11,575 13,17 14 (4,76) 11,575 16,340 16 (0,62) 11,575 12,200 17 (0,62) 11,575 12,200 18 (0,62) 11,575 12,200 19 (4,76) 11,575 16,340 Jumlah total kebutuhan insentif (25,8) 196,775 241,705
Pada strata 2 dengan lahan yang lebih luas daripada strata 1 dibutuhkandukungan insentif yang lebih besar di awal investasi. Namun pendapatan rumah tangga tanpa internalisasi sesudah investasi selama masa 20 tahun sebesar Rp.154,510,000, atau rata-rata Rp 15,451,000 per tahun maka dukungan pada skim kredit tanpa bunga untuk modal investasi awal dan subsidi yang ditujukan pada pengentasan kemiskinan rumah tangga petani (25 % > dari garis kemiskinan terutama pada tahun-tahun dimana penerimaan bersih rumah
tangga opetani < dari garis kemiskinan. Sama halnya dengan strata 1, return
kontribusi jasa air agroforestri Rp.371.198.432, dan jasa karbon Rp. 507.679.009 yang dihasilkan dari hasil pembangunan agroforestri strata 2 per tahun jauh di
atas kebutuhan dukungan insentif. Return tersebut akan jauh lebih besar
apabila aspek manfaat jasa tata air agroforestri di hulu DAS diperluas, sehingga sangatlah layak pemerintah memberikan dukungan insentif baik skim subsidi atau pun kredit pada agroforestri strata 2.
Gambar 23 Model Alokasi Waktu dan Besaran Insentif Strata 2 ( Luas 1 - < 2 ha)
Strata 3 memperagakan, bahwa secara ekonomi usaha agroforestri
pada luas lahan ≥ 2 ha nyata berbeda dengan usaha pada lahan dengan luas < 2
ha. Lebih kurang 50 % Investasi yang jauh lebih besar dibandingkan strata 1 dan 2,di awal pada tahun 0 (t-1), karena luas rata-rata strata 3 adalah 2,59 ha, ternyata dapat kembali pada tahun ke 3 dari hasil penerimaan pertanian dan peternakan. Penerimaan tahunan rumah tangga menunjukkan minus hanya pada tahun ke 4, 9, 14 dan ke 19, dimana hal tersebut dikarenakan belum adanya panen kayu dan tidak dilakukan penanaman/panen palawija pada tahun-tahun tersebut, sedangkan penerimaan dari palwija mulai menurun 20 % setiap setelah dilakukan penjarangan.
Tabel 32. Model Alokasi Waktu dan Besar Insentif Strata 3
Tahun ke Nilai kebutuhan dukungan insentif per rumah
tangga petani (Juta, Rp) Balance pendapatan
rumah tangga petani Sesudah Investasi 25 % > GK Total 0 (t – 1) (34,205) 11,575 45,78 1 5,945 11,575 5,63 2 5,945 11,575 5,63 3 5,945 11,575 5,63 4 (2,720) 11,575 14,30 6 4,112 11,575 7,36 7 4,112 11,575 7,36 8 4,112 11,575 7,36 9 (2,720) 11,575 14,30 11 2,86 11,575 8,75 12 2,86 11,575 8,75 13 2,86 11,575 8,75 14 (2,720) 11,575 14,30 16 1,1176 11,575 9,86 17 1,1176 11,575 9,86 18 1,1176 11,575 9,86 19 (2,720) 11,575 14,30 Jumlah total kebutuhan insentif (2,981) 196,775 241,88
panen, selama masa 20 tahun berjumlah Rp. 369,180,000 atau rata-rata Rp.36,918,000 per tahun, sehingga apabila ditambah dengan pendapatan bersih dari palawija dan peternakan dan dikurangi pendapatan minus rumah tangga seluruhnya berjumlah Rp.423,957,000 atau Rp.42,395,7000 pertahun. Nilai usaha agroforestri strata 3 tanpa internalisasi tersebut lebih dari cukup untuk jaminan pembayaran angsuran skim kredit lunak insentif yang bergulir dari program pemerintah. Skim kredit tanpa bunga dapat dipertimbangkan apabila dikaitkan dengan nilai ekonomi jasa air Rp
.
699.983.600,
dan nilai ekonomi jasa karbon Rp. 821.805.397 per tahun dari strata 3.Gambar 24.. Model alokasi waktu dan bes aran insenti strata 3 (luas ≥ 2 ha)
Dukungan kebijakan lainnya adalah fasilitasi valuasi ekonomi jasa air dan jasa karbon agroforestri, serta menginisiasi pengembangan pasar karbon
sukarela (voluntary market) di dalam negeri untuk pengurangan emisi karbon dari
agroforestri. Pengalaman di Brasil dan Filipina, serta Vietnam menunjukkan monitoring karbon pada agroforestri dengan luas sempit secara periodik, lebih efisien dilakukan masing-masing pemilik lahan berbarengan dengan intensifikasi kelola agroforestrinya.
intensitas penanaman dan atau penyulaman tanaman pada ruang lahan kosong, sehingga penjarangan yang dilakukan, sehingga setiap saat tanaman tahunan akan mempunyai komposisi umur yang beragam dan bertingkat. Hal ini akan sangat penting, karena pengusahaan agroforestri pada lahan sempit, tidak
seperti halnya pengusahaan dalam skala luas (corporate management), dimana
pembagian menjadi blok tanaman tahunan yang membuat pemanenan dapat diatur untuk mempertahankan kelestarian hutan.