II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Peran Agroforestri dalam Penanggulangan Berbagai Isu
penggunaan lahan secara terencana dengan mengkombinasikan stratum tegakan tumbuhan berkayu dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan secara bersamaan atau bergiliran, sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada (Lundgren dan Raintree, 1983, Nair, 1983, Huxley, 1983).
Sistim agroforestri di Indonesia, diawali dengan adopsi pola perladangan berpindah, sejalan dengan terjadinya kesenjangan penawaran dan permintaan bahan baku kayu industri pengolahan, dan meluasnya lahan kritis di dalam dan di luar kawasan hutan, serta berkembangnya berbagai isu pembangunan, antara lain; isu perubahan iklim, isu krisis pangan, isu bio enerji dan isu krisis air, agroforestri berperan sebagai kontributor yang penting. Dalam kawasan hutan sistem ini diadopsi sekaligus sebagai solusi masalah sosial ekonomi yang timbul akibat alih guna lahan, dalam pengembangan hutan kemasyarakatan (HKm), hutan tanaman rakyat (HTR), dan hutan desa, sedangkan di luar kawasan hutan terutama di lahan pertanian di pulau jawa dalam usaha di lahan milik.
Dalam praktek petani secara bertahap mengusahakan agroforestrinya dari pola subsisten menunju komersil, dengan tetap mempertahankan tujuan pemenuhan rasa aman (subsisten) dan keterkaitan ragam sosial budaya (tradisi) sebagai kekayaan pengetahuan lokal. Kondisi tersebut menempatkan agroforestri di pedesaan yang diusahakan rumah petani yang umumnya miskin pada lahan-lahan yang sempit pada transisi antara agroforestri tradisional dengan modern (Tabel 3).
Menurut Wijayanto (2001), agar keunggulan suatu agroforestri terwujud dan kelemahannya teratasi, diperlukan rumusan pengelolaan agroforestri yang berbeda (spesifik lokal) untuk kondisi lahan dan masyarakat yang berbeda. Jadi tidak mungkin ada satu rumusan pengelolaan agroforestri yang berlaku untuk
semua keadaan lahan dan masyarakat yang berbeda-beda.
Sejalan dengan upaya pengentasan kemiskinan seperti yang dicanangkan
dalam Millenium Development Goals (MDGs), fokus sistem produksi dan
produktivitas agroforestri, telah berkembang kepada peran agroforestri berkaitan dengan isu ekonomi lingkungan, seperti penyerapan emisi sebagai dampak dari
climate change, dan transfer imbal jasa lingkungan (Payment for Environmental Service).
Perubahan agroforestri dari subsisten menjadi komersil mengakibatkan pengusahaannya pada skala kecil menjadi rentan terhadap perubahan ekonomi. Hasil analisa ekonomi menjadi penting selain dalam perbaikan manajemen di
tingkat on farm, namun juga dalam menangkap dan merespon sinyal pasar
Tabel 3. Perbedaan agroforestri tradisional dan modern
Aspek Tinjauan Agroforestri Tradisional Agroforestri Modern
Kombinasi Jenis
Tersusun atas banyak jenis (polyculture), dan hampir keseluruhannya dipandang penting; banyak dari jenis-jenis lokal (dan berasal dari Permudaan alami)
Hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis, di mana salahsatunya merupakan komoditi yang diunggul kan; seringkali diperkenal kan jenis unggul dari luar
Struktur Tegakan
Kompleks, karena pola tanamnya tidak teratur, baik secara horizontal ataupun vertikal (acak)
Sederhana, karena biasanya menggunakan pola lajur atau baris yang berselang-seling dengan jarak tanam yang jelas
Orientasi Penggunaan Lahan
Subsisten hingga semi komersial (meskipun tidak senantiasa dilaksanakan dalam skala kecil)
Komersial, dan umumnya diusahakan dengan skala besar dan oleh karenanya padat modal
Keterkaitan Sosial Budaya
Memiliki keterkaitan sangat erat dengan sosial-budaya lokal karena telah dipraktek kan secara turun temurun oleh
masyarakat/pemilik lahan
Secara umum tidak memiliki keterkaitan dengan sosial budaya setempat, karena di introdusir oleh pihak luar (proyek atau pemerintah) Sumber: Sardjono, et al. 2003
Pemahaman pengelolaan agroforestri dari sisi produsen adalah berarti
mengelolanya untuk tujuan multiple use yang berarti pengelolaan seluruh
renewable resources yang terdapat di dalam area agroforestri. Kombinasi
penggunaan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan manusia (Hairiyah, et al,
2002). Vishwapati (2010) menemukan, bahwa species jenis pohon multiguna
Himalaya bagian Barat, bahkan Yamoah (1989) berhasil menemukan beberapa jenis-jenis yang tumbuh cepat untuk penutupan lahan di dataran tinggi Rwanda.
Pertimbangan sosial ekonomi merupakan faktor penting dalam proses pengadopsian sistem dan teknologi agroforestri, keputusan tergantung penerimaan petani sebagai elemen pokok (subyek) dari agroforestri. Namun para pihak yang berkepentingan dengan pengembangan perbaikan teknologi agroforestri (peneliti, penyuluh, pemerintah) sering mengabaikan terhadap peran dan posisi petani tersebut. (Suhardjito, 2003).
Terdapat 5 (lima) aspek dasar yang mempengaruhi keputusan petani untuk menerapkan agrorestri, yaitu:
1. Kelayakan (feasibility)
Penelitian pengaruh luas lahan terhadap pilihan praktek agroforestri tergantung pada faktor ketersediaan alternatif sumber-sumber ekonomi keluarga, teknologi yang dikuasai dan pola komposisi jenis tanaman menurut intensitas waktu panen (Berenschot, Van Der Poel dan Van Dijk, 1987). Hal itu ditunjukkan oleh kecenderungan rumah tangga miskin yang menguasai lahan sempit, menggunakan lahannya untuk tanaman pangan dan tidak menanam atau hanya sedikit tanaman pohon-pohon (Brokensha dan Riley, 1987).
Selain luas lahan, kendala kelayakan usaha agroforestri adalah akses petani pada informasi pasar, dan modal, (Indrawati et al, 1997, Ekawati, et al., 2002). Hasil-hasil penelitian kelayakan finansial agroforestri sering terbatas pada keragaan NPV yang positif, namun mengabaikan kenyataan nilai tersebut dekat atau di bawah garis kemiskinan yang resmi dikeluarkan oleh BPS. .
2. Keuntungan (profitability)
Sistem agroforestri dianggap menguntungkan apabila dapat menghasilkan tingkat output yang lebih banyak dengan menggunakan jumlah input yang sama,
atau membutuhkan jumlah input yang lebih rendah untuk menghasilkan tingkat output yang sama. Kondisi ini dicapai apabila ada interaksi antar komponen yang saling menguntungkan baik dari segi biofisik, maupun ekonomi (Suharjito, 2000). Interaksi biofisik sebenarnya mencerminkan interaksi ekonomi, apabila output fisik per satuan lahan diubah menjadi nilai uang per satuan biaya faktor produksi. Dasar penerapan agroforestri adalah interaksi biofisik yang positif, yang akan menghasilkan interaksi ekonomi yang positif pula. Kenaikan output pada tingkat sumber daya yang sama, dapat disebabkan oleh kenaikan jumlah output fisik atau kenaikan harga per satuan output, juga penurunan biaya input misalnya dari segi tenaga kerja dan penggunaan sumber daya yang lain atau penurunan harga per satuan input. (Avilla, 1978, Andayani, 2002, Albrecht, and Kanji, 2003).
Meskipun keuntungan merupakan motif utama petani memilih usaha agroforestri, namun aspek keamanan pangan dan kesinambungan pendapatan kerap menjadi pertimbangan (Yustika, 2007). Beberapa alasan mendasar petani pedesaan di wilayah Kabupaten Wonogiri memilih agroforestri, dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Dari aspek ekonomi, agroforestri dengan kombinasi tanaman semusim dan tanaman tahunan memberikan ketahanan untuk survival dan bagian dari
sistem mata pencaharian (livelihood), sehingga menimbulkan rasa aman
bagi petani subsisten (Suyanto, dan Chandler, 2003).
b. Dari aspek sosial budaya, agroforestri di pedesaan secara historis terkait erat dengan tradisi turun temurun yang melatar belakangi hubungan antar masyarakat; dalam membangun kelompok, belajar; dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengembangan dan pembangunan desa (Awang, S, 2002), dan
c. Dari aspek ekologi, petani agroforestri di desa bagian hulu DAS yang pernah mengalami masa kekeringan yang panjang sebelum tahun 1970an, memberi pelajaran bahwa penanaman pepohonan telah meningkatkan keberadaan hutan dengan sumber air, menjaga kesuburan tanah dan lingkungan yang nyaman (Jariah NA, dan Wahyuningrum , 2008; Sriwongsitanon, 2011).
Pengembangan agroforestri dengan menempatkan pepohonan hanya sebagai penunjang aspek biofisik (konservasi) mendukung pertanian semata seringkali membuat usaha agroforestri gagal atau tidak berkembang. Aspek sosial ekonomi,lebih berperan dalam pengembangan agroforestri, sebagaimana dikemukakan Cahyono, et al (2003), bahwa terdapat tiga aspek penting yang
mempengaruhi pengembangan agroforestri, yaitu kelayakan (feasibility),
keuntungan (profitability) dan kesinambungan (sustainability).
Kesinambungan keberadaan dan pengembangan agroforestri sejalan dengan besarnya kemampuan agroforestri dalam peningkatan pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek rumah tangga petani, terutama dalam tenggat waktu menunggu panen tanaman tahunan (Supangat, et al. 2003). Sejalan dengan adanya jeda waktu menunggu pendapatan dari tanaman tahunan, beberapa penelitian mengindikasikan ketergantungan yang sangat
tinggi dari rumah tangga petani agroforestri pada pendapatan di luar lahan (off
farm). Kontribusi pendapatan off farm pada rumah tangga petani berkisar antara
45-70% (Dede, 1997, Riva, 1997, Ekawati, 1999, Donie, 2000, Hardjanto, 2001, Haswanir et al, 2000, Cahyono et al, 2002, Supangat et al, 2002, Sunaryo, et al, 2003, dan Jariyah, et al,2003).
Selama ini pendapatan usaha tani hanya terbatas pada manfaat langsung (direct use value) dari agroforestri seperti, produk tanaman semusim, tanaman tahunan,dan ternak. Faktor modal dan luas pemilikan lahan yang terbatas,
sudah menjadi ciri kendala agroforestri di Kabupaten Wonogiri, sehingga tidak mungkin bagi petani meningkatkan keuntungan melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.
Meskipun saat ini manfaat tidak langsung (indirect use value) berupa
eksternalitas positif seperti jasa air dan jasa karbon agroforestri mulai diperhitungkan sebagai bagian solusi isu lahan kritis, krisis air dan perubahan iklim, namun nilai ekonominya belum bisa menjadi sumber pendapatan rumah tangga petani apabila diserahkan pada mekanisme pasar. Pembelajaran sukses imbal jasa air antara lain di DAS Cidanau, DAS Asahan, dan di Costa Rica, serta sukses imbal jasa karbon di Brasil, menunjukkan peran intervensi Pemerintah
sangat diperlukan,khususnya terkait dalam pengakuan kepemilikan hak (property
right) dan negosiasi besaran dan distribusi subsidi atau imbal jasa. Hal tersebut didukung oleh pendapat Williamson (1979), bahwa intervensi hanya didapat dengan upaya pemaksaan oleh pemerintah, serta temuan hasil penelitian Rosa
et al (2003) pada pembelajaran kompensasi pada jasa ekosistem di pedesaan di San Salvador.
3. Dapat tidaknya diterima (acceptibility)
Beberapa penelitian sosial terkait faktor yang berperan dalam penerimaan
teknologi oleh petani (acceptability), mengindikasikan 4 hal yang menentukan
tingkat penerimaan teknologi oleh petani, yaitu: a) Perbedaan pandangan antara penyedia dengan pelaku teknologi; b) Hambatan bahasa komunikasi antara penyedia dengan pelaku teknologi; c) Kecenderungan penyeragaman teknologi untuk berbagai plot pada berbagai bentang lahan; dan d) Dukungan kebijakan (Suyanto S and Chandler FJC, 2003).
Kenyataannya diseminasi informasi tentang teknik-teknik agroforestri seringkali merupakan isu yang agak sensitif. Dalam mempromosikan teknik
agroforestri, peneliti dan pakar terkadang tidak peka terhadap peran dan
pengetahuan petani yang telah lama dipraktekan (tacit) dan berbagai faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga petani akan lahan mereka sendiri (Santosa, PB , 2006).
Tidak jarang petani berpedoman bahwa lebih baik menerapkan teknik yang sudah biasa mereka lakukan dibandingkan dengan menerapkan sesuatu yang masih baru dan dibawa oleh orang luar. Petani akan lebih mudah mengadopsi agroforestri jika mereka; a) terbiasa dengan penggunaan pohon dalam sistem pertanian, dan b) mengetahui bahwa integrasi pohon ke dalam proses produksi pangan telah sukses dilakukan oleh petani yang lain.
4. Kesinambungan (sustainability).
Penanaman terus menerus dengan satu komoditi akan membuat produksi lahan tidak lagi menguntungkan (hukum penambahan yang menurun), karena kenaikan biaya input persatuan waktu akan membuat usaha tidak lagi layak untuk dilanjutkan (tidak berkesinambungan). Tujuan petani memilih agroforestri, pada kondisi lahan yang kurang subur dan ketiadaan modal adalah alasan kesinambungan pendapatan. Petani beranggapan kesinambungan akan lebih terjamin, bila:
a) Pada lahan yang sama ditanam paling sedikit satu jenis tanaman semusim dan satu jenis tanaman tahunan/pohon
b) Menghasilkan lebih dari satu macam produk
c) Produk-produk yang dihasilkan dapat bermanfaat langsung (tanaman pangan, kayu, ternak) dan tidak langsung (air dan udara nyaman)
d) Terdapat kesenjangan waktu (time lag) antara waktu penanaman dan
pemanenan produk tanaman tahunan/pohon yang cukup lama
2.4 Internalisasi Eksternalitas