BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Instrumen Tes
Secara umum, instrumen merupakan suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Dalam sebuah proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif dapat diukur dengan menggunakan tes. Tes merupakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban atau sejumlah pernyataan yang harus diberikan tanggapan. Tujuan penetapan tes pada peserta didik adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan, mengukur pertumbuhan dan perkembangan, mendiagnosis kesulitan belajar, mengetahui hasil belajar, mengetahui pencapaian kurikulum, mendorong peserta didik untuk belajar dan mendorong pendidik untuk mengolah kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik (Mardapi, 2012).
Dua bentuk penilaian yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan instrumen tes dan instrumen nontes. Instrumen tes merupakan sebuah alat ukur untuk mengumpulkan informasi berupa pengetahuan atau keterampilan seseorang (Winarno, 2011). Instrumen tes meliputi tes tertulis bentuk pilihan dan esai/uraian, sedangkan instrumen nontes dapat berupa portofolio, kinerja, proyek, penilaian diri, penilaian jurnal, dan tes lisan.
Berdasarkan sistem penskorannya, tes tertulis bentuk esai diklasifikasi menjadi dua yaitu, tes uraian objektif dan non objektif. Tes objektif diartikan bahwa penskoran dilakukan secara objektif karena bentuk soalnya menuntut sekumpulan jawaban dengan pengertian atau konsep tertentu dan apabila diperiksa oleh beberapa pendidik dalam bidang studi tersebut hasilnya akan sama. Menurut Mardapi (2008), tes esai
objektif sering digunakan dalam bidang/mata pelajaran yang batasnya jelas seperti sains dan teknologi yang jawaban soalnya sudah pasti dan hanya satu jawaban yang benar. Pengerjaan soal uraian objektif melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu yang dinilai setiap langkah tersebut. Selain itu juga, jawaban pada bentuk soal esai objektif ini, memiliki jawaban hanya satu, mulai dari memilih rumus yang tepat, memasukan angka dalam rumus, menghitung hasil, dan menafsirkan hasilnya.
Suatu tes dikatakan baik apabila memiliki kriteria antara lain, validitas, efektivitas, dan memiliki nilai kepraktisan (Setiawan, 2017). Tes dikatakan valid apabila hasil ukur dari pengukuran tersebut merupakan besaran yang mencerminkan secara tepat fakta atau keadaan sesungguhnya dari apa yang diukur. Secara umum, dalam pengembangan instrumen tes meliputi beberapa langkah seperti, menyusun spesifikasi tes, menulis soal tes, menelaah soal tes, melakukan ujicoba tes, menganalisis butir soal, memperbaiki tes, merakit tes, melaksanakan tes, dan menafsirkan hasil tes (Mardapi, 2008).
Tes tertulis bentuk esai merupakan seperangkat soal yang berupa tugas, pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata sendiri (Muttaqin, 2017).
Pemilihan soal pada tes esai memiliki jawaban hanya satu, mulai dari memilih rumus yang tepat, memasukan angka dalam rumus, menghitung hasil dan dan menafsirkan hasilnya dengan sistem penskoran dibuat dengan jelas dan rinci. Ciri-ciri tes esai adalah penjawab memiliki keleluasaan dalam memberikan jawaban, sedangkan pemberi skor dari setiap jawaban yang mengerjakan teste diberikan atas dasar pertimbangan subjektif dari pemeriksa.
Tes esai lebih memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menampilkan kemampuan dalam menulis, mengorganisasikan, mengekspresikan, dan menjelaskan hubungan antar ide sehingga mampu menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Salah satu keuntungan tes esai yaitu, butir tes yang berbentuk uraian cocok digunakan
untuk melakukan penilaian yang mengharapkan hasil secara kompleks karena dapat menuntut peserta didik untuk mengorganisasi informasi secara konstruktif dalam penyelesaian masalah, menganalisis dan mengevaluasi informasi, atau menunjukkan kemampuan aspek kognitif tingkat tinggi (Asrul, 2014).
Menurut Mardapi (2008:88) langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyusunan butir soal tes tertulis esai yang akurat adalah sebagai berikut:
a. Menyusun spesifikasi tes berupa menentukan tujuan tes, menyusun kisi-kisi tes, memilih bentuk tes, dan menentukan panjang tes.
b. Menulis soal tes berdasarkan indikator pada kisi-kisi.
c. Menelaah soal tes yang dapat dilakukan oleh ahli untuk memperbaiki kualitas soal.
d. Melakukan uji coba tes
e. Menganalisis butir soal untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya pembeda dan efektivitas pengecoh.
f. Memperbaiki tes g. Merakit tes h. Melaksanakan tes i. Menafsirkan hasil tes 2. Kemampuan Analisis
HOTS berarti kemampuan peserta didik untuk menghubungkan pembelajaran dengan hal-hal yang belum diajarkan. HOTS merupakan proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktifitas mental yang dasar (Ariyana, 2018). Istiyono, (2014) menyebutkan bahwa menurut taksonomi Bloom yang telah direvisi, proses kognitif terbagi menjadi HOTS dan LOTS. Yang termasuk LOTS adalah kemampuan mengingat (C1), memahami (C2), dan menerapkan (C3 sedangkan yang termasuk HOTS adalah kemampuan analisis (C4), mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6).
HOTS meliputi aspek kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah. Berpikir kritis yaitu kemampuan untuk menganalisis, menciptakan, dan menggunakan kriteria obyektif, serta mengevaluasi data. Berpikir kreatif yaitu kemampuan untuk menggunakan struktur berpikir yang rumit sehingga memunculkan ide yang baru dan orisinil. Kemampuan memecahkan masalah yaitu kemampuan untuk berpikir secara kompleks dan mendalam untuk memecahkan suatu masalah (Lailly & Wisudawati, 2015)
Kemampuan menganalisis (C4) dapat diartikan sebagai kemampuan peserta didik menentukan bagian-bagian yang menjadi penyusun suatu bentuk, objek, ataupun masalah tertentu sehingga peserta didik mampu menunjukan keterkaitan satu sama lain (Rochaman & Hartoyo, 2018).
Menurut Krathwohl (2002), analisis merupakan “breaking material into it’s constituent parts and detecting how the parts relate to one another and to an overall structure or purpose”. Setiawati (2018) juga mendefenisikan kemampuan analisis merupakan kemampuan individu untuk mengenal sesuatu dengan mengidentifikasi dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lainnya untuk menemukan solusi dari suatu persoalan. Berdasarkan pernyataan diatas, maka kemampuan analisis merupakan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengidentifikasi dan memecahkan suatu persoalan menjadi beberapa bagian dan menghubungkan bagian-bagian tersebut serta mampu menemukan solusi untuk persoalan tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Aprilia (2019) mendeskripsikan tiga indikator HOTS pada dimensi kemampuan analisis yaitu membedakan (differentiating), mengorganisasikan (organizing), dan mengatribusikan (attributing). Membedakan merupakan proses memilah-milah bagian-bagian yang relevan dan penting dari sebuah struktur; mengorganisasikan merupakan proses mengidentifikasi elemen-elemen komunikasi atau situasi dan proses mengenali bagaimana elemen-elemen ini membentuk sebuah struktur yang koheren; dan mengatribusikan merupakan proses
dekonstruksi yang didalamnya peserta didik menentukan tujuan dari elemen atau bagian yang membentuk sebuah struktur. Menurut Rochaman dan Hartoyo (2018) terdapat tiga indikator dalam mengukur kemampuan analisis yaitu membedakan, mengorganisasikan, dan mengatribusikan.
Membedakan merupakan salah satu kemampuan memilih bagian yang relevan dari sebuah struktur tertentu. Pada saat terjadi proses membedakan pada peserta didik, maka akan terjadi pemerhatian dan pemfokusan antara materi yang relevan dan yang tidak relevan dan memperhatikan informasi yang relevan dan penting. Nama lain yang digunakan dari memmbedakan adalah menyendirikan, memilah, memfokuskan dan memilih.
Mengorganisasikan merupakan proses mengidentifikasi elemen-elemen dan proses mengenali bagaimana elemen-elemen-elemen-elemen ini membentuk sebuah struktur yang koheren. Pada saat terjadi proses mengorganisasi peserta didik akan mengkontrusikan rangkaian yang sistematis setiap potongan informasi. Nama lain yang digunakan dalam mengorganisasikan adalah menstrukturkan, memadukan, menemukan koheren, membuat garis besar, dan mendeskripsikan.
Mengatribusikan merupakan proses penentuan sudut pandang, pendapat, nilai, atau tujuan di balik komunikasi oleh peserta didik. Hal ini melibatkan proses dekonstruksi dimana peserta didik menentukan tujuan pengarang suatu tulisan. Pada proses ini peserta didik akan terbantu dalam memecahkan masalah.
3. Instrumen Tes Berbasis C4
Pengembangan instrumen tes bertujuan untuk menyelidiki karakteristik dan kriteria kualitas instrumen tes berupa soal esai yang berbasis pada HOTS yang dihasilkan dan digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik pada materi tertentu (Harta, 2017). Soal berbasis HOTS lebih menuntut untuk berfikir tentang penerapan dari konsep atau fakta yang telah dikuasai oleh peserta didik. Penilaian HOTS mengukur soal
yang mempunyai kriteria level kognitif menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6).
Kriteria soal HOTS meliputi penggunaan indikator HOTS, penggunaan kata kerja operasional, menggunakan stimulus, dan permasalahan yang disajikan harus bersifat konstekstual. Soal esai yang digunakan harus memperhatikan kompetensi yang dinilai, konstruksi dengan rumusan yang jelas, bahasa yang sesuai dengan kaidah serta tingkatan kognitif yang sesuai untuk mengukur HOTS pada peserta didik (Afrita & Darussyamsu, 2020). Pertanyaan yang digunakan dalam tes ini sebaikanya mampu meningkatkan HOTS serta mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang materi yang telah dipelajarinya.
Kemampuan analisis merupakan salah satu bagian dari HOTS yang memerlukan strategi dalam penyusunan soal. Strategi yang digunakan dalam penyusunan soal-soal HOTS menurut Fanani (2011) adalah sebagai berikut:
a. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS b. Menyusun kisi-kisi soal
c. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual d. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal e. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Pada dimensi kognitif, kemampuan analisis merupakan suatu kemampuan untuk memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian penyusun dan menentukan hubungan-hubungan antar bagian itu dan hubungan antar bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur dan tujuan.
Contoh kata kerja operasional yang biasa digunakan adalah menyendirikan, memilah, memfokuskan, memilih, menemukan koherensi, memadukan, membuat garis besar, mendeskripsikan peran, menstrukturkan, dan mendekonstruksi. Pengembangan instrumen tes kemampuan analisis harus sesuai dengan indikator kemampuan analisis yaitu membedakan, mengorganisasikan, serta mengatribusikan.
4. Pereaksi Pembatas dalam Reaksi Kimia
Reaksi kimia (chemical reaction) merupakan suatu proses dimana zat (atau senyawa) diubah menjadi satu atau lebih senyawa baru (Chang, 2005:77). Cara yang digunakan untuk menggambarkan reaksi-reaksi tersebut adalah dengan menggunakan persamaan kimia. Persamaan kimia menggunakan lambang kimia untuk menunjukan apa yang terjadi saat reaksi kimia berlangsung. Dalam persamaan kimia, rumus untuk reaktan ditulis di sebelah kiri persamaan sedangkan untuk produk ditulis di sebelah kanan yang dihubungkan dengan satu panah (→).
Suatu percobaan kimia yang telah dilakukan, persamaan kimia dapat menunjukan apa yang telah terjadi dalam reaksi tersebut. Dalam reaksi tersebut, sudah diketahui pereaksinya. Hasil reaksi harus dikumpulkan dan diteliti (misalnya dengan reaksi kimia) sebelum persamaan reaksi yang benar dapat ditulis. Suatu persamaan kimia dapat ditulis seperti contoh dibawah ini:
N2(g) + 3H2(g)→ 2NH3(g) (2.1) Setiap zat yang terdapat di alam tersusun atas partikel-partikel dalam bentuk atom, molekul atau ion dengan ukuran yang sangat kecil sehingga sulit untuk dihitung. Dalam ilmu kimia, satuan yang digunakan untuk untuk menyatakan jumlah partikel dalam zat dinamakan mol. Mol adalah satuan jumlah zat yang menyatakan jumlah partikel zat yang sangat besar.
a. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel
Atom dan molekul memiliki massa yang sangat kecil sehingga tidak dapat ditentukan dengan menggunakan timbangan. 1 mol zat (unsur atau senyawa) didefinisikan sebagai banyaknya zat yang mengandung jumlah partikel sebesar 6,02 × 1023. Hubungan antara mol dan jumlah partikel dituliskan sebagai berikut:
P = n × NA (2.2) Keterangan:
P = jumlah partikel (atom/molekul/ion) n = mol
NA = tetapan Avogadro (6,02 × 1023) b. Hubungan Mol dengan Massa Molar
Massa molar adalah massa satu mol zat dalam satuan gram. 1 mol zat (unsur atau senyawa) yang berbeda akan memiliki jumlah partikel yang sama, sedangkan massanya berbeda. Hubungan massa zat dengan molnya dapat dituliskan sebagai berikut:
m = n × Ar atau m = n x Mr (2.3) Keterangan:
m = massa n = mol
Ar = massa atom relatif / Mr = massa molekul relatif c. Hubungan Mol dengan Volume
Pada keadaan standar volume satu mol gas adalah sekitar 22,4 L.
V = n x 22,4 L/mol (2.4) Keterangan:
V = volume gas pada 0˚C, 1 atm (L) n = jumlah mol gas (mol)
Dalam mereaksikan senyawa kimia, terkadang jumlah reagen yang digunakan tidak diperhatikan dengan baik sehingga terjadi kelebihan reagen-reagen tersebut. Seringkali suatu reaktan dimasukan dalam jumlah yang berlebih dengan harapan reaktan tersebut akan diubah seluruhnya menjadi produk yang diinginkan, namun terdapat reaktan yang tersisa pada akhir rekasi (Valentie, 2019). Reaktan yang pertama kali habis digunakan dalam suatu reaksi kimia dinamakan dengan reaksi pembatas (limiting reagents). Hal ini dipengaruhi oleh jumlah maksimum produk yang terbentuk tergantung pada jumlah awal dari reaktan tersebut. Produk tidak lagi terbentuk apabila reaktan tersebut telah digunakan seluruhnya. Pereaksi yang terdapat dalam jumlah yang besar daripada yang diperlukan untuk bereaksi dengan sejumlah tertentu pereaksi pembatas dinamakan dengan pereaksi berlebih (excess reagents) (Chang, 2005:77).
Pemecahan soa-soal pereaksi pembatas perlu dikenali mana yang merupakan pereaksi pembatas. Setelah itu banyaknya produk yang terbentuk dapat dihitung berdasarkan pada banyaknya pereaksi pembatas yang tersedia. Beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal-soal pereksi pembatas menurut Brady (1999:112) adalah sebagai berikut:
a. Mengubah zat-zat yang diketahui menjadi mol
b. Menulis persamaan reaksi lengkap dengan koefisiennya
c. Menyetarakan mol zat yang diketahui dengan mol zat yang ditanyakan sesuai dengan koefisien reaksinya. Ini dapat dilakukan dengan menuliskan banyaknya mol zat mula-mula, zat yang bereaksi, zat hasil reaksi, serta zat sisa reaksi
Mol yang ditanyakan = koefisien zat yang ditanyakan
koefisien zat yang diketahui × mol zat yang diketahui (2.5) d. Mengubah mol yang ditanyakan menjadi massa, volume, atau jumlah
partikel sesuai dengan pertanyaan Diketahui suatu reaksi sebagai berikut:
pA + qB → rC + sD (2.6) Jika diketahui mol dari dua zat pereaksi, maka jumlah mol dari zat lain yang terlibat dalam reaksi dapat diketahui dengan menggunakan perbandingan koefisien. Menurut Sidauruk (2018), pereaksi pembatas dapat ditentukan dengan cara membagi mol masing-masing zat pereaksi dengan koefisein reaksinya. Zat yang memiliki jumlah hasil bagi terkecil akan bertindak sebagai pereaksi pembatas. Apabila mol B memiliki nilai yang terkecil, maka mol zat lain yang bereaksi dapat menggunakan persamaan berikut:
pA + qB → rC + sD M mol A mol B - - R koef. A
kooe. B ×mol B mol B koef. C
koef. B ×mol B koef. D
koef. B ×mol B S mol A - mol C mol D
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa, yang merupakan pereaksi pembatas adalah zat B karena zat B habis bereaksi.
Contoh: Produksi amonia di dalam industri kimia dapat dilakukan dengan mereaksikan gas nitrogen dan gas hidrogen. Persamaan yang tepat untuk menggambarkan reaksi tersebut adalah sebagai berikut:
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g)
Jika terdapat 0,5 mol N2 dan 2,5 mol H2, tentukan reaksi pembatasnya!
Penyelesaian:
Langkah 1: menulis persamaan reaksi yang setara N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g) Langkah 2: menghitung mol zat yang terlibat dalam reaksi
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g) (2.7) M 0,5 mol 2,5 mol -
R -0,5 mol -1,5 mol +1,0 mol S 0 mol 1,0 mol 1,0 mol Langkah 3: menentukan reaksi pembatas Yang merupakan reaksi pembatas adalah N2
B. Penelitian Relevan
Pengembangan instrumen tes berbasis HOTS dikembangkan oleh Khaldun, dkk. (2019) pada materi hidrolisis dan larutan penyangga. Bentuk tes yang digunakan adalah pilihan ganda. Hasil validasi menunjukan terdapat 16 butir soal (80%) dinyatakan valid dan 4 butir soal (20%) dinyatakan tidak valid.
Realibilitas yang diperoleh termasuk kategori tinggi yaitu 0,763, tingkat kesulitan soal mencapai 10% sulit, 75% sedang dan 15% mudah serta memiliki daya pembeda dengan kategori baik sebesar 55% dan cukup sebesar 45%.
Berdasarkan hasil tersebut, instrumen tes dinyatakan memiliki kualitas soal yang baik dan sangat layak untuk digunakan sebagai tes hasil belajar.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Damayanti, dkk. (2019) dalam pengembangan instrumen penilaian testlet untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi pada materi elektrokimia. Pengembangan instrumen tes ini memiliki nilai validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan indeks pengecoh yang memenuhi kriteria serta mampu mengukur HOTS
peserta didik. Persentase HOTS peserta didik yang diukur dengan menggunakan instrumen tes ini sebesar 61,15% kemampuan menganalisis, 52,5% kemampuan mengevaluasi, 34,25% kemampuan mengkreasi, berpikir kritis sebesar 42,5%, dan bernalar logis sebesar 37,25%.
Penelitian yang dilakukan oleh Aspubel (2018) yaitu pengembangan instrumen pilihan ganda beralasan dengan tujuan mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi pada materi asam basa, stoikiometri reaksi dan titrasi serta larutan penyangga. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa instrumen tes tersebut telah memenuhi validitas isi, memiliki kriteria yang baik, reliabilitas instrumen telah mencapai syarat yang tergolong kategori tinggi serta memiliki fungsi untuk mengukur kemampuan HOTS peserta didik.
Hasil pengukuran instrumen tersebut menunjukan kemampuan HOTS peserta didik sebesar 57,14% dengan kategori tinggi dan 42,86% dengan kategori sangat rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Laksono (2017) yaitu mengembangkan dan mengetahui kelayakan instrumen tes kemampuan berpikir analitis dan keterampilan proses sain peserta didik pada topik laju reaksi. Instrumen Analytical Thinking and Science Process Skill (ATSPS) yang berbentuk esai divalidasi oleh expert judgement dan guru kimia. Hasil validasi menunjukan bahwa instrumen tes layak digunakan dengan rata-rata indeks validitas isi tes sebesar 0,95 yang memenuhi standar. Validasi produk memiliki skor sebesar 530 dengan kategori sangat baik, dan persentase respon guru adalah 88,33%.
Penelitian yang dilakukan oleh Yandriani (2020) yaitu pengembangan instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis (C4) dan literasi kimia pada topik sifat koligatif larutan. Instrumen tes esai ini dikembangkan untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis terhadap jawaban peserta didik menunjukan bahwa, dari 15 butir soal yang dikembangkan terdapat 10 butir soal yang dinyatakan valid secara konstruksi dengan nilai >0,36. Hasil uji reliabilitas dikategorikan sangat tinggi yang ditunjukan dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0,887 dan indeks kesukaran butir soal tergolong sedang dengan perestanse 80% dan mudah dengan nilai 20%. Berdasarkan analisis
tersebut, instrumen tes dinyatakan valid dan layak untuk mengukur kemampuan analisis dan literasi kimia perserta didik.
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran Kurikulum 2013 ditekankan pada HOTS. Salah satu aspek penting dalam mengukur HOTS peserta didik adalah kemampuan menganalisis (C4). Kemampuan analisis peserta didik adalah dapat diukur menggunakan instrumen tes bentuk esai. Instrumen tes yang digunakan di SMA PL Sedayu untuk mengukur kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas pernah dibuat oleh guru dan dujikan, namun tetap mempertimbangkan kemampuan peserta didik. Hasil uji coba tersebut menunjukan bahwa peserta didik masih salah dalam penyelesaian soal. Nilai rata-rata UH peserta didik tahun ajaran 2019/2020 pada topik pereaksi pembatas diperoleh sebesar 75,97 namun dengan instrumen tes yang digunakan pada level C1 hingga C3 dengan rentang nilai yang bervariasi. Guru menggunakan bentuk soal esai untuk menguji kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas namun soal tersebut belum mengukur kemampuan analisis peserta didik.
Menyikapi hal tersebut, peneliti mengembangkan produk berupa instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas menggunakan model pengembangan Wilson, Oriondo dan Antonio yang dimodifikasi dengan dua tahap pengembangan yaitu perancangan produk dan ujicoba produk. Tahap perancangan meliputi, penetapan tujuan pengembangan produk, penentuan kompetensi yang diujikan, penentuan materi yang diujikan, penyusunan kisi-kisi tes, penulisan butir soal, desain produk, penyusunan pedoman penskoran, validasi produk dan perbaikan produk. Tahap ujicoba produk meliputi penentuan subjek penelitian, pelaksanaan penelitian, dan analisis data penelitian.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, peneliti membuat kerangka berpikir yang ditunjukan pada Gambar 2.1 dalam pengembangan instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas.
1. Instrumen yang dibuat oleh guru belum mengukur secara keseluruhan kemampuan peserta didk dan belum mengukur HOTS peserta didik
2. Hasil ujicoba instrumen tes yang dibuat oleh guru adalah terdapat sebagian besar peserta didik masih salah dalam penyelesaian soal 3. Kemampuan analisis peserta didik SMA PL
St. Louise Sedayu pada materi pereaksi pembatas sangat bervariasi
Solusi
Pengembangan instrumen tes berbasis kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas
4. Penyusunan kisi-kisi tes 5. Penulisan butir soal
Instrumen tes berbasis kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas yang valid, efektif, dan praktis
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
19 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R and D). Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan produk berupa instrumen tes dalam mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas. Produk berupa instrumen tes yang dihasilkan diharapkan memiliki kriteria antara lain, validitas, reliabilitas, dan praktis (Destiana, 2020).
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan mengikuti model pengembangan Wilson, Oriondo dan Antonio yang telah dimodifikasi (Heru, 2019).
Pengembangan instrumen modifikasi model Wilson, Oriondo, dan Antonio dibagi menjadi dua tahap yaitu perancangan produk dan uji coba produk. Tahap perancangan produk meliputi penetapan tujuan pengembangan produk, penentuan kompetensi yang diujikan, penentuan topik yang diujikan, penyusunan kisi-kisi tes, penulisan butir soal, desain produk, penyusunan pedoman penskoran, validasi produk dan perbaikan produk. Tahap uji coba produk meliputi penentuan subjek penelitian, pelaksanaan penelitian, dan analisis data penelitian.
1. Tahap Perancangan Produk
a. Penetapan Tujuan Pengembangan Produk
Produk dikembangkan dengan tujuan untuk menghasilkan instrumen tes yang valid, efektif dan praktis. Pengembangan instrumen tes ini disesuaikan dengan model pengembangan instrumen tes menurut Wilson, Oriondo dan Antonio. Selain itu, produk yang dihasilkan dapat mengukur kemampuan analisis peserta didik. Menurut Rochman &
Hartoyo (2018), indikator yang dapat mengukur kemampuan analisis adalah membedakan, mengorganisasikan, dan mengatribusikan.
b. Penentuan Kompetensi yang Diujikan
Setelah tujuan tes ditentukan, selanjutnya akan dipilih kompetensi yang akan diujikan. Kompetensi yang diujikan disesuaikan dengan tes yang telah ditetapkan dengan tujuan untuk membatasi penerapan kompetensi dalam sebuah penelitian. Kompetensi Dasar (KD)
Setelah tujuan tes ditentukan, selanjutnya akan dipilih kompetensi yang akan diujikan. Kompetensi yang diujikan disesuaikan dengan tes yang telah ditetapkan dengan tujuan untuk membatasi penerapan kompetensi dalam sebuah penelitian. Kompetensi Dasar (KD)