BAB III METODE PEN ELITIAN
H. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh menggunakan instrumen penelitian berupa data kualitatif yaitu hasil wawancara dan data kuantitatif berupa hasil validasi produk dan instrumen pendukung penelitian serta hasil uji coba produk. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Analisis Hasil Wawancara
Analisis hasil wawancara dengan guru kimia kelas X MIPA SMA PL Sedayu Yogyakarta dilakukan secara kualitatif. Analisis hasil wawancara ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan awal yang menjadi dasar permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut. Selain itu juga, analisis wawancara menjadi acuan dalam pengembangan instrumen berbasis kemampuan analisis.
2. Analisis Hasil Validasi Produk
Analisis lembar validasi produk dilakukan setelah validator mengisi kolom nilai pada lembar validasi. Validator juga memberikan komentar atau saran mengenai produk yang dikembangkan sehingga dijadikan bahan penyempurnaan bagi peneliti. Analisis terhadap lembar validasi produk didasarkan pada aspek materi, desain dan kebahasaan.
Lembar validasi yang diberikan kepada validator dalam bentuk skala Likert. Kriteria skala Likert yang digunakan adalah sangat baik, baik, kurang baik dan tidak baik. Keempat kriteria tersebut ditunjukkan dengan Tabel 3.2.
Tabel 3. 2 Skala Penskoran
Kriteria jawaban SB B KB TB
Nilai 4 3 2 1
Keterangan:
SB : Sangat Baik
B : Baik
KB : Kurang Baik TB : Tidak Baik
Rata-rata dari skor yang diperoleh dapat dihitung menggunakan Rumus 3.1.
P = Skor yang diperoleh
Skor ideal x 100% (3.1) Hasil perhitungan dapat diinterpretasikan menggunakan kualifikasi yang
ditunjukkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3. 3 Distribusi Lembar Validasi Produk (Riduwan, 2011) Persentase (%) Kriteria
80-100 Valid
60-79,99 Cukup Valid
50- 59,99 Kurang Valid
0- 49,99 Tidak Valid
3. Analisis Hasil Validasi Butir Soal dalam Instrumen Tes (Validitas Isi) Analisis hasil validasi instrumen tes dalam penelitian menggunakan rumus Aiken’s V yang merupakan indikasi validitas-isi tes.
Hal ini dapat menghasilkan informasi terkait penilaian dari validator yang melakukan penilaian kelayakan suatu butir soal. Setelah validator memberikan penilaian pada seluruh butir soal, Aiken’s V dapat membantu melihat hasil perbutir soal tersebut. Menurut Ningsih (2018), rumus Aiken’s V yang digunakan ditunjukkan dalam Rumus 3.2.
V = Εs
n(c−1) (3.2) Keterangan:
s = r – Io
Io = angka penilaian validitas yang terendah c = angka penilaian validitas yang tertinggi r = angka yang diberikan oleh seorang penilai n = jumlah validator
Setelah mendapatkan hasil dari persamaan Aiken’s V, nilai dikonversi ke dalam lima kriteria dengan rentang indeks Aiken V’s dari 0-1, seperti yang disajikan dalam Tabel 3.4.
Tabel 3. 4 Tingkat Pencapaian dan Kualitas Kelayakan Butir Soal (Ningsih, 2018)
Hasil Validitas Kriteria Validitas 0,80 < V ≤ 1,00 Sangat Tinggi 0,60 < V ≤ 0,80 Tinggi 0,40 < V ≤ 0,60 Cukup 0,20 < V ≤ 0,40 Rendah 0,00 < V ≤ 0,20 Sangat Rendah
4. Analisis Hasil Validasi Angket Respon Peserta Didik Terhadap Instrumen Tes
Lembar angket respon peserta didik divalidasi oleh validator dengan kriteria skor penilaian angket respon adalah sangat baik, baik, kurang baik dan tidak baik. Persentase yang digunakan untuk menghitung hasil validasi pada lembar angket respon peserta didik ditunjukkan pada Rumus 3.3.
Persentase skor validasi = skor yang diperoleh
skor ideal × 100% (3.3) Hasil perhitungan persentase skor validasi diubah menjadi data kualitatif menggunakan pedoman seperti pada Tabel 3.5
Tabel 3. 5 Kriteria Hasil Validasi Lembar Angket Respon Peserta Didik (Riduwan, 2011)
Persentase (%) Kriteria
80-100 Valid
60-79,99 Cukup Valid
50-59,99 Kurang Valid
0-49,99 Tidak Valid
5. Analisis Hasil Pengerjaan Tes
a. Analisis Kualitas Butir Soal (Validitas Empiris)
Kualitas butir soal dianalisis menggunakan program Winstep dengan pemodelan Rasch (Racsh Model) yang merupakan pengembangan model analisis oleh Georg Rasch. Kesesuaian butir
(item fit) dengan model Rasch dapat menjelaskan apakah butir instrumen berfungsi normal dalam melakukan pengukuran. Menurut Sumintono & Widhiarso (2015:127), kriteria yang digunakan untuk memeriksa kesesuaian butir instrumen dapat dilihat berdasarkan nilai Outfit Mean Square (MNSQ), Outfit Z-standard (ZSTD), dan Point Measure Correlation (Pt Mean Corr). Kriteria item fit dapat dilihat pada Tabel 3.6.
Tabel 3. 6 Kriteria Kualitas Butir Soal (Sumintono & Widhiarso: 127)
Interval Kriteria
0,5 < MNSQ <1,5 Diterima -2,0 < ZSTD < +2,0 Diterima 0,4 < Pt Measure Corr < 0,85 Diterima
b. Reliabilitas
Reliabilitas berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Nuswowati, 2010). Analisis reliabilitas instrumen tes dilakukan dengan bantuan program Winstep. Menurut Sumintono dan Widhiarso (2015:127), program Winstep dapat memberikan informasi reliabilitas berdasarkan person/testi (indeks sparasi person), reliabilitas berdasarkan item (indeks sparasi item) dan nilai Alpha Cronbach yaitu interaksi antara person dan item. Kriteria penentuan nilai Alpha Cronbach, Item Reliability dan Person Realibility memiliki kategori yang ditunjukkan pada Tabel 3.7.
Tabel 3. 7 Kriteria Alpha Cronbach, Person Reliability dan Item Reliability (Sumintono & Widhiarso, 2015:127)
Rentang Kriteria
> 0,94 Istimewa
0,91 – 0,04 Bagus Sekali
0,81 – 0,90 Bagus
0,67 – 0,80 Cukup
< 0,67 Lemah
c. Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal
Tingkat kesukaran butir soal merupakan proporsi antara siswa yang dapat menjawab benar suatu butir soal dengan jumlah seluruh peserta tes. Tingkat kesukaran butir soal (item measure) memberikan tampilan nilai logit dari setiap butir soal secara terperinci. Hasil output dari tabel ini memberikan informasi butir soal diurutkan dari yang memiliki nilai logit mesure yang tertinggi ke nilai logit yang terendah yang menunjukkan bahwa soal diurutkan dari butir soal yang tersukar sampai pada butir soal termudah. Nilai ini berguna untuk mengidentifikasi kelompok item (separation). Kriteria kesulitan butir soal dengan menggunakan model Rasch yang ditunjukkan pada Tabel 3.8.
Tabel 3. 8 Tingkat Kesukaran Butir Soal
(Sumintono & Widhiarso, 2015: 127) Nilai Measure (logit) Kriteria
0 – 1 Sulit
(-1) – 0 Sedang
< -1 Mudah
d. Daya Beda Butir Soal
Daya beda soal merupakan kemampuan soal untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan rendah. Angka yang digunakan untuk mengukur besarnya daya pembeda yaitu indeks diskriminasi yang berkisar antara 0,0 sampai 1,00. Menurut Arifin (2016), untuk instrumen berupa soal esai, rumus yang digunakan untuk menguji daya beda ditunjukan pada Rumus 3.4.
DP = X̅KA−X̅KB
SM (3.4) Keterangan:
DP = Daya Pembeda
XKA = Rata-rata kelompok atas XKB = Rata-rata kelompok bawah SM = Skor Maksimum
Data hasil daya pembeda setiap butir soal diinterpertasikan menggunakan Tabel 3.9.
Tabel 3. 9 Kriteria Indeks Daya Pembeda Soal (Arikunto, 2012: 232)
Daya Pembeda Kategori Daya Beda 0,71 - 1,00 Baik sekali/excellent 0,41 – 0,70 Baik/good
0,21 - 0,40 Cukup/statisfactory 0,00 - 0,20 Jelek/poor
6. Analisis Hasil Tes
Analisis hasil tes dilakukan dengan memberikan skor pada jawaban peserta didik. Menurut Aprilia (2019), hasil penskoran jawaban peserta didik dapat dihitung menggunakan Rumus 3.5.
Nilai = jumlah skor yang diperoleh
skor maksimum × 100 (3.5) Hasil analisis nilai tes peserta didik, diinterpretasikan menggunakan kriteria penilaian hasil tes pada Tabel 3.10.
Tabel 3. 10 Kriteria Penilaian Hasil Tes (Huda, 2020) Nilai Peserta Didik Tingkat Kemampuan
81 – 100 Sangat Tinggi
61 – 80 Tinggi
41 – 61 Cukup Tinggi
21 – 40 Rendah
< 20 Sangat Rendah
Data hasil pengerjaan instrumen tes dipakai untuk mengetahui efektivitas produk berupa instrumen tes. Hasil yang diperoleh dapat dibandingkan dengan kriteria efektivitas yang ditunjukkan pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11 Kriteria Efektivitas Produk (Sudjiono, 2005:43) Rata-rata Nilai Kriteria Efektivitas
76-100 Sangat Efektif
51-75 Efektif
26-50 Cukup Efektif
0-25 Kurang Efektif
7. Analisis Hasil Angket Respon Peserta Didik
Hasil angket respon peserta didik terhadap instrumen tes diperoleh setelah peserta didik mengerjakan tes tersebut. Tujuan pengisian angket adalah mengetahui respon peserta didik terhadap instrumen tes (Nurliawaty, 2017). Persentase respon peserta didik dapat dihitung menggunakan Rumus 3.6.
% Angket respon = Jumlah skor yang diperoleh
Jumlah skor maksimal × 100% (3.6) Keterangan:
Jumlah skor: jumlah skor kemampuan analisis yang diperoleh seluruh peserta didik
Jumlah skor maksimal: skor tertinggi × jumlah butir
Hasil persen respon peserta didik terhadap instrumen tes diubah menjadi menjadi data kualitatif menggunakan pedoman pada Tabel 3.12.
Tabel 3. 12 Kriteria Hasil Angket Respon Peserta Didik (Widoyoko, 2013)
Rentang Skor (%) Kriteria
86-100 Sangat Baik
76-85 Baik
66-75 Cukup
55-65 Kurang
≤ 54 Sangat Kurang
Data hasil angket respon peserta didik terhadap produk berupa instrumen tes dipakai untuk mengetahui kepraktisan intrumen tes dengan kriteria yang ditunjukkan pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Kriteria Kepraktisan Produk (Akbar, 2015) Skor Persentase (%) Kriteria
86-100 Sangat Praktis
76-85 Praktis
60-75 Cukup Praktis
≤ 59 Sangat Tidak Praktis
38 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan produk berupa instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas. Penelitian pengembangan instrumen tes ini mengacu pada model Wilson, Oriondo dan Antonio yang dimodifikasi. Adapun tahapan pengembangan instrumen tes yaitu tahap perancangan produk dan uji coba produk. Penjelasan data hasil pengembangan produk instrumen tes pada setiap tahap adalah sebagai berikut:
1. Hasil Perancangan Produk
a. Hasil Penetapan Tujuan Pengembangan Produk
Tujuan pengembangan produk adalah menghasilkan instrumen tes yang valid, efektif dan praktis yang disesuaikan dengan model pengembangan instrumen tes menurut Wilson, Oriondo dan Antonio.
Tahapan dalam pengembangan produk ini adalah perancangan produk dan uji coba produk. Produk divalidasi untuk mengetahui kelayakan dalam mengukur kemampuan analisis peserta didik. dinilai berdasarkan kemudahan dalam menggunakan produk tersebut.
Indikator yang dipakai untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik peraksi pembatas adalah membedakan, mengorganisasikan dan mengatribusikan. Peserta didik diharapkan mampu menentukan potongan-potongan informasi yang relevan dan penting (membedakan), menentukan cara-cara menata potongan-potongan informasi tersebut (mengorganisasikan), dan menentukan tujuan di balik informasi tersebut (mengatribusikan). Efektivitas produk dinilai berdasarkan hasil tes peserta didik dan kepraktisannya dinilai berdasarkan respon peserta didik terhadap produk.
b. Hasil Penentuan Kompetensi yang Diujikan
KD dan IPK yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4. 1 KD dan IPK Topik Pereaksi Pembatas
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 3.10. Menerapkan
3.10.1 Menentukan massa atom relatif dan massa molekul relatif
3.10.2 Menentukan hubungan antara mol dengan jumlah partikel, massa molar, dan volume molar gas
3.10.3 Menyetarakan persamaan kimia
3.10.4 Menentukan jumlah mol, massa molar, volume molar gas dan jumlah partikel yang terlibat dalam persamaan kimia
3.10.5 Menentukan pereaksi
pembatas pada sebuah reaksi kimia
KD 3.10 merupakan aspek pengetahuan yang harus dicapai oleh peserta didik. Berdasarkan kompetensi tersebut, peserta didik diharapkan dapat menyelesaikan perhitungan kimia. Ketercapaian kompetensi tersebut dapat diukur dari IPK 3.10.5 yaitu menentukan pereaksi pembatas pada suatu reaksi kimia yang didukung oleh IPK 3.10.1, 3.10.2, 3.10.3, dan 3.10.4.
c. Hasil Penentuan Topik yang Diujikan
Berdasarkan KD 3.10, topik yang diujikan yaitu pereaksi pembatas pada sebuah reaksi kimia. Pereaksi pembatas dapat ditunjukan apabila dua zat direaksikan akan diperoleh dua kemungkinan yaitu kedua pereaksi tepat habis bereaksi dan salah satu pereaksi habis sedangkan pereaksi yang lain bersisa. Pereaksi yang habis akan membatasi hasil
reaksi yang didapat sehingga disebut dengan pereaksi batas atau pereaksi pembatas (Sunarya, 2010).
Pada topik pereaksi pembatas, kemampuan membedakan berarti peserta didik mampu membedakan bagian-bagian yang berisikan informasi seperti zat-zat yang terlibat, zat-zat yang bertindak sebagai reaktan dan produk serta jumlah (volume/massa/suhu) dari zat-zat yang terlibat. Kemampuan mengorganisasikan berarti peserta didik mampu mengubah zat-zat dengan jumlah tertentu ke dalam mol serta mampu menggunakan perbandingan koefisien untuk mencari mol zat lainnya.
Kemampuan mengatribusikan berarti peserta didik mampu menentukan pereaksi pembatas atau pereaksi berlebih dengan menggunakan konsep mula-mula reaksi dan sisa. Selain itu juga peserta didik mampu menentukan maksud dari soal secara jelas.
d. Hasil Penyusunan Kisi-Kisi Tes
Kisi-kisi tes disusun sebagai pedoman dalam penulisan butir soal.
Dengan adanya kisi-kisi tes, butir soal yang dihasilkan akan relatif sama.
Bagian-bagian yang ditulis dalam penyusunan kisi-kisi tes ini adalah KD, IPK, indikator kemampuan analisis, deskripsi soal, nomor soal, jumlah soal dan skor untuk setiap butir soal. Dalam penyusunan kisi-kisi tes, bentuk tes yang dipilih adalah esai karena didasarkan pada tujuan tes, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tes, cakupan materi tes serta karakteristik materi yang diujikan. Penjelasan lebih lanjut mengenai kisi-kisi instrumen tes dapat dilihat pada Lampiran 9.
e. Hasil Penulisan Butir Soal dalam Instrumen Tes
Butir soal dikembangkan berdasarkan pedoman penulisan butir soal yaitu kisi-kisi tes. Bentuk butir soal yang digunakan dalam penelitian ini berupa esai dengan jumlah empat butir soal. Pernyataan pada setiap butir soal mengukur kemampuan analisis peserta didik yang mengacu pada tiga indikator yaitu membedakan, mengorganisasikan, dan
mengatribusikan. Setiap butir soal yang ditulis memiliki kunci jawaban sebagai pedoman dalam penilaian kemampuan analisis peserta didik.
Hasil penulisan butir soal ditunjukan pada Tabel 4.2.
Tabel 4. 2 Hasil Penulisan Butir Soal
Butir Soal Tema Pereaksi Pembatas yang Kontekstual Butir soal nomor 1 Pembuatan pipa PVC
Butir soal nomor 2 Pembentukan senyawa seng sulfida yang dapat digunakan dalam tabung monitor TV
Butir soal nomor 3 Pembakaran senyawa propana yang menjadi pengisi pada tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG)
Butir soal nomor 4 Penguraian glukosa dalam tubuh manusia
f. Hasil Desain Produk Berupa Instrumen Tes
Produk berupa instrumen tes didesain menggunakan aplikasi Canva dan didukung oleh Microsoft Word 2019. Hasil desain produk berupa instrumen tes kemampuan analisis meliputi sampul depan, kata pengantar, daftar isi, KI, KD, IPK, penjelasan singkat kemampuan analisis, petunjuk penggunaan instrumen, butir soal dan lembar kerja peserta didik, kunci jawaban, daftar pustaka, dan sampul belakang.
Gambar 4. 1 Sampul Depan
Produk
Gambar 4. 2 Kata Pengantar Produk
Gambar 4. 3 Daftar Isi Produk
Gambar 4. 4 KI, KD, dan IPK pada Topik
Pereaksi Pembatas
Gambar 4. 5 Penjelasan Singkat Kemampuan Analisis
Gambar 4. 6 Petunjuk Penggunaan Produk
Gambar 4. 7 Butir Soal 1 dan
Lembar Kerja Peserta Didik
Gambar 4. 8 Butir Soal 2 dan Lembar Kerja Peserta Didik
Gambar 4. 9 Butir Soal 3 dan Lembar Kerja Peserta Didik
Gambar 4. 10 Butir Soal 4 dan Lembar Kerja Peserta Didik
g. Hasil Penyusunan Pedoman Penskoran
Pedoman penskoran disusun untuk menentukan skor hasil jawaban peserta didik. Skor pada tiap butir soal diberikan untuk setiap indikator kemampuan analisis. Hasil penyusunan pedoman penskoran Gambar 4. 11 Kunci Jawaban
Butir Soal 1 dan 2
Gambar 4. 12 Kunci Jawaban Butir Soal 3 dan 4
Gambar 4. 13 Daftar Pustaka Produk
Gambar 4. 14 Sampul Belakang Produk
dapat dilihat pada Lampiran 11. Setiap indikator memiliki skor paling tinggi 3 dan paling rendah adalah 0. Pada indikator membedakan, skor 3 dapat diperoleh peserta didik apabila mampu menguraikan permasalahan dengan menuliskan apa yang diketahui dan ditanya. Skor 3 pada indikator mengorganisasikan dapat diperoleh peserta didik apabila mampu mengidentifikasi permasalahan yang diketahui dan menghubungkan pada teori yang dipelajari. Pada indikator mengatribusikan, skor 3 dapat diperoleh peserta didik apabila mampu menyelesaikan masalah dan memberikan kesimpulan.
Skor 2 pada indikator membedakan dapat diperoleh apabila peserta didik hanya menuliskan apa yang diketahui atau apa yang akan diselesaikan saja dalam menguraikan masalah. Skor 2 pada indikator mengorganisasikan dapat diperoleh peserta didik apabila mampu mengidentifikasi permasalahan yang diketahui tetapi tidak menghubungkan pada teori yang dipelajari. Pada indikator mengatribuskan, peserta didik dapat memperoleh skor 2 apabila hanya mampu menyelesaikan masalah.
Skor 1 dapat diperoleh peserta didik apabila tidak tepat dalam menguraikan masalah pada indikator membedakan. Skor 1 juga dapat diperoleh peserta didik apabila tidak tepat dalam mengidentifikasi permasalahan serta pada indikator mengatribusikan peserta tidak tepat dalam menyelesaikan masalah. Skor 0 dapat diperoleh peserta didik apabila tidak menjawab pada ketiga indikator tersebut.
h. Hasil Validasi Produk dan Instrumen Pendukung Penelitian
Validasi produk dan insturmen pendukung penelitian dilakukan oleh validator yang terdiri atas dua orang dosen dan satu orang guru kimia. Validasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan serta mengevaluasi produk dan instrumen yang mendukung penelitian. Hasil validasi produk dan instrumen pendukung penelitian dijabarkan sebagai berikut:
1) Hasil Validasi Produk
Validitas produk berupa instrumen tes dikembangkan berdasarakan aspek isi, desain dan bahasa. Hasil validasi yang telah diperoleh disajikan pada Tabel 4.3. Hasil analisis lengkap validasi dari validator dapat dilihat pada Lampiran 17.
Tabel 4. 3 Rangkuman Hasil Validasi Produk berupa Instrumen Tes
No Aspek Penilaian Rata-Rata
Persentase (%) Kriteria
1 Isi 94,33 Valid
2 Desain 91,66 Valid
3 Bahasa 79,16 Cukup Valid
Rata-rata Persentase: 87,38%
Kategori Keseluruhan: Valid
Berdasarkan Tabel 4.3, produk berupa instrumen tes termasuk dalam kategori valid pada aspek isi dan desain. Rata-rata persentase yang diperoleh sebesar 94% pada aspek isi dan 91,66% pada aspek desain.
Aspek bahasa dikategorikan cukup valid dengan rata-rata persentase sebesar 79,16%. Persentase keseluruhan validasi produk diperoleh dengan nilai sebesar 87,38% dan termasuk dalam kategori valid.
Berdasarkan hasil validasi dari validator, produk berupa intrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas layak digunakan dengan revisi.
2) Hasil Validasi Butir Soal dalam Instrumen Tes
Validasi butir soal yang dikembangkan ditinjau dari tiga aspek yang berbeda yaitu materi, konstruksi dan bahasa. Proses validasi ini dilakukan oleh validator berdasarkan butir soal yang telah dikembangkan pada lembar kisi-kisi tes serta mengisi kolom penilaian pada lembar validasi dari ketiga aspek tersebut. Hasil validasi dihitung menggunakan Aiken’s V yang disajikan pada Tabel 4.4. Hasil analisis lengkap validasi dari validator dapat dilihat pada Lampiran 18.
Tabel 4. 4 Rangkuman Hasil Validasi Butir Soal validitas tinggi pada aspek materi, konstruksi dan bahasa. Koefisien validitas yang diperoleh dari aspek materi adalah 0,77, aspek konstruksi adalah 0,72 dan aspek bahasa adalah 0,73. Rata-rata keseluruhan butir soal satu adalah 0,74 dan termasuk dalam kategori validitas tinggi.
Butir soal 2, memiliki rata-rata secara keseluruhan sebesar 0,77 dengan kategori tinggi. Koefisien validitas yang diperoleh pada asepek materi adalah 0,84 dengan kategori sangat tinggi dan aspek konstruksi adalah 0,73 dengan kategori tinggi. Koefisien validitas pada aspek bahasa adalah 0,73 tergolong dalam kategori tinggi.
Butir soal 3 memiliki nilai koefisien validitas pada aspek materi adalah 0,84 dengan kategori sangat tinggi. Nilai koefisien yang diperoleh dari aspek konstruksi yaitu 0,8 dan pada aspek bahasa diperoleh sebesar 0,7. Dari nilai koefosien validitas tersebut, aspek materi dan bahasa tergolong pada validitas dengan kategori tinggi.
Secara keseluruhan, rata-rata koefisien validitas pada butir soal 3 adalah 0,78 dengan kategori tinggi.
Butir soal 4 memiliki nilai koefisien validitas pada aspek materi adalah 0,87 dengan kategori sangat tinggi. Nilai koefisien yang diperoleh dari aspek konstruksi yaitu 0,8 dan pada aspek bahasa diperoleh sebesar 0,7. Berdasarkan nilai koefisien validitas tersebut, aspek materi dan bahasa tergolong pada validitas dengan kategori tinggi. Secara keseluruhan, rata-rata koefisien validitas pada butir soal 4 adalah 0,79 dengan kategori tinggi. Berdasarkan data hasil perhitungan nilai koefisien validitas, butir soal untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas layak digunakan dengan revisi.
3) Hasil Validasi Lembar Angket Respon Peserta Didik
Validasi lembar angket respon peserta didik dinilai berdasarkan 3 aspek yang berbeda yaitu aspek isi dan tujuan, konstruksi dan bahasa. Hasil validasi yang telah dihitung, disajikan pada Tabel 4.5. Hasil analisis lengkap validasi dari validator dapat dilihat pada Lampiran 19.
Tabel 4. 5 Rangkuman Hasil Validasi untuk Lembar Angket Respon Peserta Didik
No Aspek Penilaian Rata-Rata
Persentase (%) Kriteria
1 Isi dan Tujuan 91,66 Valid
2 Konstruksi 94,4 Valid
3 Bahasa 91,66 Valid
Rata-rata Persentase: 92,57%
Kategori Keseluruhan: Valid
Berdasarkan Tabel 4.5, ketiga aspek penilaian lembar angket respon peserta didik dikategorikan valid. Aspek isi dan tujuan serta bahasa memiliki kesamaan nilai rata-rata persentase yaitu sebesar 91,66% sedangkan aspek bahasa memperoleh nilai sebesar 94,4%.
Secara keseluruhan persentase yang diperoleh untuk lembar angket
respon peserta didik adalah 92,57% dan dikategorikan valid. Hasil validasi di atas menunjukkan bahwa lembar angket respon peserta didik layak untuk digunakan tanpa revisi.
i. Perbaikan Produk dan Butir Soal
Produk berupa instrumen tes dan instrumen pendukung penelitian yang telah divalidasi diperbaiki sesuai dengan saran dari validator.
Instrumen yang mendukung penelitian ini adalah lembar butir soal.
Perbaikan produk dan instrumen pendukung penelitian ini berdasarkan aspek-aspek penilaian yang terdapat pada setiap lembar instrumen tersebut.
Saran perbaikan terhadap produk dari Validator 1 yaitu salah satu gambar pada sampul depan yang kurang representatif, ukuran gambar yang besar serta tidak sinkronnya jenis huruf yang digunakan pada sampul depan dan belakang produk.
Gambar 4. 15 Sampul Depan Sebelum Revisi
Gambar 4. 16 Sampul Depan Sesudah Revisi
Berdasarkan saran yang diberikan oleh Validator 1 dan 2, perlu adanya alokasi waktu pengerjaan dalam produk. Alokasi waktu dalam pengerjaan tes tersebut ditulis pada peraturan penggunaan instrumen untuk peserta didik.
Saran perbaikan yang diberikan oleh Validator 1 dan 2 berupa perubahan fasa reaksi pada setiap butir soal serta penulisan satuan massa yaitu gr menjadi gram. Pada butir soal 1 dalam produk dilakukan
Gambar 4. 17 Sampul Belakang Sebelum Revisi
Gambar 4. 18 Sampul Belakang Sesudah Revisi
Gambar 4. 19 Petunjuk Penggunaan Instrumen Sebelum Revisi
Gambar 4. 20 Petunjuk Penggunaan Instrumen Sesudah Revisi
perbaikan terhadap fasa asetilena/etuna dari fasa solid menjadi gas.
Perbaikan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.22.
Gambar 4. 1 Butir Soal 1 Sebelum Direvisi
Gambar 4. 2 Butir Soal 1 Setelah Direvisi
Pada butir soal 2 dalam produk juga terdapat perbaikan yaitu penggunaan kata ”tube” menjadi “tabung”.
Gambar 4. 3 Butir Soal 2 Sebelum Direvisi
Gambar 4. 4 Butir Soal 2 Setelah Direvisi
Butir soal 3 dalam produk juga mendapatkan perbaikan berupa kesalahan penulisan kata “pada” dalam pernyataan soal.
Gambar 4. 5 Butir Soal 3 Sebelum Direvisi
Gambar 4. 6Butir Soal 3 Sesudah Direvisi
Butir soal 4 dalam produk juga dilakukan perbaikan berupa kesalahan penulisan dan struktur kalimat yaitu kesalahan penulisan kata
“diuraikan” serta penghapusan kata “didalamnya”. Selain itu juga dilakukan perbaikan dalam penulisan satuan derajat serta informasi nilai R (tetapan gas ideal) dalam butir soal tersebut. Hasil perbaikan pada butir
“diuraikan” serta penghapusan kata “didalamnya”. Selain itu juga dilakukan perbaikan dalam penulisan satuan derajat serta informasi nilai R (tetapan gas ideal) dalam butir soal tersebut. Hasil perbaikan pada butir