• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI NASIONAL

Dalam dokumen 106689940 Ilmu Sosial Dasar docx (Halaman 178-183)

JumlahMigrai dalam 1 tahun X 1000 Jumlah penduduk

PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

5. INTEGRASI NASIONAL

Integrasi Nasional adalah merupakan masalah yang dialami oleh semua negara atau nation yang ada di dunia, yang berbeda ad4lah bentuk permasalahan yang dihadapinya. Beberapa negara yang herdiri setelah Perang Dunia II ternyata banyak yang tidak mampu mengintegrasikan berbagai golongan dalam masyarakatnya. Perang Saudara yang terjadi di Nigeria terjadi karena Nigeria tidak berhasil mengintegrasikan suku-suku bangsa Hausa, Fulani, Ibo dan Yoruba, sehingga lahirlah negara baru yang menamakan din Republik Baifara. Ketidakmampuan India

mempersatukan seluruh wilayahnya, melahirkan Negara Pakistan. Ketika wilayah timur memberontak, Pakistan tidak mampu mempersatukan kedua wilayah itu Sehingga pada tahun 1971 lahirlah Bangladesh. Amerika Serikat, Canada dan Australia menghadapi masalah integrasi bangsabangsa imigran. Demikianlah bentuk-bentuk

permasalahan yang disebabkan oleh masalah integrasi mi.

Menghadapi masalah integrasi mi sebenarnya tidak memiliki kunci yang pasti karena masalah yang dihadapi berbeda dan latar belakang sosio kultural nation state yang berbeda pula. Sehingga masalah integrasi mi cenderung

diselesaikan sesuai dengan kondisi negara yang bersangkutan. Ada yang menempuh jalan kekerasan dan ada yang menempuh strategi politik yang lebih lunak.

1) Beberapa Permasalahan In tegraci Nasional

Permasalahan utama yang dihadapi dalam integrasi nasional mi adalah adanya cara pandang yang berbeda tentang pola laku duniawi dan cara untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain masalah integrasi nasional mi pada prinsipnya bersumber pada perbedaan ideologi. Perbedaan ideologi mi disebabkan karena perbedaan falsafah hidup yang banyak berpengaruh dalam proses sosialisasinya, maupun dalam pembentukan konsepsi nalarnya. Termasuk faktor dominan dalam pembentukan suasana kesenjangan ideologi mi adalah masalah agama. Karena agama dipandang sebagai nilai hakiki sehingga kontrol sosial masyarakat agama cenderung lebih peka dan sering tajam.

Permasalahan yang kedua, permasalahan yang ditimbulkan oleh kondisi masyarakat majemuk, yang terdiri dan berbagai kelompok atnis baik di antara penduduk pribumi maupun keturunan asing. Menurut Harsya Bachtiar,1 ke1ompok etnis atau suku-suku bangsa yang ada di daerah merupakan nation- nation pribumi yang telah terbentuk lama sebelum nation Indonesia diprokiamasikan. Mereka memiliki ciri-ciri sendiri yang merupakan ciri-ciri suatu nation. Memiliki kebudayaansendiri, bahasa sendiri, daerah teritorial sendiri dan perasaan solidaritas antara anggotaanggota warga masyarakat yang bersangkutan.

Perasaan solidaritas yang tinggi menyebabkan nation- nation lama tidak bisa hilang walaupun telah tergabung dalam nation Indonesia yang baru. Hal mi yang menyebabkan bahwa masalah integrasi berbagai kelompok etnis merupakan masalah pokok bagi integrasi nasional Indonesii. Selain masalah etnis pribumi Indonesia juga menghadapi masalah integrasi warga negara keturuflan asing. Karena mereka yang tergolong keturunan asing mi secara genitas masih memiiki hubungan dengan negara asalnya, maka mereka berusaha mengembangkan kebudayaan negara asalnya di Indonesia. mi merupakan masalah baru bagi negara Indonesia. Dan segi kemungkinafl memberontak untuk memperjuangkafl satu wilayah sendini, keturunan asing maupun peranakan membuat jarak yang tegas dengan kelompok pribumi. mi juga masalah yang cukup rumit bagi kelancaran integrasi nasional secara utuh.

Petmasalahan ketiga, adalah masalah teritonial daerah yang seringkali berjarak cukup jauh. Lebih-lebih Indonesia yang berbentuk negara kepulauan dan merupakan arus lalu lintas dua benua dan dua samudera. Kondisi mi akan lebih mempererat rasa solidaritas kelompok etnis tertentu.

Masalah keempat, ditinjau dan kehidupan dan pertumbuhan Partai Politik. Permasalahan politik di Indonesia berpengaruh pula dalam mencapai integrasi nasional. Charles Lewis Tylor dan Michael C. Hudson mencatat beberapa indikator pertentangan politik di Indonesia yaitu, terjadinya demonstrasi, kerusuhan, serangan bersenjata, meningkatnya angka kematlan akibat kekerasan politik, pemindahan kekuasaan eksekutif yang bersifat ireguler.’ Di samping itu adanya partai-partai politik yang tenikat oleh kepentingankepefltingan primordial yang secara tidak langsung terikat oleh kepentingan daerah dankelompok elite dan kelompok etnis tertentu. Hal mi sesuai dengan yang ditulis Prof. R. William Liddle dalam bukunya “Ethnicity, Party, and national Integration : An Indonesia Case Study,”2 bahwa integrasi nasional Indonesia mempunyai dua dimensi yaitu dimensi horisontal dan ditnensi vertikal. Dimensi horisontal dimaksudkan untuk menunjuk perbedaan suku, agama, aliran dan lain-lain, sedangkan dimensi vertikal dimaksudkan untuk menunjuk kesenjangan kelompok elite nasional dengan massa. Yang terakhir mi mengakibatkan partisipasi politik massa yang sangat kecil.

2) Upaya Pendekatan

Di samping perbedaan golongan itu sendiri mempunyai p0- tensi untuk menuju ke arah integrasi dengan sistem silangmenyilang (Cross cutting Affilation) yang akan melahirkan pelapisan sosial yang saling silang-menyilang, atau paling tidak akan membuat konflik sosial tidak menjadi terlalu tajam,3 maka diusahakan pula langkah-langkah yang lebih sistematis dan operasional. Demikianlah dengan sistem silang-menyilang mi konflik antara suku-suku bangsa

daerah akan dapat diredakan dengan adanya perternuan di bidang agama. Upayaupaya yang dilaksanakan untuk memperkecil dan kalau mungkin menghilangkan kesenjangan-kesenjangan itu antara lain

Pertama : Untuk mempertebal keyakinan seluruh warga negara yang terdiri dan berbagai golongan itu terhadap ideologi nasional, maka pemerintah berusaha untuk mewujudkan idealisme atau citacita nasional yang diamanatkan oleh seluruh bangsa kepada ideologi melalui pembangunan di berbagai sektor, dengan titik tekan pada pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan. Termasuk pembangunan politik dan kebudayaan.

Kedua : Berusaha membuka isolasi antar berbagai kelompok etnis dan antar daerah/pulau dengan pembangunan sarana komunikasi, informasi dan transportasi.

Ketiga Menggali kebudayaan daerah untuk dijadikan kebudayaan nasional dan membina penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Keempat Membentuk janingan asimilasi bagi berbagat kelompok etnis baik pribumi maupun keturunan asing. Untuk langkah mi dapat dicontuhkan dengan transmigrasi, pertukaran/mutasi karyawan dan satu daerah lain, adanya BAKOM PKB dan lain-lain, di samping asimilasi budaya.

Kelima Melalui jalur-jalur formal seperti pendidikan perundang-undangan yang berlaku bagi seluruh warga negara dan pendekatan formal lainnya.

3) Integrasi Nasional dalam Perspektif

Seperti yang diasumsikan oleh Harsya W. Bachtiar bahwa masalah integrasi nasional akan tetap merupakan masalah, tan- pa memandang apakah itu negara baru ataupun negara yang sudah lama, karena pada setiap soal konflik dapat saja terjadi. Di samping itu berpedoman pada teori Walter T. Martin yang telah dikemukakan terdahulu bahwa perbedaan golongan mempunyai dua kemungkinan yang sama besar untuk menjadi konflik (disintegrasi) atau integrasi, maka kemungkinan integrasi iasional menjadi masalah, sama besar dengan tercapainya integrasi.

Namun demikian integrasi nasional sebagai suatu cita-cita nasional maupun cita-cita negara akan dapat terwujud atau paling tidak menekan kemungkinan permasalahan yang timbul dengan berbagai usaha yang mendukung potensi masyarakat untuk berintegrasi sendiri secara alamiah dengan sistem Cross cuttiig affiliation. Di samping dukungan usaha-usaha seperti yang telab dikemukakan di atas, maka masih ada penunjangyang cukup berpengaruh terhadap usaha-usaha lain yaitu memperkuat kedudukan ideologi nasional.

RANGKUMAN

Prasangka adalah sikap negatif atau juga dapat bersifat p0- sitif terhadap sesuatu. Prasangka dibedakan dengan diskriminasi, Prasangka bersumber dan suatu sikap. Diskriminasi menunjuk pada suatu tindakan.

Prasangka dan diskriminasi tidak muncul dan segolongan orang-orang kampungan berpendidikan rendah, tetapi juga di kalangan orang-orangintelek seperti para pemimpin dan negarawan berkaliber nasional maupun internasional, Opini urnurn berpendapat bahwa lahimya peluru-peluru kendali ICBM (peluru-peluru kendali antar benua) yang dibuat oleh negara-negara adikuasa (superpower) adalah sebagai akibat adanya akumulasi dan prasangka yang berlebihan di antara negara-negara Adikuasa.

Sebab-sebab timbulnya prasangka: berlatar belakang sejarah

dilatar-belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional. bersumber dan faktor kepribadian, dan

berlatar belakang dan perbedaan keyakinan, kepercayaan agama.

Daya upaya untuk mengurangi!menghilangkan prasangkadan diskriminasi: perbaikan kondisi sosial ekonomi

perluasan kesempatan belajar, dan adanya sikap terbuka dan sikap lapang.

Bahwa pertentangan sosial dapat terjadi di masyarakat sebagai akibat dan adanya interaksi sosial. Masalah itu akan lebih menonjol lagi di masyarakat yang bersifat majemuk seperti Indonesia i. Setiap orang atau kelompok dalam menghadapi masalah soalal selalu melihat dan sistem nilai yang benlaku pada kelompoknya. Oleh karena masyarakatIndonesia merupakan masyarakat majemuk, terdini dan bermacam-maCam kebudayaan, seperti kebudayaan Jawa, Kebudayaan Batak, kebudayaan Aceh, kebudayaan Dayak, kebudayaan Bali, Ambon dan sebagainya, sedangkan sistem nilai merupakan bagian dan kebudayaan, maka betapa kompleknya masalah-masalah sosial dan atau pertentangan pertefltaflgafl yang timbul di Indonesia.

Kesadaran akan pengertian adanya perbedaan kebudayaan sistem nilai, perbedaan sistem agama yang ada di Indonesia adalah penting bagi bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda persatuan Indonesia diikat oleh

adanya pemerintahan kolonial yang memerintah seluruh Indonesia. Setelah Indonesia merdeka kekuatan formal yang menyatukan Indonesia adalah pemerintahan nasional, UUD 1945 dan ideologi Pancasila. Satu ikatan lagi dipenlukan yaitu kebudayaan nasional sehingga nation Indonesia yang lahir pada tahun 1945 itu dapat mempunyai akar yang kuat.

Oleh karena itu integrasi merupakan alternatif yang baik untuk modal tumbuhnya kebudayaan nasional.

Kemajemukan tetap diberikan peluang untuk hidup di In donesia. Tetapi dalam mengadakan interaksi sosial antara suku perlu dicarikan dasar yang disetujui bersama. Hal-hal baru yang disetujui atau dapat disetujui bersama itulah yang akan menjadi modal dan kebudayaan nasional. Unsur-unsur daerah yang dapat disetujui atau diterima oleh suku bangsa lain atau menjadi hagian dani kebudayaan nasional.

Integrasi sosial bermakna terwujudnya solidanitas sosial, rasa kebersamaan antar hubungan masyanakat secara harmonis dalam kerjasama kelompok yang mempunyai sifat, sikap dan watak yang berbeda. Sedangkan integrasi nasional bermakna: solidanitas sosial dan kerjasama antar kelompok sosial yang harmonis tersebut, dianahkan demi keharmonisan demi persatuan dan kesatuan nasional.

Secara umum terdapat tiga masalah besar yang harus dikaji secara serius untuk mencapai perwujudan integrasi social integrasi nasional, yaitu:

pembauran hana;

kerukunan antar umat beragama; dan aliran kepercayaan; perubahan nilai-nilai.

BAR IX

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN

Dalam dokumen 106689940 Ilmu Sosial Dasar docx (Halaman 178-183)