Provinsi-provinsi yang capaian pembangunan manusia dan keset araan gendernya belum t erlalu baik mencapai 18 (sekit ar 55 persen), yait u Aceh, Lampung, Jawa Barat , Jawa Timur, Bant en, NTB, NTT, Kalimant an Barat , Kalimant an Selat an, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selat an, Sulawesi Tenggara, Goront alo, Sulawesi Barat , Maluku, Maluku Ut ara, Papua, dan Papua Barat .
Dibandingkan dengan provinsi lainnya, diperlukan usaha yang lebih keras bagi semua provinsi di kelompok ini unt uk mengej ar ket ert inggalannya dengan provinsi lain.
Dari Gambar 5.3 dapat dilihat bahwa t idak ada sat u pun provinsi yang masuk dalam Kuadran IV (IPM rendah dan IPG t inggi). Hal ini menunj ukkan bahwa pada t ahun 2011 provinsi-provinsi yang memiliki IPG lebih rendah dibandingkan dengan IPG nasional, bukan semat a-mat a disebabkan oleh buruknya kondisi disparit as gender di provinsi yang bersangkut an, melainkan oleh karena pencapaian pembangunan manusia di provinsi yang bersangkut an memang masih relat if rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya.
Pengelompokan provinsi sesuai dengan nilai IPM dan IPG sepert i yang t elah diuraikan memperlihat kan bahwa secara umum asosiasi ant ar IPM dan IPG adalah searah. Maksudnya, provinsi yang memiliki nilai IPM t inggi akan cenderung memiliki nilai IPG yang t inggi pula, begit u j uga sebaliknya. Hal yang sama t ernyat a berlaku j uga unt uk hubungan ant ara IPM dan IPG pada t ingkat kabupat en/ kot a sepert i yand disaj ikan pada Gambar 5.4.
Kesetaraan Gender Antar Propinsi 2010-2011
Sepert i yang t elah diuraikan sebelumnya, selisih ant ara IPM dan IPG di suat u wilayah t ert ent u pada dasarnya memperlihat kan t ingkat disparit as at au keset araan gender dalam capaian pembangunan manusia di wilayah t ersebut . Maksudnya, j ika selisih ant ara IPM dan IPG unt uk suat u wilayah semakin besar maka keset araan gender dalam pembangunan manusia di wilayah t ersebut semakin buruk, sebaliknya j ika selisihnya semakin kecil maka keset araan gendernya akan semakin baik.
Perbandingan keset araan gender dalam pembangunan manusia ant ar provinsi unt uk t ahun 2010 dan 2011 adalah sepert i yang disaj ikan pada Tabel 5.1. Hal menarik yang pat ut dicat at adalah bahwa keset araan gender di suat u provinsi t idak hanya dit ent ukan oleh t inggi rendahnya IPM yang dicapai, melainkan dipengaruhi sekaligus oleh nilai IPM dan IPG dari provinsi t ersebut . Provinsi-provinsi yang memiliki IPM dan IPG t inggi (berada pada Kuadran I dalam pembahasan sebelumnya) at au IPM dan IPG rendah (Kuadran III) akan cenderung memiliki keset araan gender yang baik. Sement ara provinsi-provinsi dengan IPM t inggi dan IPG rendah at au dengan IPM rendah dan IPG t inggi disparit as gendernya akan cenderung t inggi.
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa Provinsi NTT, Papua dan Maluku t ergolong sebagai provinsi yang dalam melakukan pembangunan manusia memiliki keset araan gender yang baik, karena selisih IPM dan IPG unt uk ket iga provinsi ini relat if sangat rendah dibandingkan dengan provinsi lain. Di sisi lain, IPM unt u ket iga provinsi ini j ust ru relat if rendah dibandingkan dengan provonsi lainnya. Art inya, walaupun keset araan gender dalam pembangunan manusia di ket iga provinsi t ersebut t ermasuk yang t erbaik dibandingkan dengan provinsi lain, akan t et api capaian pembangunan manusia secara umum j ust ru t ermasuk yang rendah.
Sebaliknya, capaian IPM yang t inggi t ernyat a j uga t idak selalu sej alan dengan t ingginya t ingkat keset araan gender. Kalimant an Timur, misalnya, walaupun nilai IPM-nya t ergolong t inggi (urut an ke-5 t ert inggi dibandingkan dengan provinsi lain) t ernya memiliki t ingkat keset araan gender yang paling buruk.
Gambaran t ent ang keset araan gender sepert i yang t elah diuraikan menunj ukkan bahwa kemaj uan pembangunan manusia di berbagai provinsi di Indonesia masih belum selalu sej alan
Tabel
5.1 Selisih IPM dan IPG menurut Provinsi Tahun 2010-2011
Provinsi 2010 2011 Perubahan SUMATERA BARAT 5, 28 4, 73 -0, 56 KEP. RIAU 11, 59 11, 09 -0, 50 MALUKU UTARA 4, 62 4, 13 -0, 49 JAWA BARAT 9, 90 9, 48 -0, 43 SUMATERA SELATAN 6, 95 6, 58 -0, 38 SULAWESI TENGGARA 6, 12 5, 76 -0, 36 PAPUA 2, 95 2, 66 -0, 29 DKI JAKARTA 4, 25 3, 97 -0, 28 SUMATERA UTARA 4, 56 4, 31 -0, 25 SULAWESI SELATAN 9, 62 9, 39 -0, 23 NTT 2, 64 2, 42 -0, 23 JAWA TENGAH 6, 69 6, 49 -0, 20 SULAWESI UTARA 8, 12 7, 93 -0, 19 BENGKULU 5, 13 4, 95 -0, 18 GORONTALO 13, 30 13, 15 -0, 15 SULAWESI TENGAH 8, 72 8, 59 -0, 13 MALUKU 4, 19 4, 11 -0, 08 SULAWESI BARAT 4, 33 4, 25 -0, 08 JAMBI 9, 42 9, 35 -0, 08 KALIMANTAN BARAT 4, 94 4, 88 -0, 07 KALIMANTAN TENGAH 5, 32 5, 27 -0, 05 KALIMANTAN TIMUR 15, 20 15, 15 -0, 04 ACEH 6, 40 6, 37 -0, 03 D I YOGYAKARTA 3, 26 3, 25 -0, 01 BANTEN 7, 60 7, 59 -0, 01 RIAU 10, 36 10, 36 0, 00 KALIMANTAN SELATAN 4, 85 4, 85 0, 00 LAMPUNG 8, 42 8, 43 0, 01 JAWA TIMUR 6, 51 6, 56 0, 06
KEP. BANGKA BELITUNG 12, 50 12, 58 0, 08
BALI 4, 47 4, 60 0, 13
PAPUA BARAT 10, 28 10, 41 0, 13
NTB 9, 17 9, 53 0, 36
dengan peningkat an keset araan gender. Namun demikian, upaya perbaikan keset araan gender pada umumnya t elah memberikan hasil yang posit if di sebagian besar provinsi. Terdapat 25 provinsi yang mengalami penurunan selisih ant ara IPM dan IPG-nya (lihat Tabel 5.1), yang menunj ukkan bahwa keset aran gender di semua provinsi ini mengalami peningkat an. Sement ara hanya 8 provinsi (Riau, Kalimant an Selat an, Lampung, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belit ung, Bali, Paua Barat dan NTB) yang nilai selisihnya j ust ru meningkat at au t et ap.
5.2. Hubungan IPM dan IDG
Selain IPM dan IPG, indeks lain yang sering digunakan unt uk melihat capaian pembangunan dalam kont eks gender adalah Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Berbeda dengan IPG yang pada dasarnya hanya merupakan IPM set elah dikoreksi dengan keset araan gender unt uk set iap komponennya, IDG merupakan angka indeks komposit yang secara khusus dimaksudkan unt uk mengukur pemberdayaan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan. Terdapat t iga komponen yang digunakan dalam penghit ungan IDG, yait u kesamaan peranan ant ara laki-laki dan perempuan dalam proses pengambilan keput usan polit ik (sebagai anggot a parlemen) di suat u wilayah, kesamaan kont ribusi secara
ekonomi (pendapat an), dan kesamaan peranan dalam kehidupan sosial (peran sebagai manaj er, t enaga profesional, administ rasi dan t eknisi).
Secara umum, t ingkat pencapaian pembangunan manusia di Indonesia t ernyat a memiliki ket erkait an secara posit if dengan t ingkat pencapaian pemberdayaan gender (lihat Gambar 5.5). Provinsi dengan IPM yang lebih t inggi pada umumnya akan diikut i dengan IDG yang lebih t inggi pula.
Dengan menggunakan IDG nasional sebesar 69,14 dan IPM nasional sebesar 72,77 sebagai t olok ukur, maka keseluruhan provinsi di Indonesia dapat dikat egorikan sebagai berikut :