Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang, dan
Salam sejahtera bagi kita semua,
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat Paripurna DPR RI, Yang terhormat Saudara Menteri Agama,
Yang terhormat Saudara Menteri Perindustrian, Yang terhormat Saudara Menteri Perdagangan, Yang terhormat Saudara Menteri Pertanian, Yang terhormat Saudara Menteri Kesehatan,
Yang terhormat Saudara Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,
Yang terhormat Saudara Menteri Hukum dan HAM, Yang terhormat rekan-rekan Anggota DPR RI, Rekan-rekan media, dan
Hadirin yang kami hormati,
Mengawali laporan Komisi VIII DPR RI mengenai hasil Pembicaraan Tingkat I tentang RUU tentang Jaminan Produk Halal marilah kita mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa bahwa pada pagi dan siang hari ini kita dapat hadir dalam majelis yang terhormat dalam rangka menjalankan tugas konstitusional kita yakni Pembicaraan Tingkat II dalam Rapat Paripurna DPR RI dalam rangka pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Jaminan Produk Halal.
Sidang Dewan yang terhormat,
Berdasarkan surat Presiden Republik Indonesia kepada Ketua DPR RI Nomor R09/Pres/01/2012 tertanggal 10 Januari 2012 dan Nomor R53/Pres/05/2012 tertanggal 21 Mei 2012 perihal Penunjukan Wakil Pemerintah untuk Membahas RUU tentang Jaminan Produk Halal, maka menindaklanjuti surat Presiden RI tersebut selanjutnya dilakukan Raker bersama pemerintah dan kemudian masing-masing membentuk panitia kerja.
Pembahasan RUU ini sangat lama sampai Komisi VIII DPR RI mengusulkan penambahan waktu hingga lima kali masa sidang. Didasari atas sikap kehati-hatian dalam mengambil keputusan terhadap beberapa substansi di dalam RUU ini yang memerlukan pendalaman serta penyamaan persepsi antara pemerintah dan DPR RI. Namun akhirnya perbedaan persepsi tersebut dapat selesai sebagaimana disampaikan di dalam laporan hasil pembahasan RUU tersebut pada saat Raker Komisi VIII DPR RI dengan pemerintah pada tanggal 19 September 2014.
Hadirin yang kami hormati,
Terkait dengan pembahasan RUU tentang Jaminan Produk Halal perlu kami sampaikan, pertama RUU tentang Jaminan Produk Halal merupakan implementasi Pasal
28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menetapkan kewajiban konstitusional negara untuk melindungi hak warga negaranya dalam melaksanakan keyakinan dan ajaran agama tanpa ada hambatan dan gangguan yang dapat mengganggu tumbuhnya kehidupan beragama di Indonesia.
RUU ini juga memberikan adanya kepastian hukum dan jaminan halal bagi konsumen khususnya masyarakat islam sebagai konsumen terbesar. Perlu adanya tindakan preventif terhadap setiap produk dengan keterangan halal yang kemudian diperiksa ternyata tidak halal sebagai landasan pengawasan terhadap produksi dan peredaran produk di pasar domestik yang semakin sulit dikontrol akibat meningkatnya teknologi pangan, rekayasa genetika, bio teknologi dan proses kimia biologis, serta memberikan landasan hukum tentang sistem informasi produk halal sebagai pedoman pelaku usaha dan masyarakat.
RUU tentang Jaminan Produk Halal ini juga sejalan dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang ada yang mengatur atau berkaitan dengan produk halal diantaranya Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang saat ini telah direvisi dan juga Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dasar pertimbangan lainnya adalah di era perdagangan internasional aspek kehalalan terkait dengan aspek pemasaran. Aspek pemasaran antar negara telah pula menjadi faktor penentu di dalam perdagangan, di samping untuk meningkatkan daya saing produk. Oleh karena itu, dalam sistem perdagangan internasional masalah sertifikasi dan penandaan kehalalan produk menjadi perhatian baik dalam rangka memberikan perlindungan terhadap konsumen dalam hal ini umat islam sekaligus sebagai strategi menghadapi tantangan globalisasi dengan berlakunya sistem pasar bebas baik di tingat regional maupun internasional.
Hadirin yang kami hormati,
Kedua, terkait dengan sasaran yang ingin diwujudkan serta diatur dalam RUU adalah:
a. Memberikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan kepada masyarakat dalam mengkonsumsi atau menggunakan produk halal;
b. Menciptakan sistem jaminan produk halal untuk menjamin tersedianya produk halal; c. Menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya jaminan produk halal;
d. Meningkatkan kemampuan pelaku usaha untuk menjamin kehalalan produknya; dan e. Meningkatkan keterbukaan serta akses untuk mendapatkan informasi terhadap
produk halal.
Ketiga, tentang beberapa pokok pengaturan yang menjadi fokus pembahasan dan perdebatan dalam pembahasan tingkat I yaitu perlu kami laporkan dalam Rapat Paripurna DPR RI bahwa sesuai dengan semangat pembahasan RUU bahwa jaminan produk halal bertujuan memberikan kenyamaan, keamanan, keselamatan, dan kepastian serta ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengkonsumsi dan menggunakan produk serta meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha.
Tujuan tersebut menjadi penting mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan, obat-obatan, dan kosmetik berkembang sangat pesat. Hal itu berpengaruh secara nyata pada pergeseran pengolahan dan pemanfaatan bahan baku untuk makanan, minuman, kosmetika, obat-obatan, serta produk lainnya dari yang semua bersifat sederhana dan alamiah menjadi pengolahan dan pemanfaatan bahan baku hasil rekayasa ilmu pengetahuan. Pengolahan produk dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan percampuran antara yang halal dan yang haram baik disengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, untuk mengetahui kehalalan dan kesucian suatu produk diperlukan suatu kajian khusus yang membutuhkan pengetahuan multi disiplin seperti pengetahuan di bidang pangan, kimia, bio kimia, teknologi industri, dan pemahanan tentang syariah.
Berkaitan dengan itu dalam realitasnya banyak produk yang beredar di masyarakat belum semua terjamin kehalalannya, sementara itu berbagai peraturan perundang-undangan yang memiliki keterkaitan dengan pengaturan produk halal belum memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi masyarakat muslim. Oleh karena itu, pengaturan mengenai JPH perlu diatur dalam suatu undang-undang secara komprehensif yang mencakup produk makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia, biologi, dan produk rekayasa genetik yang unsur serta prosesnya dihalalkan untuk dimakan, diminum, dipakai atau digunakan sesuai dengan syariah.
Hadirin yang terhormat,
Selanjutnya pokok-pokok pengaturan dalam RUU yang perlu kami sampaikan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Dalam menjamin kehalal produk Panja merumuskan bahwa yang dimaksud dengan produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
2. Yang dimaksud dengan sertifikat halal adalah pengakuan kehalalan suatu produk yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.
3. Rumusan tentang penyelenggaraan JPH yaitu BPJPH yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada menteri. Selanjutnya penyelenggaraan JPH pada penyelenggaraan JPH, BPJPH berwenang:
a. merumuskan dan menetapkan kebijakan JPH,
b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria JPH,
c. menerbitkan dan mencabut sertifikat halal dan label halal pada produk, d. melakukan registrasi sertifikat halal pada produk luar negeri,
e. melakukan sosialisasi, edukasi, dan publikasi produk halal, f. melakukan akreditasi terhadap lembaga pemeriksa halal, g. melakukan sertifikasi auditor halal.
h. melakukan pengawasan terhadap jaminan produk halal, i. melakukan pembinaan auditor halal, dan
j. melakukan kerja sama dengan lembaga dalam dan luar negeri di bidang penyelenggaraan JPH.
4. Dalam melaksanakan wewenang BPJPH bekerja sama dengan kementerian dan/atau lembaga terkait LPH dan MUI.
5. Perumusan tentang hak dan kewajiban pelaku usaha dalam proses permohonan sertifikat halal. Pengajuan permohonan sertifikasi halal dilakukan oleh pelaku usaha kepada BPJPH untuk dilakukan pemeriksaan dan kelengkapan administrasi. Pemeriksaan di lokasi usaha dan pengujian produk dilakukan oleh lembaga pemeriksa halal yang telah memperoleh akreditasi Majelis Ulama Indonesia, sedangkan pernyataan kehalalan produk ditetapkan berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan pengujian lembaga pemeriksa halal dalam bentuk sertifikat halal yang diterbitkan oleh BPJPH.
6. Biaya sertifikasi halal dibebankan kepada pelaku usaha berdasarkan kriteria pelaku usaha yang ditentukan undang-undang. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan penyelenggaraan JPH undang-undang ini memberikan kemudahan bagi pengusaha mikro dan pengusaha kecil untuk mendapat bantuan dari APBN, APBD maupun tanggung jawab sosial perusahaan.
7. Kewenangan Majelis Ulama Indonesia yang selama 25 tahun terakhir menjalankan proses penetapan dan pemeriksaan produk-produk halal di dalam RUU diperluas dengan mengakreditasi lembaga-lembaga pemeriksa halal yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat, mensertifikasi auditor halal serta menetapkan kehalalan suatu produk dengan fatwa halal tertulis yang tidak terpisahkan dari sertifikat yang dikeluarkan oleh badan.
8. Terkait dengan kewajiban bersertifikat halal bagi produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia mulai berlaku lima tahun terhitung sejak undang-undang ini diundangkan. Dan sebelum kewajiban bersertifikasi halal bagi produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia tersebut berlaku jenis produk bersertifikat diatur secara bertahap dan akan diatur dalam peraturan pemerintah.
Selanjutnya dalam rangka menjamin pelaksanaan dan penyelenggaraan JPH pemerintah melakukan pengawasan terhadap produk yang beredar di masyarakat baik produk yang belum memiliki sertifikat halal maupun yang sudah memiliki sertifikat halal, serta melakukan sosialisasi tentang JPH kepada masyarakat. Untuk menjamin penegakan hukum terhadap pelanggaran undang-undang ini ditetapkan sanksi administratif dan sanksi pidana.
Hadirin yang kami hormati,
Perlu saya laporkan bahwa dalam Rapat Paripurna DPR RI bahwa struktur RUU tentang Jaminan Produk halal terdiri dari 11 bab dan 68 pasal yaitu: Bab I Ketentuan umum; Bab II Penyelenggara JPH, Bab III Bahan dan Proses Produk Halal; Bab IV Pelaku Usaha; Bab V Tata cara Memperoleh Sertifikat Halal; Bab VI Kerja sama Internasional; Bab VII Pengawasan; Bab VIII Peran Serta Masyarakat; Bab X Ketentuan Peralihan, Bab XI Ketentuan Penutup.
Hadirin dan Pimpinan, Anggota Sidang yang kami hormati,
Setelah melakukan rapat-rapat yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya hasil pembahasan RUU tentang Jaminan Produk Halal telah dilaporkan kepada Komisi VIII DPR RI dan pemerintah pada tanggal 9 September 2014 dalam forum rapat kerja dengan agenda utama mendengarkan laporan hasil panitia kerja atas pembahasan RUU tentang Jaminan Produk Halal, yang dilanjutkan dengan penyampaian pendapat akhir mini fraksi-fraksi DPR RI serta sambutan pemerintah. Dalam rapat kerja tersebut, semua fraksi di DPR RI menyetujui RUU tentang Jaminan Produk Halal untuk diajukan dalam Pembicaraan Tingkat II pada Rapat Paripurna DPR RI untuk disahkan menjadi undang-undang.
Selanjutnya juga perlu disampaikan bahwa nantinya dalam rangka melaksanakan Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal ini diamanatkan pembentukan 8 peraturan pemerintah dan 2 peraturan menteri.
Hadirin yang kami hormati,
Itulah beberapa pokok yang terkandung dalam RUU tentang Jaminan Produk Halal, selanjutnya besar harapan kami dalam Rapat Paripurna DPR RI ini agar RUU tentang Jaminan Produk Halal ini dapat disetujui secara mufakat oleh DPR RI dan pemerintah untuk menjadi undang-undang. Selanjutnya pemerintah segera melakukan sosialisasi serta menyusun beberapa peraturan pelaksanaannya agar undang-undang ini dapat segera berlaku efektif.
Sebelum mengakhiri laporan ini, ijinkan kami menyampaikan ucapan tidak kepada seluruh komponen masyarakat yang pro aktif berpartisipasi menyampaikan aspirasi kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI. Juga kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh fraksi di DPR RI dan pemerintah yang telah bersungguh-sungguh dan serius menyelesaikan pembahasan RUU ini. Kami juga mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh media massa, cetak, maupun elektronik yang telah berpartisipasi menyebarluaskan informasi dan meliput selama proses pembahasan RUU tentang Jaminan Produk Halal ini. Dan kepada kesekretariatan dan seluruh staf ahli serta semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu atas kerja samanya sehingga pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal ini dapat selesai dan sesuai yang direncanakan.
Demikianlah laporan hasil pembahasan RUU tentang Jaminan Poduk Halal. Atas perhatian hadirin yang terhormat kami mengucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhai usaha kita bersama. Aamiin.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
PIMPINAN KOMISI VIII DPR RI