• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. HIDUP DOA

A. Makna Hidup Doa

3. Jenis-jenis Doa

Sebagai orang Kristiani tentunya banyak jenis-jenis doa yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai jenis doa sudah ada rumusan-rumusannya seperti doa-doa yang terdapat di dalam buku-buku doa. Selain itu juga masih banyak jenis-jenis doa yang kita kenal dalam kehidupan kita sehari-hari. Di sini akan diuraikan tiga jenis doa, antara lain:

a. Doa Permohonan

Doa permohonan pertama-tama berkaitan doa yang disampaikan dengan situasi yang konkret. Doa permohonan bukanlah refleksi atau renungan, melainkan seruan, bahkan teriakan minta tolong (Jacobs, 2004: 28). Doa permohonan sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Doa permohonan ini disampaikan saat kita

memiliki kebutuhan dalam hidup atau disaat kita sedang mengalami masalah kemudian meminta pertolongan kepada Allah mohon kepada-Nya untuk memberi jalan atau petunjuk dalam mengatasi masalahnya tersebut. Doa permohonan ini berkaitan dengan kehidupan konkret. Di mana setiap pribadi memiliki berbagai macam kebutuhan yang perlu dipenuhi di dalam hidup sehari-hari. Dengan melihat akan kebutuhan dalam hidupnya tersebut, maka kebutuhannya itu mendorong dan mendesak pribadi mau berdoa. Doa permohonan sering dilaksanakan apabila seseorang dalam situasi yang mendesak. Dengan situasi yang mendesak itulah seseorang akan mempunyai keyakinan penuh bahwa Allah dengan segera akan menanggapi doa mereka tersebut. Mereka yakin bahwa dalam situasi mendesak Allah akan mengabulkan doa mereka.

Doa permohonan merupakan satu-satunya bentuk doa yang diajarkan Yesus kepada para murid (Darminta, 1996: 46). Doa selalu dikaitkan dengan memohon sesuatu kepada Allah. Doa permohonan pertama-tama beranjak dari pengalaman pribadi seseorang yang sungguh dialami dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman hidup dimana mereka merasakan kasih Allah yang begitu besar kepada mereka. Kasih Allah yang dirasakan dalam diri mereka itulah yang membuat mereka memiliki kerinduan untuk mengungkapkan seluruh apa yang dialami dan dirasakan dalam hidupnya kepada Allah. Di dalam kehidupan kita, doa permohonan memiliki kekuatan yang besar untuk menjalani hidup ini dalam bimbingan Tuhan. Membangun relasi kepada sesama dengan berpedoman pada ajaran Tuhan. Dengan tetap berpedoman pada Tuhan, sebagai

pribadi, akan semakin dikuatkan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini. Doa permohonan bukan berarti bahwa yang diutamakan adalah apa yang kita minta kepada Allah, melainkan lebih dari itu semua adalah Allah yang selalu mencintai kita. Kasih yang telah dialami di dalam setiap pribadi berkat kebaikan Allah akan diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari baik kepada sesamanya bahkan terlebih-lebih orang yang telah menyakitinya. Dalam hal ini Darminta (1996: 47) mengatakan:

Doa permohonan, kalau dilihat dari segi dinamika hidup manusia dan kebutuhannya untuk membangun hidup, yaitu perlunya memiliki pengalaman dicintai dan berharga, pada dasarnya merupakan ungkapan kerinduan untuk mengalami dan meyakini bahwa dirinya sungguh berharga dan dicintai.

Berdoa berarti dengan jujur menyatakan isi hati, hati seorang yang beriman di hadapan Tuhan. Di dalam doa permohonan juga kita mengakui segala kelemahan dan ketidak-berdayaan kita di hadapan Allah. Dengan harapan bahwa kita sebagai orang yang lemah dan tidak berdaya ini diberi pengampunan dan memperoleh belas kasih dari Allah. Setiap pribadi manusia, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki hambatan-hambatan dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, setiap pribadi menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya kepada Allah sebagai sumber kekuatan walaupun yang dialami dalam hidupnya merupakan pengalaman yang sangat berat. Doa permohonan merupakan ungkapan kerinduan manusia untuk mengalami cinta ilahi pula (Darminta, 1996: 48). Doa dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan dengan rendah hati di hadapan Allah. Kita menyadari

bahwa sebagai orang berdosa, kita berpaling dari Bapa. Permohonan itulah merupakan langkah kita untuk berbalik kepada Bapa, lewat relasi pribadi dalam doa.

Dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan hubungan kita dengan Allah. Sebagai orang berdosa, kita orang Kristen pun tahu bahwa kita selalu saja memalingkan diri dari Bapa kita. Permohonan itu sendiri sudah merupakan langkah berbalik kepada Allah (KGK, art. 2629).

Dengan demikian jelas bahwa dalam doa permohonan seseorang telah tergerak hatinya untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah. Doa permohonan kepada Allah akan memampukan seseorang untuk tetap bertahan dan berpasrah pada kehendak Allah. Dalam memanjatkan doa permohonan kepada Allah, terkadang ada unsur menuntut bahwa Allah harus mengabulkan doa permohonan yang diungkapkan. Namun lebih dari itu semua, sesungguhnya kita harus menyerah dalam artian bahwa kita serahkan seluruhnya kepada Allah biarlah Allah yang menghendaki semuanya. Dalam doa permohonan, hendaknya doa tersebut dilakukan dengan sepenuh hati. Karena kita yakin dan percaya, apabila kita melaksanakan doa dengan sepenuh hati, Allah tidak sungkan untuk mengabulkan doa kita tersebut.

b. Doa Puji-Syukur

Allah hadir di dalam setiap pribadi manusia. Dengan kehadiran Allah di dalam pribadi diperlukan tanggapan dari diri kita. Allah sungguh hadir di dalam diri dan dekat berada di dalam setiap pribadi. Allah hadir dalam kehidupan kita

dan dengan segala kemurahan hatiNya, Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi tantangan di dalam hidup kita. Kedekatan pribadi dengan Allah itulah yang melatarbelakangi setiap pribadi bersyukur dan memuji Allah.

Ucapan syukur merupakan ciri khas doa di dalam Gereja. Hal ini terlihat dalam Perayaan Ekaristi, sebagai ucapan syukur atas penyelamatan yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia terbebas dari segala dosa. Hidup dirasa memiliki kekuatan bila setiap pribadi merasakan bahwa Tuhan sungguh hadir dan dekat dalam dirinya. Segala sesuatu yang kita alami dan rasakan di dalam hidup merupakan hal terbaik yang Allah berikan kepada kita. Terkadang di dalam kehidupan, kita tidak mau menerima diri akan apa yang dialami. Dalam doa puji-syukur, setiap pribadi merasakan kebaikan Allah di dalam dirinya (Darminta, 1996: 51).

Dalam doa permohonan seseorang sebelumnya telah mengalami kebaikan Allah atas dirinya. Oleh karena itu, dengan sesuatu yang telah dialaminya tersebut, seseorang tergerak hatinya untuk mengucapkan puji dan syukur kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya banyak pengalaman hidup pribadi seseorang yang merasakan kebaikan Allah dalam setiap perjalanan hidupnya.

Puji-syukur pertama-tama mengungkapkan rasa heran dan kagum atas kebaikan Tuhan. Setiap pribadi telah menerima anugerah dari Allah, oleh kebaikan Allah. Puji-syukur merupakan kegembiraan bahwa ada Tuhan: Syukur, ada Tuhan tentu saja, kebaikan Tuhan diketahui manusia terutama karena anugerah-anugerah, yang telah diberikan oleh-Nya, mulai dengan penciptaan dan kemudian dalam seluruh sejarah keselamatan (Iman Katolik, 1996: 197).

Kebaikan Allah karena telah memberikan segala anugerah dan karunia kepada kita. Dengan doa puji-syukur yang dilaksanakan di dalam kehidupan kita sehari-hari, maka dari itu kita telah mengakui bahwa Allah telah mengabulkan segala sesuatu di dalam hidup kita yaitu menganugerahkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupannya sehari-hari. Namun dapat dikatakan di sini bahwa doa puji-syukur berbeda dengan terima kasih, “puji-syukur berarti memuliakan kebaikan dan keluhuran Allah; dalam permohonan diakui dan dinyatakan kelemahan dan kemiskinan manusia” (Iman Katolik, 1996: 198).

Dalam Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan pada hari Minggu yang sering kita ikuti, ini menandakan bahwa Perayaan Ekaristi tersebut merupakan “ucapan syukur” Gereja atas penyerahan diri Allah kepada manusia. Di mana dalam Perayaan Ekaristi, kita bersama-sama diajak untuk mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang dilaksanakan oleh Yesus dengan para murid-murid-Nya. Dalam Perjamuan Malam Terakhir inilah kita mengenang penyerahan diri Yesus sebelum wafat. Yesus menyerahkan diri demi menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Oleh karena itu, kebaikan Allah yang telah diberikan kepada kita, merupakan wujud cinta Allah kepada manusia. Maka ungkapan kita terhadap kebaikan Allah tersebut salah satunya lewat pujian dan syukur. Kebaikan Allah kepada kita telah dirasakan di dalam hidup kita. Oleh karena itu, sepatutnyalah kita kembali mengucapkan syukur atas kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita. Dalam perjalanan hidup, Allah selalu menyertai setiap langkah kita. Begitu pula dengan

kita, kita berusaha untuk selalu mengucapkan puji dan syukur atas penyertaan dari-Nya dan hal ini juga sebagai bentuk timbal balik kepada Allah.

c. Doa Kontemplasi

Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita masih sangat asing mendengar istilah doa kontemplasi. Doa kontemplasi ini merupakan doa batin. Di mana setiap orang yang melaksanakan doa kontemplasi ini, tanpa kesungguhan dan konsentrasi maka kita pun tidak dapat melaksanakan doa kontemplasi. Darminta (1983: 26) mengatakan bahwa “Doa yang berbentuk kontemplasi yaitu dalam arti merupakan usaha melekatkan hati dan budi kepada Allah yang bergiat itu.” Dan satu-satunya sarana yang digunakan dalam doa kontemplasi ini adalah Kitab Suci. Kita memilih salah satu perikop dalam Kitab Suci dan kita merasa bahwa kita juga ada di dalam cerita tersebut. Anthony de Mello (1980: 73) mengatakan bahwa bentuk doa Kontemplasi “mengambil suatu peristiwa dari kehidupan Kristus dan mementaskan itu dalam fantasi, ikut ambil bagian di situ, seakan-akan ini pertama kali terjadi dan anda ambil peranan di dalamnya.”

Di dalam doa ini juga akan menjawab semua kerinduan manusia untuk bersatu dengan Allah di dalam hidupnya. “Dalam doa kontemplasi, daya pikir dan refleksi kita dituntut selalu aktif. Kita diajak untuk mendengar serta membuka diri untuk dorongan Roh” (Jacobs, 2004: 56). Beranjak dari hal inilah, maka dalam melaksanakan doa kontemplasi kita diajak dengan sungguh-sungguh memusatkan hati serta pikiran kepada Allah satu-satunya sumber hidup kita. Yang lebih utama

dalam doa kontemplasi adalah “mendengarkan”. Kita berdoa digerakkan oleh Roh berarti juga dalam hal ini kita digerakkan oleh Kristus sendiri. Dalam doa kontemplasi, Allah yang mendekati manusia dalam diri Yesus lewat Roh-Nya. “Kontemplasi berarti “memandang”; dan apa yang dipandang tidak berasal dari pengalaman kita, juga tidak dari khayalan kita, tetapi dari daya tarik Kristus sendiri (Jacobs, 2004: 56).

Soenarja (1987: 20) mengatakan bahwa “kontemplasi sebaliknya hanya dapat diartikan sebagai perbuatan, di mana pikiran menangkap kenyataan ilahi secara jelas.” Untuk sampai pada hal tersebut maka sebagai persiapan diri kita dalam doa kontemplasi ini, kita perlu mempersiapkan sebelumnya kekuatan jiwa yang sangat membantu kita menuju pada kontemplasi murni.

Tentunya dalam doa kontemplasi ini ada tahap-tahap yang perlu kita capai yaitu: lewat indra, yang mendapatkan kilatan-kilatan terang ilahi dalam barang-barang indrawi lewat budi, yang membawa gambaran Tritunggal, dan akhirnya penerangan Adikodrati, yang membuat kita mampu berkontemplasi tentang kesamaan pribadi-pribadi ilahi dalam diri kita ini (Soenarja, 1987: 18).

Dalam doa kontemplasi dibutuhkan kesungguhan hati untuk melaksanakannya tanpa adanya paksaan. Doa kontemplasi bersifat dialogal yaitu mengisyaratkan hubungan Allah dan manusia. Allah sudah hadir dalam diri kita, di dalam persekutuan bersama. Oleh karena itu, doa kontemplasi merupakan doa yang menjawab kerinduan manusia untuk bersatu dengan Allah. Setiap pribadi dapat mengalami kerinduan akan Allah dan jalan untuk semakin mendekatkan diri

kepada Allah adalah lewat doa kontemplasi. Kita merasakan sesuatu yang kita sadari bahwa hal tersebut bukan dari diri kita melainkan dari Allah sendiri.

4. Sikap Dalam Doa

Dalam melaksanakan doa tentunya kita tidak asal-asalan namun ada sikap-sikap berdoa yang perlu kita perhatikan supaya doa yang hendak kita laksanakan sungguh membuahkan hasil bagi diri kita. Dalam berdoa, kita membutuhkan suasana yang rileks untuk berdoa. Dalam berdoa kita tidak dapat dipaksa, namun keinginan untuk berdoa datang dari dalam diri kita sendiri. Dalam berdoa agar kita dapat berdoa dengan baik, kita perlu sikap rileks. Kita melepaskan segala kepenatan, beban pikiran dan kesibukan-kesibukan yang masih melekat dalam diri kita. Sejenak kita melepaskan hal-hal tersebut, kita diajak untuk lebih sungguh-sungguh memusatkan hati dan budi kita kepada Allah satu-satunya. Dalam berdoa kita mengangkat hati dan budi kita kepada Tuhan. Di dalam doa juga kita melibatkan seutuhnya hati dan pikiran kita. Oleh karena itu, kita dapat berdoa dengan nyaman apabila kita telah membangun sikap rileks. Ketegangan dalam diri kita saat berdoa tidak akan membantu kita untuk berhasil dalam berdoa. Seolah-olah kita memaksakan diri supaya Allah memenuhi yang kita minta saat berdoa.

Ketegangan fisik yang kita alami sebelum berdoa akan membawa diri kita pada ketegangan psikis dan mempengaruhi pikiran kita saat berdoa. Kita dapat mengikuti alunan hati dan budi kita dalam berdoa apabila kita melaksanakan doa tersebut dengan sikap rileks, yang lebih utama lagi adalah kita melepaskan segala

beban pikiran kita dan memusatkan diri pada Allah. “Cara relaksasi tubuh apa pun tidak berguna untuk berdoa, selama hati dan akal kita masih tegang” (CLC, 1999: 31). Dalam berdoa yang lebih utama adalah jiwa rohani. Jiwa inilah inti kita dalam berdoa, yaitu pusat kepribadian kita yang memberi motivasi kepada segala tindakan dan perasaan (CLC, 1999: 32). Dengan situasi kita dalam berdoa tenang dan rileks maka kita dengan bebas dapat berkomunikasi dengan Allah dengan baik pula tanpa adanya gangguan baik gangguan itu muncul dari hati dan pikiran kita, sehingga kita tidak bisa konsentrasi dengan sungguh-sungguh dalam berdoa.

Jiwa yang rileks memahami, bahwa Allah mengasihi kita. Kalau adakalanya ia tidak mengabulkan apa yang diminta, itu hanyalah karena kasih dan kebaikan hatiNya mengetahui, bahwa kita belum siap menerimanya atau hal itu tidak baik bagi kita pada saat ini. Maka, Ia belum dapat memberikan apa yang diminta itu. Namun, Ia malahan memberikan yang lebih baik (CLC, 1999: 33).

Dalam doa kontemplasi kita menaruh keyakinan sepenuhnya kepada Allah bahwa Allah sendiri yang berkehendak atas kita bukan atas kemauan kita yang menuntut kepada Allah untuk memberikan apa yang kita inginkan. Dengan keyakinan yang penuh kepada Allah, maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita dan kita akan selalu siap untuk menerima apa yang Ia kehendaki atas kita di dalam hidup ini.

Selain itu pula sikap rendah diri dalam berdoa perlu kita bangun di dalam diri kita. Dalam berdoa, kita membangun relasi dengan Allah dan lewat relasi itu pula kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Kita mengakui bahwa kita adalah manusia lemah dan tidak berdaya di hadapan Allah. Bukan kita yang berkehendak melainkan

kita menyerahkan segalanya kepada Allah. Doa yang kita laksanakan dengan merendahkan diri, akan membuat kita masuk pada pengalaman akan Allah yang sangat mendalam. Dalam berdoa bukanlah pertama-tama atas dasar gerak hati yang berasal dari dalam diri kita untuk berdoa kepada Allah, namun gerak hati tersebut adalah gerak yang dibimbing oleh Roh yaitu Roh Allah sendiri. Sikap yang perlu kita bangun supaya relasi kita dengan Allah sungguh menjadi suatu relasi yang mendalam adalah perlunya membangun kesadaran dari diri kita. Bagaimana pun bahwa kita berdoa digerakan oleh Roh Allah sendiri namun kita dengan kesadaran pula menanggapi panggilan Allah tersebut. Kita ingin relasi yang kita bangun bersama Allah lewat doa akan membuat kita semakin dekat dengan Allah.

“Doa Yesus tumbuh dari kerinduan atau keinginan untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa itu. Doa Yesus Kristus tidak terpisahkan dari kerinduan itu. Sebagai Hamba keselamatan Yesus rindu untuk melaksanakan tugas keselamatannya, yaitu menuju kepada Bapa, membawa api ke dunia dan mengumpulkan anak-anak Allah yang tercerai berai” (Darminta, 1983: 17).

Allah telah berkarya di dalam diri kita dan membuat kita selalu memiliki kerinduan untuk bertemu dan melihat Allah. Allah juga memiliki keinginan untuk bertemu dengan kita dan hal tersebut yang membuat kita mampu untuk berdoa kepada-Nya. Allah selalu menawarkan keselamatan bagi semua orang tanpa terkecuali. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh keselamatan dari-Nya. Karena sepanjang masa, keselamatan dari Allah memang ditujukan kepada manusia, asalkan manusia mau berbalik kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya.

Dalam berdoa juga, kita perlu sikap tekun walaupun terkadang hal tersebut sulit bagi kita. Berdoa terkadang membuat kita bosan. Dalam Cipta Loka Caraka diuraikan bahwa “Kalau kita berdoa hanya karena terdorong oleh perasaan saja, maka sangat langkalah saat-saat berkomunikasi dengan Tuhan. Akibatnya rengganglah hubungan kita denganNya!” (CLC, 1999: 22). Bertekun dalam arti bahwa kita sendiri yang berjanji kepada Allah untuk berdoa, maka kita juga mempunyai kewajiban untuk menepati janji tersebut. Kita tidak bisa dipaksakan untuk berdoa, karena kesadaran untuk berdoa hanya muncul dari keinginan hati kita sendiri bukan atas kemauan orang lain. “Sudah semestinya kita belajar berdoa dengan menepati saat-saat yang telah ditentukan untuk berdoa, entah suka atau tidak suka” (CLC, 1999: 22).

Hal yang terpenting saat kita berdoa adalah mendengarkan suara ilahi. Untuk mendengarkan suara ilahi tersebut membutuhkan konsentrasi dan kesungguhan dalam menjalankan doa tersebut. Karena justru banyak suara-suara yang lain yang pastinya menjadi pusat perhatian kita karena suara-suara lain di luar suara ilahi dirasakan lebih membuat kita tergoda.

“Suara Allah tak pernah memaksa, namun berwibawa dan menghimbau dengan tenang. SuaraNya tidak selalu sama jelasnya. Jelas-tidaknya bergantung antara lain pada dekat-jauhnya kita denganNya, dan tentu juga pada perkenan ilahi akan kebutuhan kita. Kalau suasana hati sedang diwarnai emosi besar dan terombang-ambing, sukarlah kita mendengarkan pesan-pesan ilahi, apalagi bila telinga rohani ditulikan oleh dosa” (CLC, 1999: 55).

Tidak mudah untuk menemukan dan mendengarkan suara ilahi, kita membutuhkan konsentrasi. Kita pusatkan seluruh hati dan budi kita pada satu-satunya suara ilahi. Karena suara ilahi memberi informasi, menyampaikan instruksi,

memberanikan dan membimbing kita. Untuk itu, kita lebih banyak berlatih diri supaya dalam berdoa kita mudah mendengarkan suara Allah dibandingkan dengan suara-suara lain.

Dokumen terkait