BAB II. HIDUP DOA
A. Makna Hidup Doa
5. Kesulitan Dalam Berdoa
Tentunya dalam berdoa kita sering mengalami kesulitan-kesulitan baik
kesulitan yang berasal dari diri kita sendiri maupun datang dari luar diri kita. Walaupun dalam pelaksanaannya kita sering mengalami kesulitan, kita tidak boleh
putus asa dan menyerah namun kita tetap berusaha dan tetap yakin bahwa Allah selalu menyertai segala perjuangan kita dalam berdoa.
a. Dari segi Allah
Allah selalu menyapa manusia dalam setiap pengalaman hidup manusia. Allah telah menjanjikan keselamatan kepada manusia, tinggal bagaimana cara manusia sampai pada keselamatan itu tergantung pada setiap pribadi. “Allah yang bergaul dengan manusia menyampaikan kehendak keselamatan-Nya. Penyampaian keselamatan itu secara konkret terjadi dengan Sabda menjadi daging” (Darminta, 1983: 45-46). Dengan inkarnasi Allah memungkinkan manusia untuk mendekati dan bergaul dengan Allah. Hubungan yang terjalin antara Allah dan manusia membuat manusia semakin dekat dan selalu berpasrah pada Allah satu-satunya sumber harapan mereka. Allah itu kudus.
Kekudusan Allah menuntut kekudusan dari manusia juga. Di mana Allah telah menawarkan keselamatan kepada manusia. Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah atas diri manusia. Manusia dipanggil untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Ini mengandung arti bahwa setiap orang dipanggil juga untuk mengorbankan hidup mereka demi terwujudnya keselamatan dari Allah itu. Sama halnya yang dilakukan oleh Yesus. Yesus dengan kerelaanNya memanggul salib sampai wafat demi membela manusia. Untuk ikut serta dalam karya keselamatan kepada seluruh manusia, maka dituntut pemurnian dan penyerahan kepada Allah.
Dalam hal ini kudus berarti manusia seutuhnya menjadi milik Allah, bersatu penuh dengan Allah. Doa berarti masuk ke dalam proses pemilikan oleh Allah (Darminta, 1983: 46). Manusia masuk dalam proses pemilikan akan Allah berarti manusia hidup dalam kuasa Allah yang mempunyai kuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan. Pilihan ini akan kita peroleh sesuai dengan apa yang kita lakukan di dalam hidup kita. Situasi pembinasaan itulah yang membuat munculnya ketakutan pada kita dan membuat kita sangat sulit untuk berdoa.
b. Dari segi manusia
Setiap manusia memiliki kebebasan masing-masing, namun manusia tidak bisa hidup dengan kebebasan yang mutlak tanpa batas. Dalam kehidupannya, manusia memiliki ketergantungan dengan Allah. Kita berdoa kepada Allah
menandakan bahwa kita memiliki ketergantungan dengan Allah. Dalam berdoa juga, kita mempunyai kehendak yang sesuai dengan keinginan kita. Karena kita sadar bahwa di dalam hidup, kita diberi kebebasan oleh Allah. Sering kita memahami bahwa dalam berdoa kepada Allah apa yang menjadi kehendak kita itulah yang akan dikabulkan oleh Allah atas kita. Namun pada kenyataannya, kehendak Allahlah yang terjadi atas kita karena segala sesuatu yang Allah berikan pada kita baik adanya. Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang membuat kita kecewa. Hanya saja kita kurang peka terhadap kehendak Allah itu. Kita lebih mengutamakan untuk mendengar dan mengikuti kehendak kita sendiri daripada mendengar dan mengikuti kehendak Allah. Dalam berdoa, kita dituntut untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. “Hal itu mengandaikan bahwa doa dihayati sebagai usaha untuk mengangkat jiwa kepada Allah, berpaut kepada Allah dan kehendak-Nya dengan ketaatan yang merdeka” (Darminta, 1983: 47) [bdk. Ibr 10:9-10].
Tidak mudah untuk mengubah kehendak manusia untuk taat dan patuh pada kehendak Allah. Karena manusia merasa merdeka dan memiliki kebebasan atas hidupnya. Manusia lebih mengutamakan mendengar kehendak dirinya sendiri, karena menurut pandangan mereka kehendak yang akan terjadi adalah kehendak yang telah direncanakan dan mereka sudah memiliki gambaran atas kehendak mereka tersebut. Di dalam doa, dua hal tersebut (kehendak Allah dan kehendak manusia) bertemu menjadi satu. Dalam hal ini Darminta (1983: 47) mengatakan:
Mengubah kehendak manusia menjadi taat kepada Allah mengandaikan cinta bakti kepada Allah, yang mampu mengubah dan mengarahkan kerinduan dan keinginan manusia supaya menjadi keinginan dan kerinduan yang mengalir dari cinta kepada Allah. Doa yang mempertemukan dua kehendak itu mengandaikan adanya kurban. Dalam taraf hubungan pribadi, kurban berarti mau meninggalkan segala sesuatu yang menghambat pertemuan pribadi itu. Dalam taraf hubungan dengan Allah disebut dosa.
Kita sebagai manusia ciptaan Allah terkadang kurang percaya tentang penyelenggaraan hidup ini. Banyak pengalaman yang membuat kita tidak sepenuhnya menaruh harapan kepada Allah. Di lihat dari sisi itu semua, kita sadar bahwa kita tetap memiliki kerinduan dan keinginan untuk menjalin relasi dengan Allah. Namun tetap ada kesulitan yang muncul dalam diri kita untuk dapat memisahkan dan memilih mana permohonan kita yang lebih utama dan mana yang harus kita kesampingkan. Kita menanggap bahwa semua permohonan kita mempunyai tempat yang utama dan harus dipenuhi semua. Dari hal inilah muncul kekuatiran dalam diri kita. Muncul kekuatiran hidup karena kekuatiran hidup merupakan hambatan utama untuk berdoa. Hal ini bisa muncul karena kita kurang mampu untuk memilih manakah yang pokok dan tidak pokok untuk hidup kita ini. Selain kesulitan-kesulitan di atas, yang menjadi kesulitan bagi setiap orang dalam berdoa adalah belum bisa untuk menciptakan keheningan dan suasana sunyi saat berdoa. Tentunya dalam hal ini sangat berkaitan dengan pengalaman hidup doa setiap pribadi. Bagaimana setiap pribadi yang terbiasa untuk melaksanakan doa dalam kehidupannya, tentunya mereka ini akan terbiasa untuk menciptakan keheningan di dalam diri mereka saat berdoa. Pemahaman setiap pribadi akan doa
itu sendiri pun akan menjadi hambatan setiap pribadi untuk berdoa. Di mana pemahaman doa mereka masih sangat terbatas. Dalam doa mereka akan memperoleh hasil langsung bersamaan setelah mereka melaksanakan doa. Padahal justru sebaliknya, bahwa segala doa yang kita panjatkan kepada Allah dengan penuh keyakinan dan tetap percaya kepada kehendak Allah. Darminta (1983: 52) mengatakan bahwa “Kegiatan doa memang seratus persen tergantung dari manusia, namun isi khas doa tergantung rahmat Allah.” Dalam artian bahwa segala sesuatu saat berdoa manusia boleh berkehendak dan mengaturnya, namun atas segala isi doa yang dipanjatkan kepada Allah semuanya akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah bukan pada kehendak manusia.