• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Pekerjaan dan Pengalaman Usaha Responden

Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan pesisir tidak terlepas dari potensi dan kondisi sumber daya di wilayah pesisir dan lautan (Djunaidah dan Nurmalia 2018). Sebanyak 66% responden perempuan melakukan pekerjaan menjadi pedagang ikan, karena tersedianya hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan (suami responden). Oleh karena itu, perempuan di Pesisir Kendal selain melakukan aktivitas domestik, juga bertindak sebagai pemasar hasil tangkapan. Jumlah pendapatan sebagai pedagang ikan tergolong cukup tinggi, yaitu > Rp5.000.000 per bulan. Beban ganda pada perempuan pesisir merupakan situasi di mana perempuan

69

Gender pada Kelompok Rumah Tangga Pengolah Hasil Perikanan

bekerja dalam kegiatan reproduktif dan produktif dengan curahan waktu yang lama (Sumilat dan Wahyuni 2020). Gambar 1 memperlihatkan bahwa dalam kegiatan pemasaran ikan, peran perempuan cukup besar dalam pengambilan keputusan usaha pemasaran ikan, mulai dari pembelian ikan, negosiasi harga, transaksi jual beli ikan, sampai pada pemasaran.

Peran laki-laki hanya sebatas membantu pekerjaan yang berat saja yang memerlukan tenaga yang kuat, seperti pengangkutan ikan dari kapal, pengangkutan ikan ke kendaraan pembeli, maupun pengangkutan ikan ke pasar. Untuk memasarkan ikan, perempuan lebih luwes daripada laki-laki dalam tawar menawar harga ikan (Handajani et al. 2015; Gude et al.

2017).

51

ikan, perempuan memberikan keterlibatan dan peran yang besar dalam pengambilan keputusan dalam usaha pemasaran ikan, mulai dari pembelian ikan, negosiasi harga, transaksi jual beli ikan, sampai pada pemasaran. Peran laki-laki hanya sebatas membantu pekerjaan yang berat saja yang memerlukan tenaga yang kuat, seperti pengangkutan ikan dari kapal, pengangkutan ikan ke kendaraan pembeli, maupun pengangkutan ikan ke pasar. Untuk memasarkan ikan perempuan lebih luwes daripada laki-laki dalam tawar menawar harga ikan (Handajani et al., 2015; Gude et al., 2017).

Sumber: Dokumentasi tim riset, 2019

Gambar 1. Pekerjaan Utama Perempuan Pesisir di Kabupaten Kendal sebagai Pedagang Ikan Jenis pekerjaan utama responden di Kabupaten Kendal, mayoritas sebagai pedagang, baik sebagai pedagang ikan maupun pedagang non ikan, yang masing-masing mencapai 66% dan 14%. Aktivitas sebagai guru dan pengolah non ikan masing-masing mencapai 10% dari keseluruhan pekerjaan utama yang dilakukan oleh responden. Hal ini sesuai dengan penelitian Indrawasih (2015), bahwa tenaga kerja wanita pada aktivitas pengolahan maupun pemasaran hasil perikanan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki. Berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di Pesisir Kendal sesuai dengan pendidikan, keterampilan, kesempatan dan peluangnya.

Pekerjaan sampingan merupakan mata pencaharian baru setelah mendapat pelatihan pengolahan ikan dari KKP. Responden mengembangkan keterampilan baru untuk memulai usaha di bidang pengolahan ikan, sesuai jenis pelatihan yang diterima. Jenis pekerjaan sampingan responden mayoritas sebagai pengolah ikan mencapai 81%, kemudian pengrajin kerang sebesar

Sumber: Dokumentasi tim riset, 2019

Gambar 1 Pekerjaan utama perempuan pesisir di Kabupaten Kendal sebagai pedagang ikan

Jenis pekerjaan utama responden di Kabupaten Kendal, mayoritas sebagai pedagang, baik sebagai pedagang, terutama pedagang ikan maupun pedagang non ikan yang masing-masing mencapai 66% dan 14%. Aktivitas sebagai guru dan pengolah non ikan masing-masing mencapai 10% dari keseluruhan pekerjaan utama yang dilakukan oleh responden. Hal ini sesuai dengan penelitian Indrawasih (2015) bahwa tenaga kerja wanita pada aktivitas pengolahan maupun pemasaran hasil perikanan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki. Berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di Pesisir Kendal sesuai dengan pendidikan, keterampilan, kesempatan dan peluangnya.

70

Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan

Pekerjaan sampingan merupakan mata pencaharian baru setelah mendapat pelatihan pengolahan ikan dari KKP. Responden mengembangkan keterampilan baru untuk memulai usaha di bidang pengolahan ikan, sesuai jenis pelatihan yang diterima. Jenis pekerjaan sampingan responden mayoritas sebagai pengolah ikan mencapai 81%, kemudian pengrajin kerang sebesar 19%. Aktivitas membuat kerajinan kerang memerlukan kreativitas dan keterampilan khusus sehingga sebagian besar responden kurang berminat untuk mengembangkan usaha ini, sedangkan kegiatan pengolahan ikan tidak terlepas dari aktivitas di dapur dan responden sudah memiliki skill memasak. Jenis pekerjaan perempuan pesisir di Kabupaten Kendal secara lengkap disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Jenis pekerjaan responden di pesisir Kabupaten Kendal, Tahun 2019

No. Jenis pekerjaan utama

Jumlah responden

(Orang) % No. Jenis pekerjaan sampingan

Jumlah responden

(Orang) %

1. Pedagang ikan 14 66 1. Pengrajin kerang 3 19

2. Pedagang non ikan 3 14

2. Pengolah ikan 18 81

3. Pengolah non ikan 2 10

4. Guru 2 10

Jumlah 21 100 Jumlah 21 100

Sumber: Data primer diolah, 2019

Pengalaman usaha perempuan pesisir pengolah hasil perikanan dapat diartikan bahwa pengalaman seseorang dalam menjalankan usaha pengolahan hasil perikanan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan mengelola usaha, antara lain: tingkat pendidikan, lama menjalankan usaha, dan latar belakang keluarga pengusaha. Pengalaman dalam menjalankan usaha merupakan prediktor terbaik bagi keberhasilan usaha, terutama bila bisnis baru yang berkaitan dengan pengalaman bisnis sebelumnya (Riyanti 2003). Pengalaman berusaha juga mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menerapkan teknologi baru.

Pengalaman usaha responden dominan berkisar kurang dari 5 tahun sebesar 76%, kemudian lebih dari 10 tahun sebesar 14%, dan sekitar 6–10 tahun sebesar 10% (Tabel 4). Rendahnya pengalaman usaha

71

Gender pada Kelompok Rumah Tangga Pengolah Hasil Perikanan

responden (< 5 tahun) dalam pengolahan hasil perikanan disebabkan kurangnya pengetahuan dalam mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah, kurang percaya diri, tidak memiliki jiwa kompetitor, pesimis terhadap pemasaran produk olahan, dan kurangnya modal usaha.

Pengalaman usaha perempuan pada pengolahan hasil perikanan yang rendah disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah (hanya tamat SD) yang mengakibatkan kesetaraan gender rendah. Perempuan dalam stereotip masyarakat pesisir hanya sebagai ‘pembantu’ suaminya yang bekerja sebagai nelayan. Selain mengurus pekerjaan domestik, istri hanya sebagai pemasar hasil tangkapan suami yang sudah lelah dalam melaut.

Pengolahan hasil perikanan merupakan teknologi baru bagi perempuan pesisir di Kabupaten Kendal untuk meningkatkan nilai tambah ikan sehingga membutuhkan keterampilan yang dapat diperoleh perempuan melalui pendidikan informal. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk olahan, diperlukan pengalaman usaha pengolahan hasil perikanan yang lebih lama. Untuk responden dengan pengalaman usaha yang lebih lama (6 – > 10 tahun) adalah responden yang telah merintis usaha pengolahan hasil perikanan dengan proses pengolahan yang tidak rumit, seperti ikan asin.

Tabel 4 Distribusi pengalaman usaha responden pengolah hasil perikanan di Kabupaten Kendal, Tahun 2019

No. Pengalaman usaha (Tahun) Jumlah responden (Orang) %

1. 1–5 16 76

2. 6–10 2 10

3. > 10 3 14

Jumlah 21 100

Sumber: Data primer diolah, 2019