Masyarakat Pesisir
Gambaran pelaku usaha pada Sektor Kelautan dan Perikanan berdasarkan gender dapat dilihat pada Tabel 1. Data yang ditampilkan pada Tabel 1 berdasarkan pencatatan kartu pelaku usaha pada tahun 2014.
Tabel 1 Jumlah pelaku usaha Sektor Kelautan dan Perikanan berdasarkan jenis kelamin, Tahun 2014
Pelaku usaha Jumlah Persentase perbandingan jumlah pelaku usaha perempuan terhadap laki-laki Laki-Laki Perempuan
Pembudidaya 72.013 9.604 13,3%
Nelayan 1.120.771 21.925 2,0%
Pengolah 37.723 64.380 170,7%
Pemasar 2.652.234 3.718 0,1%
Petambak garam 11.410 1.346 11,8%
Jumlah 3.894.151 100.973 3%
Sumber: KKP, Tahun 2014
Berdasarkan One Data KKP tahun 2014, secara umum jumlah laki-laki yang menjadi pelaku usaha di Sektor Kelautan dan Perikanan lebih banyak dibandingkan jumlah perempuan. Jumlah laki-laki yang menjadi pelaku usaha perikanan adalah 3.894.151 jiwa, sedangkan jumlah perempuan 100.973 jiwa atau 3% dari total pelaku usaha laki-laki. Namun, untuk jenis usaha pengolahan, jumlah perempuan dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki yaitu 64.380 jiwa pelaku usaha perempuan, sedangkan laki-laki berjumlah 37.723 jiwa, atau persentase perbandingan sebesar 170,7%. Persentase perbandingan pelaku usaha perempuan terhadap laki-laki pada jenis usaha budi daya adalah 13,3%. Usaha budi daya masih didominasi oleh laki-laki. Hal yang sama untuk usaha perikanan tangkap, pemasar, dan petambak garam. Masing-masing persentase perbandingannya yaitu 2%, 0,1% dan 11,8%.
Gender dan Pemberdayaan Perempuan pada Masyarakat Pesisir
141 Kontribusi perempuan cukup besar dalam usaha kelautan dan perikanan, walaupun secara umum jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki. Kontribusi perempuan pada umumnya dapat dilihat pada tahap persiapan dan pasca produksi. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, baik laki-laki dan perempuan telah memiliki akses pada usaha di sektor Kelautan dan Perikanan.
Hasil penelitian Nurlaili et al. (2019) menunjukkan bahwa perempuan memiliki tugas, peran, dan curahan waktu yang cukup besar dalam usaha perikanan, baik pada perikanan tangkap, pengolahan, maupun pemasaran.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan pembagian tugas dan curahan waktu laki dan perempuan dalam usaha perikanan, di mana akses laki-laki dan perempuan dalam usaha perikanan sudah sama bahkan cenderung didominasi oleh perempuan untuk bidang pasca produksi. Sebagai contoh pada usaha pemindangan ikan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah di mana perempuan memiliki tugas mempersiapkan peralatan pemindangan, mencuci ikan, memberi garam pada ikan, membungkus ikan, menata ikan di dalam wajan merebus ikan, mengangkat ikan, mencuci peralatan, dan memasarkan ikan. Total alokasi waktu yang diberikan perempuan pada usaha pemindangan ikan adalah 4 jam ditambah waktu pemasaran ikan yang terkadang tidak menentu. Tugas laki-laki dalam usaha pemindangan ikan yaitu belanja bahan baku ikan dan memasarkan ikan. Total alokasi waktu laki-laki pada usaha pemindangan ikan adalah 3 jam ditambah waktu pemasaran ikan yang terkadang tidak menentu.
Hal yang sama juga ditunjukkan pada usaha perikanan tangkap dan pemasaran di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Hasil penelitian Nurlaili et al. (2019) menunjukkan bahwa alokasi waktu perempuan pada usaha perikanan tangkap mulai dari pukul 03.00 pagi hari sampai pukul 15.00 WIB. Jumlah alokasi waktu laki-laki pada usaha perikanan tangkap 5–7 jam, antara pukul 05.00 pagi sampai pukul 10.00 wib atau sejak pukul 15.00 sore hari sampai pukul 22.00 WIB.
Secara eksisting, baik laki-laki dan perempuan telah memiliki akses terhadap mata pencaharian di sektor kelautan dan perikanan, dan keduanya baik laki-laki maupun perempuan dapat dikatakan telah ikut berpartisipasi di dalam pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan.
Pertanyaannya adalah apakah kesetaraan gender dan pemberdayaan
142
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
perempuan sudah terwujud pada masyarakat pesisir? INPRES No.9 Tahun 2000 telah memberikan konsekuensi kepada semua sektor untuk turut berpartisipasi menerjemahkan konsep gender ke dalam program dan KKP telah mengupayakan keadilan dan kesetaraan gender melalui sebuah strategi pengarusutamaan gender (PUG). Sejak tahun 2018, KKP telah meraih Anugrah Parahita Ekapraya (APE) untuk kategori Mentor selama dua kali berturut-turut atas program-programnya.
Pengarusutamaan Gender (PUG) merupakan sebuah strategi untuk mengatasi perbedaan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan kelautan dan perikanan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi (KKP 2017). PUG diharapkan mempengaruhi sasaran strategis, seperti kebijakan pembangunan yang efisien, tata kelola sumber daya KP yang adil, serta pengendalian dan pengawasan sumber daya yang partisipatif.
Sejak tahun 2018, KKP telah melakukan tagging yaitu komitmen Kementerian/Lembaga dalam mendukung PUG. Komitmen ini meliputi dukungan anggaran dan dukungan kebijakan, sedangkan keadilan dan kesetaraan gender meliputi pengambilan keputusan, akses usaha, dan pelatihan. Di dalam PUG KKP terdapat tim pokja yang ada di masing-masing eselon 1 KKP.
Beberapa program dan kegiatan responsif gender yang telah dilaksanakan oleh KKP, antara lain bimbingan teknis dan bantuan pengembangan diversifikasi usaha bagi perempuan nelayan, bantuan sarana produksi peralatan pembuatan abon ikan bagi perempuan nelayan, praktik olahan hasil perikanan bagi perempuan nelayan, bimbingan teknis pengembangan diversifikasi usaha bagi perempuan nelayan; peningkatan akses permodalan khusus untuk perempuan di wilayah pesisir melalui grameen bank, peningkatan wirausahawan muda di kawasan pesisir bagi perempuan nelayan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir dan pengembangan usaha (regenerasi nelayan). KKP juga memiliki 420 Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan (P2MKP) di berbagai daerah untuk memberdayakan perempuan nelayan.
Gender dan Pemberdayaan Perempuan pada Masyarakat Pesisir
143 Program bimbingan teknis (bimtek) terkait diversifikasi produk olahan kepada perempuan nelayan juga sudah dilakukan melibatkan PKK di kabupaten. Tujuan lainnya dari bimtek diversifikasi produk olahan adalah menciptakan produk baru perikanan yang dapat dijadikan menu di atas meja rumah tangga pesisir untuk peningkatan konsumsi ikan keluarga sehingga dapat mencegah kelaparan dan stunting. Program diversifikasi produk olahan di Provinsi Jawa Tengah sebagai contoh dilakukan di wilayah yang termasuk ke dalam peta merah untuk menanggulangi tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Di samping itu, upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di pesisir adalah dengan melibatkan para perempuan pesisir ke dalam organisasi kelompok usaha, dengan harapan perempuan pesisir tidak hanya mengurus kegiatan domestik, namun juga memiliki potensi dan kemampuan untuk memunculkan diri dan berubah menjadi lebih baik. Program yang telah dilaksanakan ini dengan maksud dan tujuan untuk mengatasi permasalahan rendahnya rasa percaya diri perempuan pesisir, rasa malu jika suaminya bekerja sebagai nelayan, rendahnya tingkat pengambilan keputusan, daya tawar rendah, kurang berpikir kritis, dan pola pikir atau mind set yang selama ini dilekatkan pada perempuan pesisir.
Pada program diversifikasi produk olahan, antara lain diselenggarakan kegiatan pelatihan yang dilakukan di daerah pesisir. Dalam program juga dilakukan fasilitasi untuk UKM yang belum mempunyai izin, seperti sertifikasi PIRT, Halal, serta mengambil sampel produk yang mempunyai izin lengkap untuk dibantu pemasaran dengan melakukan pameran event dan IKM award tingkat provinsi maupun nasional. Secara umum, UMKM pada usaha perikanan banyak didominasi oleh perempuan yang umumnya sudah ibu-ibu. Pemerintah juga telah memfasilitasi permodalan terkait UMKM yang bersumber melalui lembaga pembiayaan/perbankan.
Pelatihan terkait dengan manajemen keuangan sudah mulai dilakukan untuk para pelaku usaha (KKP 2018).
Salah satu indikator manfaat program PUG bagi penyelenggara adalah jumlah peserta yang menindaklanjuti program kegiatan yang dilakukan.
Harapan setelah menindaklanjuti program kegiatan tersebut adalah terjadi peningkatan skala usaha, penambahan diversifikasi produk dan
144
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
peningkatan produksi. Indikator manfaat program PUG bagi penerima manfaat adalah terjadinya peningkatan skala usaha (produksi), peningkatan aset produksi, peningkatan jumlah pasar, diversifikasi produk perikanan, dan sertifikasi produk perikanan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah dan Cilincing, Jakarta Utara dapat terlihat beberapa kendala dalam pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan yaitu Sumber daya manusia (SDM), anggaran dan waktu. Kendala lainnya keterbatasan perencana program baik dari aspek koordinasi dan monitoring. Indikator manfaat PUG baik bagi penyelenggara yaitu jumlah peserta yang menindaklanjuti kegiatan yang dilakukan, maupun terjadinya peningkatan skala usaha bagi penerima manfaat masih belum tercapai.
Kendala-kendala teknis yang telah disebutkan dalam upaya pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan semakin diperkuat dengan adanya faktor internal dari dalam masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 dan 2019, dapat diidentifikasi faktor penyebab belum optimalnya pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan pada masyarakat pesisir, antara lain terbatasnya alokasi waktu karena perempuan juga memiliki tugas domestik (pekerjaan rumah tangga) dan izin dari suami. Hal lainnya yang juga sangat penting adanya persepsi dan nilai yang dimiliki masyarakat bahwa tugas mencari nafkah adalah tugas suami, perempuan hanya sebatas membantu. Oleh sebab itu, dalam hasil penelitiannya Sunito, Siscawati & Iswari (2019) menyebutkan bahwa sangat penting untuk mengetahui pemaknaan perempuan dan laki-laki tentang ruang hidup dan berbagai komponen di dalamnya yang menjadi sumber kehidupan dan penghidupan di tingkat individu, keluarga inti, keluarga besar, dan komunitas. Lebih lanjut disebutkan bahwa data dan pengetahuan terkait ruang hidup dan penghidupan dengan perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI) akan menjadi basis utama dalam menghasilkan sebuah perencanaan kegiatan maupun hal lain terkait ruang hidup dan penghidupan yang responsif GESI di berbagai wilayah (Sunito, Siscawati
& Iswari 2019).
Gender dan Pemberdayaan Perempuan pada Masyarakat Pesisir
145 Konsep gender sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, memiliki konsep yang beragam di dalam masyarakat. Tiap masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang berbeda tentunya karena faktor sosial, budaya, agama, kepercayaan, politik dan ekonominya yang berbeda pula.
Norma dan nilai tentang gender juga akan berbeda dan menjadi sangat penting karena sebagai rujukan bagi tiap anggota masyarakat. Norma dan nilai tentang gender sangat kuat tertanam di dalam masyarakat karena melalui proses sosial dan kultural yang panjang. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dalam upaya mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di masyarakat.
Norma dan nilai gender yang ada di dalam masyarakat berfungsi mengatur manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam kehidupan bersama. Norma dan nilai ini merupakan bagian dari apa yang disebut dengan lembaga kemasyarakatan atau social institution.
Soemarjan (1964), Soekanto (1997), dan Koentjaraningrat (1964) telah mendefinisikan tentang lembaga kemasyarakatan sebagai terjemahan dari social institution, yaitu himpunan atau kumpulan norma dan peraturan tertentu atau suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan yang berpola yang berdasarkan pada suatu kebutuhan pokok manusia yang mengatur manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam kehidupan bersama. Lembaga kemasyarakatan tentang gender di masyarakat menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam setiap upaya mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan karena mengatur segala tindakan manusia guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Norma dan nilai gender pada masyarakat pesisir secara umum sudah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat serta diwariskan secara turun-temurun pada anggota masyarakatnya. Pembedaan peran antara laki-laki dan perempuan yang ada dalam masyarakat tersebut berkorelasi dengan konstruksi sosial yang dihasilkan melalui proses sosial dan kultural yang panjang sehingga laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda. Pembagian peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat merujuk kepada bagaimana relasi perempuan dan laki-laki yang lebih harmonis, seimbang, dan menghargai hak-hak dan kewajiban masing-masing pihak, melindungi, dan saling menghormati, dari berbagai aspek, baik secara personal, interpersonal, maupun profesional (Fakih 1996).
146
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
Upaya pencapaian kesetaraan gender mengacu pada persamaan dalam memperoleh kesempatan, hak serta tanggung jawab dan peluang bagi perempuan dan laki-laki agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan di berbagai bidang termasuk bidang kelautan dan perikanan. Tidak hanya kesetaraan tetapi juga keadilan gender yaitu situasi di mana semua orang, perempuan dan laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki dinilai setara, serta dapat berbagi secara setara dan adil dalam distribusi kekuasaan, pengetahuan dan sumberdaya, dalam hal ini sumberdaya kelautan dan perikanan.