• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesetaraan Gender pada Kelompok Usaha Perikanan

Kesetaraan Gender pada Kelompok Usaha Perikanan

Nilai tingkat kematangan gender kelompok usaha perikanan (12,5%) tersebut mempunyai arti strategis dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Pada tingkat kematangan gender terbatas itu, kelompok usaha perikanan di Indonesia perlu dikonsolidasi agar fungsi kelembagaan dan jenis kegiatan dapat berperan menjadi fungsi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.

Sementara pada kelompok usaha perikanan dengan tingkat kematangan gender berkembang dan maju maka yang diperlukan adalah koreksi atau penyempurnaan kegiatan kelompok usaha sesuai dengan perkembangan perekonomian, apalagi fungsi kelembagaan telah terwujud dan mengikat semua anggotanya.

167

Epilog: Mengukur Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan

Pada kelompok usaha dengan tingkat kematangan gender terbatas, fungsi kelembagaan dan kegiatan harus diperbaiki sehingga kelompok usaha perikanan mampu mencapai kategori tingkat kematangan gender berkembang dan maju. Fungsi kelembagaan kelompok usaha perikanan itu harus bergeser dari:

Kelompok penerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan kelompok 1. dan pelaksana program (objek pembangunan), menjadi kelompok

yang berfungsi sebagai subjek pembangunan berorientasi pasar.

Sebagai objek pembangunan kelompok usaha tersebut menyebabkan timbulnya friksi sosial pada lingkungannya bahkan konflik sosial dalam masyarakat. Friksi sosial terjadi ketika kelompok itu menerima bantuan atau melaksanakan kegiatan pelatihan hanya untuk kelompok itu saja.

Hal ini terjadi karena anggota kelompok terdiri dari orang-orang yang memiliki skill yang sama, bahkan anggotanya merupakan kerabat ketua kelompok. Ikatan horizontal tersebut mendorong kelompok usaha perikanan tersebut tidak responsif gender.

Sebagai subjek pembangunan, anggota kelembagaan memiliki skill yang berbeda, ikatan vertikal harus dikembangkan dengan kelembagaan atau kelompok lain untuk mengoptimalkan bantuan yang diberikan pemerintah serta memanfaatkan berbagai potensi ekonomi di luar kelompok. Kelompok usaha perikanan sebagai subjek pembangunan dapat menjadi pelopor peningkatan skill dalam masyarakat, serta pemerataan pendapatan sehingga menjadi motor pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Kelompok usaha yang demikian dapat disebut sebagai agen perubahan yang dapat berfungsi sebagai wadah mempertahankan budaya, dan mampu membangun sosial kapital masyarakat.

Sasaran kerja kelompok yang semula berorientasi internal kelompok 2. dan tergantung pada bantuan dan advokasi bantuan pemerintah, menjadi lembaga yang berorientasi masyarakat yang mampu mengakses modal, teknologi, mampu memberi kesempatan kerja pada perempuan serta mempengaruhi kebijakan upah.

Kelompok yang statis dan pasif hanya menunggu dan berharap dari 3. pemerintah menjadi lembaga yang dinamis dengan berbagai kegiatan sehingga mampu melakukan negosiasi untuk mengakses sumber

168

Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan

permodalan, sumber teknologi, kondisi kerja dan waktu kerja, serta perbaikan upah. Kemampuan negosiasi tersebut merupakan salah satu strategi untuk mengatasi ketidakadilan dan tidak setara gender pada perekonomian.

Sifat kegiatan kelompok usaha perikanan harus diubah dari yang berorientasi pasif, menunggu pelaksanaan kegiatan untuk dilatih atau ikut magang yang direncanakan pemerintah atau stakeholder lain, menjadi kelompok usaha yang menawarkan berbagai materi pelatihan atau sebagai tempat pelatihan/magang untuk kelompok usaha perikanan yang lain.

Kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh kelompok yang memiliki jaringan kerja yang luas dengan berbagai kepakaran sehingga implementasi pengarusutamaan gender telah berjalan dengan baik.

Demikian juga dari kegiatan yang bersifat pasif yang mengacu pada konsep

“trickle down effect”, di mana yang dilatih dapat melanjutkan hasil latihan kepada kelompok lain. Namun, trickle down effect tersebut efektivitasnya terbatas karena anggota yang telah dilatih tidak dapat memberikan hasil pelatihan kepada anggota kelompok atau kelompok lain karena berbagai kendala, terutama tingkat pendidikan anggota kelompok yang rendah serta alokasi waktu kerja domestik cukup besar dibandingkan kerja produktif.

Kesimpulan

Konsep kematangan gender adalah pendekatan yang digunakan untuk mengetahui kapasitas kelompok usaha perikanan dalam implementasi strategi pengarusutamaan gender pada masyarakat perikanan. Tingkat kematangan gender terkait erat dengan tingkat responsif gender kelompok usaha perikanan. Kelompok usaha perikanan yang dibentuk oleh pemerintah cenderung berada pada kategori tingkat kematangan gender terbatas karena kelompok usaha perikanan tersebut dibentuk dengan struktur kelembagaan serta persyaratan yang seragam. Pengaruh kelompok usaha perikanan tersebut pada komunitas di desa atau masyarakat luas sangat terbatas.

Kelompok usaha perikanan yang terdapat di desa tersebut cenderung memicu friksi sosial, antara anggota kelompok dengan anggota masyarakat karena anggota kelompok usaha perikanan tersebut umumnya adalah

169

Epilog: Mengukur Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan

kerabat dekat dari ketua kelompok. Fenomena kelompok usaha perikanan tersebut membuat tingkat sensitif gender kelompok tersebut sangat terbatas.

Kesetaraan dan keadilan gender dalam desa mensyaratkan kelembagaan kelompok usaha perikanan yang dibentuk cakupannya seluruh masyarakat desa. Jika demikian maka diperlukan desain kelembagaan kelompok usaha perikanan menjadi sebuah gerakan desa. Gerakan ini dapat memperkuat tingkat responsif gender di dalam desa sehingga kesetaraan gender dan keadilan gender dapat diwujudkan melalui kepedulian kelompok usaha tersebut terhadap ketersediaan kesempatan kerja laki-laki dan perempuan, serta upah yang adil dan sesuai.

Kelembagaan kelompok usaha perikanan skala desa anggotanya heterogen. Kelembagaan yang demikian memerlukan tokoh entrepreneur desa yang dapat mendukung peningkatan produksi hasil perikanan, memperluas kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha untuk laki-laki dan perempuan sehingga friksi sosial di dalam masyarakat desa dapat dikendalikan.

Dengan demikian dalam konsepsi pengarusutamaan gender, kelompok usaha dengan skala desa menjadi titik sentral di dalam mewujudkan kematangan gender pada masyarakat perikanan. Gerakan kelompok usaha perikanan skala desa, menjadikan desa sebagai kawasan bisnis penting yang menjadi penopang hidup masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Daftar Pustaka

Barclay K, Leduc B, Mangubhai S, Vunisea A, Namakin B, Teimarane M, Leweniqila L. 2019. Module 1: Introduction. In: Barclay K., Leduc B., Mangubhai S. and Donato-Hunt C. (eds.). Pacific Handbook for Gender Equity and Social Inclusion in Coastal Fisheries and Aquaculture. Pacific Community (SPC), Noumea, New Caledonia. 20 p.

Fesenko T, A Shakhov, G Fesenko. 2017. Modeling of maturity of gender-oriented project management office. Eastern-European Journal of Enterprise Technologies. 5(3): 89. DOI: 10.15587/1729-4061.2017.110286.

170

Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan

International Trade Centre. 2020. Mainstreaming Gender in Free Trade Agreements. Geneva: ITC.

Moskowitz M. 2014. Gender, maturity, and “going out into the world”:

self-referent term choice at Ogasawara Middle School. U.S. Japan Women’s Journal. 47: 73–99. DOI: 10.1353/jwj.2015.0002.

Ponthieux S, Dominique M. 2015. Gender inequality. Handbook of Income Distribution. Chapter 12. 2: 981–1146.

Syahyuti. 2004. Model Kelembagaan Penunjang Pengembangan Pertanian di Lahan Lebak. Workshop Nasional Pengembangan Lahan Rawa Lebak, Balittra Tanggal 11–12 Oktober 2004 di Banjarbaru Dan Kandangan, Kalimantan Selatan.

Suradisastra K. 2006. Revitalisasi kelembagaan untuk percepatan pembangunan sektor pertanian dalam otonomi daerah. Analisis Kebijakan Pertanian. 4(4): 281–314.

Soetrisno L. 1990. Peranan wanita dalam pembangunan: suatu perspektif sosiologis. Populasi. 1(1): 13–21.

Sofiani T. 2009. Membuka ruang partisipasi perempuan dalam pembangunan. Muwazah. 1(1): 63–71.

Yustika AE. 2012. Ekonomi Kelembagaan Paradigma, Teori dan Kebijakan.

Jakarta: Penerbit Erlangga. 303 p.