DI KABUPATEN SUMBA TIMUR
Permana Ari Soejarwo, Risna Yusuf, Hikmah, dan Sapto Adi Pranowo Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Gedung BRSDM 1 Lt. 4, Jl. Pasir Putih 1- Ancol Timur. Jakarta Utara 14430 email: [email protected]
Pendahuluan
Peran gender adalah peran yang dilakukan laki-laki dan perempuan sesuai dengan status lingkungan, budaya dan struktur masyarakat. Peran tersebut mempunyai fungsi dan tanggung jawab sebagai konstruksi sosial buatan manusia, dapat berubah menurut waktu dan budaya. Sementara itu, dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan ditelusuri dari akses, kepemilikan dan kontrol yang akan menentukan kesetaraan gender relasi laki-laki dan perempuan dalam suatu komunitas (Makalle 2012).
Pengarusutamaan gender dalam pengelolaan sumber daya alam implementasinya masih teori dan pengetahuan (Jonsson 2014).
Implementasi pengarusutamaan gender dalam pengelolaan sumber daya alam mencakup proses pengambilan keputusan pada berbagai hierarki sehingga dampaknya komprehensif dan produktif (Castro et al. 2017).
Relasi laki-laki dan perempuan telah menjadi perdebatan sehingga masuk dalam agenda tujuan pembangunan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-5 tentang kesetaraan gender (Alfirdaus 2018).
Sektor budi daya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu sektor unggulan di bidang kelautan dan perikanan. Sentra penghasil rumput laut terdapat di Kecamatan Pahunga Lodu, Kecamatan Rindi,
104
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
Kecamatan Wula Waijelu dan Kecamatan Umalulu. Namun demikian, pada sektor tersebut masih terdapat gender gap dalam hal peran laki-laki dan perempuan, baik pada tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi budi daya rumput laut. Pada tahap pra produksi, gender gap terlihat pada proses pembelian bibit rumput laut dan penentuan metode tanam. Sementara itu pada tahap produksi terlihat pada proses pemeliharaan rumput laut, sedangkan pada tahap pasca produksi terlihat pada proses pemanenan rumput laut. Gender gap yang terjadi pada proses tersebut adalah peran laki-laki yang lebih dominan daripada perempuan.
Akan tetapi pada proses lain, seperti modal usaha rumput laut, pengikatan bibit rumput laut dan pengeringan rumput laut di Sumba Timur sudah terdapat kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui peran gender pada usaha budi daya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur yang berperan penting dalam mendukung peningkatan pendapatan masyarakat pesisir.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli Tahun 2018 di Kabupaten Sumba Timur. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumba Timur. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan pembudidaya rumput laut di 4 Kecamatan dengan total responden sebanyak 40 orang.
Responden ditentukan berdasarkan purposive sampling dengan memilih secara sengaja berdasarkan kedekatan tujuan penelitian, karena sampel ini dianggap memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat memperkaya data peneliti (Pratiwi 2015). Data terpilah gender yang dikumpulkan adalah data pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumba Timur, Koperasi rumput laut, PT ASTIL, serta publikasi dan laporan ilmiah dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Hasil analisis data diuraikan secara deskriptif.
Gambaran Umum Peran Gender Pada Usaha Budi Daya Rumput Laut
Berdasarkan hasil lapang diperoleh 40 sampel responden yang tersebar di empat kecamatan penghasil rumput laut ditampilkan pada Tabel 1.
Hasil lapang tersebut menggambarkan bahwa karakteristik masyarakat pada mata pencaharian budi daya rumput laut tidak memandang
Potret Gender pada Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Sumba Timur
105 perbedaan jenis kelamin dan usia (Sitaniapessy 2018). Berdasarkan faktor usia, baik laki-laki maupun perempuan di keempat Kecamatan tersebut mayoritas berada pada kategori usia produktif yaitu 25 tahun hingga 45 tahun. Pada Kecamatan Pahunga Lodu, responden perempuan mayoritas berada pada usia produktif. Sementara itu, range usia responden laki-laki di kecamatan ini tersebar cukup merata yaitu < 25 tahun, usia produktif dan
> 45 tahun. Selanjutnya di Kecamatan Rindi, baik responden perempuan dan laki-laki mayoritas berada pada usia produktif. Pada Kecamatan Wula Waejelu dan Umalulu, mayoritas respoden laki-laki dan perempuan juga terdapat pada usia produktif. Dan sisanya berusia > 45 tahun. Lebih lanjut secara umum pada Kecamatan Pahunga Lodu, Rindi dan Wula Waejelu, jumlah responden perempuan yang berada pada usia produktif lebih tinggi daripada laki-laki. Sementara di Kecamatan Umalulu responden laki-laki pada usia produktif lebih tinggi daripada perempuan.
Secara umum tingkat pendidikan di keempat kecamatan penghasil rumput laut, mayoritas adalah lulusan SD (Sekolah Dasar). Pada Kecamatan Pahunga Lodu dan Wula Waejelu, seluruh responden perempuan adalah lulusan SD, responden laki-laki mayoritas lulusan SD dan sisanya lulusan SMP dan SMA. Hal tersebut berlawanan dengan tingkat pendidikan responden di Kecamatan Rindi yang terdapat seluruh responden laki-laki adalah lulusan SD, sementara mayoritas responden perempuan lulusan SD dan sisanya lulusan SMP. Selanjutnya pada Kecamatan Umalulu, responden laki-laki dan perempuan mayoritas lulusan SD dan sisanya adalah lulusan SMP.
Hal tersebut menunjukkan bahwa responden laki-laki dan perempuan di seluruh Kecamatan memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik.
Tingkat pendidikan sangat berhubungan erat dengan peningkatan umum dan pemahaman terhadap lingkungan kehidupan manusia serta proses pengembangan pengetahuan, kecakapan/keterampilan, pikiran, watak, dan karakter (Pakpahan 2014).
Pengalaman kerja di sektor budi daya rumput laut pekerja laki-laki dan perempuan mayoritas memiliki pengalaman kerja kurang dari 10 tahun, namun terdapat responden yang memiliki pengalaman kerja antara 10–20 tahun dan > 20 tahun. Keempat Kecamatan, seluruh responden perempuan memiliki pengalaman kerja < 10 tahun. Sementara itu, responden laki-laki memiliki pengalaman kerja yang bervariasi. Hal tersebut disebabkan laki-laki memiliki akses pekerjaan yang lebih besar karena stigma laki-laki adalah tulang punggung keluarga.
106
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
Tabel 1 Sebaran karakteristik responden di Kecamatan Pahunga Lodu, Rindi, Wula Waejelu dan Umalulu, Tahun 2018 ParameterPahunga LoduRindiWula WaejeluUmalulu Laki-LakiPerempuanLaki-LakiPerempuanLaki-LakiPerempuanLaki-LakiPerempuan Jumlah Responden55555564 UsiaXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX a. < 25 Tahun11110000 b. 25–45 Tahun24343432 c. > 45 Tahun20102132 PendidikanXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX SDa.35543543 SMPb.10011021 SMAc.10001000 Pengalaman KerjaXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX a. < 10 Tahun35352544 b. 10–20 Tahun20103010 c. > 20 Tahun00100010 Sumber : Yusuf et al. (2018)
Potret Gender pada Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Sumba Timur
107 Gender gap peran laki-laki dan perempuan dalam usaha budi daya rumput laut terlihat pada masing-masing tahapan proses pra produksi, produksi dan pasca produksi (Gambar 1). Pada tahapan pra produksi, peran laki-laki lebih dominan daripada perempuan dalam proses pembelian bibit rumput laut. Sebaliknya pada proses pengikatan bibit rumput laut, peran perempuan lebih dominan daripada laki-laki. Sementara itu pada tahap produksi peran laki-laki pada seluruh prosesnya lebih dominan daripada perempuan, yaitu pada proses metode budi daya dan proses pemeliharaan rumput laut. Selanjutnya pada tahap pasca produksi peran laki-laki lebih dominan daripada perempuan yaitu pada proses pemanenan dan pemasaran, akan tetapi pada proses pengeringan peran perempuan lebih dominan daripada laki-laki.
81
memiliki pengalaman kerja yang bervariasi. Hal tersebut disebabkan laki-laki memiliki akses pekerjaan yang lebih besar karena stigma laki-laki adalah tulang punggung keluarga.
Tabel 1. Sebaran karakteristik responden di Kecamatan Pahunga Lodu, Rindi, Wula Waejelu dan Umalulu, Tahun 2018
Parameter Pahunga Lodu Rindi WulaWaejelu Umalulu
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan
Jumlah Responden 5 5 5 5 5 5 6 4 pada masing-masing tahapan proses pra produksi, produksi dan pasca produksi (Gambar 1). Pada tahapan pra produksi, peran laki-laki lebih dominan daripada perempuan dalam proses pembelian bibit rumput laut. Sebaliknya pada proses pengikatan bibit rumput laut, peran perempuan lebih dominan daripada laki-laki. Sementara itu pada tahap produksi peran laki-laki pada seluruh prosesnya lebih dominan daripada perempuan, yaitu pada proses metode budidaya dan proses pemeliharaan rumput laut. Selanjutnya pada tahap pasca produksi peran laki-laki lebih dominan daripada perempuan yaitu pada proses pemanenan dan pemasaran, akan tetapi pada proses pengeringan peran perempuan lebih dominan daripada laki-laki.
Sumber: Data primer diolah, 2020
Gambar 1 Aktivitas gender pada tahapan budi daya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur
Kronen et al. (2010) menyebutkan bahwa gender memiliki peran penting dalam kegiatan budi daya rumput laut yang mempunyai hubungan yang linier secara statistik antara jumlah keterlibatan pekerja laki-laki dan perempuan dengan pendapatan tahunan yang diperoleh. Lebih lanjut, pembahasan gender gap pada masing-masing tahapan dijelaskan sebagai berikut:
108
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan