Robbins (2001) memberikan pengertian persepsi adalah proses individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Jadi persepsi merupakan suatu proses individu untuk mengenali lingkungan dengan interpretasi mereka yang mungkin akan berbeda antar individu lainnya. Dari berbagai defenisi yang dikemukakan di atas disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pemberian arti atau makna terhadap suatu objek yang ada pada lingkungan. Dengan demikian, setiap orang mempunyai persepsi sendiri-sendiri karena perbedaan kemampuan inderanya dalam menangkap stimuli (objek).
Menurut Sigit (2003), nilai ialah keyakinan yang bertahan lama mengenai sesuatu yang dianggap berharga (wortwhile), penting. (importance), mempunyai arti (meaningfull), diinginkan (desirable), dan diprioritaskan (preferable). Robbins (2001) menyatakan bahwa nilai adalah suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas lebih disukai secara pribadi atau sosial daripada suatu modus perilaku atau keadaan yang berlawanan. Dengan demikian, nilai dapat diartikan sesuatu yang diinginkan, penting dan memiliki arti sehingga diperjuangkan untuk direalisasikan. Nilai adalah keyakinan dasar bahwa suatu cara tingkah laku khas lebih disukai secara pribadi atau sosial daripada cara tingkah laku yang sebaliknya.
Dalam konteks persepsi dan nilai gender pada rumah tangga nelayan di Desa Cituis, Tabel 1 sebesar 40% nelayan mengemukakan bahwa istri adalah makhluk yang lebih lemah secara fisik dan mental dari suami sehingga wajar berada dalam posisi sosial yang lebih rendah dalam keluarga. Selain itu 31,43% nelayan mengemukakan istri mampu memberi kontribusi tetapi tidak lebih dari suami dalam menghidupi keluarga.
Di sisi lain, sebesar 40% istri nelayan mengemukakan bahwa istri mampu memberi kontribusi tetapi tidak lebih dari suami dalam menghidupi keluarga. Kemudian 28,57% istri nelayan menyatakan bahwa istri dan suami menyadari perbedaan jenis kelamin tidak harus dipertentangkan dalam menghidupi keluarga, tetapi justru bersifat saling mendukung dan
90
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
melengkapi. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa pada rumah tangga nelayan di Kabupaten Tangerang persepsi kontribusi perempuan dalam menghidupi keluarga sebagai sub-ordinat suami. Persepsi istri ini juga sejalan dengan persepsi suami yang mengakui kontribusi istri, namun masih dianggap tidak lebih dari suami dalam kontribusi keluarga.
Selanjutnya, masih ditemukan adanya persepsi stereotipe terhadap perempuan di mana istri adalah makhluk yang lebih lemah secara fisik dan mental dari suami sehingga perempuan dianggap wajar berada dalam posisi sosial yang lebih rendah dalam keluarga.
Dari persepsi para suami dan istri tersebut menunjukkan stereotipe dan subordinat dalam pandangan rumah tangga nelayan terhadap kaum perempuan, sehingga ini menimbulkan ketimpangan gender dalam rumah tangga nelayan (Fakih 1996).
Tabel 1 Persepsi gender dalam rumah tangga nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang, Tahun 2018
Persepsi tentang gender Sebaran
responden Persentase (%) Suami Istri Suami Istri 1. Istri adalah makhluk yang lebih lemah secara
fisik dan mental dari suami sehingga wajar berada dalam posisi sosial yang lebih rendah dalam keluarga.
14 5 40,00 14,29
2. Istri mampu memberi kontribusi tetapi tidak
lebih dari suami dalam menghidupi keluarga. 11 14 31,43 40,00 3. Istri tidak lebih lemah dari suami sehingga wajar
bila berkedudukan sejajar dalam mengatur
keluarga. 1 3 2,86 8,57
4. Istri mampu memberi kontribusi lebih dari suami dalam menghidupi keluarga dan layak
untuk mengelola keluarga. 0 3 - 8,57
5. Istri dan suami menyadari bahwa perbedaan jenis kelamin tidak harus dipertentangkan dalam menghidupi keluarga, tetapi justru bersifat saling mendukung dan melengkapi.
9 10 25,71 28,57
Keterangan: N= 35 Responden
Sumber: Data Primer diolah, Tahun 2018
Analisis Gender pada Rumah Tangga Nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang
91 Persepsi tentang gender ini berkorelasi dengan nilai gender yang tercermin dari jawaban para responden yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai gender menurut sebagian besar (85,71%) suami menganggap bahwa tugas istri adalah mengurus rumah tangga saja, tugas suami adalah mencari nafkah bagi keluarga.
Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat nelayan yang memiliki pola pembagian kerja secara seksual yang sangat kuat pengaruhnya secara kultural, yaitu laut adalah wilayah laki–laki, sedangkan darat adalah wilayah perempuan. Namun demikian, berdasarkan alasan ekonomi, yaitu penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga maka umum terjadi dalam masyarakat nelayan istri harus bekerja untuk ikut menambah penghasilan keluarga (Kusnadi 2001).
Tabel 2 Nilai gender dalam rumah tangga nelayan di Kabupaten Tangerang, Tahun 2018
Nilai gender Sebaran
responden Persentase (%) Suami Istri Suami Istri 1. Tugas istri adalah mengurus rumah
tangga saja, tugas suami adalah mencari
nafkah bagi keuarga 30 2 85,71 5,71
2. Tugas utama istri adalah mengurus rumah tangga tetapi boleh membantu tugas suami dalam mencari nafkah sedangkan tanggung jawab mencari nafkah utama tetap tugas suami
3 28 8,57 80,00
3. Tugas istri mengurus rumah tangga boleh digantikan orang lain bila ia mampu mencari nafkah untuk keluarga dalam jumlah yang besar
0 0 0 0
4. Tugas suami tidak hanya mencari nafkah bagi keluarga, tetapi juga harus mau membantu atau berbagi tugas dengan istri mengurus rumah tangga
0 0 0 0
5. Tugas utama istri mengurus rumah tangga dan tugas utama suami mencari nafkah bagi keluarga boleh bertukar apabila ekonomi memang menguntungkan
2 5 5,71 14,29
Keterangan: N=35 Responden
Sumber: Data Primer diolah, Tahun 2018
92
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
Kondisi tersebut di atas sesuai pula dengan pernyataan sebagian besar (80%) istri nelayan mengemukakan bahwa tugas utama istri adalah mengurus rumah tangga, tetapi boleh membantu tugas suami dalam mencari nafkah, sedangkan tanggung jawab mencari nafkah utama tetap tugas suami. Keterlibatan perempuan dalam sektor domestik memang dianggap sebagai peran kodrati sebagai ibu rumah tangga dan keterlibatan mereka di sektor publik disebut sebagai peran ganda. Pada setiap kebudayaan, perempuan dan laki-laki diberi peran dan pola tingkah laku yang berbeda untuk saling melengkapi, perbedaan kodrati dari kedua makhluk ini. Winarti et al. (2008) berpendapat bahwa bergesernya perubahan peran atau tepatnya nilai-nilai sosial budaya yang berkembang di masyarakat menjadikan perempuan memiliki tanggung jawab tidak hanya pada sektor domestik, tetapi juga pada sektor publik. Hal ini dipertajam dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja perempuan yang kemudian memunculkan peran ganda bagi perempuan itu sendiri.