Pemberdayaan menurut Parsons et al. (1994), menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain
Gender pada Program Bantuan Perikanan di Kecamatan Padang Jaya - Bengkulu Utara
129 yang menjadi perhatiannya. Program bantuan KKP yang awalnya hanya melibatkan peran kaum laki-laki, mampu melibatkan peran perempuan dalam usaha perikanan di Kecamatan Padang Jaya. Program yang diawali dengan melibatkan kaum perempuan dalam diskusi mengenai pentingnya upaya dalam meningkatkan keterampilan disambut baik oleh motivasi mereka. Pada diskusi tersebut, perempuan mendapatkan ruang untuk menyampaikan harapannya sebagai ibu rumah tangga serta kepedulian terhadap dukungan pembangunan kelautan dan perikanan. Dalam konteks ini, suami telah memberikan akses dan partisipasi.
Sebuah diskusi yang pada umumnya hanya melibatkan pembudidaya sebagai kepala keluarga, nyatanya mampu menjadikan motivasi istri pembudidaya di Kecamatan Padang Jaya menyumbangkan pendapatnya.
Perubahan pola pikir yang awalnya hanya direkam pada pribadi, mulai muncul dengan cara menyampaikan keinginan dan harapan sebagai ibu rumah tangga yang mampu membantu suaminya bekerja, tanpa mengganggu pekerjaan utama. Kondisi semakin mendesaknya kebutuhan rumah tangga, menjadikan motivasi mereka untuk dapat mencari nilai dari waktu yang tersisa di dalam rumah. Mereka berharap adanya satu perhatian dari pemerintah yang mampu mengangkat martabat perempuan melalui sebuah pelatihan. Kondisi dan modal sosial dari masyarakat tersebut menjadi dinilai sesuai dengan tujuan dari program KKP yaitu PUMP Pengolahan.
Program PUMP budi daya telah diberikan kepada pembudidaya, nyatanya memerlukan peran istri atau kaum perempuan dalam keberhasilannya.
PUMP Pengolahan yang memberikan pelatihan mengenai diversifikasi pengolahan menjadi sarana mendukung kerberhasilan program bantuan melalui kegiatan yang diminati oleh para istri pembudidaya di Kecamatan Padang Jaya. Dengan berbekal pengalaman memasak dalam rumah tangga, setidaknya untuk memahami sebuah teknologi pengasapan ikan bukan menjadi sesuatu yang sulit bagi mereka. Setelah melakukan 2 (dua) hari pelatihan, dan selanjutnya 1 (satu) hari mempelajari mengenai managemen usaha serta pemasaran maka mereka melanjutkan untuk membuat kelompok. Bertahap dari 5 orang dalam 1 (satu) kelompok, bertambah hingga menjadi 10 (sepuluh) orang. Kelompok ini memiliki anggota yang seluruhnya adalah pemula untuk usaha pengasapan ikan.
Namun dengan modal keyakinan dan keterampilan yang diperoleh,
130
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
saat ini mereka mampu melayani konsumen lokal, pasar lokal, serta mengembangkan usaha olahan rengginang. Mereka menjadi merasa memiliki nilai dari hasil usaha pengolahan melalui kontribusi pendapatan ke dalam rumah tangga. Salah satu motivasi perempuan bekerja adalah adanya keinginan mengaktualisasikan diri serta berperan dalam ekonomi keluarga (Handayani & Artini 2009).
Keberhasilan suatu program tidak saja dilihat dari konteks indikator output saja seperti terlaksananya tujuan program bantuan, namun dari aspek gender. Kaum maskulinitas mampu memberikan arahan kepada istrinya sebagai kaum feminitas. Kaum feminitas menjadi sebuah objek yang mampu diarahkan pada peningkatan nilai dan kapasitasnya.
Peran pembudidaya yang awalnya menemui kendala belum optimalnya pemasaran hasil perikanan, kini mampu mempertahankan peningkatan produksi dengan pemasaran hasil budi daya secara optimal. Peran pengolah dalam meningkatkan nilai secara pribadi yaitu dari yang belum mampu menguasai proses teknologi pengasapan ikan dan akhirnya menguasai proses teknologi pengasapan tersebut. Dalam hal ini, tingkat kepercayaan perempuan menjadi lebih tinggi dan memiliki nilai lebih.
Di samping itu, peran lain adalah memberikan kontribusi terhadap rumah tangga. Meskipun jika menjadi pengolah yang merupakan pemula, tentunya belum memberikan pendapatan yang besar, namun kontribusi tersebut dinilai memberikan indikator adanya peningkatan pada tingkat pendapatan rumah tangga. Selanjutnya dengan komitmen, kerja sama istri pembudidaya dan suaminya, perlahan usaha tersebut menjadi usaha yang lebih menjanjikan. Potret keberhasilan ini terhitung masih kecil, namun akan menjadi besar ketika seluruh perempuan ibu rumah tangga memiliki motivasi dan peran aktif. Kelautan dan Perikanan menjadi kuat dengan dukungan masyarakat melalui upaya peningkatan keterampilan dan perbaikan perekonomian seperti ini.
Kelompok usaha pengolahan ikan yang terdiri dari perempuan dan suami yang tergabung dalam usaha budi daya ikan, di Kecamatan Padang Jaya, merasa yakin dengan bekal pelatihan tersebut dapat memberikan dampak positif dalam mendorong pembangunan perikanan, melalui peningkatan produksi serta peningkatan nilai tambah dan daya saing hasil perikanan.
Dampak positif yang langsung dirasakan oleh suami istri adalah peningkatan
Gender pada Program Bantuan Perikanan di Kecamatan Padang Jaya - Bengkulu Utara
131 kapasitas mereka sebagai perempuan serta mampu membantu menambah pendapatan keluarga melalui usaha pengolahan. Pada proses berjalannya waktu, para istri pembudidaya melalui kelompok, bersepakat dan mampu menunjukkan komitmennya. Bahwa usaha pengolahan yang dikerjakan tidak akan mengurangi waktu dalam menjalankan tugas domestik atau kegiatan rumah tangga.
Sesuai dengan beberapa faktor-faktor yang mendorong motivasi gender dalam menunjang keberhasilan program bantuan perikanan, diperlukan upaya yaitu: a) melibatkan calon penerima bantuan dalam proses perencanaan untuk menjalankan kegiatan bantuan. Hal ini dilakukan pada penanggung jawab progam bantuan di lokasi penerima bantuan atau dinas perikanan setempat; b) menganalisis faktor-faktor yang mampu mendorong keberlanjutan program bantuan. Calon penerima bantuan merupakan objek yang ditargetkan oleh pemerintah dalam menjalankan program yang akan dijalankan. Mereka menjadi aktor penting dalam memperoleh informasi yang diperlukan untuk memulai pelaksanaan program dalam suatu lokasi. Partisipasi perempuan di sini menjadi indikator bahwa keterlibatan mereka, menjadi penting bagi pemerintah yang menjadi leader pelaksanaan program, dalam hal ini adalah KKP. Partisipasi merupakan peran serta dalam suatu kegiatan, keikutsertaan atau peran serta suatu kegiatan, peran serta aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan.
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), partisipasi menjadi sebuah bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam proses kegiatan. Dengan melibatkan partisipasi calon penerima bantuan, pengambil kebijakan akan memperoleh informasi mengenai harapan maupun perkiraan kendala yang akan dihadapi oleh calon penerima bantuan. Hasil ini menjadi bahan analisis pemilik kebijakan dalam menentukan alternatif lain yang memudahkan pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan program bantuan.
Analisis faktor-faktor yang mendorong keberlanjutan program adalah salah satu upaya dalam menemukan strategi dalam mempermudah, memperlancar, serta menciptakan keberhasilan program yaitu melakukan peningkatan nilai daya saing produksi perikanan melalui pemberdayaan perempuan. Seperti halnya pada penelitian ini, dapat diketahui bahwa
132
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
faktor-faktor yang mendorong motivasi adalah menjadi faktor yang mendorong keberlanjutan program bantuan. Analisis tersebut dapat diketahui sebelum pelaksanaan program bantuan di suatu wilayah.
Kesimpulan
Peran laki-laki dan perempuan yang saling mendukung, menjadi objek penting dalam keberhasilan sebuah program pemberdayaan perempuan.
Dalam hal ini, peran suami dalam membuka akses dan partisipasi kepada istrinya. Kekuatan perempuan dipetik dari motivasi, peran, serta harapan positif yang diperoleh dari suami. Komitmen dalam rumah tangga menjadi jaminan tidak terganggunya pekerjaan utama sebagai ibu rumah tangga.
Tumbuhnya motivasi dari seorang perempuan adalah karena adanya sebuah tantangan, dan tanggung jawab. Peran menjadi sebuah respons dalam mengaktualisasikan diri setelah mendapatkan kesempatan.
Dukungan menjadi suatu jalan memudahkan peran perempuan menjalankan kinerja produktif. Laki-laki dalam hal ini suami menjadi orang yang berpengaruh (significant people) bagi perempuan atau istrinya. Sikap direfleksikan dalam bentuk dukungan yang diterima istri untuk melakukan suatu peran.
Baik motivasi, peran, harapan dan dukungan tidak mampu dibentuk dalam sebuah program. Namun, baik motivasi, peran, harapan dan dukungan muncul dari hati nurani maupun kesadaran diri manusia. Program bantuan hasil perikanan menjadi salah satu fasilitator yang memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi lebih memiliki nilai baik bagi dirinya sendiri, suami, serta masyarakat dalam mendukung pembangunan kelautan dan perikanan. Kekuatan yang muncul dari manusia akan menjadi lebih kuat untuk bertahan dalam sebuah usaha.
Program tersebut sifatnya dinamis, dalam hal ini tidak selalu diberikan pada objek atau sasaran yang sama, tentunya dapat diinterpretasikan oleh banyak objek. Peran laki-laki diperlukan dalam memahami pentingnya peran istri dalam dukungan usaha. Peran perempuan mandiri cukup diberikan sebuah stimulasi singkat. Selanjutnya, mengembangkan adalah salah satunya upaya menjadi mandiri. Seperti halnya dalam kelompok usaha yang dijalankan dari kelompok perempuan di Kecamatan Padang Jaya, berawal menjalankan usaha pengasapan ikan dan krispi ikan, dapat
Gender pada Program Bantuan Perikanan di Kecamatan Padang Jaya - Bengkulu Utara
133 mengembangkan usaha olahan rengginang. Ini menjadi indikator dari keberhasilan sebuah program pemberdayaan perempuan melalui PUMP KKP perlu didukung adanya keterlibatan partisipasi calon penerima bantuan.
Pemerintah hendaknya sudah mulai memiliki kepatuhan dalam menjalankan kegiatan yang senantiasa responsif gender. Responsif gender tidak hanya diarahkan pada kaum laki-laki, namun perempuan memiliki hak yang sama dalam meraih akses dan partisipasi.
Saran tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah KKP dengan menyusun kuesioner pra pelaksanaan program pada wilayah yang akan menjadi calon lokasi penerima bantuan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan menggandeng unit kerja yang mengkapasitasi aspek sosial ekonomi kelautan dan perikanan. Hal ini menjadi sangat penting karena faktor keberlanjutan dari suatu program akan terdeskripsikan melalui analisis aspek sosial dan ekonomi dari masyarakat sebagai calon penerima bantuan.
Di samping itu juga melibatkan partisipasi calon penerima bantuan pada proses pra pelaksanaan kegiatan sebagai bahan masukan bagi pemerintah, yang dapat difasilitasi oleh Dinas Perikanan setempat. Pada proses diskusi diperoleh gambaran mikro mengenai kondisi masyarakat calon penerima bantuan serta respons terhadap pemerintah, ketika diskusi yang berjalan. Kedua hal ini menjadi penting karena jika tidak dilaksanakan, permasalahan mengenai ketidakberlanjutan program akan terulang lagi, dan sarana prasarana pemerintah yang sudah mengalokasikan anggaran cukup besar akan menjadi tidak bermanfaat optimal. Di samping itu juga kecenderungan masyarakat yang semakin tanggap terhadap program pemerintah menjadi pertimbangan. Masyarakat sudah semakin memilih program pemerintah yang tepat bagi mereka.
Ucapan Terima kasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak Dr. Rudi Alek, M.Si sebagai Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP), Dr. Armen Zulham sebagai Kakelti Sosial dan Kelembagaan serta sebagai penanggung jawab Buku Gender 2020, serta tim penelitian Gender dari Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.
134
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan