• Tidak ada hasil yang ditemukan

juta / bulan

Dalam dokumen Jakarta Undercover 3 bluefame com (Halaman 108-111)

3 or 4-Some Service

Rp 30 juta / bulan

SUASANA bar-lounge tidak banyak berubah. Ada tiga tamu baru yang tampaknya baru saja datang. Kali ini, saya duduk di sofa dan kembali memesan sebotol Corona. Mami Nana memanggil lima gadis lokal yang duduk bergerombol tak jauh dari saya. Begitu melihat mereka dari dekat, yang tak luput dari perhatian saya adalah baju mereka. Rok, misalnya. Kalau cuma mini, barangkali saya sering melihatnya di mal atau plaza. Tapi yang mereka kenakan, jauh di atas mini. Bagaimana tidak? Rok yang melilit di tubuh bagian bawah mereka, tak ada bedanya dengan swimwear. Begitu juga dengan baju penutup bagian atas. Rata-rata nyaris memperlihatkan sex appeal mereka. Transparan!

Julie dan Sally. Dua gadis lokal itu akhirnya menenami saya duduk di sofa. Julie berambut pirang (pastinya hasil olahan salon), berumur 20 tahun, dan berkulit sawo matang. Sementara Sally

berusia 21 tahun, dengan rambut warna hitam kecokelat-cokelatan, dan berkulit kuning langsat. Keduanya mengaku sama-sama dari Cirebon, Jawa Barat.

Julie baru empat bulan bekerja di CS. Sebe-lumnya, ia pernah bekerja di beberapa tempat hiburan malam seperti di karaoke BV sebagai LC (lady companion) — gadis pemandu lagu, di kawasan Kota dan sebagai theraphist (pemijat) di SR, sebuah tempat kebugaran di Kawasan Wijaya, Jakarta Selatan.

Selama menjadi LC dan therapist, Julie mengaku hanya sekali dua kali melakukan tran-saksi seks. Selebihnya, ia lebih banyak melakoni pekerjaannya sesuai aturan. Ya, paling-paling kalau pun harus menjurus pada aktivitas seksuai, itu tak lebih dari seks kecil seperti lapdance (menari di atas pangkuan) atau memberikan pelayanan seks hand-job pada klien. Itu saja!

Sementara, Sally sudah bergabung dengan CS sekitar enam bulan lebih. Sebelumnya, ia me-mulai karir dengan menjadi therapist di tempat pijat ST, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Sela-tan. Tapi hanya berjalan lima bulan, lalu ia memu-tuskan pindah ke CS.

Tidak berbeda dengan Julie, selama menjabat sebagai massage-girls, Sally lebih banyak berpraktik normal; memberikan pelanan pijat-memijat dalam arti sebenarnya. Kalaupun sekali dua kali harus terlibat pada aktivitas seksual, itu lebih dikarenakan faktor "X". Seperti, diam-diam dia menyukai tamu yang sudah jadi pelanggan tetapnya atau karena kebutuhan keuangan yang mendesak.

"Pelayanan seks tidak jadi prioritas. Kadang-kadang saja," ungkap Julie yang hanya tamatan SMP itu.

"Namanya juga kerja beginian. Kalo pas ke-temu tamu yang handsome, masak kita anggurin. Udah enak dapet duit lebih lagi," sergah Sally berterus terang.

Berbekal pengalaman sebagai LC dan thera-phist itulah, mereka akhirnya memutuskan ber-gabung di CS. Mereka tidak langsung bekerja begi-tu saja tapi mesti menjalani dulu proses trainings?'

lama dua sampai tiga minggu. Bukan apa-apa, dari segi pelayanan, masing-mastng tempat kebugaran punya spesialisasi. Treatment di CS misalnya, mengandalkan "body massage" sebagai jualan utama yang berujung pada pelayanan seksual. Meskipun

ISO

Julie dan Sally menguasai teknik pemijatan secara dasar, tetap saja harus menjalani pelatihan untuk memahami gerakan khususnya.

"Basic-nya. memang pijat tapi kalau body massage punya rumus gerakan sendiri," jelas Sally.

"Kalo pijat beneran kan menggunakan ta-ngan sebagai alat utama. Kalo body massage, ya mestinya menggunakan seluruh badan, terutama dada dan perut. Pokoknya semua deh. Ditambah lagi dengan gerakan mulut. Dan semua itu butuh latihan," imbuh Julie, panjang lebar.

Mereka tahu, bergabung di CS itu berarti mereka harus siap memberikan pelayanan seksual, lain tidak. Body massage, dalam praktiknya, hanya menjadi tahapan foreplay yang akan berlanjut pada "intercourse" dan terakhir, afterplay. Untuk tahapan terakhir ini, mereka biasanya dilatih untuk melakukan pijatan refreshing dan terakhir, memandikan tamu di shower atau di dalam whirl-pool.

"Praktiknya seperti apa ya kira-kira?" Pikiran saya jadi membayangkan adegan yang bukan-bukan.

Obrolan itu makin mengasyikkan. Satu demi

satu, sedikit banyak saya mulai tahu tentang gadis-gadis yang menjadi "penghuni" kelab CS. Belum lagi ditambah keterangan panjang lebar dari Mami Nana. Sesekali, wanita berumur sekitar 34 tahun itu ikut bergabung di meja kami.

"Ngobrol melulu, kapan masuk kamarnya?" sindir Mami Nana.

"Bentar lagi, Mam. Lagi seru nih ngobrolnya," jawab saya sambil melirik ke arah Julie dan Sally secara bergantian.

Mami Nana kembali berlalu, menyambut dua orang tamu yang baru masuk. Saya melanjutkan obrolan yang sempat terputus.

Dalam sehari, Julie dan Sally bisa mendapat-kan tamu, minimal satu-dua orang. Kalau kebe-tulan lagi ramai, bisa tiga sampai lima kali dari pukul 11.00 sampai 22.00 WIB (last order).

Untuk satu kali transaksi all-in (sekitar satu setengah jam), gadis lokal dipatok harga Rp 500 ribu, gadis Uzbek, Cungkok dan Thailand sebesar Rp 1,5 juta. Harga itu belum termasuk food & beverage (F&B) dan tip.

Dari harga itu, gadis-gadis di CS mendapatkan bagian sebesar 50-70%. Gadis lokal misalnya, dari

transaksi Rp 500 ribu, mereka memperoleh Rp 250 ribu. Sedangkan gadis "impor", dari harga Rp 1,5 juta bisa mengantongi uang sebesar Rp 1 juta. Urusan tip, sepenuhnya menjadi milik gadis-gadis CS.

Yang membuat saya tertarik adalah penda-patan per bulan yang bisa didapatkan anak didik Mami Nana itu. Dalam sebulan, dengan perkiraan terendah, gadis-gadis lokal bisa mengantongi uang Rp 12 hingga 15 juta. Estimasi tertinggi (tiga-empat kali dalam sehari), berarti bisa mendapatkan uang Rp 25 sampai 30 juta.

Sementara untuk gadis-gadis impor, penda-patan mereka per bulan dengan hitungan terendah senilai Rp 25 hingga 30 juta dan hitungan tertinggi bisa di atas Rp 50 sampai 60 juta. Untuk kasus terakhir, biasanya berlaku pada gadis-gadis impor yang menjadi primadona di CS.

"Untuk gadis impor, yang paling laku Cung-kok ama Uzbek. Sehari minimal mereka dapet satu tamu," terang Sally.

"Tapi, gadis lokal tetap paling favorit di sini," imbuh Julie, bangga.

malam ketika Mami Nana kembali muncul di meja kami.

"Jadi masuk nggak nih? Udah hampir sejam lho ngobrol-ngobrolnya," kata Mami Nana.

Ups! Rupanya, tanpa terasa hampir satu jam saya ngobrol dengan Julie dan Sally.

Belum juga saya menjawab, dari arah lorong kamar, muncul Dicky dengan rambut masih basah dan wajah sumringah. Dia tersenyum.

"Lo belum masuk dari tadi?" tanya Dicky sambil menghenyakkan diri di sofa.

"Belum. Gue keasyikan ngobrol dari tadi." "Udah, buruan masuk sekarang. Gue tungguin lo," sambung Dicky, setengah memaksa.

Saya tidak menjawab. Jam sudah melintasi angka 7. Musik syahdu terus mengalun, memenuhi tiap sudut ruangan.

"Ayolah, Bos. Minum sudah. Ngobrol su-dah. Mau apalagi? Tinggal berlabuh di surga dunia kan...," suara Julie dan Sally terngiang-ngiang di kepala saya. Terdengar begitu manja dan penuh ajakan. Surga dunia? Waduh, seperti apa wujudnya, saya belum berani membayangkannya. Mana tahan!

(10)

Dalam dokumen Jakarta Undercover 3 bluefame com (Halaman 108-111)