SWINGING sex!!! Banyak orang yang heboh gara-gara aktivitas seksual yang satu ini. Seks tukar pasangan, barter suami-istri dengan menggelar acara gila-gilaan. Temanya pun macam-macam. Ada yang melewati permainan tukar kunci, ada yang menggunakan atraksi "petak umpet" sampai mengundi nomor pasangan a la arisan ibu-ibu.
Percaya nggak percaya, itu terserah Anda. Tapi kalau melihat tren belakangan, maraknya "club-swinging", entah dalam skala besar dan kecil, tak luput membuat pemberitaan jadi makin heboh. Dengan semangatnya, orang-orang bergosip ten-tang swinging sex meskipun pada kenyataannya, banyak yang cuma denger-denger doang. Soal praktik, entar dulu. Yang penting, gosipnya dulu saja. Cerita soal swinging sex, mungkin tak kalah
serunya dengan berita infotainment yang mengupas habis-habisan tentang kasus kawin-cerai para selebriti yang setiap hari selalu jadi bead-line. Aduh, saya jadi pusing sendiri kalau lagi nonton di depan TV. Tiada hari tanpa gosip. Dalam sehari, saya bisa dijejali tayangan serupa, lima sampai sepuluh kali di stasiun TV berbeda. Ck.. ck.. .ck...hebat ya!
Cerita yang sama juga terjadi di dunia malam. Setiap hari, temanya tidak jauh dari urusan seks dan seks, party dan party. Salah satu tema hebohnya, ya itu tadi swinging sex. Karena penasaran dengan isu terbarunya, iseng-iseng saya telepon reman lama, Beni—sebut saja begitu, yang pernah jadi salah satu member "club swinging'. Sudah hampir lima bulan ini saya tidak bertemu dengan Beni. Terakhir kali ketemu, saya diajak ke sebuah party
gila yang dibikin di rumahnya, di kawasan Permata Hijau. Waktu itu, saya berpikir cuma pesta biasa. Nggak tahunya, Beni membuat party di kolam renangnya.
Swinging "Basah-basah"
RASA penasaran saya bertambah ketika mengetahui tamu undangan yang datang, jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang. Cowok-cewek. Saya juga nggak tahu persis, apa mereka sengaja datang dengan berpasangan-pasangan. Saya tahunya dapat undangan dan datang bawa badan.
Di kolam renang itu, sudah disiapkan aneka makanan dan minuman yang diletakkan di sebuah meja panjang. Tidak ada bartender atau pelayan. Semua self service! Seorang DJ, memainkan lagu-lagu disko. Singkat cerita, pool-party yang awal-nya berjalan smooth itu berubah jadi ajang tukar pasangan. Bentuk permainannya sederhana, ma-sing-masing tamu laki-laki dipersilakan menebak warna CD alias underwear yang dipakai pasangan perempuan dan sebaliknya. Begiru pasangan laki-laki menebak, saat itu juga pasangan perempuan akan memperrontonkan CD yang dikenakannya. Kalau cocok, berarti mereka bisa "dikawinkan" saat itu juga. Tinggal masuk ke kamar yang sudah disediakan, dan done\
Tempat eksekusi tidak melulu di kamar. Ada juga beberapa tamu yang memanfaatkan kursi di
pinggir kolam sebagai tempat untuk bermesraan. Bahkan, ada juga pasangan yang langsung nyebur kc kolam renang dengan baju masih melekat di badan. Ngapain? Ya apalagi kalau tidak bercinta dan bercumbu.
"Ini party swinging kelas dua," jelas Beni. Maksudnya, karena pasangan yang datang bukan suami-istri, makanya pesta swinging-nya. masuk kategori nomor dua.
"Di Jakarta, club swinging-nya kebanyakan bukan pasangan suami-istri betulan, tetapi pasangan jadi-jadian," jelas Beni.
"Maksud elo?"
"Ya, bisa pacar, selingkuhan atau, memang dengan sengaja di-booking untuk dibawa ke pesta
swinging. Begitu lho, Brur..!!!" imbuh Beni dengan fasih.
Sejak dari pesta di rumahnya itu, saya hanya kontak via handphone saja. Sekedar say hello atau berha-ha-ha-hi-hi-hi, kali saja ada pesta lebih edan lagi yang dibikin Beni. Bukan kabar pesta yang saya dapat, tetapi malah soal Beni yang lagi kasmaran. Ternyata, Beni yang sehari-hari mengelola usaha bisnis peti kemas itu, sedang kesengsem sama
60
seorang pramugari. Pantas, dia lebih banyak menghilang dari peredaran dunia malam. Laki-laki manapun kalau lagi jatuh cinta, susah memang. Bisa berubah 180 derajat dalam hitungan detik. Buktinya, Beni yang biasanya begitu doyan dengan
party-party gila itu, langsung jadi "anak manis". Rada nggak masuk akal, tetapi apa mau dikata kalau kenyataannya selama hampir empat bulan, Beni menghilang dari peredaran. Urusan sehari-harinya berubah jadi sibuk mengurusi pekerjaan dan perempuannya.
Beruntung pas saya telepon sore itu, ada kabar baik. Beni sudah putus dari cewek pramugarinya. Berita ini tentu saja tidak pernah saya duga sebelumnya. Rasa-rasanya impossible saja. Tidak menunggu lebih lama, sehari setelah saya telepon, besok sorenya Beni langsung mengundang saya pergi ke rumahnya.
"Ada pesta apa lagi?" tanya saya di telepon. "Nggak ada apa-apa, elo dateng aja. Sudah lama nggak ketemu elo. Gue mau curhat."
What? Laki-laki seperti Beni kenal juga yang namanya curhat. Mungkin inilah teka-teki kehidupan. Sehebat apa pun laki-laki kalau sudah
bertemu perempuan, pasti bertekuk lutut juga. Buktinya, begitu sore itu saya sampai di rumah Beni, cerita tentang hubungannya dengan cewek pramugarinya menjadi bahan obrolan yang tidak ada putus-putusnya.
"Gue kapok jatuh cinta!" keluh Beni. "Kan dari dulu gue bilang, jangan pernah pake hati, pake body aja. Nggak ada risiko, paling duit doang yang abis," timpal saya.
"Sudahlah. Daripada pusing, kita gila-gilaan lagi aja yuk?!" ajak Beni.
"Kenapa nggak elo undang saja temen-temen
party di sini?" usul saya.
Untuk sejenak, Beni mengerutkan kening. Lucu juga kali ye, sore-sore party di rumah. Meneguk alkohol ditemani cewek-cewek cakep yang cuma mengenakan baju dalam. Waduh, kok pikiran saya jadi ngelantur ke mana-mana.
"Gue lagi males. Kita jalan aja deh. Ntar gue telepon si Gendut sama si Ray."
"Atur aja deh. Gue ngikut saja. Jadi kita nakal lagi nih?" ledek saya sambil menahan senyum.
"Habis mau gimana lagi. Jomblo. Patah hati pula," jawab Beni sekenanya. Comeback lagi nih ceritanya. Beni yang dulu, telah kembali lagi. Cepat sekali ya perubahannya.