TIDAK percuma saya hadir. Ini menjadi pe-ngalaman pertama mengikuti sex gathering. Me-narik, sebagai sebuah ide meskipun isi yang ditampilkan ujung-ujungnya seks juga.
Hidangan makan malam sudah tersedia di meja bulat. Mereka menempati kursi yang dise-diakan. Sambil menunggu makan malam dimulai, ke-25 gadis itu mulai mengelap pasangannya masing-masing. Bukan sekedar mengelap, tetapi dibumbuhi dengan pijatan kecil, mulai dari bagian wajah, punggung, dan tangan. Begitu seterusnya.
Acara dinner malam itu menjadi ajang ramah tamah dan perkenalan. Sebuah pemandangan yang agak lucu, pikir saya. Gimana nggak? Yang laki-laki masih mengenakan baju lengkap sementara yang perempuan hanya menutup tubuhnya dengan baju
underwear. Sangat kontras!
Tapi justru di situlah uniknya. Ini memang
dinner yang luar biasa. Menggabungkan konsep
dinner dengan bumbu "' sex-entertainmnent" Bagi tamu yang datang ke perjamuan, kehadiran 25 gadis underwear ini memang jadi kejutan tersendiri.
224
Mereka tidak menyangka bakal mendapatkan suguhan makan malam yang beda dari biasanya.
Mereka diundang liburan ke Jakarta oleh Mas Sapto selama lima hari. Gratis! Semua biaya akomodasi, transportasi, dan entertainment
ditanggung oleh perusahaan Mas Sapto. Boleh bawa keluarga, tetapi sangat dianjurkan untuk datang sebagai "bujangan". Bukan apa-apa, sedari awal, Mas Sapto sudah memberikan "warning"
bakal ada acara gila-gilaan.
Ini adalah hari ketiga mereka berlibur di Jakarta. Dua hari sebelumnya, mereka diberi kebebasan untuk berjalan-jalan pada malam hari selepas pukul tujuh malam. Maklum, siang harinya ada acara kunjungan ke pabrik dan beramah tamah dengan awak perusahaan Mas Sapto.
Rupanya, Mas Sapto sudah mengatur segalanya. Dia menyewa event orgaziner (EO) untuk menyiapkan konsep perjamuan yang penuh dengan suguhan hiburan. Tidak saja fun, tetapi juga "full-sex-entertainment". Di hari ketiga itulah, perjamuan dimulai. Underwear dinner, menjadi perjamuan pertama.
Usai menyantap hidangan "maincourse", kini para tamu mulai mengunyah makanan penutup. Suasana jadi lebih rileks. Sebagian laki-laki pindah duduk di sofa yang letaknya di ruangan tengah bersama pasangannya. Perkenalan di meja makan itu cukup membawa hasil. Terbukti, mereka lebih akrab satu sama lain. Obrolan, canda, dan tawa tampak lebih intens dari sebelumnya.
Di atas meja disediakan berbagai macam botol minuman beralkohol. Wiski, wine, vodka, semua ada. Tinggal racik sendiri, dan silakan minum sepuasnya. Mereka yang tak mau repot, tinggal menenggak langsung dari botol. Mereka yang tidak begitu menyukai minuman berat, ada puluhan botol bir yang diletakkan di dalam box.
Yang cukup mengagetkan lagi, usai acara makan malam, skenario hiburan berikutnya adalah
Massage Session. Para laki-laki kali ini "dipaksa" untuk melepaskan baju atasan mereka tanpa ter-kecuali.
Di sela-sela pemijatan, sebagian gadis yang "nganggur" berunjuk atraksi dengan menari-nari mengitari ruangan. Sesekali menghampiri para
laki-laki yang lagi dipijat. Menggoda mereka dengan gerakan-gerakan sensual.
Tidak hanya sampai di situ, para gadis yang tengah memijat, tak mau ketinggalan ikut menari di atas tubuh para laki-laki. Dalam hitungan menit, beberapa gadis mulai membuka bra mereka. Inilah babak pesta yang sebenarnya. Sejumlah laki-laki yang sudah tak mampu menahan hasrat biologisnya, buru-buru masuk ke kamar tidur yang tersedia. Mereka yang kalah cepat, terpaksa menunggu giliran berikutnya.
Sebagian lagi, tanpa pikir panjang melakukan permainan seksnya di atas sofa. Ada juga yang bergantian menggunakan kamar mandi sebagai tempat alternatif. Benar-benar pemandangan yang membuat kepala saya jadi pusing. Mas Sapto hanya tersenyum melihat semua kejadian yang berlangsung.
Perjamuan "underwear" malam itu memakan waktu empat jam lebih. Pesta di ruangan president suite itu memang sudah usai. Tapi bagi sebagian laki-laki yang melakukan transaksi "booking out",
Ini adalah skenario terakhir. Ke-25 gadis yang menjadi pengisi perjamuan, memang diberi keleluasaan untuk melakukan transaksi seks lanjutan. Namun, untuk yang satu ini, pihak EO tidak ikut campur lebih jauh, terutama soal tarif. Semua diserahkan sepenuhnya pada peserta perjamuan, person to person!
"Udah pada gede ini. Biarin saja kalau mereka mau bawa ceweknya ke hotel," bisik Mas Sapto.
Dalam perjalanan menuju lobby, saya jadi penasaran dari mana 25 gadis yang menjadi bintang pada sex gathering malam itu? Pertanyaan itu sangat mengganjal di benak saya sejak kali pertama saya datang ke pesta perjamuan.
"Tanya saja langsung sama dia," jawab Mas Sapto sambil menunjuk seseorang di samping kirinya.
Perempuan? Lho, jadi EO yang mengurus pestanya Mas Sapto itu perempuan. Sendirian pula! Standar normalnya, sebuah EO yang bikin acara musik di kafe saja butuh tiga hingga lima orang yang in charge di lapangan. Agak nggak masuk akal buat saya.
2 2 8
Mimi, begitulah ia mengenalkan namanya. Masih muda, kira-kira baru berumur 25 tahun. Wajahnya cantik, dan punya bentuk badan yang bagus. Keterlibatan Mimi tidak tanggung tanggung. Selain terjun sebagai EO, dia juga sekaligus menjadi salah satu "bintang" acara di pesta perjamuan itu. Pantas, dari tadi saya tidak melihat siapa sebenarnya yang mengatur acara dari A sampai Z.
Cewek-cewek yang didatangkan Mimi, ter-nyata berasal dari berbagai komunitas. Mulai dari yang berprofesi sebagai LC di karaoke, tercantum di bawah bendera sebuah agency, SPG "bispak", sampai freelancer yang dimanajeri seorang germo atau broker.
"Gila juga ya pestanya," sergah saya tanpa malu-malu.
"Itu belum seberapa, Mas. Yang lebih gila lagi, masih banyak kok. Kalau nggak percaya, datang saja ke pesta saya minggu depan," tantang Mimi.
Sebuah tawaran yang sayang kalau disia-siakan. Jarang-jarang kesempatan seperti ini datang dengan tidak disangka-sangka. Namanya juga rezeki, kaliii...!
"Beneran nih. Boleh minta nomor hand-phone-nya?"
Saya menghambur ke dalam mobil. Mimi masih terlihat ngobrol dengan salah satu tamunya Mas Sapto di depan lobby.