• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat kajian pustaka yakni untuk mengungkapkan, menegaskan, menyanggah, mengisi kekosongan dan mengembangkan hasil penelitian terdahulu sehingga mnghasilkan kebaharuan penelitian. Kajian hasil penelitian yang relevan merupakan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan dikaji keterkaitannya dengan penelitian yang sedang dilangsungkan.

Adapun beberapa penelitian yang terdahulu dapat dijadikan acuan untuk penelitian berikutnya walaupun berbeda dalam variabel, fokus atau subjek dan/atau objek, berikut beberapa penelitian yang relevan terkait dengan penelitian ini:

Penelitian Sari (2017) tentang Implementasi Manajemen Mutu Terpadu di PAUD PGTK IT Harapan Mulia menyatakan bahwa Permasalahannya masih banyak lembaga PAUD yang gagal dalam mengimplementasikan manajemen mutu terpadu dimana langkah-langkah seperti quality planing, quality control dan quality imporvment belum banyak dioptimalkan dengan baik, permasalahan berat yang harus dihadapi dalam pembangunan pendidikan di Indonesia terutama di daerah, yaitu, berkenaan dengan aspek (1) peningkatan mutu pendidikan (2) pemerataan pendidikan (3) efesiensi manajemen (4) peran sekolah masyarakat (5) akuntabilitas.

14

Dari hasil penelitian ini mendukung kajian tentang manajemen suatu lembaga yang perlu diperhatikan seperti quality planing, quality control dan quality imporvment agar lebih optimal.

Penelitian Korpershoek dkk (2016) A Meta-Analysis of the Effects of Classroom Management Strategies and Classroom Management Programs on Students’ Academic, Behavioral, Emotional, and Motivational Outcomes menyatakan bahwa banyak temuan penelitian telah menunjukkan bahwa guru memainkan peran sebagai kunci dalam membentuk pendidikan yang efektif (Hattie, 2009). Manajemen kelas yang efektif umumnya didasarkan pada prinsip membangun lingkungan kelas yang positif antara hubungan guru-siswa yang efektif (Wubbels, Brekelmans, Van Tartwijk, & Admiraal, 1999). CMS adalah alat yang dapat digunakan oleh para guru dalam membantu menciptakan lingkungan seperti itu, mulai dari kegiatan untuk meningkatkan guru-siswa hubungan dengan aturan untuk mengatur perilaku siswa.

Hasil penelitian ini mendukung pada manajemen khususnya manajemen strategi menggunakan program CSM yang diharapkan berjalan efektif dan ini mengacu pada tingkat keberhasilan sebuah lembaga pendidikan dasar dalam mencapai tujuan pendidikan.

Siswadi & Wiyani (2018) dalam Penelitian yang berjudul Manajemen Program Kegiatan Paud Berbasis Otak Kanan menyatakan bahwa Pembelajaran tematik dan pembiasaan menjadi program kegiatan PAUD yang dijadikan sebagai media internalisasi nilai tauhid dan entrepreneur.Untuk memastikan proses internalisasi nilai tauhid dan entrepreneur berlangsung dengan efektif dan efisien,

maka dilakukanlah empat kegiatan manajerial, yaitu perencanaan program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, pengorganisasian program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, pelaksanaan program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, dan penilaian program kegiatan PAUD berbasis otak kanan.

Dari hasil penelitian ini mendukung tentang bagaimana Manajerial program kegiatan berlangsung efektif dan efesien maka perlu adanya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap program kegiatan.

Penelitian Firmansyah dan Wardhana (2016) tentang Penguatan Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Di Desa Garawangi dan Desa Rancaputat Kecamatan Sumber Jaya Kabupaten Majalengka menyebutkan bahwa Lembaga-lembaga PAUD (Pengembangan Anak Usia Dini) memiliki peran penting dalam sektor pendidikan bangsa karena mereka adalah lembaga pertama yang menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik, baik nilai-nilai agama atau nilai-nilai universal. Manajemen lembaga ECD tampaknya dianggap kurang penting atau kurang bergengsi dibandingkan dengan manajemen lembaga pendidikan tinggi seperti tingkat sekolah menengah atau universitas, hasil kegiatan Program Layanan Masyarakat yang berfokus pada pengembangan anak usia dini di desa Garawangi dan Rancaputat, Kabupaten Sumberjaya, Majalengka. Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya manajemen pendidikan anak usia dini, khususnya dalam aspek manajemen keuangan. Selain itu, diharapkan menambah wawasan

tentang Program Layanan Masyarakat dengan fokus pada lembaga kecil di desa seperti pengembangan anak usia dini.

Hasil penelitian ini mendukung dalam bentuk layanan program yang berkerjasama dengan pemerintah setempat dalam hal meningkatkan layanan PAUD bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, membangun sistem PAUD yang bermutu dan berkelanjutan, melakukan pengelolaan, pemantauan dan penilaian program secara efektif.

Selanjutnya Purwaningsih (2017) tentang Implementasi pendidikan anak usia dini di balai pesindenan no 3 panembahan kraton yogyakarta menyebutkan bahwa gencarnya program pemerintah dalam mensosialisasikan penyelenggaraan PAUD tentu saja perlu memahami penyelenggaraan PAUD yang berkualitas bagi anak usia dini, akses yang mempermudah masyakarat dalam menyelenggarakan PAUD merupakan pijakan awal penyelenggaraan PAUD yang berkualitas akan pentingnya pendidikan anak usia dini. Pentingnya program PAUD untuk diimplementasikan mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia 0-6 tahun. Pelaksanaan program PAUD terlaksana karena kerjasama dari beberapa para pelaksana kebijakan.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal Program pemerintah yang mengsosialisasikan penyelenggaraan PAUD dan tentu saja perlu memahami penyelenggaraan PAUD yang berkualitas bagi anak usia dini serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Wulan Adiarti, Henny Puji Astuti & Sri Sularti Dewanti Handayani (2016) dalam penelitian The Implementation of Holistic Integrative Services in Early

Childhood Education (ECE): Perspective on 2013 ECE Curriculum in Indonesian Preschool, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Layanan ECE Integratif Holistik terhadap peraturan kurikulum 2013 di Taman Belia memenuhi komponen-komponen berikut: Aspek pendidikan terdiri dari stimulasi perkembangan anak menggunakan model pusat dan keragaman layanan pendidikan di bawah satu atap. Nutrisi dan Aspek Kesehatan terdiri dari pemeriksaan kesehatan dan program makanan sehat. Aspek Pengasuhan terdiri dari berkelanjutan di pusat anak, dan program pengasuhan anak di rumah. Aspek Perlindungan terdiri dari perlindungan fisik dan mental untuk anak-anak.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa model layanan pendidikan holistik integratif sesuai dengan Kurikulum ECE 2013 di pusat-pusat ECE Indonesia mencakup layanan pendidikan, layanan gizi, fisik dan pelestarian psikologis untuk anak-anak, diikuti dengan pengasuhan berkelanjutan baik di sekolah maupun di rumah. Ini berdasarkan tentang penelitian yang diadakan di salah satu pusat ECE terbaik di Indonesia.

Hasil penelitian ini mendukung dalam layanan PAUD Holistik Integratif dimana layanannya mencakup pendidikan, layanan gizi, fisik dan pelestarian psikologis untuk anak-anak, diikuti dengan pengasuhan berkelanjutan baik di sekolah maupun di rumah.

Senada dengan Nana Usnawati, Astuti Setiyani & Subagyo (2016) penelitianya tentang Pembinaan Paud Holistik Integratif Dalam Perspektif Pencapaian Target Sdidtk menyatakan bahwa Pengembangan anak usia dini holistik integratif adalah pengembangan anak usia dini (0-6 tahun) yang dilakukan

berdasarkan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan sistematis. Kenyataan dilapangan, program layanan tersebut belum saling terkait secara simultan dan sistematis dalam mengembangkan kebutuhan esensial anak usia dini yang beragam, baik kesehatan, gizi, pengasuhan, perawatan, perlindungan dan rangsangan pendidikan.

Pembinaan dipengaruhi oleh faktor kemampuan, motivasi, teknik pembinaan, dan sikap pembina. Pembinaan yang dilakukan meliputi struktur kelembagaan, SDM, sarana prasarana, jenis layanan komprehensif, manajemen, dan jejaring/mitra.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan PAUD Holistik Integratif dalam kategori baik yang di lihat dari hasil analisis multivariat faktor kemampuan dan sikap pembina, faktor yang dominan dengan pembinaan adalah kemampuan.

Penelitian ini mendukung dalam Pembinaan PAUD Holistik Integratif yang dilakukan meliputi struktur kelembagaan, SDM, sarana prasarana, jenis layanan komprehensif, manajemen, dan jejaring/mitra.

Hal tentang pelaksanaan program juga diungkapkan oleh Monikasari (2013) dalam penelitian nya berjudul “Pelaksanaan Program Parenting Bagi Orang Tua Peserta Didik Di Paud Permata Hati” menyatakan bahwa proses pelaksanaan program parenting bagi orangtua peserta didik di SPS Permata Hati dan penerapan hasil belajar program parenting oleh orangtua menunjukan bahwa proses pelaksanaan program parenting dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan program parenting, Penerapan hasil belajar program parenting dilaksanakan oleh orang tua peserta didik sesuai dengan materi yang telah disampaikan oleh nara sumber program parenting.

Kemudian penelitian selanjutnya Sumaryanto (2014) tentang Kebijakan Kelembagaan Paud menyebutkan bahwa kebutuhan masyarakat akan pendidikan merupakan kebutuhan vital untuk pengembangan potensi dan bakat anak didiknya. Usaha untuk mendorong pengembangan kelembagaan PAUD terus menjadi perhatian yang cukup besar. Harapan ideal, pemerintah dan masyarakat dapat mengelola kelembagaan PAUD secara baik dan professional Realitasnya pengelolaan lembaga PAUD masih jauh dari profesional termasuk pembinaan guru, lembaga yang kurang baik, padahal keberadaan PAUD harus mendapat dukungan yang tinggi dari pemerintah. Selain itu, sosialisasi PAUD non-formal masih harus terus diperbaiki. Indikasi dari keseriusan dan keterlibatan orang tua dalam mengembangkan kelembagaan PAUD, di mana orang tua murid biasanya digunakan untuk kebutuhan operasional PAUD. Kebanyakan lembaga PAUD di Kota Administrasi Jakarta Utara adalah PAUD yang terintegrasi dengan Play Group, PAUD, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (TK) yang penginisiatifnya berasal dari pribadi-pribadi kader PKK, pengurus Posyandu dan Pengurus Rukun Warga (RW) atau yayasan tertentu.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal Program Pemerintah yang mengsosialisasikan penyelenggaraan PAUD, harapan ideal pemerintah dan masyarakat dapat mengelola kelembagaan PAUD secara baik dan professional serta di dukung dengan realitas pengelolaan lembaga PAUD yang efektif .

Lalu menurut Sjamsir dan Gunarto (2017) Implementasi Strategi 7 Ps (Marketing Mix) dalam Membangun Kemitraan Menuju Lembaga Mandiri Di Pendidikan Anak Usia Dini menyatakan bahwa bebuah lembaga PAUD yang

sederhana dengan inovasi serta pembaharuan terus menerus, tetap bisa optimal dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya, memanfaatkan sumber daya yang ada, dan yang pasti mampu mengembangkan jejaring kemitraan untuk kemandirian lembaga PAUD..

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal pengelolaan dalam mengembangkan jejaring kemitraan untuk kemandirian lembaga PAUD melalui program yang bersifat multipartisipatif di PAUD Balikpapan, Marwanto (2012) menyatakan untuk jasa lembaga pendidikan, terdapat 7 Ps unsur pemasaran yang disebut marketing mix-7 Ps, yaitu produk (product), harga (price), promosi (promotion), lokasi (place), sumber daya manusia (partisipant), proses (process), dan tampilan gedung (physical evidence), dimana Strategi 7 Ps ini merupakan strategi pendekatan masyarakat melalui marketing pendidikan dan bauran pemasaran (Ivy, 2008;Baumgartner, 2009; Enache, 2011; Marwanto, 2012;Asiah, 2013). Strategi 7 Ps ini dapat digunakan untuk mengembangkan jejaring kemitraan secara luas, dan menjadikan wujud kerja sama yang bersinergis saling menguntungkan, sehingga lembaga PAUD yang dikelola terus berkesinambungan yang pada akhirnya menjadi lembaga PAUD yang mandiri.

Hanifah. (2018) dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Manajemen Program Pembelajaran Bagi Guru Paud Dalam Meningkatkan Kinerja Pendidik”

mengatakan bahwa Penelitian mendapatkan hasil bahwa dalam perencanaan pembelajaran Pos Paud Dahlia 15 merencanakannya dengan matang agar tumbuh kembang anak sesuai dan terarah dan juga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat

dan juga dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Penilaian pembelajaran 80% sudah mencapai tujuan yang sudah dibuat oleh sekolah Pos Paud Dahlia 15.

Hasil penelitian ini mendukung dalam penerapan manajemen program pada POS Paud perlu memperhatikan tujuan dari program tersebut agar tercapai sesuai yang diinginkan pihak sekolah dan dapat bermanfaat bagi lembaga Paud itu sendiri.

Dan penelitian selanjutnya dari Kuntariningsih (2018) tentang Analisis Dampak Program Kebun Sekolah untuk Mengatasi Kekurangan Gizi Anak mempunyai keterkaitan dengan peneltian ini pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG), salah satunya mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong pertanian yang berkelanjutan, kurangnya konsumsi buah dan sayuran menyebabkan kekurangan gizi (malnutrisi), penelitian ini mengetahui akar masalah penyebab kekurangan gizi (malnutrisi) dan menganalisis kebijakan alternatif untuk mengatasi perbaikan gizi pada anak.

Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak. Kebijakan pemerintah harus diperbaharui dan lebih ditingkatkan lagi dengan menganjurkan siswa sekolah untuk mengkonsumsi buah dan sayuran sesuai kebutuhan kalori setiap harinya.

Hasil penelitian dengan subyek penelitian sebanyak 30 orang meliputi 10 siswa, 5 orang guru, 5 penjual makanan di sekolah dan 10 orang tua siswa. menunjukkan bahwa kurangnya gizi pada anak terutama anak pada masa pertumbuhan tak lepas

dari kebiasaan anak mengkonsumsi makanannya. Pengetahuan orang tua tentang gizi masih kurang, terutama perhatian terhadap apa yang dikonsumsi di sekolah.

Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak.

Hasil penelitian ini mendukung pada adanya program disekolah untuk mengetahui akar masalah penyebab kekurangan gizi (malnutrisi) dan menganalisis kebijakan alternatif untuk mengatasi perbaikan gizi pada anak, Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak serta Kebijakan Pemerintah harus diperbaharui dan lebih ditingkatkan lagi dengan menganjurkan siswa untuk mengkonsumsi buah dan sayuran sesuai kebutuhan kalori setiap harinya.

Triwijayati.,Setiyati, Setianingsih, & Luciana . (2016) dalam penelitiannya tentang “Anak dan Jajanan Sekolah: Program Pemberdayaan Kesehatan Anak Sekolah dalam Perspektif Pemerintah Daerah” mengatakan bahwa pemerintah

mengambil peran mengatur regulasi yang berkaitan dengan sekolah, kantin dan Pedagang Kaki Lima (PKL) terkait dengan jajanan sehat untuk anak. Namun, di sisi lain program-program tersebut belum banyak berkaitan langsung dengan sasaran utama yaitu anak jajanan sekolah. Diperlukan pula upaya lintas sektoral untuk memberdayakan anak yaitu dengan melibatkan sekolah dan orang tua.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal tujuan dan kebermanfaatan dari program dalam penyediaan jajanan sekolah yaitu kantin sekolah, pemerintah yang terkait diharapkan ikut mendukung pelaksanaan program yang melibat sekolah dan orang tua dalam penyajian jajanan sehat di sekolah.

Latifah & Widiastuti (2018) penelitian ini tentang Peran HIMPAUDI Dalam Meningkatkan Manajemen PAUD di Kober Darul Farohi mempunyai keterkaitan dalam pelaksanaan fungsi manajemen Organisasi HIMPAUDI menurut pendapat Terry yang lazim digunakan pada tahun 1987 (Gunawan &

Benty, 2017) mengemukakan empat proses manajemen, yang dapat disingkat dengan POAC, yaitu: perencanaan (Planning) adalah proses kegiatan rasional dan sitematik dalam menetapkan keputusan, kegiatan atau langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam rangka usaha sistematik guna mencapai tujuan dengan cara efektif dan efisien, (2) pengorganisasian (Organizing) merupakan proses menetapkan secara rapi menggunakan sumber daya dengan menugaskan dan mengkoordinasikan tugas. (3) pelaksanaan (Actuating) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh orgainasasi. (4) pengawasan (Controlling) adalah

Hasil penelitian ini mendukung serta mempunyai kesamaan Peran fungsi manajemen lembaga PAUD khususnya di KOBER Darul Farohi Padalarang mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang perlu diperhatikan dan dijalankan dengan baik pada setiap lembaga PAUD.

Penelitian selanjutnya Fauziah & Sugito (2016) Pemetaan Mutu Paud Fullday Untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Dan Kelembagaan Program Paud menyatakan bahwa Program fullday Kindergarten adalah program pendidikan yang memberikan layanan minimum 6 jam dalam sehari yang dimulai pada pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hasil riset menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti full day kindergarten memiliki kesiapan dalam mengikuti sekolah

dasar, dan memiliki kemampuan membaca jika dibandingkan dengan anak-anak yang mengikuti program half day. Anak-anak di full day memiliki kelebihan dan kesiapan belajar karena menurut hasil penelitian Guru memiliki lebih banyak waktu untuk dapat mengidentifikasi gaya belajar anak, kebutuhan anak serta permasalahan yang dihadapi anak. Sedangkan dari perspektif anak-anak, mereka lebih banyak memiliki pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas, pilihan belajar, dan memperdalam materi karena waktu yang lebih banyak.

Hasil Penelitian ini mendukung pada tujuan program untuk: (1) memetakan program PAUD fullday; (2) menghasilkan rekomendasi penyelenggaraan PAUD fullday dan manajemen program mulai dari perencanaan, pengembangan organisasi PAUD, memimpin, pengawasan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program .

Penelitian Prastiwi dkk (2015) Hubungan antara Persepsi Siswa tentang Kebun Sekolah dengan pengelolaan lingkungan sekolah menyatakan bahwa melalui Kebun sekolah siswa didorong untuk menggunakan semua panca indera untuk mempelajari keadaan lingkungan sekitar Untuk dapat membantu siswa mengenal lingkungan, Kebun sekolah merupakan salah satu pemilihan sarana belajar yang tepat. Hal tersebut sesuai dengan salah satu peran Kebun sekolah yaitu membantu siswa dalam mengenalkan dan memahami lingkungan sehingga akan membentuk siswa yang sadar terhadap lingkungan (Capra dalam Bowker, 2007), dan membentuk sikap yang positif terhadap lingkungan (Williams &

Dixon, 2013). Selain itu, Kebun sekolah juga dapat membantu mengenalkan siswa pada pendidikan lingkungan (Schaidle, 2011). Peran dari pendidikan lingkungan

yaitu suatu upaya untuk mengubah perilaku menjadi media yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, etika, disiplin, dan budi pekerti terhadap lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2010). Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Kebun sekolah sebagai sarana belajar akan memberikan stimulus yang signifikan mempengaruhi terbentuknya persepsi. Persepsi yang terbentuk selama belajar dengan menggunakan Kebun sekolah memungkinkan siswa memiliki kesadaran dan sensitivitas terhadap lingkungan sekolah sehingga membentuk sikap pengelolaan lingkungan sekolah yang baik.

Hasil penelitian ini mendukung salah satu program Kebun yang di maksudkan disini Kebun Sekolah karena melalui Kebun sekolah siswa didorong untuk menggunakan semua panca indera untuk mempelajari keadaan lingkungan sekitar untuk dapat membantu siswa mengenal lingkungan, Kebun sekolah merupakan salahsatu pemilihan sarana belajar yang tepat, hal tersebut sesuai dengan salah satu peran Kebun sekolah yaitu membantu siswa dalam mengenalkan dan memahami lingkungan sehingga akan membentuk siswa yang sadar terhadap lingkungan.

Penelitian Sukidjo dkk (2016) tentang “Koperasi Sekolah Sebagai Wadah Pengembangan Karakter Siswa” menyatakan bahwa Perilaku kemandirian di sekolah diperlukan agar seorang siswa mengetahui bagaimana mahasiswa dapat bertanggung jawab serta percaya diri dan mampu memecahkan permasalahan yang ada baik pribadi ataupun orang lain. Sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggungjawab untuk mengembangkan perilaku kemandirian yang akan diwujudkan terhadap siswa melalui Koperasi Sekolah atau Koperasi Siswa

(Kopsis). Berbagai nilai yang ada pada Koperasi ternyata sangat mendukung dalam pendidikan karakter. Oleh sebab itu, dengan dikembangkannya Koperasi diharapkan akan mempercepat pemahaman dan penguasaan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter, sehingga para warga masyarakat nantinya akan memiliki sifat dan perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur, seperti kebersamaan, kepedulian, kejujuran, berkeadilan dan bertanggungjawab. Di lain pihak, keberadaan Koperasi akan eksis apabila didukung oleh pemahaman dari seluruh pemangku kepentingan terhadap nilai-nilai yang berupa keterbukaan demokrasi, partisipasi, kemandirian, kerjasama, pendidikan dan kepedulian kepada masyarakat, faktor kunci sukses pemberdayaan Koperasi meliputi:

pemahaman mengenai jati diri Koperasi, kebutuhan kolektif anggota, sinergisme usaha Koperasi dengan anggota serta kesungguhan dalam pengelolaan.

Hasil penelitian ini mendukung pada Implementasi Program Koperasi berbagai nilai yang ada pada Koperasi ternyata sangat mendukung dalam pendidikan karakter. Oleh sebab itu, dengan dikembangkannya Koperasi diharapkan akan mempercepat pemahaman dan penguasaan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di mulai dari usia PAUD selain itu juga dengan Program Koperasi dapat membantu kemandirian dari setiap Lembaga PAUD serta kesejahteraan para anggotanya.

Vitiello & Brinkley (2014) dalam penelitian The hidden history of food system planning. Journal of Planning History dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada perencanaan kebun oleh Praktisi perencanaan kota dan akademisi umumnya memandang perencanaan sistem

makanan sebagai area baru untuk di pelajari, dalam penelitian ini, kami melacak kontinuitas luas dan perubahan besar dalam perencanaan pangan pada kebun di Amerika Utara, dengan fokus pada perencanaan fisik, pengembangan ekonomi regional, dan pengembangan ekonomi masyarakat dari zaman penjajahan hingga saat ini.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian pada tahapan perencanaan dalam program 3K (Kebun) yang perlu diperhatikan oleh perangkat sekolah, jadi sebelum melaksanakan tujuan dari sebuah kegiatan berkebun perlu menganalisis kebutuhan dari program tersebut dan manfaatnya bagi sekolah yang melakukan program tersebut.

Sayekti, Istikomayanti & Mitasari (2017) dalam penelitiannya Pendidikan Perilaku Makan Sehat Melalui Pengembangan Kantin Sehat Di Smp/Mts Kota Malang dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program kantin sehat dengan melalui penerapan manajemen operasional kantin sehat yang melibatkan kepala sekolah, guru, siswa serta tim pengembang kantin sehat dapat memberikan pengaruh pada peningkatan pemahaman siswa mengenai pangan jajan yang sehat, aman dan bergizi. Kegiatan penerapan SOP pelayanan dan adab makan siswa, SOP pengelolaan kantin sehat, dan SOP sanitasi serta higienitas memberikan pengaruh terhadap perilaku makan sehat siswa di sekolah serta perilaku adab makan yang baik. Selain itu penerapan SOP tersebut juga memberikan pengaruh terhadap pengetahuan penjual kantin dan mempraktikkan kegiatan penyediaan makan sehat di sekolah.

Anam & Sakiyati (2019) Kantin Kejujuran Sebagai Upaya Dalam Pembentukan Karakter dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program kantin sehat problematika yang dihadapi dalam penerapan kantin kejujuran adalah dari manajemen pengelolaan kantin yang kurang terstruktur dan keterlambatan dalam penyediaan barang dagangan saat barang dagangan sudah habis. Dan terkadang peran serta partisipasi warga sekolah masih kurang mendukung dengan adanya kantin kejujuran ini.

Andriani, Sutrisno & Sunarto (2017) dengan judul penelitian Peran Guru PPKN Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Melalui Kantin Kejujuran Di Mts Muhammadiyah 01 Tegalombo Kabupaten Pacitan dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program manajemen

Andriani, Sutrisno & Sunarto (2017) dengan judul penelitian Peran Guru PPKN Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Melalui Kantin Kejujuran Di Mts Muhammadiyah 01 Tegalombo Kabupaten Pacitan dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program manajemen

Dokumen terkait