• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM 3K (KEBUN, KANTIN, KOPERASI) PADA TK MARSUDIRINI FIORETTI DI KABUPATEN KUPANG-NTT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM 3K (KEBUN, KANTIN, KOPERASI) PADA TK MARSUDIRINI FIORETTI DI KABUPATEN KUPANG-NTT"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan

Oleh:

Jendriadi Banoet 0108517006

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2020

(2)
(3)
(4)

Nama : Jendriadi Banoet

NIM : 0108517006

Program Studi : Pendidikan Anak Usia Dini

Menyatakan bahwa yang tertulis dalam tesis yang berjudul “Implementasi Program 3K (Kebun, Kantin Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti Di Kabupaten Kupang-NTT” ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam tesis ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Atas pernyataan ini saya secara pribadi siap menanggung resiko/sanksi hukum yang dijatuhkan apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya ini.

Semarang, Januari 2020 Yang membuat pernyataan,

Jendriadi Banoet NIM 0108517006

iii

(5)

Motto :

Setiap kegiatan apapun yang dilakukan pada sekolah perlu adanya perencanaan yang baik dalam pelaksanaan dan di mulai dengan penuh keyakinan.

Persembahan

1. Almamater Prodi Pendidikan Anak Usia Dini Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

2. TK Marsudirini Fioretti Kabupaten Kupang-NTT

.

iv

(6)

Semarang . Pembimbing I Prof. Dr. Joko Sutarto, M.Pd, Pembimbing II Dr.Sri Sularti Dewanti Handayani, M.Pd.

Kata Kunci: Implementasi, Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi), Taman Kanak-kanak

Program 3K (Kebun, Kantin, dan Koperasi) adalah program untuk 100 PAUD HI yang dituju dalam menanggulangi permasalahan di lembaga PAUD agar dana hibah yang diterima dari berbagai pihak tidak menjadikan sebuah ketergantungan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (a) pelaksanan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi), dan b) faktor penghambat pelaksanaan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) di TK Marsudirini.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, model pendekatan yang digunakan adalah deskriptif, sumber data penelitian adalah Mentor, Kepala TK, Guru dan orang tua. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dokumentasi.Analisis data yang dilakukan dengan model analisis interaktif, teknik keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan sumber.

Hasil penelitian menunjukan: (a) program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) dilaksanakan mulai tahapan perencanaantujuan, rencana kegiatan, serta sumber dana dari dinas terkait yang disesuaikan dengan kebutuhan TK Marsudirini, tahapan pelaksanaan program 3K yang terlibat adalah kepala, guru, orangtua, anak dengan panduan pedoman program 3K serta standar operasional pelaksanaan dengan memasukan ciri khas nilai kebudayaan dan kearifan lokal pertanian masyarakat kecamatan kupang Tengah,tahapan evaluasi program dilakukan internal oleh pihakTK Marsudirinisetiap 3 bulan sekali sertaadanya monitoring UNICEF dari dinas-dinaskerjasama yang terkait(b)faktor penghambat program 3K (Kebun,Kantin, Koperasi) yaitu sumber daya manusia, finansial dan sarana pendukung yang perlu pembenahan.

Simpulan penelitian implementasi program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) telah direalisasikan di TK Marsudirini Fioretti mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi sesuai standar, namun perlu pembenahan untuk faktor penghambat yaitusumber daya manusia, finansial dan sarana pendukung dengan penetapan jadwal pembinaan agar dapat tecapai tujuan dari program 3K.

v

(7)

Semarang. Supervisor I Prof. Dr. Joko Sutarto, M. Pd, Supervisor II Dr.

Sri Sularti Dewanti Handayani, M.Pd.

Keywords: Implementation, Garden-Canteen-Cooperative, Kindergarten

Gardens, Canteen, and Cooperatives is a program for 100 HI Early Childhood that is aimed at overcoming problems in Early Childhood institutions so that the grants received from various parties do not make a long-term dependency. This study aims to describe (a) the implementation of Gardens, Canteen, Cooperatives, and b) the inhibiting factors for the implementation of Gardens, Canteen, Cooperatives program in Marsudirini Kindergarten.

This study uses qualitative methods, the approach model used is descriptive, the source of research data is Mentor, Headmaster, Teachers and parents. Data collection techniques are observation, interview, documentation.

Data analysis was performed using an interactive analysis model, data validity techniques using triangulation techniques and sources.

The results showed: (a) Gardens, Canteen, Cooperatives program was carried out starting from the planning stages of the objectives, activity plans, as well as funding sources from related agencies that were adjusted to the needs of Marsudirini Kindergarten, the stages of implementing the program involved were headmaster, teachers, parents, children with Gardens, Canteen, Cooperatives program guidelines and operational standards of implementation by including the cultural values and local wisdom of the farming community in the district of Central Kupang, the program evaluation stage is carried out internally by TK Marsudirini every 3 months and there is UNICEF monitoring from the relevant cooperation agencies (b) the inhibiting factors of the Gardens, Canteen, Cooperatives program namely human, financial and supporting facilities that need improvement

The conclusions of the implementation Gardens, Canteen, Cooperatives programs have been realized in Marsudirini Fioretti Kindergarten starting from the planning, implementation to evaluation according to standards, but needs to be improved for the inhibiting factors, namely human, financial and supporting facilities by establishing a coaching schedule. achieved the objectives of the Gardens, Canteen, Cooperatives program.

vi

(8)

rahmat dan karunia-Nya. Berkat Penyertaannya, saya dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Implementasi Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT”. Penulisan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama proses penyelesaian studi dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini, diantaranya:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M. Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan menyelesaikan studi program magister Pendidikan Anak Usia Dini.

2. Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum, Direktur Program Pascasarjana Unnes yang telah memberikan kesempatan serta arahan selama pendidikan, penelitian dan penulisan tesis ini.

3. Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto, S.Psi., M.A., D.Sc Ketua program studi Pendidikan Anak Usia Dini Program Magister Unnes yang telah memberikan kesempatan dan arahan dalam penulisan tesis ini.

4. Prof. Dr.Joko Sutarto, M.Pd dan Dr. Sri Sularti Dewanti Handayani, M.Pd yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan masukan dalam penelitian tesis ini.

vii

(9)

Unnes angkatan 2017.

7. Bapak, Ibu, dan adik-adik,serta keluarga yang selalu memberi semangat, sabar mendampingi, dan memotivasi penyelesaian studi.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,yang telah ikut berpartisipasi membantu memberi data dalam penelitian ini, sertasambutan yang selaluhangatdanramahselamapenulismelakukanpenelitianlapangan.

Akhir kata, semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat dan konstribusi bagi pengembangan pengetahuan.

Semarang, Desember 2019

Jendriadi Banoet

viii

(10)

LEMBAR PENGESAHAN...ii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN...iii

LEMBAR MOTO DAN PERSEMBAHAN ...iv

ABSTRAK...v

ABSTRACT...vii

PRAKATA...viii

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xi

DAFTAR GAMBAR ...xii

DAFTAR LAMPIRAN...xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ...1

1.2 Identifikasi Masalah ...10

1.3 Cakupan Masalah ...11

1.4 Rumusan Masalah ...12

1.5 Tujuan Penelitian ...12

1.6 Manfaat Penelitian ...13

1.6.1 Manfaat Teori ...13

1.6.2 Manfaat Praktis...13

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR 2.1. Kajian Pustaka...14

2.2. Kerangka Teori ...33

ix

(11)

2.2.5 Prinsip-Prinsip Manajemen ...46

2.2.6 Konsep Lembaga PAUD ...51

2.2.7 PAUD Holistik Integratif (HI) ...54

2.2.8 Kegiatan Layanan PAUD Holistik Integratif (HI) ...56

2.2.9 Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi)...58

2.2.9.1 Program 3K Kebun ...58

2.2.8.2 Program 3K Kantin ...60

2.2.8.3 Program 3K Koperasi ...61

2.3 Kerangka Berpikir ...63

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian ...68

3.2. Desain Penelitian ...69

3.3. Fokus Penelitian ...70

3.4. Data dan Sumber Data Penelitian ...71

3.5. Teknik Pengumpulan Data ...74

3.5.1. Observasi ...74

3.5.2. Wawancara...75

3.5.3. Dokumentasi...77

3.5.4. Teknik Keabsahan Data ...79

3.3.5.1 Triangulasi ...79

3.6. Teknik Analisis Data ...81

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Umum TK Marsudirini Fioretti ...84

4.1.1 Sejarah TK Marsudirini Fioretti ...84

4.1.2 Visi Misi TK Marsudirini Fioretti...86 4.2 Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi)Pada TK Marsudirini

Fioretti87

x

(12)

4.3 Faktor Penghambat Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti...148

4.3.1 Hasil Penelitian Faktor Penghambat Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) Pada TK Marsudirini Fioretti ...148 4.3.2 Pembahasan Faktor Penghambat Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti...150 BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan...152 5.2 Saran...154 DAFTAR PUSTAKA...156

xi

(13)

Tabel 4.1 Data Personal Kepala, Guru dan Kualifikasi Pendidikan ... 84

Tabel 4.2 Data Jumlah Ruangan ... 85

Tabel 4.3 Data Sarana dan APE TK Marsudirini Fioretti ... 86

Tabel 4.4 Pembagian Tugas dan Pelaksanaan Program 3K (Kebun)... 102

xii

(14)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 67

Gambar 3.1 Analisis Data Model Interaktif ... 83

Gambar 4.1 Penyiapan Lahan dan Bibit ... 88

Gambar 4.2 Gambar Pembagian tugas dan Menu makanan... 103

Gambar 4.3 Buku tabungan dan Celengan anak ... 105

xiii

(15)

Lampiran 1.SK Pembimbing ... 166

Lampiran 2. Surat Izin Penelitian ... 168

Lampiran 3. Pedoman Obsevasi ... 172

Lampiran 4. Pedoman Wawancara... 178

Lampiran 5. Hasil Observasi... 190

Lampiran 6. Hasil Deskripsi Wawancara... 202

Lampiran 7. Foto Wawancara Program 3K ... 253

Lampiran 8. Foto Kegiatan Program 3K ... 255

Lampiran 9. Standar Operasional Prosedur ... 258

Lampiran 10. Surat Selesai Penelitian... 271

Lampiran 11.Juknis/ Pedoman Program 3K ... 274

xiv

(16)

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat ini menjadi prioritas di tingkat internasional dan nasional. Peraturan presiden No. 59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai tindak lanjut komitmen kepada dunia tentang “Sustainable Development Goal (SDG)” mencantumkan target 4.2 yaitu pada tahun 2030 menjamin semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses terhadap pengembangan anak usia dini, pengasuhan dan pendidikan pra sekolah dasar yang berkualitas, sehingga mereka siap menempuh pendidikan dasar”.

Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 137 Tahun 2014 Tentang Standar PAUD bertujuan menjamin mutu pendidikan anak usia dini dalam rangka memberikan landasan untuk melakukan stimulan pendidikan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkat pencapaian perkembangan anak, mengoptimalkan perkembangan anak secara holistik dan integratif dan mempersiapkan pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan anak.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 Pasal 1 Ayat 2 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi.

1

(17)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kupang Tahun 2014-2019 NO. IV yang memiliki Misi tentang mengembangkan jangkauan pelayanan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta memperkecil kesenjangan kesempatan belajar antara penduduk pedesaan dan perkotaan. Tujuan dari misi ini meningkatkan kualitas pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD-HI) tentang Pembentukan Kebijakan dan Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD - HI) Holistik Integratif serta fasilitasi atau monitoring pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD - HI) dan Tempat Penitipan Anak (TPA). Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini HI yang berkualitas yaitu Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Peningkatan Manajemen Pelayanan Pendidikan, Program Pendidikan Anak Usia Dini untuk meningkatkan pemenuhan ketersediaan sekolah, mengoptimalkan ketersediaan dan kualitas sarana prasarana pendidikan, meningkatkan perlindungan serta pengembangan dan pemanfaatan budaya lokal. Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif atau PAUD-HI dikabupaten Kupang merupakan kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud) dengan UNICEF Indonesia untuk mengembangkan PAUD-HI di daerah-daerah yang kurang mampu.

Gencarnya Program Pemerintah kabupaten kupang dalam mensosialisasikan penyelenggaraan PAUD HI tentu saja perlu memahami penyelenggaraan PAUD HI yang berkualitas bagi anak usia dini. Akses yang mempermudah masyakarat dalam menyelenggarakan PAUD HI merupakan pijakan awal penyelenggaraan PAUD HI yang berkualitas akan pentingnya pendidikan anak usia dini. Maka

(18)

pentingnya program PAUD HI untuk diimplementasikan mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia 0-6 tahun, penelitian Suharti (2018) menyatakan bahwa dalam rangka pengembangan program PAUD Holistik Integratif, pemerintah dihadapkan pada berbagai masalah. Di samping permasalahan dana, masih terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah. Pertama, masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap arti pentingnya PAUD HI bagi perkembangan anak selanjutnya. Kedua, belum semua daerah memiliki aparat yang secara khusus menangani pembinaan PAUD HI hingga ketingkat operasional. Ketiga, masih kurangnya tenaga kependidikan PAUD dilapangan. Disatu sisi kita kebanyakan pengangguran pendidikan, tetapi disisi lain tenaga yang memiliki kualifikasi sebagai tenaga kependidikan PAUD masih sangat kurang. Keempat, luasnya wilayah yang harus dilayani dan banyaknya daerah yang sulit dijangkau kendala geografis seringkali menjadi penyebab utama ketinggalan informasi dan tidak terjangkau layanan kegiatan di lembaga PAUD.

Pemerintah Kabupaten Kupang mewujudkan kebijakan yang telah ditetapkan dengan Bupati menjalankan visi pemerintah dalam gerakan Revolusi Mental dan merealisasikan RPJMD tersebut dengan mencanangkan program dan juga kegiatan yang berkerjasama dengan pihak lain untuk dilaksanakan di 100 lembaga PAUD di Kabupaten Kupang salahsatu pencanangan program yang mendukung Paud Holistik Intergratif yang berintegrasi di luncurkan pada tanggal 6 Mei 2016 adalah program baru milik pemerintah pusat melalui Kementrian pendidikan dan Kebudayaan bidang sekolah dasar yang diberi nama Program

(19)

Sarapan Pagi Anak Sekolah di singkat PROGRAS yang terdiri dari 5K yakni Kebun, Kantin, Koperasi, Keluarga, dan Kesehatan kemudian disusul dengan Program 3K (Kebun, KantinKoperasi) yang diadakan atas kerjasama Pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berkerjasama dengan UNICEF dan Yayasan Alfa Omega, ide gagasan program sederhana Pemerintah Kabupaten Kupang ini awalnya untuk merangsang aktivitas ekonomi masyarakat, program-program ini hanya untuk kebaikan dan kesehjateraan masyarakat kabupaten kupang tengah namun dari program 3K (Kebun,Kantin,Koperasi) yang dicanangkan dan diterapkan dilembaga PAUD juga mempunyai tujuan yang efektif untuk direalisasikan agar dapat membantu pendanaan di lembaga PAUD.

Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) merupakan inovasi yang melengkapi dalam upaya membangun PAUD-HI berintegritas di kawasan daerah tertinggal di Kabupaten Kupang, untuk itu pelaksanaan suatu inovasi program haruslah dikelola secara profesional, pada dasarnya pelaksanaan program berkaitan dengan fungsi-fungsi pokok dalam manajemen suatu proses pengelolaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. George R. Terry & Leslie W.Rue (2015: 1) menjelaskan bahwa Manajemen merupakan suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengaruh suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang nyata. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses kegiatan sebuah program yaitu perencanaan , pelaksanaan dan evaluasi .

(20)

Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) yang telah dilaksanakan dari tahun 2016 sampai saat ini di 100 PAUD HI yang tersebar di 24 Kecamatan, masing-masing kecamatan, terdapat 1 mentor PAUD HI Kecamatan,. Terdapat pembagian wilayah yang kita sebut region, ada 4 region yang masing-masing terdiri dari 6 kecamatan salahatunya kecamatan Kupang Tengah di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Program ini merupakan salahsatu solusi untuk memberantas stunting (kerdil,red) serta inovasi yang dapat mendongkrak kesadaran orang tua dan masyarakat mengenai gizi anak, melalui Kebun digunakan untuk membiasakan budaya tanam dan kemandirian mengkonsumsi hasil Kebun sendiri dan juga dapat dijual hasil Kebun sebagai kekhasan lembaga PAUD HI, Kantin diharapkan para orang tua dan masyarakat bekerja sama dengan pihak lembaga PAUD-HI untuk meningkatkan gizi anak, sedangkan Koperasi diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan ketahanan ekonomi serta kemandirian lembaga PAUD HI agar tidak bergantung pada bantuan dari luar tetapi pada hasil Kebun atau usaha lain yang bisa di kelola untuk disimpan di kas sekolah, selain untuk membantu dalam pendanaan serta kemandirian di lembaga PAUD di kabupaten kupang juga mengembangkan 12 nilai karakter anak yang menjadi kekhasan daerah.

Andri (2017) meneliti tentang implementasi kegiatan manajemen kebun sekolah di indonesia. Kegiatan dilakukan dalam periode tahun 2011 sampai dengan 2014 yang merupakan kegiatan kerjasama antara Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Jawa Timur) dengan AVRDC (Asian Vegetable Research and Development Center) dan didanai penuh oleh USAID pada 6 sekolah yang menerapkan pendidikan life skill kebun sekolah. Kebun sekolah

(21)

dalam kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan ketersediaan sayuran bagi konsumsi siswa. Kebun sekolah diatur sedemikian rupa sehingga sayuran dapat dipanen hampir setiap hari dan dirancang menggunakan luas lahan yang kecil karena kebanyakan sekolah di Indonesia tidak memiliki halaman yang luas. Siswa terlibat dalam pemeliharaan tanaman sayuran sebagai latihan bercocok tanam sayur dan hasil Kebun digunakan untuk membiasakan budaya tanam serta kemandirian mengkonsumsi hasil Kebun sendiri dan juga dapat dijual hasil Kebun sebagai ke kekhasan lembaga PAUD- HI.

Wu, J. H., et. al (2016) meneliti tentang implementasi kegiatan manajemen kantin sekolah. Hasil menunjukan 263 sekolah Australia menemukan itu kurang dari 35% sekolah menerapkan negara spesifik kebijakan kantin sehat yang membatasi penjualan makanan dan minuman tidak sehat.

Sedangkan di Indonesia temuan BPOM dari dari tahun 2006-2010 menunjukkan, sebanyak 48% jajanan anak di sekolah tidak memenuhi syarat keamanan pangan karena mengandung bahan kimia yang berbahaya. Jajanan sekolah mengandung bahan tambahan pangan (TPA) melebihi batas aman serta cemaran mikrobiologi selain itu yang menjadi penentu utama adanya kantin sekolah ialah untuk meningkatkan gizi anak.

Sukidjo,et al (2016) meneliti tentang implementasi kegiatan manajemen koperasi sekolah. Hasil penelitian mengungkapkan di Indonesia jumlah wirausahawan sangat sedikit, bahkan dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, menurut survey Bank Dunia tahun 2008, wirausahawan Malaysia mencapai 4%, Thailand 4,1%, dan Singapura 7,2%, di

(22)

Indonesia hanya berjumlah 1,56% ini di karenakan pengembangan kewirausahaan sekolah berbasis kreativitas dan inovasi dengan pemanfaatan koperasi sekolah dijadikan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi serta kemandirian lembaga PAUD HI agar tidak bergantung pada bantuan dari luar tetapi pada hasil kebun atau usaha lain yang bisa di kelola untuk disimpan di kas sekolah.

TK Marsudirini Fioretti merupakan salahsatu lembaga PAUD formal dari 100 PAUD HI yang dituju untuk melaksanakan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) yang terletak di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang merupakan Taman Kanak-Kanak yang terakreditasi dari ke enam lembaga PAUD yang berada di Kecamatan Kupang Tengah. Selain itu peneliti memilih TK Marsudirini Fioretti karena mempunyai keunikan dari PAUD HI lainnya yang ada di Kabupaten Kupang dimana pelaksanaan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti memasukan nilai kebudayaan / kebiasaan dan kearifan lokal masyarakat kecamatan kupang Tengah yang menjadi ciri khas kecamatan tersebut, program 3K yang akan dikenalkan pada anak yaitu pengenalan tentang ciri khas penghasilan pertanian dari kecamatan Kupang Tengah melalui program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) selain itu menjunjung tinggi budaya seperti menenun, mencintai pakaian daerah, anak diajarkan cara menyambut tamu, TK Marsudirini juga memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) selain juknis/Buku Pedoman Program 3K yang menjadi buku pegangan bagi 100 PAUD- HI yang dituju, kemudian keterlibatan orang tua dalam hal pembagian tugas untuk pelaksanaan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi), TK Marsudirini merupakan

(23)

TK yang program 3K (Kantin) tidak semua dimanfaatkan dari Kebun dikarenakan sudah ada dana sehat yang dikumpulkan oleh orang tua anak, dengan TK lain yang berada di Kabupaten Kecamatan Kupang Tengah dan yang ada di Kabupaten Kupang. (Mentor UNICEF, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal tentang Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi ) di lembaga TK Marsudirini Fioretti adalah Pelaksanaan Program 3K yang dilakukan oleh struktur organisasi TK Marsudirini Fioretti belum maksimal dikarenakan masih kurangnya pembinaan khusus tentang program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) dari pihak pemerintah, dalam pengalokasian dana Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) masih perlu pembenahan, kurangnya kesadaran menjalankan tugas dalam mengurus program 3K, kurang bimbingan dan motivasi perangkat di TK Marsudirini dan masih belum terealisasikan tindak lanjut terhadap perangkat lembaga PAUD dalam mengatasi kendala 3K yang terjadi di TK Marsudirini Fioretti.

Pada penelitian sebelumnya mengenai manajemen program 3K Widyastuti, et al (2016) tentang Penataan Halaman Sekolah Sebagai Ekoedukasi yang ditekankan pada program 3K khususnya kebun sekolah. Hasil menunjukan bahwa implementasi program berhasil hal ini di buktikan bahwa pihak TK telah membuat jadwal terhadap seluruh kelas untuk secara bergantian (sesuai jadwalnya) melakukan pemeliharaan tanaman dan taman sekaligus guru akan memanfaatkan halaman sekolah untuk proses pembelajaran, tanaman tumbuh subur serta penataan di halaman cukup bagus dan terpelihara serta dimanfaatkan dengan baik untuk bermain sambil belajar dan Pemeliharaan tanaman melibatkan

(24)

siswa, dan saat panen siswa memetiknya dibawah bimbingan guru, disinilah terjadi proses pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa.

Sebaliknya Kuntariningsih (2018) mengungkapkan program atau kebijakan pemerintah yang mendorong dan menganjurkan Program 3K yang difokuskan kepada Kebun sekolah. Hasil penelitian menunjukan Program yang telah dilakukan tidak melibatkan secara berkala dan pemangku kebijakan tidak melakukan pengecekan ke sekolah-sekolah yang teridenfikasi malnutrisi dan program kebijakan tidak dilakukan dengan penuh ke hati-hatian, yaitu dengan memperhatikan faktor kebutuhan yang menjadi prioritas.

Penelitian implementasi Program 3K yang difokuskan pada program Kantin Sekolah menurut Mensink, et al (2012) penelitian ini dilakukan di Belanda hasilnya menunjukan bahwa program Kantin Sekolah dapat di gunakan sebagai intervensi yang menjanjikan dalam mengubah lingkungan makanan sekolah dan meningkatkan efektivitasnya serta memotivasi semua perangkat sekolah dalam meningkatkan proses implementasi program Kantin Sekolah.

Aimah, et al (2015) dalam penelitiannya mengungkapkan kebijakan sekolah yang mendorong dan menganjurkan Program 3K yang difokuskan kepada Kantin sekolah, hasil penelitiannya menunjukan bahwa Program untuk kantin sehat yang dilakukan disekolah belum tegas dalam membuat kebijakan atau aturan dimana pada hari yang telah ditentukan semua siswa di sekolah tersebut belum membawa bekal dari rumah serta siswa masih membawa uang jajan terbukti dari hasil 22,64% dari para orang tua di sekolah tersebut masih memilki kesulitan

(25)

dalam mempersiapkan serta mengolah bekal makanan yang akan dibawakan kepada anak-anak mereka ke sekolah.

Selanjutnya Sukidjo, et al (2016) dalam penelitiannya mengungkapkan Manajemen Koperasi Sekolah di samping memenuhi kebutuhan sekolah juga mampu menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter kekeluargaan, kemandirian, tanggung jawab dan demokrasi. Namun sebaliknya Rachmawati (2018) menyatakan Manajemen Program 3K yang di fokuskan pada program Koperasi sekolah mengungkapkan bahwa koperasi sekolah yang berada di Palembang belum berjalan optimal karena tidak adanya kerjasama dengan pihak-pihak yang berfungsi menunjang perkembangan koperasi di lembaga sekolah seperti Dinas Koperasi, Dinas Pendidikan dan Pendidikan Menengah, yang bertujuan untuk peningkatan pengetahuan pengelolaan koperasi juga peningkatan pengetahuan teknologi yang dapat digunakan dalam menunjang perkembangan koperasi sekolah itu sendiri.

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dipandang untuk meneliti Implementasi Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian tentang Implementasi Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT, yang menjadi identifikasi permasalahan dari hasil observasi di lapangan mengenai Implementasi program 3K yaitu:

(26)

a. Pelaksanaan Program 3K yaitu perencanaan hingga evaluasi yang dilakukan oleh anggota TK Marsudirini Fioretti yang perlu pembenahan.

b. TK Marsudirini merupakan merupakan TK percontohan untuk pelaksanaan Program 3K (kebun, Kantin, Koperasi) di Kecamatan Kupang Tengah yang perlu dilakukan pembenahan.

c. Masih Kurang Pembinaan terhadap Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) dari Pemerintah terkait .

d. Keterbatasan tenaga untuk pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi)

1.3 Cakupan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan maka permasalahan dalam penelitian ini adalah :

a. Penelitian ini mengkaji Perencanaan, Pelaksanaan, Pengawasan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) yang dilakukan pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT

b. Faktor Penghambat Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti.

1.4 Rumusan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dibatasi menjadi 3 hal yaitu:

(27)

a. Bagaimana Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti Kabupaten Kupang-NTT?

b. Apa saja faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang- NTT?

1.5 Tujuan Penelitian

Sesuai rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mendeskripsikan Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) di TK Marsudirini Fioretti Kabupaten Kupang-NTT

b. Untuk Mendeskripsikan faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada TK Marsudirini Fioretti di Kabupaten Kupang-NTT?

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoretis

Manfaat Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat mem berikan sumbangan bagi keilmuan, khususnya Implementasi Program 3K (Kebun,Kantin, Koperasi).

1.6.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Pemerintah, sebagai deskripsi dan bahan evaluasi untuk memperhatikan kebijakan dan pelaksanaan program 3K (Kebun,

(28)

Kantin, Koperasi) agar sesuai dengan tujuan masing-masing lembaga PAUD yang dituju.

b. Bagi sekolah, penelitian ini sebagai deskripsi dan bahan monitoring dalam implementasi program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) agar dalam pelaksanaan berikutnya lebih baik.

c. Bagi Guru, penelitian ini sebagai bahan evaluasi oleh guru dalam kegiatan pengenalan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pada anak.

d. Bagi Orang tua, penelitian ini dapat memberi informasi dan gambaran umum terkait Program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi)

(29)

2.1 Kajian Pustaka

Hakikat kajian pustaka yakni untuk mengungkapkan, menegaskan, menyanggah, mengisi kekosongan dan mengembangkan hasil penelitian terdahulu sehingga mnghasilkan kebaharuan penelitian. Kajian hasil penelitian yang relevan merupakan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan dikaji keterkaitannya dengan penelitian yang sedang dilangsungkan.

Adapun beberapa penelitian yang terdahulu dapat dijadikan acuan untuk penelitian berikutnya walaupun berbeda dalam variabel, fokus atau subjek dan/atau objek, berikut beberapa penelitian yang relevan terkait dengan penelitian ini:

Penelitian Sari (2017) tentang Implementasi Manajemen Mutu Terpadu di PAUD PGTK IT Harapan Mulia menyatakan bahwa Permasalahannya masih banyak lembaga PAUD yang gagal dalam mengimplementasikan manajemen mutu terpadu dimana langkah-langkah seperti quality planing, quality control dan quality imporvment belum banyak dioptimalkan dengan baik, permasalahan berat yang harus dihadapi dalam pembangunan pendidikan di Indonesia terutama di daerah, yaitu, berkenaan dengan aspek (1) peningkatan mutu pendidikan (2) pemerataan pendidikan (3) efesiensi manajemen (4) peran sekolah masyarakat (5) akuntabilitas.

14

(30)

Dari hasil penelitian ini mendukung kajian tentang manajemen suatu lembaga yang perlu diperhatikan seperti quality planing, quality control dan quality imporvment agar lebih optimal.

Penelitian Korpershoek dkk (2016) A Meta-Analysis of the Effects of Classroom Management Strategies and Classroom Management Programs on Students’ Academic, Behavioral, Emotional, and Motivational Outcomes menyatakan bahwa banyak temuan penelitian telah menunjukkan bahwa guru memainkan peran sebagai kunci dalam membentuk pendidikan yang efektif (Hattie, 2009). Manajemen kelas yang efektif umumnya didasarkan pada prinsip membangun lingkungan kelas yang positif antara hubungan guru-siswa yang efektif (Wubbels, Brekelmans, Van Tartwijk, & Admiraal, 1999). CMS adalah alat yang dapat digunakan oleh para guru dalam membantu menciptakan lingkungan seperti itu, mulai dari kegiatan untuk meningkatkan guru-siswa hubungan dengan aturan untuk mengatur perilaku siswa.

Hasil penelitian ini mendukung pada manajemen khususnya manajemen strategi menggunakan program CSM yang diharapkan berjalan efektif dan ini mengacu pada tingkat keberhasilan sebuah lembaga pendidikan dasar dalam mencapai tujuan pendidikan.

Siswadi & Wiyani (2018) dalam Penelitian yang berjudul Manajemen Program Kegiatan Paud Berbasis Otak Kanan menyatakan bahwa Pembelajaran tematik dan pembiasaan menjadi program kegiatan PAUD yang dijadikan sebagai media internalisasi nilai tauhid dan entrepreneur.Untuk memastikan proses internalisasi nilai tauhid dan entrepreneur berlangsung dengan efektif dan efisien,

(31)

maka dilakukanlah empat kegiatan manajerial, yaitu perencanaan program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, pengorganisasian program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, pelaksanaan program kegiatan PAUD berbasis otak kanan, dan penilaian program kegiatan PAUD berbasis otak kanan.

Dari hasil penelitian ini mendukung tentang bagaimana Manajerial program kegiatan berlangsung efektif dan efesien maka perlu adanya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap program kegiatan.

Penelitian Firmansyah dan Wardhana (2016) tentang Penguatan Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Di Desa Garawangi dan Desa Rancaputat Kecamatan Sumber Jaya Kabupaten Majalengka menyebutkan bahwa Lembaga-lembaga PAUD (Pengembangan Anak Usia Dini) memiliki peran penting dalam sektor pendidikan bangsa karena mereka adalah lembaga pertama yang menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik, baik nilai-nilai agama atau nilai-nilai universal. Manajemen lembaga ECD tampaknya dianggap kurang penting atau kurang bergengsi dibandingkan dengan manajemen lembaga pendidikan tinggi seperti tingkat sekolah menengah atau universitas, hasil kegiatan Program Layanan Masyarakat yang berfokus pada pengembangan anak usia dini di desa Garawangi dan Rancaputat, Kabupaten Sumberjaya, Majalengka. Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya manajemen pendidikan anak usia dini, khususnya dalam aspek manajemen keuangan. Selain itu, diharapkan menambah wawasan

(32)

tentang Program Layanan Masyarakat dengan fokus pada lembaga kecil di desa seperti pengembangan anak usia dini.

Hasil penelitian ini mendukung dalam bentuk layanan program yang berkerjasama dengan pemerintah setempat dalam hal meningkatkan layanan PAUD bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, membangun sistem PAUD yang bermutu dan berkelanjutan, melakukan pengelolaan, pemantauan dan penilaian program secara efektif.

Selanjutnya Purwaningsih (2017) tentang Implementasi pendidikan anak usia dini di balai pesindenan no 3 panembahan kraton yogyakarta menyebutkan bahwa gencarnya program pemerintah dalam mensosialisasikan penyelenggaraan PAUD tentu saja perlu memahami penyelenggaraan PAUD yang berkualitas bagi anak usia dini, akses yang mempermudah masyakarat dalam menyelenggarakan PAUD merupakan pijakan awal penyelenggaraan PAUD yang berkualitas akan pentingnya pendidikan anak usia dini. Pentingnya program PAUD untuk diimplementasikan mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia 0-6 tahun. Pelaksanaan program PAUD terlaksana karena kerjasama dari beberapa para pelaksana kebijakan.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal Program pemerintah yang mengsosialisasikan penyelenggaraan PAUD dan tentu saja perlu memahami penyelenggaraan PAUD yang berkualitas bagi anak usia dini serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Wulan Adiarti, Henny Puji Astuti & Sri Sularti Dewanti Handayani (2016) dalam penelitian The Implementation of Holistic Integrative Services in Early

(33)

Childhood Education (ECE): Perspective on 2013 ECE Curriculum in Indonesian Preschool, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Layanan ECE Integratif Holistik terhadap peraturan kurikulum 2013 di Taman Belia memenuhi komponen-komponen berikut: Aspek pendidikan terdiri dari stimulasi perkembangan anak menggunakan model pusat dan keragaman layanan pendidikan di bawah satu atap. Nutrisi dan Aspek Kesehatan terdiri dari pemeriksaan kesehatan dan program makanan sehat. Aspek Pengasuhan terdiri dari berkelanjutan di pusat anak, dan program pengasuhan anak di rumah. Aspek Perlindungan terdiri dari perlindungan fisik dan mental untuk anak-anak.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa model layanan pendidikan holistik integratif sesuai dengan Kurikulum ECE 2013 di pusat-pusat ECE Indonesia mencakup layanan pendidikan, layanan gizi, fisik dan pelestarian psikologis untuk anak-anak, diikuti dengan pengasuhan berkelanjutan baik di sekolah maupun di rumah. Ini berdasarkan tentang penelitian yang diadakan di salah satu pusat ECE terbaik di Indonesia.

Hasil penelitian ini mendukung dalam layanan PAUD Holistik Integratif dimana layanannya mencakup pendidikan, layanan gizi, fisik dan pelestarian psikologis untuk anak-anak, diikuti dengan pengasuhan berkelanjutan baik di sekolah maupun di rumah.

Senada dengan Nana Usnawati, Astuti Setiyani & Subagyo (2016) penelitianya tentang Pembinaan Paud Holistik Integratif Dalam Perspektif Pencapaian Target Sdidtk menyatakan bahwa Pengembangan anak usia dini holistik integratif adalah pengembangan anak usia dini (0-6 tahun) yang dilakukan

(34)

berdasarkan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan sistematis. Kenyataan dilapangan, program layanan tersebut belum saling terkait secara simultan dan sistematis dalam mengembangkan kebutuhan esensial anak usia dini yang beragam, baik kesehatan, gizi, pengasuhan, perawatan, perlindungan dan rangsangan pendidikan.

Pembinaan dipengaruhi oleh faktor kemampuan, motivasi, teknik pembinaan, dan sikap pembina. Pembinaan yang dilakukan meliputi struktur kelembagaan, SDM, sarana prasarana, jenis layanan komprehensif, manajemen, dan jejaring/mitra.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan PAUD Holistik Integratif dalam kategori baik yang di lihat dari hasil analisis multivariat faktor kemampuan dan sikap pembina, faktor yang dominan dengan pembinaan adalah kemampuan.

Penelitian ini mendukung dalam Pembinaan PAUD Holistik Integratif yang dilakukan meliputi struktur kelembagaan, SDM, sarana prasarana, jenis layanan komprehensif, manajemen, dan jejaring/mitra.

Hal tentang pelaksanaan program juga diungkapkan oleh Monikasari (2013) dalam penelitian nya berjudul “Pelaksanaan Program Parenting Bagi Orang Tua Peserta Didik Di Paud Permata Hati” menyatakan bahwa proses pelaksanaan program parenting bagi orangtua peserta didik di SPS Permata Hati dan penerapan hasil belajar program parenting oleh orangtua menunjukan bahwa proses pelaksanaan program parenting dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan program parenting, Penerapan hasil belajar program parenting dilaksanakan oleh orang tua peserta didik sesuai dengan materi yang telah disampaikan oleh nara sumber program parenting.

(35)

Kemudian penelitian selanjutnya Sumaryanto (2014) tentang Kebijakan Kelembagaan Paud menyebutkan bahwa kebutuhan masyarakat akan pendidikan merupakan kebutuhan vital untuk pengembangan potensi dan bakat anak didiknya. Usaha untuk mendorong pengembangan kelembagaan PAUD terus menjadi perhatian yang cukup besar. Harapan ideal, pemerintah dan masyarakat dapat mengelola kelembagaan PAUD secara baik dan professional Realitasnya pengelolaan lembaga PAUD masih jauh dari profesional termasuk pembinaan guru, lembaga yang kurang baik, padahal keberadaan PAUD harus mendapat dukungan yang tinggi dari pemerintah. Selain itu, sosialisasi PAUD non-formal masih harus terus diperbaiki. Indikasi dari keseriusan dan keterlibatan orang tua dalam mengembangkan kelembagaan PAUD, di mana orang tua murid biasanya digunakan untuk kebutuhan operasional PAUD. Kebanyakan lembaga PAUD di Kota Administrasi Jakarta Utara adalah PAUD yang terintegrasi dengan Play Group, PAUD, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (TK) yang penginisiatifnya berasal dari pribadi-pribadi kader PKK, pengurus Posyandu dan Pengurus Rukun Warga (RW) atau yayasan tertentu.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal Program Pemerintah yang mengsosialisasikan penyelenggaraan PAUD, harapan ideal pemerintah dan masyarakat dapat mengelola kelembagaan PAUD secara baik dan professional serta di dukung dengan realitas pengelolaan lembaga PAUD yang efektif .

Lalu menurut Sjamsir dan Gunarto (2017) Implementasi Strategi 7 Ps (Marketing Mix) dalam Membangun Kemitraan Menuju Lembaga Mandiri Di Pendidikan Anak Usia Dini menyatakan bahwa bebuah lembaga PAUD yang

(36)

sederhana dengan inovasi serta pembaharuan terus menerus, tetap bisa optimal dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya, memanfaatkan sumber daya yang ada, dan yang pasti mampu mengembangkan jejaring kemitraan untuk kemandirian lembaga PAUD..

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal pengelolaan dalam mengembangkan jejaring kemitraan untuk kemandirian lembaga PAUD melalui program yang bersifat multipartisipatif di PAUD Balikpapan, Marwanto (2012) menyatakan untuk jasa lembaga pendidikan, terdapat 7 Ps unsur pemasaran yang disebut marketing mix-7 Ps, yaitu produk (product), harga (price), promosi (promotion), lokasi (place), sumber daya manusia (partisipant), proses (process), dan tampilan gedung (physical evidence), dimana Strategi 7 Ps ini merupakan strategi pendekatan masyarakat melalui marketing pendidikan dan bauran pemasaran (Ivy, 2008;Baumgartner, 2009; Enache, 2011; Marwanto, 2012;Asiah, 2013). Strategi 7 Ps ini dapat digunakan untuk mengembangkan jejaring kemitraan secara luas, dan menjadikan wujud kerja sama yang bersinergis saling menguntungkan, sehingga lembaga PAUD yang dikelola terus berkesinambungan yang pada akhirnya menjadi lembaga PAUD yang mandiri.

Hanifah. (2018) dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Manajemen Program Pembelajaran Bagi Guru Paud Dalam Meningkatkan Kinerja Pendidik”

mengatakan bahwa Penelitian mendapatkan hasil bahwa dalam perencanaan pembelajaran Pos Paud Dahlia 15 merencanakannya dengan matang agar tumbuh kembang anak sesuai dan terarah dan juga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat

(37)

dan juga dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Penilaian pembelajaran 80% sudah mencapai tujuan yang sudah dibuat oleh sekolah Pos Paud Dahlia 15.

Hasil penelitian ini mendukung dalam penerapan manajemen program pada POS Paud perlu memperhatikan tujuan dari program tersebut agar tercapai sesuai yang diinginkan pihak sekolah dan dapat bermanfaat bagi lembaga Paud itu sendiri.

Dan penelitian selanjutnya dari Kuntariningsih (2018) tentang Analisis Dampak Program Kebun Sekolah untuk Mengatasi Kekurangan Gizi Anak mempunyai keterkaitan dengan peneltian ini pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG), salah satunya mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong pertanian yang berkelanjutan, kurangnya konsumsi buah dan sayuran menyebabkan kekurangan gizi (malnutrisi), penelitian ini mengetahui akar masalah penyebab kekurangan gizi (malnutrisi) dan menganalisis kebijakan alternatif untuk mengatasi perbaikan gizi pada anak.

Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak. Kebijakan pemerintah harus diperbaharui dan lebih ditingkatkan lagi dengan menganjurkan siswa sekolah untuk mengkonsumsi buah dan sayuran sesuai kebutuhan kalori setiap harinya.

Hasil penelitian dengan subyek penelitian sebanyak 30 orang meliputi 10 siswa, 5 orang guru, 5 penjual makanan di sekolah dan 10 orang tua siswa. menunjukkan bahwa kurangnya gizi pada anak terutama anak pada masa pertumbuhan tak lepas

(38)

dari kebiasaan anak mengkonsumsi makanannya. Pengetahuan orang tua tentang gizi masih kurang, terutama perhatian terhadap apa yang dikonsumsi di sekolah.

Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak.

Hasil penelitian ini mendukung pada adanya program disekolah untuk mengetahui akar masalah penyebab kekurangan gizi (malnutrisi) dan menganalisis kebijakan alternatif untuk mengatasi perbaikan gizi pada anak, Kebun sekolah adalah salah satu program yang dapat memberikan pengetahuan dasar tentang gizi kepada anak serta Kebijakan Pemerintah harus diperbaharui dan lebih ditingkatkan lagi dengan menganjurkan siswa untuk mengkonsumsi buah dan sayuran sesuai kebutuhan kalori setiap harinya.

Triwijayati.,Setiyati, Setianingsih, & Luciana . (2016) dalam penelitiannya tentang “Anak dan Jajanan Sekolah: Program Pemberdayaan Kesehatan Anak Sekolah dalam Perspektif Pemerintah Daerah” mengatakan bahwa pemerintah

mengambil peran mengatur regulasi yang berkaitan dengan sekolah, kantin dan Pedagang Kaki Lima (PKL) terkait dengan jajanan sehat untuk anak. Namun, di sisi lain program-program tersebut belum banyak berkaitan langsung dengan sasaran utama yaitu anak jajanan sekolah. Diperlukan pula upaya lintas sektoral untuk memberdayakan anak yaitu dengan melibatkan sekolah dan orang tua.

Hasil penelitian ini mendukung dalam hal tujuan dan kebermanfaatan dari program dalam penyediaan jajanan sekolah yaitu kantin sekolah, pemerintah yang terkait diharapkan ikut mendukung pelaksanaan program yang melibat sekolah dan orang tua dalam penyajian jajanan sehat di sekolah.

(39)

Latifah & Widiastuti (2018) penelitian ini tentang Peran HIMPAUDI Dalam Meningkatkan Manajemen PAUD di Kober Darul Farohi mempunyai keterkaitan dalam pelaksanaan fungsi manajemen Organisasi HIMPAUDI menurut pendapat Terry yang lazim digunakan pada tahun 1987 (Gunawan &

Benty, 2017) mengemukakan empat proses manajemen, yang dapat disingkat dengan POAC, yaitu: perencanaan (Planning) adalah proses kegiatan rasional dan sitematik dalam menetapkan keputusan, kegiatan atau langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam rangka usaha sistematik guna mencapai tujuan dengan cara efektif dan efisien, (2) pengorganisasian (Organizing) merupakan proses menetapkan secara rapi menggunakan sumber daya dengan menugaskan dan mengkoordinasikan tugas. (3) pelaksanaan (Actuating) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh orgainasasi. (4) pengawasan (Controlling) adalah

Hasil penelitian ini mendukung serta mempunyai kesamaan Peran fungsi manajemen lembaga PAUD khususnya di KOBER Darul Farohi Padalarang mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang perlu diperhatikan dan dijalankan dengan baik pada setiap lembaga PAUD.

Penelitian selanjutnya Fauziah & Sugito (2016) Pemetaan Mutu Paud Fullday Untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Dan Kelembagaan Program Paud menyatakan bahwa Program fullday Kindergarten adalah program pendidikan yang memberikan layanan minimum 6 jam dalam sehari yang dimulai pada pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hasil riset menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti full day kindergarten memiliki kesiapan dalam mengikuti sekolah

(40)

dasar, dan memiliki kemampuan membaca jika dibandingkan dengan anak-anak yang mengikuti program half day. Anak-anak di full day memiliki kelebihan dan kesiapan belajar karena menurut hasil penelitian Guru memiliki lebih banyak waktu untuk dapat mengidentifikasi gaya belajar anak, kebutuhan anak serta permasalahan yang dihadapi anak. Sedangkan dari perspektif anak-anak, mereka lebih banyak memiliki pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas, pilihan belajar, dan memperdalam materi karena waktu yang lebih banyak.

Hasil Penelitian ini mendukung pada tujuan program untuk: (1) memetakan program PAUD fullday; (2) menghasilkan rekomendasi penyelenggaraan PAUD fullday dan manajemen program mulai dari perencanaan, pengembangan organisasi PAUD, memimpin, pengawasan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program .

Penelitian Prastiwi dkk (2015) Hubungan antara Persepsi Siswa tentang Kebun Sekolah dengan pengelolaan lingkungan sekolah menyatakan bahwa melalui Kebun sekolah siswa didorong untuk menggunakan semua panca indera untuk mempelajari keadaan lingkungan sekitar Untuk dapat membantu siswa mengenal lingkungan, Kebun sekolah merupakan salah satu pemilihan sarana belajar yang tepat. Hal tersebut sesuai dengan salah satu peran Kebun sekolah yaitu membantu siswa dalam mengenalkan dan memahami lingkungan sehingga akan membentuk siswa yang sadar terhadap lingkungan (Capra dalam Bowker, 2007), dan membentuk sikap yang positif terhadap lingkungan (Williams &

Dixon, 2013). Selain itu, Kebun sekolah juga dapat membantu mengenalkan siswa pada pendidikan lingkungan (Schaidle, 2011). Peran dari pendidikan lingkungan

(41)

yaitu suatu upaya untuk mengubah perilaku menjadi media yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, etika, disiplin, dan budi pekerti terhadap lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2010). Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Kebun sekolah sebagai sarana belajar akan memberikan stimulus yang signifikan mempengaruhi terbentuknya persepsi. Persepsi yang terbentuk selama belajar dengan menggunakan Kebun sekolah memungkinkan siswa memiliki kesadaran dan sensitivitas terhadap lingkungan sekolah sehingga membentuk sikap pengelolaan lingkungan sekolah yang baik.

Hasil penelitian ini mendukung salah satu program Kebun yang di maksudkan disini Kebun Sekolah karena melalui Kebun sekolah siswa didorong untuk menggunakan semua panca indera untuk mempelajari keadaan lingkungan sekitar untuk dapat membantu siswa mengenal lingkungan, Kebun sekolah merupakan salahsatu pemilihan sarana belajar yang tepat, hal tersebut sesuai dengan salah satu peran Kebun sekolah yaitu membantu siswa dalam mengenalkan dan memahami lingkungan sehingga akan membentuk siswa yang sadar terhadap lingkungan.

Penelitian Sukidjo dkk (2016) tentang “Koperasi Sekolah Sebagai Wadah Pengembangan Karakter Siswa” menyatakan bahwa Perilaku kemandirian di sekolah diperlukan agar seorang siswa mengetahui bagaimana mahasiswa dapat bertanggung jawab serta percaya diri dan mampu memecahkan permasalahan yang ada baik pribadi ataupun orang lain. Sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggungjawab untuk mengembangkan perilaku kemandirian yang akan diwujudkan terhadap siswa melalui Koperasi Sekolah atau Koperasi Siswa

(42)

(Kopsis). Berbagai nilai yang ada pada Koperasi ternyata sangat mendukung dalam pendidikan karakter. Oleh sebab itu, dengan dikembangkannya Koperasi diharapkan akan mempercepat pemahaman dan penguasaan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter, sehingga para warga masyarakat nantinya akan memiliki sifat dan perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur, seperti kebersamaan, kepedulian, kejujuran, berkeadilan dan bertanggungjawab. Di lain pihak, keberadaan Koperasi akan eksis apabila didukung oleh pemahaman dari seluruh pemangku kepentingan terhadap nilai-nilai yang berupa keterbukaan demokrasi, partisipasi, kemandirian, kerjasama, pendidikan dan kepedulian kepada masyarakat, faktor kunci sukses pemberdayaan Koperasi meliputi:

pemahaman mengenai jati diri Koperasi, kebutuhan kolektif anggota, sinergisme usaha Koperasi dengan anggota serta kesungguhan dalam pengelolaan.

Hasil penelitian ini mendukung pada Implementasi Program Koperasi berbagai nilai yang ada pada Koperasi ternyata sangat mendukung dalam pendidikan karakter. Oleh sebab itu, dengan dikembangkannya Koperasi diharapkan akan mempercepat pemahaman dan penguasaan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di mulai dari usia PAUD selain itu juga dengan Program Koperasi dapat membantu kemandirian dari setiap Lembaga PAUD serta kesejahteraan para anggotanya.

Vitiello & Brinkley (2014) dalam penelitian The hidden history of food system planning. Journal of Planning History dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada perencanaan kebun oleh Praktisi perencanaan kota dan akademisi umumnya memandang perencanaan sistem

(43)

makanan sebagai area baru untuk di pelajari, dalam penelitian ini, kami melacak kontinuitas luas dan perubahan besar dalam perencanaan pangan pada kebun di Amerika Utara, dengan fokus pada perencanaan fisik, pengembangan ekonomi regional, dan pengembangan ekonomi masyarakat dari zaman penjajahan hingga saat ini.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian pada tahapan perencanaan dalam program 3K (Kebun) yang perlu diperhatikan oleh perangkat sekolah, jadi sebelum melaksanakan tujuan dari sebuah kegiatan berkebun perlu menganalisis kebutuhan dari program tersebut dan manfaatnya bagi sekolah yang melakukan program tersebut.

Sayekti, Istikomayanti & Mitasari (2017) dalam penelitiannya Pendidikan Perilaku Makan Sehat Melalui Pengembangan Kantin Sehat Di Smp/Mts Kota Malang dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program kantin sehat dengan melalui penerapan manajemen operasional kantin sehat yang melibatkan kepala sekolah, guru, siswa serta tim pengembang kantin sehat dapat memberikan pengaruh pada peningkatan pemahaman siswa mengenai pangan jajan yang sehat, aman dan bergizi. Kegiatan penerapan SOP pelayanan dan adab makan siswa, SOP pengelolaan kantin sehat, dan SOP sanitasi serta higienitas memberikan pengaruh terhadap perilaku makan sehat siswa di sekolah serta perilaku adab makan yang baik. Selain itu penerapan SOP tersebut juga memberikan pengaruh terhadap pengetahuan penjual kantin dan mempraktikkan kegiatan penyediaan makan sehat di sekolah.

(44)

Anam & Sakiyati (2019) Kantin Kejujuran Sebagai Upaya Dalam Pembentukan Karakter dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program kantin sehat problematika yang dihadapi dalam penerapan kantin kejujuran adalah dari manajemen pengelolaan kantin yang kurang terstruktur dan keterlambatan dalam penyediaan barang dagangan saat barang dagangan sudah habis. Dan terkadang peran serta partisipasi warga sekolah masih kurang mendukung dengan adanya kantin kejujuran ini.

Andriani, Sutrisno & Sunarto (2017) dengan judul penelitian Peran Guru PPKN Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Melalui Kantin Kejujuran Di Mts Muhammadiyah 01 Tegalombo Kabupaten Pacitan dari hasil penelitiannya mengenai manajemen program 3K yang berfokus pada program manajemen pengelolaan kantin kejujuran yang disiplin, dalam pengelolaan keuangan, memberi sanksi pada peserta didik yang tidak jujur, dan evaluasi di setiap akhir pembelajaran, semua dilakukan dengan sangat tekun. Hal ini dikarenakan agar peserta didik juga turut disiplin dan memiliki karakter yang baik. Dengan demikian partisipasi peserta didik di kantin kejujuran memberikan banyak manfaat supaya diterapkan ke dalam lingkungan sekolah.

Atika (2016) dalam penelitiannya Pengaruh Pelaksanaan Kantin Kejujuran dalam Membentuk Akhlak Siswa di SDN 114 Palembang berdasarkan hasil temuan manajemen program 3K yang berfokus pada program manajemen pengelolaan kantin adalah mengatur, mengelola, menentukan, menggerakkan atau melaksanakan dan mengawasi sudah baik namun belum optimal. Sedangkan pengaruh kantin kejujuran sekolah dalam membentuk akhlak siswa di menunjukkan tingkat yang tinggi.

(45)

Latifah, Boga & Maryono (2014) dalam penelitiannya tentang Pengenalan model kebun sayur sekolah untuk peningkatan konsumsi sayuran bagi para siswa di Kediri-Jawa Timur berdasarkan hasil temuan manajemen program 3K yang berfokus pada kebun sekolah Pola tanam diatur sedemikian rupa sehingga sayuran dapat dipanen hampir setiap hari, siswa terlibat dalam pemeliharaan tanaman sayuran sebagai latihan bercocok tanam sayur. Setiap panen sayuran direkap dan kandungan gizinya dihitung, hasilnya menunjukkan bahwa total panen berbagai macam sayuran ialah 249.6 kg, yang setara dengan 683.8 gram per hari. Jika sebuah keluarga memiliki empat anggota, masing-masing orang akan mengkonsumsi sayur 171g per hari. Hal ini memenuhi 43% dari rekomendasi WHO untuk konsumsi buah-buahan dan sayuran. Dengan kata lain, konsumsi sayuran telah mencapai 85%. Dengan demikian, sayuran di lahan seluas 36 m2 telah mampu memenuhi konsumsi sayur sehari-hari. Hal ini menunjukkan pemenuhan asupan gizi harian untuk beberapa vitamin dan mikro-nutrisi.

Davis , Spaniol, & Somerset, (2015) dalam penelitiannya Sustenance and sustainability: maximizing the impact of school gardens on health outcomes berdasarkan hasil temuan manajemen program 3K yang berfokus pada kebun sekolah tiga dari studi yang ditinjau tidak memiliki kelompok pembanding atau kontrol dan hanya mengevaluasi perubahan dalam kelompok setelah intervensi kebun. Tidak ada studi yang ditinjau secara acak, tetapi ditugaskan berdasarkan sekolah minat dan waktu kebun sekolah baru sedang dibangun. Dari sebelas program yang meneliti asupan makanan, enam menemukan bahwa program menghasilkan dalam peningkatan asupan sayuran, sedangkan empat tidak

(46)

menunjukkan efek. Tujuh dari delapan studi yang mengukur preferensi menemukan bahwa program menghasilkan peningkatan preferensi untuk sayuran.

Program berkebun juga menghasilkan peningkatan sikap terhadap, keinginan untuk menkonsumsi, identifikasi dan kemajuan siapkan / masak buah dan sayuran.

Strategi/komponen serupa yang digunakan oleh sebagian besar program termasuk:

kurikulum 'langsung', penggabungan komponen memasak, menyediakan instruktur, dukungan orang tua dan pemangku kepentingan, penyediaan makanan dan menggunakan kebun sebagai titik fokus untuk promosi media. Kesimpulan beberapa program kebun menghasilkan peningkatan asupan sayuran, yang memiliki implikasi positif bagi kelestarian lingkungan dan hasil yang berhubungan dengan kesehatan. Selanjutnya, mayoritas menghasilkan beberapa perbaikan dalam penentu perilaku lebih umum. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan agar memahami cara mencapai perbaikan jangka panjang dalam perilaku diet dan bagaimana mempertahankan program berbasis kebun di sekolah.

Suyati (2016) dalam penelitiannya tentang Pengelolaan Manajemen Koperasi Sekolah hasil penelitian manajemen program 3K yang berfokus pada Koperasi Sekolah ini menunjukkan bahwa Pengelolaan manajemen koperasi sekolah berjalan dengan baik dan lancar, karena bimbingan dan arahan yang diberikan oleh guru yang menjadi pembina koperasi telah mengajarkan secara teori pada saat pembelajaran yang berkaitan dengan koperasi siswa dan mempraktikkan secara langsung kepada peserta didik bagaimana pengelolaan koperasi dengan baik, tentunya dengan pelaksanaan manajemen didalam kegiatan berkoperasi tersebut, sehingga koperasi siswa dapat berjalan sampai saat ini dan

(47)

berjalan dengan baik dari hasil laporan keuangan yang telah dilampiran maka hasil pengelolaan koperasi bisa dikatakan sehat dalam hasil penelitian ini.

Dampak dari adanya manajemen dalam pengelolaan Koperasi Sekolah dalam kegiatan koperasi siswa di sekolah membuat siswa tahu bagaimana berwirausaha, melihat peluang-peluang bisnis, dapat melaporkan hasil kegiatan koperasi setiap tahunnya, dan setiap tahunnya juga selalu mengalami peningkatan sehingga Likuiditas yang didapat berjalan seimbang.

Wasono & Sutarto (2015) dari hasil penelitiannya tentang Improving Human Resourcesthrough The Internalization Of Cultural Values Organization

mengatakan bahwa dalam pengorganisasian perlu memiliki nilai-nilai budaya organisasi yang kuat (1) kepercayaan, (2) motivasi diri, (3) sistem penghargaan, (4) pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, (5) kontrol dan pengambilan keputusan bersama serta (6) pelatihan yang berkualitas dengan memanfaatkan sumber daya serta budaya yang ada. Hasil penelitian mendukung dalam tahapan pengorganisasian setiap program atau kegiatan perlu memiliki nilai-nilai budaya organsisasi yang kuat .

2.2 Kerangka Teori 2.2.1 Implementasi

Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, menurut Mulyasa (2010:178) implementasi merupakan

(48)

suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap. Lebih lanjut Setiawan (2004:39) menjelaskan implementasi adalah perluasan aktivitas saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif. Senada dengan pendapat Bunu, H. Y. (2012) implementasi adalah suatu penerapan atau tindakan nyata dalam melaksanakan rencana yang telah dirancang dengan matang sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan berbagai definisi implementasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi adalah suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya. Implementasi juga merupakan proses untuk melaksanakan ide, proses atau seperangkat aktivitas baru.

Adapun implementasi yang terkait dalam penelitian ini adalah implementasi yang menyangkut pelaksanaan program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) di TK Marsudirini Kabupaten Kupang-NTT.

2.2.2 Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris “Management” dengan kata kerja “to Manage” yang secara umum berarti mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina atau memimpin; kata benda “Management”, dan “Manage” berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Terdapat pula

(49)

pakar yang berpandangan bahwa kata manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu berasal dari kata “Mantis” yang berarti tangan dan “agere” yang berarti melakukan. Dua kata tersebut digabung menjadi kata kerja “managere” yang artinya menangani. Kata “Managere” diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja “To Manage”, dengan kata benda “Management” dan

“Manage” untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen menurut Karwati dan Priansa (2014:3).

Selain itu menurut Koontz dan O’Donnel dalam Malayu (2012) mengatakan bahwa management is getting things done through people. In bringing about this coordinating of group activity, the manager, as a manager plans, organizes staffs, direct and control the activities other people artinya Manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.

Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atau sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.

Manajemen menurut Terry dan Rue (2015: 1) yang diterjemahkan oleh G.A Ticoalu adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengaruh suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang nyata, Manajemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah pengelolaan (managing) sedangkan pelaksanaannya disebut Manager atau pengelola.

Berdasarkan beberapa definisi manajemen yang dipaparkan beberapa ahli secara umum dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah upaya mengelola,

(50)

mengatur, dan mengarahkan proses interaksi edukatif suatu kelompok orang- orang ke arah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang nyata.

Adapun manajemen yang terkait dalam penelitian ini adalah yang menyangkut manajemen pelaksanaan program kegiatan di lembaga PAUD yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan yaitu program 3K (Kebun, Kantin, Koperasi) pendukung PAUD HI di TK Marsudirini Kabupaten Kupang-NTT.

2.2.3 Fungsi Manajemen

Dalam setiap pekerjaan, program, organisasi, instansi atau lembaga tentunya harus mempunyai fungsi manajemen agar berjalan dengan baik. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang fungsi manajemen, pendapat Terry yang lazim digunakan tahun 1987 dalam Latifah & Widiastuti (2018) mengemukakan empat proses manajemen, yang dapat disingkat dengan POAC, yaitu:

1) Perencanaan (Planning) adalah proses kegiatan rasional dan sistematik dalam menetapkan keputusan, kegiatan atau langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam rangka usaha sistematik guna mencapai tujuan dengan cara efektif dan efisien.

Terry (2009: 9) juga mengemukakan tentang pengertian planning (perencanaan) yaitu menentukan tujuan-tujuan yang hendak di capai selama suatu yang akan datang dan apa yang harus di perbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

(51)

Selain itu menurut Robbins & Coulter (2012:37) mengemukakan tentang perencanaan (planning) yaitu manager are that someone, as manager engage in planning, they set goals, establish strategies for archiveng those goals and develop plans to integrate and coordinate activitie yang artinya dalam perencanaan manajer terlibat mereka menetapkan tujuan, menetapkan strategi untuk mencapai tujuan-tujuan itu dan mengembangkan rencana untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan kegiatan.Tujuan Perencanaan menurut Husain (2009:65) untuk standar pegawasan yaitu mencocokkan pelaksanaan dengan perencanaan, mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan, mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) baik kualifikasinya maupun kuantitasnya, mendapatkan kegiatan yang sistemaatis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan, meminimalkan kegiatan- kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu, memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan, menyerasikan dan memadukan beberapa sub-kegiatan, mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui dan mengarahkan pada pencapaian tujuan.

Menurut Handoko dalam Usman (2009:66) mengemukakan sembilan manfaat perencanaan yaitu membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan, membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama, memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran, membantu penempatan

Gambar

Gambar 7.2 Peneliti sedang mewawancarai Kepala TK Marsudirini Fioretti
Gambar 7.4 Peneliti sedang mewawancarai orang Tua anak TK Marsudirini Fioretti
Gambar 8.1 Kegiatan Program 3K (Kebun) di TK Marsudirini Fioretti
Gambar 8.2 Kegiatan Program 3K (Kantin) di TK Marsudirini Fioretti
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pendampingan dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan informasi mengenai GPP/H dan kedua model proses regulasi emosi melalui kelima aspeknya (pemilihan situasi,

Biaya perjalanan, dengan justifikasi jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan

Hasil ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak jadi ada Pengaruh diet DM terhadap penurunan gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe II di Puskesmas

Fosil pollen yang ditemukan pada daerah penelitian termasuk dalam kelompok gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka hadir pada lingkungan darat), angiospermae

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial harga dan lokasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan, sedangkan kualitas pelayanan

Jika ingin membeli obat tradisional harus sudah terdaftar di Badan POM dan ada izin edarnya (Republik Indonesia, 2019). Saat sessi tanya jawab, peserta cukup antusias pada

Dari hasil pembahasan di atas bahwa sangat penting dan juga sangat berarti administrasi pada suatu pendidikan untuk mencapai tujuan yang optimal, yang sebagaian