• Tidak ada hasil yang ditemukan

KALORAN SUB DISTRICT TEMANGGUNG DISTRICT

Dalam dokumen AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN (Halaman 53-66)

THE IMPLEMENTATION OF SQ3R METHOD IN THE CRITICAL READING COMPETENCE LEARNING

KALORAN SUB DISTRICT TEMANGGUNG DISTRICT

Mujiyanto, Marjianto, Prihadi Dwi Hatmono, Sukarti, Agus Subandi, Dini Yulinda W

Abstrak

Kompetensi Sosial guru Pendidikan Agama Buddha masih jauh menunjukkan keprofesionalannya. Misalnya dalam pembinaan umat Buddha di wilayahnya. Peran guru bulum menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan, begitu juga bagi guru yang sudah tersertifikasi Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi sebanyak 100 umat Buddha di Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Pengujian terhadap validitas, reliabilitas butir kuesioner dilakukan dengan menghitung korelasi product moment dan cronbach alpha melalui program SPSS. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa butir kuesioner semua valid dan reliabel, dengan nilai r hitung lebih besar dari r tabel. Data yang sudah valid dan reliabel diolah melalui program SPSS dengan uji regresi linier berganda. Hasil uji regresi linier berganda dihasilkan bahwa variabel berpengaruh adalah kompetensi guru pendidikan agama Buddha tersertifikasi dengan nilai signifikansi 0% dan nilai beta 1,189 . Hal ini dapat dilihat pada koefisien beta dengan koefisien yang belum distandarkan.

Kata kunci: Kompetensi Sosial, Guru Pendidikan Agama Buddha, Sertifikasi, Pembinaan Umat. ABSTRACT

The social competence of Buddhist Religion teachers is still far from professionalism. For example is in the development of Buddhists in the region. The teacher’s role was not showed significant competence improvement, as well as for certified teachers. This study used quantitative methods with a population of 100 Buddhists in Kaloran Subdistrict of Kebumen District. The tests on the validity, reliability of questionnaire item were conducted by calculating the product moment correlation and Cronbach alpha through SPSS. The validity and reliability test results showed that the all questionnaire items are valid and reliable, with the value of rcount are greater than rtable. The valid and reliable data processed through the SPSS program with multiple linear regressions. The results of multiple linear regressions showed that the effected variable is competence of certified Buddhist teacher with a significance value of 0% and a beta value of 1.189. This can be seen in the beta coefficients are not standardized coefficients.

Keywords: social competence, Buddhist teacher, certification, people guidance

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada semua aspek kehidupan manusia. Kondisi ini dapat menimbulkan perubahan positif dan negatif bagi kehidupan manusia di era persaingan global. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan.

Salah satu bidang yang mempunyai peranan besar dalam menentukan kemajuan suatu bangsa adalah bidang pendidikan.

Terkait hal tersebut pemerintah Indonesia memberikan prioritas dalam bidang pendidikan dengan menambahkan jumlah anggaran setiap tahunnya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik dengan pemberian tunjangan

Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol I No. 1 September 2014

sertifikasi guru. Namun Kondisi ini belum sepenuhnya mendapatkan respon positif dari masyarakat umum. Sebagian masyarakat menilai tunjangan setifikasi guru merupakan pemborosan anggaran negara, dimana kegiatan belajar belum menampakkan hasil signifikan dengan anggaran yang dikeluarkan oleh negara. Sebagian lagi menilai bahwa guru-guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi mengalami perubahan gaya hidup yang tidak lagi mencerminkan gaya sebagai seorang pendidik, antara lain guru menjadi eksklusif dan konsumtif serta kepedulian sosialnya menurun. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi belum mencerminkan seorang guru yang ideal. Kompetensi guru ideal harus memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional, sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kondisi demikian juga terjadi pada guru Pendidikan Agama Buddha. Sehingga tidaklah mengherankan jika masyarakat Buddha yang peduli pendidikan memberikan kritik atas kinerja para guru Pendidikan Agama Buddha.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa tugas guru adalah: Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Kalimat tersebut di atas menyiratkan bahwa guru Pendidikan Agama Buddha mempunyai peran penting dalam membentuk pribadi yang luhur, mandiri dan bertanggung jawab sebagaimana yang ingin diwujudkan dalam tujuan pendidikan nasional. Pendidikan harus menghasilkan manusia atau pribadi yang utuh, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan berilmu serta memilliki tingkah laku yang luhur dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya guru Pendidikan Agama Buddha masih sangat jarang menunjukkan kompetensi sosialnya, sehingga masyarakat merasa kecewa karena kontribusi para guru tersertifikasi masih jauh dari yang diharapkan masyarakat. Secara umum,

kewajiban guru tersertifikasi harus meningkatkan kompetensi sosialnya dalam melakukan pendidikan berupa pembinaan kepada masyarakat, sehingga masyarakat mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik serta masyarafkat.

Kabupaten Temanggung, khususnya di Kecamatan Kaloran merupakan salah satu basis umat Buddha di Jawa Tengah, yang rata-rata tingkat pendidikan formalnya selesai pada tingkat pendidikan dasar. Mata pencaharian mereka sebagai petani, sehingga mereka membutuhkan bimbingan dan pembinaan dari para guru pendidikan agama Buddha, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka beranggapan bahwa guru pendidikan agama Buddha memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih dibandingkan masyarakat Buddha pada umumnya mengenai ajaran agama Buddha. Kondisi demikian menjadikan guru Pendidikan Agama Buddha dihormati dan dijadikan teladan bagi masyarakat karena memiliki memiliki status sosial yang lebih tinggi. Sudah sepantasnya jika masyarakat bimbingan dan pembinaan yang bermanfaat dari guru pendidikan agama Buddha tersertifikasi.

Masyarakat menjadi bagian penting dari tingkat profesionalisme guru tersertifikasi karena masyarakat akan kritis dalam menilai kinerja, kemampuan bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Hal inilah yang mendasari mengapa guru harus memiliki beberapa kompetensi khususnya kompetensi sosial bagi guru tersertifikasi. Masyarakat akan menilai profesi guru itu rendah bila guru tersebut tidak memiliki peran yang penting dalam kemajuan lingkungannya. Menurut Nana Sudjana (1988) dalam Drs. Moh Uzer Usman (2006) rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya pandangan masyarakat, bahwa siapa pun dapat menjadi guru jika mempunyai berpengetahuan. Kedua, kekurangan guru daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru. Ketiga, banyak guru yang belum menghargai profesinya, sehingga tidak berusaha mengembangkan profesinya.

Kabupaten Temanggung dipilih sebagai tempat penelitian karena di kabupaten tersebut

memiliki setidaknya 10 guru pendidikan agama Buddha yang telah tersertifikasi. Selain itu letak kabupaten Temanggung strategis dan berdekatan dengan ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Menurut informasi dari masyarakat terdapat beberapa guru Pendidikan Agama Buddha yang belum memberikan peran dalam membina umat di daerah tersebut. Apabila hal ini terjadi berarti kompetensi guru tersertifikasi belum baik atau kurang sempurna.

Masyarakat di Kabupaten Temanggung khususnya umat Buddha mengharapkan kepedulian dari para guru dan kaum intelek untuk berperan aktif dalam memajukan agama Buddha di daerahnya. Dimana salah satu tugas guru pendidikan agama Buddha tersertifikasi memberikan pelayanan kepada masyarakat, salah satu contoh pelayanan yaitu memberikan peran dalam kegiatan Vihara seperti membina kegiatan umat dan pembinaan Sekolah Minggu Buddhis.

Guru

Guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: p. 497) diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar. Guru merupakan profesi, yaitu pekerjaan yang menuntut keahlian. Artinya bahwa pekerjaan sebagai guru tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan. Dengan demikian Guru pendidikan agama Buddha sebagai seorang pendidik hendaknya memiliki empat jenis kompetensi, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005, disebutkan bahwa guru harus memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sesuai dengan tugas jabatan guru sebagai profesi.

Tugas dari seorang guru ditercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39 ayat (2) yaitu guru mempunyai tugas mendidik secara profesional dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu tanggung jawab guru adalah meningkatkan peranan secara profesional. Dimana dibutuhkan kecakapan maksimal dalam mengemban dan melaksanakan tanggung jawab tersebut. Seperti yang disabdakan Buddha Gautama dalam Kronologi Hidup

Buddha (Bhikkhu Kusaladhamma, 2007: p. 179) bahwa beliau memiliki konsep tersendiri dalam pembabaran Dhamma sebagai berikut: “Pergilah, Para Bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.”

Bentuk solusi ini selaras dan sesuai dengan kondisi realita umat Buddha di Kabupaten Temanggung, sehingga perlu diadakan penambahan guru pendidikan agama Buddha, sekaligus pembagian tugas guru untuk diterjunkan ke daerah-daerah untuk memberikan bimbingan dan pembinaan kepada masyarakat Buddha.

Dalam mewujudkan hal tersebut diperlukan guru profesional yang sedikitnya memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) mempunyai keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu‚ (2) mempunyai pengetahuan yang mendalam, (3) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang ilmu sesuai dengan bidang profesinya, (4) tingkat pendidikan keguruan yang memadai, (5) mempunyai kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya, dan (6) menunjukkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupannya.

Seorang guru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan pembimbing berjalan dengan baik. Dalam hal ini guru sertiifikasi mempunyai peran ganda untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu contoh peran ganda guru adalah ketika ia melakukan pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan, maka seorang guru menjelaskan melalui proses pendidikan kegiatan mendidik. Dengan demikian mengajar dan membimbing sebagai satu hal yang tak dapat dipisahkan. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah hendaknya mereka dapat berperan sebagai orang tua kedua dari siswa. Dalam hal ini guru perlu menarik simpati sehingga menjadi idola bagi para siswanya.

Guru merupakan kunci keberhasilan dalam sistem pendidikan. Tetapi secara umum mereka memiliki permasalahan mengenai rendahnya kualitas pengajaran, kualitas pendidikan dan praktek pengajaran, serta tidak adanya sistem pemantauan yang layak atau pengawasan yang efektif dalam proses pembelajaran, sementara mereka dituntuk untuk memiliki aspek efektifitas dalam mengajar,

Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol I No. 1 September 2014

metodologi pengajaran, psikologi pendidikan, penggunaan bantuan audio-visual, teknik evaluasi dan lainnya” (Amin, Khan; 2009).

Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam belajar. Sehinggga guru perlu memilih metode dan strategi yang cocok bagi siswa dalam proses pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan. Masyarakat telah menempatkan guru sebagai sosok pribadi yang terhormat di lingkungannya. Maka dari itu tidak heran jika masyarakat mengharapkan ilmu pengetahuan dari seorang guru. Ini berarti guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukkan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.

Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kemampuan khusus yang wajib dimiliki guru sehingga mereka bertanggung jawab atas profesiya. Menurut Wijaya dkk. (1994: p. 9), setidaknya guru memiliki tanggungjawab sebagai berikut:

1) Tanggung jawab moral

Setiap guru hendaknya memiliki kemampuan menghayati perilaku dan etika sesuai dengan moral Pancasila, sekaligus mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah

guru hendaknya menguasai cara pengajaran yang efektif, mampu membuat satuan pelajaran, mampu dan memahami kurikulum dengan baik, mampu mengajar dikelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat, menguasai teknik-teknik pemberian bimbingan dan layanan, mampu membuat dan melaksanakan evaluasi dan lain-lain. Seperti sabda Sang Buddha dalam Angguttara Nikaya dijelaskan:

“Sering mengulang pelajaran membuahkan pengetahuan yang mendalam” (A. V. p. 136). Sabda Buddha Gotama di atas merupakan salah satu cara Sang Buddha memberikan pelajaran kepada murid-muridNya. Cara tersebut juga merupakan teknik dalam proses pembelajaran yang dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

3) Tanggung jawab guru dalam bidang kemasyarakatan

Tanggung jawab guru dalam bidang kemasyarakatan antara lain turut serta menyukseskan pembangunan dalam bidang kemasyarakatan, untuk itu guru harus mampu

membimbing, mengabdi kepada dan melayani masyarakat.

4) Tanggung jawab guru dalam bidang keilmuan

guru bertanggung jawab dan turut serta memajukan ilmu, terutama ilmu yang telah menjadi spesialisasinya dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.

Kompetensi Sosial Guru

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: p. 497) kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Istilah kompetensi guru mempunyai banyak makna, Broke and Stone (Mulyasa, 2007: p. 25) mengemukakan bahwa kompetensi guru adalah

a descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful ...

(suatu gambaran kualitatif tentang hakekat perilaku guru yang penuh arti).

Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/U/2002, “kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu”. Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Johnson menyatakan "competency as a rational

performance which satisfactirily meeets the objective for a desired condition". Menurutnya,

kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Pengertian standar kompetensi guru dalam Australian Journal of Teacher Education, Tuck (1995) menyatakan bahwa "the notions of

criterion-referenced and mastery testing had been around in one form or another for quite some time" (p. 59) and asks why they have failed to capture the minds of teachers.

Dalam ajaran Buddha, Guru yang pantas dicontoh dan mendapatkan pujian juga telah dijelaskan Buddha Gotama di dalam

Lohicca Sutta, yaitu:

“Di sini, Lohicca, seorang Tathàgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah sempurna menempuh

Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, màra dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna Guru Yang Baik dan Yang Buruk, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang

siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas, menjaga pintu-pintu indrianya, mencapai jhàna pertama (Sutta 2, paragraf 41-76). Dan jika seorang murid dari

seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela. Dan jika seseorang mencela guru itu, celaannya tidak pantas, tidak benar, dan tidak sesuai dengan kenyataan, dan salah.” (Dhigha Nikaya: p. 232-233)

Menurut penjelasan Sutta diatas dalam Lohicca Sutta dijelaskan guru yang terpuji adalah guru yang telah sepenuhnya terampil dalam tiga praktek yaitu moralitas, konsentrasi, dan pengetahuan, dan mengajar siswa- siswa yang menjadi sepenuhnya mantap seperti dirinya.

Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Pada intinya adalah anak didik diajak untuk bergaul dengan orang lain disekitarnya, sehingga dapat memberikan kesiapan kepada mereka dengan masyarakat di masa yang akan datang.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menyebutkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi sosial seorang guru sangat berguna dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pandangan profesi seorang guru dimasyarakat sangatlah tinggi. Masyarakat masih menganggap bahwa profesi guru sebagai profesi yang mulia dan pantas dihormati. Seorang guru sering dimintai pendapat apabila di lingkungannya mengalami masalah. Hal ini membuktikan bahwa guru adalah orang yang

berpendidikan dan mampu menyelesaikan masalah sosial di masyarakat.

Seseorang yang menginginkan menjadi seorang pendidik maka ia dipersyaratkan untuk mempunyai kriteria yang ditentukan oleh dunia pendidikan. Dalam hal ini oleh Dirto Hadisusanto, Suryati Sidharto, dan Dwi Siswoyo (1995) syarat seorang pendidik adalah:(1) mempunyai perasaan terpanggil sebagai tugas suci, (2) mencintai dan mengasih-sayangi peserta didik, (3) mempunyai rasa tanggung jawab yang didasari penuh akan tugasnya. Ketiga persyaratan tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Orang terasa terpanggil untuk mendidik maka ia mencintai peserta didiknya dan memiliki perasaan wajib dalam melaksanakan tugasnya disertai dengan dedikasi yang tinggi atau bertanggungjawab. Dengan demikian Tidak semua orang dapat menjadi pendidik jika yang bersangkutan tidak dapat menunjukkan bukti dengan kriteria yang ditetapkan.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008, kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain:

1) Berkomunikasi dengan baik secara lisan, tulisan, dan isyarat ;

Bobbi De Porter dalam buku terkenalnya

Quantum Taeching menyebutkan prinsip

komunikasi ampuh yakni menimbulkan kesan, mengarahkan atau fokus pada materi yang disampaikan, dan spesifik. Guru hendaknya kreatif mengoptimalkan kemampuan kinerja otak sebagai tempat menimbulkan kesan. Maka guru dituntut mampu menentukan kata-kata yang tepat dalam memberi penjelasan kepada siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru menyusun perkataan yang komunikatif serta santun untuk pembelajaran yang berkesan dan bermakna.

2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi;

Dalam perkembangan globalisasi yang semakin meningkat, kebutuhan untuk menguasai teknologi komunikasi dan informasi sangat dibutuhkan, ketika seorang guru tidak menguasainya, maka dalam hal pembelajaran maupun cara komunikasi dengan siswa akan ketinggalan zaman. Kondisi saat ini, jaringan sosial untuk membangun komunikasi semakin

Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol I No. 1 September 2014

luas misalnya dengan adanya facebook, twitter, blog, e-mail, e-learning maupun fasilitas internet lainnya yang bisa dijadikan sarana untuk berkomunikasi dan mencari ilmu pengetahuan selain di kelas. Berikut adalah manfaat adanya teknologi komunikasi dan informasi :

a. Memperluas kesempatan belajar b. Meningkatkan efisiensi

c. Meningkatkan kualitas belajar d. Meningkatkan kualitas mengajar e. Memfasilitasi pembentukan

keterampilan

f. Mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan

g. Meningkatkan perencanaan kebijakan dan manajemen

h. Mengurangi kesenjangan digital

3) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik;

Adanya saling menghormati dan menghargai baik itu dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik.

4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dan memperhatikan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat misalnya melalui kegiatan olahraga, keagamaan, dan kepemudaan. Ketika guru tidak memiliki kemampuan pergaulan, maka pergaulannya akan menjadi kaku dan kurang bisa diterima oleh masyarakat. Untuk memiliki kemampuan pergaulan, hal-hal yang harus dimiliki guru adalah

a) Pengetahuan tentang hubungan antar manusia,

b) Memiliki keterampilan membina kelompok,

c) Keterampilan bekerjasama dalam kelompok,

d) Menyelesaikan tugas bersama dalam kelompok

5) Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan

Seorang guru hendaknya benar-benar mengajar dari hati, tanpa adanya keterpaksaan, sehingga membuat siswa lebih nyaman dengan

guru tersebut, selain itu seorang guru selalu berusaha untuk saling terbuka, membangun persaudaraan dimana disini guru bukan hanya berperan sebagai seseorang yang mengajar di kelas, tapi juga dapat berperan sebagai orang tua, kakak, teman ataupun sahabat. Hal ini akan mempengaruhi karakter dari siswa yang guru tersebut ajarkan, sehingga mereka akan lebih mudah menerima dan mengikuti apa yang guru tersebut sampaikan. Guru juga harus memupuk semangat kebersamaan dengan adanya diskusi kelompok sehingga terbentuk ikatan emosional dengan teman-temannya.

Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik (Mulyasa, 2007: p. 34). Sertifikasi guru merupakan salah satu amanat yang tertulis dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bagian kedua tentang sertifikasi, pasal 61 menyatakan:

1. Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.

2. Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.

3. Sertifikasi kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.

4. Ketentuan mengenal akreditasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab IV pasal 8

Dalam dokumen AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN (Halaman 53-66)