• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pasien

Dalam dokumen SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN (Halaman 97-103)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 PASIEN

5.1.1 Karakteristik Pasien

Karakteristik Pasien Jumlah Persentase

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki

75 30

71,4 28,6 Wilayah

Jakarta Pusat 21 20

Karakteristik Pasien Jumlah Persentase

Dewasa awal (18-40 tahun) Dewasa madya (41-60 tahun) Dewasa lanjut (>60 tahun)

57 Fasilitas Kesehatan yang dikunjungi

Puskesmas Cara Pembayaran Yankes saat ini

BPJS Kesehatan Asuransi Lainnya Bayar Sendiri

Gabungan 1 (BPJS Kesehatan dan Bayar Sendiri)

Gabungan 2 (Asuransi Lainnya dan Bayar Sendiri)

0.0%

20.0%

40.0%

60.0%

80.0%

Perempuan Laki-laki

71.4%

28.6%

Jenis Kelamin

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

Dewasa awal (18-40 tahun)

Dewasa madya (41-60 tahun)

Dewasa lanjut (>60 tahun) 54.30%

38.10%

7.60%

Usia

0.0%5.0%

10.0%

15.0%

20.0%

25.0%

30.0%

35.0%

40.0%

45.0%

50.0%

1.6%

33.3%

9.5% 2.9%

47.6%

5.7%

Pekerjaan Terakhir

Gambar 7. Komposisi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambar 8. Komposisi Pasien Berdasarkan Kelompok Usia

Gambar 9. Komposisi Pasien Berdasarkan Pekerjaan Terakhir

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

2.9%

20.0%

45.7%

31.4%

Pendidikan Terakhir

0.0%

5.0%

10.0%

15.0%

20.0%

25.0%

30.0%

Puskesmas Klinik Praktik Bersama

Rumah Sakit Pemerintah

Rumah Sakit Swasta 26.7%

24.8% 26.7%

21.9%

Fasyankes yang Dikunjungi

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0% 52.4%

16.2% 22.9%

4.8% 1.0% 1.9% 1.0%

Cara Pembayaran

Gambar 10. Komposisi Pasien Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Gambar 11. Komposisi Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Karakteristik responden pasien sebagian besar adalah berjenis kelamin perempuan (71,4%), masuk ke dalam kelompok usia dewasa awal yaitu antara usia 18 hingga 40 tahun (54,3%), pekerjaan utama sebagai Ibu rumah tangga/tidak bekerja (33,3%), berpendidikan tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) sederajat (45,7%), dan membayar dengan menggunakan kartu BPJS Kesehatan (52,4%).

Terhitung sejak tahun 2014, Indonesia telah menerapkan sistem jaminan kesehatan masyarakat semesta (Universal Health Coverage) yang disebut Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah (www.jkn.kemkes.go.id).

Program ini diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, yang merupakan badan hukum publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial kesehatan (UU No. 24 Tahun 2011 Pasal 1 angka 1 dan Pasal 6 ayat (1)).

Dalam penelitian ini, sebagian besar peserta melakukan pembayaran pelayanan kesehatan dengan menggunakan BPJS Kesehatan (52,4%). Hal ini sangat memungkinkan jika didasarkan pada pemutakhiran data jumlah peserta BPJS Kesehatan seluruh Indonesia per tanggal 22 Januari 2016 yang sudah mencakup 158.781.076 jiwa di seluruh Indonesia (www.bpjs-kesehatan.go.id). Selain itu, dalam Siaran Pers BPJS Kesehatan tentang

“Indeks Kepuasan Peserta dan Faskes terhadap BPJS Kesehatan Sukses Lampaui Target”

tahun 2014 dinyatakan bahwa dari total 17.280 responden masyarakat, sebanyak 81%

menyatakan puas terhadap BPJS Kesehatan. Tingkat kesadaran (awareness) masyarakat tentang BPJS Kesehatan menurut hasil survei ini menunjukkan bahwa dari 10.202 responden yang diambil dari 12 (dua belas) Divisi Regional di seluruh Indonesia, sebanyak 95% di antaranya telah mengenal BPJS Kesehatan dengan baik. Dalam survei ini dijelaskan bahwa hal pertama yang terlintas di benak masyarakat tentang BPJS Kesehatan adalah “berobat gratis”, disusul dengan “asuransi kesehatan rakyat”,

“pengganti ASKES”, dan “bantuan kesehatan”.

Dalam siaran persnya, BPJS Kesehatan juga menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2014,

masyarakat. Selain melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, BPJS Kesehatan juga terus berupaya menyebarluaskan informasi melalui iklan di televisi, radio, surat kabar, website, serta media sosial. Tak hanya itu, BPJS Kesehatan juga rutin menyelenggarakan Kelas Sosialisasi dan Training of Trainers Jaminan Kesehatan yang berisi informasi tentang kepesertaan, prosedur pendaftaran dan manfaat jaminan kesehatan. Kegiatan rutin lainnya adalah sosialisasi dengan perusahaan asuransi swasta mengenai skema Coordination Of Benefit (COB), skema tersebut kini telah diikuti oleh 49 (empat puluh sembilan) asuransi swasta. Dengan tingkat kepesertaan yang tinggi, awareness yang baik, dan sosialisasi yang masif dari BPJS Kesehatan maka sangat dimungkinkan bahwa sebagian besar pasien dalam penelitian ini adalah peserta BPJS Kesehatan.

Selain cara pembayaran pasien dengan BPJS Kesehatan, sebanyak 16,2% pasien melakukan cara pembayaran pelayanan kesehatan dengan jaminan asuransi lainnya, dalam hal ini adalah asuransi swasta. Sementara 22,9% pasien masih mengeluarkan biaya pelayanan kesehatan dari kantong mereka sendiri (out of pocket). Hasil penelitian ini sejalan dengan sistem pembiayaan kesehatan yang diterapkan di Indonesia. Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum dibagi menjadi dua yaitu fee for service (out of pocket) dan health insurance (Fidela Firwan Firdaus, 2015). Pembiayaan dengan fee for service (out of pocket) adalah pembiayaan pelayanan kesehatan berdasarkan pelayanan kesehatan yang diterima yang dikeluarkan langsung oleh masyarakat untuk penyedia pelayanan kesehatan. Sementara dengan sistem asuransi kesehatan, pembayaran biaya pelayanan kesehatan dilakukan oleh pihak ketiga atau pihak asuransi. Jenis-jenis asuransi kesehatan jika ditinjau dari kepemilikan badan penyelenggara terbagi atas asuransi kesehatan pemerintah dan asuransi kesehatan swasta (Thabrany, 1998). Dalam penelitian ini, BPJS Kesehatan adalah jenis asuransi kesehatan pemerintah.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya cara pembayaran gabungan yang dilakukan oleh pasien yaitu gabungan BPJS Kesehatan dan bayar sendiri; gabungan bayar sendiri dan asuransi lainnya; serta gabungan BPJS Kesehatan dan perusahaan. Gabungan BPJS Kesehatan dan bayar sendiri artinya sebagian biaya pelayanan kesehatan ditanggung oleh BPJS Kesehatan dan sebagian lainnya harus menggunakan uang pasien sendiri (out of pocket). Sistem pembayaran seperti ini terjadi karena memang untuk penyakit-penyakit tertentu, BPJS tidak menanggung semua biaya pelayanan kesehatan dan harus ditanggung

oleh pasien. Ada beberapa penyakit dan pelayanan kesehatan tertentu yang memiliki batas plafon pelayanan (batas biaya pelayanan kesehatan maksimal yang dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan). Sementara untuk gabungan dari bayar sendiri dan asuransi lainnya menunjukkan bahwa pasien tersebut tidak memanfaatkan BPJS Kesehatan. Sebagian biaya pelayanan kesehatannya dibayarkan sendiri dan sebagian lagi menggunakan kepesertaan asuransi kesehatan swasta yang dimiliki. Terakhir adalah gabungan antara BPJS Kesehatan dengan perusahaan. Pasien yang bekerja di perusahaan biasanya mendapatkan jaminan kesehatan dari tempatnya bekerja. Perusahaan cenderung bekerjasama dengan asuransi kesehatan swasta untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada karyawannya. Terhitung sejak JKN dijalankan, setiap perusahaan juga wajib mendaftarkan karyawannya dalam program jaminan kesehatan pemerintah ini.

Sebutan untuk gabungan dari dua jenis asuransi kesehatan ini adalah COB (Coordination Of Benefit) atau koordinasi manfaat.

Koordinasi manfaat adalah suatu metode dimana 2 (dua) atau lebih penanggung (insurer) yang menanggung orang yang sama, membatasi total benefit, dalam jumlah tertentu yang tidak melebihi jumlah pelayanan kesehatan yang dibiayakan (Petunjuk Teknis Eksternal Koordinasi Manfaat antara BPJS Kesehatan dan Asuransi Kesehatan Tambahan, 2015).

Kebijakan koordinasi manfaat ini sedang dikembangkan oleh BPJS Kesehatan dengan merangkul perusahaan asuransi kesehatan swastas di Indonesia. Tercatat dalam posting update di website BPJS Kesehatan oleh Humas pada 27 Februari 2015, sudah 51 perusahaan asuransi kesehatan swasta yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan melalui skema COB. Dengan Skema COB, pihak yang menjadi Penjamin Pertama atau Penjamin Utama (Primary Insurer) adalah BPJS Kesehatan, sedangkan pihak yang membayar sisa dari tagihan klaim disebut dengan Penjamin Kedua (Secondary Insurer)

5.1.2 SEBARAN KARAKTERISTIK PASIEN MENURUT FASILITAS

Dalam dokumen SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN (Halaman 97-103)