BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 PASIEN
5.1.7 Persepsi Pasien Tentang Hak dan Kewajiban Pasien Terhadap Dokter
Persepsi merupakan perlakuan yang melibatkan penafsiran melalui proses pemikiran tentang apa yang dilihat, dengar, alami atau dibaca, sehingga persepsi sering mempengaruhi tingkah laku, percakapan serta perasaan seseorang (Tjiptono, 2000).
Dalam penelitian ini, tujuan penilaian persepsi pasien terhadap hak dan kewajibannya adalah untuk mengetahui sikap dan perilaku pasien terhadap hak dan kewajiban pasien yang dinilai dengan menggunakan skala likert.
Di bawah ini adalah tabel tabulasi persepsi pasien terkait hak dan kewajibannya terhadap dokter/dokter gigi:
Tabel 27. Persepsi Pasien Tentang Hak Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi
Persepsi Pasien terkait Hak Pasien Jumlah Persentase Mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter
gigi tentang diagnosa atau jenis penyakit yang diderita Kurang setuju Mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter
gigi tentang tata cara tindakan medis yang diberikan dokter/dokter gigi Mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter
gigi tentang tujuan tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi
Persepsi Pasien terkait Hak Pasien Jumlah Persentase Mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter
gigi untuk pilihan tindakan pengobatan lain beserta risiko yang mungkin terjadi akibat tindakan tersebut
Kurang setuju Memperoleh penjelasan dan informasi yang lengkap untuk risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi jika suatu tindakan pengobatan yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi
Kurang setuju Mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap terkait prognosis
(prediksi) hasil akhir terhadap tindakan pengobatan yang dilakukan dokter/dokter gigi Berhak meminta pendapat atau opini dan konsultasi kepada
dokter/dokter gigi lain untuk penyakit yang dideritanya Kurang setuju Memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dari
dokter/dokter gigi Memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
pasien Hak memberikan persetujuan maupun menolak tindakan medis
yang akan dilakukan oleh dokter/dokter gigi Setuju Persetujuan yang diminta oleh dokter/dokter gigi dapat secara
tertulis maupun lisan
Persepsi Pasien terkait Hak Pasien Jumlah Persentase Memperoleh lembar persetujuan dalam bentuk tertulis untuk
tindakan medis beresiko tinggi seperti tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya Memperoleh privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
Kurang setuju Memperoleh pelayanan kesehatan yang manusiawi, adil,jujur dan
tanpa diskriminasi dari dokter/dokter gigi Kurang setuju Memperoleh pelayanan dari dokter/dokter gigi dengan
menggunakan Bahasa yang mudah dipahami pasien Setuju Memperoleh perlakuan yang sopan dan ramah dari dokter/dokter
gigi
Sebagian besar pasien setuju akan hak-hak yang didapatkan pasien terhadap dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 66,8%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pasien sudah cukup cerdas dan memahami hak mereka dalam pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini, diharapkan semua pasien memiliki persepsi tertinggi untuk pemenuhan haknya. Namun masih terdapat beberapa pasien yang tidak setuju bahkan sangat tidak setuju dengan hak-hak yang seharusnya diperoleh pasien dalam pelayanan kesehatan.
Berikut adalah beberapa persepsi pasien tentang hak-haknya yang masih berada dalam
(1). Hak mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter gigi tentang tata cara tindakan medis yang diberikan dokter/dokter gigi (Sangat Tidak Setuju 1,0%).
(2). Hak mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap dari dokter/dokter gigi tentang tujuan tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi (Tidak Setuju 1,9%).
(3). Hak mendapatkan penjelasan dan informasi lengkap terkait prognosis (prediksi) hasil akhir terhadap tindakan pengobatan yang dilakukan dokter/dokter gigi (Sangat Tidak Setuju 1,0%).
(4). Hak mendapatkan persetujuan yang diminta oleh dokter/dokter gigi secara tertulis maupun lisan (Tidak Setuju 1,0%).
(5). Hak memperoleh lembar persetujuan dalam bentuk tertulis untuk tindakan medis beresiko tinggi seperti tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya (Tidak Setuju 1,9%).
Setiap pasien atau keluarganya diharapkan dapat secara asertif meminta agar haknya dapat dipenuhi pada saat ia memperoleh pelayanan medis. Dalam upaya memperoleh haknya tersebut, pasien harus memperhatikan bahwa upaya pemenuhan haknya tidak mengorbankan hak orang lain ataupun mengabaikan kewajiban orang lain. Pada tahap awal, pasien yang tidak memperoleh haknya dapat meminta pemenuhan hak tersebut dari fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan yang bersangkutan dengan mengadukannya kepada pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Pengaduan sebaiknya dibuat tertulis dengan menyebutkan secara jelas peristiwa dan keluhannya.
Pastikan bahwa pengaduan diterima oleh petugas fasilitas pelayanan kesehatan yang berwenang dan menerima bukti pengaduan serta menanyakan kapan waktu perolehan jawaban atau timbal balik atas keluhan tersebut (Mulyohadi dalam Hamri, 2014).
Tabel 28. Persepsi Pasien Tentang Kewajiban Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi
Persepsi Pasien Terkait Kewajiban Pasien Jumlah Persentase Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang penyakit
yang diderita kepada dokter/dokter gigi Tidak setuju
Setuju
Sangat setuju
1 64 40
1,0 61,0 38,1
Persepsi Pasien Terkait Kewajiban Pasien Jumlah Persentase Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter/dokter gigi
Kurang setuju Memberikan imbalan jasa kepada dokter/dokter gigi untuk
pelayanan kesehatan yang diterima Sangat tidak setuju
Sebagian besar pasien setuju dengan kewajiban yang harus dilakukan kepada dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 57,6%. Dalam penelitian ini, diharapkan semua pasien memiliki persepsi tertinggi untuk pelaksanaan kewajibannya. Meskipun pada kenyataannya memang banyak pasien yang memang belum melaksanakan kewajibannya sebagai pengguna pelayanan kesehatan. Pasien sering beranggapan bahwa kewajiban seperti tidak begitu penting. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa masih terdapat beberapa pasien yang tidak setuju bahkan sangat tidak setuju dengan kewajiban yang seharusnya dijalankan pasien dalam pelayanan kesehatan. Berikut adalah beberapa persepsi pasien tentang kewajibannya yang masih berada dalam kategori tidak setuju dan sangat tidak setuju:
(1). Kewajiban memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang penyakit yang diderita kepada dokter/dokter gigi (Tidak Setuju 1,0%)
(2). Kewajiban mematuhi ketentuan dan tata tertib yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan (Sangat Tidak Setuju 1,0%)
(3). Kewajiban memberikan imbalan jasa kepada dokter/dokter gigi untuk pelayanan kesehatan yang diterima(Sangat Tidak Setuju 6,7% dan Tidak Setuju 16,2%)
Pasien yang setuju dan sangat setuju dengan kewajiban yang harus dilakukan terhadap dokter/dokter gigi menandakan bahwa pasien memiliki sikap positif terhadap segala kewajiban yang harus pasien tunaikan kepada dokter/dokter gigi. Tingkat pengetahuan dan sikap yang baik terhadap kewajiban pasien ini akan mewujudkan terciptanya komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien.
Tabel 29. Pengetahuan Pasien Tentang Layanan Konsil Kedokteran Indonesia
Pengetahuan Umum Tentang KKI Jumlah Persentase
Tahu tentang KKI Mengetahui layanan yang diberikan KKI
Ya Mengetahui bahwa dokter/dokter gigi harus memiliki STR untuk
diperbolehkan praktik Mengetahui layanan yang diberikan oleh MKDKI kepada
masyarakat (pasien) Tahu bahwa pasien berhak mengadukan kerugian yang
diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi kepada MKDKI Ya
17.1%
mengetahui dr/drg yg punya str boleh berpraktik
Gambar 36. Pengetahuan Pasien Tentang Layanan Konsil Kedokteran Indonesia Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien (82,9%) tidak mengetahui tentang Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), begitu pula dengan pelayanan yang diberikan oleh KKI kepada masyarakat sebesar 94,3% pasien tidak mengetahuinya. Hal ini menunjukkan bahwa pasien kurang terpapar informasi tentang KKI dan layanannya. Namun hal ini kurang sejalan dengan hasil penelitian yang juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (77,1%) mengetahui keharusan dokter/dokter gigi untuk memiliki surat tanda registrasi (STR) dalam menjalankan praktik kedokteran. Melalui pendalaman fenomena diketahui bahwa ternyata banyak pasien yang menganggap STR sama dengan Surat Ijin Praktik (SIP). Dalam pelaksanaan praktik kedokteran, sangat penting bagi pasien untuk mengetahui dan memahami bahwa dokter/dokter gigi wajib memiliki STR dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ali, dkk. dalam Hamri 2013 bahwa masyarakat perlu memahami tentang ancaman pidana penjara atau denda untuk pelayanan medis yang dilakukan oleh bukan dokter/dokter gigi, atau tanpa STR dan SIP.
Terkait dengan pengetahuan pasien tentang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien (78,1%) tidak mengetahui tentang MKDKI, begitu pula dengan pelayanan yang diberikan oleh MKDKI sebesar 95,2% pasien tidak mengetahuinya. Bagi pasien yang mengetahui tentang KKI dan MKDKI, sebagian besar pasien mengetahui informasinya dari media massa (surat kabar) dan media elektronik (televisi dan radio).
Hal ini didukung oleh salah satu petikan pernyataan pasien di beberapa fasilitas kesehatan seperti:
“ pernah dengar di berita televisi tentang kesehatan” (Pasien Puskesmas di Jakut)
Dengan kurangnya pengetahuan pasien tentang KKI dan MKDKI, hasil penelitian justru menunjukkan bahwa pasien yang mengetahui haknya untuk mengadukan kerugian yang diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi kepada MKDI sebesar 44,8% sementara sisanya (55,2%) tidak mengetahui haknya untuk dapat mengadukan kerugian tersebut.
Fenomena seperti ini dikarenakan pengetahuan pasien tentang hak pasien yang dapat mengadukan kerugian yang diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi, namun bukan dengan MKDKI.
Hak untuk pengaduan ini sejalan dengan pernyataan Hamri, 2014 bahwa bagi pasien yang mengetahui atau menyadari kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran, dapat mengadukan secara tertulis kepada majelis ini dengan tidak lupa mencantumkan identitas pengadu, nama, dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi serta waktu tindakan dilakukan dan alasan pengaduan.
Masih banyaknya pasien yang kurang mengetahui tentang KKI dan MKDKI menunjukkan bahwa masih kurangnya KKI memberikan sosialisasi layanan KKI melalui media atau saluran komunikasi ke masyarakat luas. Selain itu, sasaran KKI memang para dokter/dokter gigi sehingga masyarakat tidak terpapar secara langsung dengan layanan KKI.
Tabel 30. Persepsi Pasien Tentang Layanan KKI
Persepsi Pasien Tentang Layanan KKI Jumlah Persentase Pasien dapat mengadukan keluhan mengenai pelayanan
dokter/dokter gigi ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Tidak setuju Kurang setuju Setuju
Sangat setuju
2 6 77 20
1,9 5,7 73,3 19,0 Pasien dapat dengan mudah mengadukan keluhan mengenai
pelayanan dokter/dokter gigi ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Sangat tidak setuju 1 1,0
1.9% 5.7%
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju Pasien dapat mengadukan keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke MKDKI
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju
Pasien dapat dengan mudah mengadukan keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke MKDKI
Persepsi Pasien Tentang Layanan KKI Jumlah Persentase Tidak setuju
Gambar 37. Persepsi Pasien Tentang Pengaduan Keluhan Pelayanan Dokter/Dokter Gigi ke MKDKI
Gambar 38. Persepsi Pasien Bahwa Pasien Dapat Dengan Mudah Mengadukan Keluhan Tentang Dokter/Dokter Gigi ke MKDKI
Untuk persepsi pasien terhadap layanan KKI dan MKDKI, sebagian besar pasien juga merasa setuju dengan pelayanan KKI untuk dapat mengadukan dan mengadukan dengan mudah keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke MKDKI dengan rata-rata sebesar 63,8%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa masih terdapat beberapa pasien yang tidak setuju bahkan sangat tidak setuju dengan pengaduan keluhan kepada MKDKI ini. Berikut adalah beberapa persepsi pasien tentang pengaduan keluhan yang masih berada dalam kategori tidak setuju dan sangat tidak setuju:
(1). Pasien dapat mengadukan keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) (Tidak Setuju 1,9%).
(2). Pasien dapat dengan mudah mengadukan keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) (Sangat Tidak Setuju 1,0% dan Tidak Setuju 1,9%).
Sasaran pelayanan KKI ini memang para dokter/dokter gigi sehingga masyarakat tidak terpapar secara langsung dengan informasi dan pelayanan KKI. Namun bila dikaitkan dengan hak pasien yang berhak mengadukan kerugian yang diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi, maka penting pihak KKI untuk meningkatkan intensitas sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui media massa maupun elektronik.