• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien terhadap

Dalam dokumen SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN (Halaman 109-121)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 PASIEN

5.1.3 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien terhadap

Tingkat pengetahuan pasien tentang hak yang dimilikinya dinilai dari pengetahuan dan pemahaman pasien terhadap 5 (lima) hak pasien yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Pasal 52. Hak tersebut terdiri dari:

(1). Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis yang akan dilakukan dokter atau dokter gigi.

(2). Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.

(4). Menolak tindakan medis.

(5). Mendapatkan isi rekam medis.

Tingkat pengetahuan pasien dibagi menjadi 3 (tiga) kategori penilaian yaitu Baik, Cukup, dan Kurang. Masing-masing kategori penilaian dinilai dari kualitas jawaban pasien dan kesesuaiannya dengan standar jawaban penilaian yang dibuat oleh peneliti.

Tabel dan grafik di bawah ini memberikan informasi tingkat pengetahuan pasien tentang haknya terhadap dokter/dokter gigi.

Tabel 16. Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi

Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase

Hak Mendapatkan penjelasan dan informasi yang lengkap untuk tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi Baik Hak meminta pendapat atau opini dari dokter/dokter gigi lain

(second opinion) sebelum menyetujui tindakan medis dari dokter/dokter gigi Hak mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan

pengobatan penyakit yang diderita Baik Hak memberikan persetujuan maupun menolak tindakan

medis yang akan dilakukan oleh dokter/doktergigi Baik Hak mendapatkan isi rekam medis

Baik

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0%

70.0%

Baik Cukup Kurang

22.9%

67.6%

9.5%

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

Baik Cukup Kurang

39.05%

57.14%

3.81%

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0%

70.0%

Baik Cukup Kurang

26.7%

61.0%

12.4%

Gambar 18. Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis yang Diberikan oleh Dokter/Dokter

Gigi

Gambar 19. Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Meminta Pendapat dari Dokter/Dokter Gigi Lain (Second Opinion)

Gambar 20. Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

90.00%

Baik Cukup Kurang

4.76% 6.67%

88.57%

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

Baik Cukup Kurang

17,10%

80,0%

2,90%

Gambar 21. Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh Dokter/Doktergigi

Gambar 22 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi Rekam Medis

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien dengan rata-rata sebesar 68,2% mengetahui dan memahami dalam kategori “cukup” untuk 4 dari 5 indikator hak yang yang dinilai dalam kuesioner. Hak tersebut terdiri dari:

(1). Hak mendapatkan penjelasan dan informasi yang lengkap untuk tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi (67,7%).

(2). Hak meminta pendapat atau opini dari dokter/dokter gigi lain (second opinion) sebelum menyetujui tindakan medis dari dokter/dokter gigi (61,0%).

(3). Hak mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan pengobatan penyakit yang diderita (57,1%).

(4). Hak mendapatkan isi rekam medis (80,0%).

Sementara itu, diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien (88,6%) kurang mengetahui dan memahami haknya untuk dapat memberikan persetujuan maupun menolak tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter/dokter gigi. Dalam dunia pelayanan kesehatan, pasien cenderung untuk memberikan persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan dokter/dokter gigi dengan alasan demi kesembuhan dan kebaikan pasien. Hanya sedikit pasien yang menolak atau bependapat lain terhadap tindakan medis yang akan dilakukan dokter/dokter gigi.

Hal ini dapat dipahami karena antara dokter dan pasien terjadi hubungan asimetri informasi. Informasi yang dimiliki pasien tidak seimbang dengan yang dimiliki dokter/dokter gigi, sehingga pasien akan cenderung mempercayai dokter/dokter gigi atas segala informasi dan tindakan yang akan diberikan untuk kesembuhan pasien. Beberapa penelitian dan tulisan ilmiah para ahli juga membenarkan adanya fenomena ini.

Sebagaimana diungkapkan oleh Hasbullah Thabrany dalam tulisannya di Harian Republika 21 Juli 1999 dengan judul “Etika Kedokteran Saja Tidak Cukup” bahwa pelayanan kesehatan memiliki ciri yang unik yang tidak dimiliki oleh produk lain. Salah satu ciri unik tersebut adalah apa yang disebut informasi asimetri. Informasi yang dimiliki konsumen atau pasien tidak seimbang dengan informasi yang dimiliki penjual atau dokter/dokter gigi.

Menurut Parsons dalam Anonomitas Audience, meskipun keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk kesembuhan si pasien, hubungan antara dokter dengan pasien bersifat asimetris. Dalam hal ini dokter mempunyai kedudukan yang lebih kuat atau lebih tinggi karena pengetahuannya di bidang medis, sedangkan pasien biasanya awam dalam bidang itu dan sangat membutuhkan pertolongan dokter.

Dalam bukunya yang berjudul “Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Praktik Kedokteran”, Suharjo B. Cahyono menyebutkan bahwa dalam hubungan dokter dengan pasien terdapat ketidakseimbangan yang bisa merugikan salah satu pihak. Dalam hal ini yang sering dirugikan adalah pasien. Ketidakseimbangan ini menyangkut hubungan dokter dengan pasien yang bersifat paternalistik, kondisi asimetris, dan kondisi ketidakpastian dalam praktik kedokteran.

Menurut Nargis (2014), hubungan asimetris dalam interakasi dokter dan pasien menyebabkan seorang pasien merasa canggung saat berkomunikasi dengan dokter.

Bahkan beberapa pasien merasa tidak memiliki keberanian untuk bertanya tentang penyakitnya setelah menjelaskan gejala yang dialaminya kepada dokter. Sementara beberapa pasien lebih suka mengikuti alur percakapan dokter dan hanya memberikan jawaban-jawaban singkat terhadap pertanyaan dokter. Ada beberapa kemungkinan alasan yang menjadi penyebab pasien enggan bertanya. Salah satunya adalah rasa malu pasien.

Pasien senantiasa berpikir bahwa dokter adalah sosok yang lebih pintar dan tidak akan pernah membuat kesalahan atau lupa menyampaikan informasi. Pasien sangat percaya pada keahlian dokter. Hal ini selaras dengan pendapat yang dijelaskan oleh Cerny (2007) yang menyatakan bahwa perasaan enggan dan malu pasien adalah penyebab hubungan asimetris antara dokter dan pasien.

Hal ini didukung oleh beberapa petikan pernyataan pasien di beberapa fasilitas kesehatan seperti:

“Tergantung kemauan kita mau cepat sembuh atau tidak” (Pasien Klinik di Jakbar)

“memperhatikan kesehatan untuk diri sendiri“ (Pasien Klinik di Jakbar)

“untuk kebaikan kita jadi setuju saja” (Pasien RSU di Jakpus)

Berkaitan dengan hak pasien untuk mendapatkan isi rekam medis, hasil penelitian mendapatkan bahwa sebagian besar pasien (80,0%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang hak tersebut. Hasil penelitian ini cukup mengejutkan mengingat istilah rekam medis yang masih asing bagi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 3 (tiga) orang pasien yang mampu menjelaskan manfaat isi rekam medis dan mendapatkannya dengan tepat dan benar sesuai dengan standar jawaban yang ada (tingkat kesesuaian jawaban 76%-100%). Itu artinya banyak pasien yang hanya mampu menjawab pertanyaan seputar hak mendapatkan isi rekam medis ini dengan tingkat kesesuaian hanya sekitar 50%-75% dan termasuk dalam kategori dengan tingkat pengetahuan yang cukup.

Hal semacam ini dapat dipahami mengingat banyaknya pasien tidak begitu mengerti tujuan dari hak pasien untuk bisa mendapatkan isi rekam medis. Sejalan dengan hasil penelitian Sulistyowaty, Sugiarsi, dan Pujiastuti yang dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Karanganyar tahun 2009 yang mendapatkan hasil penelitian bahwa sebagian besar pasien memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang rekam medis.

Rekam medis atau nama lainnya catatan medik, kartu status, status pasien, dokumen medik, merupakan dokumentasi sebagai tanda bukti rumah sakit terhadap segala upayanya dalam penyembuhan pasien (Firdaus dan Latifah, 2012). Pengetahuan dan pemahaman tentang hak untuk mendapatkan isi rekam medis menjadi sangat penting bagi pasien dan rumah sakit karena isi dokumen rekam medis adalah milik pasien, sementara dokumen rekam medis milik rumah sakit.

Di bawah ini adalah beberapa petikan pernyataan pasien yang menggambarkan pengetahuan dan pemahamannya tentang hak untuk mendapatkan isi rekam medis.

Untuk pertanyaan tentang manfaat rekam medis, sebagian besar pasien menyatakan bahwa manfaat rekam medis bagi pasien adalah agar pasien mengetahui penyakitnya dan menjadi data simpanan riwayat medis pasien oleh dokter. Hal ini didukung oleh petikan pernyataan pasien di salah satu fasilitas kesehatan seperti:

“agar tahu penyakitnya, apabila ada kelainan bisa di check lagi” (Pasien RSU di Jaksel) Adapun untuk pertanyaan tentang cara mendapatkan isi rekam medis, sebagian besar pasien meyatakan bahwa mereka dapat menanyakan dan meminta isi rekam medis kepada dokter bahkan, meminta diperlihatkan isi rekam medisnya oleh dokter. Hal ini didukung oleh beberapa petikan pernyataan pasien di beberapa fasilitas kesehatan seperti:

“agar dapat rekam medis ya tanya ke dokter” (Pasien Puskesmas di Jaktim)

“ dikasih lihat dari dokter” (Pasien Klinik di Jaktim)

“rekam jejak dalam pengobatan” (Pasien Puskesmas di Jaktim)

“supaya ada data untuk dokter dan tahu penyakitnya” (Pasien RSU di Jaksel)

5.1.4 SEBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG HAK PASIEN TERHADAP DOKTER/DOKTER GIGI MENURUT FASILITAS KESEHATAN YANG DIKUNJUNGI

Sebaran tingkat pengetahuan pasien tentang haknya terhadap dokter/dokter gigi ini diidentifikasi untuk melihat distribusi frekuensi tingkat pengetahuan pasien tentang hak pasien terhadap dokter/dokter gigi menurut fasilitas pelayanan kesehatan yang dikunjungi.

Berikut adalah beberapa tabel dan grafik distribusi frekuensi tingkat pengetahuan pasien

10.2%

28.2% 29.2%

60.0%

19.7%

25.0%

10.0%

33.8%

12.5%

10.0%

18.3%

33.3%

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0%

70.0%

Baik Cukup Kurang

PKM Klinik RSU RSS

tentang haknya terhadap dokter/dokter gimenurut fasilitas pelayanan kesehatan yang dikunjungi:

Tabel 17. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis yang Diberikan oleh Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Tingkat Pengetahuan

Fasyankes

Total

PKM Klinik RSU RSS

N % N % N % N % N %

Baik 1 10,2 6 60,0 1 10,0 2 20,0 10 100

Cukup 20 28,2 14 19,7 24 33,8 13 18,3 71 100

Kurang 7 29,2 6 25,0 3 12,5 8 33,3 24 100

Total 28 26,7 26 24,8 28 26,7 23 21,9 105 100

Gambar 23. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Pasien Tentang Hak Mendapatkan Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis yang

Diberikan Berdasarkan Fasyankes yang Dikunjungi

Pasien dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap haknya untuk mendapatkan penjelasan dan informasi yang lengkap atas tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di klinik (60,0%) dan proporsi terkecil terdapat di RSU dan RSS (10,0%). Sementara proporsi terbanyak

21.4%

31.3%

15.4%

35.7%

18.8%

30.8%

21.4%

29.7%

23.1%

21.4% 20.3%

30.8%

0.0%

5.0%

10.0%

15.0%

20.0%

25.0%

30.0%

35.0%

40.0%

Baik Cukup Kurang

PKM Klinik RSU RSS

untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang cukup terhadap hak ini terdapat di RSU (33,8%) dan proporsi terkecil terdapat di RSS (18,3%). Untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap haknya ini, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di RSS (33,3%) dan proporsi terkecil terdapat di RSU (12,5%).

Tabel 18. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Meminta Pendapat dari Dokter/Dokter Gigi Lain (Second Opinion) Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Tingkat Pengetahuan

Fasyankes

Total

PKM Klinik RSU RSS

N % N % N % N % N %

Baik 6 21,4 10 35,7 6 21,4 6 21,4 28 100

Cukup 20 31,3 12 18,8 19 29,7 13 20,3 64 100

Kurang 2 15,4 4 30,8 3 23,1 4 30,8 13 100

Total 28 26,7 26 24,8 28 26,7 23 21,9 105 100

Gambar 24. Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Hak Meminta Pendapat dari Dokter/Dokter Gigi Lain (Second Opinion) Menurut Fasyankes yang Dikunjungi Pasien dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap haknya untuk meminta pendapat atau opini dari dokter/dokter gigi lain (second opinion), sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di klinik (35,7%) dan proporsi terkecil terdapat di puskesmas, RSU,

17.1%

33.3%

25.0%

34.1%

16.7%

50.0%

22.0%

31.7%

0.0%

26.8%

18.3%

25.0%

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0%

Baik Cukup Kurang

PKM Klinik RSU RSS

dan RSS (21,4%). Sementara proporsi terbanyak untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang cukup terhadap hak ini terdapat di puskesmas (31,3%) dan proporsi terkecil terdapat di klinik (18,8%). Untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap haknya ini, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di klinik dan RSS (30,8%) dan proporsi terkecil terdapat di puskesmas (15,4%).

Tabel 19. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Tingkat Pengetahuan

Fasyankes

Total

PKM Klinik RSU RSS

N % N % N % N % N %

Baik 7 17,1 14 34,1 9 22,0 11 26,8 41 100

Cukup 20 33,3 10 16,7 19 31,7 11 18,3 60 100

Kurang 1 25,0 2 50,0 0 0,0 1 25,0 4 100

Total 28 26,7 26 24,8 28 26,7 23 21,9 105 100

Gambar 25. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita Menurut Fasyankes

yang Dikunjungi

40.0%

0.0%

28.0%

20.0%

57.1%

22.6%

40.0%

14.3%

26.9%

0.0%

28.6%

22.6%

0.0%

10.0%

20.0%

30.0%

40.0%

50.0%

60.0%

Baik Cukup Kurang

PKM Klinik RSU RSS

Pasien dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap haknya untuk mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan pengobatan penyakit yang diderita, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di klinik (34,1%) dan proporsi terkecil terdapat di puskesmas (17,1%). Sementara proporsi terbanyak untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang cukup terhadap hak ini terdapat di puskesmas (33,3%) dan proporsi terkecil terdapat di klinik (16,7%). Untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap haknya ini, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di klinik (50,0%) dan proporsi terkecil terdapat di RSU (0,0%).

Tabel 20. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Tingkat Pengetahuan

Fasyankes

Total

PKM Klinik RSU RSS

N % N % N % N % N %

Baik 2 40,0 1 20,0 2 40,0 0 0,0 5 100

Cukup 0 0,0 4 57,1 1 14,3 2 28,6 7 100

Kurang 26 28,0 21 22,6 25 26,9 21 22,6 93 100 Total 28 26,7 26 24,8 28 26,7 23 21,9 105 100

Gambar 26. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh Dokter/Doktergigi Menurut

27.8% 26.8%

40.0%

27.8%

23.2%

40.0%

16.7%

29.3%

20.0%

33.3%

20.7%

0.0% 0.0%

5.0%

10.0%

15.0%

20.0%

25.0%

30.0%

35.0%

40.0%

45.0%

Baik Cukup Kurang

PKM Klinik RSU RSS

Pasien dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap haknya untuk dapat memberikan persetujuan maupun menolak tindakan medis yang akan dilakukan dokter/dokter gigi, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di puskesmas (40,0%) dan proporsi terkecil terdapat di RSS (0,0%). Sementara proporsi terbanyak untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang cukup terhadap hak ini terdapat di klinik (57,1%) dan proporsi terkecil terdapat di puskesmas (0,0%). Untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap haknya ini, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di puskesmas (28,0%) dan proporsi terkecil terdapat di klinik dan RSS (22,6%).

Tabel 21. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi Rekam Medis Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

Tingkat Pengetahuan

Fasyankes

Total

PKM Klinik RSU RSS

N % N % N % N % N %

Baik 4 22,2 5 27,8 3 16,7 6 33,3 18 100

Cukup 22 26,8 19 23,2 24 29,3 17 20,7 82 100

Kurang 2 40,0 2 40,0 1 20,0 0 0,0 5 100

Total 28 26,7 26 24,8 28 26,7 23 21,9 105 100

Gambar 27. Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi Rekam

Pasien dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap haknya untuk mendapatkan isis rekam medis, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di RSS (33,3%) dan proporsi terkecil terdapat di RSU (16,7%). Sementara proporsi terbanyak untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang cukup terhadap hak ini terdapat di RSU (29,3%) dan proporsi terkecil terdapat di RSS (20,7%). Untuk pasien dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap haknya ini, sebagian besar dengan proporsi terbanyak terdapat di puskesmas dan klinik (40,0%) dan proporsi terkecil terdapat di RSS (0,0%).

5.1.5 TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG KEWAJIBAN PASIEN

Dalam dokumen SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN (Halaman 109-121)