• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN"

Copied!
254
0
0

Teks penuh

(1)

SURVEI HUBUNGAN DOKTER DENGAN

PASIEN

Disampaikan untuk Laporan Pelaksanaan Proyek Bersama

Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) November 2015

PT MARTABAT PRIMA KONSULTINDO (MARTABAT) Konsultan Jaminan Sosial dan Pelayanan Kesehatan Ruko Kebayoran Arcade Blok C2 No. 31 Jl. Boulevard Bintaro Jaya, Pusat Kawasan Niaga, Sektor 7, Tangerang Selatan – 15224, Indonesia

T. 021 74870811, F. 021 74870811 ext. 401 E. [email protected]

(2)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT, karena atas rahmat-Nya laporan kegiatan

“Survei Hubungan Dokter dengan Pasien” Tahun 2015 dapat diselesaikan.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang telah mendanai dan turut serta membantu dalam kegiatan survei ini serta memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjadi tim pelaksana.

Laporan ini merupakan laporan akhir dari kegiatan survei yang diadakan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bekerja sama dengan PT Martabat Prima Konsultindo.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai tingkat pengetahuan dan persepsi pasien dan dokter/dokter gigi terhadap hak dan kewajibannya masing-masing serta persepsi pasien dan dokter/dokter gigi terhadap layanan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Proses pelaksanaan kegiatan “Survei Hubungan Dokter dengan Pasien” diuraikan secara jelas pada laporan kegiatan ini mulai dari tujuan yang hendak dicapai, sasaran pelaksanaan kegiatan, waktu dan tempat pelaksanaan, metodologi penelitian yang digunakan, hingga keluaran berupa hasil, kesimpulan, dan saran.

Semoga laporan kegiatan ini dapat menjadi bahan evaluasi dan dasar atau tolak ukur dalam pembuatan kebijakan oleh divisi-divisi di Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) terkait perannya dalam dunia penyelenggaraan praktik kedokteran.

Bintaro, 27 November 2015 Tim Pelaksana Survei

PT Martabat Prima Konsultindo

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 3

DAFTAR GAMBAR ... 6

DAFTAR TABEL ... 13

LAMPIRAN ... 18

EXECUTIVE SUMMARY ... 19

BAB I PENDAHULUAN ... 32

1.1 Latar Belakang... 32

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN ... 34

1.2.1 Maksud. ... 34

1.2.2 Tujuan. ... 34

1.2.3 Sasaran. ... 35

1.3 RUANG LINGKUP ... 35

1.4 SUMBER PENDANAAN ... 36

1.5 KELUARAN ... 36

1.5.1 Indikator Keluaran. ... 36

1.6 JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN ... 38

1.7 PERSONIL... 38

1.8 Laporan ... 38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 39

2.1 PENGERTIAN TINGKAT PENGETAHUAN ... 39

2.2 PENGERTIAN PERSEPSI ... 42

2.3 PROSES PERSEPSI ... 46

2.4 PASIEN DAN DOKTER/DOKTER GIGI ... 50

2.5 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA (KKI) ... 60

2.6 MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA ... 62

2.7 DATA PENUNJANG DAN PENELITIAN TERKAIT ... 62

2.7.1 Data Penunjang. ... 62

2.7.2 Penelitian Terkait. ... 63

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN ... 66

3.1 KERANGKA KONSEP PENELITIAN ... 66

(4)

3.2 DEFINISI OPERASIONAL ... 66

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 72

4.1 PENDEKATAN KAJIAN ... 72

4.2 POPULASI DAN SAMPEL ... 72

4.2.1 Kriteria Inklusi Sampel. ... 75

4.3 INSTRUMEN PENELITIAN ... 76

4.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ... 76

4.5 TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ... 77

4.5.1 Teknik Pengolahan Data. ... 77

4.5.2 Teknik Analisis Data ... 78

4.5.3 Keterbatasan penelitian ... 78

4.6 STANDAR PENILAIAN KUESIONER PASIEN DAN DOKTER/DOKTER GIGI ... 78

4.6.1 Tingkat Pengetahuan Pasien Dan Dokter/Dokter Gigi Terhadap Hak dan Kewajiban Masing-Masing ... 79

4.6.2 Persepsi Pasien Dan Dokter/Dokter Gigi Terhadap Hak dan Kewajiban Masing-Masing serta Layanan KKI ... 81

4.7 RENCANA KERJA PENELITIAN ... 82

4.7.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 82

4.7.2 Tahap Persiapan Penelitian ... 82

4.8 PERSIAPAN PENGUMPULAN DATA ... 86

4.8.1 Hasil Uji Coba Kuesioner ... 86

4.8.2 Persiapan Pengumpulan Data di Fasilitas Kesehatan ... 93

4.9 PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA ... 95

4.9.1 Tahap Pelaksanaan ... 95

4.9.2 Pencapaian Pelaksanaan Kegiatan Pengumpulan Data ... 96

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 97

5.1 PASIEN ... 97

5.1.1 Karakteristik Pasien ... 97

5.1.2 Sebaran Karakteristik Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan Yang dikunjungi. ... 103

5.1.3 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien terhadap

Dokter/Dokter Gigi. ... 109

(5)

5.1.4 Sebaran tingkat pengetahuan pasien tentang hak pasien terhadap

dokter/dokter gigi menurut fasilitas kesehatan yang dikunjungi ... 115

5.1.5 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang kewajiban Pasien terhadap Dokter/Dokter Gigi. ... 121

5.1.6 Sebaran tingkat pengetahuan pasien tentang kewajiban pasien terhadap dokter/dokter gigi menurut fasilitas kesehatan yang dikunjungi ... 125

5.1.7 Persepsi Pasien Tentang Hak dan Kewajiban Pasien Terhadap Dokter Gigi ... 129

5.2 DOKTER/DOKTER GIGI ... 138

5.2.1 Sebaran Karakteristik Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ... 144

5.2.2 Masa Berlaku STR dan SIP Dokter/Dokter Gigi ... 151

5.2.3 TINGKAT Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Terhadap Pasien. ... 152

5.2.4 Sebaran tingkat pengetahuan dokter/dokter gigi tentang HAKNYA terhadap pasien menurut TEMPAT PRAKTIK DOKTER/DOKTER GIGI ... 156

5.2.5 tingkat pengetahuan dokter/dokter gigi tentang kewajibannya terhadap pasien ... 162

5.2.6 Sebaran tingkat pengetahuan dokter/dokter gigi tentang kewajibannya terhadap pasien menurut TEMPAT PRAKTIK DOKTER/DOKTER GIGI ... 166

5.2.7 persepsi dokter/dokter gigi tentang hak dan kewajibannya terhadap pasien ... 175

5.3 TINGKAT PENGETAHUAN DOKTER/DOKTER GIGI DAN PASIEN TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN MEREKA DALAM HUBUNGAN DOKTER-PASIEN ... 189

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 191

6.1 KESIMPULAN ... 191

6.1.1 Pasien ... 191

6.1.2 Dokter/DOKTER GIGI ... 196

6.2 SARAN ... 201

DAFTAR PUSTAKA ... 203

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pengetahuan (Notoatmodjo, 2003) ...42

Gambar 2 Consumer Behaviour ...46

Gambar 3 Paradigma Diskonfirmasi ...48

Gambar 4 Kerangka Konsep Penelitian ...66

Gambar 5 Rancangan Pembagian Sampel Per Wilayah ...75

Gambar 6 Personil Penelitian Hubungan Dokter-Pasien ...85

Gambar 7 Komposisi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ...99

Gambar 8 Komposisi Pasien Berdasarkan Kelompok Usia ...99

Gambar 9 Komposisi Pasien Berdasarkan Pekerjaan Terakhir ...99

Gambar 10 Komposisi Pasien Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ...100

Gambar 11 Komposisi Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ...100

Gambar 12 Komposisi Pasien Menurut Cara Pembayaran ...100

Gambar 13 Komposisi Jenis Kelamin Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ...104

Gambar 14 Komposisi Tingkat Pendidikan Pasien Menurut Fasyankes yang Dikunjungi ...105

Gambar 15 Komposisi Pekerjaan Pasien Menurut Fasyankes yang Dikunjungi .106 Gambar 16 Cara Pembayaran Pasien Ke Fasyankes yang Dikunjungi ...108

Gambar 17 Komposisi Cara Pembayaran Pasien Menurut Fasyankes yang

Dikunjungi ...107

(7)

Gambar 18 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan

Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis yang Diberikan

oleh Dokter/Dokter Gigi ...111

Gambar 19 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Meminta

Pendapat dari Dokter/Dokter Gigi Lain (Second Opinion) ...111

Gambar 20 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan

Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita

...111

Gambar 21 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan

Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh

Dokter/Doktergigi ...112

Gambar 22 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi

Rekam Medis ...112

Gambar 23 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Pasien Tentang

Hak Mendapatkan Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis

yang Diberikan Berdasarkan Fasyankes yang Dikunjungi ...116

Gambar 24 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Hak Meminta

Pendapat atau Opini dari Dokter/Dokter Gigi Lain Menurut Fasyankes yang

Dikunjungi ...117

Gambar 25 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan

Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita

Menurut Fasyankes yang Dikunjungi ...118

Gambar 26 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan

Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh

Dokter/Doktergigi Menurut Fasyankes yang Dikunjungi ...119

Gambar 27 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi

Rekam Medis Menurut Fasyankes yang Dikunjungi ...120

(8)

Gambar 28 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Memberikan Informasi yang Lengkap dan Jujur Tentang Masalah Kesehatan

Kepada Dokter/Dokter Gigi ...122

Gambar 29 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Mematuhi Nasehat Dan Petunjuk Dokter/Dokter Gigi ...123

Gambar 30 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Mematuhi Ketentuan yang Berlaku (Tata Tertib) di tempat berobat ...123

Gambar 31 Komposisi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Memberikan Imbalan Jasa Kepada Dokter/Dokter Gigi ...123

Gambar 32 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Memberikan Informasi yang Lengkap dan Jujur Tentang Penyakit yang Diderita

Kepada Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasyankes ...125

Gambar 33 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Mematuhi

Nasehat dan Petunjuk Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasyankes yang Dikunjungi

...126

Gambar 34 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Mematuhi

Ketentuan dan Tata Tertib yang Berlaku di Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut

Fasyankes yang Dikunjungi ...127

Gambar 35 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban

Memberikan Imbalan Jasa Kepada Dokter/Dokter Gigi untuk Pelayanan

Kesehatan yang Diterima Menurut Fasyankes yang Dikunjungi ...128

Gambar 36 Pengetahuan Pasien Tentang Layanan Konsil Kedokteran Indonesia

...135

Gambar 37 Persepsi Pasien Tentang Pengaduan Keluhan Pelayanan

Dokter/Dokter Gigi ke MKDKI ...137

Gambar 38 Persepsi Pasien Bahwa Pasien Dapat Dengan Mudah Mengadukan

Keluhan Tentang Dokter/Dokter Gigi ke MKDKI ...137

Gambar 39 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Profesi/Pendidikan

Terakhir ...140

(9)

Gambar 40 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Jenis Kelamin ...140

Gambar 41 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Usia ...140

Gambar 42 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Tahun Lulus Pendidikan Dokter ...141

Gambar 43 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Masa Kerja...141

Gambar 44 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Kepemilikan STR ...141

Gambar 45 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Kepemilikan SIP ...142

Gambar 46 Komposisi Dokter/Dokter Gigi Berdasarkan Tempat Praktik Dokter ...142

Gambar 47 Distribusi Frekuensi Profesi/Pendidikan Dokter/Dokter Gigi Terakhir Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...145

Gambar 48 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...146

Gambar 49 Distribusi Frekuensi Usia Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...147

Gambar 50 Distribusi Frekuensi Tahun Kelulusan Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...148

Gambar 51 Distribusi Frekuensi Masa Kerja Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...149

Gambar 52 Distribusi Frekuensi Kepemilikan STR Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...150

Gambar 53 Distribusi Frekuensi Kepemilikan SIP Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...151

Gambar 54 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Memperoleh

Perlindungan Hukum ...153

Gambar 55 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Memberikan

Pelayanan Medis Menurut Standar Profesi Dan Standar Prosedur Operasional .154

(10)

Gambar 56 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Memperoleh

Informasi Yang Lengkap Dan Jujur Dari Pasien Dan Keluarganya ...154

Gambar 57 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Menerima Imbalan Jasa

Atas Pelayanan Kesehatan ...154

Gambar 58 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi

Tentang Hak Memperoleh Perlindungan Hukum Atas Tindakan Medis Yang

Diberikan Kepada Pasien Sepanjang Melaksanakan Tugas Sesuai Dengan Standar

Profesi Dan Standar Prosedur Operasional Yang Berlaku Menurut Tempat Praktik

Dokter/Dokter Gigi ...156

Gambar 59 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi

Tentang Hak Memberikan Pelayanan Medis Menurut Standar Profesi Dan Standar

Prosedur Operasional Yang Berlaku Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi

...158

Gambar 60 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi

Tentang Hak Memperoleh Informasi Yang Lengkap Dan Jujur Dari Pasien Dan

Keluarganya Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...159

Gambar 61 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter

Gigi Tentang Hak Menerima Imbalan Jasa Atas Pelayanan Kesehatan Yang

Diberikan Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...161

Gambar 62 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Memberikan Pelayanan Medis Sesuai Standar Profesi dan Standar Prosedur

Operasional Serta Kebutuhan Medis Pasien ...163

Gambar 63 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Merujuk Pasien ke Dokter Atau Dokter Gigi Lain ...164

Gambar 64 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Merahasiakan Segala Sesuatu yang Diketahuinya Tentang Pasien ...164

Gambar 65 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Melakukan Pertolongan Darurat Atas Dasar Perikemanusiaan ...164

(11)

Gambar 66 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Menambah Ilmu Pengetahuan Dan Mengikuti Perkembangan Ilmu Kedokteran

Atau Kedokteran Gigi ...165

Gambar 67 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang

Kewajiban Memberikan Pelayanan Medis Sesuai Dengan Standar Profesi Dan

Standar Prosedur Operasional Serta Kebutuhan Medis Pasien Menurut Tempat

Praktik Dokter/Dokter Gigi ...167

Gambar 68 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang

Kewajiban Merujuk Pasien Ke Dokter Atau Dokter Gigi Lain Yang Mempunyai

Keahlian Atau Kemampuan Yang Lebih Baik, Apabila Tidak Mampu Melakukan

Suatu Pemeriksaan Atau Pengobatan Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi

...169

Gambar 69 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang

Kewajiban Merahasiakan Segala Sesuatu Yang Diketahuinya Tentang Pasien,

Bahkan Juga Setelah Pasien Itu Meninggal Dunia Menurut Tempat Praktik

Dokter/Dokter Gigi ...171

Gambar 70 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter Gigi Tentang

Kewajiban Melakukan Pertolongan Darurat Atas Dasar Perikemanusiaan, Kecuali

Bila Yakin Ada Orang Lain Yang Bertugas Dan Mampu Melakukannya Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...173

Gambar 71 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang

Kewajiban Menambah Ilmu Pengetahuan Dan Mengikuti Perkembangan Ilmu

Kedokteran Atau Kedokteran Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi

...174

Gambar 72 Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Definisi Dan Peran KKI 180

Gambar 73 Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan KKI ...181

Gambar 74 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Definisi dan

Peran KKI Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...182

Gambar 75 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan KKI

Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...183

(12)

Gambar 76 Pengetahuan Umum Dokter/Dokter Gigi Tentang MKDKI ...184

Gambar 77 Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang MKDKI ...184

Gambar 78 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang MKDKI Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...185

Gambar 79 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan MKDKI

Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...186

Gambar 80 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Memberikan Imbalan

Jasa Kepada Dokter/Dokter Gigi ...189

Gambar 81 Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Menerima

Imbalan Jasa dari Pasien ...189

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Indikator Keluaran ...36

Tabel 2 Hak Dan Kewajiban Pasien dan Dokter/Dokter Gigi Menurut Peraturan

Perundang-Undangan ...54

Tabel 3 Definisi Operasional ...66

Tabel 4 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan ...82

Tabel 5 Rancangan Pemetaan Fasilitas Kesehatan Per Wilayah Kota DKI Jakarta

...83

Tabel 6 Rencana Pembagian Sampel Per Fasilitas Kesehatan ...83

Tabel 7 Pembagian Tanggung Jawab Wilayah Berdasarkan Personil yang Ada ..85

Tabel 8 Rencana Uji coba Kuesioner ...86

Tabel 9 Pencapaian Kegiatan Turun Lapangan ...96

Tabel 10 Karakteristik Pasien ...97

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan

Kesehatan yang Dikunjungi ...104

Tabel 12 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Pasien Menurut Fasilitas

Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ...105

Tabel 13 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Pasien Menurut Fasilitas Pelayanan yang

Dikunjungi ...106

Tabel 14 Distribusi Frekuensi Cara Pembayaran Pasien Menurut Fasilitas

Pelayanan Kesehatan Yang Dikunjungi ...106

Tabel 15 Distribusi Frekuensi Cara Pembayaran Pasien Menurut Pekerjaan Utama

...109

Tabel 16 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien Terhadap

Dokter/Dokter Gigi ...110

Tabel 17 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan

Penjelasan dan Informasi yang Lengkap untuk Tindakan Medis yang Diberikan

(14)

oleh Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi

...116

Tabel 18 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Meminta Pendapat

dari Dokter/Dokter Gigi Lain (Second Opinion) Menurut Fasilitas Pelayanan

Kesehatan yang Dikunjungi ...117

Tabel 19 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan

Pelayanan Medis Sesuai dengan Kebutuhan Pengobatan Penyakit yang Diderita

Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi...117

Tabel 20 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Memberikan

Persetujuan Maupun Menolak Tindakan Medis yang akan Dilakukan oleh

Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ..119

Tabel 21 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Mendapatkan Isi

Rekam Medis Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ...120

Tabel 22 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Pasien Terhadap

Dokter/Dokter Gigi ...122

Tabel 23 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Memberikan

Informasi Yang Lengkap dan Jujur Tentang Masalah Kesehatan Kepada

Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ..125

Tabel 24 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Mematuhi

Nasehat dan Petunjuk Dokter/Dokter Gigi Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan

yang Dikunjungi ...126

Tabel 25 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Mematuhi

Ketentuan yang Berlaku (Tata Tertib) di Tempat Berobat Menurut Fasilitas

Kesehatan yang Dikunjungi ...127

Tabel 26 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Memberikan

Imbalan Jasa Menurut Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Dikunjungi ...128

Tabel 27 Persepsi Pasien Tentang Hak Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi ....129

Tabel 28 Persepsi Pasien Tentang Kewajiban Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi

...132

(15)

Tabel 29 Pengetahuan Pasien Tentang Layanan Konsil Kedokteran Indonesia ..134

Tabel 30 Persepsi Pasien Tentang Layanan KKI ...136

Tabel 31 Karakteristik Dokter/Dokter Gigi ...139

Tabel 32 Distribusi Frekuensi Profesi/Pendidikan Dokter/Dokter Gigi Terakhir

Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...145

Tabel 33 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat

Praktik Dokter/Dokter Gigi ...146

Tabel 34 Distribusi Frekuensi Usia Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat Praktik

Dokter/Dokter Gigi ...146

Tabel 35 Distribusi Frekuensi Tahun Kelulusan Dokter/Dokter Gigi Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...148

Tabel 36 Distribusi Frekuensi Masa Kerja Dokter/Dokter Gigi Menurut Tempat

Praktik Dokter/Dokter Gigi ...149

Tabel 37 Distribusi Frekuensi Kepemilikan STR Dokter/Dokter Gigi Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...150

Tabel 38 Distribusi Frekuensi Kepemilikan SIP Dokter/Dokter Gigi Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...150

Tabel 39 Masa Berlaku STR dan SIP Dokter/Dokter Gigi ...151

Tabel 40 Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi Tentang Haknya

Terhadap Pasien ...152

Tabel 41 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak

Memperoleh Perlindungan Hukum Atas Tindakan Medis Yang Diberikan Kepada

Pasien Sepanjang Melaksanakan Tugas Sesuai Dengan Standar Profesi Dan

Standar Prosedur Operasional Yang Berlaku Menurut Tempat Praktik

Dokter/Dokter Gigi ...156

Tabel 42 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi Tentang

Hak Memberikan Pelayanan Medis Menurut Standar Profesi Dan Standar

Prosedur Operasional Yang Berlaku Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi

...157

(16)

Tabel 43 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter Gigi Tentang

Hak Memperoleh Informasi Yang Lengkap Dan Jujur Dari Pasien Dan

Keluarganya Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...159

Tabel 44 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/Dokter

Gigi Tentang Hak Menerima Imbalan Jasa Atas Pelayanan Kesehatan Yang

Diberikan Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...160

Tabel 45 Tingkat Pengetahuan Responden Dokter/dokter gigi Tentang

Kewajibannya terhadap Pasien ...162

Tabel 46 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Memberikan Pelayanan Medis Sesuai Dengan Standar Profesi Dan Standar

Prosedur Operasional Serta Kebutuhan Medis Pasien Menurut Tempat Praktik

Dokter/Dokter Gigi ...166

Tabel 47 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Merujuk Pasien Ke Dokter Atau Dokter Gigi Lain Yang Mempunyai Keahlian

Atau Kemampuan Yang Lebih Baik, Apabila Tidak Mampu Melakukan Suatu

Pemeriksaan Atau Pengobatan Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ....168

Tabel 48 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Merahasiakan Segala Sesuatu Yang Diketahuinya Tentang Pasien, Bahkan Juga

Setelah Pasien Itu Meninggal Dunia Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi

...170

Tabel 49 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Melakukan Pertolongan Darurat Atas Dasar Perikemanusiaan, Kecuali Bila

Yakin Ada Orang Lain Yang Bertugas Dan Mampu Melakukannya Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...172

Tabel 50 Distribusi Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Menambah Ilmu Pengetahuan Dan Mengikuti Perkembangan Ilmu Kedokteran

Atau Kedokteran Gigi Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...174

Tabel 51 Persepsi Responden Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Dokter/Dokter

Gigi Terhadap Pasien ...176

(17)

Tabel 52 Persepsi Responden Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban

Dokter/Dokter Gigi Terhadap Pasien ...178

Tabel 53 Pengetahuan Umum Dokter/Dokter Gigi Tentang KKI ...180

Tabel 54 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Definisi dan Peran

KKI Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...181

Tabel 55 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan KKI

Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...182

Tabel 56 Pengetahuan Umum Dokter/Dokter Gigi Tentang MKDKI ...183

Tabel 57 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang MKDKI Menurut

Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi...185

Tabel 58 Distribusi Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan MKDKI

Menurut Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi ...186

Tabel 59 Persepsi Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan KKI dan MKDKI...187

(18)

LAMPIRAN

lampiran 1 Surat Izin Penelitian KKI ...206

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian KKI ...207

Lampiran 3 Lampiran Surat Dinas Kesehatan Provinsi Dki Jakarta...208

Lampiran 4 Surat Izin Penelitian BPTSP DKI Jakarta ...209

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian BPTSP DKI Jakarta ...210

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian Dinas Kesehatan Kota Jakarta Utara...211

Lampiran 7 Lampiran Surat Izin Penelitian Kota Jakarta Selatan ...212

Lampiran 8 Lampiran Surat Keterangan Penugasan Surveyor Ridwan Malik ....213

Lampiran 9 Surat Keteranagan Penugasan Surveyor Apriningsih ...214

Lampiran 10 Surat Keterangan Penugasan Surveyor Eliha Mahsuna ...215

Lampiran 11 Surat Keterangan Penugasan Surveyor Ni Nengah Ayu Padmawati ...216

Lampiran 12 Standar Penilaian Kuesioner Pasien ...217

Lampiran 13 Standar Penilaian Kuesioner Dokter/Dokter Gigi ...236

(19)

EXECUTIVE SUMMARY

1. PENDAHULUAN

Salah satu tugas negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah untuk mewujudkan terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Salah satu upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan menyediakan akses pelayanan kesehatan bagi rakyat sehingga kualitas kehidupan mereka menjadi lebih baik dan lebih bermakna.

Sebagai pemimpin dari pelaksanaan pelayanan kesehatan “captain of the team”, dokter dan dokter gigi perlu pengaturan yang baik. Oleh karena itu, negara melakukan pengaturan praktik kedokteran dan mengamanahkan dibentuknya Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004.

Sebagai lembaga negara, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mengemban beberapa tugas yang tercantum dalam Pasal 7 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Beberapa tugas tersebut antara lain melakukan registrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi, dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing.

Dalam menjalankan tugasnya, Konsil Kedokteran Indonesia menghadapi beberapa masalah, yaitu:

a.

Belum meratanya kesadaran dan pengetahuan dokter dan dokter gigi terhadap peraturan perundang-undangan tentang praktik kedokteran.

b.

Komunikasi yang baik antara dokter/dokter gigi dan pasien belum tercapai.

c.

Belum sempurnanya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan praktik kedokteran.

Terkait dengan kebijakan yang dibuat oleh KKI, hak dan kewajiban pasien dan

dokter/dokter gigi merupakan salah satu unsur yang mendukung kegiatan praktik

kedokteran. Dokter/dokter gigi yang baik, memahami hak dan kewajibannya,

(20)

demikian juga masyarakat sebagai pengguna jasa layanan kesehatan. Dengan demikian, KKI menganggap penting untuk memahami sejauh mana pelaksanaan kebijakan tersebut telah diimplementasikan.

Penegakkan disiplin praktik kedokteran dilaksanakan oleh lembaga otonom di dalam KKI yang bernama Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Lembaga ini telah menerima dan menangani pengaduan tentang dugaan pelanggaran disiplin praktik kedokteran sejak tahun 2005. Jumlah pengaduan yang dilaporkan ke MKDKI terus meningkat trennya dari tahun ke tahun. Berdasarkan sebuah penelitian disertasi tentang pelanggaran etika kedokteran, terdapat 136 kasus dugaan pelanggaran etika kedokteran dengan 219 pelapor yang diadukan ke MKDKI pada tahun 2006-2012 dan 75 kasus dengan 93 pelapor ternyata terbukti melanggar etika kedokteran. (Anwari, 2015)

Kondisi kekinian memberi wawasan pada KKI mengenai pendekatan pengawasan dan pembinaan yang lebih baik. Selain itu, KKI juga menganggap penting untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI. Pemahaman ini menjadi fondasi berharga bagi KKI untuk mengembangkan pendekatan pada kinerja selanjutnya.

Beragam masalah yang harus dihadapi oleh KKI memerlukan kebijakan atau regulasi yang tepat yang bisa saja terkait dengan pendidikan, registrasi dan pembinaan. Umpan balik dari stakeholder baik dokter/dokter gigi maupun masyarakat pengguna jasa sangat diperlukan supaya regulasi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan dan fakta (evidence based) yang ada.

Terkait hal tersebut diatas, KKI merasa penting untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi dokter/dokter gigi dan pasien tentang hak dan kewajibannya masing-masing. Umpan balik yang diharapkan, dihasilkan melalui penelitian yang menyangkut masalah-masalah tersebut di atas.

2. MAKSUD DAN TUJUAN A. MAKSUD

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat

pengetahuan dan persepsi pelaksanaan hak dan kewajiban pasien dan

(21)

dokter/dokter gigi dari masyarakat dan dokter/dokter gigi dalam pelaksanaan praktik kedokteran di wilayah DKI Jakarta.

B. TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini terdiri dari:

(1). Untuk mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat terkait hak dan kewajiban pasien terhadap dokter/ dokter gigi.

(2). Untuk mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi dokter/dokter gigi terkait dengan hak dan kewajiban dokter/dokter gigi terhadap pasien.

(3). Untuk mengidentifikasi gambaran persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

3. PENDEKATAN KAJIAN

Survei ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kuantitatif dan semi kualitatif dengan metode cross sectional (potong lintang) .

4. POPULASI DAN SAMPEL

Wilayah kajian meliputi 5 (lima) wilayah kota di DKI Jakarta. Populasi penelitian adalah populasi dokter/dokter gigi umum dan spesialis yang bertugas di 5 (lima) wilayah DKI Jakarta dan masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan dokter/dokter gigi umum maupun spesialis yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan. Jumlah sampel penelitian adalah 210 orang, terdiri dari 105 respoden pasien dan 105 responden dokter/dokter gigi.

5. KETERBATASAN PENELITIAN

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan penelitian sebagai berikut:

(1). Waktu pelaksanaan penelitian yang sangat singkat yaitu 2 (dua) bulan, menyebabkan kurang optimalnya perencanaan dan pelaksanaan studi.

(2). Sampel penelitian adalah given, artinya sudah ditentukan dalam kerangka

acuan awal. Dengan jumlah sampel penelitian yang sudah ditentukan,

peneliti menggunakan teknik quota sampling untuk membagi sampel di

setiap wilayah. Dengan komposisi sampel sedemikian rupa, maka hasil

penelitian tidak dapat digeneralisir ke populasi yang lebih luas.

(22)

(3). Kuesioner banyak menggunakan jenis pertanyaan terbuka sehingga tidak dapat dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

6. HASIL

Hasil penelitian ini terbagi dalam 2 (dua) responden yang terdiri dari dokter/dokter gigi dan pasien. Setiap responden dinilai tingkat pengetahuan dan persepsinya terhadap hak dan kewajiban masing-masing dalam pelayanan kesehatan serta terhadap layanan KKI.

A. PASIEN

Pasien merupakan konsumen pengguna jasa layanan kesehatan. Menurut Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi. Kegiatan penelitian ini melibatkan pasien yang sedang berada di beberapa fasilitas kesehatan dengan jumlah 105 responden.

1) KARAKTERISTIK PASIEN

Sebagian besar pasien dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan (71,4%), masuk dalam kelompok usia dewasa awal, yaitu antara usia 18 hingga 40 tahun (54,3%), memiliki pekerjaan utama sebagai Ibu rumahtangga/ tidak bekerja (33,3%), berpendidikan tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) sederajat (45,7%), dan membayar biaya pelayanan kesehatan dengan menggunakan kartu BPJS Kesehatan yang berarti juga peserta Jaminan Kesehatan Nasional (52,4%).

Sebagian besar peserta yang melakukan pembayaran biaya pelayanan kesehatan dengan BPJS Kesehatan dapat dikaitkan dengan penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di Indonesia sejak Januari 2014 lalu. Berdasarkan pada pemutakhiran data jumlah peserta BPJS Kesehatan seluruh Indonesia per tanggal 22 Januari 2016, sudah mencakup 158.781.076 jiwa di seluruh Indonesia.

(www.bpjs-kesehatan.go.id). Dalam survei ini dijelaskan bahwa hal pertama yang

terlintas di benak masyarakat tentang BPJS Kesehatan adalah “berobat gratis”,

disusul dengan “asuransi kesehatan rakyat”, “pengganti ASKES”, dan “bantuan

kesehatan”.

(23)

Selain cara pembayaran pasien dengan BPJS Kesehatan, sebesar 16,2% pasien melakukan cara pembayaran pelayanan kesehatan dengan jaminan asuransi lainnya, dalam hal ini adalah asuransi swasta. Sementara itu, sebesar 22,9% pasien masih mengeluarkan biaya pelayanan kesehatan dari kantong mereka sendiri (out of pocket).

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya cara pembayaran gabungan yang dilakukan oleh pasien yaitu gabungan BPJS Kesehatan dan membayar sendiri;

gabungan membayar sendiri dan asuransi lainnya; gabungan BPJS Kesehatan dan perusahaan. Gabungan BPJS Kesehatan dan membayar sendiri diartikan sebagai cara pembayaran dengan sebagian biaya pelayanan kesehatan yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan dan sebagian lainnya harus menggunakan uang pasien sendiri (out of pocket). Sistem pembayaran seperti ini terjadi karena memang untuk penyakit-penyakit tertentu, BPJS tidak menanggung semua biaya pelayanan kesehatan dan harus ditanggung oleh pasien.

2) TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG HAK PASIEN TERHADAP DOKTER/DOKTER GIGI.

Tingkat pengetahuan pasien dibagi menjadi 3 kategori penilaian yaitu Baik, Cukup, dan Kurang. Masing-masing kategori penilaian dinilai dari kualitas jawaban pasien dan kesesuaiannya dengan standar jawaban penilaian yang dibuat oleh peneliti. Penelitian ini mendapatkan bahwa sebagian besar pasien dengan rata-rata sebesar 68,2% mengetahui dan memahami dalam kategori “Cukup”

untuk 4 dari 5 indikator hak yang yang dinilai dalam kuesioner. Hak tersebut terdiri dari:

(1). Hak mendapatkan penjelasan dan informasi yang lengkap untuk tindakan medis yang diberikan oleh dokter/dokter gigi (67,7%).

(2). Hak meminta pendapat atau opini dari dokter/dokter gigi lain (second opinion) sebelum menyetujui tindakan medis dari dokter/dokter gigi (61,0%).

(3). Hak mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan pengobatan penyakit yang diderita (57,1%).

(4). Hak mendapatkan isi rekam medis (80,0%).

(24)

Terkait hak pasien untuk dapat memberikan persetujuan maupun menolak tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter/dokter gigi, sebagian besar pasien (88,6%) kurang mengetahui dan memahami hak tersebut. Hal ini dikarenakan adanya asimetri informasi antara dokter dengan pasien. Informasi yang dimiliki pasien tidak seimbang dengan yang dimiliki dokter, sehingga pasien akan cenderung mempercayai dokter/dokter gigi atas segala informasi dan tindakan yang akan diberikan untuk kesembuhan pasien.

3) TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG KEWAJIBAN PASIEN TERHADAP DOKTER/DOKTER GIGI.

Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien dengan rata-rata sebesar 70,1%

mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” dan “Cukup” untuk 3 dari 4 indikator kewajiban yang dinilai dalam kuesioner. Kewajiban tersebut terdiri dari:

(1). Kewajiban memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatan kepada dokter/dokter gigi (kategori cukup 55,2%).

(2). Kewajiban mematuhi nasehat dan petunjuk dokter/dokter gigi (kategori baik 76,2%).

(3). Kewajiban mematuhi ketentuan yang berlaku (tata tertib) di tempat berobat (kategori cukup 79,0%).

Sementara untuk kewajiban memberikan imbalan jasa kepada dokter/dokter gigi, sebesar 61,9% pasien kurang mengetahui dan memahami kewajibannya tersebut.

Hasil penelitian ini juga dapat dimaknai sebagai kecenderungan pasien yang selalu menjalankan kewajibannya terhadap dokter/dokter gigi. Pengoptimalan dokter dalam mendukung paradigma sehat menjadi lebih mudah jika dokter berkenan mengambil peran aktif dalam mengedukasi masyarakat yang cenderung patuh pada dokter.

4) PERSEPSI PASIEN TENTANG HAK PASIEN TERHADAP DOKTER/DOKTER GIGI.

Sebagian besar pasien setuju dengan hak-hak yang didapatkan pasien terhadap

dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 66,8%. Dengan demikian, dapat

dikatakan bahwa pasien sudah cukup cerdas dan memahami hak mereka dalam

pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini, diharapkan semua pasien memiliki

(25)

persepsi tertinggi untuk pemenuhan haknya. Namun masih terdapat beberapa pasien yang tidak setuju bahkan sangat tidak setuju dengan hak-hak yang seharusnya diperoleh pasien dalam pelayanan kesehatan.

5) PERSEPSI PASIEN TENTANG KEWAJIBAN PASIEN TERHADAP DOKTER/DOKTER GIGI.

Sebagian besar pasien setuju dengan kewajiban yang harus dilakukan kepada dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 57,6%. Pasien merasa harus memenuhi kewajibannya terhadap dokter/dokter gigi. Akan tetapi, dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa masih terdapat beberapa pasien yang tidak setuju bahkan sangat tidak setuju dengan kewajiban yang seharusnya dijalankan pasien terhadap dokter/dokter gigi.

6) PENGETAHUAN DAN PERSEPSI PASIEN TENTANG LAYANAN KKI DAN MKDKI.

Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien (82,9%) tidak mengetahui tentang Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), begitu pula dengan pelayanan yang diberikan oleh KKI kepada masyarakat sebesar 94,3% pasien tidak mengetahuinya. Hal ini menunjukkan bahwa pasien kurang terpapar informasi tentang KKI dan layanannya. Namun hal ini kurang sejalan dengan hasil penelitian yang juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (77,1%) mengetahui keharusan dokter/dokter gigi untuk memiliki surat tanda registrasi (STR) dalam menjalankan praktik kedokteran. Melalui pendalaman fenomena diketahui bahwa ternyata banyak pasien yang menganggap STR sama dengan Surat Ijin Praktik (SIP).

Terkait dengan pengetahuan pasien tentang Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia (MKDKI) diperoleh informasi bahwa sebagian besar pasien

(78,1%) tidak mengetahui tentang MKDKI, begitu pula dengan pelayanan yang

diberikan oleh MKDKI sebesar 95,2% pasien tidak mengetahuinya. Bagi pasien

yang mengetahui tentang KKI dan MKDKI, sebagian besar pasien mengetahui

informasinya dari media massa (surat kabar) dan media elektronik (televisi dan

radio). Pasien yang mengetahui haknya untuk mengadukan kerugian yang

diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi kepada MKDI sebesar 44,8%

(26)

sementara sisanya tidak mengetahui haknya untuk dapat mengadukan kerugian tersebut.

Untuk persepsi pasien terhadap layanan KKI dan MKDKI, sebagian besar pasien juga merasa setuju dengan pelayanan KKI untuk dapat mengadukan dan mengadukan dengan mudah keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke MKDKI dengan rata-rata sebesar 63,8%. Sasaran pelayanan KKI ini memang para dokter/dokter gigi sehingga masyarakat tidak terpapar secara langsung dengan informasi dan pelayanan KKI. Namun bila dikaitkan dengan hak pasien yang berhak mengadukan kerugian yang diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi, maka penting pihak KKI untuk meningkatkan intensitas sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui media massa maupun elektronik.

B. DOKTER/DOKTER GIGI.

1) KARAKTERISTIK DOKTER / DOKTER GIGI.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap dokter/dokter gigi, diperoleh informasi bahwa responden berprofesi sebagai dokter umum (56,2%), dokter spesialis (23,8%), dokter gigi (13,3%), dan dokter gigi spesialis (6,7%). Tempat praktik dokter dan dokter gigi dalam penelitian ini adalah rumah sakit pemerintah (40%), rumah sakit swasta (31,4%), klinik praktik bersama (15,2%), dan puskesmas (13,3%). Untuk kategori jenis kelamin, dokter/dokter gigi berjenis kelamin perempuan sebesar 69,5% dan laki-laki sebesar 30,5%. Dokter/dokter gigi yang menjadi responden dalam penelitian ini berada pada kategori usia dewasa muda (24-40 tahun) sebesar (60%), dewasa madya (41-60 tahun) sebesar 38,1%, dan dewasa lanjut (61 tahun ke atas) sebesar 1,9%. Responden yang lulus pendidikan dokter/dokter gigi setelah tahun 2004 sebesar 59% dan pada saat hingga sebelum tahun 2004 sebesar 41%. Dokter/dokter gigi yang lulus setelah tahun 2004 tentu mengetahui tentang Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Lama masa dokter/dokter gigi 5 tahun dan lebih dari 5 tahun sebesar 53,3% sementara kurang dari 5 tahun sebesar 46,7%.

Terkait kepemilikan STR dokter/dokter gigi, semua responden menyatakan

memiliki STR dalam menjalankan praktik kedokteran (100%). Selain itu, sebesar

99% dokter/dokter gigi juga memiliki SIP. Terdapat 1 responden yang belum

(27)

memiliki SIP karena masih menjalankan program internship. Rata-rata masa berlaku STR dokter/dokter gigi berakhir pada tanggal 7 November 2017, paling cepat akan berakhir pada tanggal 2 juni 2016 dan paling lama akan berakhir pada tanggal 5 desember 2020.

2) TINGKAT PENGETAHUAN DOKTER / DOKTER GIGI TENTANG HAK DOKTER/DOKTER GIGI TERHADAP PASIEN.

Tingkat pengetahuan dokter/dokter gigi dibagi menjadi 3 kategori penilaian yaitu Baik, Cukup, dan Kurang. Masing-masing kategori penilaian dinilai dari kualitas jawaban dokter/dokter gigi dan kesesuaiannya dengan standar jawaban penilaian yang dibuat oleh peneliti. Dari penelitian ini diperoleh informasi bahwa sebagian besar dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 84,5% mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” untuk seluruh indikator hak yang yang dinilai dalam kuesioner. Hak tersebut terdiri dari:

(1). Hak memperoleh perlindungan hukum atas tindakan medis yang diberikan kepada pasien sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional yang berlaku (kategori baik 81,9%).

(2). Hak memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional yang berlaku (kategori baik 87,6%).

(3). Hak memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan keluarganya (kategori baik 96,2%).

(4). Hak menerima imbalan jasa atas pelayanan kesehatan yang diberikan (kategori baik 72,4%).

3) TINGKAT PENGETAHUAN DOKTER/DOKTER GIGI TENTANG KEWAJIBANNYA TERHADAP PASIEN.

Sebagian besar dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 89,3% memiliki tingkat pengetahuan yang baik untuk kewajibannya terhadap pasien. Responden mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” untuk seluruh indikator kewajiban yang yang dinilai dalam kuesioner. Kewajiban tersebut terdiri dari:

(1). Kewajiban memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan

standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien (kategori baik

92,4%).

(28)

(2). Kewjiban merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan (kategori baik 93,3%).

(3). Kewajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia (kategori baik 90,5%).

(4). Kewajiban melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya (kategori baik 77,1%).

(5). Kewajiban menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi (kategori baik 93,3%).

Diharapkan dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang kewajibannya tehadap pasien, dokter/dokter gigi akan melakukan kewajiban tersebut dan hak pasien dapat terpenuhi sehingga dapat terwujud pelayanan yang bermutu, professional dan mengutamakan keselamatan pasien.

4) PERSEPSI DOKTER/DOKTER GIGI TENTANG HAK

DOKTER/DOKTER GIGI TERHADAP PASIEN

Sebagian besar dokter/dokter gigi sangat setuju dengan haknya terhadap pasien dengan rata-rata sebesar 78,1%. Namun, masih ada dokter/dokter gigi yang bersikap tidak setuju dan sangat tidak setuju dengan beberapa haknya terhadap pasien.

5) PERSEPSI DOKTER/DOKTER GIGI TENTANG KEWAJIBAN DOKTER/DOKTER GIGI TERHADAP PASIEN

Sebagian besar dokter/dokter gigi sangat setuju dengan kewajibannya terhadap pasien dengan rata-rata sebesar 71,9%. Namun, masih ada dokter/dokter gigi yang bersikap tidak setuju dan sangat tidak setuju dengan beberapa kewajibannya terhadap pasien.

6) PENGETAHUAN DAN PERSEPSI DOKTER/DOKTER GIGI TENTANG LAYANAN KKI DAN MKDKI

Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa sebagian besar dokter/dokter gigi

memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang KKI sebesar 46,7 %, begitu

pula dengan pelayanan yang diberikan KKI sebesar 45,7% dokter/dokter gigi

(29)

tingkat pengetahuannya cukup. Dokter/dokter gigi sudah mengetahui tentang KKI dan layanannya karena KKI memberikan pelayanan penerbitan STR bagi dokter/dokter gigi di Indonesia. Selain itu, dokter/dokter gigi juga memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang MKDKI sebesar 52,4%, begitu pula dengan peran MKDKI sebesar 45,7% dokter/dokter gigi tingkat pengetahuannya baik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa untuk persepsi dokter/dokter gigi terhadap layanan KKI dan peran MKDKI, sebagian besar responden merasa setuju dengan rata-rata sebesar 44,9%. Namun, masih ada dokter/dokter gigi yang bersikap tidak setuju dan sangat tidak setuju dengan beberapa layanan KKI dan peran MKDKI dalam kuesioner.

7. KESIMPULAN

(1). Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Hak Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi.

Sebagian besar pasien dengan rata-rata sebesar 68,2% mengetahui dan memahami dalam kategori “cukup” untuk 4 dari 5 indikator hak yang yang dinilai dalam kuesioner.

(2). Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Kewajiban Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi.

Sebagian besar pasien dengan rata-rata sebesar 70,1% mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” dan “Cukup” untuk 3 dari 4 indikator kewajiban yang dinilai dalam kuesioner.

(3). Persepsi Pasien Tentang Hak dan Kewajiban Pasien Terhadap Dokter/Dokter Gigi.

a. Sebagian besar pasien setuju dengan hak-hak yang didapatkan pasien terhadap dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 66,8%.

b. Sebagian besar pasien setuju dengan kewajiban yang harus dilakukan kepada dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 57,6%.

(4). Pengetahuan dan Persepsi Pasien Tentang Layanan KKI dan MKDKI.

a. Sebagian besar pasien (82,9%) tidak mengetahui tentang Konsil

Kedokteran Indonesia (KKI), begitu pula dengan pelayanan yang diberikan

oleh KKI kepada masyarakat sebesar 94,3% pasien tidak mengetahuinya.

(30)

b. Sebagian besar pasien (78,1%) tidak mengetahui tentang MKDKI, begitu pula dengan pelayanan yang diberikan oleh MKDKI sebesar 95,2% pasien tidak mengetahuinya.

c. Pasien yang mengetahui haknya untuk mengadukan kerugian yang diakibatkan oleh tindakan dokter/dokter gigi kepada MKDI sebesar 44,8%

sementara sisanya tidak mengetahui haknya untuk dapat mengadukan kerugian tersebut.

d. Untuk persepsi pasien terhadap layanan KKI dan MKDKI, sebagian besar pasien juga merasa setuju dengan pelayanan KKI untuk dapat mengadukan dan mengadukan dengan mudah keluhan mengenai pelayanan dokter/dokter gigi ke MKDKI dengan rata-rata sebesar 63,8%.

(5). Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak Dokter/Dokter Gigi Terhadap Pasien.

Sebagian besar dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 84,5% mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” untuk seluruh indikator hak yang yang dinilai dalam kuesioner.

(6). Tingkat Pengetahuan Dokter/Dokter Gigi Tentang Kewajiban Dokter/Dokter Gigi Terhadap Pasien.

Sebagian besar dokter/dokter gigi dengan rata-rata sebesar 89,3% memiliki tingkat pengetahuan yang baik untuk kewajibannya terhadap pasien.

Responden mengetahui dan memahami dalam kategori “Baik” untuk seluruh indikator kewajiban yang yang dinilai dalam kuesioner.

(7). Persepsi Dokter/Dokter Gigi Tentang Hak dan Kewajiban Dokter/Dokter Gigi Terhadap Pasien.

a. Sebagian besar dokter/dokter gigi sangat setuju dengan haknya terhadap pasien dengan rata-rata sebesar 78,1%.

b. Sebagian besar dokter/dokter gigi sangat setuju dengan kewajibannya terhadap pasien dengan rata-rata sebesar 71,9%.

(8). Pengetahuan dan Persepsi Dokter/Dokter Gigi Tentang Layanan KKI dan MKDKI.

a. Sebagian besar dokter/dokter gigi memiliki tingkat pengetahuan yang

cukup tentang KKI sebesar 46,7 %, begitu pula dengan pelayanan yang

(31)

diberikan KKI sebesar 45,7% dokter/dokter gigi tingkat pengetahuannya cukup.

b. Dokter/dokter gigi juga memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang MKDKI sebesar 52,4%, begitu pula dengan peran MKDKI sebesar 45,7%

dokter/dokter gigi tingkat pengetahuannya baik.

c. Untuk persepsi dokter/dokter gigi terhadap layanan KKI dan peran MKDKI, sebagian besar responden merasa setuju dengan rata-rata sebesar 44,9%.

8. SARAN

(1). Untuk meningkatkan tingkat pemahaman pasien, KKI harus meningkatkan sosialisasi dan lebih meluaskan jangkauan informasi layanannya ke seluruh lapisan masyarakat, baik melalui media massa seperti televisi, surat kabar, majalah dalam bentuk iklan layanan masyarakat.

(2). Dengan belum meratanya informasi tentang Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diinformasikan melalui majalah atau buletin yang dibuat atau publish oleh Ikatan Dokter Indonesia dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

(3). Masih ditemukannya responden dokter yang tidak setuju dengan hak dan

kewajiban dokter terhadap pasien merupakan hal menarik yang sebaiknya di

telusuri lebih dalam alasannnya dengan melakukan studi lanjutan yang

menggunakan desain studi, jumlah sampel dan teknik sampel yang lebih

representatif.

(32)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu tugas negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah untuk mewujudkan terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Salah satu upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan menyediakan akses pelayanan kesehatan bagi rakyat sehingga kualitas kehidupan mereka menjadi lebih baik dan lebih bermakna.

Sebagai pemimpin dari pelaksanaan pelayanan kesehatan “captain of the team”, dokter dan dokter gigi perlu pengaturan yang baik. Oleh karena itu, negara melakukan pengaturan praktik kedokteran dan mengamanahkan dibentuknya Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004.

Sebagai lembaga negara, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mengemban beberapa tugas yang tercantum dalam Pasal 7 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Beberapa tugas tersebut antara lain melakukan registrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi, dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing.

KKI menjalankan serangkaian upaya dalam meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Salah satu diantaranya adalah menyempurnakan produk hukum (legislasi dan regulasi) yang responsif terkait pelaksanaan praktik kedokteran serta meningkatkan advokasi dan sosialisasinya.

Dalam menjalankan tugasnya, Konsil Kedokteran Indonesia menghadapi beberapa masalah, yaitu:

a. Belum meratanya kesadaran dan pengetahuan dokter dan dokter gigi terhadap peraturan perundang-undangan tentang praktik kedokteran.

b. Komunikasi yang baik antara dokter/dokter gigi dan pasien belum tercapai.

c. Belum sempurnanya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan praktik

kedokteran.

(33)

Terkait dengan kebijakan yang diproduksi oleh KKI, hak dan kewajiban pasien dan dokter/dokter gigi merupakan salah satu unsur yang mendukung kegiatan praktik kedokteran. Dokter/dokter gigi yang baik, memahami hak dan kewajibannya, demikian juga masyarakat sebagai pengguna jasa layanan kesehatan. Selain pada Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia (Perkonsil), hak dan kewajiban dokter/dokter gigi dan pasien, telah diamanahkan dalam berbagai produk hukum lainnya. Dengan demikian, KKI menganggap penting untuk memahami sejauh mana pelaksanaan kebijakan tersebut diimplementasikan.

Sebelum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran lahir, banyak dokter dihakimi oleh media atau pengadilan dengan tidak adil karena belum adanya kejelasan hak dan kewajiban dokter dan pasien. Dokter memiliki kewajiban memberikan pelayanan kedokteran sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya, sedangkan pasien berhak mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medisnya. Dengan adanya pengaturan tentang hak dan kewajiban dokter dan pasien, diharapkan praktik kedokteran yang bermutu dan melindungi masyarakat dapat terwujud.

Meski dirasa semakin berkurang, tak dapat dipungkiri, secara umum, pelayanan praktik kedokteran masih bersifat asimetri informasi, yaitu adanya kesenjangan informasi yang besar antara dokter dengan pasien. Dokter memiliki pengetahuan yang besar tentang penyakit yang diderita pasien, sedangkan pasien tidak paham tentang penyakitnya dan tidak mengerti apa yang dilakukan dokter untuk kebaikan/kesembuhannya. Adanya kesenjangan tersebut dapat menimbulkan transaksi yang tidak adil dan jika dokter tidak memiliki moral yang baik, dapat menimbulkan moral hazard. Mengetahui perkembangan realitas ini, menarik untuk diketahui

Penegakkan disiplin praktik kedokteran dilaksanakan oleh lembaga otonom di

dalam KKI yang bernama Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

(MKDKI). Lembaga ini telah menerima dan menangani pengaduan tentang

dugaan pelanggaran disiplin praktik kedokteran sejak tahun 2005. Jumlah

pengaduan yang dilaporkan ke MKDKI terus meningkat trennya dari tahun ke

tahun. Berdasarkan sebuah penelitian disertasi tentang pelanggaran etika

(34)

kedokteran, terdapat 136 kasus dugaan pelanggaran etika kedokteran dengan 219 pelapor yang diadukan ke MKDKI pada tahun 2006-2012 dan 75 kasus dengan 93 pelapor ternyata terbukti melanggar etika kedokteran. (Anwari, 2015)

Selain itu, KKI juga menganggap penting untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

Pemahaman ini menjadi fondasi berharga bagi KKI untuk mengembangkan pendekatan pada kinerja selanjutnya.

Beragam masalah yang harus dihadapi oleh KKI memerlukan kebijakan atau regulasi yang tepat yang bisa saja terkait dengan pendidikan, registrasi dan pembinaan. Agar regulasi yang diproduksi menyentuh kebutuhan yang tepat, maka, umpan balik jelas sangat diperlukan dari stakeholder KKI baik dari dokter/dokter gigi, maupun dari masyarakat pengguna jasa. Hal ini agar produk regulasi yang dihasilkan berdasarkan pada fakta (evidence based) yang ada.

Terkait hal tersebut diatas, KKI merasa penting untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi dokter dan pasien tentang hak dan kewajibannya masing-masing. Umpan balik yang diharapkan, dihasilkan melalui penelitian yang menyangkut masalah-masalah tersebut di atas.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.2.1 MAKSUD.

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi pelaksanaan hak dan kewajiban pasien dan dokter/dokter gigi dari masyarakat dan dokter/dokter gigi dalam pelaksanaan praktik kedokteran di wilayah DKI Jakarta.

1.2.2 TUJUAN.

(1). Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat terkait hak dan kewajiban pasien terhadap dokter/ dokter gigi.

(2). Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi

dokter/dokter gigi terkait dengan hak dan kewajiban dokter/dokter gigi

terhadap pasien.

(35)

(3). Untuk mengetahui gambaran persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

1.2.3 SASARAN.

Sasaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah sasaran langsung dan tidak langsung. Sasaran langsung diantaranya adalah diperolehnya:

(1). Informasi persentase tingkat pengetahuan pasien dan dokter/dokter gigi terhadap hak dan kewajiban mereka masing-masing dalam praktik kedokteran.

(2). Informasi persentase persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Sasaran tidak langsung, yaitu sebagai:

(1). Data penunjang untuk penelitian berikutnya.

(2). Dasar pembuatan kebijakan oleh Divisi-Divisi di KKI.

1.3 RUANG LINGKUP

Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi terkait produk kebijakan KKI yaitu hak dan kewajiban pasien dan dokter/dokter gigi dalam praktik kedokteran serta memahami persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

Target populasi penelitian adalah masyarakat/pasien dan dokter/dokter gigi yang sedang aktif menjalankan praktik kedokteran/kedokteran gigi.

Lokasi penelitian dilakukan di wilayah DKI Jakarta (Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat).

Jumlah sampel Penelitian adalah 210 Orang

Variabel penelitian dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, kelompok variabel untuk masyarakat, dan untuk dokter/dokter gigi.

(1). Untuk masyarakat, variabel penelitian meliputi:

a.

Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap hak dan kewajiban pasien

terhadap dokter dalam praktik kedokteran.

(36)

b.

Persepsi masyarakat terhadap kepuasan pelaksanaan hak dan kewajiban pasien terhadap dokter dalam praktik kedokteran.

c.

Persepsi masyarakat terhadap layanan KKI.

(2). Untuk target populasi dokter/dokter gigi, variabel penelitian meliputi:

a.

Tingkat pengetahuan dokter/dokter gigi terhadap hak dan kewajibannya kepada pasien dalam praktik kedokteran.

b.

Persepsi dokter/dokter gigi terhadap kepuasan pelaksanaan hak dan kewajiban dokter/dokter gigi kepada pasien dalam praktik kedokteran.

c.

Persepsi dokter/dokter gigi terhadap layanan KKI.

1.4 SUMBER PENDANAAN

Pekerjaan ini dibiayai dari sumber pendanaan DIPA Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Tahun Anggaran 2015.

1.5 KELUARAN

1.5.1 INDIKATOR KELUARAN.

Indikator keluaran yang akan digunakan untuk mendeteksi keberhasilan survei disajikan pada tabel berikut. Indikator disusun merujuk pada tujuan studi.

Tabel 1. Indikator Keluaran

TUJUAN INDIKATOR KETERANGAN

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi masyarakat terkait hak dan kewajiban pasien terhadap dokter/

dokter gigi.

a.

Persentase (%) masyarakat yang mengetahui hak dan kewajiban sebagai pasien terhadap dokter/dokter gigi.

a.

Skor Hasil

Penghitungan yang dinyatakan dalam persentase (%) Persepsi masyarakat

Indikator ini akan

diperoleh melalui

pengisian kuesioner dan

wawancara secara

mendalam kepada

kelompok masyarakat

yang terpilih menjadi

sampel.

(37)

TUJUAN INDIKATOR KETERANGAN terkait hak dan

kewajiban sebagai pasien terhadap dokter/dokter gigi (skala likert) Untuk mengetahui

gambaran pengetahuan dan persepsi

dokter/dokter gigi terkait dengan hak dan

kewajiban dokter/dokter gigi terhadap pasien.

a. Persentase (%) dokter/dokter gigi yang mengetahui hak dan kewajiban sebagai dokter/dokter gigi terhadap pasien.

b. Skor Hasil Penghitungan Penghitungan yang dinyatakan dalam persentase (%) Persepsi masyarakat terkait hak dan kewajiban sebagai dokter/dokter gigi terhadap pasien (skala likert)

Indikator ini akan diperoleh melalui pengisian kuesioner dan wawancara secara mendalam kepada kelompok dokter/dokter gigi yang terpilih menjadi sampel.

Untuk mengetahui gambaran persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

Skor Hasil Penghitungan Penghitungan yang dinyatakan dalam persentase (%) Persepsi dokter/dokter gigi dan masyarakat terhadap layanan KKI.

Indikator ini akan

diperoleh melalui

pengisian kuesioner dan

wawancara secara

mendalam kepada

kelompok masyarakat

dan dokter/dokter gigi

yang terpilih menjadi

sampel.

(38)

1.6 JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

Waktu pelaksanaan di rencanakan 2 (dua bulan kalender) sejak terhitung 1 Oktober sampai 30 November 2015.

1.7 PERSONIL

(1). Koordinator Tim : Ahli Kesehatan Masyarakat – Min. S2 Pengalaman 4 Tahun, 1 orang.

(2). Tenaga Ahli : Ahli Kesehatan Masyarakat – Min. S2 Pengalaman 3 Tahun, 1 orang.

(3). Asisten Tenaga Ahli : Kesehatan Masyarakat - Min. S1 Pengalaman 3 Tahun, 1 orang.

(4). Tenaga Pendukung: Data Entry dan Operator Komputer – D3 Pengalaman 3 Tahun, 1 orang.

1.8 LAPORAN

(1). Laporan Pendahuluan

Laporan Pendahuluan memuat perumusan masalah, tujuan penelitian, kerangka konsep penelitian, rencana kerja, jadwal dan konsep pelaksanaan kerja.

(2). Laporan Antara

Laporan Antara Permasalahan yang ditemukan pada saat pelaksanaan di lapangan.

(3). Laporan Akhir

Laporan Akhir memuat laporan akhir hasil penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Kedua, Terdapat 5 karakteristik dari putusan konstitusional bersyarat, yaitu: (1) Mahkamah memberikan tafsir atau syarat tertentu agar norma yang diuji tetap konstitusional

Hasail Observasi No Aspek Yang Diamati Mengg unakan media Memper hatikan penjelas an guru Berdi skusi Skor 2.7 2.5 2.3 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan

Adapun kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Power Otot Tungkai dengan Kemampuan Tendangan (Shooting) sepakbola pada Klub Himadirga Program

Maksud dari penelitian ini adalah untuk perancangan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pemetaan dengan menggunakan perangkat berbasis web yang bertujuan untuk

kepuasan pada tamu hotel tersebut. Tamu akan merasa sangat senang dan puas bila memperoleh pelayanan yang terbaik. Pelayanan yang baik akan tersendiri bagi mereka dan

Menurut International Federation of Accountants dalam Regar, 2003 yang dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di

Peren)anaan yang )ermat dan pelaksanaan kegiatan U'0 yang baik dapat menghidarkan para pihak @ pihak terkait dari hal @ hal yang mengarah pada ke)elakaan kerja sehingga tujuan

Komponen yang didasarkan pada perasaan dan komitmen konsumen terhadap suatu merek.Konsumen memiliki kedekatan emosi terhadap merek tersebut.Loyalitas afektif ini