Part B: Pengantar Risiko Pasar, Risiko Kredit, dan Risiko
Bab 5 Credit Risk
5.1 Karakteristik Risiko Kredit – contoh
Risiko kredit adalah risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat kegagalan counterparty dalam memenuhi kewajibannya.
Risiko kredit dapat terjadi pada perorangan atau perusahaan. Contoh:
Seseorang menghadapi risiko kerugian dari suatu investasi (deposito, obligasi, atau saham).
Perusahaan menghadapi risiko kredit pada saat tagihan-tagihannya jatuh tempo.
Bank sangat terekspos pada risiko kredit mengingat aktifitas usahanya yang bersifat lending based. Disamping itu bisnis bank memiliki rasio hutang terhadap modal yang tinggi (highly
leveraged) sehingga setiap debitur yang gagal bayar berpotensi
mengurangi modal bank.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1 Karakteristik Risiko Kredit – contoh
Peregrine Investment Holdings
Pada bulan Januari 1998 Peregrine Investment Holdings, salah satu perusahaan investasi terbesar di Asia yang berkantor pusat di Hongkong, harus dilikuidasi karena memiliki hutang sekitar USD 400 Juta.
Hal ini disebabkan oleh krisis keuangan di Asia, namun secara khusus dipicu oleh pinjaman sebesar USD 20 Juta (senilai 20% dari modal dasar Peregrine) yang diberikan kepada Steady Safe, sebuah perusahaan transportasi di Indonesia yang mengalami kesulitan keuangan.
5
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1 Karakteristik Risiko Kredit
Pada awalnya teknik analisis kredit debitur korporasi dikembangkan bank berdasarkan metodologi yang sering digunakan investor untuk menilai kelayakan investasi pada proyek-proyek non pemerintah.
Perkembangan asuransi dan dana pensiun mendorong perkembangan industri manajemen investasi profesional yang signifikan. Hal ini diikuti pula pertumbuhan investasi dalam bentuk equities serta obligasi yang diterbitkan oleh berbagai perusahaan swasta ternama.
Di AS, perkembangannya sangat pesat dimana investor institusional dapat menempatkan dananya pada produk sekuriti sasi kredit mobil, kredit perumahan dan tagihan kartu kredit Konsekuensinya, pengelola investasi harus memiliki kemampuan memahami dan mengukur risiko kredit lebih baik
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk
Obligasi internasional didominasi surat-surat berharga pemerintah.
risiko sovereign adalah risiko kerugian yang mungkin timbul akibat kegagalan pemerintah negara penerbit surat berharga untuk memenuhi kewajibannya baik bunga maupun pokoknya.
The International Monetary Fund (IMF) memiliki
peranan penting dalam membantu negara yang menghadapi masalah pinjaman
Ketika menghadapi dua pilihan kebijakan yaitu melambungnya tingkat inflasi atau default atas obligasi pemerintah, pada tahun 1998 pemerintah Rusia memutuskan untuk menyatakan default atas seluruh hutangnya baik dalam mata uang domestik maupun valas
7
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk – contoh
Obligasi Pemerintah RusiaPada tahun 1998, investor asing yang berinvestasi pada obligasi pemerintah Rusia mengalami kerugian mencapai USD 33 Miliar karena pengumuman resmi default pemerintah Rusia.
Banyak institusi keuangan yang mengalami kerugian telah mengabaikan kenyataan bahwa semakin tinggi return, semakin tinggi pula risiko yang dihadapi (Obligasi pemerintah Rusia menawarkan hasil/yield yang tinggi).
Bank/investor tidak melakukan lindung nilai terhadap semua exposur-nya
Investor-investor tersebut memprediksi tidak akan pernah ada
default atas hutang pemerintah.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk – Pinjaman dalam mata
uang domestik dan valuta asing
Secara umum penerbitan obligasi pemerintah (sovereign
debt bond) dapat dibedakan menjadi:
• Obligasi atau hutang pemerintah dalam mata uang domestik - kasus default atas hutang ini sangat jarang terjadi mengingat negara memiliki wewenang untuk mencetak mata uang domestik.
• Obligasi atau hutang pemerintah dalam mata uang asing – dalam hal ini valuta asing harus diperoleh dari penghasilan negara penerbit dalam bentuk devisa.
9
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign credit risk – Analisis Rasio Keuangan
Pengukuran risiko sovereign pada dasarnya dinilai sama seperti hutang korporasi, yaitu dengan penyesuaian model yang dibuat untuk mengukur kemampuan sebuah negara dalam menyelesaikan kewajibannya.
Debt service ratio adalah jumlah bunga dan pokok atas pinjaman valas yang telah jatuh tempo dibandingkan dengan pendapatan dari exports dan
capital inflows.
Seperti penilaian pinjaman perusahaan , ada beberapa rasio lain yang digunakan untuk menilai kemampuan membayar sebuah negara.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign credit risk – Investasi Domestik
Investasi domestik dan kebijakan ekonomi domestik telah menjadi perhatian investor dan bank terkait kemungkinan adanya ‘bubbles’ dalam negara tersebut (aktiva-aktiva tertentu yang dinilai terlalu tinggi dan dalam jangka panjang tidak berkesinambungan). Contoh bubbles adalah melambungnya harga properti di Tokyo di awal tahun 1990-an, dan tingginya nilai perusahaan teknologi di USA dan Eropa pada akhir tahun 1990-an sampai tahun 2002. Bubbles juga memainkan peranan penting dalam krisis keuangan Asia pada pertengahan tahun 1990-an. Pada saat itu harga properti dan nilai saham perusahaan di banyak negara Asia Tenggara meningkat tajam kemudian mencapai titik tertentu dan tidak dapat berkelanjutan lagi.
11
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk – Faktor-faktor lain
Rendahnya kualitas administrasi data pemerintah menyebabkan proses penilaian risiko sovereign menjadi sulit.
Pinjaman swasta dalam mata uang asing dapat mempengaruhi kemampuan pemenuhan kewajiban sebuah negara dan kualitas data yang terkait dengan hal ini pada umumnya rendah.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk – Faktor-faktor Kualitatif
Terdapat beberapa faktor kualitatif yang harus diperhatikan dalam melakukan penilaian risiko sovereign, yaitu:
• Efisiensi sistem perbankan dalam hal penyaluran dana kepada sektor-sektor produktif
• Efisiensi sistem perpajakan dalam meningkatkan penerimaan negara
• Kemampuan bank sentral dalam mengendalikan suku bunga • Pengaruh suku bunga domestik terhadap pinjaman valas dan
tekanan inflasi.
• Transparansi ekonomi serta pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintah, bank sentral, lembaga pengawasan, sistem hukum dan pelaku bisnis.
13
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign Credit Risk – risiko sovereign and
country risk
Walaupun banyak yang beranggapan risiko sovereign dan country risk adalah sama, namun lebih tepat jika
risiko sovereign diartikan sebagai bagian dari country risk.
Country risk mencakup lingkungan hukum, politik dan ekonomi serta bagaimana ketiganya mempengaruhi sektor swasta.
Penilaian country risk diperlukan terkait investasi domestik yang berhubungan dengan pinjaman
cross-border kepada perusahaan, individu maupun proyek
tertentu.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign credit risk – risiko sovereign and country
risk
Faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dalam penilaian country risk adalah:
•Sistem hukum dan perundang-undangan terutama ketentuan yang terkait dengan hak atas kepemilikan dan kepailitan
•Stabilitas sistem politik, sekalipun hal ini tidak selalu menggambarkan kestabilan sebuah pemerintahan
•Ketentuan-ketentuan terkait valuta asing misalnya penerapan ketentuan pembatasan valas
15
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.1 Sovereign credit risk – Basel II and risiko
sovereign
Faktor-faktor di atas menjelaskan alasan pentingnya risiko
sovereign perlu dinilai secara cermat.
Dalam Basel I, risiko sovereign diperhitungkan dengan menggunakan bobot risiko sederhana berdasarkan karakteristik peminjam atau borrower (misal, pemerintah) serta jenis instrumen yang digunakan (misal, garansi, hutang dsb).
Berdasarkan Standardised Approach dalam Basel II, risiko
sovereign diukur menggunakan credit ratings yang diterbitkan
lembaga pemeringkat kredit.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.2 Risiko kredit korporasi
Kredit Korporasi merupakan bagian yang terbesar terhadap risky debt dibandingkan dengan sovereign debt atau risk free debt.
Risiko kredit korporasi mencakup risiko gagal bayar (default risk) atas hutang atau kewajiban yang diterbitkan oleh perusahaan.
Bentuk kewajiban yang lazim dijumpai adalah saham atau common stock yang memiliki risiko kerugian terbesar. Stockholders adalah pihak yang paling akhir di bayar jika perusahaan mengalami likuidasi.
Sebagai contoh pada umumnya di berbagai negara obligasi korporasi dan hutang bank dibayar terlebih dahulu dibandingkan kewajiban kepada pemegang saham, namun ini pun setelah pembayaran kepada pegawai (gaji) dan pemerintah (pajak).
17
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.2 Risiko kredit korporasi
Banyak bank yang menyatakan bahwa mereka lebih mengetahui risiko kredit korporasi dibandingkan dengan risiko lain yang mereka ambil.
Peran bank sebagai lembaga intermediasi yang menyalurkan dana pihak ketiga kepada sektor produktif sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi
Metode penilaian kredit yang digunakan oleh bank pada dasarnya merupakan pengembangan dari metode penilaian investasi
Penggunaan rasio keuangan sebagai dasar untuk pengembangan model dalam pengambilan keputusan pemberian kredit korporasi sangat lazim digunakan.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.2 Risiko kredit korporasi
Basel II mendorong bank-bank untuk lebih menerapkan teknik penilaian kredit dengan menggunakan metode statistik untuk kalibrasi dan
backtesting dalam pembuatan model peringkat kreditnya.
Basel II juga mendorong bank-bank untuk menggunakan model-model berbasis opsi
(options-based models) sebagai informasi tambahan sepanjang
19
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.3 Risiko kredit ritel
Banyak bank komersial berpendapat bahwa risiko kredit ritel sama pentingnya dengan risiko kredit korporasi. Di beberapa negara teknik penilaian kredit individual berubah signifikan ketika bank-bank mengganti sistem pemberian kredit dari branch-based menjadi tersentralisasi.
Dengan sistem branch-based lending, kepala cabang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan pemberian kredit berdasarkan personal knowledge atas debitur-debiturnya, sedangkan keputusan pemberian kredit yang tersentralisasi dibuat menggunakan data informasi debitur yang standardized yang diolah sehingga menjadi model credit scoring.
Pengembangan produk telah mengubah pasar bagi pembiayaan individual yaitu semakin terpisah antara kredit properti (secure
credit) seperti KPR dan kredit pembiayaan konsumen (unsecure credit) seperti kartu kredit.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.3
Risiko kredit ritelDi luar AS, terdapat perkembangan sekuritisasi kredit yang mencakup kredit perumahan, kredit pemilikan kendaraan bermotor, kredit konsumen lainnya termasuk pembiayaan kartu kredit.
Walaupun di beberapa negara pinjaman tertentu tidak dapat dikategorikan sebagai mortgage, namun perkembangannya telah menggambarkan inovasi dalam pembiayaan konsumen. Hal itu tidak hanya mengurangi biaya kredit bagi debitur juga mengurangi risiko bagi bank.
21
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.3
Risiko kredit ritelPembiayaan konsumen (unsecured) sangat dipengaruhi oleh perkembangan model-model yang digunakan dalam mengukur posisi kredit individual atau lebih dikenal credit
scoring model.
Secara garis besar atribut dasar dari model ini adalah penilaian arus kas, riwayat pekerjaan dan aktiva yang dimiliki. (Topik ini akan didiskusikan pada akhir bab ini bersamaan dengan penjelasan agensi kredit dan riwayat kredit).
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.4 Probability of default
Model-model yang didiskusikan sebelumnya (5.1.1, 5.1.2, 5.1.3) digunakan bank untuk mengambil keputusan pemberian kredit.
Keputusan kredit memiliki karakter bimodal: kredit diberikan atau kredit tidak diberikan.
Namun model ini terlalu sederhana, karena pada kenyataannya bank sangat memperhatikan risiko-risiko yang mungkin timbul, reward (margin dan fee) dan modal yang harus dijaga.
Keputusan lending/investing diambil dengan pertimbangan risiko dan hasil karena pada satu harga tertentu diperlukan pengambilan risiko tertentu pula dapat saja diambil untul hasil tertentu Æ semakin besar risiko semakin tinggi hasil.
Pendekatan sederhana bimodal tidak dapat membantu bank dalam mengambil keputusan bisnis. Model peringkat (grading models) merupakan salah satu cara untuk membuat kerangka keputusan
23
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.4 Probability of default
Basel II, mendorong bank-bank untuk menggunakan model penilaian kredit dalam pengembangan kerangka keputusan
risk/reward tersebut melalui penggunaan peringkat kredit
dalam Standardised Approach serta model yang dikembangkan oleh individual bank dengan pendekatan
Internal Rating-Based.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.5 Risiko kredit sistemik
Risiko kredit dan risiko likuiditas merupakan risiko yang terpenting dalam bisnis perbankan.
Pada Basel I, pengukuran risiko lebih terfokus pada risiko kredit saja.
Sekalipun saat ini risiko likuiditas jarang dijumpai di industri perbankan, risiko ini tetap dapat menimbulkan tidak hanya bagi bank itu sendiri, namun juga bagi bank sentral, lembaga pengawasan dan juga pemerintah
Booming kredit di Jepang (1990 an) yang mengakibatkan kondisi bubble dalam harga properti mendorong perkembangan kredit
macet yang diperkirakan melebihi 10% dari total aktiva sebagian besar bank di Jepang.
25
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.5 Risiko kredit sistemik
Tingkat kredit macet yang tinggi (non performing loans-NPL) berpotensi menyebabkan timbulnya systemic risk.
Jika industri perbankan mengalami kredit macet yang tinggi pada portfolio merupakan masalah bagi pengawas dan bank sentral.
Apabila kondisi kredit macet tersebut banyak terjadi pada bank-bank dalam kurun waktu yang sama, akan menimbulkan krisis ekonomi, karena industri perbankan akan mengalami kekurangan modal Æ (kredit macet akan mengurangi modal bank).
Akibatnya bank tidak dapat berfungsi untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.6 Risiko kredit traded markets counterparty
Risiko pasar yang timbul akibat mark-to-market atas nilai kontrak traded market seperti foreign exchange contract atau
interest rate related contract.
Bank atau counterparty akan memperoleh keuntungan tergantung dari hasil penilaian mark-to-market atas kontrak tersebut. Ini merupakan zero sum game, dimana hanya satu pihak saja yang dapat memperoleh keuntungan dari sebuah kontrak.
27
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.6 Risiko kredit traded markets counterparty
Risiko kredit traded markets counterparty timbul ketika counterparty/pihak lawan tidak segera membayar kewajiban yang muncul dalam suatu transaksi.
Sebagai contoh cash on delivery untuk mengurangi risiko kredit.
Dalam prakteknya, banyak transaksi perbankan hanya akan dibayar pada saat kontrak jatuh tempo.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.6 Traded markets counterparty credit risk – simple
example
Interest rate swap: Bank A membayar 4.75% fixed dan menerima 3 bulan LIBOR dari Bank B thd GBP 5 jt, 3 tahun swap
Bank A Bank B
4.75% fixed rate 3 bulan LIBOR On 1stfixing date LIBOR set at 4.27%.Bank A Bank B
4.75% fixed rate 4.27% On 5thfixing date LIBOR set at 5.19%.Bank A Bank B
4.75% fixed rate 5.19%29
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.6 Risiko kredit Traded markets counterparty
Tingkat risiko kredit counterparty/pihak lawan dapat dikurangi dengan:• Pembayaran berkala antara pihak-pihak dalam kontrak • Debitur mengajukan kolateral sebagai jaminan atas
kewajibannya • ‘netting’.
Netting adalah proses offsett antara keuntungan dan kerugian melalui sejumlah transaksi dengan jenis kontrak yang sama atau dapat juga dilakukan dengan jenis kontrak yang berbeda.
5.1 Jenis-jenis risiko kredit
5.1.6 Risiko kredit traded markets counterparty
Dalam risiko pasar, mark-to-market adalah proses menilai kembali posisi transaksi menggunakan harga pasar terkini. Namun demikian, penilaian mark-to-market merupakan dasar dalam perhitungan risiko kredit counterparty.
Penilaian terhadap counterparty dilakukan dengan menggunakan teknik penilaian kredit pada umumnya.
31