3.1 Tiga pilar regulasi
3.1.2 Pilar 2 – Supervisory review
Supervisory review pada Pilar 2 dimaksudkan untuk menformalkan praktek yang telah dijalankan berbagai pihak regulator dari masing-masing negara. Konsep supervisory review secara implisit telah ada dalam Basel I dan ditujukan untuk menentukan standar minimum yang dapat diterima oleh pihak regulator guna diterapkan pada lingkungan perbankan masing-masing negara.
Pilar 2 merupakan supervisory review yang sangat mirip dengan apa yang saat ini diterapkan pada The Federal Reserve Board di Amerika, dan The Financial Services Authority di Inggris.
Supervisory review dirancang untuk memberikan fokus perhatian pada : • Persyaratan modal di atas tingkat minimum yang dihitung
berdasarkan Pilar 1, dan
• Tindakan awal yang dibutuhkan untuk memberikan respon terhadap risiko yang timbul.
Pilar 2 juga meliputi evaluasi risiko suku bunga jenis tertentu dalam banking book.
7
3.1 Tiga pilar regulasi
3.1.3 Pilar 3 – Market Discipline
Pilar 3 adalah market discipline. Bank for International Settlements (BIS) mendefinisikan market discipline sebagai mekanisme tata kelola internal dan eksternal dalam perekonomian pasar bebas (free-market economy) tanpa campur tangan langsung pemerintah. Pilar 3 dirancang untuk mencakup hal-hal yang akan dibutuhkan dalam hal pengungkapan publik oleh bank. Pilar 3 dirancang untuk membantu para pemegang saham dan analis pasar, dan berupaya untuk meningkatkan transaparansi atas permasalahan seperti: • Portofolio aktiva bank, dan
• Profil risiko bank.
Perlu diperhatikan bahwa Basel I hanya berisi pendekatan Pilar 1. Pada prakteknya, unsur pilar 2 dan pilar 3 akan tetap ada, walaupun pendekatan yang digunakan untuk pilar-pilar ini dan aplikasinya dapat sangat berbeda.
3.1 Tiga pilar regulasi
3.1.4 Cakupan risiko – kredit, pasar, operasional dan risiko lainnya
Dalam pendekatan 3 pilar The Basel Committee mengusulkan untuk memperluas cakupan risiko di luar credit risk dan traded
market risk ke dalam lingkup jenis risiko yang lebih luas yang
dihadapi bank.
The Basel Committee memfokuskan Pilar 1 pada credit
risk, operational risk dan sekaligus memasukkan market risk amendment 1996 secara utuh. Pendekatan pilar 1 menandai pertama kalinya pendekatan kuantitatif akan digunakan untuk risiko operasional. Selain itu, beberapa risiko lain yang ingin dicakup oelh Basel Committee dalam pilar 2 dan 3. Risiko-risiko ini disebut dengan risiko-risiko ini dikenal sebagai risiko-risiko lainnya (other risk).
9
3.1 Tiga pilar regulasi
3.1.4 Struktur regulasi Basel II
Pillar 1
Minimum Capital Credit Risk Op Risk Market Risk Standardised Approach IRB approaches 1996 Capital Accord amendment Basic Indicator Approach Advanced Measurement Approach Foundation AdvancedCollateral & Securitization
Standardised Approach
3.1 Tiga pilar regulasi
3.1.4 Struktur regulasi Basel II
Pillar 3
Market Discipline DisclosurePillar 2
Supervisory Review Interest Rate Risk in Banking Book Residual Risks11
3.2 Alasan pengembangan Basel II
3.2 Alasan pengembangan Basel II
Meningkatnya penggunaan metode kuantitatif oleh bank untuk mengukur dan melaporkan risiko kredit dalam
portofolio bank adalah salah satu pengembangan (Basel II) yang mencapai puncaknya pada saat publikasi market risk amendment pada tahun 1996. Pada amandemen ini, bank diperbolehkan untuk menggunakan internal model dalam mengukur credit risk mereka.
Pengembangan metode kuantitatif ini merupakan pondasi yang kokoh bagi The Basel II Accord. Namun demikian ada dua persoalan yang perlu diselesaikan sebelum Basel Committee mulai menerapkan Basel II, yaitu : credit model dan operational & other risk.
3.2 Alasan pengembangan Basel II
3.2.1 Kredit model – grading atau options based
Untuk menentukan jenis kredit model yang diperbolehkan penggunaannya berdasar aturan Pilar 1, Basel Committee mempertimbangkan penggunaan dari:
• full portfolio models yang dicirikan oleh aplikasi teknik option pricing
• grading models dimana perhitungan risiko dibuat
berdasarkan obligor individual dimana secara sederhana risiko portofolio diperoleh dari penjumlahan atas
keseluruhan risiko individual tersebut.
Full portolio models adalah model yang dikembangkan oleh Robert Merton untuk menentukan harga dan mengukur risiko dalam portofolio suatu option.
13
3.2 Alasan pengembangan Basel II
3.2.1 Kredit model – grading or options based
Grading models digunakan dengan sangat luas oleh banyak
perusahaan pemeringkat (credit rating agencies) seperti Standard & Poor’s dan Moody’s Investor Service Ratings. Meski terminologi credit grade dan credit rating saling menggantikan, Basel II menggunakan terminologi “grades” dalam setiap definisinya.
Pada akhir tahun 1990, Basel Committee memutuskan untuk membatasi penggunaan credit models hanya pada credit grading (bukannya option based models). Beberapa tahun setelah keputusan komite tersebut muncul kecenderungan untuk menggabungkan kedua teknik ini.
3.2 Alasan pengembangan Basel II
3.2.2 Risiko operasional dan risiko-risiko lainnya
Permasalahan kedua yang membutuhkan pemecahan adalah teknik kuantitatif tingkat apa yang dapat dikembangkan untuk mencakup “other risk” yang kebanyakan adalah risiko operasional.
Ada beberapa pendapat risiko-risiko tersebut sebaiknya dipertimbangkan ke dalam Pilar 2 karena hanya beberapa bank yang melakukan pendekatan kuantitatif untuk meng-kalibrasi dan mengelola risiko-risiko tersebut.
Pengawas bank berpendapat bahwa risiko–risiko tersebut yang secara aktual cukup signifikan dan jika hanya bergantung pada pendekatan Pilar 2, maka jumlah modal cenderung dibawah jumlah yang semestinya atau paling tidak jumlah modalnya tidak konsisten dengan besarnya risiko yang dihadapi.
15
3.2 Alasan pengembangan Basel II
3.2.1 Kredit model – grading-based atau options based
Akhirnya Basel Committee memutuskan:
• Memasukkan risiko operasional sebagai pengukuran kuantitatif dalam Pilar 1
• Menetapkan risiko operasional secara lebih luas untuk mencakup risiko termasuk risiko di luar risiko reputasi (reputational risk), risiko bisnis (business risk) dan risiko strategis (strategic risk).
• Memusatkan Pilar 1 credit risk models pada credit grading techniques
3.3 Pengembangan Basel II Accord
3.3 Pengembangan Basel II Accord
Basel Committee menggunakan pendekatan konsultatif untuk memastikan bahwa peraturan baru mempunyai dampak yang positif.
Pertama kali Basel Committee menerbitkan consultative paper yang kemudian diikuti dengan konsultasi dan revisi yang secara periodik.
Dalam periode konsultasi tersebut didalamnya termasuk serial QIS (Quantitative Impact Studies), dimana sejumlah bank mengkaji dampak implementasi atas consultative paper terakhir dari Basel II Accord.
17
3.3 Pengembangan Basel II Accord
3.3 Pengembangan Basel II Accord
Pendekatan konsultasi yang dilakukan oleh Basel Committee secara garis besar didasari oleh pernyataan tertulis Committee untuk tidak mengubah keseluruhan total modal yang ada pada industri perbankan. Yang selanjutnya akan menggunakan informasi tersebut untuk menyempurnakan usulan. Pendekatan konsultatif telah memberikan dampak yang sangat positif pada perkembangan kesepakatan (Accord). Hal tersebut juga merupakan bukti yang sangat membantu bank dan komite untuk menemukan permasalahan signifikan yang terkait engan implementasi yang dilakukan.