Tingkat Usia
Tingkat usia masyarakat yang bekerja di perkebunan bervariasi. Kondisi usia para buruh perkebunan di RW 02 Sindangreret sebagian besar merupakan kategori dewasa yang berada di atas 20 tahun. Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian buruh ada yang di bawah 20 tahun, karena akses bekerja di perkebunan terutama menjadi karyawan lepas tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Persentase terbesar terdapat pada kategori usia 31 sampai 43 tahun sebesar 60 persen, kemudian di atas 43 tahun sebesar 30 persen sedangkan persentase terkecil terdapat pada kategori 18-30 tahun sebesar 10 persen. Berikut Tabel 10 yang menjelaskan komposisi usia responden di RW 02 Sindangreret. Tabel 10 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat usia Desa Patengan,
Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Tahun 2013
No Usia Jumlah Persentase (%)
1 Rendah 3 10
2 Sedang 18 60
3 Tinggi 9 30
Total 30 100
Sumber: Analisis Data Primer
Lebih dari separuh responden (60%) termasuk ke dalam kategori rentang usia 31 sampai 43 tahun. Rentang usia 18-31 tahun dan 31-43 tahun merupakan masa seseorang terkategori produktif. Itu artinya rata-rata usia yang bekerja di perkebunan adalah rentang usia 18 sampai 55 tahun. Meski perkebunan menetapkan batas usia berkerja di Perkebunan sampai pada usia 55 tahun, namun masyarakat dapat kembali bekerja baik dalam hal memetik atau merawat teh dalam status karyawan lepas. Itu artinya perkebunan masih mengizinkan penduduk di atas 55 tahun untuk tetap bekerja di perkebunan, saat perkebunan membutuhkan tenaga ekstra untuk mengurus lapangan/ kebun secara langsung.
Tingkat Pendidikan
Kategorisasi tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori tingkat pendidikan rendah, sedang dan tinggi. Kategori rendah adalah yang tidak tamat SD, tamat SD dan sederajat, kategori sedang adalah tidak tamat SMP, tamat SMP dan sederajat, dan kategori tinggi adalah yang tidak menamatkan SMA, tamat SMA, dan menempuh pendidikan perguruan tinggi. Responden penelitian di RW Sindangreret Desa Patengan memilki tingkat pendidikan rata-rata hanya sampai sekolah dasar. Tabel 11 memperlihatkan bahwa lebih dari separuh responden memiliki kategori tingkat pendidikan yang rendah yaitu sebesar 66.67 persen. Responden yang termasuk dalam kategori tingkat pendidikan sedang sebesar 26.67 persen. Sedangkan, responden yang termasuk dalam kategori tingkat pendidikan tinggi hanya sebesar 6.67 persen.
Tabel 11 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pendidikan di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Tahun 2013
No Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 Rendah 20 66.67
2 Sedang 8 26.67
3 Tinggi 2 6.67
Total 30 100.00
Sumber: Analisis Data Primer
Desa Patengan saat ini memliki dua buah Sekolah Dasar Negeri dan satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) ditambah Taman Kanak-kanak yang dikelola langsung oleh Perkebunan. Sayangnya, Sekolah Menengah Atas (SMA) atau setingkat SLTA, STM, atau SMK masih sulit diakses masyarakat. Kendala terbesar yang dihadapi penduduk Desa Patengan adalah karena jarak sekolah yang cukup jauh dari Desa serta kendaraan umum yang beroperasi hanya pada jam-jam tertentu dalam jumlah yang terbatas. Terlebih lagi, pola pikir yang berkembang bahwa bekerja di perkebunan tidak memerlukan pendidikan tinggi dan jauh lebih produktif menjadi buruh untuk menopang perekonomian keluarga. Hal itulah yang menyebabkan sebagian besar penduduk belum menyadari pentingnya pendidikan.
Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan dalam rumahtangga buruh adalah jumlah anggota keluarga yang ditanggung oleh kepala keluarga. Penggolongan jumlah tanggungan dikategorikan berdasarkan satu hingga lima orang tanggungan. Anggota keluarga yang menjadi jumlah tanggungan kepala keluarga adalah anak- anak usia sekolah tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, anak perempuan yang bercerai, cucu, orangtua, mertua atau kerabat yang tinggal dalam satu atap namun tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Anggota keluarga yang sudah keluar dari rumah (menikah atau bekerja) juga tidak termasuk ke dalam jumlah tanggungan keluarga. Selain itu, istri ataupun anak yang bekerja juga tidak termasuk ke dalam jumlah tanggungan. Hal itu dikarenakan sebagian dari rumahtangga buruh perkebunan terdapat lebih dari satu sanggota keluarga yang bekerja di perkebunan baik menjadi karyawan lepas maupun tetap.
Tabel 12 Jumlah dan persentase responden menurut jumlah tanggungan dalam rumahtangga di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Tahun 2013
No Jumlah Tanggungan Jumlah Persentase (%)
1 Rendah 17 56.67
2 Sedang 12 40.00
3 Tinggi 1 3.33
Total 30 100.00
Sumber: Analisis Data Primer 2013
Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa responden memiliki jumlah tanggungan anggota keluarga dalam kategori rendah yaitu, nol sampai dua
tanggungan yakni sebesar 56.67 persen, jumlah tanggungan sedang antara tiga sampai empat orang sebesar 40 persen, dan sisanya termasuk kategori tinggi 3.33 persen memiliki tanggungan lebih dari empat orang. Sejalan dengan penelitian Turasih (2011) banyaknya anggota rumahtangga yang ditanggung menuntun petani untuk dapat meningkatkan produksi hasil pertanian supaya biaya hidup seluruh anggota rumahtangga dan dirinya bisa terpenuhi dalam hal ini pada sektor perkebunan. Tingginya jumlah tanggungan berpengaruh terhadap alokasi juga berpengaruh terhadap pengeluaran keluarga. Terutama dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Semakin banyak jumlah tanggungan maka akan semakin besar beban kepala keluarga untuk memenuhi ketiga aspek penting tersebut.
Lama Bekerja di Perkebunan
Salah satu syarat untuk menjadi karyawan tetap adalah lama bekerja di perkebunan atau rentang periode masa bekerja dalam menunjukkan kelayakan untuk diangkat menjadi karyawan tetap. Selain lama bekerja, syarat menjadi karyawan (buruh) tetap adalah kinerja yang baik serta rekomendasi dari mandor lapang.
Berdasarkan Tabel 13 lama bekerja responden pada rentang 0-10 tahun sebesar 23.33 persen, rentang 11-20 sebesar 26.67 persen, rentang 21-30 sebesar 26.67 persen, rentang 31-40 sebesar 20 persen, dan rentang di atas 40 tahun sebesar 3.33 persen. Terlihat bahwa, terdapat dua rentang di mana memiliki persentase sama yaitu, rentang 11-20 dan rentang 21-30 sebesar 26.67 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa satu dampai tiga dekade hidup responden diberikan kepada perkebunan.
Tabel 13 Jumlah dan persentase responden menurut lama bekerja di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Tahun 2013
No Lama bekerja Jumlah Persentase (%)
1 0-10 tahun 7 23.33 2 11-20 tahun 8 26.67 3 21-30 tahun 8 26.67 4 31-40 tahun 6 20.00 5 >40 tahun 1 3.33 Total 30 100.00
Sumber: Analisis Data Primer
Status Karyawan di Perkebunan
Status karyawan di perkebunan merupakan kategori pekerja yang ditetapkan oleh perkebunan sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara. Status karyawan di perkebunan responden didominasi karyawan lepas dibandingkan karyawan tetap itu artinya akses peralihan dari karyawan lepas menjadi karyawan tetap memang masih terbatas dalam porsi dan kriteria tertentu yang ditetapkan perkebunan.
Tabel 14 Jumlah dan persentase status karyawan perkebunan di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Tahun 2013
No Status Karyawan Jumlah Persentase (%)
1 Lepas 17 56.67
2 Tetap 12 40.00
3 Pensiun 1 3.33
Total 30 100.00
Sumber: Analisis Data Primer 2013
Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa persentase terbesar diperoleh karyawan lepas sebesar 56.67 persen, sedangkan karyawan tetap sebesar 40 persen dan pensiun 3.33 persen. Karyawan lepas teridiri dari pemetik lepas, perawat lepas, pemetik lepas (mesin). Sisa responden yang tergolong karyawan tetap terbagi menjadi pemetik tetap, perawat tetap, dan pemetik (mesin) tetap dengan jumlah 26.66 persen, mandor sebesar 10 persen, dan karyawan pabrik teh walini sebesar 3.33 persen. Dari segi upah yang ditetapkan perkebunan antara karyawan tetap maupun karyawan lepas dalam level yang sama memang tidak terlalu jauh berbeda. Namun, fasilitas, jaminan, serta tunjangan hanya diberikan kepada karyawan tetap saja. Contoh kasus adalah pemetik lepas hanya diupah sesuai hari kerja, jumlah dan kualitas pucuk yang didapatkan. Berbeda dengan pemetik tetap yang hari libur tetap dihitung dan memiliki pemasukkan yang cenderung stabil bila dibandingkan dengan karyawan lepas.
Ikhtisar
Bersadarkan tingkat usia lebih dari separuh responden sebesar 60 persen terdapat pada rentang 31-43 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh responden berada dalam usia produktif. Dari tingkat pendidikan responden rata-rata hanya sampai pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan persentase 66.67 persen, yang menamatkan SMP sebesar 26.67 persen, SMA sebesar 3.33 persen, dan Perguruan Tinggi sebesar 3.33 persen. Dari segi jumlah tanggungan responden terbesar berada dalam rentang 0-2 orang dengan persentase 56.67 persen sedangkan untuk rentang 3-4 orang sebesar 40 persen, sisanya lebih dari 4 orang sebesar 3.33 persen. Dari segi lama bekerja di perkebunan terdapat dua rentang yang memiliki persentase sama yaitu rentang 11-20 tahun dan 21-30 tahun sebesar 26.67 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa sekitar satu sampai tiga dekade hidup responden dipersembahkan untuk perkebunan. Sedangkan, untuk status karyawan di perkebunan didominasi oleh Karyawan Lepas sebesar 56.67 persen.