• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASUKNYA SUSTER-SUSTER ADM DI INDONESIA

E. Karya Awal Para Suster ADM di Kutoarjo

Dalam Lumen Gentium 44 dinyatakan bahwa hidup religius yang berciri

profesi atas nasehat Injil tidaklah termasuk dalam struktur hierarkis gereja,

melainkan tak terpisahkan dari hidup dan kesucian gereja. Dalam arti ini, bahwa

hidup religius tidak termasuk dalam struktur gereja, tetapi tetap mendasarkan diri

konkret, historis, dan spesifik kharisma dari semua kharisma yaitu hidup dan

kesucian gereja menjadi tantangan bagi tarekat religius. Hal yang bisa dilihat dalam

mewujudkan kharisma itu adalah lewat cara hidup mereka dan karya-karya kerasulan

yang mereka miliki. Seperti kita ketahui bahwa tarekat religius diundang dan diutus

untuk melaksanakan sebuah karya dalam rangka pewartaan injil dan perwujudan

kharisma.

Ketika pertama kali datang ke Kutoarjo atas undangan Mgr. Visser untuk

melakukan sebuah karya (misi), para suster ADM menerima dua buah sekolah yaitu

HIS (sekolah yang diperuntukan bagi anak-anak Jawa) dan HCS (sekolah yang

diperuntukan bagi anak-anak Cina) dengan jumlah kelas masing-masing enam dan

tiga kelas. Dengan segala sarana yang masih terbatas, termasuk ruang kelas yang

gedungnya gelap dan rusak, para suster tetap melakukan karya mereka dengan

gembira. Sr. Amanda mulai mencari tempat lain, agar anak-anak dapat belajar

dengan lebih baik di tempat yang lebih cerah dan tidak terlalu tertutup.

Kebaikan dari umat senantiasa dialami oleh para suster, selalu saja ada

bantuan yang diberikan. Ayah dari salah seorang murid memberikan satu rumah

kosong miliknya untuk dipergunakan para suster menjadi ruang kelas. Para suster

menyadari bahwa dengan menjalin relasi yang baik dengan umat, mereka senantiasa

akan mendapat pertolongan, maka para suster menerima siapa saja tanpa

membeda-bedakan.

Jumlah murid di kedua sekolah itu bertambah, dengan tambahnya jumlah

murid, maka dibutuhkan tambahan tenaga suster. Untuk membantu di kedua sekolah

Cleopha dan Sr. Alena yang datang pada tahun 1937. Pada tanggal 14 April 1938,

datang lagi Sr. Celine dan Sr. Philothea. Tampak disini bahwa para suster

bersemangat untuk menanggapi misi, meskipun ada kesulitan yang mereka alami

yaitu mengenai ongkos sewa rumah yang dirasakan sangat berat, untuk mengatasi hal

ini, para suster mencari sebuah rumah yang agak kecil namun cukup baik untuk

disewa. Untuk hidup mereka para suster hanya mengandalkan pemasukan uang dari

sekolah, sebab kiriman dari Eropa hanya satu kali saja datang.

Permulaan tahun 1942 situasi mulai kacau karena perang, banyak pemboman

dan kerusuhan. Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang menduduki seluruh pulau

Jawa, termasuk Kutoarjo. Praktis selama masa pendudukan Jepang, kegiatan

pengajaran dihentikan karena para biarawan-biarawati ditawan oleh tentara Jepang di

Muntilan. Hanya suster-suster yang berasal dari Belanda yang ditawan oleh Jepang,

sementara suster dari Jerman tidak ditawan, maka para suster masih tetap dapat

mengurus paroki, mengajar agama, memimpin doa, dan lain-lain.

Para suster juga menangani anak-anak yatim piatu yang diakibatkan oleh

perang, entah karena orang tuanya ditawan atau meninggal. Pada waktu itu para

suster mempunyai 14 anak asuhan berusia antara 10 dan 20 tahun. Anak-anak ini

menolong mengerjakan pekerjaan rumah tangga di susteran, untuk menghidupi

anak-anak ini para suster dengan keadaan ekonomi yang terbatas berusaha untuk

memenuhi kebutuhan mereka, misalnya untuk melengkapi pakaian kerja mereka, Sr.

Salome terpaksa menggunting laken tempat tidur untuk dijadikan pakaian kerja. Para

suster juga terpaksa pindah rumah, karena tidak mampu lagi untuk membayar sewa

lama, setelah Indonesia merdeka, para suster mencoba membuka sekolah lagi, dan

memperoleh banyak murid, juga rumah yang dulu ditinggalkan, diambil alih lagi

oleh para suster untuk dijadikan biara tetap.

Jadi para suster mengawali karya mereka dengan keterbatasan dan

kekurangan. Namun situasi sulit yang serba terbatas ini ini tidak membuat para suster

putus asa, patah semangat ataupun mengeluh. Dengan didorong mewartakan karya

penebusan para suster dengan gembira melakukan pelayanan.

Dari uraian ini menjadi jelas semangat yang mendasari para suster dalam

melakukan tindakan amalkasih ketika diutus ke daerah misi dan ketika memulai

karya mereka di tempat yang sama sekali asing dan baru.Dengan dijiwai semangat

missioner ; “lupakanlah bangsamu dan rumah ayahmu,hendaklah kamu ingat bahwa

tugasmu ialah menyebarluaskan Kerajaan Kristus ,bukan kerajaan manusia

…(ensiklik Paus Benediktus XV), maka para suster dengan rela hati meninggalkan

tanah airnya dan pergi ke daerah misi, untuk membuat Penebusan Kristus berbuah di

didaerah misi.Para suster tidak memperhitungkan apa yang akan dialami di tempat

yang baru.

Dengan penuh keyakinan mereka mengandalkan, bahwa Tuhanlah yang akan

menyelenggarakan hidup mereka, maka dengan gagah berani mereka maju untuk

memulai yang baru meskipun segalanya masih terbatas dan serba berkekurangan

namun semuanya itu tidak menjadi halangan.Karya besar yang pada awalnya hanya

berjumlah lima suster dengan satu karya yaitu pendidikan, kini telah terbukti bahwa

karya berkembang. Keberanian untuk memulai sesuatu yang baru adalah langkah

awal untuk dapat berkembang.

Dapat dituliskan disini faktor-faktor yang mendorong masuknya kongregasi

ADM di Indonesia, yaitu atas permintaan Mgr. Visser, MSC Uskup Purwokerto yang

membutuhkan para suster untuk membantu dalam karya karitatif di Keuskupan

Purwokerto. Namun permintaan itu tidak akan terpenuhi kalau tidak ada tanggapan

dari Sr. Celestine Pemimpin Umum untuk mengirimkan anggota susternya ke tanah

misi meskipun dengan segala keterbatasan karena jumlah anggota kongregasi masih

sangat sedikit. Sekali lagi semangat yang dihidupi oleh Sr. Celestine untuk

menjadikan penebusan Kristus dirasakan oleh banyak orang.

Keberaniannya mengambil keputusan membuat kongregasi ini ada dan hadir

di Indonesia. Sr. Celestine tanpa memperhitugkan apapun kecuali mempercayakan

para susternya pada penyelenggaraan ilahi di tanah misi seperti halnya dulu Sr.

BAB IV

KONGREGASI ADM SEBELUM DAN