Metode adalah prosedur atau langkah-langkah kerja dalam rangka membuat
analisis dan sintesis atas bahan-bahan yang dikaji.
Menurut Louis Gottschalk metode adalah proses menguji dan menganalisa secara
kritis rekaman, dan peninggalan masa lampau atau rekonstruksi yang imajinatif
daripada masa lampau, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh Metode sejarah
terdiri dalam empat langkah yaitu:
1. Pengumpulan sumber
3. Interpretasi yang meliputi analisis dan sintesis
4. Penulisan sejarah atau historiografi.37
Penulisan sejarah masuknya Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah
Mulia di Indonesia juga mengikuti ke-4 langkah tersebut:
Langkah pertama; heuristik atau pengumpulan sumber. Pengumpulan sumber
diperoleh dari dokumen-dokumen atau buku-buku pustaka yang dimiliki kongregasi,
dan dari perpustakaan Universitas Sanata Dharma.
Langkah kedua; Verifikasi atau kritik sumber. Setelah sumber dikumpulkan,
langkah selanjutnya adalah mengadakan kritik sumber. Kritik sumber ada dua yaitu
kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan atau mengetahui apakah sumber otentik atau tidak. Kritik ini dilakukan
dengan cara meneliti bahan atau material yang digunakan misalnya kertas, tinta,
tanda tangan dan jenis huruf yang digunakan. Sedangkan kritik intern adalah kritik
sumber yang digunakan untuk menilai apakah sumber tersebut dapat dipercaya atau
tidak, hal ini dilakukan dengan membandingkan antara sumber yang satu dengan
yang lainnya. Kritik sumber dalam penelitian sejarah merupakan sesuatu yang harus
dilakukan untuk menghindari adanya kepalsuan dan keberpihakan suatu sumber.
Peneliti melakukan kritik untuk melihat apakah sumber tersebut dapat
dipercaya atau tidak, dalam hal ini dokumen–dokumen kongregasi, misalnya
dokumen yang dIbuat oleh Ibu Seraphine pada saat mengajukan permohonan kepada
uskup Roermond. Demikian juga buku-buku lain yang sekiranya mendukung dan
akan dipakai dalam penulisan, sedangkan buku yang tidak mendukung, dapat
37
disingkirkan sehingga hasil kritik sumber ialah fakta–fakta yang sungguh merupakan
unsur-unsur bagi penyusunan atau penulisan sejarah kongregasi.
Langkah ketiga adalah interpretasi. Kegiatan ini ditempuh dengan:
1. Menganalisis data yang ditemukan dari berbagai sumber.
2. Mensintesiskan temuan data dari berbagai sumber.
Kegiatan interpretasi ini merupakan tahap yang cukup penting karena
menempatkan data secermat mungkin supaya hasil penelitian ini bisa mendekati
keadaan yang sebenarnya. Interpretasi peneliti sangat penting peranannya dalam
hasil penelitian ini, maka pengolahan data yang dilakukan secara cermat diharapkan
mampu mengurangi subyektifitas yang biasanya muncul dalam sebuah historiografi.
Dalam hal ini peneliti akan menganalisis data-data yang ditemukan yaitu
dokumen-dokumen kongregasi, hingga akhirnya diperoleh data-data yang sungguh
akurat/sesuai atau cocok. Setelah itu data-data yang ada tersebut disatukan, sehingga
menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal untuk kemudian siap menjadi
suatu tulisan sejarah.
Langkah keempat adalah historiografi atau penulisan sejarah yang merupakan
langkah terakhir dalam metode penulisan sejarah. Langkah ini adalah suatu proses
rekonstruksi dari rentetan peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan suatu
totalitas perjalanan yang utuh.
Dalam penulisan sejarah hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: kronologi,
sistematis, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan benar. Dalam tulisan
mengenai sejarah perkembangan Tarekat Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di
terbentuknya Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di Sittard, tahun
berdirinya dan peristiwanya. Demikian juga dengan masuknya di Indonesia, penulis
menuliskan tahun masuk dan perkembangannya di Indonesia. Kesistematisan dapat
berupa urutan penulisan berdasar tahun dan tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap
perkembangan dari Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia dibagi menjadi
dua tahap yaitu sebelum Konsili Vatikan II (tahun 1933-1962 ) dan sesudah Konsili
Vatikan II (1962-2002). Namun untuk perkembangan karya, akan dilihat selama 15
tahun terakhir, dari tahun 1988-2003 mengingat data yang lengkap untuk semua
karya dimulai tahun 1988. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah
pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologi mencakup dimensi sosial kelakuan
manusia. Pendekatan sosiologi digunakan untuk melihat kondisi sosial masyarakat
Kutoarjo, tempat pertama kali para suster tiba di Indonesia, selain itu juga untuk
melihat bagaimana kondisi masyarakat dimana karya dan komunitas para suster
berkembang. Pendekatan historis digunakan untuk melihat sejarah awal berdirinya
Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di Sittard dan sejarah masuknya
Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di Indonesia.
I. Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui gambaran mengenai sejarah perkembangan Kongregasi
Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di Indonesia maka, sistematika penulisannya
sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan memuat Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan
Hipotesis, Metode Penulisan, Metode dan Pendekatan Penelitian, dan
Sistematika Penulisan.
Bab II Sejarah Awal Berdirinya Kongregasi Suster-suster Amal Kasih Darah
Mulia. Membahas Riwayat Ibu Seraphine, panggilan dan perutusannya
Sejarah Berdirinya Kongregasi, Kharisma dan Spiritualitas Kongregasi,
Karya Awal Kongregasi, Kepemimpinan Ibu Seraphine.
Bab III Sejarah Masuknya Kongregasi Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia di
Indonesia. Membahas Karya missioner di Indonesia, khususnya Jawa,
Pembagian ordo atau kongregasi untuk masing-masing wilayah, Masuknya
Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia di Indonesia, Situasi Wilayah
Kecamatan Kutoarjo, Karya awal para suster.
Bab IV Kongregasi ADM sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II, membahas
Keputusan-keputusan Konsili yang berkaitan dengan hidup membiara,
keadaan kongregasi sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II, kebijakan dan
keputusan kongregasi yang berkaitan dengan Konsili Vatikan II.
Bab V Perkembangan Kongregasi di Indonesia; Membahas Perkembangan Karya,
Perkembangan jumlah anggota, perkembangan kepemimpinan,
perkembangan konstitusi.
BAB II
SEJARAH BERDIRINYA KONGREGASI