BAB II. UNSUR SPIRITUALITAS KONGREGASI SUSTER-SUSTER
B. Riwayat Hidup, Keluarga dan Kepribadian Eduard Michelis
4. Karya dan Perjuangan Eduard Michelis Bagi Gereja
Awal abad ke-19 Gereja Katolik di Eropa mengalami masa berat, akibat ide-ide masa pencerahan (Aufklaerung) orang memandang agama hanya sebagai sarana yang berguna untuk membentuk warga negara yang patuh. Maka pemerintah campur tangan dalam segala macam urusan intern Gereja (Heuken, 1987:10).
Pergantian abad para pangeran Jerman dikalahkan oleh tentara revolusioner Perancis. Atas inisiatif pemerintah Prussia, kerajaan terkuat di Jerman Utara bersekongkol dengan Kaisar Napoleon I untuk merampas seluruh milik Gereja Jerman yang berabad-abad lamanya sangat kaya, secara mendadak jatuh miskin sekali. Akibatnya, semua biara dibubarkan, perpustakaan berharga dimusnahkan, gedung-gedung gereja yang indah dijadikan gudang atau kandang atau dibongkar dan batu-batunya dijual, para pastor dijadikan pegawai negeri yang seringkali
diawasi oleh atasan yang bukan Katolik, delapan belas universitas dan banyak sekolah Katolik dibubarkan atau dinegerikan.
Gereja tak mampu lagi meneruskan peranannya sebagai pendidik, pendukung kesenian dan ilmu. Akibatnya sangat buruk: taraf pendidikan golongan Katolik merosot, golongan Katolik dianggap terbelakang, miskin secara material dan intelektual. Di seluruh Jerman, misalya hanya ada tiga orang uskup yang masih sempat menggembalakan umat keuskupan mereka, dan di Perancis pernah semua diberhentikan (1801). Dalam suasana ini posisi Gereja sulit. Maka sangat diperlukan orang Katolik yang terdidik, berpandangan luas, berani dan memiliki semangat sentire cum Ecclesia yang mendalam, yaitu semangat senada dengan Gereja (Heuken, 1987: 13).
b. Karya di Keuskupan Agung Köln
Sewaktu Michelis dengan patuh meninggalkan Keuskupan Münster dan berangkat ke Köln pada Mei 1836, keuskupan agung ini sulit sekali keadaannya. Klemens adalah uskup kedua sesudah keuskupan agung itu dihidupkan kembali pada tahun 1825 sesuai dengan perjanjian antara Paus dan raja Prussia pada tahun 1821. Uskup Klemens dan Michelis bekerja sama untuk melawan pemerintah yang terlalu campur tangan dalam urusan intern Gereja.
Masalah pertama yang dihadapi adalah besarnya pengaruh G. Hermes yang didukung pemerintah. Tetapi pemerintah tidak mengijinkan surat kepausan diumumkan, karena masalah intern Gereja ini merupakan kesempatan emas baginya untuk melemahkan kedudukan para uskup sebagai pimpinan umat beriman. Maka, Michelis membela uskupnya dan atas inisiatif sendiri berusaha
membendung dan menyempitkan pengaruh aliran hermes. Ia berusaha menarik imam-imam yang setia dan aktif dari luar keuskupan dan imam-imam Jesuit yang tidak disukai oleh pemerintah Prussia dan oleh kalangan imam tertentu. Michelis berinisiatif untuk menghidupkan kembali ziarah dan ibadat malam yang saat itu dilarang oleh pimpinan Gereja setempat. Oleh karena kebiasaan ini sangat digemari oleh umat keuskupan, maka popularitas uskup mulai membaik. Selain itu, Michelis menulis artikel dalam koran dan menerbitkan brosur-brosur untuk menghangatkan kembali semangat iman dalam umat dan rasa solidaritas di antara para imam. Michelis pandai mengarang dan ia menyadari betul pengaruh media massa (Heuken, 1987: 25-26).
Baru satu setengah tahun Klemens dan Michelis mengabdi di Gereja Köln, mereka menemukan suatu kesepakatan rahasia antara uskup sebelum Klemens dengan pemerintah. Oleh karena tekanan berat dari pemerintah, uskup sebelumnya diam-diam telah menyetujui bahwa dalam perkawinan campur semua anak ikut agama ayah pada tahun 1834. Hal ini bertentangan dengan instruksi kepausan pada tahun 1830. Masalah sangat politis karena pada waktu itu, pemerintah sengaja menempatkan banyak pegawai dan tentara muda dari Jerman Timur yang beragama Protestan dalam wilayah keuskupan Jerman Barat yang mayoritas Katolik. Uskup Klemens menolak untuk mengakui kesepakatan rahasia itu bahwa masalahnya bukan hanya perkawinan campur dan pembaptisan anak-anak, tetapi siapakah yang sebenarnya mengatur umat Katolik: Paus di Roma atau raja di Berlin. Maka pada tanggal 20 November 1837, Uskup Klemens bersama dengan sekretaris pribadinya Michelis ditangkap. Michelis dipisahkan dari uskupnya dan
dibuang ke benteng kota Magdeburg dan bulan April 1840 ia dipindah ke kota Erfurt sebagai tahanan rumah karena kesehatannya sudah rapuh. Sesudah tinggal di Erfurt, penyakit TBC nya semakin parah dan pada bulan Desember 1840 ia muntah darah yang hampir merenggut jiwanya (Heuken, 1987: 34). Pemerintah berusaha membuktikan bahwa Uskup Klemens dan Michelis melanggar suatu peraturan atau mengganggu ketertiban umum tetapi usaha ini sia-sia (Heuken, 1987: 30).
Selama Michelis menjadi tahanan kerajaan di Magdeburg, ia tidak boleh berbicara dengan siapa pun bahkan dilarang pergi ke gereja untuk berdoa atau merayakan Ekaristi bahkan menerima komuni Kudus atau Sakramen Pengakuan pun dilarang untuk waktu yang lama. Dalam kesepian ini ia membuat suatu jadwal pekerjaan bagi dirinya yang tegas dengan tugas-tugas pokok seperti: berdoa, studi, mengarang dan belajar bahasa asing. Setiap pagi Michelis merenungkan Injil dan mencatat buah pikirannya dalam suatu buku harian. Ia juga menyusun suatu buku tentang Santo Paulus dan tentang Misa Kudus. Iman akan Penyelenggaraan Allah nampak dalam tulisannya:
Bagi seorang imam mempersembahkan Misa Kudus bukan salah satu kegiatan tersendiri di samping tugas-tugas lain, bukan hanya suatu tugas imamatnya melainkan juga perwujudan sikap dan hasrat hatinya. Misa adalah pusat kehidupannya, asal dan tujuan segala kegiatannya. Kurban misa merupakan mata air surgawi yang murni, yang terus-menerus mengalir dan selalu menyegarkan dan membaharui tenaga dalam segala keletihan (Heuken, 1987: 32).
Selama dalam tahanan, Michelis menyadari tugas pokoknya sebagai imam yakni mempersembahkan Misa Kudus. Misa baginya merupakan sumber air yang menyegarkan jiwanya dan memberi kekuatan dan kehidupan. Pada bulan April 1841, nama baik Uskup Klemens direhabilitasikan dan sekertarisnya dinyatakan
bebas sama sekali. Kesehatannya masih sangat lemah, tetapi kepribadiannya menjadi jauh lebih matang. Peristiwa Köln ini menandai titik awal berkembangnya solidaritas dan kesadaran diri Umat Katolik Jerman setelah Revolusi Perancis dan masa Napoleon. Dengan adanya peristiwa Köln, Roma mulai menjadi aktif lagi dan merebut inisiatif kembali. Dengan demikian, umat Katolik di mana-mana mulai lagi memandang Roma sebagai pimpinan yang menyemangati, menguatkan dan membela umat beriman. Setelah dua tahun dalam tahanan di Magdeburg (1838), Michelis sudah yakin bahwa:
Penahanan uskup agung sudah lebih menguntungkan Gereja dari pada kegiatan selama sepuluh tahun dalam suasana bebas. Banyak hal yang tersembunyi sudah menjadi terang dan sejarah akan mengadakan pengadilan yang tegas. Apapun yang akan terjadi, saya ada dalam tangan Tuhan dan percaya kepada-Nya. Keadaan yang lama tidak boleh berlarut-larut terus (Heuken, 1987: 35)
Michelis memaknai peristiwa sulit dan membahayakan sebagai peristiwa yang membawa rahmat karena justru dengan perjuangan dan penahanan di penjara, Gereja mendapatkan kebebasan dan makin bertumbuh. Peristiwa Köln menjadi titik balik sejarah Gereja dalam abad ke-19. Akhirnya, raja baru Prussia mencari penyelesaian yang memuaskan segala pihak. Hak Gereja untuk mengatur Sakramen Perkawinan diakui penuh dan hak pemilihan uskup-uskup secara bebas. Instruksi kepausan boleh diumumkan dan dilaksanakan tanpa lebih dulu minta ijin pemerintah. Gereja Katolik dalam wilayah raja Prussia yang Protestan menjadi umat Katolik yang paling bebas di seluruh Eropa, termasuk negara-negara dengan pemerintahan Katolik. Kebebasan Gereja ini bahkan dicantumkan dalam Undang-Undang Dasar 1848-1850. Klemens dan Michelis tidak sia-sia berjuang dan
menderita demi keadilan. Sikap tegas dan pengorbanan mereka menyegarkan dan menguntungkan Gereja (Heuken, 1987: 36).
c. Karya di Keuskupan Luxemburg
Michelis mendapat tawaran untuk menjadi dosen di Luxemburg pada Maret 1845. Pada 31 Maret 1845 seminari tinggi dibuka dengan misa agung dan retret bersama para dosen dan calon imam. Michelis membuat suatu jadwal harian yang ketat, yakni: belajar dengan tekun, mempersiapkan dengan teliti kuliah filsafat, dogma dan sejarah Gereja, serta menyisihkan waktu untuk berdoa dan bermeditasi di Kapel seminari (Heuken, 1987: 58).
Michelis memulai tugasnya yang baru dengan semangat dan dedikasi besar seperti terlihat dalam buku harianya. Ia tetap menyiapkan banyak bahan pelajaran selama dalam tahanan di Magdeburg dan waktu memulihkan kesehatan di Münster. Ia pandai dan rajin bekerja. Maka, kuliahnya disukai para seminaris, khususnya tentang Gereja, ia memberi bahan untuk pengetahuan maupun untuk hati para mahasiswa. Sebab, Michelis bukan hanya menyampaikan teori yang bermutu, melainkan juga pengalaman praktis yang memupuk cinta pada Gereja. Ia menarik perhatian para mahasiswanya pada nasib, penganiayaan dan perkembangan Gereja di berbagai negara bahkan benua lain. Sebab, apa pun yang dialami umat Katolik diikutinya dengan seksama. Di tengah kesibukannya, ia tidak dapat menolak permintaan untuk mengajar juga pada institut keguruan, karena ia yakin pengaruh guru-guru terhadap rakyat sangat besar. Michelis tidak hanya terlibat demi kepentingan Gereja lokal tetapi ia memiliki visi ke depan. Maka, ia mengajukan suatu rencana kerjasama tenaga-tenaga ilmiah dalam Gereja
Katolik yang mulai direalisasikan dengan melemparkan gagasan tentang pendirian suatu Akademi Katolik dan Majalah Literatur Katolik (Heuken, 1987: 59).
Michelis ikut berusaha untuk mendirikan perkumpulan Bonifasius di Regensburg pada tanggal 4 Oktober 1849. Perkumpulan ini bertujuan untuk menolong orang Katolik dalam diaspora, yaitu daerah di mana orang Katolik hidup terpencil di antara orang-orang Protestan. Sampai akhir hidupnya pada tahun 1855, perkumpulan Bonifasius ini menjadi masalah terakhir yang menyibukkan pikiran Michelis. Sesaat sebelum meninggal ia masih berkata: “Satu Gembala, satu kawanan, perkumpulan Bonifasius, Bonifasius.” Kalimat ini merupakan kalimat terakhir seorang imam yang sepanjang hidupnya berjuang demi Kerajaan Allah di dunia ini (Heuken, 1987: 69).
d. Pendirian Kongregasi Suster-Suster Penyelenggaraan Ilahi.
Selama dalam tahanan, Michelis cemas akan kemiskinan yang menimpa ibu dan adik-adiknya sejak ayahnya meninggal. Sesudah kembali ke St. Mauritz, Michelis diharuskan banyak berjalan-jalan menghirup udara segar untuk menyehatkan paru-parunya. Ia sering ditemani Spiegel yang pada waktu itu menjabat pastor pembantu di Paroki St. Martinus. Mereka berdua banyak melihat bahwa banyak orang serba kekurangan, khususnya anak-anak gadis dari keluarga miskin yang terlantar dan sering pasrah pada nasib buruk mereka saja. Mereka dititipkan pada keluarga-keluarga kaya yang tidak jarang menguras tenaga mereka yang murah itu. Gadis-gadis itu mudah dipermainkan orang yang tidak bertanggungjawab (Heuken, 1987: 42).
Michelis dan Spiegel memikirkan untuk bisa membantu, bukan hanya untuk sementara waktu saja, melainkan pemeliharaan yang memungkinkan masa depan mereka semua yang lebih cerah dan terjamin. Mereka ingat bahwa anak-anak sangat memerlukan kasih sayang di samping perumahan dan pendidikan. Oleh karena itu, mereka tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan jasmani anak-anak terlantar saja melainkan juga keperluan akan rasa aman dan pendidikan praktis (Heuken, 1987: 44). Michelis dan Spiegel peka akan sapaan Roh dalam hatinya sehingga tergerak untuk melayani anak-anak tersebut bahkan memikirkan masa depan anak-anak tersebut.
Michelis bersama teman-temannya menyadari, bahwa perjuangan mereka demi kebebasan Gereja harus dilengkapi oleh pewartaan Injil (katekese) dan pelayanan terhadap saudara-saudara Yesus yang paling miskin. Kesaksian iman dan kesaksian dalam karya amal tak terpisahkan. Mereka menginsafi bahwa golongan yang paling lemah dan mudah sekali dihisap adalah wanita dari kalangan rakyat jelata dan di antara mereka itu khususnya para yatim-piatu yang masih muda (Heuken, 1987: 45).
Michelis tergugah oleh keadaan anak-anak gadis yang memprihatinkan dari kalangan tak mampu yang menjadi yatim piatu. Untuk membangun rumah dan memperoleh sebidang tanah, ia mengumpulkan derma. Alasan awalnya hanya untuk menampung 20 anak gadis dan para pengasuh mereka. Tetapi cita-cita Michelis menjangkau lebih luas. Ia membayangkan suatu Kongregasi Suster yang karena cinta akan Kristus bersedia mencurahkan seluruh tenaga mereka untuk mengasuh anak yang paling miskin itu. Sebab mereka tidak hanya lapar,
kedinginan dan bodoh, melainkan juga tidak mengenal seorang ibu yang penuh kasih sayang (Heuken, 1987: 4). Michelis tidak hanya memberikan pelayanan berupa materi kepada anak-anak tetapi juga kasih sayang. Pada tanggal 28 Desember 1841 pesta anak-anak tak bernoda, dalam kesepakatan dengan Spiegel yang selalu mendukungnya dalam kata dan tindakan, Michelis memutuskan untuk merealisasikan rencananya yakni membuka suatu rumah yatim piatu di St. Mauritz yang akan dipimpin oleh wanita-wanita muda yang akan dibinanya menjadi suster (Fuck, 2013: 121). Pendirian rumah yatim piatu dan kongregasi suster bukanlah rencana yang mudah karena mereka tidak mempunyai uang. Salah satu teman dekat yang memberikan dorongan, kemudian bercerita:
Tak ada apa-apa sama sekali: bahan bangunan dan uang untuk membayar pekerja. Tapi, lihatlah, Penyelenggaraan Ilahi menyelenggarakan segala sesuatu. Eduard Michelis, meminta bantuan dari para bangsawan, orang kaya dan orang sederhana. Ia tidak membiarkan dirinya dalam ketakutan sehingga bantuan datang dari segala penjuru (Fuck, 2013: 122).
Michelis tidak malu meminta bantuan saat menghadapi kesulitan. Ia mengajarkan sikap rendah hati bagi para anggotanya agar berani meminta bantuan dari orang lain. Iman akan penyelenggaraan Allah yang tak terbatas memberikan keselamatan. Tidak hanya masalah keuangan yang menghambat pendirian rumah. Spiegel menulis:
Keadaan politik masa itu sangat buruk. Hukum-hukum menjadi hambatan. Gereja tidak bebas. Institusi/lembaga seperti ini tidak dikenal orang. Banyak orang menentangnya bahkan termasuk orang Katolik yang baik. Hal ini dianggap tidak mungkin dan belum tiba saatnya. Hanya iman kepercayaan Eduard Michelis yang kuat kepada Tuhan yang dapat mengatasi segala kekurangan ini (Fuck, 2013: 122).
Iman Michelis yang teguh kepada Tuhan mampu mengatasi kekurangan dalam perjuangan untuk membangun rumah yatim piatu. Selain itu, permasalahan
lainnya, dari mana diperoleh wanita muda yang hanya demi cinta akan Tuhan bersedia dan mampu menjadi ‘ibu-ibu penuh belas kasih’ bagi anak-anak miskin. Michelis bukan orang yang mudah menyerah, karena ia sangat percaya atas bantuan Tuhan dan mengharapkan segalanya dari Penyelenggaraan Ilahi. Kepercayaan akan cinta ilahi yang tak terbatas menguatkan harapannya bahwa Penyelenggaraan Ilahi tidak akan membiarkan usaha yang dimulai untuk mengabdi kepada saudara-saudara Yesus yang paling melarat itu terbengkalai. Sebab apa yang dilakukan untuk mereka, dilakukan untuk Yesus sendiri. Dengan percaya penuh akan cinta lahi, tantangan-tantangan masa depan dihadapi tanpa terlalu memperhitungkan kekuatan manusia. Maka Michelis berani menempuh jalan pengabdian yang baru (Heuken, 1987: 48).
Michelis berangkat ke Belanda pada tahun 1841 untuk mempelajari keadaan Gereja di negara tetangga dan khususnya biara-biara yang belum begitu lama didirikan. Michelis mempelajari cara hidup membiara Suster Belaskasihan Hertogenbosch. Ia mempelajari juga rumah sakit dan rumah yatim piatu Suster-suster Belaskasihan di Koblenz (Jerman) yang pada permulaan abad ke-19 sudah mulai mendidik para yatim-piatu menjadi perawat pembantu. Ia menyadari bahwa kaum muda memerlukan pendidikan yang bernafaskan iman. Dalam perundingan dengan teman-temannya, Michelis memutuskan dibukanya rumah yatim piatu di St. Mauritz, yang dipimpin oleh wanita-wanita yang akan dicari dan dibinanya sendiri menjadi suster. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja, suster-suster ini tidak lagi hidup dalam biara tertutup (Clausura) tetapi pergi menyebar dari
biara dan menolong di mana saja mereka dibutuhkan. Michelis membayangkan suster-susternya juga dapat berkarya seperti ini (Heuken, 1987: 48).
Michelis bersama sehabat-sahabatnya berusaha mencari dana untuk dapat memulai usahanya itu. Setelah memperoleh sebidang tanah di St. Mauritz, peletakan batu pertama rumah piatu dilakukan pada tanggal 25 April 1842. Selain Michelis, dua orang sahabatnya ikut serta yakni Spiegel dari Paroki Martinus dan Benhard Aumöller dari paroki St. Mauritz. Akhirnya setelah bekerja keras, Michelis dan teman-temannya pada tanggal 3 November 1842 berhasil membuka sebuah rumah yatim piatu yang sederhana. Sekaligus hari itu juga merupakan hari pendirian Kongregasi Suster-suster Penyelenggaraan Ilahi. Tanggal 3 November dipilih berdasarkan tahun liturgis Gereja. Tanggal 1 November adalah perayaan orang kudus/Gereja yang mulia, 2 November memperingati arwah orang-orang Kristiani dan pada 3 November sekelompok kecil dari Gereja yang sedang berjuang menyatukan diri dan diberinya nama persekutuan Para Suster Penyelenggaraan Ilahi (Fuck, 2013: 124).
C. Spiritualitas Kongregasi Suster-suster Penyelenggaraan Ilahi.