• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TANGGUNGJAWAB NOTARIS TERHADAP AKTA

B. Keabsahan Akta Yang Ditandatangani Tidak Secara

Membacakan akta sampai pada penandatanganan adalah satu kesatuan dari peresmian akta di mana sebelum akta tersebut di tandatangani terlebih dahulu akta tersebut dibacakan di depan para pihak yang bersangkutan guna menyampaikan kebenaran isi akta dengan keinginan para pihak kemudian akta tersebut

150 Swandewi, I. A. P. Pengesahan Akta Notaris Bagi Penghadap Yang Mengalami Cacat Fisik. Acta Comitas, Vol. 29 No. 41 tahun 2018, hal. 33

151 Abdur Rachman, Keabsahan Tanda Tangan Digital Dalam Pembuatan Akta Fidusia, Vol.9 No.1 Edisi Februari 2021, hal 84

ditandatangani tentunya di hadapan pihak dan dua (2) orang saksi. Pembacaan akta dini, otomatis menuntut kehadiran para pihak yang berkepentingan dengan pejabat yang akan mengesahkannya, yakni notaris, sehingga kehadiran para pihak ini merupakan wujud perintah peraturan perundang-undangan. Hukum berisi norma perlindungan kepentingan rakyat seperti keadilan, kebebasan menentukan pilihan, perlakuan yang adil, perlakuan yang manusiawi, hak memperoleh kesejahteraan dan pekerjaan yang layak, hak memperoleh pelayanan yang baik dan benar dan lain sebagainya, termasuk pelayanan dari notaris. Jika penyelenggara kekuasaan mengimplementasikan tugas yang digariskan oleh hukum ini, maka hal ini berarti menyelenggarakan tujuan ideal yang sudah melekat dalam diri negara hukum. Notaris pun demikian, ketika notaris memebrikan atau menunjukkan sikap sebagai pelayan yang baik untuk masyarakat, berarti dirinya telah menjadi penyelenggara negara di bidang hukum yang bertanggung jawab.152

Penandatanganan dalam akta ini adalah membubuhkan nama dari si penandatangan, sehingga membubuhkan paraf, yaitu singkatan tanda tangan saja dianggap belum cukup, nama tersebut harus ditulis tangan oleh si penandatangan sendiri atas kehendaknya sendiri.153 Ketentuan mengenai tanda tangan juga diatur dalam Pasal 1 angka 8 UUJN, yaitu minuta akta adalah asli akta yang mencantumkan tanda tangan para penghadap, saksi, dan notaris, yang disimpan sebagai bagian dari protokol notaris. Demikian pula di dalam Pasal 44 ayat (1)

152 Chasanah, Pelaksanaan Pasal 16 Ayat 1 Huruf M Uu Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Jurnal Hukum dan Kenotariatan Volume 3 Nomor 1 Februari 2019, hal 25

153 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Cetakan pertama, Edisi Kedelapan, Liberty, Yogyakarta, 2015, hal. 151

UUJN menyebutkan bahwa “segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi, dan notaris, kecuali apabila ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dengan menyebutkan alasannya.”

Kata “sidik jari” di kalangan rakyat masih di kenal sebagai “cap jempol”

atau kata kerjanya njempol saja. Sidik jari sudah diatur Engelbrecht 1960 hlm.1753, yakni ordonansi stbl.1867-29, ketentuan-ketentuannya telah dimasukkan dalam BW, yaitu Pasal 1874, 1874a – 1880 dalam tahun 1916 dan 1919, sehingga cukuplah dipelajari dalam pasal-pasal KUHPerdata tersebut. Di dalam KUHPerdata Pasal 1874 ayat (2) yang telah diterjemahkan oleh Subekti sebagaimana dikutip Tan Thong Kie, sebagai berikut : “Dengan penandatanganan sepucuk tulisan di bawah tangan dipersamakan suatu cap jempol, dibubuhi dengan suatu pernyataan yang bertanggal dari seorang notaris atau seorang pegawai lain yang ditunjuk oleh undang-undang, dari mana ternyata bahwa ia mengenal si pembubuh cap jempol, atau bahwa orang ini telah diperkenalkan kepadanya, bahwa isinya akta telah dijelaskan kepada orang itu, dan setelah itu cap jempol tersebut dibubuhkan di hadapan pegawai tadi.”154

Keabsahan akta yang ditandatangi tidak secara bersamaan oleh para penghadap adalah akta tetap menjadi akta yang sah. Namun otentisitasnya menjadi terdegradasi menjadi akta di bawah tangan. Untuk akta di bawah tangan berlaku apabila sepanjang tidak ada pihak yang mengingkari, maka akta tersebut tetap menjadi sah sebagai alat bukti, namun apabila ada pihak yang mengingkari,

154 Tan Thong Kie, Op.Cit., hal. 480

maka pihak yang diingkari tersebut harus membuktikan kebenaran akta tersebut kepada pihak yang mengingkari.155

Penandatanganan yang dilakukan kepada para pihak yang berkepentingan dilakukan dihadapan para pihak adakalanya penandatanganan dilakukan karena waktu akan dilakukan suatu perikatan atau pembuatan akta, notaris sedang berada pada tempat tertentu dan karena disatu sisi disebabkan kepentingan pihak lain harus segera melakukan perikatan, juga menjaga hubungan kerjasama yang baik selama ini dibangun, maka untuk itu melalui staf atau karyawan melakukan perikatan dengan akta kosong kepada pihak-pihak yang terkait atas perikatan tersebut. Notaris juga menyadari bahwa di suatu waktu nantinya dalam proses pembuktian akta tersebut hanya menjadi alat pembuktian akta di bawah tangan.

Praktiknya, sudah banyak terjadi dimana waktu penandatanganan akta tidak dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan antara para penghadap di hadapan Notaris. Dengan demikian, notaris tidak dapat menyatakan dalam akta yang bersangkutan menurut sebenarnya, bahwa akta itu segera setelah dibacakan kepada para penghadap, ditandatangani oleh mereka, saksi-saksi dan Notaris.

Penandatanganan akta yang tidak bersamaan antara para penghadap di hadapan saksi dan notaris umumnya terjadi dalam dunia perbankan yaitu pada waktu penandatangan akta perjanjian kredit. 156

Prinsipnya keabsahan akta notaris meliputi bentuk, isi, kewenangan pejabat yang membuat serta pembuatannya pun harus memenuhi syarat yang telah ditentukan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian jika sebuah akta

155 Wawancara dengan Mega Magdalena, selaku Notaris Kabupaten Deli Serdang, tanggal 11 Maret 2021, Pukul 10.00 Wib

156 Mia Elvina, Op.Cit, hal 452

tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka tidak dapat dikategorikan sebagai akta autentik dan kekuatan pembuktiannya juga sangat lemah.157

Pembacaan akta tidak hanya bermanfaat kepada notaris, melainkan juga bermanfaat bagi para penghadap. Manfaat dari pembacaan akta yang dilakukan oleh notaris, seperti notaris masih memiliki kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat. Pembacaan akta merupakan kemungkinan terakhir bagi seorang notaris guna memeriksa akta yang telah dibuat, namun manfaat ini bukanlah satu-satunya, para penghadap mendapat kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang jelas di dalam isi akta, pembacaan akta memberikan kesempatan kepada notaris dan para penghadap pada detik-detik terakhir, sebelum akta selesai diresmikan dengan tandatangan penghadap, saksi dan notaris untuk melakukan pemikiran ulang dengan kata lain revisi isi perjanjian, sehingga tidak terjadi permasalahan di kemudian hari.158

Membacakan akta sampai pada penandatanganan adalah satu kesatuan dari peresmian akta (verlijden), dalam hal ini yang menjadi fokus pembahasan adalah penandatanganan akta di mana penandatanganan tersebut juga harus dilakukan di hadapan notaris bahwa sebelum akta tersebut di tandatangani terlebih dahulu akta tersebut dibacakan di hadapan para pihak yang bersangkutan guna menyampaikan kebenaran isi akta dengan keinginan para pihak kemudian akta tersebut ditandatangani, tentunya di hadapan para pihak dan dua (2) orang saksi. Ketentuan Pasal tersebut memberikan kepastian kehadiran para pihak yang hadir di hadapan notaris adalah pihak yang juga bertandatangan dalam akta. Namun, Pada

157 Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Op.Cit, hal 110

158 Muhammad Tiantanik Citra Mido, Op.Cit, hal 173-174

kenyataannya disinyalir bahwa penandatanganan akta tersebut tidak dilakukan di hadapan notaris oleh karena pengikatan yang terjadi secara bersamaan.159

Tanda tangan biasanya terletak sebagai bagian akhir akta. Pada aturan dasar atau asas dalam common law Inggris yang diberlakukan terhadap perjanjian-perjanjian baku agar klausula-klausula eksemsi (dan klausul-klausul yang memberatkan lainnya) yang dimuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak mengikat para pihak yang bersangkutan. Begitu pula tentang kehadiran para pihak, dimana dalam pembacaan serta penandatanganan suatu akta, para penghadap saksi-saksi dan notaris mempunyai kewajiban untuk hadir dan menandatangani akta tersebut. Ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf m UUJN menyebutkan, “Notaris berkewajiban membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit dua orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris.” Keabsahan akta notaris yang meliputi bentuk, isi, kewenangan pejabat yang membuat serta pembuatan akta tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.160

Suatu akta tetap dikatakan akta autentik jika akta tersebut sepanjang tidak ada orang atau pihak lain yang mempermasalahkan keautentikan akta tersebut dan seseorang itu tidak dapat membuktikan bahwa akta tersebut cacat, maka akta itu tetap dianggap berasal dari pejabat yang berwenang dan sah demi hukum.

Sebaliknya apabila akta tersebut dapat dibuktikan oleh pihak lain, ternyata cacat,

159 Alfajri, Implikasi Hukum Penandatanganan Akta Yang Tidak Dilakukan Di Hadapan Notaris Dalam Akad Kredit Di Perbankan, Program Pascasarjana (S2) Universitas Hasanuddin, 2012 hal 3

160 Ibid

maka demi hukum, akta tersebut adalah batal demi hukum atau dapat dibatalkan.

Akta notaris dapat dibatalkan, karena jika ada gugatan dari para pihak yang tersebut dalam akta untuk membatalkan akta notaris. Pembatalan akta notaris hanya dapat dilakukan oleh para pihak itu sendiri.161

Kebiasaan penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris dilandasi dengan kebiasaan praktik pengikatan akta yang dilakukan di kantor notaris. Pengikatan mana jika terjadi secara bersamaan di tempat yang berbeda, maka notaris tidak akan mungkin berada dalam 1 (satu) tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan. Terkait dengan hal tersebut, maka perlu untuk meninjau lebih jauh mengenai praktik penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris dan tanggung jawab notaris yang tidak menandatangani akta yang dilakukan dihadapannya.162

Pembubuhan tanda tangan merupakan salah satu rangkaian dari peresmian akta pemberian tanda tangan dilakukan pada bagian bawah akta, pada bagian kertas yang masih kosong. Pembubuhan tanda tangan pada akta harus dinyatakan secara tegas pada bagian akta. Pembubuhan tanda tangan daiam akta mengandung arti memberikan keterangan dan pernyataan secara tertulis, yakni apa yang tertulis di atas tanda tangan itu.163

Akta notaris memberikan kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta betul-betul dilakukan oleh notaris atau diterangkan oleh pihak-pihak yang yang menghadap pada saat yang tercantum dalam akta sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan dalam pembuatan akta notaris. Secara

161 Habib Adjie, Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, Op.Cit, hal. 22

162 Alfajri, Loc.Cit.

163 GHS. Lumban Tobing, Op.Cit. 210.

formal untuk membuktikan kebenaran dan kepastian tentang hari, tanggal, bulan, tahun, pukul (waktu) menghadap, dan para pihak yang menghdap, paraf dan tanda tangan para pihak/penghadap, saksi dan notaris (pada akta pejabat/berita acara), dan mencatatkan keterangan atau pernyataan para pihak/penghadap (pada akta pihak).164

Keabsahan akta notaris tidak hanya tergantung pada syarat dan prosedur pembuatannya saja oleh notaris, tetapi ditentukan oleh tindakan dan kewenangan dari para pihak yang berkepentingan terhadap akta tersebut. Dengan adanya para pihak yang datang menghadap notaris untuk menuangkan kehendaknya dalam suatu bentuk akta autentik, termasuk penandatanganan oleh saksi dan notaris dalam pembuatan akta tersebut, sehingga mengawali terjadinya hubungan hukum antara notaris dengan para pihak atau penghadap.165

Sejak kehadiran penghadap di hadapan notaris untuk menuangkan tindakan atau perbuatannya dalam bentuk akta autentik, kemudian notaris membuat akta autentik tersebut sesuai keinginan para penghadap dengan memperhatikan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh UUJN, maka sejak penandatanganan akta tersebut oleh para pihak, saksi-saksi dan notaris, lahirlah hubungan hukum antara notaris dengan para penghadap. Hubungan hukum tersebut yaitu adanya kepercayaan para pihak atau penghadap kepada notaris dalam menuangkan keinginannya pada suatu akta autentik, karena para pihak ingin dengan akta autentik yang dibuat oleh notaris tersebut akan menjamin bahwa akta yang dibuat tersebut sesuai dengan aturan hukum yang sudah

164 Mia Elvina, Op.Cit, hal 453

165 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administrasi , Op.Cit, hal. 77.

ditentukan, sehingga kepentingan para pihak terlindungi dengan adanya akta tersebut. Dengan kata lain bahwa akta autentik menjamin adanya kepastian hukum. Dengan demikian dapat dihindari kerugian maupun sengketa yang akan terjadi dikemudian hari. Dengan hubungan hukum seperti itu, maka perlu ditentukan kedudukan hubungan hukum tersebut yang merupakan awal dari tanggung gugat notaris.166

Dalam hal mengantisipasi terhadap kondisi-kondisi tertentu dalam hal ini ketika pengikatan terjadi secara bersamaan di mana seorang notaris tidak mungkin berada dalam 2 (dua) tempat yang berbeda. Sehingga segala kegiatan notaris harus dilakukan di kantor notaris, dengan penandatanganan akta yang dilakukan di kantor notaris, penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan para pihak dan saksi-saksi akan terhindarkan di mana notaris secara kolektif menandatangani akta-akta tersebut di hadapan para pihak dan saksi-saksi terkecuali pada tahap pembacaan akta. Dengan demikian potensi terjadinya sengketa terhadap pemungkiran tanda tangan dari pihak debitur yang disebabkan oleh penandatanganan akta yang tidak dilakukan di hadapan notaris akan terhindarkan di mana notaris yang bersangkutan tidak menyaksikan penandatanganan akta tersebut. Akibat hukum terhadap akta bahwa akta tersebut akan kehilangan otentisitasnya atau terdegradasi menjadi akta di bawah tangan sebagaimana tertuang dalam Pasal 16 ayat (8) UUJN.167

166 Ibid

167 Alfajri, Op.Cit, hal 5

Berkaitan dengan hal-hal yang berlaku khusus terhadap menurunkan derajad suatu akta autentik. Ketentuan Pasal 1869 KUHPerdata menentukan bahwa akta tidak dapat disebut sebagai akta yang autentik, apabila

1. Pejabat umum tidak berwenang melakukan. Guna mengetahui hal apa saja yang notaris tidak berwenang melakukannya, perlu merujuk pada kewenangan notaris yang diatur pada Pasal 15 UUJN yang menyatakan bahwa: Notaris berwenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.168 Disamping itu notaris juga berwenang untuk: mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dibuku khusus; membukukan surat dibawah tangan dengan mendaftar dibuku khusus; membuat kopi dari asli surat dibawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dalam surat yang bersangkutan, melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan yang aslinya, memberikan penyuluhan hukum yang berkaitan dengan pembuatan akta, membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, membuat akta risalah lelang. Dengan uraian diatas maka, kewenangan yang dilakukan notaris diluar

168 Agus Toni Purnayasa, Op.Cit, hlm 406

ketentuan perundang-undangan adalah tindakan yang diluar kewenangan dan atas produk yang dihasilkannya mempunyai kekuatan pembuktian di bawah tangan.

2. Pejabat umum tidak cakap dalam tindakannya. Persyaratan kecakapan merupakan syarat yang melekat pada diri subjektif pejabat itu sendiri. Bukan pada jabatannya. Ketidakcakapan disini dapat berarti bahwa pejabat dirinya belum dewasa, pejabat umum yang ditaruh dibawah pengampuan, perempuan yang telah kawin dalam hal ditetapkan pengadilan.

3. Terdapat kecacatan dalam bentuk akta autentik tersebut. Pasal 84 UUJN dinyatakan bahwa tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf i, Pasal 16 ayat (1) huruf k, Pasal 41, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, atau Pasal 52 yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada notaris.169

C. Tanggungjawab Notaris Terhadap Akta Yang Ditandatangani Tidak