BAB 3 METODE PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR
4.3 RDTRK Kecamatan Pacitan 2009-2029
4.3.1 Kebijakan Dan Strategi Pemanfaatan Struktur Wilayah
Kebijakan yang dilakukan dalam mendukung pemanfaatan struktur ruang wilayah Perkotaan Pacitan antara lain :
1. Kebijakan pengembangan kawasan perkotaan berdasarkan potensi masing kawasan yang didukung dengan adanya pusat kegiatan pada masing-masing kawasan. Strategi yang dilakukan yaitu :
a. Pengembangan kawasan perkotaan berbasis hasil perikanan di wilayah selatan Perkotaan Pacitan.
b. Pengembangan kawasan perkotaan berbasis sektor perdagangan dan jasa yaitu pada bagian pusat Perkotaan Pacitan.
2. Kebijakan pengembangan kawasan perikanan, pariwisata dan industri untuk mengoptimalkan pertumbuhan kawasan Selatan Perkotaan Pacitan. Strategi yang dilakukan yaitu :
71 a. Pengembangan sarana prasarana pendukung, antara lain jaringan jalan, pengembangan pelabuhan, TPI, terminal dan sarana pendukung lainnya.
b. Mendorong peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran produk perikanan sebagai satu kesatuan sistem.
c. Pengembangan sistem kelembagaan untuk menunjang pengembangan kawasan perikanan, pariwisata dan industri.
d. Pengembangan kerjasama dengan sektor swasta (investor) untuk berinvestasi dibidang perikanan, pariwisata dan industri pengolahan lainnya.
e. Pengembangan wilayah pengelolaan perikanan, kawasan wisata, kawasan andalan laut, kawasan konservasi laut, pelabuhan perikanan dan areal budidaya di laut.
Strategi struktur pemanfaatan ruang wilayah terdiri atas: pengembangan sistem pusat permukiman perkotaan, dan arahan sistem prasarana wilayah. Sistem pusat permukiman perkotaan dilakukan dengan membentuk pusat pelayanan kota secara berhirarki, dengan membentuk pusat pelayanan kota mulai dari pusat pelayanan antar bagian wilayah kota (BWK), pusat pelayanan setiap BWK, sampai pada pusat pelayanan pada setiap unit lingkungan. Untuk meningkatkan skala pelayanan pusat permukiman perkotaan ini dilakukan dengan membentuk hubungan pada pusat kecamatan (BWK).
Penentuan orde kota menurut RTRW Provinsi Jawa Timur tahun 2029 disusun secara berhirarki dengan membentuk orde P1 (Megapolitan Surabaya – Malang), orde P2 (Perkotaan Metropolitan PASGERBANGKERTOSUSILA), Orde P3 (Surabaya Metropoitna Area), orde P4 (Kota Surabaya dan Malang) dan seterusnya. Perkotaan Pacitan merupakn orde P6. Selanjutnya perkotaan lain yaitu pusat-pusat BWK akan diberi kode orde di bawah P6 (P7, P8 dan seterusnya).
Upaya mendorong pertumbuhan wilayah dan pemerataan pembangunan, dari sisi wilayah maka diperlukan pembentukan hirarki perkotaan mulai dari pusat kegiatan Perkotaan Pacitan (SWP Madiun dan sekitarnya) sampai pusat BWK (4 BWK yang pembagiannya berdasarkan batas administrasi kecamatan/kelurahan/desa). Untuk mendorong perkembangan wilayah maka Bagian Wilayah Kota (BWK) di Perkotaan
72 Pacitan perlu didorong perannya melalui penyedian berbagai fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Efisiensi pelayanan perkotaan ditentukan melalui skala pelayanan wilayah dengan membentuk perwilayahan, dengan pusat SWP melayani skala pelayanan wilayah dan Bagian Wilayah Kota (BWK) melayani skala lokal.
4.3.2 Kebijakan dan Strategi Pelestraian Kawasan Lindung
Kawasan hutan kota dan kawasan sekitar mata air ditetapkan sebagai kawasan lindung yang tidak boleh dialihfungsikan untuk kegiatan budidaya dan harus dilestarikan. Selanjutnya pada kawasan yang mengalami perubahan fungsi akan dikembalikan ke fungsi semula. Kebijakan – kebijakan tersebut antara lain :
1. Kebijakan pemantapan fungsi lindung pada kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya. Strategi yang dilakukan yaitu :
a Pengembalian fungsi pada kawasan yang mengalami kerusakan melalui penanganan secara teknis dan vegetatif.
b Pada kawasan yang meberi perlindungan kawasan bawahannya tetapi terjadi alih fungsi untuk budidaya maka perkembangan dibatasi dan dikembangkan tanaman/vegetasi yang memiliki fungsi lindung.
c Kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air harus dipertahankan dan seoptimalkan untuk dihijaukan.
d Peningkatan peran serta dari masyarakat sekitar kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya untuk menjaga fungsi kawasan lindung.
e Peningkatan kesadaran lingkungan kepada masyarakat melalui pendidikan, pariwisata, penelitian dan lainnya.
f Peningkatan kerjasama antar intansi pemerintah yang berwenang dalam pengelolaan fungsi lindung baik untuk perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya.
2. Kebijakan pemantapan kawasan perlindungan setempat. Strategi yang dilakukan yaitu :
73 a. Kawasan perlindungan setempat di sempadan sungai harus dilestarikan dengan penanaman tanaman keras tegakan tinggi, sedangkan pada sempadan pantai dilestarikan dengan penanaman hutan bakau (mangrove). Pengamanan kawasan perlindungan setempat sepanjang pantai dlakukan dengan mempertahankan ekosistem pantai yaitu hutan bakau (mangrove), terumbu karang, rumput laut dan estuaria.
Penggunaan fungsional seperti pariwisata, pelabuhan, hankam, permukiman harus memperhatikan kaidah lingkungan dan ekosistem pesisir
b. Pembatasan kegiatan yang tidak berkaitan dengan kawasan perlindungan setempat.
c. Kawasan perlindungan setempat sekitar mata air dibatasi fungsinya sebatas tempat wisata dan bebas dari bangunan serta penghijauan kawasan sekitar mata air untuk memberikan perlindungan mata air.
Pemanfaatan mata air untuk irigasi lahan pertanian di Perkotaan Pacitandilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan pasokan air serta kebutuhan masyarakat setempat.
3. Kebijakan penanganan kawasan rawan bencana alam. Strategi yang dilakukan yaitu :
a. Menghindari kawasan yang rawan terhadap bencana alam gunung berapi, tsunami,banjir dan bencana lainnya sebagai kawasan terbangun.
b. Pengembangan sistem informasi peringatan dini dari kemungkinan bencana alam.
c. Pengembangan SDM yang tanggap terhadap penanganan bencana (taruna siaga bencana).
d. Pengembangan hutan mangrove dan bangunan yang dapat meminimalisasi bencana bila terjadi tsunami.
74 4. Kebijakan pemantapan kawasan lindung lainnya. Strategi yang dilakukan yaitu
:
a. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan kota ekosistemnya harus dipelihara guna menjaga keberlanjutan fungsi hutan kota.
b. Menjadikan kawasan sebagai obyek wisata dan penelitian, c. Pelaksanaan kerjasama dalam pengelolaan kawasan.
Secara umum beberapa strategi yang diperlukan untuk pelestarian kawasan lindung di Perkotaan Pacitan adalah sebagai berikut:
Strategi pemantapan kawasan lindung mutlak ini adalah: menjaga dan mengembalikan fungsi kawasan, sedangkan pada kawasan yang telah digunakan tidak direkomendasikan untuk ditingkatkan. Kawasan ini mutlak harus menjadi kawasan lindung sedangkan kegiatan atau aktifitas manusia yang diijinkan hanya sebatas menikamti pemandangan alam dan pos informasi wisata dan perlindungan kawasan saja, atau memiliki kepentingan fungsi strategis.
Strategi pemantapan kawasan resapan air ini adalah pemantapan kawasan sebagai area yang mampu menjaga kelestarian sumberdaya air dengan tidak mengijinkan perubahan fungsi kawasan. Peningkatan daya dukung sumber air dilakukan dengan meningkatkan populasi vegetasi di kawasan lindung mutlak sesuai dengan fungsi kawasan, serta dengan mendayagunakan potensi tanah kritis, padang alang-alang, tanah tandus yang menjadi bagian dari kawasan lindung mutlak
Pengamanan berbagai kawasan lindung dari kegiatan penduduk yang cenderung akan mengganggu penggunaan kawasan tersebut
Pemanfaatan kawasan lindung, baik lindung mutlak maupun kawasan lindung bawahannya akan disesuaikan atau diarahkan dalam rangka pengamanan kawasan lindung dimaksud
Pengembangan strategi pelestarian yang dilakukan dengan kerjasama antara wilayah dalam menjaga kawasan konservasi
Pemanfaatan kawasan lindung bawahannya serta kawasan lindung lainnya diarahkan untuk menunjang fungsi lindung yang telah ditetapkan
75
Bagi kawasan lindung di wilayah laut atau pantai, maka pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisi pantai dan kegiatan yang telah ada namun tanpa mengganggu fungsi dari kawasan lindung tersebut
Pemanfaatan kawasan lindung wilayah kota/perkotaan dilakukan melalui pemanfaatan kawasan-kawasan tersebut untuk kegiatan jalur hijau dan ruang terbuka hijau
Pemanfaatan kawasan lindung jangan sampai mengganggu sistem ekologi yang telah berjalan dan sesuai dengan kondisi yang ada.
4.3.3 Kebijakan dan Strategi Pemanfaatan Kawasan Budidaya
Kawasan budidaya yang ada di Perkotaan Pacitan ditinjau dari luas lahannya sebagian besar adalah kawasan permukiman dan pertanian /tegalan. Kawasan yang mengalami perkembangan cukup besar adalah: permukiman sedangkan yang menunjukkan proses perkembangan cukup tinggi adalah kegiatan perdagangan. Oleh karena itu pengembangan kawasan budidaya ini perlu ditunjang oleh adanya strategi terhadap keseimbangan perkembangan dan keserasian lingkungan yang ditunjang oleh pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan dan mempermudah kegiatan perekonomiaan. Maka strategi yang perlu dilakukan dalam rangka pemanfaatan kawasan budidaya di Perkotaan Pacitan adalah sebagai berikut:
Pengembangan dan pembangunan infrastruktur yang akan menunjang pemanfaatan kawasan budidaya perlu dilakukan agar dalam pemanfaatan kawasan budidaya tersebut dapat memberikan hasil yang optimal
Pemanfaatan kawasan budidaya yang ada perlu disesuaikan dengan kondisi fisik yang mendukungnya
Pemanfaatan kawasan budidaya yang lokasinya berdekatan dengan kawasan lindung perlu pengawasan yang cukup ketat
Pemanfaatan kawasan budidaya dilakukan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat
Pemanfaatan kawasan budidaya diharapkan tidak mengganggu ekosistem yang ada.
76 4.3.4 Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah Sistem prasarana wilayah di Perkotaan Pacitan terdiri atas transportasi, listrik, telekomunikasi, sumberdaya air, drainase dan sistem prasarana lingkungan.
Dampak dari perkembangan wilayah menuntut adanya dukungan sarana dan prasarana wilayah yang memadai sebagai kelengkapan wilayah yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian perkembangan sistem prasarana wilayah memerlukan sebuah strategi untuk pengembangannya, antara lain dengan mengintegrasikan satu sistem prasarana dengan prasarana lainnya, sehingga setiap perkembangan wilayah dengan seluruh aspek yang timbul dapat ditunjang oleh sistem prasarana yang memadai.
A. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Transportasi
Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Transportasi di Perkotaan Pacitan adalah :
1. Kebijakan optimalisasi fungsi jaringan jalan dan moda transportasi darat di Perkotaan Pacitan. Strategi pengembangan transportasi jalan dan moda darat antara lain :
a. Membuat alternatif pengembangan sistem transportasi yang baru pada wilayah yang mempunyai tingkat perkembangan kegiatan fungsional sangat tinggi dan pada ruas-ruas jalan yang sering terjadi kemacetan lalu lintas
b. Peningkatan jaringan jalan dengan pelebaran atau membuat alternatif/jalan baru
c. Penetapan jalan sesuai dengan fungsi, kapasitas dan tingkat pelayanannya d. Meningkatkan peran jalan arteri primer (Jalur Lintas Selatan) dan kolektor
primer
e. Pengaturan dan perencanaan pemisahan moda transportasi terutama untuk menghindari masuknya angkutan luar kota ke dalam wilayah perkotaan sehingga dapat mengurangi masalah transportasi (kemacetan) dalam wilayah perkotaan
77 2. Kebijakan pengembangan pelabuhan Perkotaan Pacitan. Strategi
pengembangan pelabuhan antara lain :
a. Pengembangan sarana prasarana pendukung pelabuhan umum.
b. Pengembangan pelayaran untuk kegiatan bongkar muat barang.
c. Penyiapan lahan dan infrastruktur penunjang pelabuhan.
d. Menyiapkan lembaga pengelola pengembangan pelabuhan yang profesional untuk mendukung rencana pengembangan pelabuhan.
e. Pengembangan fungsi pertahanan dan keamanan wilayah Pantai Selatan.
B. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Energi
Dengan berlakunya UU No. 20 Tahun 2002 tentang Kelistrikan di Indonesia, dimana sejak berlakunya UU tersebut telah terjadi perubahan struktur organisasi PT. PLN Indonesia sebagai satu-satunya penyelenggara kelistrikan di Indonesia.
Kebijakan dalam pengembangan sumberdaya energi adalah optimalisasi tingkat pelayanan, perluasan jangkauan listrik sampai menjangkau wilayah kota. Strategi yang dilakukan terkait dengan kebijakan tersebut antara lain :
a. Mengembangkan dan menyediakan tenaga listrik yang memenuhi standar mutu dan keandalan yang berlaku
b. Pembangunan instalasi baru, pengoperasian instalasi penyaluran dan peningkatan jaringan distribusi
c. Peningkatan jaringan listrik ke seluruh wilayah perkotaan
d. Mengembangkan sumberdaya energi secara optimal dan efisien dengan memanfaatkan sumber energi domestik serta energi yang bersih, ramah lingkungan dan teknologi yang efisien, guna menghasilakan nilai tambah untuk pembangkitan tenaga listrik sehingga terjamin tersedianya tenaga listrik yang diperlukan.
e. Pengembangan sumberdaya energi dengan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi wilayah, misalnya sumber energi tenaga angin, sinar matahari maupun ombak.
78 f. Pengembangan kegiatan industri juga harus diantisipasi dengan perencanaan
jaringan distribusi energi gas yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor industri.
C. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Telekomunikasi
Berdasarkan UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yaitu liberalisasi penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia oleh berbagai macam penyelenggara (provider), sehingga masyarakat semakin mendapatkan banyak pilihan pelayanan telekomunikasi. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha pertelekomunikasian di Jawa Timur, dimana Perkotaan Pacitan merupakan salah satu sasaran tumbuhnya pemakai jasa telekomunikasi, maka bisa diperkirakan bahwa kebutuhan masyarakat akan jasa layangan telekomunikasi akan semakin tinggi. Kebijakan terkait dengan pengembangan telekomunikasi yaitu peningkatan jangkauan pelayanan dan kemudahan mendapatkannya serta kebijakan terhadap peningkatan jumlah dan mutu telematika tiap wilayah. Strategi pengembangan telekomunikasi di Perkotaan Pacitan ditekankan pada:
a. Wilayah yang memiliki potensi tumbuhnya kegiatan ekonomi baru
b. Mengembangkan jaringan primer (backbone) pada wilayah-wilayah potensial dengan menggunakan jaringan kabel tanam berkapasitas tinggi (Fibre optic) c. Mengembangkan fasilitas telekomunikasi di seluruh wilayah kota sebagai
tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan telekomunikasi kepada seluruh lapisan masyarakat
d. Mengembangkan teknologi modern (pengembangan sambungan tanpa kabel) untuk meningkatkan luas daerah pelayanan, khususnya wilayah yang secara geografis memiliki lokasi yang sulit.
e. Berkembangnya telepon tanpa kabel (handphone) yang didukung dengan pembangunan tower-tower penguat sinyal harus diantisipasi dengan peraturan pembangunan tower telekomunikasi. Hal ini bertujuan agar permasalahan-permasalahan akibat ketidakteraturan pembangunan tower telekomunikasi yang mengganggu kawasan permukiman terdekat dapat diantisipasi.
79 D. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Air
Kebijakan terkait dengan pengembangan sumberdaya air di Perkotaan Pacitan ditekankan pada peningkatan sistem jaringan pengairan/irigasi serta optimalisasi fungsi dan pelayanan prasarana pengairan. Strategi untuk pengembangan sumberdaya air di Perkotaan Pacitan adalah:
a. Pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi
b. Meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya melestarikan kawasan resapan air untuk menjaga ketersediaan air tanah yang berpengaruh terhadap volume prasarana penampung air.
c. Perlindungan terhadap sumber-sumber mata air dan daerah resapan.
d. Mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi.
e. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung.
E. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Prasarana Lingkungan
Kebijakan terkait dengan pengembangan prasarana lingkungan di Perkotaan Pacitan antara lain mereduksi sumber timbunan sampah sejak awal, optimalisasi tingkat pelayanan sampah perkotaan, kebijakan penetapan ruang terbuka hijau (RTH), kebijakan menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih. Sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas lingkungan di Perkotaan Pacitan, diperlukan strategi dengan tujuan memberikan solusi terkait dengan pengelolaan lingkungan.
Adapaun strategi tersebut adalah:
a. Meminimalisasi penggunaan sumber timbunan sampah yang sukar didaur ulang secara alamiah.
b. Memanfaatkan ulang sapah (recycle) yang ada terutama yang memiliki nilai ekonomi.
c. Mengolah sampah organik menjadi kompos.
d. Pembangunan tempat pembuangan akhir yang dikelola dengan baik dengan lokasi jauh dari pemukiman
e. Meningkatkan teknologi pengkomposan sampah organik, teknologi daur ulang sampah non organik serta teknologi sanitary landfill
80 f. Pengelolaan lingkungan buatan ditekankan pada pengendalian pencemaran baik di daerah perkotaan terutama yang berkaitan dengan perlindungan mutu air tanah, laut dan udara serta pengelolaan limbah B-3 secara terpadu.
g. Pengadaan taman dan hutan kota.
h. Penetapan luasan RTH perkotaan minimum 30% dari luas area.
i. Pengembagan jenis RTH dengan berbagai fungsinya.
4.4 Rencana Strategis Wilayah Pesisir Kabupaten Pacitan 4.4.1 Visi dan Misi Pengelolaan Wilayah Pesisir
Dengan mempertimbangkan dinamika pembangunan nasional dan arah kebijakan pembangunan di daerah baik pada saat ini maupun yang akan datang, serta kecenderungan terjadinya perubahan global, sebagai unsur peluang atau ancaman serta kondisisarana dan prasarana, sumberdaya manusia, sumberdaya alam wilayahpesisir sebagai unsur kekuatan atau kelemahan. Maka disusun suatu visi dan misi pembangunan pesisir.
Visi ini merupakan sari dari Visi Kabupaten Pacitan yaitu “Terwujudnya Masyarakat Pacitan yang Maju, Adil dan Sejahtera, Religius dan Berbudaya”.
Ditambah dengan isu pengelolaan wilayah pesisir yangdiformulasikan berdasarkan konsultasi publik dengan berbagai stakeholders(pemerintah dan non pemerintah). Dengan mengacu pada hal tersebut diatas maka ditetapkan visi dari pembangunan wilayah pesisir Kabupaten Pacitan adalah :
”Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”.
Berdasarkan Visi pembangunan wilayah pesisir tersebut di atas maka ditetapkan Misi dari pembangunan wilayah pesisir kabupaten Pacitan sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir yang berwawasan lingkungan 2. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui Penguasaan Teknologi
dalam pengelolaan sumberdaya pesisir
81 3. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir bagi peningkatan
kesejahtaraan Masyarakat di wilayah pesisir
4. Meningkatkan fungsi pengawasan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir
4.4.2 Kebikjakan Pengelolaan Wilayah Pesisir
Kebijakan pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu dari tahap perencanaan, pengelolaan hingga pengawasan dan pengendalian. Berdasarkan isu yang ada, maka kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dilakukan antara lain:
1. Pola Penggunaan Lahan dan Perairan
Pola penggunaan lahan pada kawasan pesisir memiliki hubungan intensif antara air dan elemen kota. Pola tata guna lahan merupakan suatu upaya dalam merencanakan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu. Rencana tentang tata guna lahan merupakan kerangka kerja yang menetapkan keputusan-keputusan tentang keterkaitan antara lokasi, kegiatan/aktifitas, dan manusia.
2. Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Kawasan Pesisir
Wilayah pesisir Kabupaten Pacitan berbatasan langsung dengan pantai selatan Pulau Jawa, dengan karakteristik gelombang yang cukup besar rata-rata melebihi 1,5 m di tepi pantai, sedangkan karakteristik pantainya berpasir dari yang landai sampai curam. Pengembangan tata ruang kawasan pesisir sebaiknya memperhatikan garis sempadan pantai. Kondisi sempadan pantai kawasan pesisir Pacitan saat ini telah mengalami perubahan fungsi. Perubahan tersebut terlihat dari beberapa bangunan yang didirikan di sempadan pantai, baik permanen maupun semi permanen. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 17 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP-3K) yang menjelaskan bahwa sempadan pantai merupakan salah satu kawasan konservasi yang harus dijaga kelestariannya, dilindungi, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang
82 lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa sempadan pantai Pacitan seharusnya dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai lahan yang bermuatan ekonomis tetapi juga menjadi salah satu upaya penanganan mitigasi bencana bagi kawasan pesisir dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
4.5 Rencana Zonasi 2011
4.5.1 Konsep Pengembangan Wilayah
Secara teoritis terdapat banyak alternatif dalam mengembangkan suatu wilayah perdesaan. Dalam konteks perencanaan wilayah desa pesisir di Kabupaten Pacitan ini maka konsep yang sesuai adalah konsep pengembangan kawasan sektoral.
Prinsip dasar dari konsep dari strategi bentuk desa yang sektoral adalah suatu pola peruntukan lahan yang terdiri atas pusat-pusat pelayanan yang jumlahnya lebih dari satu. Dengan demikian tiap pusat pelayanan memiliki jangkauan pelayanannya sendiri. Namun demikian, pusat-pusat pelayanan tersebut tidaklah memiliki hirarki yang sama. Pusat pelayanan yang termasuk kategori pusat desa biasanya memiliki hirarki yang lebih tinggi sedangkan pusat-pusat pelayanan lainnya memiliki hirarki lebih rendah. Pola peruntukan lahan yang demikian tampaknya berupaya menyempurnakan kondisi yang ada pada desa yang terbentuk secara linear (Ribbon Pattern) maupun kosentris. Implementasi dari konsep bentuk desa sektoral ini ialah :
a. Kawasan Pengembangan Desa Terpadu dibagi dalam 4 Bagian Wilayah Pengembangan (WP) dengan mempertegas pusat – pusat yang ada. Empat WP ini terpisah pada desa yang saat ini memiliki tingkat intensitas kegiatan tinggi atau memilki kecenderungan perkembangan yang tinggi, yaitu : Pusat Desa berada di sekitar lokasi Kantor Kecamatan yang ada di Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi primer sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa serta pelayanan umum. Lokasi ini juga menjadi pusat WP dengan penekanan fasilitas merata dengan WP lainnya.
83 b. Dalam konsep ini peranan tiap zona pengembangan meskipun dibagi atau disebarkan dalam pusat atau sub pusat yang lebih banyak tetap dapat difungsikan dengan peranan eksisting,
c. Pembangunan jalan lokal sekunder dengan tujuan pembentuk frame desa dan mempertegas fungsi pusat skala desa maupun skala zona pengembangan ataupun unit lingkungan.
d. Pola ini dipakai sebagai acuan dalam pengembangan kawasan. Pusat-pusat pelayanan yang lebih rendah ditempatkan pada lokasi-lokasi pengembangan Desa yang ditujukan untuk memacu perkembangan kawasan ke arah yang dikehendaki. Pola ini tampaknya sangat sesuai untuk pengembangan Kelurahan Sidoharjo.
Berdasarkan atas beberapa poin diatas, maka strategi yang digunakan dalam proses penyusunan rencana dalam tahap selanjutnya mengarah pada penyebaran lokasi pusat kegiatan secara merata pada seluruh wilayah perencanaan. Mengacu pada hal ini maka pemilahan wilayah perencanaan dalam bentuk WP adalah sebagai berikut :
A. Wilayah Pengembangan Utama.
Berpusat pada Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi utama untuk kegiatan perkantoran (Kantor Kecamatan), perdagangan dan jasa dan kegiatan berbasis sumberdaya pesisir seperti perikanan dan wisata bahari. Berdasarkan hasil analisis, Kelurahan Sidoharjo memiliki peran sebagai pusat kegiatan perekonomian di wilayah perencanaan. Di sisi lain, keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) akan menjadi pusat kegiatan pendaratan ikan serta pemasaran hasil perikanan di wilayah perencanaan. Kegiatan wisata bahari dapat dilakukan di sebelah timur muara sungai. Kondisi eksisting saat ini dimana telah ada pengembangan objek wisata pantai dapat sangat mendukung untuk pengembangan wisata bahari. Sedangkan fungsi sekunder dari Kelurahan Sidoharjo adalah untuk kegiatan pendidikan dan resapan air.
84 B. Wilayah Penyangga.
Wilayah Penyangga ini meliputi Kelurahan Ploso dengan fungsi utama untuk kegiatan perdagangan dan jasa, wisata bahari, dan permukiman. Kelurahan Ploso merupakan penghubung antara Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dalam koneksinya dengan Kelurahan Sidoharjo. Kelurahan Ploso dapat juga menjadi daerah target pemasaran hasil perikanan melalui pengembangan Kawasan Wisata Bahari di kelurahan tersebut. Fungsi Sekunder dari Kelurahan Ploso adalah untuk kegiatan pendidikan dan pertanian.
C. Wilayah Pendukung
Wilayah Pendukung ini meliputi Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dengan fungsi utama untuk kegiatan industri rumah tangga dengan produk unggulan terasi dan sale pisang, dan untuk kegiatan pertanian. Desa Kembang dikembangkan sebagai desa produksi bahan baku terasi untuk diolah di Desa Sirnoboyo sebagai desa pengolah hasil perikanan. Sedangkan fungsi sekunder wilayah pendukung adalah untuk kegiatan pendidikan, permukiman dan konservasi.
Gambar Peta 4.1
Konsep Pengembangan Wilayah