BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH
2.3 Kelurahan Sidoharjo
2.3.2 Visi dan Misi Kelurahan Sidoharjo
Visi KelurahanSidoharjo: Terbentuknya masyarakat yang sejahtera dan bermartabat.
Misi Kelurahan Sidoharjo:
1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat dan swadaya masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan
2. Meningkatkan ketrampilan dan keahlian kepada masyarakat 3. Memberikan stimulan permodalan untuk usaha mikro dan kecil
4. Meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan kesadaran pola hidup masyarakat.
5. Peningkatan kegiatan posyandu, sarana dan prasarana pendukung
6. Memfasilitasi keluarga pra sejahtera untuk mewujudkan kondisi keluarganya
18 2.3.3Letak Geografis
Kelurahan Sidoharjo terletak di Kecamatan Pacitan. Luas total wilayah Kelurahan Sidoharjo ± 723,430 ha.
Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Sidoharjo adalah sebagai berikut : Sebelah utara : Kelurahan Pucangsewu dan Desa Bangunsari
(Kecamatan Pacitan) Sebelah selatan : Samudera Indonesia
Sebelah timur : Kelurahan Ploso dan Kelurahan Baleharjo (Kecamatan Pacitan)
Sebelah barat : Desa Dadapan (Kecamatan Pringkuku)
Tabel 3.4
Jarak Administratif Kelurahan Sidoharjo
No Orbitasi Keterangan
1 Jarak kantor kelurahan dengan
kecamatan 0,5 Km
2 Jarak kantor kelurahan dengan
kabupaten 0,5 Km
3 Jarak kantor kelurahan ke ibu kota
provinsi 250 Km
2.3.4 Fisiografi dan Kondisi Tanah
Kelurahan Sidoharjo terletak 1 – 2 m dpl (di atas permukaan laut) dengan suhu dalam kisaran minimum 20 derajat dan maksimum 28 derajat. Banyaknya curah hujan 28 – 30 mm/tahun. Bentuk wilayah datar sampai berombak 60 %, berombak sampai berbukit 10 %, dan berbukit sampai bergunung 30 %. Warna tanah sebagian besar berwarna kuning dengan tekstur pasiran dan kemiringan tanah 15 0.
19 Tabel 3.5
Luas Wilayah Menurut Penggunaan
No Pemanfaatan Lahan Keterangan
1 Tanah sawah 86 ha
2 Tanah kering 84 ha
3 Tanah basah 7 ha
4 Tanah hutan 99 ha
5 Tanah perkebunan 10 ha
6 Tanah keperluan fasilitas umum 30,2 ha 7 Tanah keperluan fasilitas sosial 7804 m2 8 Lain-lain (tanah tandus/tanah pasir) 20 ha
Total luas 723,430 ha
Sumber air bersih berasal dari mata air berjumlah 6 buah, sumur gali, 300 unit, sumur pompa 144 unit, hidran umum 6 unit, PDAM 240 unit dan pipa 3 unit.
Jumlah pemanfaat dari masing-masing sumber air bersih yaitu: pemanfaat mata air 90 orang, sumur gali 900 orang, sumur pompa 433 orang, hidran umum 30 orang, PDAM 720 orang, dan pipa 120 orang. Untuk wilayah perairan umum terdiri dari sungai dan rawa.
2.3.5 Kependudukan
Jumlah penduduk Kelurahan Sidoharjo pada tahun 2010 mencapai 7.017 orang, terdiri dari 2.038 KK dengan jumlah laki-laki 3.387 orang dan jumlah perempuan 3.630 orang. Sedangkan, mata pencaharian pokok penduduk Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.6
Mata Pencaharian Pokok
No Jenis Pekerjaan Jumlah Keterangan
1 Petani
20 No Jenis Pekerjaan Jumlah Keterangan
6 Buruh bangunan 340 orang
Mayoritas penduduk di Kelurahan Sidoharjo adalah beragama islam dengan jumlah 6.975 orang, agama katolik 6 orang dan protestan 36 orang. Untuk jenjang pendidikan penduduk di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.7 Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah Keterangan
21 No Tingkat Pendidikan Jumlah Keterangan
7 Tamat Perguruan
Tinggi/Sederajat 61 orang
8 Buta Huruf - orang
Untuk jumlah penduduk berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.8
Sebagaimana penduduk yang bermukim di kawasan wilayah pesisir, maka pada umumnya sebagaian besar masyarakat di Kelurahan Sidoharjo masih bermata pencaharian sebagai nelayan, petani dan buruh –buruh industri yang notabene mereka adalah golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Tingkat perekonomian di suatu daerah tentunya juga dipengaruhi oleh Jumlah angkatan
22 kerja yang ada di daerah tersebut. Jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18 – 56 tahun) yang ada di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada table dibawah ini :
Tabel 3.9
Jumlah Angkatan Kerja
No. Uraian Keterangan
1. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
masih sekolah dan tidak bekerja 260 orang 2. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
menjadi ibu rumah tangga 120 orang
3. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
bekerja penuh 480 orang
4. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
bekerja tidak tentu 310 orang
5. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
cacat dan tidak bekerja 36 orang
6. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang
cacat dan bekerja 12 orang
Apabila dilihat dari table diatas, maka dapat dikatakan bahwa rata – rata penduduk di Kelurahan Sidoharjo sudah bekerja dan mempunyai penghasilan, meskipun ada beberapa diantaranya yang bekerja secara serabutan atau tidak menentu. Tingkat perekonomian suatu daerah juga dapat digambarkan dengan melihat tingkat kesejahteraan keluarga yang ada di daerah tersebut. Tingkat kesejahteraan penduduk di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 3.10
Tingkat Kesejahteraan Keluarga
No. Uraian Keterangan
1. Jumlah keluarga prasejahtera 430 Keluarga 2. Jumlah keluarga sejahtera 1 125 Keluarga 3. Jumlah keluarga sejahtera 2 120 Keluarga 4. Jumlah keluarga sejahtera 3 110 Keluarga 5. Jumlah keluarga sejahtera 3 plus 100 Keluarga
Dari tabel diatas menunjukan bahwa jumlah keluarga prasejahtera masih cukup tinggi dengan kata lain masih banyaknya keluarga yang berada pada garis kemiskinan.
23 B. Pertanian
Sektor Pertanian masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat di wilayah Kelurahan Sidoharjo. Selain sebagai penghasil pangan, sektor pertanian juga menjadi sumber pendapatan bagi sebagaian besar masyarakat yang ada di wilayah Sidoharjo. Berdasarkan data yang ada, sebanyak 1.260 penduduk di wilayah Kelurahan Sidoharjo mempunyai mata pencaharian pokok di bidang pertanian, baik itu sebagai petani pemilik lahan, penggarap ataupun sebagai buruh tani.
C. Perikanan
Kelurahan Sidoharjomemiliki dua tempat pendaratan ikan, yaitu diPantai Teleng dan Tamperan. Fasilitas yang telah dibangun di tempat pendaratan ikan tersebut adalah Tempat Pelelangan Ikan (TPI), salah satunya berada di Kelurahan Sidoharjo, yaitu di areal PPP Tamperan. PPP Tamperan merupakan sentra perikanan tangkap di Kabupaten Pacitan, dengan luas areal sekitar 5 Ha, mempunyai fasilitas laut maupun darat yang telah dibangun mulai tahun 2003 dan sampai saat ini masih terus diupayakan penyempurnaannya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dalam hal ini Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur sebagai pengelola sesuai kewenangannya. Sedangkan TPI Teleng Ria berada di kawasan wisata Pantai Teleng Ria. Jumlah produksi perikanan tangkap di laut pada tahun 2009 sebesar 3.671,99 Ton, yang sebagian besar mendarat di PPP Tamperan. Komoditi dominan adalah Tuna dan Cakalang, yang dihasilkan oleh para nelayan andon dengan armada kapal di atas 10 GT dengan alat tangkap purse seine. Sedangkan, sarana kapal/ perahu yang ada di Kelurahan Sidoharjo sebanyak 60 buah perahu motor tempel dan 40 buah perahu.
Di Kelurahan Sidoharjo terdapat pengusaha pengolahan hasil perikanan, yaitu kelompok Pelita Jaya yang memproduksi keripik ikan dan KUP Bina Usaha yang memproduksi bakso, rollade, dan nugget dan sampai saat ini telah dipasarkan untuk kebutuhan lokal.
Kelurahan Sidoharjo memiliki potensi wisata bahari yang terkenal di Kabupaten Pacitan, yaitu Pantai Teleng Ria, di samping Pantai Tamperan di
24 sebelah selatan PPP Tamperan. Fasilitas wisata bahari di Pantai Teleng Ria telah dilengkapi dengan restoran dan rumah makan, bungalow, warung ikan goreng, arena bermain anak-anak, fasilitas olahraga selancar air dan kolam renang.
Di Kelurahan Sidoharjo juga terdapat potensi mangrove yang luasnya mencapai 5 Ha. Jenis mangrove yang terbesar adalah Avicenia sp dan Rizophora sp yang merupakan hasil penanaman. Saat ini kondisi mangrove relatif rusak karena penebangan dan terkena dampak pembangunan infrastruktur drainase.
Selain itu, di sebelah timur Pantai Teleng Ria, di antara Kelurahan Sidoharjo dan Ploso terdapat greenbelt sepanjang 1 Km dengan ketebalan 100 meter yang dimaksudkan sebagai pelindung pantai dari bencana laut yang sering terjadi di wilayah pantai selatan Jawa. Greenbelt ini dibangun pada tahun 2008, dengan jenis tanaman Cemara Laut, Ketapang, keben/putat dan Waru.
Upaya pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan juga didukung keberadaan POKMASWAS. Di Kelurahan Sidoharjo terdapat POKMASWAS yang merupakan gabungan dari Kelurahan Ploso dan Sidoharjo.
D. Pariwisata
Kelurahan Sidoharjo memiliki potensi alam yang dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Pantai teleng Ria, PPP Tamperan dan kawasan Pancer Dorr merupakan wilayah andalan Kabupaten Pacitan. Pengembangan kegiatan pariwisata sudah mulai dilakukan dari kerjasama dengan pihak ketiga dalam hal ini pengembangan dan pengelolaan Teleng Ria. Kawasan atau wilayah pendukung pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir sudah mulai ditata, harapan ke depan dengan mulai dibangunnya Jalur Lintas Selatan ( JLS ) akan lebih mempermudah promosi dan pengembangan pariwisata sebagai tulang punggung PAD Kabupaten Pacitanmempunyai wilayah yang potensial sebagai kawasan atau daerah tujuan wisata.
25 E. Sosial dan Budaya
Pengaruh sosial budaya terhadap masyarakat Kelurahan Sidoharjo saat ini dipengaruhi oleh kaum pendatang / urban. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah dengan adanya kawasan pelabuhan dan pabrik yang ada di Kelurahan Sidoharjo. Di kawasan pelabuhan banyak terdapat nelayan andon yang berasal dari Sulawesi, Tegal, Pekalongan dan dari Sendang Biru Malang. Sedikit banyak dengan kedatangan nelayan andon ini mempengaruhi kehidupan soial masyarakat setempat. Selain pelabuhan juga kawasan pabrik rokok yang terdapat di lingkungan Caruban dengan mayoritas pegawainya perempuan. Para pegawai ini bersal dari wilayah di Kabupaten Pacitan dan wilayah sekitar pacitan seperti Sukoharjo, Wonogiri dan Ponorogo.
F. Bencana Alam
Sebagai kawasan pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, wilayah Kelurahan Sidoharjo merupakan daerah rawan gempa, tsunami, banjir, gelombang tinggi dan angin kencang. Selain itu ada wilayah tertentu yang mempunyai ketinggian dengan lereng yang curam dan terjal.
Wilayah ini juga potensial dengan bencana tanah longsor.
Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang terjadi adalah dengan melakukan penyuluhan, sosialisasi serta penanaman tanaman sabuk hijau guna mengantisipasi bencana. Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sangat membantu upaya yang dilakukan pemerintah dalam kegiatan mitigasi bencana.
2.3.7Permasalahan Desa
Bina manusia
Permasalahan sosial yang paling menonjol adalah banyaknya pengangguran.
Bina Usaha
Tingkat perekonomian warga sudah relatif cukup bagus. Meskipun seperti itu bukan berarti tidak ada permasalahan. Permasalahan yang paling bisa kita cermati adalah tentang bagaimana caranya untuk pemecahan masalah
26 peningkatan taraf hidup masyarakat yang tergolong pra sejahtera menjadi sejahtera.
Bina Lingkungan dan Infrastruktur
Permasalahan infrastruktur yang paling utama di Kelurahan Sidoharjo adalah penyediaan infrastruktur jalan serta drainase yang masih jauh dari layak. Hal ini dapat dilihat jalan di pinggiran pantai/pesisir ada masih berupa jalan tanah.
Bina Siaga Bencana dan Perubahan Iklim
Kelurahan Sidoharjo merupakan salah satu desa yang terletak di pinggir pantai. Kemungkinan terjadinya gelombang tsunami yang diakibatkan gempa bumi sangat besar. Disamping itu setiap tahun banjir dari luapan air hujan maupun luapan dari sungai yang tanggulnya jebol juga sangat mungkin terjadi.
Bina Sumberdaya
Terjadinya degradasi aliran sungai di lingkungan Teleng dan Tamperan
2.3.8Rumusan Prioritas Masalah dan Pemecahan Masalah
Dalam strategi pencapaian ini permasalahan dan potensi desa yang telah diuraikan diatas ada beberapa tahapan strategi pencapaian dalam pembangunan yang akan dipakai sebagai pendekatan dalam mencapai visi dan misi desa.
Adapun tahapan strategi pencapaian dan pemecahan masalahan adalah sebagai berikut :
Tahap Pertama
Pada tahapan pertama ini tujuan atau sasaran yang hendak dicapai meliputi pengelolaan potensi desa secara terpadu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatkan kemampuan SDM (terutama pengelola/pelaku pembangunan) dan peningkatan sarana / prasarana pendukung, pendidikan dan kesehatan dengan memanfaatkan potensi dan lingkungan yang mendukung untuk mewujudkan tahap awal pelaksanaan Visi dan Misi Desa Kembang.
27 Tahap Kedua
Pada tahapan ini diharapkan semua daya dan upaya yang dilakukan dapat mewujudkan pemerintahan desa yang transparan, akuntable, demokratis, profesionalisme dari perangkat desa dalam pelayanan publik serta mendorong pembangunan ekonomi masyarakat dengan meningkatkan hasil produk unggulan melalui pembangunan desa.
2.3.9 Dampak Perubahan Iklim di Kelurahan Sidoharjo
Perubahan iklim yang terjadi telah dirasakan di berbagai belahan dunia. Hal ini dapat dirasakan dari pergantian musim yang terjadi. Saat ini pergantian musim telah mengalami perubahan waktu, dan hampir sulit untuk diprediksikan. Sebagai contoh adalah musim kemarau yang panjang, musim dingin yang lebih panjang dari biasanya maupun sebaliknya dan pergantian musim lainnya. Untuk di Indonesia perubahan iklim ditandai dengan pergeseran musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau yang lebih panjang dari waktu normalnya dapat berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian dan mempengaruhi ketersediaan pangan. Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia merupakan lahan pertanian yang menggantungkan kebutuhan airnya pada air hujan. Jika hujan tak datang tepat waktu, maka akan mempengaruhi produktivitas tanaman pertanian yang mana sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya. Demikian juga sebaliknya, jika musim penghujan lebih panjang dari biasanya maka akan mempengaruhi sektor yang lain dan bahkan bisa mengakibatkan terjadinya bencana, seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.
Wilayah pesisir juga merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan paras muka air laut. Kenaikan muka air laut ini mengakibatkan terkikisnya wilayah pesisir melalui abrasi dan semakin menggerus wilayah daratan. Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, karena
28 banyak lahan-lahan produktif yang hilang, pemukiman yang tergenang banjir dan bahkan ada pemukiman yang tenggelam.
Kelurahan Sidoharjo merupakan salah satu desa yang memiliki tingkat resiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Berdasarkan hasil indentifikasi, dampak yang dirasakan masyarakat antara lain :
Sering terjadi banjir jika hujan terlalu lama, sehingga membanjiri pemukiman warga.
Meluapnya air disekitar Bleber dan Tuban
Hasil tangkapan nelayan di laut dan hasil panen pembudidaya ikan di tambak menurun.
Dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat ini, memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pola hidup dan kesejahteraan masyarakat di lokasi terdampak. Untuk itu, dengan dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat di Kelurahan Sidoharjo ini, maka perlu kiranya dirumuskan suatu perencanaan yang tepat dan implementatif dalam upaya untuk bisa beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
29
BAB 3
METODE PENYUSUNAN
RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR
3.1 Kerangka Perencanaan
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa, Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa, dimana terdapat sinkronisasi dan sinergitas. Dokumen rencana pengembangan desa pesisir dibuat selama jangka waktu 5 (lima) tahun yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pengembangan desa. Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP) ditetapkan dengan Peraturan Desa. Perencanaan pengembangan desa pesisir disusun secara partisipatif oleh Pemerintah Desa sesuai dengan kewenangannya.
Dalam menyusun perencanaan pengembangan desa pesisir ini melibatkan kelembagaan masyarakat desa serta tokoh masyarakat.
Proses pelaksanaan penyusunan rancangan RPDP adalah sebagai berikut :
3.1.1 Tahap Persiapan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Pembentukan Tim Penyusun RPDP ;
2) Menyusun jadwal dan agenda pelaksanaan kegiatan penyusunan RPDP;
3) Mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai agenda musrenbang desa ;
4) Mengundang peserta musrenbang desa ;
5) Menyiapkan sarana,alat dan kegiatan penyusunan RPDP.
3.1.2 Pengkajian Keadaan Desa
Pengkajian keadaan desa ini adalah proses penggalian dan pengumpulan data mengenai keadaan masyarakat, masalah, potensi dan berbagai informasi
30 terkait,yang menggambarkan secara jelas dan lengkap kondisi dan dinamika masyarakat desa.
Kegiatan ini bertujuan untuk menggali secara objektif, lengkap dan cermat tentang :
1) Potensi desa.
2) Permasalahan yang dihadapi.
3) Kebutuhan masyarakat.
3.1.3 Pendekatan dan Metode
Pengkajian keadaan desa dilakukan secara partisipatif dengan menggunakan metode P3MD (Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat dan Desa).
3.1.4 Proses dan Alat Kaji
1) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan untuk mengenali potensi, masalah dan kebutuhan masyarakat dengan menggunakan dokumen profil desa;
2) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan pengelompokan potensi dan masalah;
3) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan pengkajian Tindakan Pemecahan Masalah ;
4) Memfasilitasi masyarakat dalam pertemuan melakukan penentuan peringkat tindakan.
3.1.5 Waktu Pelaksanaan
Durasi (lamanya) waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengkajian keadaan desa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan desa.
3.1.6 Hasil
Hasil dari Kegiatan ini merupakan penggabungan dari proses pengkajian keadaan di tingkat kelompok atau dukuh adalah :
1) Data Potensi Desa ;
31 2) Data Permasalahan ;
3) Data Kebutuhan Peringkat Tindakan.
3.2 Fokus Penyusunan
Fokus penyusunan dititikberatkan pada identifikasi masalah dan penyusunan peringkat masalah. Selama ini, program pembangunan masyarakat lebih banyak direncanakan oleh lembaga penyelenggara program tanpa melibatkan secara langsung warga masyarakat yang menjadi sasaran. Program demikian bersifat diturunkan dari atas ke bawah (top-down) artinya diturunkan dari pimpinan lembaga kepada pelaksanan dan masyarakat. Walaupun program semacam ini didasarkan pada proses „penjajagan kebutuhan‟ (Need Assessment) masyarakat.
Namun hal ini dilaksanakan hanya berdasarkan suatu survey atau penelitian akademis yang tidak melibatkan masyarakat secara berarti.
Berbagai kritik sering dilontarkan terhadap pola pengembangan program yang masih diturunkan dari atas ke bawah, antara lain:
Dalam pola tersebut sering terjadi ketidakcocokan antara para peneliti/pemrakarsa dan para pelaksana program. Penelitian yang terlalu akademis terlampau dipengaruhi oleh wawasan, pikiran dan pandangan penelitinya sendiri, Sehingga nilai terapannya sangat kurang. Dengan sendirinya program yang disusun berdasarkan penelitian itu tidak menyentuh kebutuhan-kebutuhan praktis yang sesungguhnya dirasakan masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam program yang “diturunkan “ berupa paket hanyalah sekedar sebagai pelaksana; masyarakat tidak merasa sebagai
“pemilik” program karena seringkali tidak melihat hubungan antara penelitian yang pernah dilakukan dan program yang akhirnya diturunkan. Dengan sendirinya dukungan masyarakat dengan adanya program seperti itu akan sangat berpura-pura, demikian pula partisipasi mereka.
Keterlibatan masyarakat hanya sebagai pelaksanan saja kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program karena prakarsa selalu datang dari luar dan keterampilan pengkajian, perencanaan dan pengorganisasian, tetap dimiliki orang luar.
32 Oleh karena itu dalam penyusunan perencanaan ini lebih memfokuskan kepada permasalahan-permasalahan yang ada di desa.
3.3 Pendekatan
3.3.1 Munculnya Pemikiran Tentang Pendekatan Partisipatif
Kritik dan alasan-alasan seperti itulah yang melahirkan beragam pemikiran tentang pendekatan pengembangan program yang lebih partisipatif. Istilah-istilah seperti “partisipasi masyarakat” dan “bottom-up planning” (perencanaan dari bawah atau dari masyarakat), pada saat ini sudah menjadi bagian yang lumrah dalam istilah para aktivis pembangunan masyarakat, baik dikalangan lembaga-lembaga swasta maupun dikalangan pemerintah.
Apabila masyarakat dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses program, selain program itu menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap program lebih tinggi,juga kertampilan,ketrampilan analisis dan perencanaan tadi dipindahkan kepada masyarakat. Dengan demikian, dimasa yang akan datang ketergantungan pada pihak luar dalam pengambilan prakarsa dan perumusan program secara bertahap akan bisa dikurangi.
3.3.2PRA Sebagai Pendekatan Alternatif
Tantangan yang kemudian dihadapi lembaga-lembaga ini adalah menemukan cara untuk mewujudkan pendekatan yang partisipatif secara praktis dilapangan. Pilihan (alternatif) yang kemudian dianggap layak dicoba adalah seperangkat metode dan teknik yang dikenal dengan Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pendekatan ini dianggap baik karena didasari prinsip-prinsip untuk mewujudkan partisipasi masyarakat, sekaligus memiliki teknik-teknik penerapannya.
Dengan demikian, secara garis besar latar belakang pengembangan metode PRA adalah :
a. Kebutuhan adanya metode kajian masyarakat yang „mudah‟
dilakukan untuk pengembangan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat setampat.
33 Seperti yang telah dijelaskan, PRA mencakup aspek penelitian, namun tekanan aspek ini bukan pada validitas ilmiah (kebenaran ilmu) dari data yang diperoleh, namun lebih pada penerapan prinsip pembelajaranmesyarakat pada nilai praktis pengembangan program masyarakat yang berasal dari masyarakat. PRA merancang proses dan visualisasi (alat peraga atau gambar) yang mudah ditangkap dan dapat dilaksanakan di tingkat desa maupun sarana seadanya, dengan harapan petani dapat memahami dan pada akhirnya dapat melakukan sendiri dengan peran orang luar yang minimal. Dari kacamata para akademisi, pendekatan penyederhanaan dan adaptasi teknik tersebut sering dikritik, karena dianggap mengabaikan kepepatan data dan ketajaman analisa.
Namun hal ini diimbangi dengan kejayaan informasi yang sangat lokal, seperti pandangan dan pengetahuan tradisional para petani sendiri.
b. Kebutuhan adanya pendekatan program pembangunan yang bersifat kemanusiaan dan berkelanjutan.
PRA adalah salah satu metode pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan pengembangan program pembangunan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai PELAKU AKTIF (SUBYEK) PEMBANGUNAN, yaitu sebagai
“peneliti” perencana, dan pelaksana program pembangunannya sendiri.
Dengan pelibatan tersebut, diharapkan agar tercapai PEMBERDAYAAN MASYARAKAT atau penguatan kemampuan masyarakat yang merupakan cita-cita dan misi utama metode PRA. Salah satu dari penguatan kemampuan itu adalah mendorong agar warga masyarakat mengembangkan alternatif (pilihan) pemecahan masalah, bukan hanya sekedar konsumen “pemecah”
masalah (teknologi) yang dikembangkan di lembaga-lembaga riset dan diterapkan kepada mereka oleh lembaga program. Dengan demikian, pembangunan akan bersifat berkelanjutan karena memperhatikan pembangunan manusia dan pengembangan teknologi sederhana (tepat guna), bukan hanya pembangunan fisik serta modernisasi berupa teknologi mutakhir
34 yang dikuasai oleh segelintir orang berpendidikan tinggi, sedang masyarakat banyak semakin susah.
c. Prinsip-prinsip PRA
Salah satu masalah dengan Penamaan atau istilah PRA adalah adanya anggapan bahwa PRA hanya sekedar metode „pengkajian‟ (oleh) masyarakat.
Sejumlah prinsip-prinsip dasar metode PRA yang diuraikan dibawah ini, memperhatikan adanya nilai-nilai atau keyakinan dalam PRA karena bukan hanya sekedar pengkajian atau panggilan informasi saja.
1. Prinsip-prinsip utama yang terabaikan (keberpihakan)
Sering terjadi dalam masyarakat, sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat. Karena itu, prinsip
Sering terjadi dalam masyarakat, sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat. Karena itu, prinsip