• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR

4.5 Rencana Zonasi 2011

4.5.1 Konsep Pengembangan Wilayah

Secara teoritis terdapat banyak alternatif dalam mengembangkan suatu wilayah perdesaan. Dalam konteks perencanaan wilayah desa pesisir di Kabupaten Pacitan ini maka konsep yang sesuai adalah konsep pengembangan kawasan sektoral.

Prinsip dasar dari konsep dari strategi bentuk desa yang sektoral adalah suatu pola peruntukan lahan yang terdiri atas pusat-pusat pelayanan yang jumlahnya lebih dari satu. Dengan demikian tiap pusat pelayanan memiliki jangkauan pelayanannya sendiri. Namun demikian, pusat-pusat pelayanan tersebut tidaklah memiliki hirarki yang sama. Pusat pelayanan yang termasuk kategori pusat desa biasanya memiliki hirarki yang lebih tinggi sedangkan pusat-pusat pelayanan lainnya memiliki hirarki lebih rendah. Pola peruntukan lahan yang demikian tampaknya berupaya menyempurnakan kondisi yang ada pada desa yang terbentuk secara linear (Ribbon Pattern) maupun kosentris. Implementasi dari konsep bentuk desa sektoral ini ialah :

a. Kawasan Pengembangan Desa Terpadu dibagi dalam 4 Bagian Wilayah Pengembangan (WP) dengan mempertegas pusat – pusat yang ada. Empat WP ini terpisah pada desa yang saat ini memiliki tingkat intensitas kegiatan tinggi atau memilki kecenderungan perkembangan yang tinggi, yaitu : Pusat Desa berada di sekitar lokasi Kantor Kecamatan yang ada di Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi primer sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa serta pelayanan umum. Lokasi ini juga menjadi pusat WP dengan penekanan fasilitas merata dengan WP lainnya.

83 b. Dalam konsep ini peranan tiap zona pengembangan meskipun dibagi atau disebarkan dalam pusat atau sub pusat yang lebih banyak tetap dapat difungsikan dengan peranan eksisting,

c. Pembangunan jalan lokal sekunder dengan tujuan pembentuk frame desa dan mempertegas fungsi pusat skala desa maupun skala zona pengembangan ataupun unit lingkungan.

d. Pola ini dipakai sebagai acuan dalam pengembangan kawasan. Pusat-pusat pelayanan yang lebih rendah ditempatkan pada lokasi-lokasi pengembangan Desa yang ditujukan untuk memacu perkembangan kawasan ke arah yang dikehendaki. Pola ini tampaknya sangat sesuai untuk pengembangan Kelurahan Sidoharjo.

Berdasarkan atas beberapa poin diatas, maka strategi yang digunakan dalam proses penyusunan rencana dalam tahap selanjutnya mengarah pada penyebaran lokasi pusat kegiatan secara merata pada seluruh wilayah perencanaan. Mengacu pada hal ini maka pemilahan wilayah perencanaan dalam bentuk WP adalah sebagai berikut :

A. Wilayah Pengembangan Utama.

Berpusat pada Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi utama untuk kegiatan perkantoran (Kantor Kecamatan), perdagangan dan jasa dan kegiatan berbasis sumberdaya pesisir seperti perikanan dan wisata bahari. Berdasarkan hasil analisis, Kelurahan Sidoharjo memiliki peran sebagai pusat kegiatan perekonomian di wilayah perencanaan. Di sisi lain, keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) akan menjadi pusat kegiatan pendaratan ikan serta pemasaran hasil perikanan di wilayah perencanaan. Kegiatan wisata bahari dapat dilakukan di sebelah timur muara sungai. Kondisi eksisting saat ini dimana telah ada pengembangan objek wisata pantai dapat sangat mendukung untuk pengembangan wisata bahari. Sedangkan fungsi sekunder dari Kelurahan Sidoharjo adalah untuk kegiatan pendidikan dan resapan air.

84 B. Wilayah Penyangga.

Wilayah Penyangga ini meliputi Kelurahan Ploso dengan fungsi utama untuk kegiatan perdagangan dan jasa, wisata bahari, dan permukiman. Kelurahan Ploso merupakan penghubung antara Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dalam koneksinya dengan Kelurahan Sidoharjo. Kelurahan Ploso dapat juga menjadi daerah target pemasaran hasil perikanan melalui pengembangan Kawasan Wisata Bahari di kelurahan tersebut. Fungsi Sekunder dari Kelurahan Ploso adalah untuk kegiatan pendidikan dan pertanian.

C. Wilayah Pendukung

Wilayah Pendukung ini meliputi Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dengan fungsi utama untuk kegiatan industri rumah tangga dengan produk unggulan terasi dan sale pisang, dan untuk kegiatan pertanian. Desa Kembang dikembangkan sebagai desa produksi bahan baku terasi untuk diolah di Desa Sirnoboyo sebagai desa pengolah hasil perikanan. Sedangkan fungsi sekunder wilayah pendukung adalah untuk kegiatan pendidikan, permukiman dan konservasi.

Gambar Peta 4.1

Konsep Pengembangan Wilayah

85 4.5.2 Rencana Struktur Ruang

A. RENCANA PUSAT PELAYANAN

Wilayah perencanaan merupakan desa – desa pesisir yang juga terdapat di Perkotaan Pacitan. Sehingga struktur ruang yang dibentuk harus dilandaskan dengan sumberdaya pesisir sekaligus memperhatikan kedudukannya terhadap Kawasan Perkotaan Pacitan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah. Seperti disebutkan sebelumnya, kedudukan Desa Sidoharjo sebagai WP Utama yang didukung oleh Desa Ploso, Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang. Pembagian pusat pelayanan di wilayah perencanaan dilandaskan pada konsep pengembangan wilayahnya dimana Kawasan Perkotaan Pacitan mempunyai struktur ruang yang linear yang awalnya pertumbuhan kota ini di sekitar pasar Perkotaan Pacitan kemudian menyebar mengikuti perkembangan secara linear kea rah Utara, Barat, Selatan dan timur.

Berdasarkan hal – hal tersebut maka struktur pusat pelayanan di wilayah perencanaan adalah sebagai berikut :

1. Pusat Pelayanan Utama; yaitu Kelurahan Sidoharjo yang terpusat di Dusun Barak dan Dusun Tuban sebagai pusat pelayanan administrasi (kantor kecamatan dan kantor kelurahan) serta pusat perdagangan dan jasa.

Jangkauan pelayanan dari Pusat Pelayanan Utama mencakup seluruh wilayah perencanaan. Pusat pelayanan Utama mempunyai sub pusat pelayanan yaitu : a. Sub Pusat Pelayanan Perikanan yang terpusat di PPP Tamperan dan TPI

sebagai pusat kegiatan berbasis sumberdaya perikanan dan pusat pendaratan ikan di wilayah perencanaan. Seluruh kegiatan pendaratan dan pemasaran hasil perikanan akan dipusatkan di PPP Tamperan dan TPI.

b. Sub Pusat Pelayanan Wisata yang terpusat di Dusun Teleng dan Barehan (Kelurahan Sidoharjo) dan wilayah pantai Kelurahan Ploso sebagai sentra kegiatan wisata pantai. Keberadaan kawasan wisata akan menimbulkan aktifitas ekonomi yang akan menarik tenaga kerja dan menjadi target pemasaran hasil – hasil perikanan.

86 2. Pusat Pelayanan Pendukung; yaitu Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang yang berpusat di Dusun Ngemplak (Desa Sirnoboyo) dan Dusun Krajan (Desa Kembang) sebagai pusat pelayanan administrasi dan pusat pengolahan hasil perikanan.

Pusat – pusat pelayanan ini harus didukung oleh jaringan infrastruktur di wilayah perencanaan.

B. RENCANA JARINGAN TRANSPORTASI

Jaringan transportasi mempunyai fungsi sebagai penghubung antar pusat/sub pusat pelayanan dan menghubungkan wilayah perencanaan dengan pusat kegiatan yang berada di luar wilayah perencanaan. Jaringan transportasi yang akan dikembangkan di wilayah perencanaan antara lain adalah sebagai berikut.

1. Jaringan Jalan Arteri Primer

2. Jaringan jalan arteri primer yang akan dikembangkan di wilayah perencanaan terkait dengan program nasional yaitu pengembangan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Jalan Arteri Primer tersebut menghubungkan Pacitan dengan Kabupaten – kabupaten di wilayah selatan Jawa. JJLS yang akan dibangun direncanakan melewati Kelurahan Ploso, Desa Kembang dan Desa Sirnoboyo.

Pembangunan JJLS akan mempermudah aksesibilitas antara Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang menuju Kelurahan Sidoharjo. Dengan adanya JJLS ini akan terbentuk simpul – simpul perdagangan baru dan meningkatkan nilai jual hasil – hasil sumberdaya pesisir seperti terasi, ikan dsb. Panjang jalan JJLS yang direncanakan adalah sekitar 4,75 kilometer. Pembangunan JJLS ini akan diikuti oleh pembangunan jembatan akan diikuti oleh pembangunan jembatan karena jalan tersebut akan melewati dua sungai yaitu Sungai Grindulu dan sungai kecil di Desa Sirnoboyo.

3. Jalan Kolektor Primer

4. Jaringan jalan kolektor primer yang dikembangkan di wilayah perencanaan terkait adalah jalan kolektor primer eksisting yang saat ini sudah ada yaitu Jl.

WR. Supratman dan Jl. Gatot Subroto. Jalan Kolektor Primer tersebut menghubungkan Perkotaan Pacitan dengan Kelurahan Sidoharjo dan

87 Kelurahan Ploso. Pengembangan jalan kolektor primer tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas jalan, pemberian jalur hijau, pemberian median jalan, pelebaran jalan serta pemberian trotoar. Hal tersebut diperlukan untuk mendukung pembangunan JJLS yang akan bersambung dengan jalan kolektor primer tersebut. Status jalan ini merupakan Jalan Nasional sehingga dalam pengembangannya harus dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Panjang jalan kolektor primer yang direncanakan adalah sekitar 5,8 kilometer.

5. Jalan Lokal

a. Jaringan jalan lokal antar/intra desa dikembangkan dengan melakukan pengaspalan dan peningkatan kualitas jalan. Pengaspalan dan peningkatan kualitas jalan dilakukan terutama pada jalan – jalan yang terkoneksi dengan jalan kolektor primer atau dengan jalan arteri primer.

Sedangkan jalan – jalan setapak pada saat ini akan ditingkatkan menjadi jalan lokal.

6. Pengembangan Terminal dan angkutan umum

7. Selain pengembangan jaringan jalan, untuk memperlancar aksesibilitas perlu dibangun jaringan angkutan umum dan simpul – simpulnya. Pengembangan jaringan angkutan umum diperlukan untuk menghubungkan desa – desa di wilayah perencanaan dalam fungsinya sebagai angkutan barang dan orang.

Rute angkutan umum yang dapat dikembangkan adalah rute Sirnoboyo – Kembang – Ploso – Teleng melewati JJLS. Rute lain yang juga dapat dikembangkan adalah rute Terminal Pacitan – Teleng. Dengan adanya rute angkutan umum ini maka akses menuju kawasan wisata pantai dapat lebih mudah. Untuk mendukung pengembangan rute tersebut perlu dibangun terminal dengan skala lokal/terminal tipe C. Terminal ini dibangun dekat dengan Pantai Teleng yang merupakan ujung barat Teluk Pacitan dan di Desa Sirnoboyo. Terminal yang sudah ada saat ini adalah terminal tipe A yang terdapat di Jalan Gatot Subroto – Kelurahan Ploso. Terminal ini melayani rute – rute antar Provinsi yang menghubungkan Pacitan dengan Solo dan kota – kota lain di Jawa Timur.

88 8. Alur Pelayaran

Selain pengembangan transportasi darat, di wilayah perencanaan juga dikembangkan alur pelayaran. Alur pelayaran ini menghubungkan antara Desa Kembang dan PPP Tamperan. Hal ini dimaksudkan agar nelayan – nelayan di Desa Kembang dan Sidoharjo dapat mendaratkan ikan di PPP Tamperan.

Alur lain yang dikembangkan adalah alur untuk mengakses PPP Tarempa dari luar Teluk Pacitan. Koordinat Alur Pelayaran tersebut yaitu :

a. Alur Pelayaran Keluar/Masuk Pelabuhan Perikanan dari/menuju perairan lepas. Dengan koordinat :

 111° 04‟ 37‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 04‟ 51‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 05‟ 01‟‟ BT / 08° 13‟ 58‟‟

 111° 05‟ 01‟‟ BT / 08° 14‟ 49‟‟

b. Alur Pelayaran Lokal dari/menuju Pelabuhan Perikanan – Sungai Girindulu.

Dengan koordinat :

 111° 06‟ 13‟‟ BT / 08° 14‟ 01‟‟

 111° 06‟ 02‟‟ BT / 08° 14‟ 04‟‟

 111° 04‟ 51‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 04‟ 37‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

Gambar Peta 4.2 Rencana Struktur Ruang

89 4.5.3 Rencana Pola Ruang

A. RENCANA KAWASAN LINDUNG

Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Luas keseluruhan Rencana Kawasan Lindung sebesar 748,74 ha. Rencana Kawasan Lindung di wilayah perencanaan mencakup:

a. Zona Resapan Air; terdapat di dua kelurahan/desa yaitu di Kelurahan Sidoharjo dan Desa Kembang

b. Zona Sempadan Sungai; terdapat di Desa Kembang dan Desa Sirnoboyo

c. Zona Sempadan Pantai; terdapat di Kelurahan Sidoharjo, Kelurahan Ploso dan Desa Kembang

d. Zona Konservasi Ekosistem Muara Sungai; di Desa Kembang

Arahan Pengelolaan Zona Resapan Air mencakup :

a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada;

c. Kegiatan yang diperbolehkan adalah untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekowisata sepanjang tidak mengganggu fungsi lindung serta mempertahankan pertanian lahan kering yang ada.

d. Tidak diizinkan melakukan pemanfaatan ruang yang mengubah bentang alam, mengganggu kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologis serta kelestarian flora dan fauna pada zona resapan air

e. Pengendalian fungsi hidrologis Zona Resapan Air yang telah mengalami kerusakan melalui rehabilitasi dan konservasi;

f. Penataan batas di lapangan untuk memudahkan pengendaliannya; dan g. Reboisasi pada kawasan yang mengalami kritis lingkungan.

90 Arahan Pengelolaan Zona Sempadan Pantai mencakup :

1. Zona sempadan pantai terbuka bagi akses publik

2. Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi 3. Pemberian sanksi tegas terhadap segala bentuk pengrusakan dan

pemanfaatan tanpa memenuhi ketentuan yang diberlakukan

4. Pemberian pendidikan kepada masyarakat mengenai arti penting sempadan pantai

5. Semua jenis kegiatan penambangan dan kegiatan lain yang berpotensi merusak sempadan pantai dilarang

6. kegiatan atau bangunan yang diperbolehkan di zona sempadan pantai, mencakup :

a. kegiatan yang tidak berdampak negatif terhadap fungsi lindungnya mencakup : obyek wisata, rekreasi pantai, olahraga pantai, kegiatan terkait perikanan tangkap, kegiatan pertanian lahan basah, budidaya perikanan, dan kegiatan ritual keagamaan;

b. Bangunan bangunan fasilitas penunjang pariwisata non permanen dan temporer, bangunan umum terkait sosial keagamaan, bangunan terkait kegiatan perikanan tradisional, budidaya perikanan dan dermaga, bangunan pengawasan pantai, bangunan pengamanan pantai dari abrasi, bangunan evakuasi bencana, dan bangunan terkait pertahanan dan keamanan;

Arahan Pengelolaan Zona Sempadan Sungai mencakup :

1. Pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air

2. Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi

3. Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah banjir 4. Pemberian sanksi tegas terhadap segala bentuk pengrusakan dan

pemanfaatan tanpa memenuhi ketentuan yang diberlakukan

91 5. Pemberian pendidikan kepada masyarakat mengenai arti penting sempadan

sungai

6. Semua jenis kegiatan penambangan dan kegiatan lain yang berpotensi merusak sempadan sungai dilarang

7. kegiatan atau bangunan yang diperbolehkan di kawasan sempadan sungai yaitu kegiatan yang tidak berdampak negatif terhadap fungsi lindungnya antara lain pendidikan dan penelitian. penambatan perahu, rekreasi, pertanian, dan kegiatan keagamaan.

Arahan Pengelolaan Zona Perlindungan Muara Sungai mencakup : 1. Pelarangan kegiatan pembangunan yang bersifat massal dan intensif

2. Pemberian sanksi tegas terhadap segala bentuk pengrusakan dan pemanfaatan tanpa memenuhi ketentuan yang diberlakukan

3. Pelarangan semua jenis kegiatan penambangan dan kegiatan lain yang berpotensi merusak ekosistem muara sungai

4. Kegiatan atau bangunan yang diperbolehkan di Zona Perlindungan Muara Sungai, mencakup :

a. kegiatan yang tidak berdampak negatif terhadap fungsi lindungnya mencakup : penelitian dan pendidikan, wisata alam terbatas, kegiatan terkait perikanan tangkap skala kecil, dan kegiatan ritual keagamaan;

b. Bangunan fasilitas penunjang pariwisata non permanen dan temporer, bangunan terkait kegiatan perikanan tradisional, serta bangunan non permanen untuk penelitian.

Arahan Pengelolaan Zona Ruang Terbuka Hijau mencakup :

1. Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau untuk kegiatan rekreasi dan interaksi sosial 2. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan

rekreasi dan fasilitas umum lainnya;

3. Pelarangan pendirian bangunan selain yang disebut pada poin 2.

92 Gambar Peta 4.3

Rencana Kawasan Lindung

B. Rencana Kawasan Budidaya

Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Luas keseluruhan Rencana Kawasan Budidaya sebesar 1.183,70 ha. Rencana Kawasan Budidaya di wilayah perencanaan mencakup:

a. Zona Pertanian; terdapat di seluruh desa/kelurahan di wilayah perencanaan b. Zona Permukiman; terdapat di seluruh desa/kelurahan di wilayah perencanaan c. Zona Perdagangan/jasa/perkantoran; terdapat di seluruh desa/kelurahan di

wilayah perencanaan

d. Zona Fasilitas Umum/Sosial; terdapat di seluruh desa/kelurahan di wilayah perencanaan

e. Zona Wisata Pantai; terdapat di Kelurahan Sidoharjo dan Kelurahan Ploso f. Zona Prasarana Perikanan; terdapat di Kelurahan Sidoharjo dan Desa

Kembang

93 g. Zona Perikanan Budidaya Tambak; terdapat di Kelurahan Sidoharjo dan Desa

Kembang

h. Zona Industri/Pergudangan; terdapat di Kelurahan Sidoharjo i. Zona Pertahanan Keamanan; terdapat di Kelurahan Sidoharjo

Arahan Pengelolaan Sub Zona Pertanian Lahan Basah mencakup : a. Mengamankan kawasan persawahan sebagai sawah abadi

b. Mempertahankan dan memelihara jaringan irigasi pada kawasan persawahan c. Pembatasan alih fungsi lahan sawah beririgasi untuk kegiatan pemanfaatan

umum lainnya, kecuali untuk fasilitas umum/sosial yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

d. Pemerintah Daerah dan masyarakat wajib menjaga keberlangsungan pasokan air bagi lahan persawahan

Arahan Pengelolaan Sub Zona Pertanian Lahan Kering mencakup : a. Mengembangkan komoditas sesuai dengan kebutuhan pasar

b. Diversifikasi tanaman dapat dilaksanakan sepanjang persyaratan teknis terpenuhi

Arahan Pengelolaan Sub Zona Permukiman Kepadatan Menengah - Tinggi mencakup antara lain :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan bangunan perumahan tahan gempa

c. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan d. Pelarangan pendirian tempat hiburan dan pertokoan

e. Kegiatan perdagangan yang diperbolehkan adalah kegiatan perdagangan yang berskala rumah tangga seperti warung

Arahan Pengelolaan Sub Zona Permukiman Kepadatan Rendah mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

94 b. Pengembangan bangunan perumahan tahan gempa

c. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan

d. Pembatasan kepadatan penduduk pada kisaran 600 jiwa/km atau 6 jiwa/ha e. Pelarangan pendirian tempat hiburan dan pertokoan

f. Kegiatan perdagangan yang diperbolehkan adalah kegiatan perdagangan yang berskala rumah tangga seperti warung

Arahan Pengelolaan Zona Perdagangan/Jasa/Perkantoran mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan bangunan tahan gempa

c. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan

d. Pendirian minimarket, pertokoan serba ada, mall, dan sejenisnya minimal berjarak 500 meter dari pasar tradisional

e. Perbaikan lingkungan pasar tradisional menjadi pasar yang bersih dan higienis f. Setiap bangunan usaha/jasa/perkantoran harus menyediakan fasilitas parkir

yang cukup

Arahan Pengelolaan Zona Fasilitas Umum/Sosial mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan bangunan tahan gempa

c. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan

d. Setiap bangunan fasilitas umum/sosial yang berfungsi untuk pertemuan/mobilisasi massa harus menyediakan fasilitas parkir yang cukup

Arahan Pengelolaan Sub Zona Wisata Pantai mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan atraksi wisata budaya, kegiatan wisata outdoor, dan wisata bahari

95 c. Pemanfaatan sempadan pantai sebagai tempat rekreasi

d. Penyediaan lahan parkir yang mencukupi

e. Pembentukan penjaga pantai (life-guards) untuk menjamin keamanan wisatawan

Arahan Pengelolaan Sub Zona Amenitas Wisata mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan bangunan tahan gempa

c. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan d. Penyediaan lahan parkir yang mencukupi

e. Pendirian tempat hiburan harus memperhatikan peraturan daerah yang berlaku dan memperhatikan norma – norma yang berlaku

Arahan Pengelolaan Zona Prasarana Perikanan mencakup :

a. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih, persampahan, air limbah

b. Pengembangan bangunan tahan gempa c. Penyediaan lahan parkir yang cukup

d. Pengembangan kegiatan pelelangan ikan sebagai daya tarik wisata

e. Pengintegrasian kegiatan wisata dengan pemasaran hasil perikanan seperti pembangunan wisata kuliner berbasis hasil perikanan

f. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan

g. Pengembangan fasilitas pelabuhan perikanan sesuai dengan standar kelas pelabuhan perikanan

h. Penetapan pendaratan ikan harus di pelabuhan perikanan i. Kegiatan yang dilarang di pelabuhan perikanan :

1. Pembangunan konstruksi bangunan selain untuk kegiatan kepelabuhanan dan navigasi

2. Seluruh kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan pelayaran atau kepelabuhanan yang telah ditentukan dengan peraturan yang berlaku

96 Arahan Pengelolaan Zona Perikanan Budidaya Tambak mencakup :

a. Pemanfaatan pesisir untuk budidaya tambak harus seijin Dinas Perikanan dan Kelautan

b. Penguatan dan pengembangan teknologi usaha budidaya perikanan

c. Penguatan dan pengembangan kapasitas pasca usaha budidaya perikanan d. Penguatan dan pengembangan kapasitas sarana prasarana budidaya

perikanan

e. Menarik investor untuk mengembangkan budidaya perikanan

f. Pengembangan intensifikasi tambak – tambak yang telah berproduksi g. Revitalisasi tambak – tambak yang sudah tidak berfungsi

h. Pengendalian limbah tambak dan usaha pembenihan i. Kegiatan yang dilarang :

1. Pembuangan limbah tanpa penanganan 2. Penggunaan bahan kimia berbahaya

Arahan Pengelolaan Zona Industri dan Pergudangan mencakup :

a. Zona industri diprioritaskan untuk mengolah bahan baku lokal menggunakan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di Kabupaten Pacitan b. Pengembangan jaringan infrastruktur dasar seperti prasarana listrik, air bersih,

persampahan, air limbah

c. Pengembangan bangunan tahan gempa

d. Penerapan syarat – syarat pendirian dan penggunaan bangunan e. Penyediaan lahan parkir yang cukup

f. Kegiatan yang dilarang :

1. Pembuangan limbah tanpa penanganan 2. Penggunaan bahan kimia berbahaya

97 Gambar Peta 4.4

Rencana Kawasan Budidaya

C. Rencana Kawasan Pemanfaatan Umum

Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari wilayah pesisir yang ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan. Luas keseluruhan Rencana Kawasan Pemanfaatan Umum sebesar 1.183,70 ha. Rencana Kawasan Pemanfaatan Umum di wilayah perencanaan mencakup:

a. Zona Wisata Bahari

b. Zona Keamanan Pelabuhan Perikanan c. Zona Keamanan Alur Pelayaran

d. Zona Perikanan Tangkap Jalur 1 – A

Arahan Pengelolaan Zona Wisata Bahari mencakup :

a. Pengembangan kegiatan wisata outdoor, dan wisata minat khusus b. Pengembangan sarana kegiatan wisata bahari

98 c. Pembentukan penjaga pantai (life-guards) untuk menjamin keamanan

wisatawan

d. Kegiatan penangkapan ikan secara tradisional atau menggunakan perahu dengan ukuran kurang dari 5 GT diperbolehkan selama tidak mengganggu kenyamanan dan keselamatan kegiatan wisata bahari

e. Kegiatan yang dilarang :

1. Kegiatan perikanan dengan menggunakan alat yang ditanam/diletakkan secara permanen

2. Kegiatan pengambilan/penambangan bahan/material pesisir

3. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan perahu/kapal dengan ukuran diatas 5 GT

Arahan Pengelolaan Zona Keamanan Pelabuhan Perikanan mencakup :

a. Pembangunan konstruksi bangunan selain untuk kegiatan kepelabuhanan dan navigasi dilarang

b. Seluruh kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan pelayaran atau kepelabuhanan dilarang

c. Kegiatan perikanan dengan menggunakan alat yang ditanam/diletakkan secara permanen dilarang

d. Pengambilan/penambangan bahan/material pesisir kecuali untuk kepentingan kepelabuhanan dilarang

e. Kegiatan penangkapan ikan diperbolehkan selama tidak mengganggu keamanan dan keselamatan kegiatan kepelabuhanan dan/atau pelayaran

Arahan Pengelolaan Zona Keamanan Pelayaran mencakup :

a. Kegiatan / bangunan yang diperbolehkan hanya untuk kegiatan pelayaran, rambu – rambu navigasi pelayaran dan kegiatan penangkapan ikan selama tidak mengganggu kegiatan pelayaran

b. Kegiatan / bangunan yang dilarang adalah : - Kegiatan perikanan budidaya

99 - Bangunan / konstruksi yang bersifat permanen / menetap selain untuk

rambu – rambu navigasi pelayaran

rambu – rambu navigasi pelayaran