• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Dan Strategi Pemanfaatan Kawasan Budidaya

BAB 3 METODE PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN DESA PESISIR

4.3 RDTRK Kecamatan Pacitan 2009-2029

4.3.3 Kebijakan Dan Strategi Pemanfaatan Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya yang ada di Perkotaan Pacitan ditinjau dari luas lahannya sebagian besar adalah kawasan permukiman dan pertanian /tegalan. Kawasan yang mengalami perkembangan cukup besar adalah: permukiman sedangkan yang menunjukkan proses perkembangan cukup tinggi adalah kegiatan perdagangan. Oleh karena itu pengembangan kawasan budidaya ini perlu ditunjang oleh adanya strategi terhadap keseimbangan perkembangan dan keserasian lingkungan yang ditunjang oleh pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan dan mempermudah kegiatan perekonomiaan. Maka strategi yang perlu dilakukan dalam rangka pemanfaatan kawasan budidaya di Perkotaan Pacitan adalah sebagai berikut:

 Pengembangan dan pembangunan infrastruktur yang akan menunjang pemanfaatan kawasan budidaya perlu dilakukan agar dalam pemanfaatan kawasan budidaya tersebut dapat memberikan hasil yang optimal

 Pemanfaatan kawasan budidaya yang ada perlu disesuaikan dengan kondisi fisik yang mendukungnya

 Pemanfaatan kawasan budidaya yang lokasinya berdekatan dengan kawasan lindung perlu pengawasan yang cukup ketat

 Pemanfaatan kawasan budidaya dilakukan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat

 Pemanfaatan kawasan budidaya diharapkan tidak mengganggu ekosistem yang ada.

76 4.3.4 Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah Sistem prasarana wilayah di Perkotaan Pacitan terdiri atas transportasi, listrik, telekomunikasi, sumberdaya air, drainase dan sistem prasarana lingkungan.

Dampak dari perkembangan wilayah menuntut adanya dukungan sarana dan prasarana wilayah yang memadai sebagai kelengkapan wilayah yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian perkembangan sistem prasarana wilayah memerlukan sebuah strategi untuk pengembangannya, antara lain dengan mengintegrasikan satu sistem prasarana dengan prasarana lainnya, sehingga setiap perkembangan wilayah dengan seluruh aspek yang timbul dapat ditunjang oleh sistem prasarana yang memadai.

A. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Transportasi

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Transportasi di Perkotaan Pacitan adalah :

1. Kebijakan optimalisasi fungsi jaringan jalan dan moda transportasi darat di Perkotaan Pacitan. Strategi pengembangan transportasi jalan dan moda darat antara lain :

a. Membuat alternatif pengembangan sistem transportasi yang baru pada wilayah yang mempunyai tingkat perkembangan kegiatan fungsional sangat tinggi dan pada ruas-ruas jalan yang sering terjadi kemacetan lalu lintas

b. Peningkatan jaringan jalan dengan pelebaran atau membuat alternatif/jalan baru

c. Penetapan jalan sesuai dengan fungsi, kapasitas dan tingkat pelayanannya d. Meningkatkan peran jalan arteri primer (Jalur Lintas Selatan) dan kolektor

primer

e. Pengaturan dan perencanaan pemisahan moda transportasi terutama untuk menghindari masuknya angkutan luar kota ke dalam wilayah perkotaan sehingga dapat mengurangi masalah transportasi (kemacetan) dalam wilayah perkotaan

77 2. Kebijakan pengembangan pelabuhan Perkotaan Pacitan. Strategi

pengembangan pelabuhan antara lain :

a. Pengembangan sarana prasarana pendukung pelabuhan umum.

b. Pengembangan pelayaran untuk kegiatan bongkar muat barang.

c. Penyiapan lahan dan infrastruktur penunjang pelabuhan.

d. Menyiapkan lembaga pengelola pengembangan pelabuhan yang profesional untuk mendukung rencana pengembangan pelabuhan.

e. Pengembangan fungsi pertahanan dan keamanan wilayah Pantai Selatan.

B. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Energi

Dengan berlakunya UU No. 20 Tahun 2002 tentang Kelistrikan di Indonesia, dimana sejak berlakunya UU tersebut telah terjadi perubahan struktur organisasi PT. PLN Indonesia sebagai satu-satunya penyelenggara kelistrikan di Indonesia.

Kebijakan dalam pengembangan sumberdaya energi adalah optimalisasi tingkat pelayanan, perluasan jangkauan listrik sampai menjangkau wilayah kota. Strategi yang dilakukan terkait dengan kebijakan tersebut antara lain :

a. Mengembangkan dan menyediakan tenaga listrik yang memenuhi standar mutu dan keandalan yang berlaku

b. Pembangunan instalasi baru, pengoperasian instalasi penyaluran dan peningkatan jaringan distribusi

c. Peningkatan jaringan listrik ke seluruh wilayah perkotaan

d. Mengembangkan sumberdaya energi secara optimal dan efisien dengan memanfaatkan sumber energi domestik serta energi yang bersih, ramah lingkungan dan teknologi yang efisien, guna menghasilakan nilai tambah untuk pembangkitan tenaga listrik sehingga terjamin tersedianya tenaga listrik yang diperlukan.

e. Pengembangan sumberdaya energi dengan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi wilayah, misalnya sumber energi tenaga angin, sinar matahari maupun ombak.

78 f. Pengembangan kegiatan industri juga harus diantisipasi dengan perencanaan

jaringan distribusi energi gas yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor industri.

C. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Telekomunikasi

Berdasarkan UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yaitu liberalisasi penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia oleh berbagai macam penyelenggara (provider), sehingga masyarakat semakin mendapatkan banyak pilihan pelayanan telekomunikasi. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha pertelekomunikasian di Jawa Timur, dimana Perkotaan Pacitan merupakan salah satu sasaran tumbuhnya pemakai jasa telekomunikasi, maka bisa diperkirakan bahwa kebutuhan masyarakat akan jasa layangan telekomunikasi akan semakin tinggi. Kebijakan terkait dengan pengembangan telekomunikasi yaitu peningkatan jangkauan pelayanan dan kemudahan mendapatkannya serta kebijakan terhadap peningkatan jumlah dan mutu telematika tiap wilayah. Strategi pengembangan telekomunikasi di Perkotaan Pacitan ditekankan pada:

a. Wilayah yang memiliki potensi tumbuhnya kegiatan ekonomi baru

b. Mengembangkan jaringan primer (backbone) pada wilayah-wilayah potensial dengan menggunakan jaringan kabel tanam berkapasitas tinggi (Fibre optic) c. Mengembangkan fasilitas telekomunikasi di seluruh wilayah kota sebagai

tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan telekomunikasi kepada seluruh lapisan masyarakat

d. Mengembangkan teknologi modern (pengembangan sambungan tanpa kabel) untuk meningkatkan luas daerah pelayanan, khususnya wilayah yang secara geografis memiliki lokasi yang sulit.

e. Berkembangnya telepon tanpa kabel (handphone) yang didukung dengan pembangunan tower-tower penguat sinyal harus diantisipasi dengan peraturan pembangunan tower telekomunikasi. Hal ini bertujuan agar permasalahan-permasalahan akibat ketidakteraturan pembangunan tower telekomunikasi yang mengganggu kawasan permukiman terdekat dapat diantisipasi.

79 D. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Air

Kebijakan terkait dengan pengembangan sumberdaya air di Perkotaan Pacitan ditekankan pada peningkatan sistem jaringan pengairan/irigasi serta optimalisasi fungsi dan pelayanan prasarana pengairan. Strategi untuk pengembangan sumberdaya air di Perkotaan Pacitan adalah:

a. Pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi

b. Meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya melestarikan kawasan resapan air untuk menjaga ketersediaan air tanah yang berpengaruh terhadap volume prasarana penampung air.

c. Perlindungan terhadap sumber-sumber mata air dan daerah resapan.

d. Mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi.

e. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung.

E. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Prasarana Lingkungan

Kebijakan terkait dengan pengembangan prasarana lingkungan di Perkotaan Pacitan antara lain mereduksi sumber timbunan sampah sejak awal, optimalisasi tingkat pelayanan sampah perkotaan, kebijakan penetapan ruang terbuka hijau (RTH), kebijakan menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih. Sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas lingkungan di Perkotaan Pacitan, diperlukan strategi dengan tujuan memberikan solusi terkait dengan pengelolaan lingkungan.

Adapaun strategi tersebut adalah:

a. Meminimalisasi penggunaan sumber timbunan sampah yang sukar didaur ulang secara alamiah.

b. Memanfaatkan ulang sapah (recycle) yang ada terutama yang memiliki nilai ekonomi.

c. Mengolah sampah organik menjadi kompos.

d. Pembangunan tempat pembuangan akhir yang dikelola dengan baik dengan lokasi jauh dari pemukiman

e. Meningkatkan teknologi pengkomposan sampah organik, teknologi daur ulang sampah non organik serta teknologi sanitary landfill

80 f. Pengelolaan lingkungan buatan ditekankan pada pengendalian pencemaran baik di daerah perkotaan terutama yang berkaitan dengan perlindungan mutu air tanah, laut dan udara serta pengelolaan limbah B-3 secara terpadu.

g. Pengadaan taman dan hutan kota.

h. Penetapan luasan RTH perkotaan minimum 30% dari luas area.

i. Pengembagan jenis RTH dengan berbagai fungsinya.

4.4 Rencana Strategis Wilayah Pesisir Kabupaten Pacitan 4.4.1 Visi dan Misi Pengelolaan Wilayah Pesisir

Dengan mempertimbangkan dinamika pembangunan nasional dan arah kebijakan pembangunan di daerah baik pada saat ini maupun yang akan datang, serta kecenderungan terjadinya perubahan global, sebagai unsur peluang atau ancaman serta kondisisarana dan prasarana, sumberdaya manusia, sumberdaya alam wilayahpesisir sebagai unsur kekuatan atau kelemahan. Maka disusun suatu visi dan misi pembangunan pesisir.

Visi ini merupakan sari dari Visi Kabupaten Pacitan yaitu “Terwujudnya Masyarakat Pacitan yang Maju, Adil dan Sejahtera, Religius dan Berbudaya”.

Ditambah dengan isu pengelolaan wilayah pesisir yangdiformulasikan berdasarkan konsultasi publik dengan berbagai stakeholders(pemerintah dan non pemerintah). Dengan mengacu pada hal tersebut diatas maka ditetapkan visi dari pembangunan wilayah pesisir Kabupaten Pacitan adalah :

”Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”.

Berdasarkan Visi pembangunan wilayah pesisir tersebut di atas maka ditetapkan Misi dari pembangunan wilayah pesisir kabupaten Pacitan sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir yang berwawasan lingkungan 2. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui Penguasaan Teknologi

dalam pengelolaan sumberdaya pesisir

81 3. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir bagi peningkatan

kesejahtaraan Masyarakat di wilayah pesisir

4. Meningkatkan fungsi pengawasan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir

4.4.2 Kebikjakan Pengelolaan Wilayah Pesisir

Kebijakan pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu dari tahap perencanaan, pengelolaan hingga pengawasan dan pengendalian. Berdasarkan isu yang ada, maka kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dilakukan antara lain:

1. Pola Penggunaan Lahan dan Perairan

Pola penggunaan lahan pada kawasan pesisir memiliki hubungan intensif antara air dan elemen kota. Pola tata guna lahan merupakan suatu upaya dalam merencanakan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu. Rencana tentang tata guna lahan merupakan kerangka kerja yang menetapkan keputusan-keputusan tentang keterkaitan antara lokasi, kegiatan/aktifitas, dan manusia.

2. Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Kawasan Pesisir

Wilayah pesisir Kabupaten Pacitan berbatasan langsung dengan pantai selatan Pulau Jawa, dengan karakteristik gelombang yang cukup besar rata-rata melebihi 1,5 m di tepi pantai, sedangkan karakteristik pantainya berpasir dari yang landai sampai curam. Pengembangan tata ruang kawasan pesisir sebaiknya memperhatikan garis sempadan pantai. Kondisi sempadan pantai kawasan pesisir Pacitan saat ini telah mengalami perubahan fungsi. Perubahan tersebut terlihat dari beberapa bangunan yang didirikan di sempadan pantai, baik permanen maupun semi permanen. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 17 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP-3K) yang menjelaskan bahwa sempadan pantai merupakan salah satu kawasan konservasi yang harus dijaga kelestariannya, dilindungi, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang

82 lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa sempadan pantai Pacitan seharusnya dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai lahan yang bermuatan ekonomis tetapi juga menjadi salah satu upaya penanganan mitigasi bencana bagi kawasan pesisir dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

4.5 Rencana Zonasi 2011

4.5.1 Konsep Pengembangan Wilayah

Secara teoritis terdapat banyak alternatif dalam mengembangkan suatu wilayah perdesaan. Dalam konteks perencanaan wilayah desa pesisir di Kabupaten Pacitan ini maka konsep yang sesuai adalah konsep pengembangan kawasan sektoral.

Prinsip dasar dari konsep dari strategi bentuk desa yang sektoral adalah suatu pola peruntukan lahan yang terdiri atas pusat-pusat pelayanan yang jumlahnya lebih dari satu. Dengan demikian tiap pusat pelayanan memiliki jangkauan pelayanannya sendiri. Namun demikian, pusat-pusat pelayanan tersebut tidaklah memiliki hirarki yang sama. Pusat pelayanan yang termasuk kategori pusat desa biasanya memiliki hirarki yang lebih tinggi sedangkan pusat-pusat pelayanan lainnya memiliki hirarki lebih rendah. Pola peruntukan lahan yang demikian tampaknya berupaya menyempurnakan kondisi yang ada pada desa yang terbentuk secara linear (Ribbon Pattern) maupun kosentris. Implementasi dari konsep bentuk desa sektoral ini ialah :

a. Kawasan Pengembangan Desa Terpadu dibagi dalam 4 Bagian Wilayah Pengembangan (WP) dengan mempertegas pusat – pusat yang ada. Empat WP ini terpisah pada desa yang saat ini memiliki tingkat intensitas kegiatan tinggi atau memilki kecenderungan perkembangan yang tinggi, yaitu : Pusat Desa berada di sekitar lokasi Kantor Kecamatan yang ada di Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi primer sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa serta pelayanan umum. Lokasi ini juga menjadi pusat WP dengan penekanan fasilitas merata dengan WP lainnya.

83 b. Dalam konsep ini peranan tiap zona pengembangan meskipun dibagi atau disebarkan dalam pusat atau sub pusat yang lebih banyak tetap dapat difungsikan dengan peranan eksisting,

c. Pembangunan jalan lokal sekunder dengan tujuan pembentuk frame desa dan mempertegas fungsi pusat skala desa maupun skala zona pengembangan ataupun unit lingkungan.

d. Pola ini dipakai sebagai acuan dalam pengembangan kawasan. Pusat-pusat pelayanan yang lebih rendah ditempatkan pada lokasi-lokasi pengembangan Desa yang ditujukan untuk memacu perkembangan kawasan ke arah yang dikehendaki. Pola ini tampaknya sangat sesuai untuk pengembangan Kelurahan Sidoharjo.

Berdasarkan atas beberapa poin diatas, maka strategi yang digunakan dalam proses penyusunan rencana dalam tahap selanjutnya mengarah pada penyebaran lokasi pusat kegiatan secara merata pada seluruh wilayah perencanaan. Mengacu pada hal ini maka pemilahan wilayah perencanaan dalam bentuk WP adalah sebagai berikut :

A. Wilayah Pengembangan Utama.

Berpusat pada Kelurahan Sidoharjo dengan fungsi utama untuk kegiatan perkantoran (Kantor Kecamatan), perdagangan dan jasa dan kegiatan berbasis sumberdaya pesisir seperti perikanan dan wisata bahari. Berdasarkan hasil analisis, Kelurahan Sidoharjo memiliki peran sebagai pusat kegiatan perekonomian di wilayah perencanaan. Di sisi lain, keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) akan menjadi pusat kegiatan pendaratan ikan serta pemasaran hasil perikanan di wilayah perencanaan. Kegiatan wisata bahari dapat dilakukan di sebelah timur muara sungai. Kondisi eksisting saat ini dimana telah ada pengembangan objek wisata pantai dapat sangat mendukung untuk pengembangan wisata bahari. Sedangkan fungsi sekunder dari Kelurahan Sidoharjo adalah untuk kegiatan pendidikan dan resapan air.

84 B. Wilayah Penyangga.

Wilayah Penyangga ini meliputi Kelurahan Ploso dengan fungsi utama untuk kegiatan perdagangan dan jasa, wisata bahari, dan permukiman. Kelurahan Ploso merupakan penghubung antara Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dalam koneksinya dengan Kelurahan Sidoharjo. Kelurahan Ploso dapat juga menjadi daerah target pemasaran hasil perikanan melalui pengembangan Kawasan Wisata Bahari di kelurahan tersebut. Fungsi Sekunder dari Kelurahan Ploso adalah untuk kegiatan pendidikan dan pertanian.

C. Wilayah Pendukung

Wilayah Pendukung ini meliputi Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang dengan fungsi utama untuk kegiatan industri rumah tangga dengan produk unggulan terasi dan sale pisang, dan untuk kegiatan pertanian. Desa Kembang dikembangkan sebagai desa produksi bahan baku terasi untuk diolah di Desa Sirnoboyo sebagai desa pengolah hasil perikanan. Sedangkan fungsi sekunder wilayah pendukung adalah untuk kegiatan pendidikan, permukiman dan konservasi.

Gambar Peta 4.1

Konsep Pengembangan Wilayah

85 4.5.2 Rencana Struktur Ruang

A. RENCANA PUSAT PELAYANAN

Wilayah perencanaan merupakan desa – desa pesisir yang juga terdapat di Perkotaan Pacitan. Sehingga struktur ruang yang dibentuk harus dilandaskan dengan sumberdaya pesisir sekaligus memperhatikan kedudukannya terhadap Kawasan Perkotaan Pacitan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah. Seperti disebutkan sebelumnya, kedudukan Desa Sidoharjo sebagai WP Utama yang didukung oleh Desa Ploso, Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang. Pembagian pusat pelayanan di wilayah perencanaan dilandaskan pada konsep pengembangan wilayahnya dimana Kawasan Perkotaan Pacitan mempunyai struktur ruang yang linear yang awalnya pertumbuhan kota ini di sekitar pasar Perkotaan Pacitan kemudian menyebar mengikuti perkembangan secara linear kea rah Utara, Barat, Selatan dan timur.

Berdasarkan hal – hal tersebut maka struktur pusat pelayanan di wilayah perencanaan adalah sebagai berikut :

1. Pusat Pelayanan Utama; yaitu Kelurahan Sidoharjo yang terpusat di Dusun Barak dan Dusun Tuban sebagai pusat pelayanan administrasi (kantor kecamatan dan kantor kelurahan) serta pusat perdagangan dan jasa.

Jangkauan pelayanan dari Pusat Pelayanan Utama mencakup seluruh wilayah perencanaan. Pusat pelayanan Utama mempunyai sub pusat pelayanan yaitu : a. Sub Pusat Pelayanan Perikanan yang terpusat di PPP Tamperan dan TPI

sebagai pusat kegiatan berbasis sumberdaya perikanan dan pusat pendaratan ikan di wilayah perencanaan. Seluruh kegiatan pendaratan dan pemasaran hasil perikanan akan dipusatkan di PPP Tamperan dan TPI.

b. Sub Pusat Pelayanan Wisata yang terpusat di Dusun Teleng dan Barehan (Kelurahan Sidoharjo) dan wilayah pantai Kelurahan Ploso sebagai sentra kegiatan wisata pantai. Keberadaan kawasan wisata akan menimbulkan aktifitas ekonomi yang akan menarik tenaga kerja dan menjadi target pemasaran hasil – hasil perikanan.

86 2. Pusat Pelayanan Pendukung; yaitu Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang yang berpusat di Dusun Ngemplak (Desa Sirnoboyo) dan Dusun Krajan (Desa Kembang) sebagai pusat pelayanan administrasi dan pusat pengolahan hasil perikanan.

Pusat – pusat pelayanan ini harus didukung oleh jaringan infrastruktur di wilayah perencanaan.

B. RENCANA JARINGAN TRANSPORTASI

Jaringan transportasi mempunyai fungsi sebagai penghubung antar pusat/sub pusat pelayanan dan menghubungkan wilayah perencanaan dengan pusat kegiatan yang berada di luar wilayah perencanaan. Jaringan transportasi yang akan dikembangkan di wilayah perencanaan antara lain adalah sebagai berikut.

1. Jaringan Jalan Arteri Primer

2. Jaringan jalan arteri primer yang akan dikembangkan di wilayah perencanaan terkait dengan program nasional yaitu pengembangan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Jalan Arteri Primer tersebut menghubungkan Pacitan dengan Kabupaten – kabupaten di wilayah selatan Jawa. JJLS yang akan dibangun direncanakan melewati Kelurahan Ploso, Desa Kembang dan Desa Sirnoboyo.

Pembangunan JJLS akan mempermudah aksesibilitas antara Desa Sirnoboyo dan Desa Kembang menuju Kelurahan Sidoharjo. Dengan adanya JJLS ini akan terbentuk simpul – simpul perdagangan baru dan meningkatkan nilai jual hasil – hasil sumberdaya pesisir seperti terasi, ikan dsb. Panjang jalan JJLS yang direncanakan adalah sekitar 4,75 kilometer. Pembangunan JJLS ini akan diikuti oleh pembangunan jembatan akan diikuti oleh pembangunan jembatan karena jalan tersebut akan melewati dua sungai yaitu Sungai Grindulu dan sungai kecil di Desa Sirnoboyo.

3. Jalan Kolektor Primer

4. Jaringan jalan kolektor primer yang dikembangkan di wilayah perencanaan terkait adalah jalan kolektor primer eksisting yang saat ini sudah ada yaitu Jl.

WR. Supratman dan Jl. Gatot Subroto. Jalan Kolektor Primer tersebut menghubungkan Perkotaan Pacitan dengan Kelurahan Sidoharjo dan

87 Kelurahan Ploso. Pengembangan jalan kolektor primer tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas jalan, pemberian jalur hijau, pemberian median jalan, pelebaran jalan serta pemberian trotoar. Hal tersebut diperlukan untuk mendukung pembangunan JJLS yang akan bersambung dengan jalan kolektor primer tersebut. Status jalan ini merupakan Jalan Nasional sehingga dalam pengembangannya harus dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Panjang jalan kolektor primer yang direncanakan adalah sekitar 5,8 kilometer.

5. Jalan Lokal

a. Jaringan jalan lokal antar/intra desa dikembangkan dengan melakukan pengaspalan dan peningkatan kualitas jalan. Pengaspalan dan peningkatan kualitas jalan dilakukan terutama pada jalan – jalan yang terkoneksi dengan jalan kolektor primer atau dengan jalan arteri primer.

Sedangkan jalan – jalan setapak pada saat ini akan ditingkatkan menjadi jalan lokal.

6. Pengembangan Terminal dan angkutan umum

7. Selain pengembangan jaringan jalan, untuk memperlancar aksesibilitas perlu dibangun jaringan angkutan umum dan simpul – simpulnya. Pengembangan jaringan angkutan umum diperlukan untuk menghubungkan desa – desa di wilayah perencanaan dalam fungsinya sebagai angkutan barang dan orang.

Rute angkutan umum yang dapat dikembangkan adalah rute Sirnoboyo – Kembang – Ploso – Teleng melewati JJLS. Rute lain yang juga dapat dikembangkan adalah rute Terminal Pacitan – Teleng. Dengan adanya rute angkutan umum ini maka akses menuju kawasan wisata pantai dapat lebih mudah. Untuk mendukung pengembangan rute tersebut perlu dibangun terminal dengan skala lokal/terminal tipe C. Terminal ini dibangun dekat dengan Pantai Teleng yang merupakan ujung barat Teluk Pacitan dan di Desa Sirnoboyo. Terminal yang sudah ada saat ini adalah terminal tipe A yang terdapat di Jalan Gatot Subroto – Kelurahan Ploso. Terminal ini melayani rute – rute antar Provinsi yang menghubungkan Pacitan dengan Solo dan kota – kota lain di Jawa Timur.

88 8. Alur Pelayaran

Selain pengembangan transportasi darat, di wilayah perencanaan juga dikembangkan alur pelayaran. Alur pelayaran ini menghubungkan antara Desa Kembang dan PPP Tamperan. Hal ini dimaksudkan agar nelayan – nelayan di Desa Kembang dan Sidoharjo dapat mendaratkan ikan di PPP Tamperan.

Alur lain yang dikembangkan adalah alur untuk mengakses PPP Tarempa dari luar Teluk Pacitan. Koordinat Alur Pelayaran tersebut yaitu :

a. Alur Pelayaran Keluar/Masuk Pelabuhan Perikanan dari/menuju perairan lepas. Dengan koordinat :

 111° 04‟ 37‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 04‟ 51‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 05‟ 01‟‟ BT / 08° 13‟ 58‟‟

 111° 05‟ 01‟‟ BT / 08° 14‟ 49‟‟

b. Alur Pelayaran Lokal dari/menuju Pelabuhan Perikanan – Sungai Girindulu.

Dengan koordinat :

 111° 06‟ 13‟‟ BT / 08° 14‟ 01‟‟

 111° 06‟ 02‟‟ BT / 08° 14‟ 04‟‟

 111° 04‟ 51‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

 111° 04‟ 37‟‟ BT / 08° 13‟ 45‟‟

Gambar Peta 4.2 Rencana Struktur Ruang

89 4.5.3 Rencana Pola Ruang

A. RENCANA KAWASAN LINDUNG

Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Luas keseluruhan Rencana Kawasan Lindung sebesar 748,74 ha. Rencana Kawasan Lindung di wilayah perencanaan mencakup:

a. Zona Resapan Air; terdapat di dua kelurahan/desa yaitu di Kelurahan Sidoharjo dan Desa Kembang

b. Zona Sempadan Sungai; terdapat di Desa Kembang dan Desa Sirnoboyo

c. Zona Sempadan Pantai; terdapat di Kelurahan Sidoharjo, Kelurahan Ploso dan Desa Kembang

d. Zona Konservasi Ekosistem Muara Sungai; di Desa Kembang

Arahan Pengelolaan Zona Resapan Air mencakup :

a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada;

c. Kegiatan yang diperbolehkan adalah untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekowisata sepanjang tidak mengganggu fungsi lindung serta mempertahankan pertanian

c. Kegiatan yang diperbolehkan adalah untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekowisata sepanjang tidak mengganggu fungsi lindung serta mempertahankan pertanian