• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Diskripsi Umum

2.1.1 Letak Geografis Kabupaten Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan bagian wilayah Provinsi Jawa Timur paling Selatan, yang berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah. Terletak 276 km sebelah Barat daya kota Surabaya dengan letak geografis 7o 55‟ – 8o 17‟ LS dan 110o 55‟ – 111o 25‟ BT. Secara administratif terbagi atas 12 wilayah kecamatan, 5 kelurahan dan 166 desa. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur, yakni bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Tanah tersebut kurang cocok untuk pertanian. Namun demikian, daerah ini memiliki potensi yang dimiliki cukup beragam mulai dari potensi kelautan, potensi pesisir dan potensi untuk pengembangan budidaya ikan di wilayah darat.

Gambar 2.1

Peta Administrasi Kabupaten Pacitan

9 Batas-batas wilyah Kabupaten Pacitan adalah:

Sebelah Utara : Kabupaten Ponorogo

Sebelah Barat : Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah) Sebelah Selatan : Samudera Indonesia

Sebelah Timur : Kabupaten Trenggalek

Kabupaten Pacitan mempunyai luas wilayah 1.389,87 km2 yang kondisi alamnya sebagian besar terdiri dari berbukit-bukit yang mengelilingi kabupaten. Sedangkan wilayah kota Pacitan berupa daratan rendah. Selebihnya berupa daerah pantai yang memanjang dari sebelah Barat sampai Timur di bagian Selatan. Pacitan adalah kecamatan yang menjadi ibukotan Kabupaten Pacitan. Secara keseluruhan, landscape kota Pacitan terletak di lembah. Tepinya berupa Teluk Pacitan dan dialiri sungai Grindulu yang membentang dari wilayah Selatan menuju pantai Teleng Ria.

Topografi di Kabupaten Pacitan menunjukkan bahwa bentang daratnya bervariasi, dengan kemiringan sebagai berikut:

 0-2 % meliputi 4,3 % dari luas wilayah merupakan daerah tepi pantai;

 2-15 % memliputi 6,60 dari luas wilayah baik untuk usaha pertanian dengan memperhatikan usaha pengawetan tanah dan air;

 15-40 meliputi 25,87 % dari luas wilayah, sebaiknya untuk usaha tanaman tahunan;

 >40% keatas meliputi 63,17% dari luas wilayah merupakan daerah yang harus difungsikan sebagai kawasan penyangga tanah dan air serta untuk menjaga keseimbangan ekosistem di Kabupaten Pacitan.

Struktur dan Jenis tanah di Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut :

 Jenis tanah Alluvial Kelabu endapan liat : seluas 4.969 Ha atau 2,80 %

 Assosiasi Litosal dan Mediteran Merah : seluas 4.629 Ha atau 34,26 %

 Litosal Campuran Tuf dan bahan Vulkanik : seluas 58.592 Ha atau 22,02 %

 Komplek Litosal Kemerahan dan Litosal : seluas 31.592 Ha atau 22,02 %

10 Adapun jenis Geologinya adalah sebagai berikut :

 Endapan Zaman Tua (Meoson) : seluas 91.830 Ha.

 Batu Kapur Zaman Tua : seluas 36.829 Ha.

 Andesit : seluas 7.654 Ha.

 Aluvium : seluas 6.623 Ha.

Dengan Ketinggian :

 7-25 m diatas permukaan air laut : 2.62 %

 25-100 m diatas permukaan air laut : 2.67 %

 100-500 m diatas permukaan air laut : 52.68 %

 500-1000 m diatas permukaan air laut : 36.43 %

 1000 m diatas permukaan air laut : 5.59 %

Gambar 2.2

Peta Ketinggian Lahan diatas Permukaan Laut Kawasan Pesisir Pacitan

11 2.1.2. Administratif dan Kepadatan Penduduk

Rincian administratif masing-masing kecamatan di Kabupaten Pacitan disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1

Daftar Kecamatan di Kabupaten Pacitan No. Kecamatan Jumlah Desa Lokasi

Pantai

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011

Tabel 2.2

Kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten Pacitan

No Kecamatan

12

Sumber : Kecamatan dalam angka 2011

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2011, jumlah penduduk Pacitan adalah sebesar 481.764 orang, yang terdiri dari 264.919 laki-laki dan 276.597 perempuan. Distribusi penduduk pacitan terbesar berada di kecamatan Tulakan yaitu sebesar 78.307 jiwa (14,30%), yang diikuti oleh Kecamatan Pacitan sebesar 65.646 jiwa (13,51 persen). Selanjutnya distribusi terkecil adalah Kecamatan Pringkuku sebesar 32.630 jiwa (5,49 %) dan Sudimoro sebesar 30.033 (5,55 %).

Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Pacitan per tahun selama sepuluh tahun terakhir adalah sebesar 0,28 persen(%). Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Pacitan adalah yang tertinggi dibandingkan dengan kecamatan – kecamatan lain di Pacitan, yaitu sebesar 1,36 persen(%).

Kecamatan Kebonagung merupakan wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk terendah yaitu sebesar minus 0,25 persen(%).

Laju pertumbuhan penduduk di atas rata-rata kabupaten ditunjukkan oleh 5 (lima) kecamatan. Kecamatan Pacitan sebagai ibukota kabupaten mengalami pertumbuhan penduduk tertinggi, diikuti oleh Kecamatan Ngadirojo dan Tegalombo. Sedangkan Kecamatan Bandar dan Sudimoro menunjukkan pertumbuhan penduduk yang relatif sama.

13 2.2 Kecamatan Pacitan

Kecamatan pacitan berposisi sebagai kecamatan kota yang mempunyai penduduk 65.344 dengan luas wilayah 77,108 km2 dengan batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Kecamatan Arjosari

 Sebelah Barat : Kecamatan Prikuku,

 Sebelah Timur : Kecamatan Kebonagung

 Sebelah Selatan : Samudra Indonesia

Gambar 2.3

Peta administrasi kecamatan Pacitan

Secara topografis Hampir seluruh wilayah kecamatan Pacitan mempunyai topografi berombak sampai bergunung dan berbatu-batu dari 20 desa dan 5 kelurahan hampir semuanya di lintasi oleh aliran sungai dan anak sungai grindulu dan hamper semua desa/kelurahan juga terdapat perbukitan/pegunungan.

Wilayah Kecamatan Pacitan sebagaimana kondisi Kabupaten Pacitan pada umumnya sebagai daerah pegunungan dengan sifat fisik dan kelerenganya merupakan tanah pada zone diklasifikasikan sebagai sistem lahan yang

14 mengandung bahaya erosi berupa batuan kapur, terdapat didesa sedeng, yang terletak dibagian barat, masing-masing pada ketinggian 0-500 meter diatas permukaanair laut. Jenis tanah yang utama didaerah ini adalah litosol dan mediteram dengan bahan induk batu gamping dan system drainasi dalam. Selain itu beberapa berupa lahan sawah yang berperairan teknis.

Tabel 2.3

Penduduk menurut jenis kelamin dan sex ratio 2010 NO DESA PENDUDUK (JIWA)

15 Berdasarkan hasil sensus 2011 jumlah penduduk pada tabel diatas kecamatan Pacitan memiliki 11 desa dengan jumlah penduduk 66,757 jiwa terdiri dari laki-laki 32,324 jiwa dan perempuan 34,433 jiwa.

Gambar 2.4

Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin dan sex ratio 2010

2.3 Kelurahan Sidoharjo

2.3.1 Sejarah Kelurahan Sidoharjo

Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan terletak di sebelah selatan dari pusat pemerintahan Kabupaten Pacitan. Sejarah berdirinya Kelurahan Sidoharjo tentunya tidak lepas dari sejarah berdirinya Pacitan. Hanya saja tidak ada catatan sejarah resmi/babad yang menjelaskan awal berdirinya Kelurahan Sidoharjo. Cerita sejarah yang selama ini berkembang berasal dari masyarakat sekitarnya atau dari sesepuh.

Wilayah Kelurahan Sidoharjo sudah ada sejak perkembangan agama hindu di Pacitan. Pada abad ke XV di Pacitan telah berkembang agama Hindu Budha yang berkiblat kepada kerajaan Majapahit dipimpin oleh Ki Ageng Buwono Keling dan bertempat tinggal di Jati Kecamatan Kebonagung. Dengan datangnya ajaran agama Islam yang cepat sekali berkembang di Pulau Jawa maka terdesaklah

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500

Jiwa

Desa

LAKI-LAKI PEREMPUAN

16 pengaruh agama Hindu Budha di Pacitan. Ajaran Islam tersebut dibawa oleh Ki Ageng Petung (Kyai Siti Geseng) bersama Syeh Maulana Maghribi dan bangsawan, negeri Buwono Keling di Jati Kecamatan Kebonagung, menurut legenda disebut daerah Wengker Kidul.

Wilayah Sidoharjo termasuk Daerah penyebaran agama islam di Pacitan, hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah makam salah satu tokoh penyebar agama Islam di Pacitan yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Syekh Brubuh.

Tidak ada catatan yang menyebutkan asal dari Syekh Brubuh ini.

Adapun urutan kepemimpinan kepala desa/lurah yang pernah memimpin wilayah Sidoharjo adalah sebagai berikut :

No. Nama Lurah/Kepala

Desa Masa Jabatan Keterangan

1. Sastro Magi Sebelum Kemerdekan

2. Karto Pawiro 1950-1953

3. Sarponen 1953-1955

4. Boyatin Imam Nawawi 1955-1982 Status Desa menjadi kelurahan

5. HM. Toesiran 1982-1987

6. Gunardi 1987-1989

7. Hari Tri Murdiyanto 1989-1991

8. Jumaat, SH 1991-1998

9. Soenawan 1998-2001

10. Soebandi 2001-2006 Menjadi Otoda

11. Sujadi 2006 (3 bulan)

12. Darto Wasono 2006-sekarang Berubah menjadi Satker Kelurahan Sidoharjo memiliki jalan aspal 10 Km kondisi baik, 6 Km kondisi sedang, dan 7 Km kondisi rusak. Jalan utama yang dapat dilalui kendaraan roda 4 sepanjang tahun sepanjang 31 Km dan yang tidak dapat dilalui sepanjang 12 Km.

Jenis jalan, jalan propinsi 8 Km, jalan kabupaten/kota 23 Km, jalan desa 46 Km, sehingga jumlahnya 77 Km. Kelas jalan, jalan kelas III 5 Km dan rusak 2 Km, jalan kelas IV 2 Km, jalan desa 46 Km. Jembatan beton 4 buah dengan kondisi baik dan jembatan besi sebanyak 3 buah dengan kondisi baik.

Sarana dan prasarana pendidikan, ada 3 Taman Kanak-Kanak memiliki 9 pengajar dan 120 murid dengan prasarana fisik 9 lokal seluas 600 m2 dan

17 dilengkapi perpustakaan. Sekolah Dasar negeri 2 buah memiliki pengajar 12 orang dan 460 murid dengan prasarana fisik 12 lokal seluas 860 m2 dan dilengkapi perpustakaan. Sekolah Dasar Inpres 1 buah memiliki pengajar 8 orang dan 30 murid dengan prasarana fisik 6 lokal seluas 420 m2 dan dilengkapi perpustakaan.

Madrasah Ibtidaiyah 2 buah memiliki 14 orang pengajar dan 360 murid dengan prasarana fisik 12 lokal seluas 680 m2 dan dilengkapi perpustakaan. Untuk Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) terdapat 1 buah dengan 4 lokal seluas 1.200 m2 dengan pengajar 40 orang dan 800 murid, dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium.

Sarana tempat ibadah sebanyak 15 masjid dan 17 surau/mushola. Pondok pesantren ada 1 buah dengan 3 orang kyai dan 60 santri. Majelis taklim 1 buah dengn 120 jamaah. Sarana pariwisata terdiri dari: taman, pantai, pemandian, tempat rekreasi lain, dan toko cinderamata/souvenir masing-masing 1 buah, ditambah 6 buah penginapan dan 4 restoran.

Sarana perekonomian, 4 koperasi simpan pinjam, 1 KUD, 2 Badan kredit, 1 koperasi produksi, 2 koperasi lainnya, 2 pasar ikan, 1 toko, 12 kios, 36 warung, 4 bank, dan 2 lumbung desa.

2.3.2 Visi dan Misi Kelurahan Sidoharjo

Visi KelurahanSidoharjo: Terbentuknya masyarakat yang sejahtera dan bermartabat.

Misi Kelurahan Sidoharjo:

1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat dan swadaya masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan

2. Meningkatkan ketrampilan dan keahlian kepada masyarakat 3. Memberikan stimulan permodalan untuk usaha mikro dan kecil

4. Meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan kesadaran pola hidup masyarakat.

5. Peningkatan kegiatan posyandu, sarana dan prasarana pendukung

6. Memfasilitasi keluarga pra sejahtera untuk mewujudkan kondisi keluarganya

18 2.3.3Letak Geografis

Kelurahan Sidoharjo terletak di Kecamatan Pacitan. Luas total wilayah Kelurahan Sidoharjo ± 723,430 ha.

Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Sidoharjo adalah sebagai berikut : Sebelah utara : Kelurahan Pucangsewu dan Desa Bangunsari

(Kecamatan Pacitan) Sebelah selatan : Samudera Indonesia

Sebelah timur : Kelurahan Ploso dan Kelurahan Baleharjo (Kecamatan Pacitan)

Sebelah barat : Desa Dadapan (Kecamatan Pringkuku)

Tabel 3.4

Jarak Administratif Kelurahan Sidoharjo

No Orbitasi Keterangan

1 Jarak kantor kelurahan dengan

kecamatan 0,5 Km

2 Jarak kantor kelurahan dengan

kabupaten 0,5 Km

3 Jarak kantor kelurahan ke ibu kota

provinsi 250 Km

2.3.4 Fisiografi dan Kondisi Tanah

Kelurahan Sidoharjo terletak 1 – 2 m dpl (di atas permukaan laut) dengan suhu dalam kisaran minimum 20 derajat dan maksimum 28 derajat. Banyaknya curah hujan 28 – 30 mm/tahun. Bentuk wilayah datar sampai berombak 60 %, berombak sampai berbukit 10 %, dan berbukit sampai bergunung 30 %. Warna tanah sebagian besar berwarna kuning dengan tekstur pasiran dan kemiringan tanah 15 0.

19 Tabel 3.5

Luas Wilayah Menurut Penggunaan

No Pemanfaatan Lahan Keterangan

1 Tanah sawah 86 ha

2 Tanah kering 84 ha

3 Tanah basah 7 ha

4 Tanah hutan 99 ha

5 Tanah perkebunan 10 ha

6 Tanah keperluan fasilitas umum 30,2 ha 7 Tanah keperluan fasilitas sosial 7804 m2 8 Lain-lain (tanah tandus/tanah pasir) 20 ha

Total luas 723,430 ha

Sumber air bersih berasal dari mata air berjumlah 6 buah, sumur gali, 300 unit, sumur pompa 144 unit, hidran umum 6 unit, PDAM 240 unit dan pipa 3 unit.

Jumlah pemanfaat dari masing-masing sumber air bersih yaitu: pemanfaat mata air 90 orang, sumur gali 900 orang, sumur pompa 433 orang, hidran umum 30 orang, PDAM 720 orang, dan pipa 120 orang. Untuk wilayah perairan umum terdiri dari sungai dan rawa.

2.3.5 Kependudukan

Jumlah penduduk Kelurahan Sidoharjo pada tahun 2010 mencapai 7.017 orang, terdiri dari 2.038 KK dengan jumlah laki-laki 3.387 orang dan jumlah perempuan 3.630 orang. Sedangkan, mata pencaharian pokok penduduk Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.6

Mata Pencaharian Pokok

No Jenis Pekerjaan Jumlah Keterangan

1 Petani

20 No Jenis Pekerjaan Jumlah Keterangan

6 Buruh bangunan 340 orang

Mayoritas penduduk di Kelurahan Sidoharjo adalah beragama islam dengan jumlah 6.975 orang, agama katolik 6 orang dan protestan 36 orang. Untuk jenjang pendidikan penduduk di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.7 Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah Keterangan

21 No Tingkat Pendidikan Jumlah Keterangan

7 Tamat Perguruan

Tinggi/Sederajat 61 orang

8 Buta Huruf - orang

Untuk jumlah penduduk berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.8

Sebagaimana penduduk yang bermukim di kawasan wilayah pesisir, maka pada umumnya sebagaian besar masyarakat di Kelurahan Sidoharjo masih bermata pencaharian sebagai nelayan, petani dan buruh –buruh industri yang notabene mereka adalah golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Tingkat perekonomian di suatu daerah tentunya juga dipengaruhi oleh Jumlah angkatan

22 kerja yang ada di daerah tersebut. Jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18 – 56 tahun) yang ada di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada table dibawah ini :

Tabel 3.9

Jumlah Angkatan Kerja

No. Uraian Keterangan

1. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

masih sekolah dan tidak bekerja 260 orang 2. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

menjadi ibu rumah tangga 120 orang

3. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

bekerja penuh 480 orang

4. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

bekerja tidak tentu 310 orang

5. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

cacat dan tidak bekerja 36 orang

6. Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang

cacat dan bekerja 12 orang

Apabila dilihat dari table diatas, maka dapat dikatakan bahwa rata – rata penduduk di Kelurahan Sidoharjo sudah bekerja dan mempunyai penghasilan, meskipun ada beberapa diantaranya yang bekerja secara serabutan atau tidak menentu. Tingkat perekonomian suatu daerah juga dapat digambarkan dengan melihat tingkat kesejahteraan keluarga yang ada di daerah tersebut. Tingkat kesejahteraan penduduk di Kelurahan Sidoharjo dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 3.10

Tingkat Kesejahteraan Keluarga

No. Uraian Keterangan

1. Jumlah keluarga prasejahtera 430 Keluarga 2. Jumlah keluarga sejahtera 1 125 Keluarga 3. Jumlah keluarga sejahtera 2 120 Keluarga 4. Jumlah keluarga sejahtera 3 110 Keluarga 5. Jumlah keluarga sejahtera 3 plus 100 Keluarga

Dari tabel diatas menunjukan bahwa jumlah keluarga prasejahtera masih cukup tinggi dengan kata lain masih banyaknya keluarga yang berada pada garis kemiskinan.

23 B. Pertanian

Sektor Pertanian masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat di wilayah Kelurahan Sidoharjo. Selain sebagai penghasil pangan, sektor pertanian juga menjadi sumber pendapatan bagi sebagaian besar masyarakat yang ada di wilayah Sidoharjo. Berdasarkan data yang ada, sebanyak 1.260 penduduk di wilayah Kelurahan Sidoharjo mempunyai mata pencaharian pokok di bidang pertanian, baik itu sebagai petani pemilik lahan, penggarap ataupun sebagai buruh tani.

C. Perikanan

Kelurahan Sidoharjomemiliki dua tempat pendaratan ikan, yaitu diPantai Teleng dan Tamperan. Fasilitas yang telah dibangun di tempat pendaratan ikan tersebut adalah Tempat Pelelangan Ikan (TPI), salah satunya berada di Kelurahan Sidoharjo, yaitu di areal PPP Tamperan. PPP Tamperan merupakan sentra perikanan tangkap di Kabupaten Pacitan, dengan luas areal sekitar 5 Ha, mempunyai fasilitas laut maupun darat yang telah dibangun mulai tahun 2003 dan sampai saat ini masih terus diupayakan penyempurnaannya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dalam hal ini Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur sebagai pengelola sesuai kewenangannya. Sedangkan TPI Teleng Ria berada di kawasan wisata Pantai Teleng Ria. Jumlah produksi perikanan tangkap di laut pada tahun 2009 sebesar 3.671,99 Ton, yang sebagian besar mendarat di PPP Tamperan. Komoditi dominan adalah Tuna dan Cakalang, yang dihasilkan oleh para nelayan andon dengan armada kapal di atas 10 GT dengan alat tangkap purse seine. Sedangkan, sarana kapal/ perahu yang ada di Kelurahan Sidoharjo sebanyak 60 buah perahu motor tempel dan 40 buah perahu.

Di Kelurahan Sidoharjo terdapat pengusaha pengolahan hasil perikanan, yaitu kelompok Pelita Jaya yang memproduksi keripik ikan dan KUP Bina Usaha yang memproduksi bakso, rollade, dan nugget dan sampai saat ini telah dipasarkan untuk kebutuhan lokal.

Kelurahan Sidoharjo memiliki potensi wisata bahari yang terkenal di Kabupaten Pacitan, yaitu Pantai Teleng Ria, di samping Pantai Tamperan di

24 sebelah selatan PPP Tamperan. Fasilitas wisata bahari di Pantai Teleng Ria telah dilengkapi dengan restoran dan rumah makan, bungalow, warung ikan goreng, arena bermain anak-anak, fasilitas olahraga selancar air dan kolam renang.

Di Kelurahan Sidoharjo juga terdapat potensi mangrove yang luasnya mencapai 5 Ha. Jenis mangrove yang terbesar adalah Avicenia sp dan Rizophora sp yang merupakan hasil penanaman. Saat ini kondisi mangrove relatif rusak karena penebangan dan terkena dampak pembangunan infrastruktur drainase.

Selain itu, di sebelah timur Pantai Teleng Ria, di antara Kelurahan Sidoharjo dan Ploso terdapat greenbelt sepanjang 1 Km dengan ketebalan 100 meter yang dimaksudkan sebagai pelindung pantai dari bencana laut yang sering terjadi di wilayah pantai selatan Jawa. Greenbelt ini dibangun pada tahun 2008, dengan jenis tanaman Cemara Laut, Ketapang, keben/putat dan Waru.

Upaya pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan juga didukung keberadaan POKMASWAS. Di Kelurahan Sidoharjo terdapat POKMASWAS yang merupakan gabungan dari Kelurahan Ploso dan Sidoharjo.

D. Pariwisata

Kelurahan Sidoharjo memiliki potensi alam yang dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Pantai teleng Ria, PPP Tamperan dan kawasan Pancer Dorr merupakan wilayah andalan Kabupaten Pacitan. Pengembangan kegiatan pariwisata sudah mulai dilakukan dari kerjasama dengan pihak ketiga dalam hal ini pengembangan dan pengelolaan Teleng Ria. Kawasan atau wilayah pendukung pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir sudah mulai ditata, harapan ke depan dengan mulai dibangunnya Jalur Lintas Selatan ( JLS ) akan lebih mempermudah promosi dan pengembangan pariwisata sebagai tulang punggung PAD Kabupaten Pacitanmempunyai wilayah yang potensial sebagai kawasan atau daerah tujuan wisata.

25 E. Sosial dan Budaya

Pengaruh sosial budaya terhadap masyarakat Kelurahan Sidoharjo saat ini dipengaruhi oleh kaum pendatang / urban. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah dengan adanya kawasan pelabuhan dan pabrik yang ada di Kelurahan Sidoharjo. Di kawasan pelabuhan banyak terdapat nelayan andon yang berasal dari Sulawesi, Tegal, Pekalongan dan dari Sendang Biru Malang. Sedikit banyak dengan kedatangan nelayan andon ini mempengaruhi kehidupan soial masyarakat setempat. Selain pelabuhan juga kawasan pabrik rokok yang terdapat di lingkungan Caruban dengan mayoritas pegawainya perempuan. Para pegawai ini bersal dari wilayah di Kabupaten Pacitan dan wilayah sekitar pacitan seperti Sukoharjo, Wonogiri dan Ponorogo.

F. Bencana Alam

Sebagai kawasan pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, wilayah Kelurahan Sidoharjo merupakan daerah rawan gempa, tsunami, banjir, gelombang tinggi dan angin kencang. Selain itu ada wilayah tertentu yang mempunyai ketinggian dengan lereng yang curam dan terjal.

Wilayah ini juga potensial dengan bencana tanah longsor.

Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang terjadi adalah dengan melakukan penyuluhan, sosialisasi serta penanaman tanaman sabuk hijau guna mengantisipasi bencana. Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sangat membantu upaya yang dilakukan pemerintah dalam kegiatan mitigasi bencana.

2.3.7Permasalahan Desa

 Bina manusia

Permasalahan sosial yang paling menonjol adalah banyaknya pengangguran.

 Bina Usaha

Tingkat perekonomian warga sudah relatif cukup bagus. Meskipun seperti itu bukan berarti tidak ada permasalahan. Permasalahan yang paling bisa kita cermati adalah tentang bagaimana caranya untuk pemecahan masalah

26 peningkatan taraf hidup masyarakat yang tergolong pra sejahtera menjadi sejahtera.

 Bina Lingkungan dan Infrastruktur

Permasalahan infrastruktur yang paling utama di Kelurahan Sidoharjo adalah penyediaan infrastruktur jalan serta drainase yang masih jauh dari layak. Hal ini dapat dilihat jalan di pinggiran pantai/pesisir ada masih berupa jalan tanah.

 Bina Siaga Bencana dan Perubahan Iklim

Kelurahan Sidoharjo merupakan salah satu desa yang terletak di pinggir pantai. Kemungkinan terjadinya gelombang tsunami yang diakibatkan gempa bumi sangat besar. Disamping itu setiap tahun banjir dari luapan air hujan maupun luapan dari sungai yang tanggulnya jebol juga sangat mungkin terjadi.

 Bina Sumberdaya

Terjadinya degradasi aliran sungai di lingkungan Teleng dan Tamperan

2.3.8Rumusan Prioritas Masalah dan Pemecahan Masalah

Dalam strategi pencapaian ini permasalahan dan potensi desa yang telah diuraikan diatas ada beberapa tahapan strategi pencapaian dalam pembangunan yang akan dipakai sebagai pendekatan dalam mencapai visi dan misi desa.

Adapun tahapan strategi pencapaian dan pemecahan masalahan adalah sebagai berikut :

Tahap Pertama

Pada tahapan pertama ini tujuan atau sasaran yang hendak dicapai meliputi pengelolaan potensi desa secara terpadu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatkan kemampuan SDM (terutama pengelola/pelaku pembangunan) dan peningkatan sarana / prasarana pendukung, pendidikan dan kesehatan dengan memanfaatkan potensi dan lingkungan yang mendukung untuk mewujudkan tahap awal pelaksanaan Visi dan Misi Desa Kembang.

27 Tahap Kedua

Pada tahapan ini diharapkan semua daya dan upaya yang dilakukan dapat mewujudkan pemerintahan desa yang transparan, akuntable, demokratis, profesionalisme dari perangkat desa dalam pelayanan publik serta mendorong pembangunan ekonomi masyarakat dengan meningkatkan hasil produk unggulan melalui pembangunan desa.

2.3.9 Dampak Perubahan Iklim di Kelurahan Sidoharjo

Perubahan iklim yang terjadi telah dirasakan di berbagai belahan dunia. Hal ini dapat dirasakan dari pergantian musim yang terjadi. Saat ini pergantian musim telah mengalami perubahan waktu, dan hampir sulit untuk diprediksikan. Sebagai contoh adalah musim kemarau yang panjang, musim dingin yang lebih panjang dari biasanya maupun sebaliknya dan pergantian musim lainnya. Untuk di Indonesia perubahan iklim ditandai dengan pergeseran musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau yang lebih panjang dari waktu normalnya dapat berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian dan mempengaruhi ketersediaan pangan. Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia merupakan lahan pertanian yang menggantungkan kebutuhan airnya pada air hujan. Jika hujan tak datang tepat waktu, maka akan mempengaruhi produktivitas tanaman pertanian yang mana sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya. Demikian juga sebaliknya, jika musim penghujan lebih panjang dari biasanya maka akan mempengaruhi sektor yang lain dan bahkan bisa mengakibatkan terjadinya bencana, seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.

Wilayah pesisir juga merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan paras

Wilayah pesisir juga merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan paras