• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Afektif

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 94-101)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Deskriptif Data Penelitian

4.2.2 Kebutuhan Afektif

Kebutuhan afektif berkaitan dengan kebutuhan estetis, hal yang dapat menyenangkan dan pengalaman-pengalaman emosional. Afeksi dalam hal ini lebih bermakna sebagai “rasa” penghargaan diri terhadap situasi, kondisi, waktu, lingkungan, dan juga orang lain, termasuk juga sikap terhadap semua aspek diatas. Dalam memenuhi kebutuhan afektif ibu menyusui,dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara memperhatikan kesehatan bayi dan kesehatan diri sendiri yang berguna untuk menimbulkan rasa senang.

Untuk mengetahui gambaran mengenai kebutuhan Afektif digunakan analisis statistik deskriptif. Sub Variabel Kebutuhan Afektif dibagi dalam 2 indikator yaitu Pengalaman emosional dan hal yang menyenangkan.

Tabel 4.7 Indikator 3 Pengalaman Emosional

Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 3 20 9 7 0 0 36 157 Persentase 55,56 25,00 19,44 0,00 0,00 100

Menurut indikator tiga terlihat bahwa ada 36 ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 55,56%, selanjutnya yang menjawab sesuai 25,00%, yang menjawab cukup sesuai 19,44%, selanjutnya yang menjawab tidak sesuai dan sangat tidak sesuai 0,00% yang artinya tidak ada

responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju dalam menanggapi kebutuhan informasi afektif tersebut.

Berdasarkan jawaban responden pada pernyataan “Menurut Anda informasi yang diterima dapat membuat Anda mengetahui kondisi kesehatan bayi dan diri Anda sendiri” bahwasannya ibu dapat mengetahui kondisi bayi dengan baik setelah mengikuti program penyuluhan di puskesmas. Menurut hasil wawancara kepada petugas kesehatan di puskesmas (Epi bidan/petugas kesehatan di puskesmas Pekan Kamis) bahwasannya karena untuk dapat mempertahankan kondisi yang baik maka bayi harus mendapatkan zat gizi yang tinggi agar dapat bertahan hidup. Maka kebutuhan tersebut dapat terpenuhi dengan pemberian ASI eksklusif.

... salah satu cara untuk mempertahankan bayi pada kondisi yang sehat yakni dengan memenuhi kebutuhan zat gizi sang bayi dengan memberikan ASI eksklusif. Kami memberikan informasi ini kepada ibu menyusui yang datang dalam penyuluhan di puskesmas agar mereka paham akan kebutuhan bayi mereka. (Epi 26 Juli 2013, Puskesmas Pekan Kamis)

Menurut Roesli (2000) dalam Emilia (2008) salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yakni dengan cara pemberian ASI. ASI merupakan makan yang sangat cocok untuk kemampuan digestif bayi, karena bayi dapat menyerap dengan baik, tidak pernah sembelit, dan merasa puas. ASI juga bebas dari kuman penyakit, pada dasarnya ASI mengandung antibodi sehingga bayi yang mendapat ASI umumnya jarang sakit dan jarang pula menderita alergi jika dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu formula.

Tabel 4.8 Indikator 4 Hal yang Menyenangkan Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 4 18 14 4 0 0 36 158 Persentase 50,00 38,89 11,11 0,00 0,00 100

Dilihat dari indikator empat presentase 36 ibu menyusui dalam menanggapi kebutuhan informasi afektif sebagian besar responden menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 50,00%, selanjutnya yang menjawab sesuai ada 38,89%, serta responden yang menjawab cukup sesuai ada 11,11%. Jika diperhatikan tidak ada responden yang menjawab tidak sesuai dan sangat tidak sesuai yakni ada 0,00%.

Berdasarkan jawaban responden pada penyataan “Anda akan merasa senang terlibat dalam kegiatan penyuluhan” bahwasannya dengan mengikuti program penyuluhan ini, ibu-ibu menyusui yang hadir akan merasa senang dengan informasi yang didapat dalam penyuluhan. Karena informasi yang disampaikan dalam penyuluhan berupa informasi kesehatan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan bayi mereka agar selalu dalam keadaan sehat. Jika bayi selalu diberikan gizi yang cukup maka pertumbuhan bayi pun akan lebih baik dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu formula.

Tabel 4.9 Kebutuhan Afektif Sub Variabel Pernyataan Alternatif Jawaban Skor SS S CS TS STS X2. Kebutuhan Afektif 1 20 9 7 0 0 157 2 18 14 4 0 0 158 Total 315

Berdasarkan tabel 4.9 di atas terlihat bahwa dari 36 Ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 52,78%, selanjutnya diikuti dengan menjawab sesuai yaitu sebesar 31,94% dan menjawab cukup sesuai yaitu sebesar 15,28%.

Menurut tabel 4.9 di atas, terlihat bahwa skor jawaban indikator dari sub variabel Kebutuhan Afektif sebesar 315 untuk 2 indikator yang diberikan, nilai tertinggi diberi skor 5 dan nilai terendah diberi skor 1, maka :

a. Skor minimum : 1 x 2 x 36 = 72

b. Skor maksimum : 5 x 2 x 36 = 360

c. Range : 360 – 72 = 288

d. Panjang Interval : 288 : 5 = 57.6

Interval kategori untuk skor jawaban indikator dari sub variabel Kebutuhan Afektif adalah sebagai berikut :

Gambar 4.2 Garis Kontinom Kebutuhan Afektif

Data pada garis kontinom di atas menunjukkan bahwa sub variable kebutuhan Afektif berada pada kategori sangat sesuai. Dengan demikian, nampak bahwa sebagian besar responden menilai sub variabel tersebut dengan kategori sangat sesuai. Hal ini nampak pada persepsi 36 Ibu menyusui yang setelah dianalisis mencapai 315.

Berdasarkan data pada garis kontinom diatas, jawaban responden terhadap pertanyaan “Apakah informasi yang disampaikan oleh para petugas kesehatan dalam program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di Puskesmas Pekan Kamis Kabupaten Agam Sumatera Barat dapat memenuhi kebutuhan informasi afektif ibu menyusui?” sebagian besar yang menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 52,78%. Dengan demikian, mayoritas responden adalah menjawab sangat sesuai.

Kebutuhan afektif menurut kamus bahasa Indonesia adalah kebutuhan yang berkenaan dengan rasa takut atau cinta, yang dapat mempengaruhi keadaan,

Sangat Sesuai Sesuai Sedang Kurang Sangat Kurang 302.4 244.8 187.2 129.6 360 72 315

perasaan dan emosi, serta mempunyai gaya atau makna untuk menunjukkan perasaan. Pengaruh dari sikap afektif tersebut akan mengakibatkan perasaan yang lebih mendalam. Perasaan yang mendalam ini disebut dengan emosi.

Salah satu wujud dalam pemenuhan kebutuhan afektif yang ditunjukkan ibu kepada bayinya adalah kasih sayang. Kasih sayang merupakan perasaan kehangatan, rasa persahabatan dan simpati yang ditunjukkan pada orang lain. Cara ibu menunjukkan rasa kasih sayang kepada bayinya yakni dengan memberikan makanan atau ASI eksklusif yang berguna untuk memenuhi gizi anaknya. Dengan mengikuti kegiatan penyuluhan perbaikan gizi ini, ibu menyusui lebih dapat mamahami pentingnya memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sehingga dapat terwujudnya rasa kasih sayang ibu kepada bayinya.

Kebutuhan yang berkaitan dengan penguatan estetis dan dapat menimbulkan rasa senang sehingga lebih menguatkan rasa antar sesama. Kebutuhan afektif merupakan kebutuhan informasi yang dapat menimbulkam rasa senang serta untuk menambah pengalaman emosional seseorang. Agar informasi yang diberikan dapat menimbulkan rasa senang terhadap diri seseorang sehingga komunikasi tidak hanya terjadi dari sebelah pihak maka komunikasi yang baik untuk menimbulkan interaksi antar dua arah tersebut, maka informasi yang disampaikan harus memenuhi memiliki syarat informasi sebagai berikut:

1. Pesan yang akan disebarluaskan harus disusun secara jelas, mantap dan singkat agar mudah dimengerti oleh pembaca atau orang membutuhkan informasi tersebut. harus diketahui bahwa setiap orang memiliki daya

tangkap yang berbeda-beda sehingga penyebaran pesan yang dilakukan haruslah pesan tersebut disusun dengan penuh perhitungan dan dapat ditangkap serta dimengerti oleh sebagian orang yang memerlukan data tersebut.

2. Lambang-lambang serta simbol-simbol yang digunakan haruslah mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh mereka yang menjadi sasaran dari penyebaran informasi tersebut. Maka harus dipahami bahwa gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh sebagian banyak orang.

3. Pesan yang akan disebarluaskan ataupun disampaikan hendaknya dapat menimbulkan minat serta attention, perhatian dan keinginan bagi penerima untuk dapat melakukan sesuatu hal tertentu.

4. Pesan yang disampaikan atau yang disebarluaskan harus dapat menimbulkan keinginan seseorang ataupun kelompok untuk memecahkan masalah yang ada disekitar mereka. (Sastropoetro 1987) Komunikasi merupakan kemampuan seseorang untuk dapat menyampaikan suatu informasi kepada orang lain sehingga dapat menimbulkan rasa penasaran dan ingin memahami apa yang disampaikan. Komunikasi yang berjalan dengan baik juga akan mampu menjadikan seseorang berpikir secara emosional untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide sehingga mampu untuk berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas.

Kebutuhan afektif dapat terpenuhi jika petugas kesehatan dapat menyampaikan informasi tersebut dengan baik dan sesuai dengan syarat informasi

sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh peserta kegiatan penyuluhan yang membuat mereka berpikir logis pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayinya yang akan menimbulkan rasa senang bagi ibu menyusui.

Jadi dapat diketahui bahwa sebagian besar mayoritas responden menjawab program penyuluhan tersebut sangat dapat memenuhi kebutuhan afektif. Setelah mengikuti program penyuluhan tersebut responden merasa senang karena mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga informasi tersebut dapat mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menimbulkan rasa senang dan bahagia dalam diri mereka.

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 94-101)

Dokumen terkait