• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Kognitif

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 85-94)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Deskriptif Data Penelitian

4.2.1 Kebutuhan Kognitif

Kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan memperkuat pengetahuan serta pemahaman seseorang terhadap lingkungannya. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat individu untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Ibu menyusui juga memiliki kebutuhan kognitif dimana mereka membutuhkan informasi kesehatan mengenai ASI dimana informasi tersebut berguna untuk memenuhi kebutuhan kesehatan bayinya ataupun diri mereka sendiri.

Untuk mengetahui gambaran mengenai kebutuhan kognitif digunakan analisis statistik deskriptif. Sub Variabel Kebutuhan Kognitif dibagi dalam 2 indikator yaitu pemahaman terhadap informasi dan memenuhi kebutuhan informasi.

Tabel 4.4 Indikator 1 Pemahaman terhadap Informasi

Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 1 5 12 11 7 1 36 121 Persentase 13,89 33,33 30,56 19,44 2,78 100

Menurut indikator satu terlihat bahwa ada 36 ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 33,33%, selanjutnya yang menjawab cukup sesuai 30,56%, yang menjawab tidak sesuai 19,44%, selanjutnya yang menjawab sangat sesuai 13,89%, serta yang menjawab sangat tidak sesuai ada sebesar 2,78%.

Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa responden mengenai cara pemenuhan kebutuhan kognitif yakni dengan datang berkunjung dan ikut serta dalam kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan di puskesmas dapat memenuhi kebutuhan informasi ibu. Dalam penyuluhan akan menambah pengetahuan ibu menyusui mengenai ASI eksklusif dan bayi. Sehingga ibu dapat lebih memahami dampak positif mengenai ASI eksklusif tersebut.

Tabel 4.5 Indikator 2 Memenuhi Kebutuhan Informasi Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 2 9 19 4 4 0 36 141 Persentase 25,00 52,78 11,11 11,11 0,00 100

Dilihat dari indikator dua presentase 36 ibu menyusui dalam menanggapi kebutuhan informasi kognitif sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 52,78%, selanjutnya yang menjawab sangat sesuai ada 25,00%, serta responden yang menjawab cukup sesuai dan tidak sesuai sama besar yakni 11,11%. Jika diperhatikan tidak ada responden yang menjawab sangat tidak sesuai yakni ada 0,00%.

Berdasarkan jawaban responden pada pernyataan ” Menurut Anda informasi yang diterima dapat memenuhi kebutuhan informasi kesehatan bayi dan ibu menyusui” bahwasannya responden setuju bahwa dengan mengikuti program penyuluhan yang dilaksanakan di puskesmas dapat memenuhi kebutuhan informasi ibu. Sehingga informasi tersebut dapat dipergunakan oleh ibu dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, informasi yang disampaikan juga dapat menambah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif.

Informasi kesehatan sangatlah penting bagi ibu menyusui guna untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Puskesmas dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan memberikan penyuluhan setiap minggunya bagi

masyarakat yang datang ke puskesmas tersebut. Terutama informasi kesehatan bagi ibu – ibu menyusui. Informasi mengenai kesehatan ibu dan anak ini sangatlah berguna dan penting bagi ibu menyusui agar mereka dapat memberikan ASI yang baik dan sesuai kebutuhan bayi sehingga gizi bayi mereka dapat terpenuhi dan bayi dapat tumbuh dengan sehat.

Tabel 4.6 Kebutuhan Kognitif

Sub Variabel Pernyataan Alternatif Jawaban Skor SS S CS TS STS X1. Kebutuhan Kognitif 1 5 12 11 7 1 121 2 9 19 4 4 0 141 Total 262

Berdasarkan tabel 4.6 di atas terlihat bahwa dari 36 Ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 43,06%, selanjutnya diikuti dengan menjawab cukup sesuai yaitu sebesar 20,83%, menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 19,44%, menjawab tidak sesuai yaitu sebesar 15,28% dan menjawab sangat tidak sesuai sebesar 1,39%.

Setelah diperhatikan dari tabel 4.6 pada halaman 74, terlihat bahwa skor jawaban indikator dari sub variabel Kebutuhan kognitif sebesar 262 untuk 2

indikator yang diberikan, nilai tertinggi diberi skor 5 dan nilai terendah diberi skor 1, maka : a. Skor minimum : 1 x 2 x 36 = 72 b. Skor maksimum : 5 x 2 x 36 = 360 c. Range : 360 – 72 = 288 d. Panjang Interval : 288 : 5 = 57.6

Interval kategori untuk skor jawaban indikator dari sub variabel Kebutuhan Kognitif adalah sebagai berikut :

Gambar 4.1 Garis Kontinom Kebutuhan Kognitif

Data pada garis kontinom di atas menunjukkan bahwa sub variable kebutuhan kognitif berada pada kategori sesuai. Dengan demikian, nampak bahwa sebagian besar responden menilai sub variabel tersebut dengan kategori sesuai. Hal ini nampak pada persepsi 36 Ibu menyusui yang setelah dianalisis mencapai 262. Sangat Sesuai Sesuai Sedang Kurang Sangat Kurang 302.4 244.8 187.2 129.6 360 72 262

Berdasarkan pada data garis kontinom pada halaman 75, jawaban responden terhadap pertanyaan “Apakah informasi yang disampaikan oleh para petugas kesehatan dalam program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di Puskesmas Pekan Kamis Kabupaten Agam Sumatera Barat dapat memenuhi kebutuhan informasi kognitif ibu menyusui?” yang menjawab sesuai yaitu sebesar 43,06%. Dengan demikian, mayoritas responden adalah menjawab setuju.

Dari data pada halaman 75 bahwa pada umumnya mayoritas responden menjawab kebutuhan kognitif adalah untuk menambah pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap informasi kesehatan yang telah disampaikan oleh petugas kesehatan. Ketika seseorang mengikuti program penyuluhan ini maka dapat disimpulkan bahwa mereka butuh informasi kesehatan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan kognitif mereka yang dapat memperkuat pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap informasi kesehatan bayi dan ibu menyusui.

Kebutuhan informasi kognitif berkaitan dengan penambahan pengetahuan seseorang terhadap suatu hal. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan hal ini dapat terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini dapat terjadi melalui panca indera manusi, yaitu melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan melalui raba.

Pengetahuan seseorang masalah gizi diperoleh dari pengalaman empiris dan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan seseorang dalam menyediakan, mengolah serta menyajikan makanan untuk dirinya sendiri maupun oranglain.

Berdasarkan pada sebuah penelitian yang dilakukan Bart (1994), dapat dikatakan bahwa perilaku yang dilakukan atas dasar pengetahuan akan lebih bertahan dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Jadi pengetahuan tersebut merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat mengetahui mengapa mereka harus melakukan sutu tindakan sehingga perilaku masyarakat dapat lebih mudah untuk diubah ke arah yang lebih baik. Pengukuran pengetahuan tersebut dapat dilakukan dengan wawancara menanyakan suatu hal yang akan diukur kepada peserta penyuluhan mengenai pengetahuan mereka tentang pemberian ASI eksklusif. (Notoatmodjo 1997 dalam Emilia 2008)

Salah satu cara untuk dapat menambah pengetahuan ibu mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang diberikan dapat berupapa pendidikan yang dilakukan melalui jalur formal, non formal, ataupun informal. Salah satu bentuk pemberian informasi mengenai ASI eksklusif kepada ibu adalah dengan kegiatan penyuluhan gizi. Penyuluhan gizi menurut Depkes (2001) merupakan suatu proses perubahan perilaku yang diberikan diluar bangku sekolah (non formal) dan dimaksudkan agar dapat terjadi perubahan perilaku pada diri sasaran, sehingga meraka dapat mengetahui dan mau serta mampu menggunakan atau memberikan jenis-jenis pangan bergizi dalam konsumsi sehari-hari.

Informasi yang diberikan dalam kegiatan penyuluhan kepada ibu menyusui haruslah dapat memenuhi kebutuhan informasi ibu tersebut. Kebutuhan informasi kognitif merupakan suatu kebutuhan untuk memperkuat pemahaman

seseorang terhadap informasi serta pengetahuan. Dapat dilihat dari analisis responden dalam menanggapi indikator 1 dan indikator 2 bahwasannya sebagian besar responden setuju dalam memahami kebutuhan informasi kognitif yang disampaikan oleh petugas kesehatan dalam program penyuluhan di puskesmas.

Informasi yang disampaikan dalam memenuhi kebutuhan informasi kognitif haruslah informasi yang memenuhi persyaratan agar informasi tersebut dapat dipahami dengan baik oleh orang lain sehingga dapat menambah pengetahuan serta informasi mereka. Syarat informasi dalam jenis informasi menurut Sutabri adalah sebagai berikut:

a. Informasi yang tepat waktu

Informasi yang tepat waktu maksudnya disini adalah informasi yang dibutuhkan sudah ada ditangan sebelum pengambilan keputusan. Informasi merupakan bahan pertimbangan untuk pengambilan suatu keputusan.

b. Informasi yang relevan

Seseorang yang menyampaikan suatu informasi sebaiknya harus relevan yang ada kaitannya dengan si penerima sehingga informasi yang disampaikan tersebut mendapat respons dan perhatian dari si penerima.

c. Informasi yang bernilai

Informasi yang bernilai merupakan informasi yang memiliki nilai dan berharga untuk pengambilan suatu keputusan. Dimana informasi tersebut diperoleh dari pertimbangan yang paling kecil resikonya.

d. Informasi yang dapat dipercaya

Suatu informasi haruslah dapat dipercaya (realiable). Informasi yang disampaikan tersebut baik untuk seseorang maupun kelompok haruslah betul-betul diyakini kebenarannya. (Sutabri 2003)

Jadi dapat diketahui bahwa untuk menjadi informasi tersebut dapat memenuhi kebutuhan kognitif, maka informasi yang disampaikan tersebut haruslah memenuhi persyaratan informasi sehingga penerima akan dapat menambah pengetahuan serta lebih memahami informasi yang telah disampaikan.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan kognitif informasi seseorang adalah dengan memberikan informasi yang sesuai dengan waktunya, relevan, memiliki nilai dan yang sangat penting adalah informasi tersebut dapat dipercaya. Sehingga informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan dapat menambah pengetahuan ibu-ibu menyusui yang datang pada kegiatan penyuluhan perbaikan gizi: ASI eksklusif di puskesmas.

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 85-94)

Dokumen terkait