• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Berkhayal

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 115-130)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Deskriptif Data Penelitian

4.2.5 Kebutuhan Berkhayal

Kebutuhan-kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan, dan hasrat untuk mencari hiburan. Bagi ibu menyusui yang baru pertama kali mengalami kehamilan, meraka dapat memenuhi kebutuhan berkhayal dengan mengikuti program “Perbaikan Gizi: ASI Eksklusif” yang diadakan setiap minggunya di puskesmas terdekat. Dalam mengikuti program penyuluhan tersebut mereka akan mendapatkan informasi kesehatan bayi serta ibu menyusui yang membuat mereka paham dan mengerti sehingga membuat mereka lebih rileks.

Untuk mengetahui gambaran mengenai kebutuhan Berkhayal digunakan analisis statistik deskriptif. Sub Variabel Kebutuhan Berkhayal dibagi dalam 3 indikator yaitu menimbulkan perasaan nyaman, untuk mencari hiburan dan menimbulkan perasaan senang.

Tabel 4.16 Indikator 9 Menimbulkan Perasaan Nyaman

Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 9 14 21 1 0 0 36 157 Persentase 38,89 58,33 2,78 0,00 0,00 100

Menurut indikator sembilan terlihat bahwa ada 36 ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 58,33% selanjutnya yang menjawab sangat sesuai 38,89%, yang menjawab cukup sesuai sebesar 2,78%, selanjutnya yang menjawab tidak sesuai dan sangat tidak sesuai sebesar 0,00% yang artinya tidak ada responden yang menjawab sangat tidak setuju dalam menanggapi kebutuhan informasi berkhayal tersebut.

Indikator sembilan ini memiliki pernyataan bahwa “Menurut Anda melalui penyuluhan ini, Anda dapat bertukar informasi dengan ibu-ibu menyusui lainnya” maka sebagian ibu menyusui menjawab setuju bahwa dengan mengikuti penyuluhan di puskesmas, mereka dapat saling bertukar informasi dengan orang lain. Bertukar informasi mengenai kesehatan bayinya juga sangat berarti bagi ibu menyusui agar mereka lebih memahami kesehatan bayinya.

Saling bertukar informasi juga dapat menimbulkan rasa aman bagi diri seseorang yang berada dilingkungan sekitarnya. Dengan memiliki rasa aman akan membuat seseorang melakukan kegiatannya dengan tenang dan nyaman. Oleh karena itu, dengan saling berbagi informasi pada saat mengikuti program penyuluhan ibu menyusui juga akan merasa tenang dan nyaman dalam merawat bayinya serta untuk meyakinkan meraka bahwa memberikan ASI eksklusif akan baik untuk kesehatan bayinya sehingga dapat menimbulkan rasa aman didiri ibu tersebut.

Tabel 4.17 Indikator 10 Untuk Mencari Hiburan Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 10 10 23 3 0 0 36 151 Persentase 27,78 63,89 8,33 0,00 0,00 100

Menurut indikator sepuluh terlihat bahwa ada 36 ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 63,89% selanjutnya yang menjawab sangat sesuai 27,78%, yang menjawab cukup sesuai sebesar 8,33%, selanjutnya yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak sesuai sebesar 0,00% yang artinya tidak ada responden yang menjawab sangat tidak sesuai dalam menanggapi kebutuhan informasi berkhayal tersebut.

Indikator sepuluh memiliki pernyataan yang bahwasannya “Program ini dapat memberikan solusi mengenai permasalahan yang dihadapi dalam kesehatan bayi dan ibu menyusui” sehingga sebagian besar ibu menyusui menjawab setuju. Karena dengan mengikuti program penyuluhan tersebut merupakan salah satu solusi dari berbagai keraguan, ketidaktahuan serta ketidakyakinan ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Mereka akan merasa lebih yakinuntuk memberikan yang terbaik kepada bayinya.

Tabel 4.18 Indikator 11 Menimbulkan Perasaan Senang Indikator Alternatif Jawaban Jumlah Skor SS S CS TS STS 11 5 20 11 0 0 36 138 Persentase 13,89 55,56 30,56 0,00 0,00 100

Menurut indikator sebelas terlihat bahwa ada 36 ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 55,56% selanjutnya yang menjawab cukup sesuai 30,56%, yang menjawab sangat sesuai sebesar 13,89%, selanjutnya yang menjawab tidak sesuai dan sangat tidak sesuai sebesar 0,00% yang artinya tidak ada responden yang menjawab sangat tidak sesuai dalam menanggapi kebutuhan informasi berkhayal tersebut.

Indikator sebelas menyatakan bahwa “Menurut Anda cara penyampaian informasi yang disampaikan dalam penyuluhan ini, cukup menyenangkan” sehingga sebagian ibu menyusui menjawab setuju bahwa penyampaian informasi pada program penyuluhan ini menyenangkan. Oleh karena itu, dengan mengikuti program penyuluhan ini ibu menyusui akan merasa senang dan yakin terhadap informasi yang diberikan. Dengan penyampaian informasi yang menyenangkan akan menimbulkan rasa rileks di diri mereka untuk melakukan hal-hal yang disampaikan oleh petugas kesehatan.

Salah satu cara untuk menyampaikan informasi dengan cara menyenangkan adalah dengan membagikan leaflet kepada peserta program

penyuluhan. Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi kesehtan melalui lembaran yang dilipat. Keuntungan dalam menggunakan leaflet adalah sasaran informasi dapat menyesuaikan dan belajar mandiri serta praktis karena dapat mengurangi kebutuhan mencatat, sehingga sasaran dapat melihat isi informasi dengan santai dan sangat ekonomis, berbagai informasi dapat diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok sasaran sehingga informasi yang ada dapat didiskusikan dengan sesama anggota kelompok. Selain itu, leaflet juga dapat memberikan informasi yang detail dimana informasi tersebut tidak dapat diberikan secara lisan. (Emilia 2008)

Tabel 4.19 Kebutuhan Berkhayal

Sub Variabel Pernyataan Alternatif Jawaban Skor SS S CS TS STS X5. Kebutuhan Berkhayal 1 14 21 1 0 0 157 2 10 23 3 0 0 151 3 5 20 11 0 0 138 Total 446

Berdasarkan tabel 4.19 diatas terlihat bahwa dari 36 Ibu menyusui, sebagian besar responden menjawab sesuai yaitu sebesar 59,26%, selanjutnya

diikuti dengan menjawab sangat sesuai yaitu sebesar 26,85% dan menjawab cukup sesuai yaitu sebesar 13,89% .

Dari tabel 4.19 pada halaman 103, terlihat bahwa skor jawaban indikator Kebutuhan Berkhayal sebesar 446 untuk 3 indikator yang diberikan, nilai tertinggi diberi skor 5 dan nilai terendah diberi skor 1, maka :

a. Skor minimum : 1 x 3 x 36 = 108

b. Skor maksimum : 5 x 3 x 36 = 540

c. Range : 540 – 108 = 432

d. Panjang Interval : 432 : 5 = 86.4

Interval kategori untuk skor jawaban indikator dari sub variabel Kebutuhan berkhayal adalah sebagai berikut :

Gambar 4.5 Garis Kontinom Kebutuhan Berkhayal

Sangat Sesuai Sesuai Sedang Kurang Sangat Kurang 453.6 367.2 280.8 194.4 540 108 446

Data pada garis kontinom pada halaman 104 menunjukkan bahwa sub variable kebutuhan Berkhayal berada pada kategori baik. Dengan demikian, nampak bahwa sebagian besar responden menilai sub variabel tersebut dengan kategori sesuai. Hal ini nampak pada persepsi 36 Ibu menyusui yang setelah dianalisis mencapai 446.

Berdasarkan data pada garis kontinom pada halaman 106, jawaban responden terhadap pertanyaan “Apakah informasi yang disampaikan oleh para petugas kesehatan dalam program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di Puskesmas Pekan Kamis Kabupaten Agam Sumatera Barat dapat memenuhi kebutuhan informasi berkhayal ibu menyusui?” yang menjawab setuju yaitu sebesar 59,26%. Dengan demikian, mayoritas responden adalah menjawab setuju.

Kebutuhan berkhayal adalah kebutuhan informasi yang berkaitan dengan keinginan atau hasrat seseorang untuk melepaskan diri dari rasa ketegangan dan juga membutuhkan hiburan sehingga dapat melepas beban pikiran yang ada. Seorang ibu menyusui juga membutuhkan informasi berkhayal dimana informasi dapat berguna untuk melepaskan diri dari ketegangan dan kesibukan pekerjaan sehari-hari.

Mengikuti kegiatan penyuluhan di puskesmas juga dapat memenuhi kebutuhan informasi berkhayal ibu menyusui karena di puskesmas mereka mendapatkan berbagai informasi yang mereka butuhkan. “Menurut Estabrook (1977) informasi merupakan suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan-putusan yang dibuat seseorang” (Pawit 2010, 11). Setiap

peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sebuah informasi yang sangat berguna bagi seseorang. Sebuah fenomena dapat menjadi informasi jika seseorang dapat melihat, menyaksikan serta merekam kejadian tersebut.

Informasi mengenai Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu informasi penting yang disampaikan dalam program penyuluhan perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas. Air susu ibu sangat direkomendasikan diberikan kepada bayi oleh dokter maupun petugas kesehatan di rumah sakit, tempat bersalin, serta puskesmas karena dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

Air susu ibu diproduksi melalui dua hormon yakni prolaktin dan oksitosin yang memegang peranan penting dalam memproduksi dab pengeluaran air susu (pengaliran). Bayi yang menyusui akan merangsang kelenjar hipofisis anterior yang terletak di otak untuk melepaskan prolaktin ke dalam aliran darah sang ibu. Prolaktin menyebabkan sel-sel pada alveoli menarik air dan nutrien dari darah untuk memproduksi susu. Oksitosin dilepaskan ke dalam aliran darah oleh kelenjar hipofisis posterior sebegai respons terhadap isapan bayi dan tangisan maupun rengekan bayi, bahkan mendengar bayi terbangun sekalipun dapat membuat kelenjar melepas hormon tersebut. oksitosin juga menyebabkan otot- otot kecil disekitas sel-sel penghasil susu berkontraksi dan mengeluarkan susu. Dan juga menyebabkan duktus melebar dan memendek sehingga memungkinkan air susu mengalir keluar. Proses ini dapat disebut dengan refleks let-down. (Bobak 2004)

Maka dapat disimpulkan bahwa seorang ibu menyusui sangat membutuhkan informasi mengenai pentingnya memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka agar bayi dapat tumbuh sehat. Agar informasi kebutuhan informasi ini dapat tersampaikan kepada ibu menyusui, maka mereka dianjurkan untuk mengikuti program penyuluhan yang diadakan baik itu di rumah sakit, puskesmas, maupun posyandu yang ada disekitarnya. Selain itu dengan mengikuti program penyuluhan, ibu menyusui juga dapat memenuhi kebutuhan informasi berkhayal karena mereka akan mendapatkan berbagai informasi kesehatan yang dapat menimbulkan rasa senang dan dapat melepas ketegangan dan kesibukan mereka sehari-hari dengan berbagi informasi dengan para petugas kesehatan maupun para pengunjung penyuluhan lainnya.

Maka dapat diketahui bahwa lebih dari setengah responden menjawab setuju bahwa program penyuluhan ASI eksklusif ini dapat memenuhi kebutuhan berkhayal mereka. Karena melalui program penyuluhan ini mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan sehingga membuat perasaan mereka lega dan senang dimana perasaan ini akan menimbulkan rasa rileks didalam diri mereka masing-masing. Dengan mengikuti program penyuluhan ini mereka dapat melepaskan ketegangan dari pekerjaan di kantor maupun di rumah yang banyak menyita waktu mereka. Sehingga dengan mengikuti program penyuluhan ini mereka dapat berkomunikasi, bercengkrama, berbagi informasi, serta berdebat mengenai suatu hal dengan sesama.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Setelah melalui beberapa tahapan-tahapan penelitian menganalisa, penjabaran serta menggambarkan penelitian mengenai tanggapan kebutuhan informasi kesehatan dari ibu menyusui pada program “perbaikan gizi: ASI eksklusif” di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan pada program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat dalam memenuhi kebutuhan kognitif ibu menyusui sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari pengetahuan peserta penyuluhan mengenai manfaat ASI Eksklusif sudah baik karena informasi yang diberikan dapat menambah pengetahuan serta pemahaman ibu menyusui mengenai pentingnya ASI Eksklusif bagi bayi.

2. Informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan pada program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat dalam memenuhi kebutuhan afektif ibu menyusui sudah sangat baik karena dengan mengikuti program penyuluhan mereka yang telah mendapatkan informasi dan pengetahuan merasa senang dan memiliki pengalaman serta gambaran mengenai pentingnya ASI Eksklusif tersebut.

3. Informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan pada program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat dalam memenuhi kebutuhan integrasi personal sudah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari kepercayaan para ibu terhadap informasi yang disampaikan oleh para petugas kesehatan. Mereka percaya bahwa informasi yang diberikan tersebut penting dan bermanfaat sehingga para ibu setuju untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. 4. Informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan pada program

perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat dalam memenuhi kebutuhan integrasi sosial sudah baik. Hal ini dapat ditunjukkan melalui hubungan yang terjalin antar para ibu yang mengikuti program penyuluhan. Selain mendapatkan informasi yang berharga, para ibu juga dapat untuk saling menjalin tali silaturahmi antar mereka sehingga mereka dapat bertukar informasi mengenai pentingnya mengikuti program penyuluhan tersebut.

5. Informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan pada program perbaikan gizi: ASI Eksklusif di puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat dalam memenuhi kebutuhan berkhayal sudah baik karena dengan mengikuti program penyuluhan ini para ibu yang belum begitu memahami mengenai pentingnya memberikan ASI eksklusif akan menjadi paham dan mengerti sehingga membuat mereka lebih rileks jika terjadi menghadapi masalah dalam hal tersebut.

Setelah melihat hasil penelitian ini dengan hasil observasi ke lapangan serta menggabungkannya dengan teori maka dapat disimpulkan bahwa tanggapan ibu menyusui terhadap pemenuhan kebutuhan informasi mereka sudah baik.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis akan memberikan saran kepada petugas kesehatan di Puskesmas Pekan Kamis Sumatera Barat agar program perbaikan gizi: ASI Eksklusif ini dapat terus berjalan dan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di puskesmas, yaitu sebagai berikut:

1. Walapun pengetahuan ibu menyusui mengenai pentingnya memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sudah baik sehingga hal ini harus dipertahankan oleh petugas kesehatan agar informasi yang disampaikan dapat berguna dengan sebaiknya. Petugas kesehatan dapat lebih mendekatkan diri dengan memberikan perhatian dan memperkuat hubungan interpersonal diantara keduanya yakni ibu menyusui dan petugas kesehatan di puskesmas.

2. Dalam memenuhi kebutuhan informasi afektif ibu menyusui yang datang pada penyuluhan ASI eksklusif ke puskesmas sudah baik. Hal ini dapat terlihat dari perhatian petugas kesehatan dalam mengendalikan keadaan sehingga sesuai dengan keadaan emosional ibu menyusui. Petugas kesehatan harus mempertahankan hal-hal seperti ini agar mereka merasa

senang dan memahami apa yang disampaikan oleh petugas kesehatan sehingga mereka bisa mempraktekkannya dengan baik di kehidupan sehari-hari.

3. Dalam hal ini petugas kesehatan dalam penyampaian informasi tentang ASI eksklusif dalam kegiatan penyuluhan sudah sangat baik dan agar dapat dipertahankan. Hal ini dapat terlihat dari kepercayaan dari ibu menyusui terhadap informasi yang disampaikan sangatlah penting agar mereka dapat menerima informasi tersebut dengan baik dan melaksanakannya sesuai dengan yang disampaikan petugas kesehatan pada saat penyuluhan.

4. Mengkomunikasikan informasi yang disampaikan dengan baik kepada ibu menyusui dalam kegiatan penyuluhan merupakan suatu hal yang sudah dilakukan dengan baik oleh petugas kesehatan di puskesmas. Jika informasi yang disampaikan dengan baik dan ibu menyusui diberi pengarahan yang baik maka akan menimbulkan feedback yang baik dari peserta penyuluhan dimana hal ini akan memudahkan petugas kesehatan dalam mencapai tujuan dari diadakannya kegiatan penyuluhan tersebut. 5. Dilihat dari pemenuhan kebutuhan berkhayal ibu menyusui dalam

kegiatan penyuluhan ini sudah baik sehingga dapat ditingkatkan lagi dengan menciptakan metode-metode baru dalam menyampaikan informasi yang diberikan agar tercapainya tujuan dari kegiatan penyuluhan tersebut merupakan hal yang patut untuk diperhatikan.

Misalnya saja dengan menggunakan alat bantu, memberikan brosur, serta menampilkan video mengenai ASI sehingga dapat menimbulkan rasa senang dan nyaman dari seseorang terhadap suatu hal yang dijalaninya dalam hal ini merupakan rasa nyaman peserta penyuluhan terhadap kegiatan tersebut yang harus diperhatikan. Jika petugas kesehatan sudah dapat membuat peserta penyuluhan nyaman dan senang terhadap kegiatan penyuluhan maka peserta akan mudah dalam menerima informasi yang disampaikan sehingga dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Badudu, Js. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud. Basuki, Sulistyo. 2012. Pengantar Dokumentasi. Bandung: Rekayasa Sains. Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC.

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Emilia, Rika Chandra. 2008. Pengaruh Penyuluhan ASI Eksklusif terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil di Mukim Laure-E Kecamatan Simeulue Tengah Kabupaten Simeulue (NAD). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Kadir, Abdul. 2002. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI

Levis, Leta Rafael. 1995. Komunikasi Penyuluhan Pedesaan. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurazizah, Dhiena. 2012. Pengaruh penyuluhan melalui media KIE mengenai ASI eksklusif dan IMD terhadap pengetahuan ibu hamil di kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan Depok tahun 2011. Depok: Universitas Indonesia.

Prasetyo, Bambang, dan Lina Miftahul Jannah. 2007. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Putriyanti, C. Ermayani. 2012. Analisis Penampilan Kerja Kader Kesehatan dalam Penyuluhan ASI Eksklusif di Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Temanggung. Semarang: Universitas Diponegoro.

Rakhmat, Jalaluddin. 2012. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Siagian, Sondang P. 2006. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara. Simkin, Penny. 2007. Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan, dan Bayi.

Jakarta: Arcan.

Sudiono. 2012. Menelaah Program Pemerintah Indonesia di Bidang Kesehatan. Diakses Minggu, 31 Maret 2013. http://www.sudiono.net/archives/130 Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sukaesih.2012. “Pendekatan Emosional dalam Membangun Citra Positif Pustakawan” Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan. 49-56.

Sutabri, Tata. 2003. Analisa Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI

Wulandari, Diah. 2009. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Jogjakarta: Nuha Medika Press.

Yudi. 2011. Tanggapan Pengguna terhadap Ketersediaan Koleksi Perpustakaan dalam Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pengguna. Jatinangor: Universitas Padjadjaran.

Yusup, Pawit M. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan. Jakarta: Bumi Aksara.

______________2010. Teori dan Praktik Penelusuran Informasi (Information Retrieval). Jakarta: Kencana.

Dalam dokumen KEBUTUHAN INFORMASI KESEHATAN DARI IBU M (Halaman 115-130)

Dokumen terkait