• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ked,ua, mengamankan penyampaian (tabligh) Risalah Islam

Dalam dokumen l, Islan di Tengah Pertarungan Tladili (Halaman 181-184)

Kaum Muslim berhak menyampaikan atau menawarkan agama mercka kepada orang lain dengan cara-cara yang biasa, tanpa disertai tipuan dan

initimidasi, yakni tanpa melalui

suapan

dan

ancaman.

Tetapi jika

dengan cara yang baik

itu

kegiatan menyebarkan agama Islam dilarang

dan kitab-kitab

mereka

disita, atau

orang yang menyebarkan agama Islam

itu

dikejar-kejar, maka kaum Muslim dibolehkan berjuang dengan

jalan

kekerasan

hingga

kebenaran

Allah dapat

ditegakkan dengan mantap. Kaum Muslim boleh menghancurkan pagar besi yang dijadikan perlindungan oleh paham dan aliran yang menyesatkan.

Ketiga,

menjaga keselamatan

jiwa,

harta benda

diin

kehormatan wanita. Seorang Muslim

tidak

boleh menyerahkan begitu saja hak-hak-nya yang sah kepada kaum penyamun setempat ataupun kepada bajak

laut

internasional.

Id wajib

berjuang

untuk

mempertahankan

diri.

Ia

tidak boleh

menerima penghinaan,

baik

terhadap agamanya maupun terhadap kehidupan dunianya. Allah telah berfirman:

lihad dnlam

Islam

187

(Apa yang ada pada Allah lebih baik dan lebih kekal) bagi orang-orang yang

bila diperlakukan secara zalim mereka

itu

membela diri; dan suatu kejahatan balasannya adalah kejahatan serupa. (QS a2:39-40)

Kepada persoalan ketiga

itu

dapat ditambahkan

juga

perjuangan melawan parapenjahat internasional yang hidup dengan jalan merampas

hak orang lain,

dengan menghidup-hidupkan diskriminasi rasial dan bertindak sewenang-wenang terhadap kaum lemah

di

mana saja.

Ada-pun "perjuangan" untuk

membela chauvinisme

nasional,*)

untuk memperoleh

ambisi pribadi, atau untuk

memaksakan agama Islam kepada orang

lain

dengan

jalan

kekerasan; sama sekali harus ditolak dan tidak dapat dibenarkan oleh Islam. Allah telah berfirman:

Tidak ada paksaan dalam agama. Telah tampak jelas (perbedaan antara) jalan hidayah dan jalan kesesatan. (QS 2:256)

Lebih dari 120

buah

ayat di

dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa penyebaran agaml Islam pada dadarnya adalah usaha

meyakin-kan

dengan

jalan

tenang dan tentgram serta berlandaskan pengajaran semata-mata. Setelah dakwah disampaikan kepada orang lain, mereka harus

dibiarkan

bebas menentukan sikapnya sendiri: 'Mau menerima

atau

menolak!

Dahulu,

Rasulullah saw. sangat mengharapkan supaya orang mam mengerti dan memahami agama yang dibawanya dan me-ninggalkan penyembahan berhala. Demikian lembutnya beliau meng-ajak manusia beriman kepada

Allah

sehingga beliau dalam

waktu

lama

sekali

menyerukan supaya mereka memeluk agama yang benar dan meninggalkan kepercayaan

yang batil.

Mengenai

hal itu Allah

SWT.

berfirman:

Jika Tuhanmu menghendaki tentu berimanlah semua manusia di muka bumi.

Apakah engkau hendak memaksa orang hingga mereka

itu

menjadi orang-orang beriman? (QS t0:9!)

Menurut kenyataan, dalam semua agama

Allah tidak

ada paksaan

bagi

orang

untuk

menerima kebenatan. Cobalah perhatikan ayat Al-Quran yang menyitir ucapan Nabi Nuh a.s.:

Ia

(Nabi Nuh as.) berkata:

"Hai

kaumku, bagaimanakah pikiran kalian

jika

aku memperlihatkan

bukti

yang nyata dari Tuhanku dan aku diberi-Nya rahmah dari sisi-Nya, tetapi rahmah itu tidak diperlihatkan kepada kalian? Apakah hendak kami paksakan supaya kalian mau menerimanya, padahal kalian tidak menyukainya?" (QS I 1: 28)

Al-Quran telah menetapkan apa yang harus dilakukan oleh Rasul

Allah saw.

dalam menyebarkan agama Islam. Al-Quran menegaskan bahwa beliau

bukan

seorang

diktator

yang memaksakan kemauannya kepada orang

lain, dan

bukan

pula

seorang utqsan yang datang dari

langit untuk

menakut-nakuti

orang yang

mendengarkannya supaya mau menerima apa yang

kalian

katakan!

Allah SWT

telah berfirman menegaskan:

*) Paham kebangsaan yang sempit.

Ingatkanlah (mereka), sesungguhnya engkau hanyalah pemberi ingat. [ngkau bukan orang yang berkuasa atas. mereka. (QS 88:21-22)

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau sama sekali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Quran kepada orang y:mg takut terhadap azab siksa-Ku. (QS 5 0: a5 )

Jika mereka berpaling (menolak), maka (ketahuilah) bahwa Kami tidak rnengutusmu sebagai pengawas mereka. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan (Risalah). (QS a2:a8)

Benar, setelah kepada mereka diberikan penjelasan yang gamblang mengenai

iman

kepada

Allah dan

mengimani akan datangnya Hari

Akhir,

Al-Quran mengatakan kepada para pendengarnya:

Itulah had yang pasti terjadi (Hari Akhir), maka barangsiapir yang ineng-hendaki niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya- (QS 78:39)

Sesungguhnya telah datang dari Tuhan kalian bukti-bukti yang terang.

Barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa membuta (tidak mau melihat kebendran itu), maka (mudaratpya pun) akan menimpa dirinya sendiri. Dan aku (Muhammad Rasulullah saw.) sgma sekali bukan pemelihara (kalian). (QS 6:10a)

Sesungguhnya pada yang demikian

itu

terdapat peringatan bagi orang yang berakal atau menggunakan pendengar:lnnya, dalam keadaan ia sendiri menyaksi-kannya. (QS 50:37)

Itulah

beberapa contoh mengenai ayat-ayat yang

tumn

di Makkah, sebelum kaum Muslim terlibat dalam pertempuran melawan musuhnya,

yaitu

kaum musyrik yzrng mengobarkan api peperangan dan

pertumpah-an

darah. Kemudian apakah yang

terjadi di

Madinah setelah negara Islam berdiri? Allah SWT berfirman:

Kemudian jika mereka (musuh-musuh.Islam) mendebatmu (tentang kebenar-an Islam), mika katakanlah (hai Muhammad): "Aku menyerahkan diriku kepada

Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan tanyakanlah (hai Muhammad) kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan fiuga) kepada mereka yang tidak diberi Al-Kitab (yakni para Ahl al-Kitab dan kaum musyrik lainnya): "Apakah kalian (mau) memelur. Islam?" Jika mereka mau memeluk Islam sungguh mereka telah mendapat hidavah. Namun jika mereka berpaling (menolak), maka.kewajibanmu hanyalah menyampaikan (agama Islam), dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya- (QS 3:20)

Pada bagian lain.dari Al-Quran Allah berfirman:

Hendaklah kalian taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, dan

hen-daklah kalian berhati-hAti. Jika kalian berpaling (tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya), maka ketahuilah, sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan t€rang. (QS 5:92)

Rasuiullah saw. menerima perintah

Allah

sebagaimana termaktub pada ayat berikut:

Katakanlah (hai Muharamad): "Hendaklah kalian taat kepada 'Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya!" Jika mereka berpaling (menolak) maka sesungguhnya kewajiban Rasul

itu

hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kalian pun hanya yang dibebankan kepada kalian. Dan jika kalian taat kepadanya

.

Iihad dalam

Ishm

189

(Rasul), kalian mendapat hidayah. Kewajiban Rasul

itu

tidak lain hanyalah me-nyampaikan (agama Allah) dengan terang. (QS 2a:5a)

Sebagaimana

telah

saya katakan' cara menawarkan agama Iglam kepada se;iap orang

tehh

ditentukan dan dijelaskan di dalam 120 buah

ayit

lebih. Syaikh Al-Islam

Ibn

Taimiyyah mengatakan: "Setelah kota M"t tutr

jdtuh

ke tangan Rasulullah saw., beliau membiarkan penduduk-nya. Kepada mereka beliau berkata: 'Pergilah, kalian semuanya bebas.'

Beliau tidak

memaksa merbka masuk

Islam. Tak

ada seorang pun yang meriwayatkan bahwa

ketika itu

Rasulullah rriemaksa seseorang masuk Islam. Masuk Islam secara demikian

itu

memang tak ada

guna-nya!"

Sehubungan dengan hal

ini,

saya dapat berkata bahwa hal

itu

merupakan kecermatan Rasulullah saw. dalam melaksanakan perintah

Ilahi: "Tak

ada paksaan dalam aga?rla. Telah tampak jelas (perbedaan antara) jalan hidayah dan jalan yang sesat!"

Ada suatu pendapat yang sangat aneh, yaitu sementara orang yang menganggap

ayat tersebut mansukh! Ibn Taimiyyah

mengatakan:

"Kaum

Salaf

dan kaum Muslim

pada zarrrarr-zarrrar, berikutnya pada umumnya berpendapat bahwa

ayat

tersebut 'tidak makhshush'(tidak merupakan suatu kekhususan) dan tidak mansukh.

Kita

tidak

memaksa-kan Islam

kepada seorang

pun, kita

hanya memerangi orang yang memerangi

kita."

Salah satu kelemahan yang ada pada kebudayaai kita ialah

"men-caiat

segala sesuatu", sehingga yang

tidak

berharga dan yang berharga bercampur-baur. Pendapat aneh yang mengatakan ayat tersebut di atas mansukh dicatat bersama-sama dengan pendapat yang benar dari kaum Salaf dan kaum

Khalaf

(kaum Muslim pada zaman'zammt berikutnya).

Akhirnya

pendapat yang menyimpang

itu

menjadi pembicaraan orang.

Bahkan

adi

juga orang yattg

*et

ambahkan keteringan bahwa

Rasulul-lah dalam

perang

Badr bertindak

sebagai

pihak

penyera-ng! Dengan demikian, oiang

itu

menilai Islam sebagai agama yang agresif. Kemudian keterangan

itu'dimamah

saja oleh kaum misionaris dan lalu berteriak:

"Bukankah telah kami katakan

kepada

kalian

bahwa agama Islam disebarkan dengan pedang?"

Dalam dokumen l, Islan di Tengah Pertarungan Tladili (Halaman 181-184)