• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Hukum Tim Aksi HAM Pemerintah Daerah

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 147-0)

BAB IV KEBIJAKAN HUKUM PENDANAAN PENERAPAN

A. Kedudukan Hukum Tim Aksi HAM Pemerintah Daerah

Luas dan kompleksnya pembahasan mengenai HAM terutama dalam aspek penerapan RANHAM berdasarkan rekomendasi dari Vienna Declaration and Programme of Action (Deklarasi dan Program Aksi Wina) dan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Hak Penyandang Disabilitas)244, mengakibatkan ruang lingkup penanganan pelaksanaan RANHAM dibagi menjadi dua bagian yakni RANHAM Pusat dan RANHAM Daerah.

RANHAM nasional (pusat) dilaksanakan oleh Kementerian dan Lembaga Negara. Sementara untuk RANHAM daerah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah yang terdiri dari Pemerintah Daerah Provinsi (Gubernur), Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Bupati/Walikota) di seluruh wilayah Indonesia. RANHAM generasi ke-IV lebih lanjut memberikan penegasan dalam bentuk tugas dan tanggung jawab yang lebih jelas kepada unit pelaksana RANHAM baik nasional maupun daerah.

Untuk menyempurnakan dan mengefektifkan proses pelaksana RANHAM, maka secara eksplisit dibentuk Tim Aksi HAM baik nasional maupun daerah.

244 Konvensi Hak Penyandang Disabilitas yang diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Pembentukan tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran dan percepatan pelaksanaan kegiatan RANHAM melalui sejumlah Aksi HAM yang telah ditetapkan dan dirangkum dalam tabel dibawah ini.

Tabel 4.1

Tim Aksi HAM Nasional Periode 1998-2003 No. Susunan Keanggotaan Tim Pelaksana

1. Penasihat 1. Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan;

2. Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri;

3. Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan;

2. Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia;

3. Menteri Penerangan;

4. Menteri Tenaga Kerja;

5. Menteri Kesehatan;

6. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan;

7. Menteri Agama;

8. Menteri Sosial;

9. Menteri Negara Sekretaris Negara;

10. Menteri Negara Peranan Wanita;enteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional;

11. Jaksa Agung;

12. Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara;

13. Kepala BP7 Pusat;

14. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia;

15. Ketua Umum Palang Merah Indonesia.

Sumber: Lihat Pasal 3 Keputusan Presiden Nomor 129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 1998-2003.

134

Pasal 2 Kepres No. 129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 1998-2003, menyebutkan bahwa untuk melaksanakan RANHAM tersebut dibentuk suatu Panitia Nasional yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Panitia Nasional tersebut bertugas untuk melakukan sejumlah tugas yang meliputi: Pertama, persiapan pengesahan perangkat internasional di bidang hak-hak asasi manusia; Kedua, diseminasi informasi dan pendidikan di bidang hak-hak asasi manusia; Ketiga, penentuan prioritas pelaksanaan hak-hak asasi manusia; Keempat, pelaksanaan isi perangkat internasional di bidang hak-hak asasi manusia yang telah disahkan.245

RANHAM Generasi Ke-I (Pertama) tersebut diatas masih bersifat nasional dan belum mengarah pada daerah pemerintahan. Hal demikian diakibatkan adanya pengaruh pada masa transisi politik yang terjadi pada era reformasi 1998 meliputi krisis ekonomi 1997-1999, meningkatnya inflasi dan pengangguran, ketidakpuasan terhadap pemerintahan zaman Orde Baru (Kabinet Pembangunan) dan merajalelanya korupsi juga meningkat.246

Salah satu tuntutannya adalah pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya. Tuntutan tersebut menunjukkan keberaadaan RANHAM belum di fokuskan pada perlindungan dan pemajuan HAM di tingkat Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota karena konkritnya regulasi tentang pemerintahan daerah baru

245 Pasal 2 Keputusan Presiden Nomor 129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 1998-2003.

246 Momentum perjuangan melawan pemerintahan yang dianggap otoriter pada masa pemerintahan Soekarno yang diliputi berbagai macam tragedy kemanusiaan diakibatkan oleh pemerintahan yang gagal sehingga memunculkan gerakan reformasi tahun 1998, sebagaimana dikutip dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_Indonesia_1998, diakses tanggal 5/9/2019.

ada dan diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah setelah masa reformasi untuk memperoleh kedudukan sebagai daerah otonom.

Selanjutnya, dikarenakan periode dari RANHAM hanya berjalan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun, maka upaya perlidungan dan pemajuan HAM dilanjutkan dengan membentuk RANHAM Generasi Ke-II (dua) dengan Tim Aksi HAM Provinsi Periode 2004-2009 sebagai berikut.

Tabel 4.2

Tim Aksi HAM Provinsi Periode 2004-2009 No. Susunan Keanggotaan Tim Pelaksana

1. Ketua Panitia Nasional Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia 2. Penanggung Jawab Gubernur

3. Sekretaris Kepala Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia

4. Anggota 1. Unsur instansi pemerintah, 2. Pakar/akademisi, dan 3. Masyarakat

Sumber: Lihat Pasal 4 Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2004-2009.

Berdasarkan Pasal 6 ayat (9) Kepres No. 40 Tahun 2004 Tentang RANHAM (generasi ke-II) Pembentukan Panitia Pelaksana RANHAM (Tim Aksi HAM) pada tingkat daerah provinsi juga dibentuk kepanitiaan tersendiri oleh Pemerintah Daerah Provinsi dengan pelaksanaan kegiatan RANHAM yang sama pada tingkat nasional.

Pembentukan tersebut dilakukan bersama oleh Gubernur dengan Ketua Panitia Nasional (kemenkumHAM), dimana kedudukan Panitia Provinsi berada di bawah Gubernur dan bertanggung jawab kepadanya dan Panitia Nasional. Jika melihat dari

136

sisi tugas, panitia nasional melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan RANHAM Indonesia yang mencakup:247

a. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksana RANHAM;

b. Persiapan ratifikasi instrumen Hak Asasi Manusia internasional;

c. Persiapan harmonisasi peraturan perundang-undangan;

d. Diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia;

e. Penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia; dan f. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan.

Kemudian, hal yang sama juga terjadi pada RANHAM Generasi Ke-III (ketiga) dengan susunan Tim Aksi HAM Provinsi khususnya di Sumatera Utara Periode 2011-2014 sebagai berikut.

Tabel 4.3

Tim Aksi HAM Provinsi Sumatera Utara Periode 2011-2014

No. Susunan Keanggotaan Tim Pelaksana

1 Penanggung jawab Gubernur

2 Ketua Wakil Gubernur

3 Wakil Ketua Kepala Kantor Wilayah

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

4 Sekretaris Sekretaris Daerah

5 Anggota 1. Unsur instansi pemerintah,

2. Pakar/akademisi, dan 3. Masyarakat

Sumber: Lihat Pasal 1 ayat (9), dan Pasal 6 ayat (4), (5) Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2011-2014.

247 Lebih lanjut lihat dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Keputusan Presiden No. 40 Tahun 2004 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2004-2009. (Kepres tersebut diatas telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi, namun peneliti dalam hal ini hanya berupaya menjelaskan ketentuan pembentukan Panitia RANHAM Nasional dan Daerah dikarenakan dalam Perpres No 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM Periode 2015-2019 tidak mengatur secara eksplisit ketentuan mengenai Pembentukan Panitia RANHAM Nasional dan Daerah).

Pada sisi lain, pembentukan Tim Aksi HAM berdasarkan RANHAM Generasi Ke-IV (keempat) didasarkan pada Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019.

Begitu juga dengan pemerintah daerah kabupaten/kota dengan Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1320/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Kabupaten/Kota Tahun 2019. Surat Edaran sebagaimana dimaksud diatas juga merupakan kebijakan hukum dan menjadi pedoman Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan susbtansinya memuat sejumlah Aksi HAM, mencakup:248

a. Harmonisasi rancangan produk hukum daerah untuk mendorong pemenuhan hak-hak perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan hak masyarakat adat;

b. Pemantauan dan penyelesaian perkara implementasi produk hukum daerah;

c. Pengelolaan dan pemerataan distribusi (sebaran) jumlah guru didaerah;

d. Penyediaan ruang menyusui yang memadai bagi perempuan bekerja diperkantoran milik Pemerintah Daerah dan swasta dalam rangka implementasi UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif;

e. Pelayanan, penanganan, dan tindaklanjut pengaduan masyarakat terkait dengan hak perempuan, anak, penyandang disabilitas, masyarakat adat dan konflik lahan.

Sementara itu, Ketua Panitia Nasional berdasarkan RANHAM generasi ke-IV Perpres No. 75 Tahun 2015, menyebutkan bahwa kelompok kerja yang dibentuk di provinsi didasarkan pada kondisi dan kebutuhan yang relevan dengan keadaan yang terdapat di Sumatera Utara, misalnya Pokja tentang Harmonisasi Raperda dan

248Lihat Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019 dimana di dalamnya dijelaskan tugas dan wewenang setiap pemerintahan Provinsi secara nasional juga melaksanakan Surat Edaran Mendagri tersebut sebagai acuan atau pedoman dalam penerapan RANHAM.

138

Evaluasi Perda yang ada di Sumatera Utara.249Adapun pada tingkat Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, Tim RANHAM yang terdiri dari unsur sebagaimana dimaksud dalam tabel berikut:

Tabel 4.4

Tim Aksi HAM Provinsi Sumatera Utara Periode 2015-2019 No. Susunan Keanggotaan Tim Pelaksana

1. Penanggungjawab Gubernur

2. Ketua Sekretaris Daerah

3. Sekretaris Kepala Biro Hukum 4. Anggota 1. Unsur Pejabat Bappeda

2. Unsur Pejabat Kanwil KemenkumHAM 3. Perangkat daerah terkait Aksi HAM

Sumber: Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019.

Tim Pelaksana Aksi HAM sebagaimana dalam tabel diatas menunjukkan bahwa Gubernur sebagai kepala daerah Provinsi di posisikan sebagai penanggung jawab. Sehingga baik kegiatan aksi maupun pelaporannya harus dijalankan semaksimal mungkin oleh para anggota meliputi dinas perencanaan dan pembangunan daerah (Bappeda), pejabat Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM sebagai institusi berdasarkan asas dekonsentrasi, serta perangkat daerah lain yang terkait dan terlibat secara langsung dalam penanganan perlindungan dan pemajuan HAM.

249Rapat Kerja Panitia Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, sebagaimana dikutip dalam

https://sumut.kemenkumham.go.id/berita-kanwil/berita-utama/2709-raker-panranham-daerah-sumatera-utara-tentang-kesekretariatan-ranham-2011-2014-provinsi-sumatera-utara, diakses tgl 29/04/2019.

Bahkan Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah turut serta berperan dan bertanggung jawab dan menyelesaikan apabila terdapat sengketa antar masing-masing instansi pelaksana Aksi HAM. Selain sejumlah Aksi HAM yang menjadi tangggung jawab Tim Pelaksana Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, juga terdapat serangkaian tugas yang menjadi arah kebijakan pembangunan politik yang jelas, terbuka, dan berpihak pada penegakan, penghormatan, perlindungan, pemenuhan, dana pemajuan HAM yang akan dilaksanakan oleh Tim Aksi HAM, meliputi :250

1. Melakukan koordinasi dengan perangkat daerah dalam pelaksanaan dan penyusunan pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019;

2. Melakukan kompilasi seluruh laporan Aksi HAM Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi;

3. Memegang dan menjaga kerahasiaan akun (username dan password) sistem pemantauan.

4. Melakukan pemantauan dan memastikan perangkat daerah Provinsi dan laporan Aksi HAM Pemerintah Kab/Kota Tahun 2019;

5. Melakukan penginputan seluruh laporan capaian keberhasilan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019 dari setiap unit kerja pelaksana aksi dan selanjutnya untuk dilaporkan kedalam website sistem pemantauan : https://serambi.ksp,go.id; dan

6. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaporan seluruh Aksi HAM perangkat daerah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota Tahun 2019 dalam satu wilayah provinsi.

Agar terealisasinya RANHAM secara efektif dan efisien serta bukan sebuah proyek dan selebritas komitmen formal belaka, maka tata laksananya perlu

250Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019 bagian II huruf (b).

140

didasarkan pada pedoman pemantauan, evaluasi dan pelaporan RANHAM.251 Tata laksana mulai dari mekanisme pemantauan, evaluasi, hingga pada tahap pelaporan baik yang dilakukan oleh Tim Aksi HAM Pusat maupun daerah pada umumnya sama. Pemantauan merupakan proses penilaian kemajuan suatu program atau kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Evaluasi, merupakan rangkaian kegiatan membandingkan hasil atau prestasi dengan standar, rencana, dan norma yang telah ditetapkan dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan, sedangkan pelaporan merupakan penyampaian informasi pelaksanaan program RANHAM pada bentuk dan kurun waktu yang telah ditentukan.252

Pada tahap penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM dibutuhkan upaya koordinasi untuk mencapai suatu kesatuan sikap pandangan dan gerak langkah di antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dengan Sekretariat Bersama RANHAM. Upaya tersebut dilakukan untuk menghindari adanya ketidakselarasan dan/atau tumpang tindih pelaksanaan Aksi HAM. Sehingga dibawah ini akan dijelaskan standar pelaksanaannya sebagai berikut:253

251Herlambang dalam diskusi ‘’Realitas HAM dan RANHAM’’ Sebagaimana dikutip dalam https://elsam.or.id/ran-ham-dan-permasalahan-hak-asasi-manusia-sebagai-isu-politik/, diakses tanggal 15/5/19.

252 H. Rozali Abdulla dan Syamsir, Perkembangan HAM dan Keberadaan Peradilan HAM di Indonesia, (Bogor Selatan: Ghalia Indonesia, 2002), hlm 16.

253 Lihat lebih lanjut Lampiran Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia hlm 32-39.

1. Prinsip-prinsip dasar dalam melakukan kegiatan penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM, meliputi:

a. Terpusat dan terpadu. Artinya, penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM dilakukan melalui koordinasi yang jelas dan mendukung adanya keterpaduan tindakan oleh pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

b. Terus menerus dan berkesinambungan. Artinya, terdapat koordinasi yang dilakukan secara terus menerus sepanjang pelaksanaan aksi HAM sebagai rangkaian kegiatan yang saling berhubungan dan berkaitan sehingga berbagai keterbatasan dan kendala dapat segera diatasi.

c. Obyektif dan profesional. Artinya, penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM dilakukan secara profesional berdasarkan analisis data yang lengkap dan akurat agar menghasilkan penilaian yang obyektif dan masukan yang tepat dalam rangka mendukung pelaksanaan RANHAM.

d. Transparan. Artinya, penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM dilakukan secara terbuka dan hasilnya dilaporkan secara berkala melalui berbagai media yang ada agar masyarakat dapat mengakses dengan mudah informasi dan hasil kegiatan pelaksanaan RANHAM.

e. Partisipatif. Artinya, kegiatan penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM dilakukan dengan melibatkan secara aktif dan interaktif para pemangku kepentingan, terutama kelompok masyarakat sipil, akademisi, komunitas jurnalis dan asosiasi profesi.

f. Pemberdayaan. Artinya, pemantauan dan evaluasi tidak hanya dilakukan untuk kepentingan penilaian (judgement process), tetapi juga merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi para pelaksana kegiatan maupun masyarakat umum agar menjadi lebih paham, peduli, dan berdaya dalam pelaksanaan Aksi HAM selanjutnya.

g. Akuntabel. Artinya, penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM harus dapat dipertanggungjawabkan secara internal maupun eksternal. h. Tepat waktu. Artinya, penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM harus dilakukan sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

2. Tujuan dalam melakukan penyusunan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan RANHAM adalah:

a. Untuk memastikan agar indikator keberhasilan yang ditetapkan dapat tercapai sesuai dengan yang ditargetkan.

b. Memastikan bahwa Aksi HAM kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

c. Mengidentifikasi dan mengantisipasi berbagai persoalan yang dihadapi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Aksi HAM.

142

d. Mengukur capaian dan dampak pelaksanaan RANHAM.

e. Memberikan saran untuk mendorong perubahan dan perbaikan pelaksanaan Aksi HAM.

3. Tanggung jawab dan tugas dari setiap unsur Sekretariat Bersama RANHAM adalah sebagai berikut:

a. Unsur yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia bertanggung jawab untuk mengoordinasikan, memantau, melakukan verifikasi, evaluasi, dan melaporkan pelaksanaan Aksi HAM yang tidak terkait dengan pemberdayaan penyandang disabilitas di dan antarkementerian, lembaga, provinsi, dan kabupaten/kota.

b. Unsur yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial bertanggung jawab untuk mengoordinasikan, memantau, melakukan verifikasi, evaluasi, dan melaporkan pelaksanaan aksi RANHAM yang terkait dengan pemberdayaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya di dan antarkementerian, lembaga, provinsi, dan kabupaten/kota.

c. Unsur yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri, bertanggung jawab untuk memastikan dukungan dari pemerintah daerah untuk melaksanakan RANHAM di daerah masing-masing.

d. Unsur yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaan pembangunan nasional, bertanggung jawab untuk memfasilitasi terlaksananya Aksi HAM sesuai dengan yang direncanakan.

4. Tanggung jawab dan tugas dari setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah adalah sebagai berikut:

a. Pelaksana penyusunan dan pelaporan capaian Aksi HAM di setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah adalah unit kerja yang menyelenggarakan fungsi perencanaan, atau focal point yang ditunjuk oleh pimpinan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

b. Pelaksana pemantauan dan evaluasi Aksi HAM di setiap kementerian, lembaga dan pemerintah daerah adalah aparat pengawas internal pemerintah atau focal point yang ditunjuk oleh pimpinan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

c. Focal point adalah perseorangan yang ditunjuk oleh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah sebagai penanggung jawab teknis untuk kelancaran dalam proses penyusunan dan pelaporan atau proses pemantauan dan evaluasi aksi HAM.

d. Sistem Pemantauan Aksi HAM dilakukan secara online dengan menggunakan F8K.

B. Kebijakan Hukum Pendanaan Penerapan RANHAM di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara

Keuangan Daerah berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam kerangka penyelenggaraan pemerintahan yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka Anggaran Pendapata dan Belanja Daerah (APBD)254.

Bersinggungan dengan itu, melihat pelaksanaan RANHAM tersebut harus mempertimbangkan aspek tata kelola demokratik (democratic governance) dan politik anggaran yang ada di pemerintah daerah.255 Tanggung jawab negara pada pemenuhan HAM tidak cukup hanya dilihat dari sejauhmana dokumen kebijakan telah merepresentasikan komitmen negara melalui penetapan program kerja berperspektif HAM.

Performa, adaptabilitas, dan stabilitas dalam implementasi kebijakan merupakan salah satu kunci untuk melihat sejauhmana isu HAM telah direspons secara kritis oleh pemerintah daerah. Salah satu wujud kewajiban dan tanggung jawab negara terhadap HAM adalah ketika negara bertindak secara aktif agar semua warga

254 Lihat lebih lanjut dalam Pasal 1 Ayat (1) PP No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

255Diskusikelompok terfokus dalam “Peer Review Hasil Studi Kebijakan RANHAM di Lima Provinsi,”dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan. Beberapa di antaranya adalah Komnas Hak Asasi Manusia, Kementerian Luar Negeri RI, Kantor Staf Presiden, Universitas Airlangga, Komnas Perempuan, Kementerian Hukum dan HAM RI, Bappenas, Human Rigts Working Group, dan Universitas New South Wales, sebagaimana dikutip dalam .https://elsam.or.id/ranham-tanpa-perspektif-ham-diskusi-refleksi-implementasi-ham-di-indonesia/, diakses tanggal 15/4/19.

144

negaranya dapat terpenuhi hak-haknya melalui kebijakan-kebijakan hukum.256 Kebijakan tersebut berupa kebijakan anggaran yang mengalokasikan dana implementasi RANHAM Daerah dalam Anggran Pendapatan Dan Belanda Daerah (APBD) masing-masing daerah pemerintahan Provinsi, Kabupaten/Kota.

Anggaran merupakan wujud komitmen dari budget holder (pemegang anggaran) eksekutif kepada pemberi wewenang legislatif yang juga digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan keuangan. Pada sektor publik anggaran merupakan dokumen politik sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Anggaran bukan sekedar masalah teknis melainkan lebih merupakan alat politik (political tool).

Karena pada dasarnya anggaran tidak hanya disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan teknis ataupun melalui hitungan ekonomi semata, tetapi lebih dari itu dokumen penganggaran disusun berdasarkan sebuah kesepakatan dan merupakan sebuah terjemahan dari visi dan misi kepala daerah terpilih. Pengertian anggaran sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk mempersiapkan suatu anggaran. Proses

256Pembangunan Millenium atau Millenium Development Goals (MDGs).diarahkan untuk;

1).Meberantas kemiskinan dan kelapan ekstrim; 2).Mewujudkan pendidikan untuk semua; 3).

Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; 4). Menurunkan angka kematian anak;

5).Meningkatkan kesehatan ibu; 6). Memerangi HIV/AIDS, malaria serta penyakit lainnya; 7).

Memastikan kelestarian lingkungan; dan 8). Promote global partnership for development, dikutip dalam Syamsuddin Radjab, Politik Hukum Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Di Era Pemerintahan Jokowi-JK, dalam Jurnal Politik Profetik Volume 6, No. 2 Tahun 2018, hlm 164.

penganggaran organisasi sektor publik di mulai ketika perumusan strategi dan perencanaan strategi telah selesai dilakukan.257

Berdasarkan pengertian tersebut, pengurusan keuangan daerah dilakukan oleh pemerintah daerah melalui APBD sebagai rencana operasional keuangan pemerintah daerah. Hal tersebut menggambarkan perkiraan pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai kegiatan atau proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu. Selain itu, menggambarkan perkiraan penerimaan dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaran dimaksud.258

Sebagai institusi pelaksana Aksi HAM daerah khususnya Provinsi Sumatera Utara, tantangan dalam pelaksanaan dokumen kebijakan sebagaimana tercantum dalam dokumen RANHAM dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (RPJMN/D), dapat diketahui lewat pengalaman dan peran birokrasi (pemerintah daerah). Peranan tersebut sangat penting bagi pemenuhan HAM karena institusi ini menjadi perwakilan negara di tengah-tengah masyarakat lewat pelayanan publik di daerah.259

Instrumen hukum pendanaan implementasi RANHAM daerah diatur dalam Pasal 10 ayat (1) Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM menyatakan bahwa pendanaan pelaksanaan RANHAM pada pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masing-masing.

257Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik, (Yogyakarta: Andi 2005), hlm 17.

258Abdul Halim, Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah, (Jakarta: Penerbit Selemba Empat, 2007), hlm 56.

259Policy Brief Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Implementasi Program Hak Asasi Manusia, dalam Penelitian yang dilakukan di Aceh, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur.

146

Selain itu, kebijakan hukum pemerintah daerah provinsi sumatera utara dalam proses anggaran diatur dalam Peraturan Daerah No. 10 Tahun 2018 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019.260

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatera Utara (Sumut) 2019 telah ditetapkan dalam rapat paripurna DPRD Sumut, di Gedung DPRD Sumut.

Rinciannya antara lain, Pendapatan Daerah sebesar Rp 15.271.676.789.618,00 dan Belanja Daerah Rp 15.487.832.036.618,00. Dengan kata lain, minus sekitar Rp 216 miliar. Pendapatan Daerah di APBD Sumut 2019 ini naik sekitar Rp 2,6 triliun dibanding Pendapatan Daerah di APBD Sumut 2018 yang Rp 12,68 triliun. Begitu juga dengan Belanja Daerah di APBD Sumut 2019 naik sekitar Rp 1,6 triliun

Rinciannya antara lain, Pendapatan Daerah sebesar Rp 15.271.676.789.618,00 dan Belanja Daerah Rp 15.487.832.036.618,00. Dengan kata lain, minus sekitar Rp 216 miliar. Pendapatan Daerah di APBD Sumut 2019 ini naik sekitar Rp 2,6 triliun dibanding Pendapatan Daerah di APBD Sumut 2018 yang Rp 12,68 triliun. Begitu juga dengan Belanja Daerah di APBD Sumut 2019 naik sekitar Rp 1,6 triliun

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 147-0)