• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah HAM Modern (Negara Barat)

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 65-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

2. Sejarah HAM Modern (Negara Barat)

Magna Charta berasal dari bahasa Latin, yang berarti Piagam Besar yang memuat prinsip-prinsip dasar HAM di Inggris masa itu. Piagam tersebut selain dianggap memiliki pengaruh besar sebagai salah satu rumusan substansi dalam konstitusi suatu negara, sekaligus menjadi lambang munculnya perlindungan terhadap HAM karena ia mengajarkan bahwa hukum derajatnya lebih tinggi dari kekuasaan raja.

Pada tahun 1215 sebagai awal mula dicentuskannya Magna Charta, diketahui bahwa raja Inggris yaitu King John melanggar sejumlah hukum dan adat yang dimiliki Inggris. Akibatnya, warga negara memaksanya untuk menandatangani Piagam Magna Charta. Piagam tersebut dipandang sebagai dokumen yang memiliki peran penting dalam pengembangan kebebasan dan demokrasi.108 Adapun isi Piagam Magna Charta meliputi:109

1. Raja beserta keturunannya berjanji akan menghormati kemerdekaan, hak dan kebebasan Gereja Inggris;

2. Raja berjanji kepada penduduk kerajaan yang bebas untuk memberikan hak-hak sebagai berikut:

a) Para petugas keamanan dan pemungut pajak akan menghormati hak-hak penduduk;

b) Polisi atau jaksa tidak dapat menuntut seseorang tanpa bukti dan saksi yang sah;

108Pasal 21 Magna Charta mengatakan, ‘’Earls and barons shall be fined their equal and only in proportion to the measure of the offence’’ (para pangeran dan Baron akan dihukum (didenda) berdasarkan atas kesamaan dan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya). Pasal 40 juga mengatakan …no one will be deny or delay right or justice (…tidak seorang pun menghendaki kita menghendaki kita mengingkari atau menunda tegaknya hak atau keadilan).

109A. Widiada Gunakaya, Op.,Cit.,hlm 49.

c) Seseorang yang bukan budak tidak akan ditahan, ditangkap, dinyatakan bersalah tanpa perlindungan negara dan tanpa alasan hukum sebagai dasar tindakannya;

d) Apabila seseorang tanpa perlindungan hukum sudah terlanjur ditahan, raja berjanji akan mengoreksi kesalahannya.

b. Petition of Rights (1628) Inggris

Petition of Right dibuat pada tahun 1628 oleh Parlemen Inggris. Petisi ini dikirimkan kepada raja Charles I, sebagai pernyataan atas hak yang dimiliki oleh penduduk. Penolakan parlemen untuk mendanai politik luar negeri raja Charles I menyebabkan pemerintah terpaksa untuk memaksakan warga negara memberi pinjaman uang dan menyediakan tempat tinggal untuk prajurit. Penangkapan dan pemenjaraan secara sewenang-wenang karena menentang kebijakan itu menyebabkan Parlemen benci terhadap Charles dan George Villiers (Adipati Buckingham). Petisi ini mengandung 4 prinsip : tidak boleh memungut pajak tanpa izin parlemen, tidak ada warga yang dipenjara tanpa alasan jelas, tidak ada prajurit yang tinggal di rumah warga sipil, dan darurat militer tidak boleh digunakan saat damai.110

c. Bill of Rights (1689) Inggris

Bill of Rights pada tahun 1628, yang berisi penegasan tentang pembatasan kekuasaan raja dan dihilangkannya hak raja untuk melaksanakan kekuasaan terhadap siapa pun, atau untuk memenjarakan, menyiksa, dan mengirim tentara kepada siapa pun, tanpa dasar hukum. Bill of Rights merupakan undang-undang yang dicentuskan pada tahun 1689 dan diterima oleh parlemen inggris. Isinya mengatur tentang:111

110Ibid, hlm 26.

111Ibid, hlm 27.

52

1. Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen;

2. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat;

3. Pajak, undang-undang, dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen;

4. Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaan masing-masing;

5. Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.

d. Declaration of Independence (1776) Amerika Serikat

Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 1776, yang memuat penegasan bahwa setiap orang dilahirkan dalam persamaan dan kebebasan dengan hak untuk hidup dan mengejar kebahagiaan, serta keharusan mengganti pemerintahan yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan dasar tersebut.112 Perjuangan HAM di AS di ilhami oleh pemikiran filsuf Jhon Locke (1632-1704) yang merumuskan hak-hak kodrati seperti hak-hak hidup (right to life), hak-hak kebebasan (right to freedom), dan hak milik (right to property), sekaligus menjadi pegangan bagi rakyat AS sewaktu memberontak melawan penguasa Inggris pada tahun 1776.

Pemikiran Jhon Locke mengenai hak-hak dasar ini terlihat dengan jelas dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (United State Declaration Of Indipendence). Revolusi AS pada tanggal 4 Juli 1776 ini merupakan deklarasi kemerdekaan yang diumumkan secara aklamasi oleh 13 negara bagian, dan sekaligus menjadi Piagam HAM, karena di dalamnnya terkandung pernyataan ‘’Bahwa sesungguhnya semua bangsa diciptakan sama derajat oleh Maha Pencipta. Bahwa

112Deklarasi Kemerdekaan Amerika serikat menyatakan, we hold these truths to be self-evident, that all men are creted equal, that they are endowed by their Creator with certain unileable rights, that among these are life, liberty, and the pursuit of happiness, sebagaimana dikutip dalam Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia, Op.,Cit, hlm 47.

semua manusia dianugerahi oleh penciptanya hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak kebebasan untuk menikmati kebahagiaan’’.113

e. Declaration Des Deroits de L’Homme et du Citoyen (1798) Perancis

Perjuangan HAM di Perancis dirumuskan dalam suatu naskah pada awal Revolusi Perancis.Perjuangan itu dilakukan untuk melawan kesewenang-wenangan rezim lama. Naskah tersebut dikenal dengan Declaration Des Drroits De L’homme Et Du Citoyen (Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara). Pernyataan yang dicentuskan pada tahun 1789 ini mencanangkan hak atas kebebasan (liberty), hak persamaan (egalite), dan hak persaudaraan atau kesetiakawanan (fraternite). Adapun hak asasi yang dimasukkan dalam Declaration Des Droits De I’homme Et Du Citoyen antara lain:114

a. Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka;

b. Manusia mempunyai hak yang sama;

c. Manusia merdeka berbuat sesuatu tanpa merugikan pihak lain;

d. Warga negara mempunyai hak yang sama dan mempunyai dan mempunyai kedudukan serta pekerjaan umum;

e. Manusia tidak boleh dituduh dan ditangkap selain menurut Undang-Undang;

f. Manusia mempunyai kemerdekaan agama dan kepercayaan;

g. Manusia merdeka mengeluarkan pikiran;

h. Adanya kemerdekaan surat kabar, bersatu dan berapat, berserikat dan berkumpul, bekerja, berdagang, dan melaksanakan kerajinan;

i. Adanya kemerdekaan rumah tangga;

j. Adanya kemerdekaan hak milik;

k. Adanya kemerdekaan lalu lintas;

l. Adanya hak hidup dan mencari nafkah.

113Ibid, hlm 29-30.

114Ibid, hlm 31.

54

f. Universal Declaration of Human Rights/UDHR 1948

Universal Declaration of Human Rights/UDHR (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia)115 pada 10 Desember 1948 memuat pokok-pokok penting tentang kebebasan, persamaan, pemilikan harta, hak-hak dalam perkawinan, pendidikan, hak pekerja, dan kebebasan beragama. Deklarasi tersebut ditambah dengan berbagai instrumen lainnya yang datang susul menyusul, telah memperkaya umat manusia tentang hak-hak asasi, dan menjadi bahan rujukan yang tidak mungkin diabaikan.116 Usaha-usaha konseptualisasi HAM pada umumnya berpedoman pada Deklarasi HAM sedunia sebagai kerangka acuan dalam usaha peningkatan penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan terhadap HAM.117

Pada konteks kenegaraan, konsepsi HAM kemudian menjadi bagian dari konstitusi kenegaraan beberapa negara sehingga bagi negara yang bersangkutan diskursus HAM tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban perjanjian internasional, tetapi juga memiliki landasan konstitusional yang kuat. Misalnya pada Konstitusi Thailand Tahun 1997 dalam BAB III tentang Rights and Liberties of the Thai People (Hak dan Kebebasan Rakyat Thailand) terdapat lebih kurang 40 pasal HAM (Pasal 26

115Kemunculan UDHR tidak terlepas dari pidato yang disampaikan oleh Franklin Delano Roosevelt (1882-1945) pada tahun 1941. Dalam pidatonya, ia merumuskan the four freedom , yaitu (1) kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech); (2) kebebasan beragama (freedom of religion); (3) kebebasan dari ketakutan (freedom from fear); (4) kebebasan dari kemiskinan (freedom from want), dalam David Weissbrodt, ‘’Hak-Hak Asasi Manusia; Tinjauan Dari Perspektif Kesejarahan’’, dalam Peter David (ed), Human Rights, Edisi Indonesia Oleh A. Rahman Zainuddin, Hak-Hak Asasi Manusia; Sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: Obor, 1994), hlm 1-30.

116Untuk melihat paket-paket kebijakan masyarakat Internasional tentang HAM, dapat dilihat dalam United Nation, Human Rights; A Compilation of International Instrument, Vol.I (New York:

United Nation, 1993).

117Mulyana W. Kusumah dan Fauzi Abdulla, Hak-Hak Asasi Manusia Dan Struktur-Struktur dalam Masyarakat Indonesia, (Bandung: Penerbit Alumni, 1982), hlm 44.

sampai Pasal 65).118 Demikian juga pada Konstitusi Filipina Tahun 1987, ditemukan pengaturan tentang HAM pada BAB III tentang Bill of Rights (22 Pasal).119

3. Sejarah HAM di Indonesia

Penting pula dicermati bahwa dengan menyadari sejarah kemanusiaan sejagat dengan segala dinamikanya memberikan pengaruh bagi perkembangan pemikiran, khususnya dalam wilayah ketatanegaraan Indonesia. Bahwa ide-ide tentang hak-hak asasi bukanlah hal yang muncul begitu saja tanpa perjuangan dan pengorbanan yang mudah. Selain itu, komitmen yang tulus pada pengukuhan, pelaksanaan, dan pembelaan hak-hak asasi tanpa dikaitkan dengan dasar dan bukti keinsafan akan makna dan tujuan hidup pribadi manusia itu sendiri.120

Perkembangan HAM di Indonesia selanjutnya tumbuh seiring dengan kemunculan berbagai organisasi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh pejuang Indonesia masa itu. Tak sedikit dari mereka mengalami intimidasi dan sikap yang tak wajar untuk memperjuangankan HAM tersebut. Adapun tokoh-tokoh nasional yang mampu pemperkenalkan dan memperjuangkan HAM di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia adalah sebagai berikut:121

118 Perbandingan Ketatanegaraan bidang HAM di beberapa negara, lihat lebih lanjut dalam Arif Wahyudi, Analisis Hukum Atas Dimensi Hak Asasi Manusia Dalam Konsep Corporate Social Responsibility Pada Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia, (Tesis:Universitas Sumatera Utara, 2016), hlm 42.

119 Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia..., Op.,Cit, hlm 128-131.

120Ibid, hlm 55.

121 Hardjo Wirogo Marbagun, Hak Asasi Manusia dalam Mekanime-Mekanisme Perintis Nasional Regional, (Bandung: Padma, 1977), hlm 96, lihat juga dalam Perkembagan HAM di

Indonesia sebagaimana dikutip dalam

https://www.academia.edu/8873859/Perkembangan_HAM_Indonesia, diakses tanggal 06/08/2019.

56

1. Masa Kartini

Jauh sebelum masa kemerdekaan, Kartini (puteri dari seorang Bupati Jepara di Jawa Tengah) menulis surat kepada Profesor di Belanda yang isinya meneriakkan beberapa hak, seperti hak untuk berpikir, hak kebebasan dan emansipasi wanita.

Kartini juga menekankan pentingnya pendidikan (hak atas pendidikan) bagi kaum muda Indonesia pada waktu itu, khususnya bagi kaum wanita. Salah satu surat Kartini ditulis pada tanggal 10 Juni 1901 dan menjadi tokoh penting bagi munculnya pembicaraan tentang HAM di Indonesia.

2. Masa Boedi Oetomo

Boedi Oetomo tidak mengangkat isu HAM secara luas, melainkan secara tidak langsung telah membangkitkan masyarakat untuk mengorganisasikan dirinya dan untuk menuntut kemerdekaan (setidaknya suatu otonomi terbatas dalam Kerajaan Belanda sebagaimana yang diminta oleh wakil-wakil Indonesia di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).

3. Masa Soekarno

Pada mulanya istilah “hak” di Indonesia cenderung hanya dibatasi pada hak atas kemerdekaan. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno kemudian mencoba untuk mengelaborasi tentang apa yang dimaksud dengan kata “hak”

tersebut. Soekarno memperbesar makna kata “hak” dengan mencakupkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.

4. Masa Soeharto

Rezim Soeharto dianggap cukup represif dalam mempertahankan kekuasaannya sehingga menimbulkan berbagai pelanggaran HAM seperti: kasus Tanjung Periok 1984, Daerah Operasi Militer (DOM) 1989, kasus Tri Sakti 1998, dan lain-lain.

Pemerintahan Soeharto karenanya mendapat tekanan dari masyarakat internasional sehingga prinsip-prinsip HAM mulai diakomodasi saat itu. Untuk itu dibentuklah Komisi Nasional (Komnas) HAM di Indonesia.

5. Masa Habibie

Masa Habibie, perjuangan atas perlindungan, penegakan, penghormatan, pemenuhan, dan pemajuan terhadap HAM merupakan dorongan dari dunia internasional kian menguat, sehingga lahirlah UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Selain itu, pemahaman HAM di Indonesia ditandai dengan adanya perdebatan pemikiran dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo disatu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan tersebut berkaitan dengan masalah perlu atau tidaknya hak dan persamaan kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan,

58

hak berserikat, hak untuk berkumpul, hak untuk mengeluarkan pemikiran dangan tulisan dan lisan dimasukkan dalam konstitusi.122

Pandangan Soepomo, HAM sangat identik dengan ideologi liberal-individual sehingga tidak cocok dengan bangsa Indonesia. Sebaliknya menurut M. Yamin tidak ada alasan untuk menolak memasukkan HAM dalam UUD yang sedang dirancang saat itu. Sebagaimana kompromi, maka dimasukkanlah beberapa prinsip HAM ke dalam UUD 1945 yang sedang dirancang masa itu. Sidang BPUPKI yang dihadiri oleh Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin mengemukakan alasannya dengan tegas tentang HAM sebagai berikut:123

Seokarno mengatakan:

"...buanglah sama sekali paham individualisme itu, janganlah dimasukkan ke dalam Undang-Undang Dasar kita yang dinamakan ‘’rights of the citizen’’

sebagaimana yang dianjurkan oleh republik Perancis itu adanya, kita menghendaki keadilan sosial.’’

Hatta mengatakan:

"...ada baiknya dalam salah satu pasal yang mengenai warga negara disebutkan juga disebelah hak yang sudah diberikan kepadanya misalnya tiap-tiap warga negara jangan takut mengeluarkan suaranya."

122Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia, (Jakarta:

Yayasan Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Supremasi Hukum, 2001), hlm 67. Lihat juga dalam A.

Widiada Gunakaya, Op.,Cit, hlm 32.

123 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945: Himpunan Risalah Sidang-Sidang Dari BPUPKI Dan PPKI, (Jakarta: Yayasan Penerbit Siguntang, 1959) hlm 287-306.

Lihat juga dalam Moh. Mahfud MD, PolitikHukum HakAsasi Manusia di Indonesia, , dalam JURNAL HUKUM. NO. 14 VOL 7. AGUSTUS 2000: 17.

Yamin memberi penegasan juga ketika mengemukakan bahwa:

"... supaya aturan kemerdekaan warga negara dimasukkan dalam Undang Undang Dasar seluas-luasnya. Saya menolak segala alasan-alasan yang dimajukan untuk tidak memasukkannya.’’124

Perbedaan pendapat diatas menunjukkan adanya perjuangan besar dalam upaya jaminan HAM dalam konstitusi pada sidang BPUPKI yang telah dipersiapkan sedemikian rupa pada masa detik-detik menuju kemerdekaan Indonesia. Pemikiran tentang HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena hak memperoleh pengaturan dalam konstitusi yaitu UUD 1945 sebagai pencapaian nilai-nilai kehidupan manusia yang universal.

Perlindungan HAM yang efektif merupakan salah satu indeks demokrasi yang sangat penting. Komitmen Indonesia terhadap HAM yang dibuktikan melalui keberadaan TAP MPR-RI No. XVII/MPR/1998, kemudian membentuk UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia125 dan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM dan puncaknya adalah pemantapan pengaturan HAM dalam UUD 1945 melalui proses amandemen. Hal ini juga diikuti dengan langkah-langkah ratifikasi terhadap pelbagai instrument HAM internasional lainnya.

124Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945, (Jakarta: Yayasan Penerbit Siguntang, 1959) hlm 287-306. Lihat juga dalam Moh. Mahfud MD, PolitikHukum HakAsasi Manusia di Indonesia, , dalam JURNAL HUKUM. NO. 14 VOL 7. AGUSTUS 2000: 17.

125 Lahirnya UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM selain karena kebutuhan dasar bangsa Indonesia, juga di pelopori dengan diratifikasinya pernyataan umum tentang Universal Declaration of Human Rights (deklarasi universal hak asasi manusia) pada 10 Desember 1948 di Palais de Chaillot, Paris), sebagaimana dikutip dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Pernyataan_Umum_tentang_Hak-Hak_Asasi_Manusia, diakses tanggal 08/06/2019.

60

Selain itu, wujud konkrit daripada UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia adalah dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai lembaga mandiri dimana kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi HAM.126 Selain kewenangan tersebut, Komnas HAM juga berwenang melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran HAM berat dengan dikeluarkannya UU No. 26 Tahun 2000 Tantang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang terdiri dari tim ad hoc yaitu Komisi Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat.127

Selain itu, UU No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Komnas HAM mendapatkan tambahan kewenangan berupa pengawasan.

Pengawasan dilakukan dengan maksud untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang dilakukan secara berkala atau insidentil dengan cara memantau, mencari fakta, menilai guna mencari dan menemukan ada tidaknya diskriminasi ras dan etnis yang ditindaklanjuti dengan rekomendasi.128

Berbagai instrument hukum HAM ini menyatakan bahwa negara berkewajiban untuk menghormati, melindungi, memajukan dan memenuhi HAM.129

126 Lihat Pasal 76 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Landasan Hukum pada awalnya, bahwa Komnas HAM didirikan dengan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sejak 1999 keberadaan Komnas HAM didasarkan pada Undang-Undang, yakni Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 yang juga menetapkan keberadaan, tujuan, fungsi, keanggotaan, asas, kelengkapan serta tugas dan wewenang Komnas HAM.

127 Lihat lebih lanjut dalam Pasal 18 Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

128 Lihat lebih lanjut dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

129 Lihat Paragraf keenam Mukadimah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB, paragraf kelima Mukadimah International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR

Kerangka hukum HAM ini memposisikan negara sebagai pemangku atau pemegang kewajiban dan tanggung jawab HAM (duty holder and bearer). Pemahaman terkait HAM ini memfokuskan pembahasannya kepada kehidupan dan martabat manusia.

Karena itu, pembicaraan tentang HAM adalah pembicaraan tentang eksistensi dan proteksi terhadap kehidupan manusia.130

Pemikiran demikian semakin teraktualisasi dengan pengakuan pada alinea kedua Mukadimah Kovenan Sosial dan Politik (Sipol) dan Kovenan Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob) yang mengakui bahwa hak-hak yang dinyatakan pada kedua konvenan tersebut adalah hak yang berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia.131 Sejarah pembentukan dan perubahan UUD merupakan sejarah masa lalu dan masa depan konstitusi Indonesia.132 Mengacu kepada kerangka normatif yang ada di Indonesia, maka ruang lingkup penghormatan, penegakan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM diatur dan dipertegas dalam konstitusi Indonesia, meliputi:

1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945)

UUD ini sering disebut dengan ‘’UUD Proklamasi’’. Dikatakan demikian karena kemunculannya bersamaan dengan lahirnya negara Indonesia melalui proklamasi

(Kovenan Internasional tentang dan Hak Sipil dan Politik/Kovenan Sipol), paragraf kelima International Covenant on Economic, Social dan Culture Rights/ICESCR (Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya/Kovenan Ekosob), Bagian I angka 1 Deklarasi Wina dan Program Aksi Wina tahun 1993, Pasal 28I ayat (4) UUDRI, Pasal 2 dan Pasal 8 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

130Lihat Majda El Muhtaj, Dimensi-Dimensi HAM..., Op.,Cit, hlm 8.

131Lebih lanjut dalam alinea kedua Mukadimah, kedua konvenan tersebut berbunyi

‘’Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia’’.

132Ni’matul Huda, Politik Ketatanegaraan Indonesia; Kajian Terhadap Dinamika Perubahan UUD 1945, (Yogyakarta: FH UII Press, 2003), hlm 1.

62

kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran, khusunya pengaturan HAM dalam Konstitusi begitu intens terjadi dalam persidangan-persidangan BPUPKI dan PPKI.133 Satu hal yang menarik bahwa meskipun UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis yang didalamnya memuat hak-hak dasar manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar pula, namun istilah perkataan HAM itu sendiri sebenarnya tidak di jumpai dalam UUD 1945, baik dalam pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya. Perumusan UUD 1945 pada masa itu sangat tergesa-gesa.134 Waktu yang tersedia dirasakan sangat pendek apalagi dalam kenayataanya dihadapkan dengan momentum Proklamasi Kemerdekaan RI. Jelas kelihatan bahwa pengaturan HAM berhasil di rumuskan dalam UUD 1945, bahwa jauh sebelum lahirnya UDHR/DUHAM versi PBB, Indonesia ternyata lebih awal mengumandangkan isu tentang HAM yang dimuat dalam UUD 1945.

2. Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949 (RIS)

Pengaturan HAM dalam Konstitusi RIS terdapat dalam bagian V yang berjudul

‘’Hak-Hak dan Kebebasan-Kebebasan Dasar Manusia’’. Pada bagian tersebut terdapat 27 pasal dimulai dari Pasal 7 sampai dengan Pasal 33. Eksistensi

133Lihat lebih lanjut Muhammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, Vol. I (Jakarta:

Yayasan Panca, 1959) dan Risalah Sidang BPUPKI-PPKI 29 Mei 1945 - 22 Agustus 1945 (Jakarta:

Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1955).

134Penyusunan Rancangan UUD 1945 yang berlaku saat ini resmi dirampungkan oleh BPUPKI selama 40 (empat puluh) hari, yaitu sejak 29 Mei 1945 sampai dengan 16 Juli 1945. Waktu yang relatif singkat ini, setidaknya memberikan pertimbangan bahwa UUD 1945 lahir dari proses pembahasan yang ‘’super kilat’’ atau cepat. Lihat dalam Majda El Muhtaj, Indonesia dan Konstitusi,

‘’Mencermati Hadirnya Komisi Konstitusi Versi MPR & Koalisi Untuk Konstitusi Baru’’, dalam Istilah, Jurnal Hukum, Ekonomi dan Kemasyarakatan, (Medan: Fakultas Syari’ah IAIN-SU, vol 1 No 4 Oktober-Desember, 2002), hlm 448.

manusia secara tegas dinyatakan pada Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi, ‘’setiap orang diakui sebagai manusia’’. Selain itu, hak atas perlindungan hukum juga termuat dalam Pasal 13 ayat (1), ‘’setiap orang berhak, dalam persamaan yang sepenuhnya, mendapat perlakukan jujur dalam perkaranya oleh hakim yang tak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dan dalam hal menetapkan apakah suatu tuntutan hukuman yang dimaksudkan terhadapnya beralasan atau tidak.135

3. Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 (UUDS)

UUDS 1950 terdiri atas 6 bagian dan 43 pasal. Menurut Adnan Buyung Nasution, dari tiga UUD 1945 yang berlaku sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, negara ini pernah memiliki UUD yang memuat pasal-pasal tentang HAM yang lebih lengkap daripada UDHR/DUHAM, yaitu UUDS 1950.136 Ketentuan HAM diatur pada Bagian V dari Pasal 7 sampai Pasal 33. Menariknya, pemerintah juga memiliki kewajiban dasar konstitusional yang diatur sedemikian rupa. Kewajiban dasar tersebut sebagaimana disebutkan dalam Pasal 36 berbunyi, ‘’penguasa mewujudkan kepastian dan jaminan sosial, teristimewa pemastian dan penjaminan syarat-syarat perburuhan dan keadaan-keadaan perburuhan yang baik’’.137

135 Lihat lebih lanjut Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 yang didalamnya terdapat 27 Pasal pengaturan tentang HAM.

136Adnan Buyung Nasution, Hak Asasi Manusia dalam Masyarakat Islam dan Barat,dalam Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia….Op.,Cit, hlm 57.

137 Lihat lebih lanjut Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950 yang didalamnya terdapat 43 Pasal pengaturan tentang HAM.

64

4. Kembali Kepada Undang-Undang Dasar Tahun 1945

Pasca keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali pada dasar ketatanegaraan yang pertama (setback).138 Dekrit tersebut menjadi dasar hukum kembali berlakunya muatan-muatan yang terkandung dalam UUD 1945. Oleh karena itu, pengaturan HAM adalah sama dengan apa yang tertuang dalam UUD

Pasca keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali pada dasar ketatanegaraan yang pertama (setback).138 Dekrit tersebut menjadi dasar hukum kembali berlakunya muatan-muatan yang terkandung dalam UUD 1945. Oleh karena itu, pengaturan HAM adalah sama dengan apa yang tertuang dalam UUD

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 65-0)