• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendanaan Penerapan Aksi HAM Pemerintah Daerah

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 169-0)

BAB IV KEBIJAKAN HUKUM PENDANAAN PENERAPAN

B. Kebijakan Hukum Pendanaan Penerapan RANHAM di

2. Pendanaan Penerapan Aksi HAM Pemerintah Daerah

Kontekstualitas penerapan RANHAM di Indonesia didasarkan pada sistem desentralisasi, yaitu penyerahan kewenangan (kekuasaan) dari Pemerintah Pusat

kepada Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota).273 Termasuk juga pembahasan mengenai ketersediaan alokasi dana di setiap pemerintah daerah sesuai dengan perumusan Aksi HAM yang telah diagendakan dalam RANHAM.

Secara normatif, persoalan pelaksanaan Aksi HAM diakibatkan alokasi anggaran yang minim, serta tugas baru bidang pemajuan HAM. Wawancaranya dengan Staf Biro Hukum Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengatakan bahwa RANHAM dimasukkan dalam tugas prioritas Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Umumnya, pada tingkat Pemerintah Daerah Provinsi, tugas proritas dari Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara hanya mencakup pembentukan peraturan perundang-undangan, produk hukum daerah, dan bantuan hukum.274

Sementara isu perlindungan dan pemajuan HAM berdasarkan Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM merupakan tugas baru yang dituangkan dalam agenda kerja Biro Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.275 Cakupan kegiatan diatas sebagai agenda kegiatan prioritas pemerintah daerah tak lain memiliki implikasi bidang anggaran yang terbatas. Pencapaian target dan peningkatan kinerja penerapan Aksi HAM ditingkat pusat maupun daerah perlu didukung dengan

273 Kewenangan Atribusi merupakan pemberian kewenangan yang baru kepada Pejabat TUN berdasarkan suatu Peraturan Perundang-Undangan formal; bisa juga dikatakan pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat UU kepada organ pemerintahan, dalam Kasman Siburian Dan Victor R.

Puang, Hukum Administrasi Negara, (Medan: UHN Press, 2011), hlm 38.

274 Lebih lanjut dalam wawancara dengan Staf Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara Winda Diana Silitonga (22 Mei 2019 di Ruangan Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara), dalam wawancara tersebut membahas terkait dengan pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi, serta keterbatasan dana yang melandasi penerapan RANHAM daerah.

275Lebih lanjut dalam wawancara dengan Staf Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara Winda Diana Silitonga (22 Mei 2019 di Ruangan Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara), dalam wawancara tersebut membahas terkait dengan pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi, serta keterbatasan dana yang melandasi penerapan RANHAM daerah.

156

penambahan anggaran sebagai permasalahan yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi.276 Hal demikian mengakibatkan penerapan Aksi HAM hanya bertumpu pada sosialisasi (diseminasi) HAM dan minimnya kegiatan fisik.277 Sehingga, dibawah ini akan ditampilkan rincian alokasi dana yang menjadi permasalahan selama ini.

Tabel. 4.5

Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara T.A 2019 (Per Satu Tahun)

No. Rincian Program/Kegiatan Aksi HAM Alokasi Dana 1. Monitoring pelaksanaan kegiatan Panitia

Pelaksana RANHAM Kabupaten/Kota.

Rp. 200.000.000,- 2. Rapat Koordinasi Panitia RANHAM Provinsi

Sumatera Utara Dan Kabupaten/Kota Se-Sumatera Utara.

Rp. 66.000.000,-

3. Bimbingan Teknis Penyusunan Program Berbasis HAM.

Rp. 66.000.000,-

Total Rp. 332.000.000,-

Sumber: Biro Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana postur anggaran yang irasional dari tahun ke tahun terhadap pengimplementasian Aksi HAM daerah Provinsi Sumatera Utara. Tambah lagi dengan rincian program Aksi HAM sebagaimana dalam hasil wawancara dengan Staf Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara Winda Diana Silitonga seperti monitoring pelaksanaan kegiatan Panitia Pelaksana RANHAM kabupaten/kota, rapat koordinasi Panitia RANHAM Provinsi Sumatera Utara dan

276Implementasi RANHAM Periode 2004-2009, sebagaimana dikutip dalam https://agussubagyo1978.wordpress.com/2015/01/27/implementasi-rencana-aksi-nasional-hak-asasi-manusia-ranham-2004-2009/, diakses tanggal 09/05/2019.

277Term Of Reference: Konferensi National Human Rights Cities (Membangun Kabupaten/Kota Ramah HAM di Indonesia), Jakarta 9 Desember 2014 , sebagaimana dikutip dalam http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b6aa27ae0e2f/ranham, diakses tanggal 15/05/2019.

kabupaten/kota Se-Sumatera Utara, dan bimbingan teknis penyusunan program berbasis HAM. Beliau menyatakan, total anggaran yang terealisasikan dalam APBD Provinsi Sumatera Utara hanya sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun dalam Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara T.A 2019.278

Jumlah anggaran tersebut juga tidak jauh berbeda dengan anggaran tahun sebelumnya. Indikator capaian, sebagai standar yang dijadikan patokan keberhasilan program, juga harus mengikuti rasionalitas ketersediaan anggaran yang dimuat dalam Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Sehingga, tidak etis mempermasalahkan anggaran sebagai hal yang penting, apalagi kegiatan yang akan dilajankan berkaitan erat dengan perlindungan dan pemajuan terhadap HAM.

Pada sisi lain, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM berdasarkan asas dekonsentrasinya juga terlibat dalam upaya penerapan RANHAM. Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara dalam sesi wawancara dengan Kepala Subbidang HAM mengakui bahwa anggaran yang disediakan untuk program-program HAM memang sedikit.279 Terlebih lagi, anggaran banyak tersedot untuk anggaran rutin, seperti kegiatan administratif dan biaya pegawai.

Program-278 Wawancara dengan Staf Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara Winda Diana Silitonga (22 Mei 2019 di Ruangan Biro Hukum Provinsi Sumatera Utara), dalam wawancara tersebut penulis membahas terkait dengan pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi, serta keterbatasan dana yang melandasi penerapan RANHAM daerah.

279 Wawancara dengan Kepala Subbidang Hak Asasi Manusia Kanwil KemenkumHAM Provinsi Sumatera Utara Desni Manik, Penulis melakukan wawancara seputaran Pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi, serta regulasi atau kebijakan hukum yang melandasi penerapan RANHAM tersebut yang dilakukan pada tanggal 12 Juni 2019.

158

program yang berorientasi pada pembangunan infrastruktur juga membuat penggunaan anggaran untuk tujuan pemenuhan HAM tidak tepat sasaran. Seperti tampak pada tabel di bahwah ini, hanya menyediakan anggaran yang minim dengan alokasi dana bersumber dari APBN meliputi.280

Tabel. 4.6

Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara T.A 2019 (Per Satu Tahun)

No. Rincian Kertas Kerja Alokasi Dana

1. Evaluasi dan Persiapan Penyampaian Data Kab/Kota Peduli HAM

Rp. 12.515.000,- 2. Evaluasi dan Persiapan Pelaporan Capaian

Pelaksanaan Aksi HAM

Rp. 28.470.000,- 3. Pemeriksaan Data Usulan Kriteria Kab/Kota

Peduli HAM

Rp. 26.420.000,- 4. Koordinasi Dengan Pemerintah Daerah Provinsi,

Kabupaten/Kota

Rp. 7.680.000,-

Total Rp. 75.085.000,-

Sumber: Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM RI Provinsi Sumatera Utara.

Alokasi anggaran untuk Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara didasarkan pada APBN. Instansi ini juga mengalami keterbatasan anggaran, dan hanya memiliki dana dengan total Rp. 327.014.000 yang hanya diperuntukkan dalam peningkatan dan pemajuan HAM. Dana tersebut masih dibagi pos-posnya dengan bidang urusan lain atau departemen lainny sebagaimana dalam hasil wawancara dengan Kepala Subbidang HAM Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara Desni Manik.

280Lebih lanjut dalam wawancara dengan Kepala Subbidang Hak Asasi Manusia Kanwil KemenkumHAM Provinsi Sumatera Utara Desni Manik (12 Juni 2019) membahas Pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi, serta regulasi atau kebijakan hukum yang melandasi penerapan RANHAM.

Pada tabel diatas, diketahui bahwa Kanwil Kementerian Hukum dan HAM hanya diperuntukkan pada Biro HAM saja alokasi dana setiap tahunnya sebesar Rp.

75.085.000 dalam Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara T.A 2019, sementara masih banyak biro lain yang memanfaatkan dana tersebut diatas selain bidang HAM.281

Berdasarkan ketentuan diatas, diketahui bahwa baik alokasi dana oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara maupun Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM sama-sama mengalami keterbatasan anggaran dalam upaya perlindungan, penghormatan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM. Melirik dilematis penerapan Aksi HAM diatas, maka persoalan antara HAM dan anggaran ditengah transisi politik otoritarian ke arah politik otonomi, telah melahirkan sejumlah masalah rumit yang menyangkut keterbatasan kapasitas lokal dalam mengelola kepentingan daerah.

Anggaran, menjadi salah satu indikator tata laksana pembangunan negara termasuk didalamnya pembangunan bidang HAM. Repotnya, disaat pejabat pemerintah dan wakil rakyat duduk diparlemen dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Daerah (RAPBN/RAPBD), sama sekali belum merujuk pada upaya pemajuan hak sosial ekonomi, terutama dalam

281 Wawancara dengan Kepala Subbidang Hak Asasi Manusia Kanwil KemenkumHAM Provinsi Sumatera Utara Desni Manik (12 Juni 2019) membahas seputaran Pengimplementasian RANHAM dalam bentuk Aksi HAM Provinsi serta regulasi atau kebijakan hukum yang melandasi penerapan RANHAM.

160

penentuan skala prioritas anggaran dalam upaya pemajuan dan perlindungan terhadap HAM.

Kata kunci yang harus dipahami bahwa analisis anggaran merupakan bagian dari sebuah proses kerja hak-hak asasi manusia (HAM). Hal tersebut penting karena adanya komitmen politik pemerintah (provinsi sumatera utara) terkait perlindungan dan pemajuan terhadap HAM, persoalan keadilan, dan pembangunan secara berkelanjutan (sustainable development), setidak-tidaknya akan tergambar dalam penyusunan sebuah anggaran yang ramping dan sesuai dengan kebutuhan yang diprogramkan. Serta perlu ditata demi perwujudan good governance (pemerintahan yang baik) di Provinsi Sumatera Utara.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Adapun yang menjadi kesimpulan dari pemaparan pembahasan diatas dirangkum dan uraian dibawah ini, sebagai berikut:

1. Kebijakan Hukum perlindungan HAM oleh Pemerintah Republik Indonesia secara umum diatur dan bersumber pada Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian dijabarkan dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, selanjutnya dilaksanakan dalam bentuk Perpres No.

75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebagai norma hukum pelaksana HAM untuk melakukan penataan mekanisme kebijakan hukum dalam pembenahan dan perlindungan hak dasar manusia secara menyeluruh di Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah.

2. Kebijakan hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam upaya penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia diatur dan direkomendasikan berdasarkan Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019. Seharusnya diatur dan ditetapkan berdasarkan Instruksi Presiden, dan secara spesifik belum terdapat pengaturan yang memadai terkait penerapan Aksi HAM di Pemerintah Daerah Provinsi

162

Sumatera Utara sehingga capaian Aksi HAM dalam pelaporannya menjadi terkendala.

3. Pendanaan penerapan RANHAM di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara periode 2015-2019 masih mengalami keterbatasan anggaran.

Secara umum pendanaan diatur dalam Pasal 10 ayat (1) Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM dan Peraturan Daerah No. 10 Tahun 2018 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019.

Total anggaran yang terealisasikan dalam APBD Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp. 332.000.000,-/tahun guna menangani kebijakan penerapan RANHAM daerah sebagai bagian dari perlindungan dan pemajuan terhadap HAM dengan rincian kegiatan kerja sebagai berikut:

a. Monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan Aksi HAM di 33 Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara sebesar Rp. 200.000.000 ;

b. Rapat Koordinasi Panitia RANHAM Provinsi Sumatera Utara terhadap 33 Kabupaten/Kota Se-Sumatera Utara sebesar Rp. 66.000.000 ;

c. Bimbingan Teknis Penyusunan Program Berbasis HAM sebesar Rp.

66.000.000.

B. SARAN

Adapun saran yang dapat diberikan dari pembahasan permasalahan diatas adalah sebagai berikut, meliputi:

1. Hendaknya, persoalan penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan terhadap HAM harus meletakkan konsepsi tentang HAM sebagai

kepentingan bersama dan prioritas kehidupan berbangsa dan bernegara secara berkelanjutan. Serta perlu meningkatkan komitmen pemerintah dengan membentuk kebijakan-kebijakan hukum perspektif HAM dalam mempertahankan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya (ekososbud) maupun sosial politik (sospol) dalam hukum nasional maupun hukum internasional.

2. Hendaknya, penerapan RANHAM daerah Provinsi Sumatera Utara perlu didukung dengan kebijakan hukum daerahnya dan keseriusan Pemerintah Pusat untuk mempertegas kedudukan dan tata kelola Instruksi Presiden maupun Surat Edaran Mendagri yang dijadikan sebagai acuan atau kebijakan dalam tata laksana pelaporan Aksi HAM daerah berdasarkan Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM dalam Kerangka Sistem Hukum Indonesia.

3. Hendaknya, penerapan RANHAM di Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara perlu disikapi sebagai sebuah tantangan dan didorong dengan sinergitas cakupan anggaran yang lebih rasional dan memadai sesuai kebutuhan demi pencapaian Aksi HAM secara maksimal. Serta menjalin hubungan yang harmonis diantara sesama Tim Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara (Gubernur/kepala eksekutif daerah provinsi), serta dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai hubungan kemitraan dalam mendorong kesepahaman untuk perlindungan dan pemajuan HAM melalui proses penyusunan anggaran daerah yang konfrehensif dan akuntabel.

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku:

Abdulla, H. Rozali dan Syamsir, Perkembangan HAM dan Keberadaan Peradilan HAM di Indonesia, Bogor Selatan: Ghalia Indonesia, 2002.

Audi, Robert, The Cambridge Dictionary of Philosophy, Cambridge: University Press, 1995.

Ashidiqqie, Jimly, Gagasan Konstitusi Sosial: Institusionalisasi dan Konstistusionalisasi Kehidupan Sosial Masyarakat Madani, Jakarta: Pustaka LP3ES, 2015.

---,Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.

---,Perihal Undang-Undang, Jakarta: Konstitusi Press, 2006.

Attamimi, A. Hamid S., Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi, Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia, 1990.

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utara, 2010.

Ecata, Institut dan INPI-PACT, Hak Asasi dalam Tajum, Jakarta: Penebar Swadaya Press, 1997.

Efendi, Masyhur, Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional Dan Internasional, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993.

El Muhtaj, Majda, Dimensi-Dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Jakarta: Rajawali Pers, 2008.

---,Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia: Dari UUD 1945 Sampai Dengan UUD 1945 Tahun 2002, Jakarta: Prenadamedia Group-Edisi Kedua, 2017.

Farida, Maria, Ilmu Perundang-Undangan, Jenis Fungsi dan Materi Muatan: Dasar dan Cara Pembentukannya, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Mada University Press, 1993.

Halim, Abdul, Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah, Jakarta:

Penerbit Selemba Empat, 2007.

Hasbullah M. Afif, Politik Hukum Ratifikasi Konvensi HAM Indonesia:Mewujudkan Masyarakat yang Demokratis, Surabaya: Pustaka Pelajar, 2005.

HR, Ridwan, Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.

Huda, Ni’matul, Politik Ketatanegaraan Indonesia: Kajian Terhadap Dinamika Perubahan UUD 1945, Yogyakarta: FH UII Press, 2003.

Hutabarat, Ramli, Persamaan di Hadapan Hukum (Equality Before The Law) di Indonesia, Jakarta: Ghali Indonesia, 1985.

James, Griffin, On Human Rights, New York: Oxford University Press, 2008.

John, Charvet, dkk, The Liberal Project and Human Rights, Cambridge University Press, 2008.

Kansil, C.S.T dan Christin S.T Kansil, Sekitar Hak Asasi Manusia Dewasa Ini, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2003.

Kertonegoro, Sentanoe, Jaminan Sosial dan Pelaksanaannya di Indonesia, Jakarta:

Mutiara Sumber Widya-Cetakan ke-II, 1987.

Knut D, Asplund, Hukum Hak Asasi Manusia, Yogjakarta: Pusham UII dan University of Oslo, 2008.

Latif, Abdul dan Hasbih Ali, Politik Hukum, Jakarta: PT. Sinar Grafika, 2011.

Latif, Yudi, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011.

Lubis, M. Solly, Asas-Asas Hukum Tata Negara, Bandung: Penerbit Alumni, 1978.

Lubis, Todung Mulya, Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural, Jakarta: LP3ES, 1984.

Lubis, Todung Mulya, Hak Asasi Manusia Dalam Masyarakat Dunia, Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia, 1993.

Manan, Bagir, Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia, Jakarta:

Yayasan Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Supremasi Hukum, 2001.

Marbagun, Harjon Wirogo, Hak Asasi Manusia dalam Mekanime-Mekanisme Perintis Nasional Regional, Bandung: Padma, 1977.

Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan daerah, Yogyakarta: Andi, 2002.

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.

Marzuki, Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Kencana, 2008.

Marzuki, Suparman, Politik Hukum Hak Asasi Manusia, Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2014.

Michael, Freeman, Human Righs, Cambridge: Polity Press, 2002.

Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.

Muhammad, Abdul Khadir, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: PT. Citra Adytia Bakti-Cetakan I, 2005.

Nainggolan, Ojak, Pengantar Ilmu Hukum, Medan: UHN Press-Cetakan Ke-II, 2010.

Nasution, Bahder Johan, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Bandung: Mandar Maju, 2008.

---, Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta: Mandar Maju, 2014.

Nasution, Mirza, Politik Hukum Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta:

Puspantara Media, 2015.

Peters, A.A.G dan Koesriani Siswosoebroto, Hukum dan Perkembangan Sosial: Buku Teks Sosiologi Hukum, Jakarta: Sinar Harapan-Buku I, 1988.

Rato, Dominikus, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2010.

Rawls, Jhon, A Theory Of Justice: Teori Keadilan Dalam Dasar-Dasar Filsafat, Politik Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, Cambridge:

Harvard University Press, 1995.

Siallagan, Haposan, dkk, Ilmu Perundang-Undangan Di Indonesia, Medan: UHN Press, 2008.

Siburian, Kasman, Victor R. Puang, Hukum Administrasi Negara, Medan: UHN Press, 2011.

Siregar, Tampil Anshari, Metode Penelitian Hukum, Medan: Pustaka Bangsa Press, 2004.

S. Lev, Daniel, Politik Dan Hukum-Kesinambungan dan Perubahan, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1990.

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press-Cetakan Ke-III, 1986.

Soemardi, Teori Umum Hukum dan Negara : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik, Bandung: Bee Media Indonesia, 2010.

Sunggogo, Bambang, Penelitian Hukum Normatif, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007.

Sutiyoso, Bambang, Konsepsi Hak Asasi Manusia dan Implementasinya di Indonesia, Yogyakarta: Unisia UII Press, 2002.

Supriady Brantakusuma, Deddy, Otonomi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, Jakarta. P.T. Gramedia Pustaka Utama: 2004.

Suyatmoko, Andrey, Hukum Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter, Jakarta: PT.

Rajagrafindo Persada, 2015.

Syaukani, Imam, A. Ahsin Thohari, Dasar-Dasar Politik Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Thaib, H. Dahlan, Teori Dan Hukum Konstitusi, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Wahyudi, Alwi, Hukum Tata Negara Dalam Perspektif Pancasila Pasca Reformasi, Jakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2012.

Winarmo, Nur Basuki, Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi, Yogyakarta: Laksbang Mediatama, 2008.

W. Kusumah, Mulyana, Hukum dan Hak-Hak Asasi Manusia, Bandung: Penerbit Alumni, 1981.

W. Kusumah, Mulyana dan Fauzi Abdulla, Hak-Hak Asasi Manusia Dan Struktur-Struktur dalam Masyarakat Indonesia, Bandung: Penerbit Alumni, 1982.

W. Nickel, James, Making Sense of Human Rights: Hak Asasi Manusia, Refleksi Filosofis Atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996.

Yamin, Muhammad, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945: Himpunan Risalah Sidang-Sidang Dari BPUPKI Dan PPKI, (Jakarta: Yayasan Penerbit Siguntang, 1959.

Zainuddin, A. Rahman, Hak-Hak Asasi Manusia; Sebuah Bunga Rampai, Jakarta:

Obor, 1994.

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Konstitusi Republik Indonesia Serikat Tahun 1949.

Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950.

TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai sumber tertib hukum Republik Indonesia dan tata urutan perundang-undangan Republik Indonesia.

TAP MPR No.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Undang-Undang.

Undang-Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Undangan.

Undang-Undang No. 38 Tahun 2007 Tentang Urusan Pemerintahan.

Undang-Undang No 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif.

Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keangan Daerah Peraturan Presiden RI Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak

Asasi Manusia Tahun 2011-2014.

Peraturan Presiden RI Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2015-2019.

Peraturan Daerah No. 10 Tahun 2018 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019.

Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993 Tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Keputusan Presiden RI Nomor 129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 1998-2003.

Keputusan Presiden RI Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusi Tahun 2004-2009.

Instruksi Presiden No. 10 Tahun 2015 Tentang Aksi HAM Tahun 2015.

Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019.

Lampiran Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.

Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 34 Tahun 2016 Tentang Kriteria Kabupaten/Kota Peduli Hak Asasi Manusia

Jurnal, Tulisan Antologi dan Makalah:

Apriansyah, Nizar, Peran Pemerintah Dalam Pembentukan Kebijakan Hukum (Role of Government in Legal Policy-Making), dalam Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Arif Mu’allifin, M. Darin, Hubungan Konstitusi Dengan Tugas Dan Fungsi Negara, dalam Jurnal AHKAM, Volume 4, Nomor 1, Juli 2016.

Article I Section 5 Vienna Declaration and Programme of Action Adopted by the World Conference on Human Rights in Vienna on 25 June 1993.

Awaludin, Hamid, Universalitas Deklarasi HAM 1948, dalam Kompas edisi 11 Desember 2000.

Baker, Bill, ‘’Tanggung Jawab Negara Peran Institusi Nasional dan Masyarakat’’, Komnas HAM, 1999.

Building a Culture of Human Rights Workshop Manual, South African Human Rights Commission, British Council and Humanitas Educational, sebagaimana dikutip dalam Direktorat Jenderal HAM: Equitas-International Centre for Human Rights Education, ‘’Memperkuat Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia’’: Sebuah Buku Panduan untuk Mengintegrasikan RANHAM.

Chang, Will, HAM dan KAM di Indonesia, dalam Kompas, edisi 9 Desember 2004. Diseminasi Rencana Aksi Nasional (RAN) HAM Bidang Pendidikan Oleh Biro

Hukum Dan Organisasi Sekretariat Jendral Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2002, dalam kata Sambutannya oleh Makmuri Muchlas Departemen Pendidikan Nasional Sekretaris Jendral.

E Doek, Jaap, Harmonisation of National Laws With the Convention on the Rights of the Child: Some Observations and Suggestions (Addis Ababa: The African ChildPolicy Forum, 2007).

El Muhtaj, Majda, Indonesia dan Konstitusi, ‘’Mencermati Hadirnya Komisi Konstitusi Versi MPR & Koalisi Untuk Konstitusi Baru’’, dalam Jurnal Hukum, Ekonomi dan Kemasyarakatan, (Medan: Fakultas Syari’ah IAIN-SU, vol 1 No 4 Oktober-Desember, 2002).

LBH Banda Aceh, LBH Makasar, LBH Surabaya, Partnership for Governance ReforM).

Farida, Maria Laporan Kompendium Bidang Hukum Perundang-Undangan:

Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI Badan Pembinaan Hukum Nasional Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hukum Nasional, Jakarta:

Desember 2008.

Firma Aditya, Zaka dan M. Reza Winata, Rekonstruksi Hierarki Peraturan

Firma Aditya, Zaka dan M. Reza Winata, Rekonstruksi Hierarki Peraturan

Dalam dokumen EDO MARANATA TAMBUNAN /HK (Halaman 169-0)